- Beranda
- Sejarah & Xenology
The Last Emperor: Dari seorang Kaisar Hingga menjadi Tukang Kebun
...
TS
mosquit0
The Last Emperor: Dari seorang Kaisar Hingga menjadi Tukang Kebun
siang Forsex, 
barusan liat index keknya sih belum ada thread bahas ini,
sejarah mencatat orang orang biasa yang dalam perjalanan hidupnya kemudian menjadi orang besar dan hebat, tapi kisah ini sebaliknya, Pu Yi yang terlahir sebagai kaisar, sang putra langit yang memerintah ratusan juta rakyat oleh roda nasib ditakdirkan untuk menjalani pahitnya hidup.
Pu Yi belum pernah benar benar merasakan kejayaan memerintah kek kaisar kaisar terdahulu, malah sebaliknya rupa rupa goncangan ia alami .. naik tahta, turun tahta, naik lagi, turun lagi ,menjadi tahanan, menjadi buruh kerja di kamp hingga menjadi tukang kebon dijalani oleh Pu Yi, Kaisar tetakhir China.
mudah mudahan belum repost dan bisa jadi bacaan yang menghibur.

perjalanan hidup Pu Yi, dari Kaisar menjadi rakyat jelata
Kaisar Tanpa Titah
PADA 2 Desember 1908, Aula Kedamaian Istana Terlarang. Ribuan orang berkumpul menghadiri upacara penobatan kaisar baru. Upacara biasanya memakan waktu sepanjang hari. Sebelum penobatan, kaisar baru harus menerima para pemimpin tentara istana, menteri, pejabat sipil dan militer, raja kecil, serta gubernur untuk melakukan kowtow (penghormatan).
Belum juga usai, sang kaisar sudah kelelahan. Dia menjerit, menangis, dan meraung-raung. Wali kaisar, yang tak lain adalah ayahnya, gelisah. Setengah berbisik dia membujuk anaknya: “Jangan nangis. Yang sabar ya. Semuanya segera selesai. Semuanya akan usai.” Beberapa orang yang mendengar bisikan itu berkata: “Ini adalah pertanda buruk.”
Henry Pu Yi, kaisar baru itu, yang lahir pada 7 Februari 1906, baru berusia dua tahun. Dia menggantikan kaisar lama yang mati dibunuh pendukung republik.
Pu Yi jadi penerus Dinasti Qing dalam situasi penuh prahara. Kaum revolusioner republik sedang gencar mengupayakan perubahan sistem pemerintahan China dari monarki menjadi republik. Seorang penasihat istana bernama Yuan Shih Kai menjadi musuh dalam selimut dalam pemerintahan Pu Yi.
Pada 12 Februari 1912 Yuan berhasil mempengaruhi janda permaisuri Lung Yu untuk menjatuhkan pemerintahan Pu Yi. Yuan lalu membentuk pemerintahan republik sementara dengan dia sebagai presidennya. Segala urusan politik dan ekonomi kerajaan berada di bawah pengaturan Yuan.
“Aku kaisar yang berkuasa dalam suasana seperti itu selama tiga tahun lamanya, tanpa adanya kesadaran yang nyata akan situasi politik,” kata Pu Yi dalam otobiografinya.
Pu Yi jadi kaisar tanpa titah. Dia menjalani hidup sebagai seorang interniran di Istana Terlarang. Tapi dia masih memperoleh hak pelayanan sebagai kaisar dan menjalankan tradisi kerajaan berdasarkan Perjanjian Perlakuan Baik yang dibuat ayahnya dan Departemen Rumah Tangga dengan pihak republik. Di sisi lain keluarga Qing berjanji akan terus mendukung Yuan sebagai kaisar bila dia memegang teguh perjanjian itu. Tapi Yuan keburu meninggal dunia, hanya 83 hari setelah memegang kekuasaan sebagai kaisar.

Jenderal Yuan Shikai
Banyak orang percaya itu adalah kutukan langit karena dia telah merebut kepemimpinan “Putra Langit” secara tidak sah. Berita kematiaannya disambut penuh suka cita oleh para penduduk Kota Terlarang. Kematian Yuan memunculkan kembali kerinduan masyarakat Kota Terlarang, bahkan sebagian masyarakat China, terhadap pemerintahan Dinasti Qing. Mereka menuntut restorasi pemerintahan. Pada 1917 restorasi Dinasti Qing mencapai puncaknya. Pu Yi kembali menjadi kaisar penuh.
