- Beranda
- Stories from the Heart
I'm Happy Mom...
...
TS
yhunikasr
I'm Happy Mom...
Oke agan-sista sebelum gue nulis sedikit tentang kisah kehidupan gue, kenalin nama gue Cicu (nama panggilan kesayangan dari ibu gue). Gue cewek, umur hampir seperempat abad (baru hampir belum seperempat loh
) . Body gue mungil, rambut gonta-ganti warna (gue berjilbab
). Setelah baca berbagai cerita di kaskus gue tertarik buat nulis juga. Kalau ada yang salah, kritik dan saran ditunggu.
---------
Cerita berawal dari tahun 2005, gue selesai belajar di SMP. Waktu itu gue rasa nggak ada kebahagiaan melebihinya. Ternyata kertas pengumuman kelulusan "TIDAK LULUS" bagian yang dicoret. Nggak nyangka aja sih, secara gue murid teladan di kelas setiap jam pelajaran berlangsung, iya gue teladan molor gan.
Waktu itu nilai hasil ujian nggak langsung dibagikan, harus menunggu 1 mingguan. Yang jelas gue dah aman dengan kata LULUS. Sebenernya gue udah tau bayang-bayang setelah lulus gue mau ngapain. Di saat teman-teman gue sibuk memilih sekolah mana yang baik, gue hanya berdiam diri di rumah. Gue nggak tau mau kemana, gue bingung
, karna gue sadar keadaan keluarga gue yang pas-pasan bahkan sering kekurangan. Bapak gue udah sepuh, gue nggak tega ngeliat bapak harus kerja keras. Tapi gue juga pengen lanjutin sekolah.
Setelah menunggu 1 minggu, akhirnya nilai hasil ujian dibagikan. Bukan ijazah sih, kalau ijazah masih nunggu 1bulan. Nilai yang bisa digunakan buat daftar sekolah. Gue tambah hancur, hati gue serasa dicabik, dirobek, sakit setelah tau kalau nilai gue tinggi. Pulang dengan membawa lembaran nilai, gue kasih tau sama ibu.
"Bu... Apa aku nggak bisa lanjutin SMA ?" Tanya gue lirih, karna gue tau jawaban yang akan gue dengar.
"Lihat bu, nilaiku tinggi kalau aku daftar sekolah di SMAN 1 situ diterima." Jelas gue sama ibu yang masih berharap gue dapet keajaiban bisa lanjutin sekolah. Sekolah itu sampai sekarang masih favorite di tempat gue.
"Emangnya kamu anak seorang saudagar? Emangnya sekolah gratis? Seragam, buku, biaya semuanya apa guru yang akan bayarin?" Tanya ibu dengan nada tinggi, ibu membentak gue. Iya ibu marah, gue nggak jawab apa-apa, gue hanya nunduk dan terdiam.
Setelah pembicaraan itu, gue tau nggak ada kemungkinan buat gue lanjutin sekolah. Tapi gue masih berharap, gue mengurung diri di kamar. Gue marah, gue kesal, gue ngambek dan gue menyesal dilahirkan di keluarga ini.
"Tuhan... Engkau Maha Kaya, mana kekayaan-Mu? Kenapa untuk keluargaku tidak Kau beri kekayaan lebih?" Gue nangis, gue berontak. Kenapa bukan mereka yang merasakan? Kenapa harus gue?
Percuma, percuma gue nangis darah pun tidak akan merubah. Gue bisa sekolah SMP dapat beasiswa. Sayangnya untuk melanjutkan SMA, beasiswa itu nggak ada. Rasanya gue ingin lari, gue ingin teriak. Aaarrggghhh... Gak adil.
Seharian gue di kamar tanpa makan. Ntah setan atau malaikat yang merasuki tubuh gue. Keesokan harinya gue keluar kamar dengan wajah ceria seperti tanpa beban. Gue mencoba ikhlas, meski dalam hati masih tertinggal penyesalan.
"Bu... Aku mau kerja ke Bandung." Ucap gue mengawali pembicaraan.
"Kapan?" Tanya ibu yang sedang memasak.
"Mungkin minggu depan." Jawab gue singkat. Jujur berat banget gue ngomong itu sama ibu. Gue bergegas menghilang dari pandangan ibu. Iya gue nggak kuat nahan air mata, gue masuk kamar nangis lagi.
