- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1980
PART 87
Gue membaca chat Line dari Adinda tersebut dengan wajah datar. Gue gak kaget, karena tadi siang memang Adinda minta kontak Line gue. Kebetulan karena gue lagi senggang, langsung gue bales lah itu chat.
Setelah itu obrolan gue dan Adinda berlangsung cukup lama, karena dia mulai nanya-nanya soal skripsi dan pilihan bidang minat yang ada di kampus. Gue sih ngejawab semua celotehan Adinda dengan santai, soalnya memang masuk akal juga yang dia tanyain. Selama dia gak ngeselin sih gue ladeni baik-baik. Selain chat sama Adinda itu gue juga chat sama Anin, dan bukan cewek gue namanya kalo gak ngaco jawabannya.
Itu baru sebagian. Gak keitung dah ngaconya Anin kalo lagi mood ngaco. Ditanyain apa, jawabnya apa. Sering-sering malah ditanyain malah balik nanya. Gue yang udah kebiasa dengan keadaan kayak gini paling ya cuma ketawa-ketawa gak jelas aja. Mau ngambek juga gak bisa kalo sama nih anak satu. Malam itu akhirnya gue habiskan dengan chatting sama Anin dan Adinda sampe gue ketiduran.
Beberapa hari kemudian.
Hari itu entah hari keberapa Anin di Jakarta, dan gue masih disini sendirian. Gue sedang cuci mobil di depan garasi rumah. Kelar cuci mobil, gue masuk rumah, kemudian mandi. Setelah mandi gue melihat handphone, dan disitu ada beberapa chat yang belom gue baca. Ternyata dari Adinda.
Gue terdiam sejenak membaca chat itu. Gue sepertinya udah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini bakal berlanjut. Gue menggosok hidung, dan kemudian membalas chat itu dengan hati-hati.
Gue menutup mata dengan sebelah telapak tangan. Bener kan dugaan gue, pasti dia ngajak keluar. Tapi gue juga sebagai cowok gak bisa nolak permintaan tolong ini, karena gue beneran murni kepingin bantu doang. Lagian gue emang lagi gak ada kegiatan apa-apa. Setelah berpikir beberapa saat, gue membalas chat itu.
Gue melihat keluar, dan mendapati langit berawan. Naga-naganya mau hujan nih, pikir gue. Mana mobil barusan dicuci lagi. Gue memutuskan naik motor aja ke tempat itu. Gue janjian sama Adinda jam 1 siang, dan sesuai kebiasaan gue, sebelum jam 1 gue udah disana. Gue emang paling gak suka ngaret.
Gue duduk sendirian di Starbucks, menunggu Adinda yang tadi katanya mau dateng jam 1. Gue liat jam, dan ternyata udah jam 1 lebih. Sambil menghisap caffe latte, gue membuka-buka handphone. Sepi. Anin siang itu memang lagi ada acara sama sodaranya, diajak nyari barang apa gitu. Jadi percuma juga gue chat, paling dia baru bisa bales sorenya.
Sekitar setengah 2an Adinda baru datang. Dia pake kemeja biru lengan panjang yang digulung sampe sesiku, memeluk bindernya dengan sebelah tangan dan membawa tas di tangan yang satunya. Nafasnya ngos-ngosan. Agaknya dia buru-buru kesini dari tempat parkir mobil. Melihat Adinda yang ngos-ngosan, gue tertawa dan memasukkan handphone ke kantong jaket kulit gue.
Gue menyandarkan tubuh ke belakang, dan melipat tangan di dada, tersenyum memandangi Adinda yang masih berusaha mengatur napas. Mendadak Adinda celingukan, melihat tasnya, kemudian melihat kursi di sampingnya, dan kemudian memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Gue heran.
Gue tertawa geli sambil menutup mata dengan sebelah tangan. Astaga ini anak, pikir gue. Kemudian gue memandangi mukanya yang memelas.
Gue meraih kunci yang disodorkan Adinda, dan beranjak pergi ke parkiran di lantai 3. Setelah menemukan mobil yang dimaksud, gue menemukan laptopnya di jok belakang. Sambil menenteng tas laptop, gue kembali ke Starbucks tadi. Sampe di meja, gue melihat ke luar melalui kaca, dan ternyata mulai turun hujan cukup deras.
Gue membaca chat Line dari Adinda tersebut dengan wajah datar. Gue gak kaget, karena tadi siang memang Adinda minta kontak Line gue. Kebetulan karena gue lagi senggang, langsung gue bales lah itu chat.
