Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#65
Partitur no. 17 : Post-Birthday Party


“Ternyata lo bisa ulang tahun juga, Man?” ledek Abangnya Tasya ketika membuka helm sehabis memarkirkan motor.

Mereka benar-benar datang hari ini. Mereka datang ketika tepat jam pulang kantor.

“Abang jangan gitu, ah!” sahut Tasya. “Nanti kita nggak dapet traktiran!”

“Eh, iya, ya,” ia pun tertawa dengan suara ketawa yang sangat khas. “Yaudah, selamat ulang tahun ya, Man. Semoga makin-makin, ya.” tangannya pun disodorkan kehadapanku.

“Kadonya mana dulu?” ledekku.

“Yah, belum sempet beli kadonya, Man.” jawab Bang Ichy. “Yaudah, kita balik lagi, ya.” Ia mengambil helmnya kembali.

“Si Abang, Mah!” Tasya tertawa dengan lucunya.

“Sini masuk dulu..” pintaku mempersilahkan mereka masuk ke ruang tengah dengan malu-malu.

“Misi..” ujar Tasya dan Abangnya dengan sopan.

“Yaudah, gw ke toilet dulu, ya..” pamitku menuju teras tadi.

Sebenarnya aku berbohong.

Aku malah pergi ke kamar Bunda yang baru saja pulang kerja itu karena ia kemarin penasaran ingin bertemu Tasya. “Nda, sini, deh!” pintaku.

“Ada apaan, sih?” tanyanya yang baru saja tiduran di tempat tidur.

“Sini aja!”

Selang beberapa menit kemudian, Bunda pun bangun kembali dengan masih menggunakan pakaian kerjanya dan menuju ke arahku. “Kayaknya penting banget ya, Man?” tanyanya penasaran.

“Banget, Nda.”

“Emang apaan, sih?”

“Sekarang kucing udah punya kumis, lho!”

“Ih, serius!”

Aku tertawa melihat ekspresi Bundaku itu. “Ada anu..”

“Hoo, Bunda ngerti.” Ia mengangguk-angguk.

Kami pun menuju ruang tengah, tempat Tasya dan Abangnya berada. Suara Tasya dan Abangnya pun terdengar kencang. Mereka masih bercanda-canda seperti biasanya.

Mereka berdua terkaget-kaget serta gugup ketika kami memasuki ruangan itu. Tasya dan Abangnya langsung duduk tegak saat Bundaku mendekat.

“Tasya..” ujar Tasya sambil mengulurkan tangannya dengan malu-malu.

Bundaku menatapnya sekilas. Kemudian Bundaku tersenyum sambil menjabat tangannya. “Cantik ya, Man.”

Muka Tasya pun langsung memerah. “Pipi kamu siapa yang bakar?” tanyaku polos. Karena sedang ada Bundaku, ia tak bisa mencubitku seperti biasanya. Aku menampakkan senyum kemenangan karena akhirnya salah satu bagian tubuhku tak ada yang harus memerah atau membiru karena dicubit.

“Abis pulang kerja, ya? Kerja di mana?” tanya Bundaku kemudian.

“I.. Iya, Tante..” jawab mereka serempak. Memang, Katak-berudu, eh, maksudku Kakak-beradik memang selalu kompak. Kemudian, mereka saling pandang dan menertawai ke kompakkan mereka. “Saya kerja di Apartemen, Tante..”

“Wah, sama, dong. Tante juga kerja di Apartemen..” mendengar Tasya memanggil Bundaku dengan panggilan ‘tante’ membuat perutku geli. Ingin rasanya aku tertawa kencang. Bundaku tak pantas disebut Tante, karena ia masih terlihat seperti umur belasan menuju puluhan, padahal umur aslinya sudah kepala empat.

“Asik tuh, Tante..” kata Tasya menyambung obrolan dengan Bundaku. “Dibagian apa?” tanyanya lagi.

“Tante dibagian marketing..”

“Hoo..” Tasya menganggukan kepalanya. “Kalo saya dibagian administrasi..”