-----------
Mom... What ever make you happy, I'll try to do it, even I have to bury my dream.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
) . Body gue mungil, rambut gonta-ganti warna (gue berjilbab
). Setelah baca berbagai cerita di kaskus gue tertarik buat nulis juga. Kalau ada yang salah, kritik dan saran ditunggu.---------
Cerita berawal dari tahun 2005, gue selesai belajar di SMP. Waktu itu gue rasa nggak ada kebahagiaan melebihinya. Ternyata kertas pengumuman kelulusan "TIDAK LULUS" bagian yang dicoret. Nggak nyangka aja sih, secara gue murid teladan di kelas setiap jam pelajaran berlangsung, iya gue teladan molor gan.

Waktu itu nilai hasil ujian nggak langsung dibagikan, harus menunggu 1 mingguan. Yang jelas gue dah aman dengan kata LULUS. Sebenernya gue udah tau bayang-bayang setelah lulus gue mau ngapain. Di saat teman-teman gue sibuk memilih sekolah mana yang baik, gue hanya berdiam diri di rumah. Gue nggak tau mau kemana, gue bingung
, karna gue sadar keadaan keluarga gue yang pas-pasan bahkan sering kekurangan. Bapak gue udah sepuh, gue nggak tega ngeliat bapak harus kerja keras. Tapi gue juga pengen lanjutin sekolah.Setelah menunggu 1 minggu, akhirnya nilai hasil ujian dibagikan. Bukan ijazah sih, kalau ijazah masih nunggu 1bulan. Nilai yang bisa digunakan buat daftar sekolah. Gue tambah hancur, hati gue serasa dicabik, dirobek, sakit setelah tau kalau nilai gue tinggi. Pulang dengan membawa lembaran nilai, gue kasih tau sama ibu.
"Bu... Apa aku nggak bisa lanjutin SMA ?" Tanya gue lirih, karna gue tau jawaban yang akan gue dengar.
"Lihat bu, nilaiku tinggi kalau aku daftar sekolah di SMAN 1 situ diterima." Jelas gue sama ibu yang masih berharap gue dapet keajaiban bisa lanjutin sekolah. Sekolah itu sampai sekarang masih favorite di tempat gue.
"Emangnya kamu anak seorang saudagar? Emangnya sekolah gratis? Seragam, buku, biaya semuanya apa guru yang akan bayarin?" Tanya ibu dengan nada tinggi, ibu membentak gue. Iya ibu marah, gue nggak jawab apa-apa, gue hanya nunduk dan terdiam.
Setelah pembicaraan itu, gue tau nggak ada kemungkinan buat gue lanjutin sekolah. Tapi gue masih berharap, gue mengurung diri di kamar. Gue marah, gue kesal, gue ngambek dan gue menyesal dilahirkan di keluarga ini.
"Tuhan... Engkau Maha Kaya, mana kekayaan-Mu? Kenapa untuk keluargaku tidak Kau beri kekayaan lebih?" Gue nangis, gue berontak. Kenapa bukan mereka yang merasakan? Kenapa harus gue?
Percuma, percuma gue nangis darah pun tidak akan merubah. Gue bisa sekolah SMP dapat beasiswa. Sayangnya untuk melanjutkan SMA, beasiswa itu nggak ada. Rasanya gue ingin lari, gue ingin teriak. Aaarrggghhh... Gak adil.
Seharian gue di kamar tanpa makan. Ntah setan atau malaikat yang merasuki tubuh gue. Keesokan harinya gue keluar kamar dengan wajah ceria seperti tanpa beban. Gue mencoba ikhlas, meski dalam hati masih tertinggal penyesalan.
"Bu... Aku mau kerja ke Bandung." Ucap gue mengawali pembicaraan.
"Kapan?" Tanya ibu yang sedang memasak.
"Mungkin minggu depan." Jawab gue singkat. Jujur berat banget gue ngomong itu sama ibu. Gue bergegas menghilang dari pandangan ibu. Iya gue nggak kuat nahan air mata, gue masuk kamar nangis lagi.

