- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1810
PART 83
Hari ini gw nggak ada jadwal kuliah. Gw dapet kabar dari kawan gw si Yogo, kalau si dosen berhalangan hadir karena sakit. Entahlah sakit apa, mungkin kena flu burung. Tapi, gw tetap berangkat ke kampus. Alasannya? Klasik, niat berangkat cuma bela belain biar dapet uang saku dari orang tua. Selain hal itu gw juga sudah membuat janji mau berangkat bareng Bunga.
Pukul 8 pagi, gw tiba di depan rumahnya. Gw mengucap salam, lalu Bunga muncul dari balkon lantai dua, masih pake baju tidur, belum mandi belum apa. Tapi gw jadi seneng ngeliat dia baru bangun tidur. Keliatannya kok lebih cakep ya? Udah gitu eksotis banget dan natural.
"Buruaan mandi! siap siap woi!" Teriak gw dari atas motor.
"Nyantai aja woi!!" Balas dia.
"Yeeh Mak lampir!!" Gerutu gw.
Gw pun manyun! Tadi ngajakin buru buru, giliran gw udah disini, tuh bocah masih belum apa apa. Gw pun dipersilahkan masuk, menunggu Bunga beberes sambil nyeruput teh hangat di halaman belakang rumahnya. Setengah jam gw menunggu, akhirnya Bunga muncul juga dengan keadaan yang berbeda.
"Ayo kita kemooon!!" Ajaknya.
"Eh ntar dulu!"
"Kenapa?"
"Sini dulu, aku mau liat..."
"Liat apaan?"
"Liatin kamu...."
"Huuuh...!"
"Abisnya si Jembung ni cantik banget sih." Ucap gw sambil menatap manja.
"Hehe...."
"Apalagi pas tadi belum mandi...Ughh seksieeh!!" Lanjut gw.
"........." Dia nyengir.
"Tuh kan idungnya jadi gede, kembang kempis tuh...hahaha" Gw tertawa.
"Huuuu nyebelin! Yuk berangkat!" Ujarnya.
Kami langsung berangkat tanpa pamit terlebih dahulu. Lagian nggak ada orang. Cuma ada pembantu sama beberapa tukang doang di rumah ini. Puput sekolah, kakaknya kerja, sedangkan Bunda menyusul suaminya (ayahnya Bunga) ke luar kota.
Gw kendarai jupi dengan kecepatan sedang hingga tak terasa kami tiba di pertigaan GDC menuju margondrong. Disitu kami berdua terus memperhatikan sesosok tukang parkir yang unik. Berbadan pendek agak gemuk, dibalut rompi ijo serta topi Angkatan Laut. Usianya gw taksir sekitar 30 tahun ke atas.
"Prikitiew, Yak Hepp!! (melambai), Prikitiew, Yak Hepp! (melambai)"
Seperti itu saja terus berulang ulang. Tidak ada kata kata lain kecuali; Meniup peluit, teriak Yak Hep, peluit, yak hepp, peluit, yak hepp.
"Yank kamu liat abang abang itu deh...Lucu tau!" Ucap Bunga.
"Haha iya...Haha...."
Kami berdua mentertawakan abang parkir itu. Tapi setelahnya, Bunga mengeluarkan uang seribuan lalu memberikan pada si abang. Bukannya bilang terima kasih, si abang lantas cuek bebek sambil meniup peluitnya, lalu, "Yak Hepp!!". Begitu saja, dan selalu begitu.
Sampai sekarang, di tahun 2015, abang parkir itu masih setia nangkring disana. Gayanya pun tak pernah berubah, 'prikitiew' lalu 'yak hepp'. Dia beroperasi di pertigaan ini sekitar jam 9 s/d jam 11 pagi. Dan abang itu adalah "Tukang parkir kesayangannya Bunga". Sebab setiap kali gw lewat jalur situ bersamanya, dia selalu bilang begini; "Yank, sisihin uang seribu buat si abang yaa...."
Setelah melibas padatnya jalanan Kota Depok, kami berdua tiba di kampus, di depan gedung pakultanya Bunga. Gw berhentikan motor lalu mempersilahkannya untuk turun.
