Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#59
Bar line: 2012
Partitur no. 16 : Enam Belas


16 Januari 2012.

Momen.

Semua orang pasti mengalami yang namanya momen berharga yang sulit untuk dilupakan.

Karena itulah terkadang orang-orang memiliki sebuah tanggalan yang menjadi favoritnya.

Tanggal enam belas menjadi tanggal favoritku. Memang terdengar sedikit kekanak-kanakkan. Tetapi, aku menyukainya bukan tanpa alasan. Tanggal enam belas adalah tanggal di mana aku lahir dan hidup di dunia ini. Tanggal enam belas pula ketika kami bertemu kembali dan kami menyatu. Ialah orang yang paling kusayangi.

Begitu pula dengan bulan. Dari dua belas bulan yang hadir dalam setahun, aku sangat menyukai dua bulan. Bulan itu adalah Desember dan Januari. Pada dua bulan itu selalu saja terdapat momen-momen indah yang datang.

Desember adalah bulan kelahiran Tasya. Januari adalah bulan kelahiranku. Sangat simpel bukan? Tapi bukan itu saja yang membuatku menyukai dua bulan itu. Yang membuatku sangat menyukainya adalah hujan deras yang selalu menjadi musik pengiringku.

Jika menurut yang sering kudengar, selalu ada akhir dari sebuah awal. Desember adalah akhir, sementara Januari adalah awal. Dua-duanya terdengar menyenangkan, karena dua bulan itu adalah bulan-bulan liburan kenaikan kelas.


***


“Selamat ulang tahun, Man!” pagi-pagi sekali, mereka sudah berumpul di kamarku dengan kue yang masih menyala lilinnya dengan dua buah lilin yang melambangkan angka tujuh belas. Aku yang masih sangat mengantuk itu terbangun dengan perasaan kaget bercampur senang.

“Nih, dibuka kadonya!” ujar Bundaku menyerahkan sebuah kado yang dibungkus bungkusan kado berwarna biru dan berbentuk kotak.

“Apaan, nih?” tanyaku penasaran.

“Udah, buka aja!” jawab Bundaku dengan semangat.

Karena penasaran, aku berusaha membuka bungkus kado itu perlahan dengan hati-hati. “Kadonya pensil 2b sama buku tulis, ya?” kataku yang mengajak mereka bercanda. Mereka hanya tertawa.

Bungkus kado itu akhirnya terbuka, dan aku buru-buru melihat apa yang ada di dalamnya. Aku terdiam. Rasa senang turut bercampur haru. Senangnya bukan main! Mereka memberikan barang yang benar-benar kubutuhkan sekarang ini! Barang yang susah payah kutabung namun tak berhasil karena uangnya selalu terpakai. Mereka membelikan handphone yang selalu kubicarakan kepada mereka. Ternyata mereka mendengarkannya!

Tak terbayang, bagaimana hubunganku dengan Tasya jika aku sudah memiliki sebuah handphone seperti sekarang? Aku berjanji akan menjaga handphone ini baik-baik, dan tidak akan kecopetan seperti dulu lagi!

“Seneng nggak, Man?” tanya Bundaku.

“Senang banget, Nda!” ujarku dengan gembira.

“Yaudah, sini handphonenya Bunda yang pengang dulu, ya. Bunda mau masukin kontak-kontaknya..”

“Oke..” kataku gembira sambil menyerahkan sebuah handphone berwarna hitam itu.

Saudara-saudaraku yang tinggal satu rumah denganku pun masuk ke kamarku ketika Bunda sedang memasukkan kontak ke handphoneku itu. “Selamat ulang tahun, Man!” ucap Alvin sambil menjabat tanganku.

“Makasih banyak, Vin!”

“Selamat ulang tahun ya, Man, semoga sehat dan sukses terus..” lanjut Budeku.

“Makasih, Bude!”

“Wih, handphone baru, Man?” tanya Alvin.

“Iya, Vin. Hehe”

“Asik, dong. Bisa komunikasi kita walaupun satu rumah.” Katanya sambil tertawa. “Yaudah, aku balik ke kamarku dulu ya, Man..”

“Oke, Vin. Ditunggu traktirannya!”

Umurku kini sudah tujuh belas tahun. Tak menyangka, rasanya waktu sangat cepat berlalu. Rasanya, baru kemarin aku masih seorang siswa SMP, atau bahkan seorang siswa SD. Teman-temanku biasanya mengadakan sebuah perayaan besar-besaran menyambut umur mereka yang sudah tujuh belas tahun itu. Atau mereka lebih akrab menyebutnya “Sweet Seventeen”.