Quote:
Setelah itu obrolan gue dan Adinda berlangsung cukup lama, karena dia mulai nanya-nanya soal skripsi dan pilihan bidang minat yang ada di kampus. Gue sih ngejawab semua celotehan Adinda dengan santai, soalnya memang masuk akal juga yang dia tanyain. Selama dia gak ngeselin sih gue ladeni baik-baik. Selain chat sama Adinda itu gue juga chat sama Anin, dan bukan cewek gue namanya kalo gak ngaco jawabannya.
Quote:
Itu baru sebagian. Gak keitung dah ngaconya Anin kalo lagi mood ngaco. Ditanyain apa, jawabnya apa. Sering-sering malah ditanyain malah balik nanya. Gue yang udah kebiasa dengan keadaan kayak gini paling ya cuma ketawa-ketawa gak jelas aja. Mau ngambek juga gak bisa kalo sama nih anak satu. Malam itu akhirnya gue habiskan dengan chatting sama Anin dan Adinda sampe gue ketiduran.
Beberapa hari kemudian.
Hari itu entah hari keberapa Anin di Jakarta, dan gue masih disini sendirian. Gue sedang cuci mobil di depan garasi rumah. Kelar cuci mobil, gue masuk rumah, kemudian mandi. Setelah mandi gue melihat handphone, dan disitu ada beberapa chat yang belom gue baca. Ternyata dari Adinda.
Quote:
Gue terdiam sejenak membaca chat itu. Gue sepertinya udah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini bakal berlanjut. Gue menggosok hidung, dan kemudian membalas chat itu dengan hati-hati.
Quote:
Gue menutup mata dengan sebelah telapak tangan. Bener kan dugaan gue, pasti dia ngajak keluar. Tapi gue juga sebagai cowok gak bisa nolak permintaan tolong ini, karena gue beneran murni kepingin bantu doang. Lagian gue emang lagi gak ada kegiatan apa-apa. Setelah berpikir beberapa saat, gue membalas chat itu.
Quote:
Gue melihat keluar, dan mendapati langit berawan. Naga-naganya mau hujan nih, pikir gue. Mana mobil barusan dicuci lagi. Gue memutuskan naik motor aja ke tempat itu. Gue janjian sama Adinda jam 1 siang, dan sesuai kebiasaan gue, sebelum jam 1 gue udah disana. Gue emang paling gak suka ngaret.
Gue duduk sendirian di Starbucks, menunggu Adinda yang tadi katanya mau dateng jam 1. Gue liat jam, dan ternyata udah jam 1 lebih. Sambil menghisap caffe latte, gue membuka-buka handphone. Sepi. Anin siang itu memang lagi ada acara sama sodaranya, diajak nyari barang apa gitu. Jadi percuma juga gue chat, paling dia baru bisa bales sorenya.
Sekitar setengah 2an Adinda baru datang. Dia pake kemeja biru lengan panjang yang digulung sampe sesiku, memeluk bindernya dengan sebelah tangan dan membawa tas di tangan yang satunya. Nafasnya ngos-ngosan. Agaknya dia buru-buru kesini dari tempat parkir mobil. Melihat Adinda yang ngos-ngosan, gue tertawa dan memasukkan handphone ke kantong jaket kulit gue.
Quote:
Gue menyandarkan tubuh ke belakang, dan melipat tangan di dada, tersenyum memandangi Adinda yang masih berusaha mengatur napas. Mendadak Adinda celingukan, melihat tasnya, kemudian melihat kursi di sampingnya, dan kemudian memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Gue heran.
Quote:
Gue tertawa geli sambil menutup mata dengan sebelah tangan. Astaga ini anak, pikir gue. Kemudian gue memandangi mukanya yang memelas.
Quote:
Gue meraih kunci yang disodorkan Adinda, dan beranjak pergi ke parkiran di lantai 3. Setelah menemukan mobil yang dimaksud, gue menemukan laptopnya di jok belakang. Sambil menenteng tas laptop, gue kembali ke Starbucks tadi. Sampe di meja, gue melihat ke luar melalui kaca, dan ternyata mulai turun hujan cukup deras.
Diubah oleh jayanagari 10-01-2015 23:20
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: belum kok, kenapa emang?
: gakpapa, nanya aja hehe. Gak boleh ya? 
: iyaa, gakpapa kok, lagian siapa yang ngelarang sih hehe
: aku ganggu gak nih?
: bengong, ngitungin bulu kaki.
: dih masnya jorok dih
: lah tadi?
: lagi apa dek? Udah di rumah?
: lagi sama om-om ganteng.
: WTH….
: kenapa?