- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#71
Partitur no. 18 : Stay The Night
Januari segera berakhir. Berganti dengan bulan Februari yang dingin. Februari yang katanya bulan cinta itu memang sangat dingin, meskipun intensitas hujan tak sesering bulan Januari.
Jika Januari akan berakhir, tandanya persiapan untuk manggungku sudah harus lebih matang. Ya, sebelum Fadjri hengkang dari bandku, ia memberikan kami sebuah acara manggung di sebuah Kafe dibilangan Jakarta Pusat. Tentu maksudnya Kafe yang menyediakan live music di dalamnya. Hanya saja, biaya pendaftarannya sangat mahal. Kami yang haus akan pengalaman dan ingin mencoba berbagai macam hal seputar panggung ini pun menyetujuinya, menyisahkan uang jajan kami demi sebuah panggung.
Teman-temanku selalu menganggap bahwa anak band itu kaya-kaya, setiap manggung pasti dibayar. Dan, pada kenyataannya tak selalu begitu. Ketika sudah selesai manggung, pasti di sekolah selalu dikelilingi teman-temanku.
“Bagi uang dong, Man!” kata mereka.
“Uang?” tanyaku balik.
“Iya, kan lo abis manggung, pasti dapet duit banyak!”
“......”
Kekeliruan semacam itu memang sering kali kerap terjadi. Kesalah pahaman lainnya adalah di mana kekeliruan yang menggeneralisir bahwa para pemain musik itu identik dengan hal yang negatif. Sekali lagi kutekankan, itu tak benar. Itu tergantung bagaimana masing-masing individu.
Aku ingin mengutip dari musisi idolaku, Dewa Budjana, di mana ia memang ingin benar-benar berkarya. Ketika ditanya biasanya kalau para lelaki itu nakal, ia hanya ingin ‘nakal’ dimusik. Ketika uang yang biasanya untuk membeli obat-obatan atau narkoa, menurutnya, lebih baik untuk membeli sesuatu berhubungan dengan musik. Ah, rasanya jika aku punya banyak uang juga ingin membelanjakan uangku sesuatu untuk mendukung kegiatan bermusikku.
Malam itu, kami mencoba untuk mencoba komunikasi baru: berkomunikasi tatap muka jarak jauh melalui webcam. Aku gugup. Aku memang norak, karena ini pertama kalinya aku berkomunikasi dan menggunakan webcam.
“Sya, Sabtu besok temenin aku technical meeting, yuk..” ajakku.
“Di mana technical meetingnya?” tanyanya dengan wajah bingung.
“Di kafe tempat aku manggung nanti, di daerah Jakarta Pusat. Lumayan kan, nanti sekalian jalan-jalan..” ujarku membujuknya.
“Boleh, kebetulan aku jarang main ke daerah sana,” ia menampakkan ekspresi senang.
Sementara ia sedang terlihat gembira, aku malah melihat hal aneh dibelakangnya. Bukan, bukan hal yang berbau mistis, kok. Tepatnya, lucu. Aku menahan tertawa karena tahu apa tujuannya.
“Ngomong-ngomong, di belakang kamu ada apaan, tuh?” kataku dengan wajar serius.
“Kamu, ih, nakut-nakutin lagi, kan!” ia menampakkan ekspresi sebal. Iya, sebal, yang buat makanan jadi pedas itu.
“Aku kali ini serius, lho!”
“Nanti aku dikerjain lagi kayak dulu,”
Ia tak kunjung percaya kepadaku. Ya sudah kalo begitu!
“Nanti kalo emang ada apa-apa, kamu traktir aku, ya?”
“Apa hubungannya sama traktir?”
Hal aneh itu terus mendekati Tasya perlahan-lahan dengan sangat hati-hati. Ia mengenakan pakaian penuh hitam-hitam dengan wajah yang sangat putih. Orang itu mengangkat tangannya, ingin memegang bahunya Tasya, dan...
“KYAA!!” teriaknya nan jauh di sana sambil menampar orang itu. Kasihan sekali yang ditampar.
Orang yang ditampar itu tertawa terbahak-bahak sambil melepaskan topeng Jigsaw seperti pada film SAW yang ia kenakan. Orang itu adalah adiknya Tasya sendiri.