"Kamu ikut ke dalem yaa..." Ajak Bunga.
"Ee ngapain?"
"Aku ada perlu sama kamu..."
"Perlu apaan? Aku mau ke kosan nih ditungguin Yogo."
"Pokoknya kamu ikut yaa ke dalem! Sebentar aja. Pliss...."
"Hmm...Iya iya."
Saat itu gw belum tau maksud Bunga apa mengajak gw masuk kesini. Dia bilang ada perlu sama gw, tapi perlu apa? Jangan jangan? Ah sudahlah, gw nurut aja. Gw segera memarkir motor, lalu berjalan bergandengan tangan sama Bunga. Dia maksa gw, dan tentu saja gw risih. Orang mah ke kampus ngegandeng buku ato sejenisnya, lah ini malah gandeng pacar.
"Mau kemana sih?" Tanya gw.
"Kantin...." Jawabnya singkat.
"Lah kamu nggak masuk kelas?"
"Nggak. males...."
"Diiih??"
Setibanya di kantin, Bunga melepas genggaman tangannya, lalu berjalan menuju salah satu meja di sudut kantin. Gw hanya mengikutinya dari belakang sambil menebak nebak, apa yang akan dia lakukan terhadap gw. Kemudian gw lihat Bunga melambaikan tangannya ke arah seseorang. Ya, seorang laki laki. Dan gw sepertinya pernah melihat laki laki itu.
"Sebentar ya, tunggu sini." Ucapnya pelan.
"Kamu mau ngapain? kemana?" Tanya gw.
"Ssttt nanti aku kasih tau. Kamu tunggu aja..."
"Ya..." Gw nurut.
Bunga menghampiri lelaki itu, lalu duduk di hadapannya. Terlihat pula mereka berdua saling melempar senyum. Tak lama kemudian mereka mulai bicara, dan gw nggak tau apa yang sedang mereka bicarakan sebab posisi gw agak jauh dari mereka. Yang gw tahu, Bunga nampak serius menjelaskan sesuatu, begitupun juga lelaki itu nampak serius mendengarkan Bunga. Pemandangan seperti itu sukses membuat hati gw jadi bertanya tanya. Ada apa ini? Maksudnya apa?
"Jaaar..."
Akhirnya gw dipanggil juga setelah jadi kambing congek selama 10 menitan. Gw menoleh, Bunga memanggil gw sembari melambaikan tangannya. Gw lihat senyumnya dari kejauhan, senyum yang menarik perhatian lelaki manapun apabila melihatnya. Kemudian gw berjalan pelan dengan kondisi yang sama seperti tadi, penuh tanda tanya.
"Ka Bono....." Panggil Bunga pada laki laki itu.
"Eh iya..." Lelaki itu menyahut.
"Kenalin, ini Jagoan aku...." Ucapnya sembari menunjuk gw.
Hah? Jagoan? Maksudmu apa Bunga? Kamu fikir aku JAKAM? Ternyata ini yang namanya Mr. Bono. Hemm, ganteng juga, fikir gw. Stylenya juga keren, anak gahol. Baju distro, celana jeans kelas atas. Ya, ya, ya. Pasti orang berduit nih. Setelah memandangi Mr.Bono dari atas sampe bawah, gw pun bersalaman dengannya.
"Fajar..."
"Bono."
Darr...
Tiba tiba wajahnya si Mr. Bono ini langsung berubah masam. Sebagai sama sama lelaki, gw tau, dan gw faham kalau dia merasa 'gagal' untuk menggaet Bunga. Tentu saja karena Bunga udah punya jagoan, yaitu gw. Walaupun sampai saat itu gw belum tahu apa maksud dibalik semua ini. Tapi satu hal yang gw tahu, Bunga hanya ingin jujur. Menunjukkan kejujurannya pada gw. Menunjukkannya langsung di depan mata gw.
"Ka, maaaf ya Bunga tinggal dulu."
"I...ii...iya" Sahut Mr.Bono
"Sekali lagi maaf ya Ka..." Ucap Bunga.
"....." Mr. Bono ngangguk.