Sedari dulu, inilah yang dipikirkan banyak orang yang seumuran denganku mengenai beranjak tujuh belas tahun: sudah bebas, bisa bisa bikin ktp, bisa bikin SIM, sudah dewasa, dan siap menikmati indahnya dunia perkuliahan. Tapi untukku, umur berapa pun tak masalah jika kita menikmatinya. Meskipun harus jujur aku juga pernah beranggapan seperti mereka.

Ini adalah ulang tahun pertamaku ketika Tasya sudah mengisi lembaran hidupku. Aku mengajaknya untuk mengikuti momen berharga yang cukup jarang terjadi dikeluargaku, namun sayang ia tak bisa mengikuti momen langka ini. Karena, ketika salah satu dari anggota keluarga kami berulang tahun, keluargaku kembali berkumpul, kembali utuh hanya satu kali dalam beberapa bulan. Mereka meluangkan waktunya masing-masing untuk mengisi kebahagiaan.

Sebenarnya aku sangat menyayangkan karena Tasya tak bisa ikut hari ini. Tapi setidaknya aku bisa menghabiskan waktu dengan orang yang kusayang lainnya. Yaitu keluargaku. Sebuah rumah tempatku bersinggah sejak kecil. Rumah yang sudah retak.
Pagi menjelang siang, ketika akhirnya aku benar-benar terbangun dari tidurku, aku langsung meminjam komputer Harrys yang sedang tak terpakai. Harrys memang benar-benar baik!

Seluruh media sosialku penuh dengan ucapan demi ucapan ulang tahun. Dan, benar saja, ucapannya adalah ucapan favoritku dibanding ulang tahun sebelum-sebelumnya. Aku menyukai jika sebuah ucapan ulang tahun itu diselipi dengan perkataan, “Semoga sukses bandnya, ya!” atau “Semoga makin jago main gitarnya!” karena tandanya bandku sudah cukup diakui keberadaanya.

Karena tak enakkan, hampir seluruh waktuku kugunakan untuk membalas satu persatu ucapan itu di facebook maupun di twitter. Aku berniat membalas tweet lain ketika sebuah kicauan masuk ke dalam tab mentionku yang langsung merusak mood ku. Sarah berulah lagi.

Jika ucapannya seperti layaknya orang umum, aku akan dengan senang hati membalasnya. Bagaimana jika Tasya melihatnya? Ada-ada saja! Meskipun aku cukup membencinya karena perlakuan yang pernah ia lakukan kepadaku terdahulu, tetapi kali ini ia sudah sangat keterlaluan. Ia menulis, “Happy Birthday, Iman sayang!”dengan menggunakan emoticon mencium.

Sore hari, ketika kekesalanku itu sudah mereda, aku bersiap berganti baju untuk makan malam bersama keluargaku. Satu-satunya momen agar komunikasi dalam keluarga ini tetap terjaga.

“Tasya nggak ikut, Man?” tanya Bundaku masuk ke kamarku.

“Nggak, Nda. Lagi ada urusan katanya..”

“Mau dong ketemu Tasya sekali-sekali. Cantik dia..” aku hanya mengangguk sambil mencoba memilih baju yang akan kupakai.

Senang rasanya jika Bunda juga menyukai Tasya. Dulu, ketika masih dengan Sarah, Bundaku sering kali ikut mengomeliku, “Nggak cocok Iman sama dia. Iman nya ngomongnya alus, dianya kayak preman.”

“Perasaan Bunda aja kali..” tentu saja waktu itu aku menjawab seperti itu, karena masih dibutakan dengan cinta. Tapi, sekarang mata dan pikiranku sudah sepenuhnya terbuka.

Ketika di perjalanan, aku iseng membuka kado yang diberikan kepadaku pagi tadi. Aku iseng mengotak-atiknya, karena sedari tadi baru sebentar aku memegangnya—lebih banyak di charge dan memasukan kontak sanak saudara. “Handphone baru dimainin mulu..” ledek Ayahku ketika suara keyboard handphoneku menjadi bunyi yang menghilangkan keheningan di dalam taksi ini.

“Hehe” aku tertawa terkekeh-kekeh. Rasanya sulit sekali ingin bilang “terima kasih” kepada Ayahku ini.