Tasya sangat cepat akrab dengan Bundaku. Terlihat dari pembawaan dirinya yang tadinya gugup menjadi lebih santai, ramah, menyeimbangkan pembicaraan, dan terutama, pembicaraan mereka terlihat semakin seru. Dan dilihat dari senyum Bundaku ketika pembicaraan mereka, sepertinya ia sangat senang dengan pembawaannya. Semoga saja.

“Eh, nggak usah, Tante..” ujar Tasya dan Bang Ichy kembali serempak.

“Eh,” kataku celingak-celinguk. “Iya, bentar, Nda.”

Sejak kapan Bunda membeli kue lagi? Setahuku, kue kemarin sudah habis. Tentu saja dihabisi olehku dan Kang Naufal. Aku membuka kulkas di dapur dekat kamar Bunda. Dan benar saja, memang ada kue di situ! Kue yang di atasnya terdapat strawberry yang menjadi favoritku. Aku segera mengambil kue itu dan kembali menuju tempat mereka.

“Taraa!” kataku menaruh kue itu di meja.

“Duh, jadi ngerepotin, Tante..” ujar Tasya.

“Hehe nggak apa-apa.. Abisnya kemaren udah diabisin sama Iman dan Naufal.”

“Tuh, kan. Kamu Wapol, kan!” ledek Tasya gemas ingin mencubitku.

“Abisnya enak, mau gimana lagi?” kataku berdalih sambil membukakan bungkus kue itu. “Silahkan dimakan..”

“Man, Bunda ke depan lagi, ya. Ada klien nelpon soalnya..” ujar Bundaku sambil menaruh telepon genggamnya di kupingnya. “Duluan, ya..” kata Bundaku pamit kepada Tasya dan Bang Ichy.

“BAM!” terdengar suara pintu tengah telah ditutup.

“Tadi beneran nyokap lo, Man?” tanya Bang Ichy ketika suasana sempat hening.

“Iya, kenapa emangnya, Chy?”

“Muda banget, kayak seumuran Tasya..” katanya yang masih terkejut.

“Tasya mah masih SMP bukan?” ledekku sambil tertawa.

Kakaknya pun ikut tertawa ketika beberapa menit kemudian cubitan sudah mendarat ditangan kami berdua. “Aw!”

“Bunda kamu mah baik. Nggak kayak kamu. Wapol.” Ledek Tasya.

“Apa hubungannya!” kataku. “Eh, ini kuenya dimakan, dong..”

“Tuan rumah dulu lah yang motongin..” ujar Bang Ichy.

“Jangan, Bang. Kalo Iman yang motongin bisa-bisa abis duluan kuenya sama dia.”

“Dasar bawel!”

Aku pun memotong dua kue. Aku berusaha memotongnya dengan sangat baik, karena aku tak ahli dalam bidang ini.

“Nih!” aku menyodorkan kue itu kepada mereka berdua. “Selamat makan!”

Kami pun menikmati kue itu bersama-sama sambil sesekali bercanda-canda.

“Enaak. Makasih banget ya, sayang..” ujar Tasya sambil menaruh piring kue itu ke meja.

“Nggak nambah lagi? Itu masih ada sisa, lho!” tawarku melihat kue yang tersisa sedikit.

Ia menggelengkan kepalanya. “Udah kenyang. Hehe”

Rasanya aku ingin menambah lagi kue itu.

“Man, tolong ambilin gitar, dong?” pinta Bang Ichy tiba-tiba sambil menaruh piring kue nya juga.

“Bentar ya, Chy.” Jawabku yang baru saja ingin menambah kue.

Aku segera masuk menuju kamarku yang sangat dekat dengan ruang tengah itu. Kamar ini tetap saja sangat berantakan. Tak terbayang jika Tasya melihat kamar yang berantakan ini (kalau Kakaknya, sih, sudah sangat sering masuk ke kamar ini untuk latihan bersama) Segera terpikirkan olehku, bagaimana suasana di kamar Tasya yang tomboy itu? Apakah kamarnya berantakan juga seperti kamar seorang laki-laki?