-----------
Mom... What ever make you happy, I'll try to do it, even I have to bury my dream.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Quote:
Diubah oleh yhunikasr 09-01-2015 19:09
anasabila memberi reputasi
1
54.9K
822
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yhunikasr
#769
Part 68 ~> Welcome to my country
Marah, benci dan kecewa, itu lah yang gue rasakan. Lembaran kertas yang gue tunggu sejak dulu, yang gue pikir udah hilang entah kemana, baru gue baca hari ini dan itu gue temukan dari plastik sampah. Sekarang ibarat pasir menjadi debu, tak bisa dikembalikam meski sedetikpun kembali ke masa lalu. Sudahlah, gue nggak bisa berbuat apa-apa. Cukup tau selama ini mereka berkepala dua di depan gue. Mereka mengatakan yang nggak sebenarnya. Bahkan berbohong tentang isi surat Ina. Mudah-mudahan setelah gue kalau ada yang kerja di sini, perilaku mereka tak seburuk yang pernah mereka lakukan sama gue.
Persiapan pulang tinggal hitungan minggu. Tapi justru semakin dekat kepulangan gue, Mam malah merayu gue buat nambah kontrak. Baik-baikin gue, muji-muji lah, bilang ini itu biar gue mau nambah. Sampai telpon ke agency, Mam Gee yang minta gue buat nambah kontrak.
"Halo Cu, kamu udah nak pulang? Mam kamu itu minta kamu tambah lah kontrak." Ucap Mam Gee di balik telepon.
"Iya Mam, saya tak nak tambah, saya dah nak pulang saja." Jawab gue.
"Tambah lah buat setahun saja, apa kamu tak kasihan sama Mam kamu? Dia ada 3 anak, tunggulah bayi dia setahun." Rayu Mam Gee.
"Maaf Mam, saya dah nak pulang saja, bapak saya sakit-sakitan, saya nak raway saja." Jawab gue.
Obrolan isinya cuma permintaan buat gue nambah kontrak. Paling nggak suruh si bayi setahun. Hampir saja hati gue luluh dan menerima tawarannya. Hati kecil gue masih ada rasa kasihan, gue pengen bantu kerja setahun lagi. Kasihan karna belum tentu pembantu baru bisa betah, bisa langsung bisa masak. Gue dulu kerja sebulan aja udah pinter masak. Gue bimbang, hati gue gundah gulana.
kalau bahasa anak jaman sekarang galau mungkin yak??
Tapi pikir dipikir lagi, gue mending pulang aja. Cukup dua tahun menghabiskan kontrak kerja, nggak ada lagi tambahan hidup di sini. Akhirnya dengan berat hati gue tolak permohonan Mam gue yang minta dan rayu-rayu gue buat nambah kontrak.
*****
November 2010
Hari-hari gue terasa lama, padahal tinggal sebulan lagi gue pulang. Kontrak kerja habis 18 Desember nanti. Mam yang mungkin kecewa karena permintaannya gue tolak, malah semakin semena-mena sama gue. Setiap gue salah, langsung kena semprot.
Gue cuma bisa sabar menghitung hari. Bahkan detik-detik perputaran jarum jam terasa lama. Masih tersisa dua perangko lokal, gue sempatin nulis surat buat Ina. Gue kasih tau kalau Desember nanti gue pulang. Tanpa gue minta balasan darinya, karena gue tau nggak bisa baca suratnya. Cukup gue aja yang kasih kabar buat dia. Mungkin dengan membaca tulisan gue, dia bisa sedikit terobati kangennya. Dan gue akan tunggu kepulangan dia nanti di rumah. Gue akan jemput dia di Bandara.
Ibu yang biasanya membela gue pun sekarang ikut jutek. Seolah tak ada orang yang melindungi gue lagi di keluarga ini. Kenapa? Apa karena gue nggak mau tambah kontrak? Bukankah ini hak gue? Kenapa mereka berubah sifat setelah permintaanya ditolak?
Gue telpon ibu di kampung kasih tau kalau kepulangan gue sebentar lagi. Tiket sudah dipesan, 18 Desember 2010, 12:00 malam pesawat Air Asia tujuan Jakarta Soekarno Hatta International Airport. Cuma 10 menit ngobrol, baru ngomong udah suruh dimatiin telponnya. Ibu gue pun nggak begitu jelas denger suara gue yang mungkin jaringan susah.
Depavali.