Gw hanya sedikit tersenyum saat meninggalkan Mr. Bono. Tak ada basa basi sedikitpun lantas kami berdua langsung keluar dari kantin. Setelah itu, Bunga mengajak gw duduk di sebuah taman dekat gedung pakultasnya.
"Maaf ya kemarin pas kamu nanya Bono itu 'siapa' aku nggak mau ngomong.."
"Ya...."
"Bukannya aku nggak mau cerita, tapi aku takut malah bikin kita cekcok lagi. Aku tau kamu, aku ngerti kamu, jeleknya kamu aku tau. Keadaan kaya gitu malah bikin kamu emosi lagi pastinya."
"Yaudah lupain....Kejadian di kantin tadi udah ngejawab semua pertanyaan aku kok. Makasih ya...Aku seneng punya kamu!" Ucap gw lalu senyum.
"Hehe iya. Sekarang boleh aku cerita sedikit?" Tanya dia.
"Tentang?"
"Ka Bono."
"Ya silahkan sayang!"
"Jadi gini." Ucapnya sembari membetulkan posisi duduknya.
"......."
"Ka bono itu senior aku. Awalnya aku deket sama dia yaa hanya sebatas junior ke seniornya. Nggak ada maksud apa apa."
"Hemmm...."
"Sejak itu dia mulai deketin aku, sms aku, kadang kadang telefon. Waktu aku sakit dia juga dateng jenguk aku di RS."
"Hah?? Kok aku nggak tau?"
"Maaf aku nggak ngasih tau."
"......" Gw manyun.
"Terus kemarin, beberapa hari yang lalu, dia nembak aku..."
"Hah??? Serius?"
"Ya serius..."
"Terus kamu jawab apa? Kamu tolak kan?"
"Ya iya lah aku tolak. Tadi di kantin aku ngomongin masalah itu sama dia.."
"Lah, terus kenapa bawa bawa aku? segala aku dibilang jagoan. Emang aku Jakam!" Gw sedikit kesal.
"Tuh kan...Jangan pake urat napa yank ngomongnya!!"
"Kamu nggak boleh gitu dong. Kalo mau nolak, ya tolak aja. Tolak lah pake cara yang bener, yang halus. Nggak usah pake mamerin aku segala. Setidaknya kamu jaga perasaan dia lah...Aku cowo, aku tau gimana rasanya di posisi Mr. Bono.." Ucap gw sok bijak.
"Biarin aja. Biar tau rasa.!!"
"Loh, kok gitu?" Tanya gw.
"Jadi begini, awalnya aku kagum sama dia (Bono). Dia itu anggota BEM, suka aktif di kegiatan sosial. Orangnya juga pinter, udah gitu ramah."
"Oh....berarti kamu sempet suka dong sama dia??"
"Kagum sayang! Bukan suka! Kagum belum tentu suka..."
"Tapi kan perasaan suka itu awalnya dari kagum duluan..."
"Ihhh kamu mah. Dengerin dulu!"
"Iya iyaa..."
"Terus aku denger cerita dari temen aku, kalo dia itu gebetannya banyak. Cewe cewe di angkatan aku aja udah nggak keitung ada berapa orang. Aku jadi ilfil sama dia..." Ujarnya sembari mengernyitkan dahi.
"Waduhh....Buaya dong??"
"Bukan buaya lagi....Brontosaurus!!" Ujarnya.
"Hahaha...kamu tuh..."
Gw tersenyum sambil sedikit mengingat kejadian di kantin tadi. Gw bangga sama Bunga, gw bangga karena dia benar benar mengakui gw sebagai 'jagoannya' di depan semua orang. Termasuk Mr. Bono. Dia nggak malu, dan nggak akan pernah malu mengakui gw. Padahal kalau dilihat, gw mah apaan atuh? Gw cuma cowok biasa, nggak keren keren amat, berandalan iya. Keadaan finansial gw juga standar. Lahir dari perut orang biasa pula. Sedangkan Bunga? Dia sosok yang hampir sempurna. Dia cantik, gaya berpakaiannya pun modis serta dikaruniai otak yang pintar juga. Ditambah dia lahir dari keluarga terpandang, yang tentu saja tajir. Dan lagi lagi, kembali gw mengutip perkataan Dedi, "Dia kurang apalagi Jar?"
