- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#56
Partitur no. 15 : Stranger
“Halo?” suaranya baru kali ini kudengar. Dari kedengarannya, ia memiliki tubuh yang sangat besar, tetapi sangat halus. “Ini Iman, ya?”
“Iya, ini siapa, ya?” tanyaku penasaran. Ada apa orang asing menelponku secara tiba-tiba? Pikiranku sudah was-was.
“Ini Dimas, Man,” balasnya dari kejauhan itu.
“Dimas siapa, ya?” kataku dengan semakin penasaran. Sebenarnya untuk mengantisipasi jika ada kasus penipuan lewat telepon dengan menganggap bahwa kenal pribadi dengan kita. “Soalnya gw nggak punya temen namanya Dimas..”
“Gw temennya gitaris lo dulu,” ujarnya menjelaskan. “Katanya lo lagi ada lowongan di band lo?”
Meskipun sudah menyebarkannya melalui media sosial, tapi masih tak kusangka aku terkejut mendengarnya. Mungkin karena jenjang waktunya yang sangat dekat. “Wah, kebetulan banget, nih.”
“Bagi kontak lo dong, Man..” ia pun langsung menuju poin-poin pentingnya. Sepertinya ia tak begitu suka membuang waktu.
“Gw nggak punya hp, Dim..” jawabku. “kontak via sosial media aja..”
“Ooh, oke..” jawabnya mengerti. “Syarat gabung band lo apa, Man?”
“Apa, ya.. Asal satu visi, cocok, dan bisa bener-bener main alat musik aja, sih..”
“Terus, kapan gw bisa ketemu lo?” lagi-lagi, ia langsung menuju poin utamanya.
“Sabtu ini gimana?” saranku.
“Bisa. Sekalian minta alamat lo ya, Man..”
“Oke..” kami pun menutup telepon kami setelah memberikan alamat rumahku—tempat kami akan bertemu nantinya.
Ternyata, keinginanku untuk memiliki sebuah handphone semakin tertanam sehabis perbincangan kami itu, karena tak hanya berkomunikasi dengan keluarga ataupun Tasya, aku bisa mengontak teman-teman band ku. Aku juga selalu tak enak hati ketika teman-temanku protes karena susah untuk dikontak.
Teman-temanku sering bertanya mengapa aku bisa bertahan selama tiga bulan dengan komunikasi yang terbilang terbatas. Aku pun juga bingung menjawabnya, karena sesuatu yang membuatku bertahan adalah kesamaan pemikiran kami. Walaupun terkadang pernasaran apa yang ada di dalam benarnya Tasya ketika kami sangat susah berkomunikasi. Aku hanya takut ia bosan denganku.
Sebenarnya, pernah terpikir dalam benakku untuk menabung sedikit demi sedikit untuk membeli sebuah telepon genggam. Tapi, aku tak bisa mengontrol diriku yang sangat boros ini. Sehingga uang tersebut terpakai untuk kepentingan lain.
***
Tak terasa, Sabtu yang kutunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Waktu itu, kami sedang tak mengadakan latihan—karena kesibukan masing-masing kami menyambut tahun baru.
Di sini lah aku akan bertemu dengan Dimas. Di sebuah Supermarket dengan kenangan buruk bersama Tasya, ketika aku dengan bodohnya mengisi minuman soda di tempat yang sedang rusak. Dengan deg-degan, aku memasuki tempat itu, yang ternyata Dimas sudah hadir terlebih dahulu dariku.
Ia berperawakan tinggi—lebih tinggi dariku, badan agak gemuk, berkacamata, putih. Mirip sekali dengan apa yang sudah kuperkirakan ketika ia menelponku minggu lalu. Orangnya sangat supel dan mudah bergaul—mudah mengakrabkan diri, mungkin karena selera musik kita yang cepat menyatukan kita. Dan ternyata, ia tinggal tak jauh dari Supermarket itu berada.
Ternyata, ada salah komunikasi dengan Dimas ini. Ia semangat bertemu denganku karena mengira kami sedang mencari seorang gitaris lagi—seperti yang ia inginkan. Mungkin, ia juga seperti Afi, yang sebenarnya pemain gitar yang harus bermain bass untuk band karena suatu alasan. Lagi pula, ia sangat semangat karena ia sedang menghadapi konflik dengan bandnya. Bahkan, saking semangatnya, ia sudah lengkap membawa gitar dan efek-efeknya. Karena tak enak, aku tak menjelaskan bahwa yang sedang kami cari itu sebenarnya adalah pemain bass.
Perkenalan kami yang sangat singkat ini langsung dilanjutkan menuju ke rumahku—untuk sekedar bermain bersama atau mengobrol-mengobrol saja, dan tentu saja menggunakan angkutan umum.
“Selamat datang di rumah gw, Dim,” sambutku. “maaf kalo jelek rumahnya..”
“Ini mah bagus banget, Man. Antik..” ia mengucapkannya sambil tak henti-hentinya menatap keseluruh ruangan tengah rumahku itu. Tak kusangka, hari ini rumahku sangat sepi. Biasanya pada hari Sabtu akan ramai seperti biasanya.
“Daaan, ini kamar gw.. Maaf juga kalo berantakan..” kataku sambil membuka pintu kamarku yang sangat berantakan itu.