Membayangkannya membuatku lupa apa tugasku ke kamarku ini. Aku segera menghilangkan pikiran itu dan mengambil gitar akustik kecil berwarna kuning tersebut. Gitar yang kuperoleh dari orangtuaku sebagai kado ulang tahun sewaktu dibangku kelas lima SD. Temanku sering sekali protes mengenai gitar kecil ini—karena ukurannnya berbeda. Memang terlihat kecil dibanding gitar akustik biasanya, tapi aku menyukainya. Ia berbeda. Meskipun kecil, bunyinya tetap enak didengar. Setidaknya untukku.

Aku sangat menyayanginya. Mungkin, gitar itu seperti kekasihku juga. Aku menyesal karena pernah membanting gitar itu untuk meniru aksi panggung Matt Bellamy ketika bermain bersama Muse. Aku membantingnya karena tak berani membanting gitar elektriku yang dilukis dengan batik, yang juga kado dari kedua orangtuaku. Aku pun kembali bergabung bersama mereka di ruang tengah.

“Nih, Chy.” Kataku menyerahkan gitar itu.

“Sebelum itu, ada sesuatu dulu buat kamu sayang..” sahut Tasya.

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Ini,” ia menyerahkan bungkusan plastik yang tadi tak kulihat keberadaannya. “Buka aja coba..”

Karena penasaran dengan bungkusan itu, aku ingin membukanya sesegera mungkin. Kukeluarkan bungkusan itu dari plastik yang besar tersebut dan membuka perlahan-lahan. Ku intip sedikit isi bungkusan itu. Di dalamnya berwarna hitam. Persis dengan kegelapan di dalam bungkusnya.

“Wow..” kataku terkejut ketika berhasil melihat seluruh isinya. “Makasih banyak, sayaaang..” kataku memeluknya.

“Wih, ngiri nih yang di sebelah sini..” ujar Bang Ichy. “Peluk gw juga, dong.” Katanya sambil tertawa.

“Jadi, selama ini kalian.....” ujar Tasya menyambung.

“Ini tuh nggak kayak yang kamu kira!” kataku memperagakan akting pada suatu sinetron yang sering membuatku tertawa.

“Dih, udah, kek.. Nggak bisa berenti ngakak, nih!” ujar Tasya.

Beberapa waktu lalu, ketika acara ulang tahun Tasya, aku memakai softcase gitarku yang bawahnya sudah robek tak karuan. Hanya itu softcase gitar yang kupunya. Softcase gitarku sejak kelas lima SD. Dan kini, seperti malaikat pengkabul doa, ia menghadiahkanku softcase gitar yang baru. Yang ia hadiahkan juga jauh lebih bagus dari yang kupunya dulu. “Makasih banyak ya, sayang.. Kamu tau aja aku lagi butuh ini!” ujarku dengan senang.

“Sama-sama, sayang..” jawabnya. “Jangan diliat dari harganya tapi, ya..”

“Gimana mau liat dari harganya, ini jauh lebih bagus dari yang lama..” kataku. “Kamu beli di mana ini?”

“Kemaren aku nyari-nyari sama Abang, tapi lupa tempatnya.. Makannya kemaren aku nggak bisa ikut kamu makan-makan..”

“Makasih banyak ya, Chy..”

“Sama-sama, Man.” Jawabnya. “Tapi gw nggak usah pake dipeluk juga, ya.” Katanya sambil tertawa.

“Emang gw cowok apaan, Chy. Gw kalo cowok juga milih-milih!” kataku. “Eh.. keceplosan..”

“Jadi lo pacarin Tasya karena dia kayak cowok?” ledek Bang Ichy sambil tertawa.

“Sst! Nanti rahasia gw ketauan!”

Tanganku pun mendapat banyak kiriman cubitan dari Tasya. “Kamu, ya.. Nggak nyangka aku..” ujarnya dengan ekspresi dibuat-buat.
Melihat ekspresinya membuat kami tak kuasa menahan tawa.