Tiba tiba jimbot gw berdering, kemudian gw membukanya. Disitu tertulis sebuah pesan dari Ridwan (Basser gw/ Teman sekelas gw) yang memberi tahu kalau siang ini kita ada reherseal atau latihan. Minggu minggu ini band gw emang lagi getol getolnya buat latian. Soalnya waktu audisi sudah dekat, hanya tinggal beberapa hari lagi.
"Aku tinggal dulu ya Bung...." Ucap gw.
"Kamu mau kemana?"
"Emmm mau latian.." Jawab gw.
"Latian apa?"
"Ilmu kanuragan!" Jawab gw lagi.
"iihh nyebelin! Latian band?"
"Ya iya Laah!!"
"Aku ikut yaa..."
"Loh kamu nggak masuk?"
"Nggak...."
"Kamu masuk kuliah aja sana, nggak usah ikut!" Ujar gw.
"Males ah yank...Seharian ini aku mau sama kamu aja. Ya ya ya..." Ucapnya sambil ngelendotin gw
"Yeeh, aku takut kamu bete di dalem studio..." Ujar gw
"Nggak lah kan ada kamu ini".
"Aku kan pokus maen gitar. Nanti yang ada kamu malah aku kacangin..."
"Nggak apa apa! Aku cuma mau liat kamu! Pokoknya aku maksa pengen ikut. Titik!!"
"Yaelah Bung...Jangan kayak bocah ngapa!"
"Bodo bodo bodo...Aku ikut!!"
Bunga membolos, dan itu gara gara gw, gara gara pengen ngikut gw. Gw udah ngelarang, tpi dia kekeuh pengen ikut. Gw jadi nggak enak ngasih pengaruh buruk ke dia. Yaudah lah, toh dia ini yang mau, bukan gw. Kami pun langsung bergegas menuju kosan si Yogo. Gw mau ngambil perabotan gw disana terlebih dahulu. Salah satunya gitar Ibanez gw.
"Bunga, ini gitar aku kamu yang gendong ya. Hehe."
"Kamu aja ah..."
"Ini kalo ditaro di tengah ntar kegencet gitarnya, ngeri pengok. Enteng ini kok, nggak berat!"
"Huh yaudah sini."
Bunga nurut, lalu mengambil gitar gw menuju genggamannya. Beberapa detik kemudian "sreek", Bunga membuka resleting softcase dekil itu, lalu gitar gw malah dikeluarin lagi sama dia. Dipelototin dan dipegang pegang. Mau ngapain nih anak? Kemudian gw memperhatikan Bunga melenggak lenggok, bergaya sambil ngaca di jendela kamar kos.
"Yank...Fotoin dong. Hehe" Pinta dia.
"Ya ampun narsis amat sih!!"
Dia memberikan HP nukiyemnya, lalu,
"Cekrek..."
Lima belas menit kemudian, gw dan Bunga sampai di studio. Roby (Pokaler gw) sudah standbye di halaman studio sambil menghisap sebatang rokok. Sedangkan Fauzi dan Ridwan belum datang. Gw langsung menghampirinya tak lupa mengajak Bunga.
"Dah lama lu Rob?" Tanya gw.
"Baru juga sampe..." Jawabnya.
"Kunyuk dua lagi mana?"
"OTW katanya mah..."
"Oh..."
"Eh Bro....Itu cewe siapa lagi Bro?" Tanya dia setengah berbisik.
"Kenapa emang?"
"Ahh gila lu Bro, yang ini mah lebih mantep dari yang lu bawa kemaren..."
"Haha..." Gw hanya tertawa.
"Bro, bagi lah nomernya...."
"Nomer apaan? Togel?"
"Yaa....Nomornya dia lah...Itu temen lu kan? Kayanya gw mau sama yang ini aja Bro..." Ujarnya nyengir.
"Bro.....Kalo cewe yang ini, hukumnya HARAM!!" Ujar gw.
"Lah? Kenapa haram Bro??"
"........."
