Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
28.9K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#190
Kikan sudah menunggu di teras saat Lowry datang. “Kak Low,” ucapnya pelan begitu melihat Lowry mendekat.

Tapi tampang Lowry memang agak kusut, tidak cemerlang bahagia seperti biasanya mengingat kata – kata menyakitkan yang diucapkan Kikan baru-baru ini masih terlalu segar di ingatan.

“Kenapa?”

“Kak Low. Masih marah ya?”

“Nggak. Kenapa emangnya?”

“Kayaknya masih marah.”

Lowry pun diam, garuk-garuk kepala yang tak gatal.
“Kesel sih ada Kan. Tapi yaa .. no big deal lah.” ucapnya.

“Ya udah. Ngomongnya di dalem aja yuk. Kikan dingin disini.”

Lowry pun membatin, “Ya wajar aja dingin, situ malem-malem gini malah pake hot pants ama singlet.”

Setelah mereka duduk bersebelahan di sofa, Kikan mulai lagi menebar pertanyaan absurdnya.

“Kak Low, masih sayang Kikan nggak?”

Lowry malas dengan pertanyaan itu. Cepat dan tegas dia menjawab.
“Ya masihlah Kan, memangnya kamu pikir perasaanku ini lampu kulkas apa, sebentar nyala terang sebentar gelap menghilang?”

"Jangan marah-marah gitu dong Kak Low, kok kayak yang bete gitu sih?"

Lowry berpikir sebentar sebelum menjawab.

Menghela napas dalam-dalam dan ia pun berkata, "Gw bingung sih sebenarnya."

"Bingung apa kak?"

"Stress gw, bokap gw udah punya anak lagi di Jepang sana. Nyokap gw ngasih gw duit mulu juga tapi kayanya ga ada peduli-pedulinya sama gw. Dan hidup sama karir gw juga standar-standar aja untuk ukuran orang yang makan sekolahan di luar... dan asmara gw .. ya lo tau sendiri .. gitu deh."

"Terus kak Low maunya gimana? Yang bisa bikin kak Low seneng apa?"

"Gak tau juga sih ya? Gw kebawa suasana sih selama ini. Hidup kurang tantangan emang kalo apa apa ada apa apa ada. Nah ini kemarin gw udah mikir kan ya, gw rasa gw perlu tantangan lebih nih. Ya ibaratnya sirkus yang jalan di tali gitu lo tau gak? Kan biasanya di bawahnya pas latihan ada jaringnya tuh? Nah pas lagi maen beneran kan gak ada jaringnya tuh. Menantang kan?"

"Hah? Maksudnya? Kikan gak ngerti kak."

"Ya maksudnya, kalo jatuh ya mati sekalian udah. Rumah sakit minimal."

"Hah? Kak Low mau bunuh diri dengan jalan sebagai pemain sirkus?"

Kesel ga dingertiin juga Lowry tomplokin bantal sofa ke muka Kikan.
"Lo kok, makin masuk sekolah malah makin bolot sih?"

Dan keduanya pun tertawa ...

"Sialan. Kak Low sih bahasanya ribet banget. Sampe sekarang juga Kikan gak ngerti maksud Kak Low ngomong tadi apaan?"

"Gw mau bilang ke bokap nyokap gw. Jangan kirimin gw duit lagi. Gw mau lepas dari mereka. Mau mandiri. Gak mau pake fasilitas dari mereka lagi."

"Mau Mandiri? Emang bisa?" Kikan ngeledek.

"Sialan ni bocah."

Tangan kiri Lowry baru mau mengambil bantal yang agak jauh di bawah dekat kaki meja tapi Kikan sudah lebih dulu mengambil inisiatif serangan dan satu hook bantal pun mengenai pipi kiri Lowry.

"Haha, curang. Gw belum punya bantal. Bentar-bentar dih curang banget."

Tapi Kikan terus melanjutkan dan perang bantal pun tak terhindarkan lagi di antara mereka berdua. Beberapa menit kemudian mereka terduduk lagi di spot yang sama dengan napas tersengal-sengal.

Kacamata Lowry sudah agak melorot. Rambut Kikan yang tadinya diikat buntut kuda, lepas kuncirannya dan jadi acak-acakan.