“Iiih, lo mah, gan!” ujarnya dengan kesal.
Adiknya hanya tertawa puas sekali. Kelakuan adiknya membuatku tak kuasa untuk menahan tawa.
Selamat, misimu berhasil!
“Kamu juga, nih, ngapain ikut-ikutan!”
“Abisnya lucu banget, sih!” jawabku. “Salah sendiri tadi nggak percaya.”
Ia hanya menampakkan muka sebalnya yang membuatku sangat gemas.
Kakak dan adiknya sama saja. Sama-sama jahil semua! Sampai, kadang-kadang aku juga terkena imbasnya.
***
Hari Sabtu yang selalu kutunggu-tunggu itu pun akhirnya datang juga. Mentari yang hangat juga sedikit menghilangkan Februari yang cukup dingin di Ibu kota yang sebenarnya sangat panas ini.
Kami janjian di sebuah Halte Busway di sekitar daerah Matraman, tempat kami biasa janjian selain Halte di Kp. Melayu. Entah mengapa, ia selalu saja datang tepat waktu. Sementara aku sering sekali terlambat. Tak hanya dengan Tasya, ketika Sekolah aku juga dikenal murid yang sangat sering terlambat dari SD sampai SMA sekarang.
Karena Tasya sudah sering mengajakku menaiki Bus TransJakarta, kali ini aku ingin mengajaknya menggunakan transportasi yang sering kugunakan sejak zaman SMP: Metro Mini. Enaknya, Tasya tak pernah mengeluh mengenai kendaraan apa yang akan kami naiki, asal bukan taksi yang menyasar seperti dulu.
Daerah sekitar sini dulu sering kulewati, aku hampir-hampir sudah hafal seputar daerah ini. Jadi, kujamin bahwa kejadian nyasar itu tak akan terulang kembali untuk kedua kalinya.
Kami pun memutuskan untuk menaiki bus yang terlihat sepi oleh penumpang. Kami menikmati pemandangan yang terlihat baru untuknya, atau ia pura-pura untuk terlihat terkejut untuk membuatku senang. Kami mengobrol mengenai semua tempat yang ia tanyakan, dan mengobrol hal-hal lain yang membuat kami lupa segalanya.
Bus masih sepi. Hanya beberapa penumpang yang masuk ketika kami mulai berangkat sejak tadi. Di dalam juga terasa sangat dingin karena angin yang dihembuskan ketika bus ini berjalan. Aku kembali melihat ke jendela sebentar, ketika menyadari kami harus turun dan berganti dengan bus lainnya dengan nomor yang beda.
Dulu, dulu sekali, ketika belum diperkenalkan dengan transportasi umum, aku menganggap nomor-nomor pada kendaraan umum itu hanya untuk gaya-gayaan seperti mobil balap. Ketika tahu sebenarnya itu kode jurusan arah, aku malu sendiri. Rasanya ingin tertawa terbahak-bahak mengetawai diriku sendiri.
Kami kembali mengobrol tentang hal yang terputus karena kami harus berganti bus. Pemandangan sekitar sini sangat nyaman. Pemandangan taman kota. Taman Menteng, tempat yang sangat sering ku kunjungi ketika SMP hingga SMA kini. Dengan kesoktahuanku, aku hanya tenang-tenang saja. “Masih jauh kayaknya.” Pikirku. Sementara aku bercerita mengenai masa-masa SMP ku dulu, ia hanya melihat sekitar taman itu dengan nyaman.
“Mas, kiri, Mas!” kataku kepada kondekturnya ketika akhirnya melihat tanda-tanda yang ayahku bilang.
Ia segera mengetukkan uang koinnya ke besi tempat para penumpang untuk pegangan sambil tangan kirinya melambaikan tangan ajaib agar pengendara di belakangnya tak mendahului sisi kiri bus.
Kami pun akhirnya turun. Tapi aku bingung. Ternyata patokan yang diberikan oleh ayahku sama sekali tak ada! Aku langsung menelpon ayahku, meminta arah yang lebih jelas lagi. Aku memberi tahukan situasi dan lokasi sekitar tempat kami berada.
“Hoo, itu Iman salah turun,” katanya.
Sial.
Kesimpulannya: kami kembali nyasar!
