- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.3K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1833
PART 84
"Bung...." Panggil gw.
"Hemmm..." Sahutnya sembari nyeruput es kelapa.
"Kamu liat tuh..." Ucap gw lalu menunjuk ke arah jalan raya.
"......."
"Coba kamu tebak, salah satu pengemudi disini yang pake motor pinjeman yang mana hayoo?"
"Nebak orang yang pake motor pinjeman?" Bunga mengulang pertanyaan gw.
"Iya..." Sahut gw.
"Emm, aku nggak bisa...kalo nggak nanya langsung ke orangnya ya susah..."
"Haha...Nggak perlu pake nanya. Emang kamu mau nyetopin orang, terus kamu tanyain satu satu; 'mas motor boleh minjem ya?'. Nggak mungkin kan?" Ucap gw.
"Hehe iya yaa..."
"Berarti kamu ga bisa nih?"
"........" Bunga menggeleng.
"Aku bisa." Ucap gw mantap.
"Gimana caranya?"
"Haha...sebentar kamu tunggu sini! Liatin aku.."
Gw bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan beberapa meter ke arah sisi jalan raya. Mata gw mulai bergerilya mencari orang yang mengemudikan motor Pario atau Bit. Tak lama kemudian nampaklah sesosok pengemudi Pario. Ketika pengemudi itu melintas di depan gw, lantas gw langsung meneriakkan;
"BANG STANDARNYA BANG!"
Kemudian orang itu langsung menoleh ke bawah, lalu sibuk membetulkan standar miring sepeda motornya. Padahal itu standar sama sekali nggak kebuka. Fix, itu orang pake motor boleh minjem!
"Loh, mana orangnya? Yang pake motor boleh minjem?" Tanya Bunga.
"Laaa itu tadi uda lewat. Yang pake Pario merah..." Ucap gw.
"Kamu kan nggak ngapa ngapain...Cuma teriak 'standar bang' doang..."
"Hahha, kamu belom ngerti ya? Sini aku kasih tau..." Ucap gw.
"......" Bunga mulai pokus.
"Kamu di rumah punya motor Pario kan?"
"......" Bunga mengangguk
"Nahh....motor Pario itu, kalo standar miringnya kebuka, mesinnya nggak akan hidup."
"Terus?" Tanya dia sambil mikir.
"Ya nggak bisa jalan lah...Kalo orang pake Pario diteriakin Standar, tetus dia benerin standarnya, jelas banget tu orang pake motor pinjeman..Haha"
"Ooohhhhhhhhh iya aku ngerti. Haha" Bunga sedikit teriak.
"Mau coba? Nebak orang yang pake motor pinjeman?" Tawar gw.
"Iya mau mau...."
"Sini ikut aku..."
Gw menggandeng tangan Bunga ke pinggir jalan. Tak lama kemudian, ada seorang pengemudi Pario lewat. Bunga pun langsung teriak.
"BANG STANDARNYA BANG!"
Ya, hasilnya sama seperti gw tadi. Pengemudi itu langsung sibuk benerin standar miringnya yang sama sekali tidak terbuka. Dan lagi lagi kami menemukan orang yang motornya boleh minjem. Bunga pun tertawa, tertawa ngakak menggelikan sekali, tertawa sampai pucet kayak orang pengen modol. Haha.
Setelah puas tertawa, gw berjalan ke pedagang es kelapa membayar dua gelas es yang sudah habis kita minum. Gw pun mengajak Bunga untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ketika berada di atas motor, Bunga masih terus menertawakan kejadian tadi 'motor pinjeman', bahkan tingkahnya semakin menjadi jadi. Dia udah berani jailin orang yang bawa motor Pario/Bit dengan meneriakkan; "Bang Standar Bang!". Yang lebih parahnya lagi, dia teriak "Bang Standar Bang", sedangkan pengemudi itu berada tepat disebelah kami berdua. Daripada itu orang marah marah gara gara dikerjain sama Bunga, terpaksa gw langsung tancap gas meninggalkan orang itu. Kamu rese Bunga!
"Kamu besok manggung jam berapa? Tanya Bunga ketika sampai di depan rumahnya.
"Tadi aku ngeliat copyan rundown, kayanya sih jam 1. Palingan juga ngaret jadi jam 2-an." Jawab gw.
"Yah, padahal aku pengen banget nonton kamu. Tapi dosen yang satu ini nggak bisa diajak kompromi." Ucapnya.