Tapi masa-masa indah itu hanya berlangsung sesaat. Kaum revolusioner republik kembali menyerang Istana Yu Ching milik Dinasti Qing dengan menggunakan kekuatan udara –yang pertama dalam sejarah China. Setelah itu pemerintahan republik mengeluarkan dekrit yang menurunkan tahta Pu Yi sebagai kaisar. Kecuali di Istana Terlarang, Pu Yi kembali kehilangan kekuasaannya.
Beruntung Pu Yi memiliki banyak tutor yang kelak mempengaruhi pikiran-pikirannya. Salah satunya Reginald Fleming Johnstone, alumnus Universitas Oxford Inggris. Melalui dirinya Pu Yi belajar berbagai hal mengenai dunia Barat. Keduanya kerap berdiskusi soal kondisi dan sistem politik di sejumlah negara, kekuatan negara setelah Perang Dunia I, hingga kebiasaan keluarga kerajaan Inggris.
“Kurasa dia tak pernah menyadari seberapa dalam pengaruh dirinya terhadap diriku; bahwa stelan wolnya membuatku mempertanyakan nilai kain sutera dan brokat China; dan pulpen di dalam sakunya membuatku malu menggunakan kuas dan kertas Chinaku,” kenang Pu Yi.
Kekuasannya yang terbatas hilang ketika pemerintahan republik mengumumkan berakhirnya Perjanjian Perlakuan Baik. Kedudukan Pu Yi sebagai kaisar dicabut; hanya rakyat biasa. Pu Yi kemudian melarikan diri ke Tietsin, sebuah daerah yang masih menjadi wilayah konsesi Jepang atas China. Di sini Pu Yi berusaha mengonsilidasikan kembali sisa-sisa pengikut setianya. Tutor-tutor Pu Yi meyakinkannya bahwa restorasi hanya bisa terwujud dengan bantuan Jepang.
Jepang sendiri mendekati Pu Yi dengan mengundangnya berkunjung ke sebuah sekolah untuk anak-anak Jepang dan pesta ulang tahun Kaisar Jepang. Bahkan pada 1934 Jepang mengangkat Pu Yi sebagai kaisar boneka di Machukuo di utara China untuk memuluskan berbagai kepentingan Jepang di China. Pada masa ini, melalui stempel Pu Yi, Jepang menggulirkan kerja paksa hingga puluhan ribu rakyat China tewas. Jepang juga kemudian berhasil menduduki wilayah Beijing. Tapi, ibarat kacang lupa kulitnya, Jepang lalu mencabut kekuasaan Pu Yi.
Pernah bekerjasama dengan Jepang, Pu Yi dicap sebagai kolaborator. Pada 1945, dalam suasana Perang Dunia II, Pu Yi ditangkap pasukan Soviet dan dibawa ke Chita, Siberia. Selama tujuh hari berturut-turut Pu Yi diperiksa di pengadilan penjahat perang.
China sendiri sudah berubah. Pada 1 Oktober 1949, Mao Tse Tung resmi membentuk Republik Rakyat China. Pu Yi sendiri baru menikmati kemerdekaan dirinya sepuluh tahun kemudian ketika Mao mengumumkan pemberian amnesti kepada para tahanan perang, termasuk Pu Yi.
artikel asli di http://historia.co.id/?d=863
----------

barusan liat index keknya sih belum ada thread bahas ini,
sejarah mencatat orang orang biasa yang dalam perjalanan hidupnya kemudian menjadi orang besar dan hebat, tapi kisah ini sebaliknya, Pu Yi yang terlahir sebagai kaisar, sang putra langit yang memerintah ratusan juta rakyat oleh roda nasib ditakdirkan untuk menjalani pahitnya hidup.