"Kayak ngegebukin Godzilla. Kak Lowry lebar banget. Dulu maminya ngidam hippo kali ya." komentar Kikan polos.

Lowry tersenyum mendengarnya dan memperbaiki kacamatanya yang sebelah tak menempel di telinga.

"Salah. Nyokap gw dulu ngidam wajan penggorengan martabak. Makanya lebar."

Dan Kikan pun nambah tergelak-gelak.

"Kak Low," Kikan mulai pasang tampang serius lagi.

"Apaan," Lowry sok pasang tampang serius juga.

Diam sesaat.

Lalu terdengar bunyi pelan, "Preet."

Lowry sontak bangkit dan tertawa ngakak, berlari menjauh sambil menutupi hidungnya.

"Bangke, gw dikentutin. Bau sigung lagi. Parah lo ya ama orang tua."

KIkan ketawa ngakak sekarang. Puas dia nge'bom' Lowry dan melihat Lowry yang kabur sekarang berdiri jauh sekitar 5 meter darinya. Tapi tawanya segera sirna, ia memegang perutnya dan menghambur ke kamarnya dan membanting pintu.

Setelah menyaksikan Kikan ngibrit ke dalam kamar .. yah you knowlah ..
Lowry memutuskan untuk ke teras, duduk di kursi teras untuk menghirup udara segar sejenak.

Tak lama Kikan pun sudah ikut duduk juga di kursi teras. Mereka berdua berpandangan dan tertawa lagi.

"Kak Low,"

"Ya?"

"Kikan juga bingung ini. Gimana ya ngomongnya?"

"Ngomong ya ngomong aja lah. Kaya gw tadi. Susah amat sih lo." ucap Lowry pelan.

"Iya. Kikan juga mikirin sama kaya Kak Low gitu kemarin di kelas. Kak Low tau kan pentingnya pendidikan di luar sekarang ini gimana, nah Kikan juga pengen. Tapi Kikan tuh orangnya gak gaul. Terus terang Kikan takut gak survive di luar kalo sendirian gak sama orang yang Kikan kenal baik."

"Mmmm .. maksudnya?" tanya Lowry.

"Kak Low kan tau ya Kikan suka ... sempet suka ... masih suka .. sama Kak Sierra. Tapi kan Kak Sierra gak butuh Kikan sebenarnya. Kikan .."

Lowry diam saja menunggu nasibnya.

"Kikan rasa Kikan butuh Kak Low dalam hidup Kikan. Tapi mungkin sekarang sih bukan suka yang gimanaa gitu. Ngerti ga sih?"

Lowry berdiri dari duduknya, dan Kikan juga berdiri. Mereka saling berhadapan dan Lowry menggamit kedua tangan Kikan dan menggenggamnya erat.

"Makasih ya. Udah kasih gw kesempatan. Gw seneng banget. Gapapa koq kalo sekarang bukan suka yang gimanaa gitu. Gapapa. Pake aja gw Kan. Pake aja gw. Mulai dari hari ini, butuh apa juga, gw di sebelah Kikan 100 persen. Dan kalo nanti ternyata ada orang yang bisa bikin lo ada rasa suka yang gimanaa gitu, gw siap kalo lo taro gw di bangku cadangan lagi. Tapi gw pastiin, kalo lo kasih gw kesempatan, gak akan gw sia-siain."

"Maennya yang bagus ya, biar gak ke bangku cadangan lagi." Kikan tersenyum tapi di sudut mata tetes haru sudah menggenang.

"Jangan jual gw ke klub laen ya coach." ucap Lowry.

"Gak bakal, selama kamu nggak teken kontrak sama klub laen duluan." balas Kikan.

"Lah ini sekarang nama klubnya apaan?" tanya Lowry.

Kikan pun menjatuhkan tubuhnya di pelukan Lowry yang gempal itu, Tangannya mendekap erat Lowry.

Kikan berbisik, "Namanya FC Lowry-Kikan."

Dengan kesepakatan itu kedua sejoli itupun membuka lembaran baru. Gerimis kecil dan angin malam tak kuasa menepis kehangatan yang terpancar dari dekapan mereka.
Diubah oleh rahan 07-01-2015 02:07
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.