Hari raya agama hindu telah tiba. Tahun ini nggak ada pesta di rumah Mam atau pun di rumah ibu. Nggak seperti tahun lalu, pesta perayaan depavali undang kerabat saudara dan teman kerja sampai dua hari. Masakan nggak ada yang beli, gue bantuin ibu masak dari mulai nyiapin sampai bersihin bekas masak. Berdiri dari pagi sampai malam, kaki gue bengkak seperti tak terasa lagi. Itu tahun lalu, tahun ini alhamdulillah nggak ada pesta apapun. Mereka berkunjung ke rumah sanak saudara layaknya Idul Fitri bagi ummat Islam.
Setiap ketemu saudara mereka, gue ditanya kenapa nggak nambah kontrak. Sangat disayangkan katanya, saudara Mam dan saudara ibu banyak yang kenal sama gue. Mereka juga sering bilang masakan gue enak kalau datang ke pesta. Tapi yah mau bagaimana pun, keputusan gue udah bulat, gue yang merasakan, gue nggak kuat kalau harus kerja di sini lagi. Gue alasan sama mereka karena bapak sakit-sakitan dan harus jaga beliau.
Baju, sama barang-barang gue selama kerja 2 tahun nggak banyak. Libur nggak, pegang gaji nggak, gimana bisa shopping beli baju dan yang lain?
Sebenernya gue pengen beli jajan buat anak-anak kecil di kampung, tapi lagi-lagi gue nggak dikasih kesempatan beli. Katanya mau dibeliin aja biar gue nggak ribet beli sendiri. Ya udah lah nurut aja apa kata Mam.
Desember 2010.
Kepulangan tinggal 2 minggu lagi. Gue masih sempetin nulis surat terakhir buat Ina. Pamitan sama dia, gue kasih tau kalau terbang malam hari. Tempat Ina kerja deket sama airport, gue bilang sama dia melalui coretan kertas.
Seminggu berlalu, ada rasa berat meninggalkan keluarga ini. Dulu gue datang dengan baik-baik, dan sekarang gue akan melangkahkan kaki ini meninggalkan keluarga yang hidup bersama selama 2 tahun terakhir pun harus dengan baik-baik pula. Satu yang memberatkan gue, yaitu Varshni, gadis cilik yang dulu masih berusia 1 tahun, berjalan pun belum tegak. Kini dia sudah 3 tahun, sudah pintar berbicara. Gue yang paling dekat sama dia. Bahkan Varshni lebih memilih gue daripada sama Mommynya.
"I'm going back home to Indonesia. Will you miss me?" Ucap gue sama Varshni.
"No!!! Your house is here, you can not go, you must stay here every day with me. Don't go, don't leave me, I'll follow you if you go." Jawabnya yang membuat gue sedih.
Gue sayang banget sama dia, udah seperti adek gue sendiri atau mungkin anak gue. Saat gue menimang dia memberi susu dan menidurkan dia. Saat gue memandikan dia, menyuap makanan ke dalam mulutnya. Masih teringat jelas di pikiran ini. Dan sekarang saatnya harus gue tinggalkan dia. Berat atau nggak, memang ini kenyataannya. Nggak selamanya gue di sini, gue sayang sama Varshni, Roshni tapi gue lebih sayang sama keluarga gue yang menunggu kedatangan gue di rumah.
Selamat tinggal Singapore. Seandainya harus kembali lagi, semoga bukan untuk menjadi TKW, tapi berkunjung untuk wisata.
18 Desember 2010.
Pagi ini, semua barang yang akan gue bawa sudah siap. Uang gaji gue udah dikirim lewat Western Union sama Mam. Tapi katanya nggak boleh kirim terlalu banyak, jadi baru dikirim setengahnya. Masih ada sisa 2 bulan gaji gue dipegang sama Mam. Katanya nanti setelah gue pulang akan dikirim lagi ke alamat gue lewat Western Union. Ini hari terakhir, gue nggak ada waktu lagi buat berdebat atau apalah. Gue nurut aja apa kata Mam. Gue percaya aja, nanti juga pasti dikirim, dia masih nyimpan alamat gue yang biasa dipakai buat kirim uang.