Ketika sampai, aku benar-benar momen di atas meja makan tersebut. Momen yang benar-benar jarang terjadi pada keluarga kami, sejak kami menikmati rumah baru ini. Seharusnya, sejak pindah rumah baru penuh dengan harapan baru pula. Tapi, kenyataan mengatakan sebaliknya.

Sambil menunggu makanan yang kami pesan, kami saling bertukar cerita, mengenai hari-hari kami yang terlewatkan. Memang, terasa masih ada jarak diantara kami, tapi, jarak itu mulai luluh. Keajaiban di atas meja makan. Mungkin, itulah salah satu mengapa makan malam penting: media komunikasi.

Makanan malam itu sangat nikmat, terlebih dinikmati bersama orang yang kita sayang pula. Kami berbagi kebahagiaan yang sempat tertunda. Sebuah perayaan ulang tahun ke tujuh belas yang sangat indah.

Ketika sudah cukup larut malam, kami pun berniat untuk kembali ke rumah. Aku kembali melihat handphone baruku. Sudah hampir lebih dari enam bulan aku tak memegang benda untuk komunikasi ini. Lantas, aku memiliki ide cemerlang, untuk memberikan sedikit kejutan kepada Tasya. Aku membuka Facebook-ku, membuka ikon pesan, dan mencari nama Bang Ichy di kolom pesan itu. Semoga Bang Ichy sedang online. Tapi, mau online ataupun tidak, biasanya ia tetap akan membalas.

Quote:


Tak lama, ia sudah mengirimkan pin BBM nya Tasya, dan langsung saja ku copy-paste ke fitur penambah teman di BBM. Jantungku berdegup kencang. Mungkin, cara kami berkomunikasi akan benar-benar berubah.

Bayangkan, aku tak perlu lagi cepat-cepat pulang ke rumah ketika pulang sekolah malam hari dengan naik angkutan umum, tak perlu lagi repot-repot menunggu giliran menggunakan komputer, dan tak perlu lagi tidur lewat tengah malam! Eh, mungkin yang terakhir tadi bisa dianulir.
Benda kecil berwarna hitam ini ternyata memang benar-benar sangat berfungsi! Tak terbayang rasanya jika aku harus membalas pesan Tasya melalui surat-menyurat seperti abad pertengahan yang unik itu. Semua serba instan. Tapi, apakah intensitas komunikasi yang pasti akan lebih dari sebelumnya ini tetap akan menimbulkan rasa ‘greget’?

“PING!”


Bunyi khas handphone itu pun berdering. Jangan-jangan Tasya sudah mengkonfirmasi pertemananku? Aku memberanikan diri untuk membuka notif tersebut.

“Sayaaang.. Ciee handphone baru nih, ya..” tulis orang itu.

Kulihat sekilas pesan yang baru masuk barusan dan melihat siapa yang mengirimnya. Orang itu mengenakan foto profil dengan seorang lelaki. Foto itu diambil ketika mereka kencan pertama kalinya. Atau, tepatnya ketika mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Melihat foto profil itu, aku sangat senang. Ya, orang itu adalah Tasya. Ia sudah mengonfirmasi pertemananku!

Quote:


Aku tertawa kecil—atau tepatnya senyam-senyum seperti orang gila—ketika akhirnya kami memulai kegilaan kami melalui benda kecil bernama telepon genggam, bukan melalui komputer dengan CPU dan Monitor yang besar.

“Cieee, yang punya hp baru dari tadi ketawa aja, nih..” kata Bundaku membuyarkan pandanganku dari layar. Aku lupa kalau kami sedang menunggu taksi.

“Hehe, makasih banyak ya, Nda,” aku menampakkan ekspresi senang.

“Bilang makasihnya sama Ayah, dong. Bunda mah cuma milihin aja..” aku cukup kaget dengan jawaban Bundaku itu. Karena, mereka tak pernah lagi berbicara dengan nada biasa—terkecuali ketika masing-masing dari mereka sedang berulang tahun atau sedang berlebaran.

“Iya, nanti Iman bilang makasih sama Ayah pas udah dapet taksinya..”

“PING!”


Bunyi itu kembali masuk ke dalam handphone-ku.

Quote:


Aku kembali terhipnotis kepada benda kecil itu. Aku baru sadar kalau aku sudah berada di dalam taksi.

Cinta merubah duniaku. Tidak, bukan cinta.

Tapi Tasya.
Diubah oleh Polyamorous 19-09-2015 17:52
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.