Pu Yi belum pernah benar benar merasakan kejayaan memerintah kek kaisar kaisar terdahulu, malah sebaliknya rupa rupa goncangan ia alami .. naik tahta, turun tahta, naik lagi, turun lagi ,menjadi tahanan, menjadi buruh kerja di kamp hingga menjadi tukang kebon dijalani oleh Pu Yi, Kaisar tetakhir China.
mudah mudahan belum repost dan bisa jadi bacaan yang menghibur.
Quote:
perjalanan hidup Pu Yi, dari Kaisar menjadi rakyat jelata
Kaisar Tanpa Titah
PADA 2 Desember 1908, Aula Kedamaian Istana Terlarang. Ribuan orang berkumpul menghadiri upacara penobatan kaisar baru. Upacara biasanya memakan waktu sepanjang hari. Sebelum penobatan, kaisar baru harus menerima para pemimpin tentara istana, menteri, pejabat sipil dan militer, raja kecil, serta gubernur untuk melakukan kowtow (penghormatan).
Belum juga usai, sang kaisar sudah kelelahan. Dia menjerit, menangis, dan meraung-raung. Wali kaisar, yang tak lain adalah ayahnya, gelisah. Setengah berbisik dia membujuk anaknya: “Jangan nangis. Yang sabar ya. Semuanya segera selesai. Semuanya akan usai.” Beberapa orang yang mendengar bisikan itu berkata: “Ini adalah pertanda buruk.”
Henry Pu Yi, kaisar baru itu, yang lahir pada 7 Februari 1906, baru berusia dua tahun. Dia menggantikan kaisar lama yang mati dibunuh pendukung republik.
Pu Yi jadi penerus Dinasti Qing dalam situasi penuh prahara. Kaum revolusioner republik sedang gencar mengupayakan perubahan sistem pemerintahan China dari monarki menjadi republik. Seorang penasihat istana bernama Yuan Shih Kai menjadi musuh dalam selimut dalam pemerintahan Pu Yi.
Pada 12 Februari 1912 Yuan berhasil mempengaruhi janda permaisuri Lung Yu untuk menjatuhkan pemerintahan Pu Yi. Yuan lalu membentuk pemerintahan republik sementara dengan dia sebagai presidennya. Segala urusan politik dan ekonomi kerajaan berada di bawah pengaturan Yuan.
“Aku kaisar yang berkuasa dalam suasana seperti itu selama tiga tahun lamanya, tanpa adanya kesadaran yang nyata akan situasi politik,” kata Pu Yi dalam otobiografinya.
Pu Yi jadi kaisar tanpa titah. Dia menjalani hidup sebagai seorang interniran di Istana Terlarang. Tapi dia masih memperoleh hak pelayanan sebagai kaisar dan menjalankan tradisi kerajaan berdasarkan Perjanjian Perlakuan Baik yang dibuat ayahnya dan Departemen Rumah Tangga dengan pihak republik. Di sisi lain keluarga Qing berjanji akan terus mendukung Yuan sebagai kaisar bila dia memegang teguh perjanjian itu. Tapi Yuan keburu meninggal dunia, hanya 83 hari setelah memegang kekuasaan sebagai kaisar.
Jenderal Yuan Shikai
Banyak orang percaya itu adalah kutukan langit karena dia telah merebut kepemimpinan “Putra Langit” secara tidak sah. Berita kematiaannya disambut penuh suka cita oleh para penduduk Kota Terlarang. Kematian Yuan memunculkan kembali kerinduan masyarakat Kota Terlarang, bahkan sebagian masyarakat China, terhadap pemerintahan Dinasti Qing. Mereka menuntut restorasi pemerintahan. Pada 1917 restorasi Dinasti Qing mencapai puncaknya. Pu Yi kembali menjadi kaisar penuh.
Tapi masa-masa indah itu hanya berlangsung sesaat. Kaum revolusioner republik kembali menyerang Istana Yu Ching milik Dinasti Qing dengan menggunakan kekuatan udara –yang pertama dalam sejarah China. Setelah itu pemerintahan republik mengeluarkan dekrit yang menurunkan tahta Pu Yi sebagai kaisar. Kecuali di Istana Terlarang, Pu Yi kembali kehilangan kekuasaannya.
