Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#1857
PART 85
Kami berempat langsung turun dari panggung dengan tertunduk lesu. Ketika gw berjalan melewati kerumunan orang disekitar panggung, mereka lantas menatap gw dengan tatapan yang tajam. Tatapan itu seakan akan menghina gw. Sangat menghina gw. Dan gw merasakannya.
"Gitaris Bodoh!"
"Gitaris Guoblok!"

Ya, mungkin itulah yang ada di benak mereka. Sementara kawan gw yakni, Roby, Fauzi dan Ridwan hanya bisa menggeleng pertanda kecewa atas performa gw. Semuanya gara gara gw, kacau gara gara gw.

Gw bukan Curt Cobain yang selalu menghancurkan gitarnya setelah konser. Bukan juga Matthew Bellamy yang terkadang melempar gitarnya, atau bahkan Jimi Hendrik yang rela membakar Fender Stratocasternya. Gw cuma gitaris ecek ecek, dengan skill ecek ecek, tapi berhasil ngancurin gitar. Gw sedih, gw pengen banget nangis. Bukan karena ejekan orang yang membuat gw sedih, bukan juga karena kegagalan gw hari ini, bukan! Tapi karena gitar. Ya, gitar kesayangan gw, gitar hasil tabungan gw, gitar hasil perjuangan gw menahan lapar selama satu tahun. Terhitung gw mulai nabung dari kelas 1 STM sampe awal kenaikan kelas 2. Dan sekarang, gitar itu patah.

Gw segera meninggalkan kawan kawan gw untuk menyendiri dibawah pohon besar sambil terus menatap gitar malang ini. Lalu gw membakar sebatang rokok. Entah mengapa perasaan gw sedikit lebih tenang ketika semburan asap putih keluar dari mulut gw.

Disaat gw bengong meratapi kejadian tadi, tiba tiba mata gw ditutup oleh sepasang tangan dari belakang gw. Gw mengenali tangan itu, dari harumnya gw tau kalau ini tangannya Bunga. Mata gw pun terbuka, dan gw melihat sosoknya tengah tersenyum di hadapan gw. Gw pengen ngadu sama dia, pengen nangis dipelukan dia. (Lebay)

"Udah selesai ya?" Tanya dia.

"....." Gw mengangguk.

"Yah aku telat dong..." Ucapnya sambil sedikit manyun.

"......"

"Terus gimana? Sukses kan?" Tanya Bunga.

"Kacau." Jawab gw singkat.

"Kacau kenapa?" Dia bertanya lagi.

"Tuh liat aja gitar aku..." Gw menunjuk gitar gw yang patah.

"Ya ampuun...Kok bisa? Pasti kamu puter puter ya?" Ucapnya. (Bunga tau itu soalnya dulu pernah satu kali nonton gw manggung)

"......." Gw mengangguk.

"Yaah...kamu mah. Ini kan gitar kesayangan kamu." Ujarnya sambil memegang permukaan Neck gitar yang patah.

"Mau gimana lagi. Emang dasarnya aku lagi apes..." Ucap gw pasrah.

"Tapi bisa dibenerin kan gitarnya?" Tanya Bunga.

"......." Gw mengangkat bahu pertanda tidak tahu.

"Jaar!" Panggil Bunga.

"Hemm..."

"Jangan ngerokok di depan aku!" Ucapnya bernada memarahi.

"Oh iya. Hehe maaf lupa."

Gw membuang rokok yang sudah memendek, lalu kembali ngobrol sama Bunga. Gw menceritakan semuanya ke dia, dari mulai naek panggung sampe matahin gitar. Tak lama kemudian dari kejauhan gw lihat Ana berjalan menghampiri gw, lalu ikut duduk disebelah kiri gw. Panik? iya, gw panik.

"Lu nggak apa apa Jar?" Tanya Ana.

"........" Gw diem.

"Udah jangan manyun terus ah.. Tadi itu keren kok..." Ucap Ana.

".........." Gw masih diem.

"Sumpah keren banget!"

"Keren apanya...." Ucap gw.

"Pas tadi lu ngelempar gitar. Ya biarpun gitarnya jatuh, tapi tetep keren kok." Ucap Ana masih mencoba menghibur gw.

"........" diam.

Bunga yang merasa dikacangin akibat gw ngobrol sama Ana akhirnya angkat bicara,

"Emmm, maaf kamu siapanya Fajar ya?" Tanya Bunga ke Ana.

Nahloh...
Dalam sekejap, Bunga sama Ana jadi saling liat liatan. Kemudian Bunga melotot ke arah gw, setelah itu gantian Ana yang melotot. Gw tidak menanggapinya, masih tetap menundukkan kepala seperti tadi. Terlanjur basah ya sudahlah mandi sekalian, mungkin ini saatnya Bunga harus tau siapa Ana sebenarnya.

"Oya, An kenalin ini Bunga. Jagoan gw!" Ucap gw pada Ana.

