- Beranda
- The Lounge
5 kisah nyata cinta sehidup semati yang mengharukan
...
TS
psykopet
5 kisah nyata cinta sehidup semati yang mengharukan



Spoiler for FOR HT:
Spoiler for terima kasih:


Quote:

Spoiler for satux:

Spoiler for duax:

Spoiler for tigax:
Spoiler for empax:
Spoiler for limax:
Nah demikian gan thread yang ane kumpulkan dari berbagai sumber,,semoga dapat menginspirasi agan-agan untuk lebih mencintai pasangannya masing-masing,,bagi yang jomblo...lumayan buat pelajaran kelak nanti kalo udah laku
,,Kalau berkenan di hati agan boleh dibantu rate atau cendol seikhlasnya
..makasih dan wassalam...
jangan lupa mampir ya gan






Diubah oleh psykopet 22-07-2015 01:56
0
104K
801
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.7KAnggota
Tampilkan semua post
lahir1masehi
#653
Kisah sejati cinta Laila - Majnun
Kisah sejati cinta Laila - Majnun
Laila Majnun: cerita Hakim Nizhami

Alkisah, pada zaman dahulu, dari suku Bani Amir, salah satu suku di jazirah Arabia, ada satu pasangan keluarga yang tidak dianugerahi anak. Mereka mendatangi berbagai tabib, agar mendapatkan keturunan. Singkat cerita, akhirnya Tuhan menganugerahkan anak kepada mereka. Anak itu sangat tampan, dicintai oleh setiap orang. Matanya coklat, rambutnya hitam. Ia diberi nama Qais.
Seperti kebiasaan suku-suku pada zaman itu, anak itu dikirim ke sekolah khusus bangsawan. Di sekolah khusus itu juga masuk juga anak kepala suku yang lain. Ia seorang perempuan cantik jelita. Rambutnya hitam legam. Matanya pun hitam, sehitam malam hari. Sebab itulah ia digelari Laila. Laila dan Qais menjadi teman sekelas. Sejak pertemuan mereka yang pertama, mereka saling tertarik satu sama lain.
Dalam perjalanan waktu, api cinta itu timbul, makin menyala. Dan sekarang, bagi mereka, sekolah bukan lagi untuk belajar melainkan mahall al-liqa, tempat pertemuan mereka berdua. Ketika guru sedang memberikan kuliah, mereka saling memandang. Ketika ada waktu untuk menulis pelajaran, masing-masing mereka menuliskan nama kekasihnya. Tidak ada orang lain. Seluruh dunia ini seakan-akan hilang. Dan seakan-akan dunia ini hanya didiami mereka berdua.
Mereka tuli untuk mendengar suara yang lain, selain suara kekasihnya. Akhirnya orang-orang tahu bahwa di antara mereka berdua ada kisah cinta. Mulailah orang- orang membicarakan mereka, sehingga akhirnya pembicaraan itu sampai ke telinga orang tua Laila. Orang tua Laila beranggapan bahwa cinta yang ditampakkan oleh putrinya itu merupakan kejahatan, menodai kehormatannya sebagai kepala suku. Lalu orang tua Laila datang ke sekolah, meminta agar Laila dikeluarkan. Akhimya Laila tidak pernah lagi datang ke sekolah. Begitu Laila "hilang" (dalam tasawuf ada sebuah maqam yang disebut absence, ketidakhadiran. Maqam ini merupakan siksaan yang paling besar bagi seorang pecinta, yakni ketika sang kekasih tak lagi hadir), berubahlah tingkah laku Qais.
Mengetahui Laila tak lagi datang ke sekolah, ia pun akhimya meninggalkan sekolah. la me ngembara di jalan-jalan, menyebut-nyebut nama Laila. la berjalan terseok-seok: la menulis puisi untuk Laila, dan membacakannya sepanjang perjalanannya. la tidak berbicara apa pun kecuali tentang Laila. Ketika orang lain mengajaknya berbicara, ia tidak pernah menjawabnya kecuali kalau orang itu membicarakan Laila. Tingkah seperti itu membuat orang- orang mentertawakan Qais, bahkan menyebutnya gila. Sejak itulah nama Qais hilang, digantikan dengan nama Majnun (Orang Gila). Karena banyak orang mengganggunya, mengalihkan perhatiannya dari Laila, maka Majnun memutuskan untuk meninggalkan masyarakat sama sekali. la tinggalkan kampung halamannya, orang tuanya, dan sahabat-sahabatnya. la pergi ke sebuah puncak bukit di dekat desa Laila. Di bukit itu ia bangun sebuah gubuk.