Beruntung Pu Yi memiliki banyak tutor yang kelak mempengaruhi pikiran-pikirannya. Salah satunya Reginald Fleming Johnstone, alumnus Universitas Oxford Inggris. Melalui dirinya Pu Yi belajar berbagai hal mengenai dunia Barat. Keduanya kerap berdiskusi soal kondisi dan sistem politik di sejumlah negara, kekuatan negara setelah Perang Dunia I, hingga kebiasaan keluarga kerajaan Inggris.
“Kurasa dia tak pernah menyadari seberapa dalam pengaruh dirinya terhadap diriku; bahwa stelan wolnya membuatku mempertanyakan nilai kain sutera dan brokat China; dan pulpen di dalam sakunya membuatku malu menggunakan kuas dan kertas Chinaku,” kenang Pu Yi.
Kekuasannya yang terbatas hilang ketika pemerintahan republik mengumumkan berakhirnya Perjanjian Perlakuan Baik. Kedudukan Pu Yi sebagai kaisar dicabut; hanya rakyat biasa. Pu Yi kemudian melarikan diri ke Tietsin, sebuah daerah yang masih menjadi wilayah konsesi Jepang atas China. Di sini Pu Yi berusaha mengonsilidasikan kembali sisa-sisa pengikut setianya. Tutor-tutor Pu Yi meyakinkannya bahwa restorasi hanya bisa terwujud dengan bantuan Jepang.
Jepang sendiri mendekati Pu Yi dengan mengundangnya berkunjung ke sebuah sekolah untuk anak-anak Jepang dan pesta ulang tahun Kaisar Jepang. Bahkan pada 1934 Jepang mengangkat Pu Yi sebagai kaisar boneka di Machukuo di utara China untuk memuluskan berbagai kepentingan Jepang di China. Pada masa ini, melalui stempel Pu Yi, Jepang menggulirkan kerja paksa hingga puluhan ribu rakyat China tewas. Jepang juga kemudian berhasil menduduki wilayah Beijing. Tapi, ibarat kacang lupa kulitnya, Jepang lalu mencabut kekuasaan Pu Yi.
Pernah bekerjasama dengan Jepang, Pu Yi dicap sebagai kolaborator. Pada 1945, dalam suasana Perang Dunia II, Pu Yi ditangkap pasukan Soviet dan dibawa ke Chita, Siberia. Selama tujuh hari berturut-turut Pu Yi diperiksa di pengadilan penjahat perang.
China sendiri sudah berubah. Pada 1 Oktober 1949, Mao Tse Tung resmi membentuk Republik Rakyat China. Pu Yi sendiri baru menikmati kemerdekaan dirinya sepuluh tahun kemudian ketika Mao mengumumkan pemberian amnesti kepada para tahanan perang, termasuk Pu Yi.
artikel asli di http://historia.co.id/?d=863
Quote:
----------

Diubah oleh mosquit0 04-01-2015 14:30
0
45.3K
60
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mosquit0
#13
Keluarga Qing Dynasty Sekarang
ilustrasi
Lima Istri Dari Kaisar Terakhir Puyi
Istri pertama: Ratu Wan Rong
Permaisuri Xiao Ke Min, juga dikenal sebagai Ratu Wan Rong (婉容 皇后) (13 November 1906 – 20 Juni 1946) adalah Ratu Permaisuri terakhir dari Dinasti Qing di Cina, dan kemudian Ratu Manchukuo (juga dikenal sebagai Kekaisaran Manchuria).
Gobulo Wan Rong (“wajah Beautiful”) adalah putri Rong Yuan, Menteri Dalam Negeri Pemerintah Qing dan kepala salah satu yang paling menonjol Manchuria’s, keluarga terkaya. Dia berpendidikan tinggi di sebuah sekolah misionaris Amerika di Tianjin oleh tutor Isabel Amerika Ingram, di mana dia telah diberi nama Kristen “Elizabeth”.
Pada usia 17, Wan Rong dipilih dari serangkaian foto disampaikan kepada Kaisar Xuan Tong (alias Puyi), yang tinggal di Kota Terlarang sebagai raja berdaulat non-Cina, sebagai kandidat potensial untuk jabatan permaisuri Imperial . Pernikahan terjadi ketika Puyi mencapai usia 16 tahun, dan hadiah mahal banyak diberikan kepada pengantin dan keluarganya, meskipun Puyi pernah menunjukkan minat banyak (seksual atau sebaliknya) baik Rong Wan atau selir Wen Xiu.