Gw diam saja tidak menjawab pertanyaan konyol si Roby. Hingga akhirnya Bunga membuka suara,
"Yaaank, ini gitar kamu berat ih....!!!"
Sedetik kemudian gw perhatikan wajah si Roby langsung berubah masam, plus memajukan bibirnya, alias manyun.
Pukul 8 pagi, gw tiba di depan rumahnya. Gw mengucap salam, lalu Bunga muncul dari balkon lantai dua, masih pake baju tidur, belum mandi belum apa. Tapi gw jadi seneng ngeliat dia baru bangun tidur. Keliatannya kok lebih cakep ya? Udah gitu eksotis banget dan natural.
"Buruaan mandi! siap siap woi!" Teriak gw dari atas motor.
"Nyantai aja woi!!" Balas dia.
"Yeeh Mak lampir!!" Gerutu gw.
Gw pun manyun! Tadi ngajakin buru buru, giliran gw udah disini, tuh bocah masih belum apa apa. Gw pun dipersilahkan masuk, menunggu Bunga beberes sambil nyeruput teh hangat di halaman belakang rumahnya. Setengah jam gw menunggu, akhirnya Bunga muncul juga dengan keadaan yang berbeda.
"Ayo kita kemooon!!" Ajaknya.
"Eh ntar dulu!"
"Kenapa?"
"Sini dulu, aku mau liat..."
"Liat apaan?"
"Liatin kamu...."
"Huuuh...!"
"Abisnya si Jembung ni cantik banget sih." Ucap gw sambil menatap manja.
"Hehe...."
"Apalagi pas tadi belum mandi...Ughh seksieeh!!" Lanjut gw.
"........." Dia nyengir.
"Tuh kan idungnya jadi gede, kembang kempis tuh...hahaha" Gw tertawa.
"Huuuu nyebelin! Yuk berangkat!" Ujarnya.
Kami langsung berangkat tanpa pamit terlebih dahulu. Lagian nggak ada orang. Cuma ada pembantu sama beberapa tukang doang di rumah ini. Puput sekolah, kakaknya kerja, sedangkan Bunda menyusul suaminya (ayahnya Bunga) ke luar kota.
Gw kendarai jupi dengan kecepatan sedang hingga tak terasa kami tiba di pertigaan GDC menuju margondrong. Disitu kami berdua terus memperhatikan sesosok tukang parkir yang unik. Berbadan pendek agak gemuk, dibalut rompi ijo serta topi Angkatan Laut. Usianya gw taksir sekitar 30 tahun ke atas.
"Prikitiew, Yak Hepp!! (melambai), Prikitiew, Yak Hepp! (melambai)"
Seperti itu saja terus berulang ulang. Tidak ada kata kata lain kecuali; Meniup peluit, teriak Yak Hep, peluit, yak hepp, peluit, yak hepp.
"Yank kamu liat abang abang itu deh...Lucu tau!" Ucap Bunga.
"Haha iya...Haha...."
Kami berdua mentertawakan abang parkir itu. Tapi setelahnya, Bunga mengeluarkan uang seribuan lalu memberikan pada si abang. Bukannya bilang terima kasih, si abang lantas cuek bebek sambil meniup peluitnya, lalu, "Yak Hepp!!". Begitu saja, dan selalu begitu.
Sampai sekarang, di tahun 2015, abang parkir itu masih setia nangkring disana. Gayanya pun tak pernah berubah, 'prikitiew' lalu 'yak hepp'. Dia beroperasi di pertigaan ini sekitar jam 9 s/d jam 11 pagi. Dan abang itu adalah "Tukang parkir kesayangannya Bunga". Sebab setiap kali gw lewat jalur situ bersamanya, dia selalu bilang begini; "Yank, sisihin uang seribu buat si abang yaa...."
Setelah melibas padatnya jalanan Kota Depok, kami berdua tiba di kampus, di depan gedung pakultanya Bunga. Gw berhentikan motor lalu mempersilahkannya untuk turun.
"Kamu ikut ke dalem yaa..." Ajak Bunga.
"Ee ngapain?"
"Aku ada perlu sama kamu..."
"Perlu apaan? Aku mau ke kosan nih ditungguin Yogo."