Sebenarnya, kamarku ini berantakan karena Kang Naufal. Walaupun ini kamar kami berdua, tapi sebenarnya ia jarang tidur di kamar ini. Kerjaannya di kamar ini adalah memainkan komputer, bermain bassnya, dan menaruh barang atau baju miliknya dengan seenaknya saja, tanpa memasuki ke tempat pakaian kotor. Tapi, giliran aku melakukan hal yang sama, ia malah memarahiku, padahal yang kulakukan tak sebesar apa yang dilakukan oleh Kang Naufal. Lalu, kamarku ini digabung dengan studio yang sudah setengah jadi.
Untungnya, saat itu Kang Naufal sedang tak berada di rumah, entah ia pergi kemana. Jadi, saat itu aku bebas ingin melakukan apa saja di kamar yang berantakan ini.
“Ah, kamar cowok mah biasa berantakan, Man.” Katanya sambil tertawa. Ia pun menaruh barang bawaannya dan duduk di kursi komputer itu. “Ini gw colok gitar gw boleh, nggak?”
“Boleh, kok. Silahkan, Dim..”
Ia pun segera mengeluarkan gitarnya—begitu pula dengan efek-efek yang telah ia bawa. Ia benar-benar memegang gitar yang belum dimainkan saja sudah menghasilkan melodi indah di mataku. Lalu, ia benar-benar memainkannya dengan sangat baik. Ia memperlakukan gitar itu seperti kekasihnya sendiri.
Karena tak tahan melihatnya bermain sendirian, aku pun ikut mengeluarkan gitarku. Kami pun memainkan nada-nada dari masing-masing band favorit kami. Sesekali aku juga merekamnya menggunakan kamera perekam yang kupinjam dari ayahku untuk memberikan laporan kepada Afi dan Harrys. “asik juga lo mainnya..” kataku dengan takjub.
“Hehe..” ia terkekeh-kekeh. “terus gimana? Keterima di band lo nggak, nih?” tanyanya kemudian.
Jantungku rasanya langsung ditusuk ke dalam—bukan perlahan, karena pernyataannya yang lagi-lagi langsung menuju poin utamanya. Dan lagi, aku belum bilang bahwa sebenarnya seandainya ia keterima di bandku ia akan menjadi seorang pemain bass.
“Nanti gw diskusiin dulu sama yang lain,” jawabku. “tapi kalo liat dari lo mainnya tadi sih, positif keterima, Dim.”
“Oke, Man. Makasih banyak, ya..” tak lama, ia mendapati bahwa telepon genggam miliknya berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya sambil menuju keluar kamarku. “Halo?” suaranya masih terdengar sampai ke dalam kamarku.
“Man, gw nggak bisa lama-lama kayaknya, nih..” katanya sekembali dari telepon itu. “Nanti Om gw jemput di sini. Sekarang masih di jalan.”
Kami pun kembali mengobrol semua tentang hobi kami itu, sambil ia membereskan gitar dan alat-alat yang ia bawa. Kami bertukar pikiran mengenai referensi seputar gitar, dan tentu saja musik. Ditengah obrolan itu, aku pun menyempatkan mengunggah video tadi ke grup di facebook—untuk menanyakan penilaian individu dari Afi maupun Harrys.
Lagi, ia pun mendapatkan telepon—mungkin dari Om nya. Dan benar saja, ia pun langsung berpamitan denganku. “Sorry ya, Man, nggak bisa lama-lama..
Tepat setelah ia pulang, unggahan ke facebook itu pun telah selesai. Grup itu pun langsung ramai dengan komen di video tersebut.
Quote:
Nampaknya, mereka menyukai permainan Dimas lebih dari yang kuduga—menandakan ia akan benar-benar lolos. Walaupun ia sepertinya akan bermain gitar di band, Afi lagi-lagi harus rela kembali memegang bass. Atas keputusan kami itu, aku mencoba mengabari Dimas lewat twitter.
“Dim, selamat, ya. Lo keterima!” tulisku dalam pesan pribadi itu. Aku terus menunggu balasannya. Karena kalau menanyakan lewat Twitter, kita tak tahu apakah ia juga sedang online atau tidak. Ia yang keterima, mengapa aku yang deg-degan?
“Serius lo, Man?” jawabnya tak lama. Sepertinya ia benar-benar senang.
“Iya, Dim. Tapi tadi gw diskusi dulu, kalo lo jadi bassist lagi mau, nggak?” tanyaku dengan hati-hati. Saking jantungku berdegup kencang, aku harus berpikir dua kali untuk memencet tombol enter.
“Jadi bassist lagi, ya? Boleh, sih..” balasnya kemudian. Hatiku benar-benar lega rasanya.
“Selamat bergabung!”
Dimas pun benar-benar bergabung dengan bandku. Aku tak percaya bahwa secepat ini kami bisa mendapatkan pengganti posisi Fadjri. Ia segera bisa beradaptasi dengan gaya bermain kami ketika kami mencoba latihan bersama di studio pada minggu berikutnya—dan tampaknya mereka juga menyukai Dimas. Perlahan tapi pasti, ia memasuki kehidupan kami.
Seminggu kemudian...
Tepat setelah kesenangan itu berlangsung—karena akhirnya kami mendapatkan seorang personil yang memiliki kesamaan visi, aku mendapat kabar yang tak mengenakkan dari Dimas. Ia mengundurkan diri. Gitarisnya tak menyukai kalau Dimas bergabung dengan band lain selain band mereka. Dan, kami pun kembali bertiga. Setidaknya, inilah formasi yang cocok untuk kami saat ini.
Diubah oleh Polyamorous 18-09-2015 20:33
0