Persatuan antara Puyi dan Wan Rong tidak pernah diproduksi setiap ahli waris, dan beberapa negara sejarawan bahwa mereka tidak mungkin telah seksual intim. Beberapa percaya Puyi adalah mandul, tapi ini bisa menjadi cara yang halus untuk menghindari diskusi tentang seksualitas. Dipercaya secara luas bahwa Puyi adalah homoseksual, dan ketika tinggal di Changchun sebagai Kaisar boneka Manchukuo, ada rumor keterlibatan seksual dengan berbagai pageboys. kakak-dalam-hukum-Nya Saga Hiro menulis tentang hubungan Puyi dengan anak laki-laki muda dalam memoir-nya.
Ratu Wan Rong mulai menggunakan opium ketika ia masih remaja. Menurut memoar Puyi, hal itu modis untuk gadis-gadis dididik untuk asap rokok pada waktu itu, dan sejumlah kecil dari opium sering ditambah dengan Cina sebagai analgesik.
Setelah Puyi dipaksa keluar dari Kota Terlarang oleh panglima perang Feng Yuxiang Cina pada tahun 1924, ia melarikan diri dengan Ratu Wan Rong dan pindah ke konsesi asing di Tianjin. Di sana, mereka tinggal di “Taman Villa Tenang” dalam konsesi Jepang di Tianjin. Di Tianjin, Wan Rong tumbuh untuk membenci Puyi dan mereka menjalani kehidupan semakin terpisah.
Dengan harapan untuk mengembalikan Kekaisaran Manchu, Puyi menerima tawaran Jepang untuk kepala negara baru Manchukuo, dan pindah ke Changchun, Provinsi Jilin, yang telah diubah namanya Hsinking, pada bulan Maret 1932. Dia tinggal di Harga Garam Rusia-membangun Istana, kantor pajak yang telah diubah menjadi sebuah istana sementara sementara struktur baru sedang dibangun. Hubungan antara Wan Rong dan Puyi tetap tegang, dan ia tinggal di ruang yang terpisah, jarang keluar atau makan makanan dengan Puyi. Bahkan setelah pindah ke Huang Wei baru dan mewah Gong, Wang Rong terus tidur di tempat terpisah. Menyadari suaminya hanya seorang penguasa boneka yang tidak memiliki kekuatan politik nyata, dan memiliki semua beban seorang Ratu tapi tidak ada keuntungan, kecanduan Wan Rong untuk opium mulai menjadi serius. Dia mengambil sekitar dua ons opium sehari, jumlah yang besar, antara Juli 1938 dan Juli 1939.
Rumor mengatakan bahwa pada tahun 1940, Ratu Wan Rong menjadi hamil oleh salah satu pelayannya, sopirnya Li Tieh-yu. Alih-alih memiliki dia dieksekusi, karena ia bisa saja, Puyi membayarnya off dan menyuruhnya untuk meninggalkan kota. Ketika Wan Rong melahirkan, para dokter membunuh bayi perempuan dengan suntikan mematikan. Hal ini juga berspekulasi bahwa dalam memoarnya, Puyi menulis bahwa dia telah melemparkan bayi Wan Rong ke dalam api, tetapi catatan seperti ini telah dihapus setelah diperiksa sebelum memoarnya diterbitkan. Hal ini hanya bisa berspekulasi bagaimana hal ini mungkin mempengaruhi kesehatan mental Wan Rong, dan memang sejak saat itu ia tinggal di kabut opium dekat-konstan.
Selama Evakuasi Manchukuo selama invasi Soviet Manchuria pada tahun 1945, Puyi berusaha melarikan diri Manchukuo, meninggalkan permaisuri nya (Wan Rong), selir-Nya (Li Yuqin) dan beberapa anggota keluarga lainnya kekaisaran, pura-pura karena rombongan segera nya beresiko penangkapan dan perempuan akan aman.