Dan lewat jendela kecil gubuk itu ia pandangi rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk di depan gubuknya. Di dekat selokan kecil yang mengalir ke rumah Laila, setiap hari ia petik sekuntum bunga. la alirkan bunga itu lewat selokan, dengan harapan di seberang sana Laila menangkap pesan kecintaannya. la berbicara, kepada burung- burung, meminta mereka untuk terbang ke rumah Laila dan mengatakan kepadanya bahwa Majnun tidak jauh darinya. Ketika angin bertiup dari rumah Laila ke bukit itu, ia hirup angin itu dengan hirupan yang panjang, karena angin itu berasal dari kampung Laila.
Kalau ada anjing yang tersesat datang dari kampung Laila, ia pelihara anjing itu baik-baik. la rawat dan cintai anjing itu layaknya binatang suci sampai anjing itu meninggalkannya. Apa saja yang datang dari tempat sang kekasih, ia cintai dan sayangi, sama seperti cintanya kepada sang kekasih itu sendiri Bulan berlalu dan Majnun tidak melihat sedikitpun jejak-jejak Laila. Kerinduannya makin bertambah. Ia mulai merasa bahwa ia takan hidup lagi, tanpa sempat melihat wajah Laila Kawan-kawannya mendengar penderitaan Majnun. Suatu saat mereka dating dan membuat rencana untuk mempertemukan Majnun dan Laila. Rencananya sangat bagus. Kawan-kawannya semua menyamar sebagai perempuan, dan berkunjung ke rumah Laila.
Kita belum bercerita tentang Laila. Sejak meninggalkan sekolah, Laila tidak berbuat apapun kecuali menyebut nama Qais. Dan aneh, setiap kali ia mendengar burung berkicau di dekat rumahnya, ia mendengar suara Majnun. Ia juga sering melihat bunga-bunga hutan yang dialirkan lewat selokan. Dan ia merasakan seakan-akan bunga- bunga itu adalah surat yang dikirimkan oleh Qais. Ia tidak pernah membicarakan Qais kepada siapapun, bahkan kepada teman terdekatnya sekalipun. Jadi, kalau kecintaan Majnun diumumkan kepada semua orang maka kecintaan Laila disembunyikan dalam-dalam di hatinya. Ia sembunyikan baik- baik. Dan ia tidak ingin siapa pun mendengar jeritan cintanya.
Pada suatu hari, Majnun diantarkan oleh kawan- kawannya mendatangi kamar Laila, dengan menyamar sebagai perempuan. Kawan- kawannya menjaga di luar. Dan entah bagaimana Laila pun merasakan bahwa pada hari itu akan ada kunjungan Qais. Karnanya ia segera berhias dengan hiasan yang luar biasa. Laila menunggu di depan pintu. Ketika Majnun masuk, Laila terpukau diam, seakan-akan tak percaya bahwa Majnun betul-betul datang untuknya. Majnun berdiri di pintu untuk beberapa detik, mereguk kenikmatan kerinduan yang sudah sekian lama. la tidak berkata apa-apa. Pada akhimya mereka berduaan, nothing could be heard. Tidak ada yang kedengaran, kecuali suara detak jantung sang kekasih. Mereka saling memandang satu sama lain. Tidak sadar terhadap berlalunya waktu.
Pada saat yang sama, salah seorang pembantu di rumah itu memperhatikan ada perempuan dikenal berdiri mematung di depan kamar itu. Segera ia mencurigainya. Singkatnya cerita, pemilik rumah diberitahu, dan akhirnya pertemuan itu dibubarkan. Sekarang ayah Majnun yang kebingungan oleh perilaku anaknya, apalagi sudah digelari Majnun, si Orang Gila. Ia berpikir, semestinya Qais dikimpoikan saja agar kegilaannya hilang. Lalu ia datang melamar Laila. Sebagai kepala suku terhormat, ia berkata kepada ayah Laila : “saya fikir ada dua hal yang menentukan kebahagiaan, yaitu anak dan kekayaan. Anak saya sangat mencintai anak anda, dan kekayaan saya akan saya berikan kepadanya. Ayah Laila menjawab : “saya tidak keberatan anak saya menikah dengan Qais. Saya tahu dia anak mulia. Tapi setiap orang tahu bahwa dia anak gila. Ia berpakaian seperti pengemis. Mungkin ia sudah tidak mandi selama berabad-abad. Ia hidup bersama binatang, dan menjauhi orang banyak. Katakan padaku, sahabat, kalau engkau mempunyai seorang gadis sepertiku, maukah engkau mengawinkan dia dengan orang gila seperti anakmu. Alhasil, lamaran itu ditolak.