Siang harinya, gue dikasih uang rupiah sama Bapaknya Mam. Sekitar satu juta lebih, untuk uang dolar gue nggak bawa. Karena gaji udah dikirim. Sama sekali nggak ada bonus kerja atau hadiah. Gue pulang dengan tanpa membawa jajan pula. Ucapan Mam semua omong kosong. Katanya mau beliin jajanan buat anak-anak kecil dan keponakan gue di kampung, tapi nyatanya nggak sama sekali.
Sudahlah, yang penting gue pulang ke Indonesia dengan selamat tanpa meninggalkan nama buruk. Cukup meninggalkan nama baik di negara tetangga tanpa masalah.
Sebelum gue diantar ke airport, kami sekeluarga ada acara pesta di rumah saudara ibu. Gue ikut sekalian bawa tas gue dan semua yang gue bawa pulang nanti. Sekitar pukul 22 malam, Mam sama Sir anterin gue ke airport. Varshni ikut tapi Roshni nggak ikut, dia masih di rumah saudara ibu yang sedang pesta itu.
Sepanjang perjalanan gue masih meneteskan airmata. Gue sedih meninggalkan keluarga ini, tapi gue juga seneng bakal ketemu keluarga gue di Indonesia. Setelah sampai di airport, gue pamitan sama Mam, sir juga Varshni, gue cium dia buat yang terakhir kalinya.
"Thank you for everything you gave me Mam."
Ucap gue sama Mam.
"Be careful, give me a massage when you get home!" Ucap Mam.
Bye bye Singapore, and welcome my country.
Gue masuk boarding, penerbangan masih menunggu satu jam lagi. Nggak ada novel atau buku bacaan, bosan duduk diam di sini. Banyak yang tidur, tapi gue nggak bisa tidur. Takut ketinggalan pesawat.
Yes...!!!
Setelah menunggu sekian puluh menit, akhirnya masuk kepesawat. Siap untuk terbang ke negara tercinta.
*****
Perjalanan selama sekitar 2 satu setengah jam dari Changi Airport ke Soekarno Hatta Airport. Akhirnya sampai juga, gue dijemput sama ibu dan kakak ipar gue. Alhamdulillah selamat sampai tanah air ketemu orangtua. Meski bapak nggak ikut gue seneng udah ketemu ibu.
Pagi nanti pulang ke Cilacap, untuk malam ini nginap di rumah adiknya kakak ipar gue.
Persiapan pulang tinggal hitungan minggu. Tapi justru semakin dekat kepulangan gue, Mam malah merayu gue buat nambah kontrak. Baik-baikin gue, muji-muji lah, bilang ini itu biar gue mau nambah. Sampai telpon ke agency, Mam Gee yang minta gue buat nambah kontrak.
"Halo Cu, kamu udah nak pulang? Mam kamu itu minta kamu tambah lah kontrak." Ucap Mam Gee di balik telepon.
"Iya Mam, saya tak nak tambah, saya dah nak pulang saja." Jawab gue.
"Tambah lah buat setahun saja, apa kamu tak kasihan sama Mam kamu? Dia ada 3 anak, tunggulah bayi dia setahun." Rayu Mam Gee.
"Maaf Mam, saya dah nak pulang saja, bapak saya sakit-sakitan, saya nak raway saja." Jawab gue.
Obrolan isinya cuma permintaan buat gue nambah kontrak. Paling nggak suruh si bayi setahun. Hampir saja hati gue luluh dan menerima tawarannya. Hati kecil gue masih ada rasa kasihan, gue pengen bantu kerja setahun lagi. Kasihan karna belum tentu pembantu baru bisa betah, bisa langsung bisa masak. Gue dulu kerja sebulan aja udah pinter masak. Gue bimbang, hati gue gundah gulana.
kalau bahasa anak jaman sekarang galau mungkin yak?? Tapi pikir dipikir lagi, gue mending pulang aja. Cukup dua tahun menghabiskan kontrak kerja, nggak ada lagi tambahan hidup di sini. Akhirnya dengan berat hati gue tolak permohonan Mam gue yang minta dan rayu-rayu gue buat nambah kontrak.
*****
November 2010
Hari-hari gue terasa lama, padahal tinggal sebulan lagi gue pulang. Kontrak kerja habis 18 Desember nanti. Mam yang mungkin kecewa karena permintaannya gue tolak, malah semakin semena-mena sama gue. Setiap gue salah, langsung kena semprot.