"Haha, yaudah kamu kuliah aja. Lebih penting kuliah kamu lah. Daripada nonton aku jijingkrekan."
"Iya iya. Tapi kalian tuh keren yank...makannya aku pengen banget nonton. Lagunya lucu siih! Haha..."
"Yee...Itu kan lagu Made In Indonesia sayang!" Ujar gw.
"Hehe iya iya. Besok kalo sempet aku nyusul deh." Ucapnya.
"Yaudah kalo gitu. Aku langsung pulang ya..."
"Iya, makasih yaa. Kamu hati hati."
Singkat cerita, band gw ini berhasil lolos audisi setelah menyisihkan kurang lebih 50 peserta dari berbagai kampus seantero kota Depok. Di babak final nanti akan ada 10 band yang tampil, termasuk band gw. Nama band gw sendiri waktu itu adalah "DANKER". Yang artinya, "Dangdut keras". Iya, dangdut! Kami bawain lagu dangdut. Disaat genre pop punk lagi tenar tenarnya tahun segitu, tapi kita berempat justru mencoba menjadi band yang anti mainstream.
Tentu saja lagu dangdut tersebut kita olah lagi, diracik lagi sedemikian rupa menjadi jauh lebih nge-rock!. Rencananya besok kami akan membawakan dua buah lagu diantaranya, Begadang dari Bang Haji, dan lagu Wakuncar punya Camelia Malik. Siap siap aja panggung bakalan petjaah! Haha
........................
........................
Esoknya, pukul setengah delapan pagi gw sudah sampai di kosannya Roby (Pokaler gw). Fauzi dan Ridwan juga sudah berada disini. Mereka terlihat sangat sibuk milih kostum yang akan dipakai nanti. Sedangkan gw cuma pake kaos item, celana jeans item (soek), dan sepatu item juga. Khusus sepatu, gw boleh minjem sama temen komplek gw. Sebab sepatu gw sama sekali tidak layak buat naek panggung. Mungkin lebih layak buat ngebajak sawah.
Setelah mempersiapkan peralatan tempur A.K.A gitar, efek dll, kami pun langsung berangkat menuju lokasi panggung yang masih berada di dalam lingkungan kampus. Tak sampai 15 menit perjalanan kami pun sampai. Gw tengok jam di jimbot, ternyata masih jam 8.30. Keadaan juga masih sepi. Hanya terlihat beberapa kru lagi pada sibuk check sound. Stand stand pameran juga belum ada yang berdiri, masih pada sibuk beberes. Ya, kami berempat kepagian. Alhasil kami pun menunggu sambil tidur tiduran di bawah pohon.
Pukul 11.00 acara dimulai. Dibuka dengan cuap cuap para panitia, setelah itu peserta pertama langsung naek ke atas panggung. Jeng gunjeng gunjeng, alunan musik pun dimulai. Perlahan lahan suara drum, gitar dan bass terasa nyaring keluar dari speaker dengan output 30.000 Watt.
"Jar lu jadi manggung kan?, gw lagi di stand kuliner nih...Lu dimana?" Message From Ana.
"Gw di pojok belakang panggung, deket kamar mandi." Balas gw.
"Oh oke. Ntar gw kesitu deh..." Balas dia.
"Oke. Lu ditungguin nih sama Roby...haha." Balas gw.
Dari kejauhan gw melihat Ana celingak celinguk mencari keberadaan gw. Gw pun membaikan tangan ke arahnya. Setelah berhasil menemukan gw, dia lalu berjalan sedikit tergesa gesa ke arah gw dan kawan kawan.
"Dari kapan disini Jar?" Tanya Ana.
"Dari pagi gw."
"Loh kok gw nggak ngeliat lu? Gw juga dari pagi." ujarnya.
"Lah emangnya lu ngapain disini?" Gw balik bertanya.
"Ini Lho, gw lagi nemenin temen gw tuh..." Ucapnya sembari menunjuk sebuah stand kuliner.
"Ooh, temen lu buka stand disini?"
"Iya Jar...Nemenin dia, sekalian gw belajar usaha kecil kecilan. Hehe.."
"Wah bagus atuh!"
"Oya, lu maen jam berapa?" Tanya dia lagi.
"Abis break Zuhur."
"Ooh..." Gumam dia.
Gw mengajak Ana gabung dengan kawan gw yang lain, lalu mempersilahkannya duduk dengan menggelar koran bekas. lalu kami lanjut ngobrol lagi. Roby yang melihat Ana datang langsung semangat pasang muka coolnya. Penyakit!