"Pokoknya kamu ikut yaa ke dalem! Sebentar aja. Pliss...."
"Hmm...Iya iya."
Saat itu gw belum tau maksud Bunga apa mengajak gw masuk kesini. Dia bilang ada perlu sama gw, tapi perlu apa? Jangan jangan? Ah sudahlah, gw nurut aja. Gw segera memarkir motor, lalu berjalan bergandengan tangan sama Bunga. Dia maksa gw, dan tentu saja gw risih. Orang mah ke kampus ngegandeng buku ato sejenisnya, lah ini malah gandeng pacar.
"Mau kemana sih?" Tanya gw.
"Kantin...." Jawabnya singkat.
"Lah kamu nggak masuk kelas?"
"Nggak. males...."
"Diiih??"
Setibanya di kantin, Bunga melepas genggaman tangannya, lalu berjalan menuju salah satu meja di sudut kantin. Gw hanya mengikutinya dari belakang sambil menebak nebak, apa yang akan dia lakukan terhadap gw. Kemudian gw lihat Bunga melambaikan tangannya ke arah seseorang. Ya, seorang laki laki. Dan gw sepertinya pernah melihat laki laki itu.
"Sebentar ya, tunggu sini." Ucapnya pelan.
"Kamu mau ngapain? kemana?" Tanya gw.
"Ssttt nanti aku kasih tau. Kamu tunggu aja..."
"Ya..." Gw nurut.
Bunga menghampiri lelaki itu, lalu duduk di hadapannya. Terlihat pula mereka berdua saling melempar senyum. Tak lama kemudian mereka mulai bicara, dan gw nggak tau apa yang sedang mereka bicarakan sebab posisi gw agak jauh dari mereka. Yang gw tahu, Bunga nampak serius menjelaskan sesuatu, begitupun juga lelaki itu nampak serius mendengarkan Bunga. Pemandangan seperti itu sukses membuat hati gw jadi bertanya tanya. Ada apa ini? Maksudnya apa?
"Jaaar..."
Akhirnya gw dipanggil juga setelah jadi kambing congek selama 10 menitan. Gw menoleh, Bunga memanggil gw sembari melambaikan tangannya. Gw lihat senyumnya dari kejauhan, senyum yang menarik perhatian lelaki manapun apabila melihatnya. Kemudian gw berjalan pelan dengan kondisi yang sama seperti tadi, penuh tanda tanya.
"Ka Bono....." Panggil Bunga pada laki laki itu.
"Eh iya..." Lelaki itu menyahut.
"Kenalin, ini Jagoan aku...." Ucapnya sembari menunjuk gw.
Hah? Jagoan? Maksudmu apa Bunga? Kamu fikir aku JAKAM? Ternyata ini yang namanya Mr. Bono. Hemm, ganteng juga, fikir gw. Stylenya juga keren, anak gahol. Baju distro, celana jeans kelas atas. Ya, ya, ya. Pasti orang berduit nih. Setelah memandangi Mr.Bono dari atas sampe bawah, gw pun bersalaman dengannya.
"Fajar..."
"Bono."
Darr...
Tiba tiba wajahnya si Mr. Bono ini langsung berubah masam. Sebagai sama sama lelaki, gw tau, dan gw faham kalau dia merasa 'gagal' untuk menggaet Bunga. Tentu saja karena Bunga udah punya jagoan, yaitu gw. Walaupun sampai saat itu gw belum tahu apa maksud dibalik semua ini. Tapi satu hal yang gw tahu, Bunga hanya ingin jujur. Menunjukkan kejujurannya pada gw. Menunjukkannya langsung di depan mata gw.
"Ka, maaaf ya Bunga tinggal dulu."
"I...ii...iya" Sahut Mr.Bono
"Sekali lagi maaf ya Ka..." Ucap Bunga.
"....." Mr. Bono ngangguk.
Gw hanya sedikit tersenyum saat meninggalkan Mr. Bono. Tak ada basa basi sedikitpun lantas kami berdua langsung keluar dari kantin. Setelah itu, Bunga mengajak gw duduk di sebuah taman dekat gedung pakultasnya.
"Maaf ya kemarin pas kamu nanya Bono itu 'siapa' aku nggak mau ngomong.."
