- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.8K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#189
Waktu Maghrib belum lama berlalu ketika Raine tiba di depan pintu rumah Sierra. Ditekannya bel rumah itu.
Lowry beranjak dari duduk santainya di sofa tamu. Ia cukup kaget juga karena tidak biasanya ada yang bertamu di waktu seperti ini.
"Low, bel Low. Liatin siapa tuh." Sierra menukas dari dalam kamarnya.
"Iya, ini jg lagi mau gw buka."
Lowry pun membuka pintu dan mendapati Raine sedang berdiri di muka pintu.
"Cari siapa ya?" tanya Lowry.
"Anda Lowry ya? Mmm.. saya cari Sierra, apa benar tinggal disini?"
"Eh, iya saya Lowry, dan benar Sierra tinggal disini, tapi maaf kalau boleh tahu, si mbak namanya siapa? Temennya Sierra?"
"Saya Raine."
Mulut Lowry terbuka lebar beberapa saat. Refleks ia menutupnya dengan tangan kanannya. Dan jantung Lowry pun berdegup kencang mendengar nama itu. Nama yang terlalu sering disebut oleh Sierra bahkan dalam igauannya saat tidur. Nama itu, Lowry telah mengira nama itu adalah suatu mitos, suatu legenda. Tapi ternyata, sosok legenda itu benar-benar ada dan hadir di depan pintu rumah mereka.
"Oh ya - ya, silakan masuk mbak, sebentar saya panggilkan."
"Biar saya disini saja," ucap Raine.
Lowry pun menghambur kedalam berlari membuka pintu kamar Sierra hanya mendapati Sierra yang masih duduk bersila di sajadahnya mengaji Qur'an. Setelan sholat berupa koko, peci, dan sarung masih menempel belum satu pun yang dilepas.
Lowry masuk dan mengguncang-guncangkan badan temannya itu.
"Eh, udahan dulu baca Qur'annya. Doa lo udah dikabulin. Sono ke depan, ada tamu nyariin elo," titah Lowry pada Sierra.
"Apaan sih? Siapa sih?"
"Ada udah sono lo liat aja sendiri. Gw sebut entar lo jantungan lagi disini."
"Ih jadi cowok lebay banget sih lo, Low."
Sierra pun bangkit perlahan, dan berjalan menuju teras depan. Lowry sedikit mengintil dari belakang, dan mengintip mereka berdua dari kejauhan.
Yang Sierra temukan dan lihat di teras adalah seorang gadis yang berdiri membelakanginya. Gadis itu menghadap ke arah taman.
"Mmm... Assalammuallaikum, siapa ya?"
Sang gadis perlahan berbalik, dan tatapan kedua mata mereka pun bertemu. Setelah 12 tahun lamanya.
"Sierra."
"Raine."
Keduanya diam cukup lama. Keduanya saling pandang dan sama - sama meneteskan air mata. Lalu Raine mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. Sierra pun menyambut salaman tersebut, tapi ia lantas menarik lengan Raine, dan Raine pun jatuh dalam dekapannya, Sierra mendekapnya erat-erat, ia berbisik lirih, "Aku kira aku telah kehilanganmu selamanya."
Lowry yang mengintip dari dalam rumah pun tak kuasa menahan haru. Ia masuk ke kamar Sierra dan menyeka air matanya.
Sebuah getar SMS masuk ke handphone di saku celananya. Dari Kikan.
: Kak Low, Lagi apa kak? Ke rumah dong. Kl g sibuk ja.
Lowry berpikir bahwa kedua orang ini akan butuh privasi dan ia hanya akan bingung saja kalau tetap di rumah ini, jadi akhirnya ia putuskan untuk mengunjungi Kikan saja yang kebetulan memintanya datang. Disambarnya jaket merah milik Sierra, dan ia pun bergegas keluar rumah.
"Halo" ucapnya saat melintasi Sierra dan Raine yang tengah berpelukan.
Raine yang merasa malu pada Lowry, melepaskan diri dari dekapan Sierra.
"Mau kemana Low? Ada tamu juga," tegur Sierra.
"Ke Kikan bentar. Dia nyariin gw." ucap Lowry.
"Oh ya deh."
"Bro, tolong tutupin yak."
Lowry pun membuka pintu pagar, dan dalam sekejap mobil yang tadi diparkir disitu, beserta sosok gempal berjaket merah itu pun menghilang.
Tinggallah Raine dan Sierra berdua.
Sierra menutup pintu pagar.
Lalu ia mempersilakan Raine, "Silakan masuk."
Di depan televisi terhampar karpet bulu lembut yang baru saja beberapa hari dipasang dengan beberapa bantal besar sebagai pengisi ruangan. Sofa pendek tanpa lengan dan meja kecil ada tidak terlalu jauh dari spot itu. Perhatian Raine tertuju pada meja kecil itu, dekat hiasan miniatur sydney opera house dimana ada foto Kikan, Lowry dan Sierra, dalam frame kecil. Di foto itu Kikan menggelendot manja pada Sierra dengan kedua tangan mengacungkan dua jari tanda victory, sedang Sierranya sendiri tanpa ekspresi dan Lowry hanya nyengir lebar. Sierra tengah membuat teh hangat dan di luar gerimis masih turun perlahan.