"Hai Ana." Sapa Roby.
"Hai...Roby." Balas Ana.
"Ana apa kabar?"
"Baik Rob...Sendirinya?"
"Roby lagi kurang baik nih...Abisnya lama nggak ketemu Ana. Hehe."
"(Jeh si Kampret!)" Gerutu gw dalam hati.
Kemudian gw bangkit dari duduk untuk membeli beberapa batang cocolok cungur. Stok abis soalnya.
"Kemana Jar?" Tanya Ana.
"Beli rokok..."
"Gw ikut dong."
"Dah lu sini aja! tuh temenin si Oby..." Ucap gw lalu nyengir.
Ya, gw emang punya maksud buat jodohin ni anak berdua. Gw fikir mereka cocok. Roby lumayan ganteng, Ana juga lumayan cantik. Lagipula Roby anaknya baik nggak pernah macem macem biar kata dandanannya bisa dibilang sebelas duabelas sama gw, alias berandalan.
Lalu bagaimana dengan Ridwan dan Fauzi? Ridwan udah punya cewe, cewenya sepakultas tapi beda kelas sama kita. Sedangkan si cunguk Fauzi sepertinya nggak doyan cewe. Entahlah, silahkan deskripsikan sendiri.
Istirahat makan siang/ break sudah terlewati. Acara pun dimulai kembali. Saat itu yang ada di atas panggung adalah peserta nomor 5, sedangkan band gw nomor 6. Itu atinya setelah band ini, giliran band gw yang naek. Tapi sampai saat itu belum ada satupun kabar dari Bunga kalau dia ingin menyusul gw kesini. Mungkin dia masih sibuk ngejar ngejar dosen.
"Peserta selanjutnya, kita TAM-PI-LING.....DANKER!!" Ucap MC.
"Bro inget bro....Kalah menang nggak jadi masalah. Yang penting kita GAYA! kita jijingkrekan!!" Ucap Roby sebelum kami naik ke atas panggung.
"Jar, semangat!" Bisik Ana pada gw.
"Yap.." Balas gw.
Gw naik ke atas panggung, memasang jajaran efek mobil mobilan gw, terakhir gw colokkan jek ke input gitar. "Gunjreeng" oke gitar gw bunyi. Gw melihat ke arah depan dimana jutaan pasang mata (lebay) tertuju pada kami berempat. Hal itu sukses membuat gw jadi ngadaregdeg, keringet dingin, serta kaki gw gemeteran. Setelah semuanya siap tak lupa kita check sound sebentar supaya Sound Engineer leluasa mengatur suara output dan monitor hingga terdengar balance. Lagu pertama pun mulai dimainkan, Begadang dari Bang Haji.
Sampai pertengahan lagu, kami masih kompak, mulus dan aman. Gw pun asik jijingkrekan ke kanan ke kiri kayak cacing kepanasan. Ketika gw lagi loncat loncatan, kabel jek yang terhubung pada gitar gw terinjak lalu lepas. Otomatis gitar gw mati. Sialnya gw tidak menyadari hal itu, malah lanjut terus ngegenjreng gitar. Padahal kagak ada suaranya. Hingga akhinya Roby memberitahu gw,
"Gitar lu dongo!! Jeknya!"
Gw langsung buru buru masang lagi itu jek. Gitar gw hidup lagi. Malu? tentu saja. Tapi gw cuek masih terus jijingkrekan. Haha
Petaka yang sesungguhnya pun terjadi pada lagu kedua yakni, Wakuncar punya Camelia Malik. Setelah melahap jatah solo gitar dengan mulus, gw berniat untuk atraksi memutar gitar. Jadi gitarnya tuh diputer 360 derajat. Dilempar ke arah belakang, hingga gitar kembali lagi dalam genggaman tangan. Tapi nahas, gitar gw justru malah terlempar ke atas.
"Tuiiiing....."
"Gedubrak...."
"Nguuuuuuukkkk...."
'Strapnya' ecek ecek, butut, udah gitu longgar. Gw lupa mengencangkannya dan hal itulah yang menjadi penyebab gitar gw terlempar. Padahal teknik itu sudah gw pelajari semenjak gw masih di STM dulu. Pernah juga beberapa kali gw praktekan ketika ikut festival di Bogor. Tapi emang dasarnya gw lagi apes ya udah apes aja. Hasilnya manggung pun gagal total, penonton kecewa, juri langsung kabur, dan yang lebih parah, gitar gw patah di bagian necknya. (Setelah di reparasi, itu gitar gw jual di FJB).