Ratu Wan Rong, Saga kakak ipar Hiro dan anggota lain dari kelompoknya berusaha melarikan diri darat ke Korea, tapi ditangkap oleh tentara komunis China di Talitzou, Manchukuo, pada bulan Januari 1946. Pada bulan April, mereka pindah ke sebuah kantor polisi di Changchun, akhirnya dibebaskan hanya untuk ditangkap lagi dan terkunci di sebuah kantor polisi di Jilin. Wan Rong pasokan opium sudah lama kering dan ia menderita efek penghentian. Ketika pasukan Chiang Kai-shek dibom Kirin, Wan Rong dan Saga Hiro keduanya dipindahkan ke Yanji Penjara di Provinsi Jilin.
Ratu Wan Rong meninggal di Yanji Penjara di Juni 1946 dari efek penghentian gizi buruk dan opium, usia 39. Namun, Puyi tidak menerima kabar sampai tiga tahun kemudian.
Pada bulan Oktober 2006, adik Ratu Wan Rong muda, Gobulo Runqi (1912-2007), memiliki makam dibangun untuk Wan Rong di Western Qing Makam.
Istri kedua: Wen Xiu,
Wen Xiu (文绣), juga dikenal sebagai Kekaisaran Permaisuri Shu (淑妃), (20 Desember 1909 – 17 September 1953), adalah Permaisuri Imperial Kaisar terakhir Cina Qing Dyasty, Xuan-Tong Kaisar Puyi.
Seiring dengan Kaisar Xuan-Tong (Puyi), dan Ratu Wan Rong, Wen Xiu meninggalkan kota terlarang pada tahun 1924, dan pindah ke Taman Zhang di Tianjin. Dia diajukan dan diberikan bercerai pada 1931.
Setelah perceraian, Kaisar Xuan-Tong, mendesak oleh istana Qing mantan, dilucuti Wen Xiu judul kekaisaran nya.
Pada tahun 2004, keturunan Qing Imperial House diberikan gelar anumerta kepada Kaisar Xuan-Tong, dua istri dan dua permaisuri. Namun, mereka tidak memberikan Wen Xiu gelar anumerta, dengan alasan bahwa ia diturunkan untuk biasa berikut menceraikannya.
ilustrasi
Istri ketiga: Tan Yuling
Tan Yuling (谭玉龄) (1920 – 14 Agustus 1942) adalah seorang selir Kaisar Manchukuo, Puyi. Namanya kadang-kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “Tahun Jade”.
Sebuah etnis Manchu dari klan Tatala, Yuling mengubah klan Manchuria ke sebuah terakhir bersama Han nama “Tan” (谭) berdasarkan kesamaan mereka pengucapan, karena anti-Manchuism di China setelah Revolusi Xinhai yang menggulingkan dinasti Manchu Qing. Pada tahun 1927, saat masih kecil, ia memasuki pelayanan pengadilan, dan ia didampingi pengadilan untuk negara boneka Jepang Manchukuo ketika dibentuk pada tahun 1932.
Pada tanggal 6 April 1937, ia dipilih oleh Puyi sebagai selir kaisar, dan diberi judul Imperial Selir Xiang (祥 贵人), yang berarti dia adalah permaisuri dari Gelar Kelima. Dia meninggal enam tahun setelah menikah saat dirawat untuk demam tifoid. Puyi merasa bahwa kematian itu mencurigakan, karena ia meninggal tak lama setelah suntikan yang diberikan oleh dokter Jepang. Tan Yuling dikenal memiliki membenci kontrol Jepang atas Kaisar, dan Puyi berada di bawah tekanan dari Angkatan Darat Kwantung Jepang untuk memilih Jepang sebagai penggantinya.
Setelah kematiannya, Ta Yuling secara anumerta diangkat pangkat “Gui-Fei”, yang berarti: “Noble Selir” (Permaisuri Gelar Kedua) dan diberi nama “Ming-Xian” (明贤).
Pada tahun 2004, keturunan Qing Imperial House lebih lanjut secara anumerta mengangkat dia ke peringkat “Huang-Gui-Fei”, yang berarti: “Imperial Mulia Permaisuri” (皇 贵妃) (Permaisuri Gelar Pertama).