Aku memang pernah sekali ke sana ketika akan mendaftarkan band kami untuk manggung, tapi itu diantarkan oleh ayahku. Aku salah tempat turunnya, karena memang sangat mirip tempatnya.
“Kamu gimana, katanya tau tempatnya?” katanya bingung.
“Iya, tapi ternyata aku salah turun, karena tempatnya mirip banget.” Aku terus berjalan, meskipun aku merasa kembali bersalah kepada Tasya.
Ia hanya menghela nafas panjang. Iya, aku tahu memang itu salahku. Tapi, tadi kutelpon ayahku, kami hanya tinggal lurus saja, meskipun memang harus jalan cukup jauh.
Kami berjalan, bergandengan tangan, sambil menikmati pemandangan bagus yang sangat sepi oleh orang itu. Meskipun menyasar kembali, aku senang bisa bersamanya kembali dalam episode menyasar untuk kedua kalinya.
Setelah cukup jauh perjalanan, kami pun akhirnya sudah berada di ujung jalan itu. Sebelah kami sebuah gedung bioskop. Djakarta Theater. Depan kami jalan raya yang ramai oleh kendaraan. Meskipun sedikit ingat setelah dari sini, aku hanya butuh untuk menelpon ayahku untuk menanyakan yang lebih pasti.
“Iman udah di Djakarta Theater nih, Yah.” Kataku.
“Wah, Iman kelewat lagi, tuh!” jawabnya.
“Eh?” kataku terkejut.
***
Kami kembali berjalan ke arah balik kami tadi. Ternyata, kafenya memang berada tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang.
“Sampe juga akhirnya!” aku hanya cengar-cengir bodoh ke arah Tasya sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal.
“Gimana sih, kamu!” ledeknya. Aku kira ia akan marah karena ini bukan kali pertamanya kami menyasar.
Selamat datang di duniaku, dunia menyasar. Anda bertanya, kami menyasar bersama.
Di sana terlihat sudah banyak orang berkerumunan. Sepertinya, itu orang-orang yang sedang melaksanakan technical meeting. Aku ingin langsung menuju kerumunan itu tapi malu. Tak enak. Aku hanya menatap mereka dari jauh. Tasya terlihat ketakutan dan kembali memegang lengan tanganku.
“Masa cowok takut?” ledekku kepada Tasya.
“Iiih!” ditepuknya pergelangan tanganku dengan agak kencang.
Setelah terlihat sepi, aku menuju kepada orang yang sepertinya panitia acara.
“Mas, ini techincal meeting acara yang di kafe ini, ya?” tanyaku sambil pergelangan tanganku masih dipegang olehnya.
“Dari band apa, Mas?”
“The Pembantus, Mas.” Jawabku. Aku mengambil namanya dari band yang dibentuk oleh pembantunya Raditya Dika di serial Malam Minggu Miko. Aku benar-benar menjawabnya. Dalam hati tapi.
“Hoo, oke,” jawab panitia itu ketika kuberi tahu nama bandnya. “Udah bayar pendaftarannya?”
“Udah, Mas.” Aku segera menyerahkan bukti pembayan yang dulu dibuat oleh mereka ketika kami mendaftar.
Ia melihat bukti pembayaran itu dengan seksama. “Oke, Mas,” katanya kemudian. “Jadi kita pake sistem share gitu. Lo mesti jual tiket juga. Masing-masing band jualin 5 tiket, dan usahain harus habis. Ini gw kasih poster sama flyer buat promosi. Lo boleh ngasi free pass untuk lima orang.” Jelasnya dengan lengkap.
Aku mengangguk mengerti.
“Ini, Mas, tanda tanganin dulu bukti ikut technical meetingnya,” kata orang yang lain sambil menyerahkan sebuah kertas dan pulpen.
Kami segera pamit kepada panitia itu, karena aku melihat ekspresi tak nyaman Tasya ketika berada di sana.
“Whoa, bawaannya banyak banget,” katanya terkejut. “Mau aku bantuin, nggak?”
“Nggak usah, sayang, nanti kamu repot.”
“Terus, sekarang kita langsung pulang atau gimana?” tanyanya lagi.
“Gimana kalo kita nongkrong dulu?” usulku.
“Boleh, tuh!” ia menyetujui usulku itu.