"Hemmm..." Sahutnya sembari nyeruput es kelapa.
"Kamu liat tuh..." Ucap gw lalu menunjuk ke arah jalan raya.
"......."
"Coba kamu tebak, salah satu pengemudi disini yang pake motor pinjeman yang mana hayoo?"
"Nebak orang yang pake motor pinjeman?" Bunga mengulang pertanyaan gw.
"Iya..." Sahut gw.
"Emm, aku nggak bisa...kalo nggak nanya langsung ke orangnya ya susah..."
"Haha...Nggak perlu pake nanya. Emang kamu mau nyetopin orang, terus kamu tanyain satu satu; 'mas motor boleh minjem ya?'. Nggak mungkin kan?" Ucap gw.
"Hehe iya yaa..."
"Berarti kamu ga bisa nih?"
"........" Bunga menggeleng.
"Aku bisa." Ucap gw mantap.
"Gimana caranya?"
"Haha...sebentar kamu tunggu sini! Liatin aku.."
Gw bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan beberapa meter ke arah sisi jalan raya. Mata gw mulai bergerilya mencari orang yang mengemudikan motor Pario atau Bit. Tak lama kemudian nampaklah sesosok pengemudi Pario. Ketika pengemudi itu melintas di depan gw, lantas gw langsung meneriakkan;
"BANG STANDARNYA BANG!"
Kemudian orang itu langsung menoleh ke bawah, lalu sibuk membetulkan standar miring sepeda motornya. Padahal itu standar sama sekali nggak kebuka. Fix, itu orang pake motor boleh minjem!
"Loh, mana orangnya? Yang pake motor boleh minjem?" Tanya Bunga.
"Laaa itu tadi uda lewat. Yang pake Pario merah..." Ucap gw.
"Kamu kan nggak ngapa ngapain...Cuma teriak 'standar bang' doang..."
"Hahha, kamu belom ngerti ya? Sini aku kasih tau..." Ucap gw.
"......" Bunga mulai pokus.
"Kamu di rumah punya motor Pario kan?"
"......" Bunga mengangguk
"Nahh....motor Pario itu, kalo standar miringnya kebuka, mesinnya nggak akan hidup."
"Terus?" Tanya dia sambil mikir.
"Ya nggak bisa jalan lah...Kalo orang pake Pario diteriakin Standar, tetus dia benerin standarnya, jelas banget tu orang pake motor pinjeman..Haha"
"Ooohhhhhhhhh iya aku ngerti. Haha" Bunga sedikit teriak.
"Mau coba? Nebak orang yang pake motor pinjeman?" Tawar gw.
"Iya mau mau...."
"Sini ikut aku..."
Gw menggandeng tangan Bunga ke pinggir jalan. Tak lama kemudian, ada seorang pengemudi Pario lewat. Bunga pun langsung teriak.
"BANG STANDARNYA BANG!"
Ya, hasilnya sama seperti gw tadi. Pengemudi itu langsung sibuk benerin standar miringnya yang sama sekali tidak terbuka. Dan lagi lagi kami menemukan orang yang motornya boleh minjem. Bunga pun tertawa, tertawa ngakak menggelikan sekali, tertawa sampai pucet kayak orang pengen modol. Haha.
Setelah puas tertawa, gw berjalan ke pedagang es kelapa membayar dua gelas es yang sudah habis kita minum. Gw pun mengajak Bunga untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ketika berada di atas motor, Bunga masih terus menertawakan kejadian tadi 'motor pinjeman', bahkan tingkahnya semakin menjadi jadi. Dia udah berani jailin orang yang bawa motor Pario/Bit dengan meneriakkan; "Bang Standar Bang!". Yang lebih parahnya lagi, dia teriak "Bang Standar Bang", sedangkan pengemudi itu berada tepat disebelah kami berdua. Daripada itu orang marah marah gara gara dikerjain sama Bunga, terpaksa gw langsung tancap gas meninggalkan orang itu. Kamu rese Bunga!
"Kamu besok manggung jam berapa? Tanya Bunga ketika sampai di depan rumahnya.
"Tadi aku ngeliat copyan rundown, kayanya sih jam 1. Palingan juga ngaret jadi jam 2-an." Jawab gw.
"Yah, padahal aku pengen banget nonton kamu. Tapi dosen yang satu ini nggak bisa diajak kompromi." Ucapnya.
"Haha, yaudah kamu kuliah aja. Lebih penting kuliah kamu lah. Daripada nonton aku jijingkrekan."