“Eh, iya, kemaren ada yang diucapin mantannya, loh.” Kata Tasya tiba-tiba sambil memelukku.

Duh.

“Kok kamu tau?” tanyaku penasaran sambil panik.

“Tau doong,” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya. “Kan aku pacar kamu. Pasti tau, dong.”

“Sebenernya aku pengen bilang ke kamu dari kemaren, cuma akunya nggak enak, takut kamu marah..”

Dasar. Sial benar si Sarah!

“Aku nggak marah, kok. Asal nggak kamu terusin aja.” Lanjutnya.

“Udeh-udeh, mending kita nyanyi aja..” kata Bang Ichy kemudian.

“Lo mau denger Tasya nyanyi nggak, Chy?”

“Udah biasa. Makannya kuping gw sering pengeng..” ujarnya sambil tertawa lagi. Benar-benar orang yang humoris.

“Abang mah!” cubitan Tasya kembali melanda tangan abangnya yang sedang memegang gitar.

Bukan tanpa alasan aku ingin mendengarnya menyanyi kembali. Aku ingin mendengar suaranya lagi setelah ia sempat menyanyi di studio bulan lalu. “Dia kemaren nyanyi bareng band gw, Chy, pas dia ulang tahun kemaren..”

“Kamu mah malah nambahin!” ia menampakkan ekspresi malu.

Untuk menghindari cubitan Tasya, aku kembali ngacir menuju kamarku untuk mengambil gitarku satu lagi. Gitar batik. Sebenarnya, waktu itu aku membeli ketika aku belum benar-benar mengerti tentang gitar, hanya tertarik pada tampilan gitarnya saja.

Ketika kembali, aku langsung menggenjreng gitarku, memainkan lagu The Only Exception untuk memancingnya bernyanyi. Bang Ichy langsung mencari-cari nada tanpa melihat tanganku, dan langsung dapat untuk mengisi bagian gitar utamanya. Dan, mau tak mau, Tasya menyanyi dengan sangat merdu. Sayangnya aku tak merekamnya.

Kami kembali memainkan beberapa lagu lagi setelahnya, dilengkapi dengan bermain tebak lagu. Ditambah, aku kembali menikmati suara Bang Ichy menyanyikan lagu Falling Down dan Can’t Take My Eyes Of You yang dimainkan oleh Muse. Ia juga meledekku ketika aku tak bisa menebak lagu blink-182 yang ia mainkan.

“Cieh, tumben bagus..” ujar Bang Ichy yang kemudian melihat jam di arlojinya. “Yaudah, balik, yuk.. Udah malem..” ia menaruh gitarku di bangku panjang itu dengan hati-hati.

“Bunda masih di depan nggak?” tanya Tasya yang terlihat gugup.

“Masih kayaknya. Mau pamit sekarang?”

Ia mengangguk.

Setelah mereka mengenakan jaket mereka masing-masing, kita menuju ke teras depan untuk berpamitan.

“Hati-hati ya, Sya..” ujar Bundaku sambil tersenyum ketika Tasya salim kepada Bundaku. Pemandangan yang membuat perutku terasa tergelitik.

“Makasih ya, Tante..” kata mereka serempak.

Aku segera ke belakang mengambil kunci gerbang depan yang selalu terkunci.

“Sayaaang makasih banyak ya..” ujar Tasya ketika gerbangnya sudah kubuka.

“Sama-sama,” jawabku. “Kalo kangen miss-call aja, ya!”

Mereka pun pergi meninggalkan rumah ini. Semakin kulihat, keberadaan mereka semakin jauh—sampai aku tak bisa lagi melihat motor mereka lagi.

Aku menutup gerbang rumahku, dan tersenyum mengingat apa yang baru saja terjadi. Aku bergegas ke kamarku, menutup pintunya, menyalakan handphone baruku, dan menyetel lagu-lagu yang tadi kami mainkan sambil memejamkan mataku.
Diubah oleh Polyamorous 19-09-2015 17:52
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.