Gue cuma bisa sabar menghitung hari. Bahkan detik-detik perputaran jarum jam terasa lama. Masih tersisa dua perangko lokal, gue sempatin nulis surat buat Ina. Gue kasih tau kalau Desember nanti gue pulang. Tanpa gue minta balasan darinya, karena gue tau nggak bisa baca suratnya. Cukup gue aja yang kasih kabar buat dia. Mungkin dengan membaca tulisan gue, dia bisa sedikit terobati kangennya. Dan gue akan tunggu kepulangan dia nanti di rumah. Gue akan jemput dia di Bandara.
Ibu yang biasanya membela gue pun sekarang ikut jutek. Seolah tak ada orang yang melindungi gue lagi di keluarga ini. Kenapa? Apa karena gue nggak mau tambah kontrak? Bukankah ini hak gue? Kenapa mereka berubah sifat setelah permintaanya ditolak?
Gue telpon ibu di kampung kasih tau kalau kepulangan gue sebentar lagi. Tiket sudah dipesan, 18 Desember 2010, 12:00 malam pesawat Air Asia tujuan Jakarta Soekarno Hatta International Airport. Cuma 10 menit ngobrol, baru ngomong udah suruh dimatiin telponnya. Ibu gue pun nggak begitu jelas denger suara gue yang mungkin jaringan susah.

Depavali.
Hari raya agama hindu telah tiba. Tahun ini nggak ada pesta di rumah Mam atau pun di rumah ibu. Nggak seperti tahun lalu, pesta perayaan depavali undang kerabat saudara dan teman kerja sampai dua hari. Masakan nggak ada yang beli, gue bantuin ibu masak dari mulai nyiapin sampai bersihin bekas masak. Berdiri dari pagi sampai malam, kaki gue bengkak seperti tak terasa lagi. Itu tahun lalu, tahun ini alhamdulillah nggak ada pesta apapun. Mereka berkunjung ke rumah sanak saudara layaknya Idul Fitri bagi ummat Islam.
Setiap ketemu saudara mereka, gue ditanya kenapa nggak nambah kontrak. Sangat disayangkan katanya, saudara Mam dan saudara ibu banyak yang kenal sama gue. Mereka juga sering bilang masakan gue enak kalau datang ke pesta. Tapi yah mau bagaimana pun, keputusan gue udah bulat, gue yang merasakan, gue nggak kuat kalau harus kerja di sini lagi. Gue alasan sama mereka karena bapak sakit-sakitan dan harus jaga beliau.
Baju, sama barang-barang gue selama kerja 2 tahun nggak banyak. Libur nggak, pegang gaji nggak, gimana bisa shopping beli baju dan yang lain?
Sebenernya gue pengen beli jajan buat anak-anak kecil di kampung, tapi lagi-lagi gue nggak dikasih kesempatan beli. Katanya mau dibeliin aja biar gue nggak ribet beli sendiri. Ya udah lah nurut aja apa kata Mam.
Desember 2010.
Kepulangan tinggal 2 minggu lagi. Gue masih sempetin nulis surat terakhir buat Ina. Pamitan sama dia, gue kasih tau kalau terbang malam hari. Tempat Ina kerja deket sama airport, gue bilang sama dia melalui coretan kertas.
'Na.. Sampai ketemu di negri kita, sampai jumpa di tempat dulu kita berkumpul bersama. Aku tunggu kepulanganmu. Aku yang pulang duluan, kalau nanti pas Sabtu malam Minggu 23:59, 18 Desember kamu mendengar suara pesawat di malam hari sebelum kamu terlelap tidur. Mungkin aku yang ada di dalam pesawat itu. Semoga aku bisa berjumpa lagi sama kamu di negri tercinta. Alefyuuuu...'
Seminggu berlalu, ada rasa berat meninggalkan keluarga ini. Dulu gue datang dengan baik-baik, dan sekarang gue akan melangkahkan kaki ini meninggalkan keluarga yang hidup bersama selama 2 tahun terakhir pun harus dengan baik-baik pula. Satu yang memberatkan gue, yaitu Varshni, gadis cilik yang dulu masih berusia 1 tahun, berjalan pun belum tegak. Kini dia sudah 3 tahun, sudah pintar berbicara. Gue yang paling dekat sama dia. Bahkan Varshni lebih memilih gue daripada sama Mommynya.