"Iya iya. Tapi kalian tuh keren yank...makannya aku pengen banget nonton. Lagunya lucu siih! Haha..."
"Yee...Itu kan lagu Made In Indonesia sayang!" Ujar gw.
"Hehe iya iya. Besok kalo sempet aku nyusul deh." Ucapnya.
"Yaudah kalo gitu. Aku langsung pulang ya..."
"Iya, makasih yaa. Kamu hati hati."
Singkat cerita, band gw ini berhasil lolos audisi setelah menyisihkan kurang lebih 50 peserta dari berbagai kampus seantero kota Depok. Di babak final nanti akan ada 10 band yang tampil, termasuk band gw. Nama band gw sendiri waktu itu adalah "DANKER". Yang artinya, "Dangdut keras". Iya, dangdut! Kami bawain lagu dangdut. Disaat genre pop punk lagi tenar tenarnya tahun segitu, tapi kita berempat justru mencoba menjadi band yang anti mainstream.
Tentu saja lagu dangdut tersebut kita olah lagi, diracik lagi sedemikian rupa menjadi jauh lebih nge-rock!. Rencananya besok kami akan membawakan dua buah lagu diantaranya, Begadang dari Bang Haji, dan lagu Wakuncar punya Camelia Malik. Siap siap aja panggung bakalan petjaah! Haha
........................
........................
Esoknya, pukul setengah delapan pagi gw sudah sampai di kosannya Roby (Pokaler gw). Fauzi dan Ridwan juga sudah berada disini. Mereka terlihat sangat sibuk milih kostum yang akan dipakai nanti. Sedangkan gw cuma pake kaos item, celana jeans item (soek), dan sepatu item juga. Khusus sepatu, gw boleh minjem sama temen komplek gw. Sebab sepatu gw sama sekali tidak layak buat naek panggung. Mungkin lebih layak buat ngebajak sawah.
Setelah mempersiapkan peralatan tempur A.K.A gitar, efek dll, kami pun langsung berangkat menuju lokasi panggung yang masih berada di dalam lingkungan kampus. Tak sampai 15 menit perjalanan kami pun sampai. Gw tengok jam di jimbot, ternyata masih jam 8.30. Keadaan juga masih sepi. Hanya terlihat beberapa kru lagi pada sibuk check sound. Stand stand pameran juga belum ada yang berdiri, masih pada sibuk beberes. Ya, kami berempat kepagian. Alhasil kami pun menunggu sambil tidur tiduran di bawah pohon.
Pukul 11.00 acara dimulai. Dibuka dengan cuap cuap para panitia, setelah itu peserta pertama langsung naek ke atas panggung. Jeng gunjeng gunjeng, alunan musik pun dimulai. Perlahan lahan suara drum, gitar dan bass terasa nyaring keluar dari speaker dengan output 30.000 Watt.
"Jar lu jadi manggung kan?, gw lagi di stand kuliner nih...Lu dimana?" Message From Ana.
"Gw di pojok belakang panggung, deket kamar mandi." Balas gw.
"Oh oke. Ntar gw kesitu deh..." Balas dia.
"Oke. Lu ditungguin nih sama Roby...haha." Balas gw.
Dari kejauhan gw melihat Ana celingak celinguk mencari keberadaan gw. Gw pun membaikan tangan ke arahnya. Setelah berhasil menemukan gw, dia lalu berjalan sedikit tergesa gesa ke arah gw dan kawan kawan.
"Dari kapan disini Jar?" Tanya Ana.
"Dari pagi gw."
"Loh kok gw nggak ngeliat lu? Gw juga dari pagi." ujarnya.
"Lah emangnya lu ngapain disini?" Gw balik bertanya.
"Ini Lho, gw lagi nemenin temen gw tuh..." Ucapnya sembari menunjuk sebuah stand kuliner.
"Ooh, temen lu buka stand disini?"
"Iya Jar...Nemenin dia, sekalian gw belajar usaha kecil kecilan. Hehe.."
"Wah bagus atuh!"
"Oya, lu maen jam berapa?" Tanya dia lagi.
"Abis break Zuhur."
"Ooh..." Gumam dia.
Gw mengajak Ana gabung dengan kawan gw yang lain, lalu mempersilahkannya duduk dengan menggelar koran bekas. lalu kami lanjut ngobrol lagi. Roby yang melihat Ana datang langsung semangat pasang muka coolnya. Penyakit!
"Hai Ana." Sapa Roby.