Namun orang tuanya tetap berpikir bagaimana menyembuhkan kegilaan Qais. Lalu ia berfikir, mungkin penyakitnya itu akan sembuh dengan pergi haji. Dibawalah Qais untuk pergi haji. Di Baitullah Majnun' berdoa sambil menangis, "Duhai Yang Paling Terkasih, Raja dari segala raja. Engkaulah yang menurunkan rasa cinta, Saya hanya memohon satu hal saja kepadaMu. Angkatlah cinta saya setinggi-tingginya, sehingga sekiranya saya binasa sekalipun dan kekasih saya tetap abadi." Mendengar doa itu, bapaknya jatuh pingsan. Alih-alih sembuh, malah kegilaan anaknya parah. Setelah naik haji, Majnun tinggal di sebuah reruntuhan rumah. Rambutnya panjang. la hidup dengan binatang. la nyanyikan kecintaannya kepada binatang- binatang itu.
Dari kecintaannya kepada Laila ia mencintai seluruh binatang yang ada di rimba raya itu. Sampai tidurpun ia bersama binatang buas. Binatang buaspun bisa dilunakkan oleh hati yang dipenuhi cinta. singkat cerita, Laila dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang kaya raya. Ibn Salam namanya. Tapi Laila mengatakan kepadanya bahwa ia tidak bisa menyentuh karena jiwanya tidak terletak di situ. Sekali lagi Laila tidak pernah menceritakan kecintaannya kepada Qais. Ia sembunyikan dalam hatinya. Dan suaminya tidak mau mengganggunya. la tidak ingin memperolehnya dengan paksa. la berharap bahwa suatu saat Laila akan give in juga.
karena berita pernikahan Laila sampai kepada Majnun, ia menangis sepanjang hari. la menyanyikan lagu-lagu yang begitu mengharukan. Sehingga binatang-binatang pun menangis mendengamya. la terus menerus tinggal di reruntuhan rumah itu. Perasaannya kepada Laila tidak pernah berubah. Bahkan cintanya makin bertambah. Kemudian Majnun mengirim surat ucapan selamat kepada Laila. "Semoga kebahagiaan di seluruh alam semesta diberikan kepada anda. Saya tidak meminta apa pun sebagai tanda kecintaanmu. Saya hanya minta satu hal saja. Yaitu, hendaknya engkau selalu mengingat namaku, walaupun engkau sudah memilih yang lain sebagai teman dekatmu. Jangan lupakan bahwa ada seseorang di tempat lain yang sekiranya tubuhnya disobek-sobek sekalipun ia akan tetap menyebut namamu, LAILA..." Sebagai jawaban, Laila mengirimkan satu anting- antingnya sebagai tanda kecintaanya. Dalam suratnya Laila menulis, "Saya tidak pernah ingat satu saat pun dalam hidup saya, yang kosong dari mengingatmu.
Saya sudah menyimpan kecintaan saya dalam batin saya begitu lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapa pun. Sementara engkau teriakkan kecintaanmu kepada seluruh dunia. Aku simpan nyala api cintaku jauh di dalam hati, padahal engkau bakar seluruh tempat dengan api cintamu Saya sekarang menghabiskan waktu saya dengan seseorang padahal jiwa saya sepenuhnya diberikan kepada yang lain. Katakan kepadaku, wahai kekasihku, siapakah yang paling gila di antara kita dalam bercinta: kau atau aku?".
Singkat cerita lagi, Laila menderita kecintaan dan kerinduan yang tidak tertanggungkan. Akhirnya ia menderita batuk yang tid
Hingga sampai kepada bulan sepuluh, hati Qais yang rapuh akhirnya runtuh bergemuruh. Hanya tersisa asa nan menghembus pupus menggenggam setangkai cinta yang tulus tak putus. Di sudut lirik lentik mata Laila, puing-puing jiwa Qais mengerti. Laila tak mungkin lagi menanti puisi-puisi anggun di bisik-bisik padang gurun.
"Semua pria mengaku merengkuh jemari Laila. Namun Laila tak mengaku itu. Kecuali pada Qais Ibnu Al Mulawwah Ibnu Muzahim saja.", Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini Qais tak pernah tahu itu.
Laila Binti Mahdi Ibnu Sa'd, putri ayu Bani Amir itu diberi nama. Lail berarti sang malam. Karena sepertinya Tuhan hendak melukis malam pada penyejuk mata Bani Amir.
Rambut Laila yang mengombak panjang menggelung pekat hitam bagai langit malam. Namun parasnya berpendar cahaya serupa purnama yang tersipu malu-malu. Dan semua orang tahu bila Laila mau, binar matanya yang bening sekali mengerling, mampu menggulung dunia menjadi keping-keping.
Celakanya Qais salah satu yang terkena panah-panah asmara yang dilepaskan dari sudut mata itu.