"Eeh..." Ucap Ana tiba tiba.

Lalu mereka berdua saling bersalaman seraya mengucapkan nama mereka masing masing.

"Bunga udah berapa lama sama Fajar?" Tanya Ana.

"Udah jalan dua tahun." Jawab Bunga ramah.

"Oh. Kalian udah lumayan lama ya.." Ucap Ana sambil tersenyum.

"Iya..."

"Kok Fajar ga pernah cerita ke gw ya?" Ucap Ana sambil melirik ke arah gw.

"Loh cerita apa?" Bunga bertanya balik.

"Ya...cerita kalo udah punya cewe." Jawab Ana.

Kemudian Bunga melirik ke arah gw, bukan melirik sih, lebih tepatnya melotot. Tatapan matanya seperti kode yang tertuju untuk gw.

"Emang kamu kenal Fajar dimana?" Tanya Bunga.

"Sebenernya nggak sengaja kenal Fajar. Gara garanya dia nabrak gw." Jawab Ana.

"Nabrak? Maksudnya?" Bunga bertanya lagi.

"Ya gw ditabrak sama dia. Pake motor. Tapi dia tanggung jawab kok nolongin gw." Jawab Ana.

"Oh gitu. Kok Fajar nggak pernah cerita ke aku ya..." Ucap Bunga.

Kemudian hening. Gw bener bener serasa di neraka saat itu. Ingin sekali gw kabur dari sini bawa motor sekenceng kencengnya. Tapi apalah daya gw, toh cepat atau lambat keadaan seperti ini juga bakalan terjadi. Awalnya gw hanya ingin Bunga tau siapa Ana, itu saja. Tapi sekarang mereka berdua malah ngobrol, ngobrolin gw dan membongkar rahasia yang selama ini gw simpan.

"Jar, gw balik yaa." Ucap Ana.

"Balik kemana? ke stand temen lu?" Tanya gw.

"Balik ke kosan..." Jawabnya.

"Loh, buru buru amat? kenapa lu?" Tanya gw.

"Nggak apa apa kok..." Jawabnya.

"Oya, gw panggilin Roby ya biar lu dianter dia sampe kosan..."

"Nggak usah Jar."

"Dah, lu tunggu sini. Biar gw panggil dia dulu." Ucap gw lalu berdiri.

"Nggak...Nggak usah. Gw pulang sendiri aja."

"Serius nih nggak mau dianter Oby?"

"Iya, gw sendiri aja."

"Okelah, hati hati An..."

"Bunga, pulang yaa..." Pamit Ana pada Bunga.

"Iya hati hati." Sahut Bunga.

"Moga kalian langgeng!" Ucapnya lalu pergi.

Kemudian dengan cepat Ana menghilang di tengah kerumunan orang. Tinggalah Bunga disini disamping gw. Seketika gw lihat raut wajahnya berubah, yang tadinya sangat ramah, sekarang menjadi sedikit menyeramkan.

"Jar..." Panggil Bunga

"Hemm?"

"Kok Ana nggak dianterin?"

"Ya nggak lah..."

"Enggak karena ada aku kan? Kalo nggak ada aku, kamu pasti udah jalan sama dia kan?" Tanya Bunga sinis.

"Ya nggak lah Bunga..."

"Nggak apa? Nggak salah lagi?" Ucapnya bernada sedikit tinggi.

"......."

"Udah berapa lama kamu kenal sama Ana?" Tanya dia.

"Berapa lama ya? kalo ga salah dari akhir semester 1 kemaren."

"Kamu udah ngapain aja sama dia?"

"Ya nggak ngapa ngapain Bunga. Kan aku udah cerita kalo dia cuma temen nongkrong doang. Suka ketemu di kantin."

"Nongkrong di kantin terus abis itu nongkrong di kosannya? Iya?" Tanya dia semakin menyudutkan gw.

"Ya, aku cuma beberapa kali doang ke kosannya. Itu juga waktu nolongin dia gara gara aku tabrak..." Jawab gw.

"Terus apalagi yang kamu sembunyiin?" Tanya dia lagi.

"Nggak ada..."

"Jar, bangke yang kelamaan di umpetin bakalan ketauan juga. Bakalan tercium baunya."

"Maaf kalo aku nggak cerita. Bukan maksud aku buat nyembunyiin, lagipula buat apa aku cerita kalo aku abis nabrak orang?"

"Ya, kamu perlu cerita lah. Terus aku kamu anggep apa?"

Gw udah nggak bisa ngomong apa apa lagi. Gw kalah kalo ngomong sama Bunga. Apalagi dia terus terusan menyudutkan gw dengan bertanya apapun itu tentang hubungan gw dengan Ana. Padahal gw sudah menjawabnya jujur, gw nggak ada apa apa sama Ana dan gw emang nggak ada rasa sama dia. Malahan gw mau ngejodohin Ana sama si Roby.