Kebetulan, tak jauh dari kafe itu terdapat sebuah Supermarket yang sedang terkenal di Ibu kota, yang juga mencakup sebagai tempat nongkrong yang cukup asyik. Tak sampai lima menit kami sudah sampai ke Supermarket itu, karena hanya menyebrang saja untuk ke situ.
“Kamu mau mesen apa, sayang?” tanya Tasya ketika kami memasuki tempat tersebut.
Aku terbengong. Mematung di depan tempat minuman karena bingung ingin beli apa. Selalu saja begitu.
Karena tak juga kunjung kupilih, ia mengambilkan minuman yang dari dulu sering kubeli. Sebuah teh dalam kemasan. Aku segera mencari-cari dompetku, untuk membayar minuman itu.
“Udah, nggak usah bayar!” ujar Tasya kemudian.
“Kok gitu? Masa kamu yang bayar?” kataku sambil tetap sibuk mencari dompetku.
Ia menghela nafas panjang.
“Kalo pacaran itu nggak harus selalu cowok yang bayar, Sayang,” jelasnya. “Belajar mandiri juga.”
Aku menentangnya. Karena menurutku, di mana-mana, laki-laki yang harus membayar.
“Menurutku, kalo cowok terus-terusan bayarin ceweknya itu salah, lho.” Katanya. “Kesannya, cewek itu dibayarin buat jadi ‘pelicin’ agar dapat perhatian.”
Kemudian aku berpikir. Ada benarnya juga. Atau aku terlalu terbawa semua yang diajarkan Sarah dulu? Di mana seharusnya laki-laki yang membayarkan perempuan. Tentu, aku membayari Tasya bukan kerena hal itu.
Kami pun segera mendapat tempat duduk untuk kami nikmati minuman dan makanan ini. Aku tak berani melanjutkan obrolan kami barusan. Aku kalah argumen dengannya. Ia memberikanku hal yang benar-benar baru.
Tentu, sadar akan hal itu, aku membuka topik baru. Topik yang paling kami senangi: musik. Kami saling bertukar referensi (lagi). Aku ingat, beberapa hari yang lalu, Afi memberitahuku sebuah video musik baru yang cukup romantis. Setidaknya, untukku, yang tak mengerti tentang hal romansa.
“Sya, dengerin ini, deh!” kataku sambil memasangkan earphone ke telinganya. Satu earphone berdua.
“Apa ini?” tanyanya.
“Nonton aja. Hehe” kataku.
Meskipun Tasya tomboy, ia senang akan hal yang berbau romantis. Karena yakin video itu akan ia sukai, aku langsung memberikannya. Ia menatap layar handphone ku yang kecil itu dengan tatapan serius tapi juga menikmati.
Ketika lagu itu terhenti, ia tersenyum kepadaku dengan tatapan teduh.
“Musiknya lumayan, beda sama yang lama, ya..” ujarnya. “Video klipnya juga so sweet banget! Bener-bener cinta itu buta, ya.” Sepertinya, ia begitu terkesan.
“Cinta itu buta? Berarti cinta itu colok-colokan mata, dong?”
“Hahaha, kamu mah, ada-ada aja!” ia tertawa dengan cantiknya. Bagimana tawanya bisa juga cantik?
Quote:
Mentari terlihat akan tenggelam, memadamkan cahayanya yang hangat untuk digantikan dengan terangnya bulan. Saat itu juga, Tasya mengajakku untuk pulang.
“Masih kangen..” ujarku ketika kami tiba di Halte Busway, di mana aku merasa aman dari namanya nyasar.
“Sama,” ia menampakkan muka sedih. “Tapi, mau gimana lagi.. Rumah kita jauh banget soalnya..”
Halte Busway lagi-lagi menjadi tempat kami berpisah. Aku benci berpisah dengannya.
Ketika aku bersamanya, aku merasa hangan diseluruh tubuhku. Aku merasakan perasaan nyaman yang tak biasa. Aku betah berlama-lamaan dengannya.
Aku jadi terpikir sebuah gagasan yang dituangkan oleh Billie Joe Armstrong dalam lagunya yang berjudul Stay The Night. Billie berpikir bahwa mengapa orang yang saling mencintai itu harus terpisah oleh jarak dan waktu, padahal mereka masih ingin bersama?
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 19-09-2015 17:53
0