"Ya...."
"Bukannya aku nggak mau cerita, tapi aku takut malah bikin kita cekcok lagi. Aku tau kamu, aku ngerti kamu, jeleknya kamu aku tau. Keadaan kaya gitu malah bikin kamu emosi lagi pastinya."
"Yaudah lupain....Kejadian di kantin tadi udah ngejawab semua pertanyaan aku kok. Makasih ya...Aku seneng punya kamu!" Ucap gw lalu senyum.
"Hehe iya. Sekarang boleh aku cerita sedikit?" Tanya dia.
"Tentang?"
"Ka Bono."
"Ya silahkan sayang!"
"Jadi gini." Ucapnya sembari membetulkan posisi duduknya.
"......."
"Ka bono itu senior aku. Awalnya aku deket sama dia yaa hanya sebatas junior ke seniornya. Nggak ada maksud apa apa."
"Hemmm...."
"Sejak itu dia mulai deketin aku, sms aku, kadang kadang telefon. Waktu aku sakit dia juga dateng jenguk aku di RS."
"Hah?? Kok aku nggak tau?"
"Maaf aku nggak ngasih tau."
"......" Gw manyun.
"Terus kemarin, beberapa hari yang lalu, dia nembak aku..."
"Hah??? Serius?"
"Ya serius..."
"Terus kamu jawab apa? Kamu tolak kan?"
"Ya iya lah aku tolak. Tadi di kantin aku ngomongin masalah itu sama dia.."
"Lah, terus kenapa bawa bawa aku? segala aku dibilang jagoan. Emang aku Jakam!" Gw sedikit kesal.
"Tuh kan...Jangan pake urat napa yank ngomongnya!!"
"Kamu nggak boleh gitu dong. Kalo mau nolak, ya tolak aja. Tolak lah pake cara yang bener, yang halus. Nggak usah pake mamerin aku segala. Setidaknya kamu jaga perasaan dia lah...Aku cowo, aku tau gimana rasanya di posisi Mr. Bono.." Ucap gw sok bijak.
"Biarin aja. Biar tau rasa.!!"
"Loh, kok gitu?" Tanya gw.
"Jadi begini, awalnya aku kagum sama dia (Bono). Dia itu anggota BEM, suka aktif di kegiatan sosial. Orangnya juga pinter, udah gitu ramah."
"Oh....berarti kamu sempet suka dong sama dia??"
"Kagum sayang! Bukan suka! Kagum belum tentu suka..."
"Tapi kan perasaan suka itu awalnya dari kagum duluan..."
"Ihhh kamu mah. Dengerin dulu!"
"Iya iyaa..."
"Terus aku denger cerita dari temen aku, kalo dia itu gebetannya banyak. Cewe cewe di angkatan aku aja udah nggak keitung ada berapa orang. Aku jadi ilfil sama dia..." Ujarnya sembari mengernyitkan dahi.
"Waduhh....Buaya dong??"
"Bukan buaya lagi....Brontosaurus!!" Ujarnya.
"Hahaha...kamu tuh..."
Gw tersenyum sambil sedikit mengingat kejadian di kantin tadi. Gw bangga sama Bunga, gw bangga karena dia benar benar mengakui gw sebagai 'jagoannya' di depan semua orang. Termasuk Mr. Bono. Dia nggak malu, dan nggak akan pernah malu mengakui gw. Padahal kalau dilihat, gw mah apaan atuh? Gw cuma cowok biasa, nggak keren keren amat, berandalan iya. Keadaan finansial gw juga standar. Lahir dari perut orang biasa pula. Sedangkan Bunga? Dia sosok yang hampir sempurna. Dia cantik, gaya berpakaiannya pun modis serta dikaruniai otak yang pintar juga. Ditambah dia lahir dari keluarga terpandang, yang tentu saja tajir. Dan lagi lagi, kembali gw mengutip perkataan Dedi, "Dia kurang apalagi Jar?"