Lowry beranjak dari duduk santainya di sofa tamu. Ia cukup kaget juga karena tidak biasanya ada yang bertamu di waktu seperti ini.
"Low, bel Low. Liatin siapa tuh." Sierra menukas dari dalam kamarnya.
"Iya, ini jg lagi mau gw buka."
Lowry pun membuka pintu dan mendapati Raine sedang berdiri di muka pintu.
"Cari siapa ya?" tanya Lowry.
"Anda Lowry ya? Mmm.. saya cari Sierra, apa benar tinggal disini?"
"Eh, iya saya Lowry, dan benar Sierra tinggal disini, tapi maaf kalau boleh tahu, si mbak namanya siapa? Temennya Sierra?"
"Saya Raine."
Mulut Lowry terbuka lebar beberapa saat. Refleks ia menutupnya dengan tangan kanannya. Dan jantung Lowry pun berdegup kencang mendengar nama itu. Nama yang terlalu sering disebut oleh Sierra bahkan dalam igauannya saat tidur. Nama itu, Lowry telah mengira nama itu adalah suatu mitos, suatu legenda. Tapi ternyata, sosok legenda itu benar-benar ada dan hadir di depan pintu rumah mereka.
"Oh ya - ya, silakan masuk mbak, sebentar saya panggilkan."
"Biar saya disini saja," ucap Raine.
Lowry pun menghambur kedalam berlari membuka pintu kamar Sierra hanya mendapati Sierra yang masih duduk bersila di sajadahnya mengaji Qur'an. Setelan sholat berupa koko, peci, dan sarung masih menempel belum satu pun yang dilepas.
Lowry masuk dan mengguncang-guncangkan badan temannya itu.
"Eh, udahan dulu baca Qur'annya. Doa lo udah dikabulin. Sono ke depan, ada tamu nyariin elo," titah Lowry pada Sierra.
"Apaan sih? Siapa sih?"
"Ada udah sono lo liat aja sendiri. Gw sebut entar lo jantungan lagi disini."
"Ih jadi cowok lebay banget sih lo, Low."
Sierra pun bangkit perlahan, dan berjalan menuju teras depan. Lowry sedikit mengintil dari belakang, dan mengintip mereka berdua dari kejauhan.
Yang Sierra temukan dan lihat di teras adalah seorang gadis yang berdiri membelakanginya. Gadis itu menghadap ke arah taman.
"Mmm... Assalammuallaikum, siapa ya?"
Sang gadis perlahan berbalik, dan tatapan kedua mata mereka pun bertemu. Setelah 12 tahun lamanya.
"Sierra."
"Raine."
Keduanya diam cukup lama. Keduanya saling pandang dan sama - sama meneteskan air mata. Lalu Raine mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. Sierra pun menyambut salaman tersebut, tapi ia lantas menarik lengan Raine, dan Raine pun jatuh dalam dekapannya, Sierra mendekapnya erat-erat, ia berbisik lirih, "Aku kira aku telah kehilanganmu selamanya."
Lowry yang mengintip dari dalam rumah pun tak kuasa menahan haru. Ia masuk ke kamar Sierra dan menyeka air matanya.
Sebuah getar SMS masuk ke handphone di saku celananya. Dari Kikan.
: Kak Low, Lagi apa kak? Ke rumah dong. Kl g sibuk ja.
Lowry berpikir bahwa kedua orang ini akan butuh privasi dan ia hanya akan bingung saja kalau tetap di rumah ini, jadi akhirnya ia putuskan untuk mengunjungi Kikan saja yang kebetulan memintanya datang. Disambarnya jaket merah milik Sierra, dan ia pun bergegas keluar rumah.
"Halo" ucapnya saat melintasi Sierra dan Raine yang tengah berpelukan.
Raine yang merasa malu pada Lowry, melepaskan diri dari dekapan Sierra.
"Mau kemana Low? Ada tamu juga," tegur Sierra.
"Ke Kikan bentar. Dia nyariin gw." ucap Lowry.
"Oh ya deh."
"Bro, tolong tutupin yak."
Lowry pun membuka pintu pagar, dan dalam sekejap mobil yang tadi diparkir disitu, beserta sosok gempal berjaket merah itu pun menghilang.
Tinggallah Raine dan Sierra berdua.
Sierra menutup pintu pagar.
Lalu ia mempersilakan Raine, "Silakan masuk."
Di depan televisi terhampar karpet bulu lembut yang baru saja beberapa hari dipasang dengan beberapa bantal besar sebagai pengisi ruangan. Sofa pendek tanpa lengan dan meja kecil ada tidak terlalu jauh dari spot itu. Perhatian Raine tertuju pada meja kecil itu, dekat hiasan miniatur sydney opera house dimana ada foto Kikan, Lowry dan Sierra, dalam frame kecil. Di foto itu Kikan menggelendot manja pada Sierra dengan kedua tangan mengacungkan dua jari tanda victory, sedang Sierranya sendiri tanpa ekspresi dan Lowry hanya nyengir lebar. Sierra tengah membuat teh hangat dan di luar gerimis masih turun perlahan.
Diubah oleh rahan 04-01-2015 11:51
0