"I'm going back home to Indonesia. Will you miss me?" Ucap gue sama Varshni.
"No!!! Your house is here, you can not go, you must stay here every day with me. Don't go, don't leave me, I'll follow you if you go." Jawabnya yang membuat gue sedih.
Gue sayang banget sama dia, udah seperti adek gue sendiri atau mungkin anak gue. Saat gue menimang dia memberi susu dan menidurkan dia. Saat gue memandikan dia, menyuap makanan ke dalam mulutnya. Masih teringat jelas di pikiran ini. Dan sekarang saatnya harus gue tinggalkan dia. Berat atau nggak, memang ini kenyataannya. Nggak selamanya gue di sini, gue sayang sama Varshni, Roshni tapi gue lebih sayang sama keluarga gue yang menunggu kedatangan gue di rumah.
Selamat tinggal Singapore. Seandainya harus kembali lagi, semoga bukan untuk menjadi TKW, tapi berkunjung untuk wisata.
18 Desember 2010.
Pagi ini, semua barang yang akan gue bawa sudah siap. Uang gaji gue udah dikirim lewat Western Union sama Mam. Tapi katanya nggak boleh kirim terlalu banyak, jadi baru dikirim setengahnya. Masih ada sisa 2 bulan gaji gue dipegang sama Mam. Katanya nanti setelah gue pulang akan dikirim lagi ke alamat gue lewat Western Union. Ini hari terakhir, gue nggak ada waktu lagi buat berdebat atau apalah. Gue nurut aja apa kata Mam. Gue percaya aja, nanti juga pasti dikirim, dia masih nyimpan alamat gue yang biasa dipakai buat kirim uang.
Siang harinya, gue dikasih uang rupiah sama Bapaknya Mam. Sekitar satu juta lebih, untuk uang dolar gue nggak bawa. Karena gaji udah dikirim. Sama sekali nggak ada bonus kerja atau hadiah. Gue pulang dengan tanpa membawa jajan pula. Ucapan Mam semua omong kosong. Katanya mau beliin jajanan buat anak-anak kecil dan keponakan gue di kampung, tapi nyatanya nggak sama sekali.
Sudahlah, yang penting gue pulang ke Indonesia dengan selamat tanpa meninggalkan nama buruk. Cukup meninggalkan nama baik di negara tetangga tanpa masalah.
Sebelum gue diantar ke airport, kami sekeluarga ada acara pesta di rumah saudara ibu. Gue ikut sekalian bawa tas gue dan semua yang gue bawa pulang nanti. Sekitar pukul 22 malam, Mam sama Sir anterin gue ke airport. Varshni ikut tapi Roshni nggak ikut, dia masih di rumah saudara ibu yang sedang pesta itu.
Sepanjang perjalanan gue masih meneteskan airmata. Gue sedih meninggalkan keluarga ini, tapi gue juga seneng bakal ketemu keluarga gue di Indonesia. Setelah sampai di airport, gue pamitan sama Mam, sir juga Varshni, gue cium dia buat yang terakhir kalinya.
"Thank you for everything you gave me Mam."
Ucap gue sama Mam."Be careful, give me a massage when you get home!" Ucap Mam.
Bye bye Singapore, and welcome my country.
Gue masuk boarding, penerbangan masih menunggu satu jam lagi. Nggak ada novel atau buku bacaan, bosan duduk diam di sini. Banyak yang tidur, tapi gue nggak bisa tidur. Takut ketinggalan pesawat.

Yes...!!!
Setelah menunggu sekian puluh menit, akhirnya masuk kepesawat. Siap untuk terbang ke negara tercinta.
*****
Perjalanan selama sekitar 2 satu setengah jam dari Changi Airport ke Soekarno Hatta Airport. Akhirnya sampai juga, gue dijemput sama ibu dan kakak ipar gue. Alhamdulillah selamat sampai tanah air ketemu orangtua. Meski bapak nggak ikut gue seneng udah ketemu ibu.

Pagi nanti pulang ke Cilacap, untuk malam ini nginap di rumah adiknya kakak ipar gue.
sicepod memberi reputasi
1