Tiba tiba jimbot gw berdering, kemudian gw membukanya. Disitu tertulis sebuah pesan dari Ridwan (Basser gw/ Teman sekelas gw) yang memberi tahu kalau siang ini kita ada reherseal atau latihan. Minggu minggu ini band gw emang lagi getol getolnya buat latian. Soalnya waktu audisi sudah dekat, hanya tinggal beberapa hari lagi.
"Aku tinggal dulu ya Bung...." Ucap gw.
"Kamu mau kemana?"
"Emmm mau latian.." Jawab gw.
"Latian apa?"
"Ilmu kanuragan!" Jawab gw lagi.
"iihh nyebelin! Latian band?"
"Ya iya Laah!!"
"Aku ikut yaa..."
"Loh kamu nggak masuk?"
"Nggak...."
"Kamu masuk kuliah aja sana, nggak usah ikut!" Ujar gw.
"Males ah yank...Seharian ini aku mau sama kamu aja. Ya ya ya..." Ucapnya sambil ngelendotin gw
"Yeeh, aku takut kamu bete di dalem studio..." Ujar gw
"Nggak lah kan ada kamu ini".
"Aku kan pokus maen gitar. Nanti yang ada kamu malah aku kacangin..."
"Nggak apa apa! Aku cuma mau liat kamu! Pokoknya aku maksa pengen ikut. Titik!!"
"Yaelah Bung...Jangan kayak bocah ngapa!"
"Bodo bodo bodo...Aku ikut!!"
Bunga membolos, dan itu gara gara gw, gara gara pengen ngikut gw. Gw udah ngelarang, tpi dia kekeuh pengen ikut. Gw jadi nggak enak ngasih pengaruh buruk ke dia. Yaudah lah, toh dia ini yang mau, bukan gw. Kami pun langsung bergegas menuju kosan si Yogo. Gw mau ngambil perabotan gw disana terlebih dahulu. Salah satunya gitar Ibanez gw.
"Bunga, ini gitar aku kamu yang gendong ya. Hehe."
"Kamu aja ah..."
"Ini kalo ditaro di tengah ntar kegencet gitarnya, ngeri pengok. Enteng ini kok, nggak berat!"
"Huh yaudah sini."
Bunga nurut, lalu mengambil gitar gw menuju genggamannya. Beberapa detik kemudian "sreek", Bunga membuka resleting softcase dekil itu, lalu gitar gw malah dikeluarin lagi sama dia. Dipelototin dan dipegang pegang. Mau ngapain nih anak? Kemudian gw memperhatikan Bunga melenggak lenggok, bergaya sambil ngaca di jendela kamar kos.
"Yank...Fotoin dong. Hehe" Pinta dia.
"Ya ampun narsis amat sih!!"
Dia memberikan HP nukiyemnya, lalu,
"Cekrek..."
Lima belas menit kemudian, gw dan Bunga sampai di studio. Roby (Pokaler gw) sudah standbye di halaman studio sambil menghisap sebatang rokok. Sedangkan Fauzi dan Ridwan belum datang. Gw langsung menghampirinya tak lupa mengajak Bunga.
"Dah lama lu Rob?" Tanya gw.
"Baru juga sampe..." Jawabnya.
"Kunyuk dua lagi mana?"
"OTW katanya mah..."
"Oh..."
"Eh Bro....Itu cewe siapa lagi Bro?" Tanya dia setengah berbisik.
"Kenapa emang?"
"Ahh gila lu Bro, yang ini mah lebih mantep dari yang lu bawa kemaren..."
"Haha..." Gw hanya tertawa.
"Bro, bagi lah nomernya...."
"Nomer apaan? Togel?"
"Yaa....Nomornya dia lah...Itu temen lu kan? Kayanya gw mau sama yang ini aja Bro..." Ujarnya nyengir.
"Bro.....Kalo cewe yang ini, hukumnya HARAM!!" Ujar gw.
"Lah? Kenapa haram Bro??"
"........."
Gw diam saja tidak menjawab pertanyaan konyol si Roby. Hingga akhirnya Bunga membuka suara,
"Yaaank, ini gitar kamu berat ih....!!!"
Sedetik kemudian gw perhatikan wajah si Roby langsung berubah masam, plus memajukan bibirnya, alias manyun.
Darpox memberi reputasi
1