"Aku perhatiin, kayanya dia suka tuh sama kamu." Ucapnya yang membuat gw kaget.

"Nggak lah..Sok tau kamu!" Ujar gw.

"Jelas aku tau lah. Dari cara dia ngeliat kamu, aku tau dia suka sama kamu."

"......"

"Mata dia itu, sama kaya mata aku waktu dulu pertama kali deket sama kamu."

"Nggak Bungaaa..."

"Terus dari gaya bicaranya alus banget ke kamu. Senyumnya dia kayanya tulus..." Lanjutnya.

"Apaan sih Bung, udah ah!"

"Aku tau perasaannya dia. Aku cewe, dia juga cewe..."

"Aku nggak ngerasa apa apa kok." Ucap gw.

"Ya jelas kamu cowo. Kamu nggak akan tau lah."

"Tapi selama ini aku nggak pernah ngeliat tanda tanda kalo dia suka sama aku. Lagian aku jarang ketemu dia."

"Itulah perempuan."

"????"

"Dia bisa mendem apapun di dalem hatinya. Dan nggak ada satu orang pun yang tau."

"......."

"Malahan Kapal TITANIC pun bisa dipendem di dalem hati perempuan." Lanjut dia.

"Ngawur ah!! Yuk ah kesana!" Ajak gw.

"Kemana?"

"Muter muter pameran. Kali aja ada jajanan enak."

"Hah...Jajan? Mauuuu!!" Teriak Bunga

Begitulah Bunga. Seakan akan semua yang sudah kita bicarakan tadi hangus begitu saja setelah gw ajak dia 'jajan'. Walaupun terkadang gw cuma jajanin dia bengbeng satu biji sama susu ultra kecil. Entahlah kenapa dia bisa begitu senang. Intinya, nyogok dia itu gampang. Haha
1. Jajan
2. Timezone
Kalau salah satu dari dua hal itu terpenuhi, Insya Allah, hari hari gw bakalan menyenangkan.

Kemydian gw bereskan gitar patah gw, lalu memasukkanya ke dalam gigbag. Disitu gw kembali berfikir, masa iya sih Ana suka sama gw? Emangnya gw ngasih apaan ke dia? Tapi kata kata Bunga barusan cukup jelas menggambarkan perasaan seorang wanita. Bunga wanita, Ana wanita, mereka baru bertemu tapi Bunga sudah tau apa yang ada di dalam hati Ana, hanya dengan melihat gerak geriknya saja. Memang gw tidak begitu saja percaya sama Bunga karena memang tidak ada bukti apa apa terkait ucapannya. Tapi satu hal yang gw percaya, Tuhan sungguh maha adil. Menciptakan wanita dengan mengedepankan perasaan, serta menciptakan laki laki dengan logika sebagai ujung tombaknya.

"Yank.." Panggil dia sambil makan eskrim cone.

"Hemm"

"aku jadi takut..."

"Takut apaan?"

"Takut kamu diambil sama dia...Huu" Ucapnya sambil pasang muka melas.

"Hahaha...Tenang aja. Nggak ada yang bisa ngambil aku dari kamu..."

"Dia kan cantik....Kali aja kamu jadi suka sama dia..." Rengek Bunga.

"Nggak Bungaa...Ngapain aku nyari yang cantik lagi? kan aku udah punya yang lebih cantik."

"Berarti cantik aku ya?" Tanya dia.

"Ya"

"Jawabnya maksa banget sih? Nggak ikhlas ya?"

"Apaan sih..Udah ah!" Gerutu gw

"Kamu jawab dulu, cantik aku apa dia?"

"Bawel! tadi kan udah!" Gw mulai kesel.

"Iiih jawab!!"

"Ya ampun!! Cantikan Mama aku kemana mana!! Puaas?"

"....." Bunga manyun.

Kemudian gw mengajak Bunga ke tempat dimana kawan kawan gw pada nongkrong. Tenyata mereka lagi pada selonjoran sambil nonton Band yang lain tampil. Hingga tak terasa waktu sudah sore, acara pun sudah memasuki tahap akhir, yakni pengumuman pemenang serta penghargaan best player.

Gw memutuskan untuk pulang saja sama Bunga sebab memang mustahil band gw bisa menang. Lah wong maennya aja berantakan gara gara tingkah bodoh gw. Gw pun pamit kepada kawan kawan gw lalu segera meninggalkan area panggung. Namun ketika gw sedang sibuk mau ngeluarin motor, dari kejauhan gw mendengar MC berbicara;

"Untuk kategori Best Player Guitar, Jatuh kepada, Gitarer DANKER!"

Lah...Kocak! Gw dapet Best Player Guitar.
Gw rasa jurinya kasian sama gitaris bodoh macam gw ini lantaran gitar gw patah. Lantas gw buru buru balikin motor ke posisi semula, lalu menggandeng Bunga kembali ke areal panggung.


Masih ada satu bangke lagi yang belum kamu tau...
NIAR.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.