Istri keempat: Li Yuqin
Li Yuqin (李玉琴), juga dikenal sebagai “Imperial Selir Terakhir”, (15 Juli 1928 – 24 April 2001) adalah istri keempat (atau selir ketiga) dan terakhir Imperial Selir dari Puyi, kaisar terakhir dari Dinasti Qing China.
Li Yuqin berusia 15 tahun pada tahun 1943 ketika ia menjadi istri keempat kaisar terakhir Cina-Aisingyoro Henry Puyi-minoritas Manchu yang memerintah Cina selama lebih dari 300 tahun (1644-1911). Dia meninggal pada usia 73 di timur laut kota Changchun setelah pertempuran enam tahun dengan sirosis, menurut resmi Xinhua News Agency.
Puyi, yang digulingkan sebagai kaisar dalam revolusi 1911 Cina, dan menjadi kaisar boneka di Manchuria yang diduduki Jepang, mengambil Li Yuqin sebagai selir, namun ditinggalkan setelah Perang Dunia II, ketika jatuh di tengah Manchukuo kekalahan Jepang. Li Yuqin tetap di Manchuria setelah Puyi dibawa ke Rusia oleh pasukan Soviet. Setelah Partai Komunis merebut kekuasaan di Cina pada tahun 1949 ia tetap tinggal di China dan menjadi pustakawan selama 1956 di Changchun.
Pada Mei 1957 ia secara resmi bercerai dan kemudian menikah Puyi seorang teknisi, dan memiliki dua anak. Otoritas penjara pernah mencoba membujuknya untuk menyerah perceraian demi transformasi Puyi itu menjadi seseorang yang baru. Kemudian, anaknya teringat dengan komentar: “Ibuku mempunyai hak untuk mengejar kebahagiaan sendiri.”
Istri kelima: Li Shuxian
Li Shuxian, juga dikenal sebagai Li Shu-Hsien (李淑贤) (1925 – 9 Juni 1997) adalah istri kelima dan terakhir Puyi, kaisar terakhir Dinasti Qing di Cina.
Dia adalah seorang Cina Han dan seorang mantan pekerja rumah sakit. Pada tahun 1959, setelah lima belas tahun di penjara, Puyi diampuni. Pasangan itu diperkenalkan kepada satu sama lain oleh seorang teman pada tahun 1962 dan menikah pada tahun yang sama. Premier Zhou Enlai disambut pernikahan mereka. Mereka tidak punya anak. Dia disertai Puyi untuk hari-hari terakhirnya.
Setelah kematian suaminya, Li pensiun dari pandangan publik. Karena dia bukan karyawan rumah sakit biasa, hidupnya menjadi sulit. Premier Zhou Enlai meminta kantor pemerintah yang relevan untuk memberikan bantuan khusus finansial.
Pada awal tahun delapan puluhan ia mencari dan menerima kepemilikan hukum royalti dari otobiografi Puyi dari pemerintah China. Dia kemudian menjadi kaya dengan menerbitkan memoarnya sendiri tentang tahun-tahun terakhir dia dengan Puyi. Dia meriwayatkan sebagai penulis menulis.
Disetujui oleh pemerintah, ia pindah abu Puyi lebih dekat dengan nenek moyangnya di Barat Qing Kuburan (清西陵) dari Babaoshan Revolusioner Pemakaman. Dia meninggal karena kanker paru-paru pada usia 72. Dalam wasiatnya, ia meminta agar ia, Puyi, dan 2 selir Puyi’s Tan Yuling (谭玉龄) dikubur bersama dalam kuburan. Namun, keinginannya sejauh ini belum terealisasi.
artikel asli di http://kit-indonesia.blogspot.com/20...hina-qing.html
Quote:
ada 2 hal yang menyedihkan soal artikel ini,
yang pertama, artikel pertama yang bahas 5 istri Pu Yi keknya adalah hasil Google translate, dan
yang kedua, ada kalimat yang dibold di 2 artikel tadi yang kalau dibaca om Krayak dan om pisangkaramel akan membuat keduanya berpendapat bahwa
adalah salah satu tradisi elite dari para raja dan penguasa jaman dulu. 
----------

0