"Hai...Roby." Balas Ana.
"Ana apa kabar?"
"Baik Rob...Sendirinya?"
"Roby lagi kurang baik nih...Abisnya lama nggak ketemu Ana. Hehe."
"(Jeh si Kampret!)" Gerutu gw dalam hati.
Kemudian gw bangkit dari duduk untuk membeli beberapa batang cocolok cungur. Stok abis soalnya.
"Kemana Jar?" Tanya Ana.
"Beli rokok..."
"Gw ikut dong."
"Dah lu sini aja! tuh temenin si Oby..." Ucap gw lalu nyengir.
Ya, gw emang punya maksud buat jodohin ni anak berdua. Gw fikir mereka cocok. Roby lumayan ganteng, Ana juga lumayan cantik. Lagipula Roby anaknya baik nggak pernah macem macem biar kata dandanannya bisa dibilang sebelas duabelas sama gw, alias berandalan.
Lalu bagaimana dengan Ridwan dan Fauzi? Ridwan udah punya cewe, cewenya sepakultas tapi beda kelas sama kita. Sedangkan si cunguk Fauzi sepertinya nggak doyan cewe. Entahlah, silahkan deskripsikan sendiri.
Istirahat makan siang/ break sudah terlewati. Acara pun dimulai kembali. Saat itu yang ada di atas panggung adalah peserta nomor 5, sedangkan band gw nomor 6. Itu atinya setelah band ini, giliran band gw yang naek. Tapi sampai saat itu belum ada satupun kabar dari Bunga kalau dia ingin menyusul gw kesini. Mungkin dia masih sibuk ngejar ngejar dosen.
"Peserta selanjutnya, kita TAM-PI-LING.....DANKER!!" Ucap MC.
"Bro inget bro....Kalah menang nggak jadi masalah. Yang penting kita GAYA! kita jijingkrekan!!" Ucap Roby sebelum kami naik ke atas panggung.
"Jar, semangat!" Bisik Ana pada gw.
"Yap.." Balas gw.
Gw naik ke atas panggung, memasang jajaran efek mobil mobilan gw, terakhir gw colokkan jek ke input gitar. "Gunjreeng" oke gitar gw bunyi. Gw melihat ke arah depan dimana jutaan pasang mata (lebay) tertuju pada kami berempat. Hal itu sukses membuat gw jadi ngadaregdeg, keringet dingin, serta kaki gw gemeteran. Setelah semuanya siap tak lupa kita check sound sebentar supaya Sound Engineer leluasa mengatur suara output dan monitor hingga terdengar balance. Lagu pertama pun mulai dimainkan, Begadang dari Bang Haji.
Sampai pertengahan lagu, kami masih kompak, mulus dan aman. Gw pun asik jijingkrekan ke kanan ke kiri kayak cacing kepanasan. Ketika gw lagi loncat loncatan, kabel jek yang terhubung pada gitar gw terinjak lalu lepas. Otomatis gitar gw mati. Sialnya gw tidak menyadari hal itu, malah lanjut terus ngegenjreng gitar. Padahal kagak ada suaranya. Hingga akhinya Roby memberitahu gw,
"Gitar lu dongo!! Jeknya!"
Gw langsung buru buru masang lagi itu jek. Gitar gw hidup lagi. Malu? tentu saja. Tapi gw cuek masih terus jijingkrekan. Haha
Petaka yang sesungguhnya pun terjadi pada lagu kedua yakni, Wakuncar punya Camelia Malik. Setelah melahap jatah solo gitar dengan mulus, gw berniat untuk atraksi memutar gitar. Jadi gitarnya tuh diputer 360 derajat. Dilempar ke arah belakang, hingga gitar kembali lagi dalam genggaman tangan. Tapi nahas, gitar gw justru malah terlempar ke atas.
"Tuiiiing....."
"Gedubrak...."
"Nguuuuuuukkkk...."
'Strapnya' ecek ecek, butut, udah gitu longgar. Gw lupa mengencangkannya dan hal itulah yang menjadi penyebab gitar gw terlempar. Padahal teknik itu sudah gw pelajari semenjak gw masih di STM dulu. Pernah juga beberapa kali gw praktekan ketika ikut festival di Bogor. Tapi emang dasarnya gw lagi apes ya udah apes aja. Hasilnya manggung pun gagal total, penonton kecewa, juri langsung kabur, dan yang lebih parah, gitar gw patah di bagian necknya. (Setelah di reparasi, itu gitar gw jual di FJB).
0