Berawal dari sebuah ruang madrasah. Dunia Qais menjadi nafas nan sesak penuh keluh kesah. Semenjak tatap Qais tak sengaja beradu pandang dengan bola mata Laila, Qais bagai menghirup wangi kuntum-kuntum candu yang berwarna merah jambu. Qais jatuh hati lebam-lebam dicambuk rindu.
Hingga datang suatu hari si Ibnu Salam. Lelaki tanpa salam yang meminang perawan dalam pingitan. Adalah Ibnu Salam si pemetik rembulan satu satunya dan yang pertama. Membuat cinta Qais tidak lagi merah jambu penuh rona. Melainkan semerah darah sebening air mata.
Pedih merintih menahan perih. Qais teriris iris oleh rinai gerimis yang menangis. Namun tetap Qais memilih rindu daripada cemburu. Dan kisah-kisah mulai mengurai tentang kasih-kasih tak sampai. Duhai Qais remaja paling rupawan di seluruh semenanjung jazirah Arabia kini menjadi majnun-penyair gila! Menderas ayat ayat cinta untuk dan hanya untuk Laila.
Rindu Qais adalah rindu yang sederhana. Rindu yang bertiupan di antara semilir desir angin padang pasir. Beterbangan dengan sayap sayap imaji yang berkepak sajak menuju yang dicinta. Perlahan menerbangkan kerudung Laila dengan sengaja. Hingga terpa menyisir lembut rambut sempurna. Membelai helai demi helai tanpa sempat berkata-kata. Hanya sebatas menggoyang alang-alang ilalang. Hingga tangkai-tangkai bunga menjatuhkan kelopak demi kelopak Rosela.
Cinta Qais adalah cinta yang bersahaja. Isyarat maknawi yang mengelana di lembah maya. Mengembara pada aksara yang tak sempat mengeja. Dari satu kabilah ke kabilah yang lain. Dari satu kafilah ke kafilah yang lain. Di senyap bumi yang tandus fatwa cinta Qais menghunus. Di selasar kota-kota lorong-lorongnya Qais tak akan berjalan melainkan meninggalkan kecup mesra pada tiap dinding-dindingnya.
"Aku berjalan pada setapak jalan-jalan dari jalan-jalannya Laila dan menyusuri dinding-dinding purinya yang berbatu. Aku menciumi dinding ini dan dinding itu penuh hasrat rindu. Bukan karena puri itu merenggut hatiku penuh dengan cinta. Melainkan putri ayu yang terpenjara di dalam menara istananya." Qais lirih bersenandung mengharu biru. Namun kini mungkin Laila tak pernah tahu itu.
Qais hanyalah seorang Qais yang remuk dalam peluk samsara Laila. Bukan guru Rumi sang sufi yang menari-nari dimabuk asmara Tuhannya. Jika Rumi tenggelam pada baris baris mastnawi selaksa tafsir. Qais hanya larut dalam tuangan secangkir syair. Karena puisi hanya untuk orang-orang yang jatuh hati. Tidak untuk yang putus cinta. Dan puisi terbaik lahir dari rahim rindu yang bersipayah. Bukan dari jiwa-jiwa yang kalah dan patah.
tak pernah bisadisembuhkan. Laila meninggal dunia. Menjelang akhir hayatnya ia sempat memandang ke pintu tempat Majnun pernah datang ke kamarnya setalah dia menyadari bahwa malaikat maut akan menjemput .laila,untuk terakhir kali nya,meminta ibu nya agar jika ia mati nanti memakaikan baju pengantin berwarna merah darah sebagai lambang syuhada cinta dan cadar dari tanah yang tak akan lepas lagi.selain itu laila meminta dirias secantik mungkin.laila meminta ibunya mewarnai kelopak matanya dengan debu dari bawah telapak kaki kekasih nya,menggunakan air mata kekasih untuk memandikan nya,serta menggunakan kesedihan kekasihnya sebagai wewangiannya.''lalu aku akan menunggu .
Diubah oleh lahir1masehi 16-01-2015 10:58
0




.Lika-liku cinta emang penuh misteri gan,tapi pernah gak terbayang atapun agan berkeinginan untuk mendapat cinta sejati hingga bisa sampai di pelaminan mengucap janji suci bahkan bila perlu sampai mati,,namun dari sekian banyak pernikahan tidak semua bisa melaksanakan janji suci tersebut sampai mati,,dan berikut ane berikan thread yang mungkin bisa membuat agan sedikit terinspirasi atau bahkan menirunya jika nanti agan-agan ketemu dengan pasangan yang tepat,,tapi sebelumnya trit ini mungkin gak cocok untuk kalangan
...nah tanpa banyak basa basi langsung aja gan ke tkp



