- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#52
Partitur no. 14 : Conflict With The Band
Malam itu terasa dingin sekali. Tepat setelah berdamai dengan kegalauan akan perbedaan umurku dengan Tasya, Afi menghampiriku yang sedang asyik dengan perbincangan gila itu agar segera melihat percakapan yang ada di group facebook band kami. “Man, coba buka chatnya, deh,” katanya dengan tergesa-gesa. “Ada masalah.”
Lantas, karena penasaran aku pun langsung membuka grup yang kami tutup untuk orang dalam kami saja—walaupun Tasya dan Adiknya juga masuk ke dalam grup ini—dan melihat apa yang sedang terjadi. Rupanya, Fadjri yang baru saja sampai ke rumahnya lagi-lagi memaksakan kehendaknya yang bukan kali pertamanya ia sampaikan kepada kami.
Melihat itu, aku langsung bercerita layaknya bercerita kepada sahabat kepada Tasya mengenai hal yang membuat ramai grup facebook bandku itu. Ia memang bisa menjadi sahabat yang sangat baik, bahkan, ia terkadang lebih mengetahui tentang diriku dibanding diriku sendiri. Ia juga bisa menjadi teman berbagi atau bertukar referensi maupun pikiran yang sangat asyik.
Membentuk sebuah band itu tak semudah kelihatannya. Membentuk band sama seperti ketika memulai atau ingin memulai sebuah hubungan, butuh perjuangan, dan tentu saja kecocokan dari berbagai hal. Banyak temanku yang mengajakku membentuk band, tapi hanya sampai tahap latihan pertama, dan tak pernah latihan lagi karena memang kami tak cocok. Dalam sebuah hubungan, walaupun banyak yang menyukaimu, tapi kalau tidak cocok, apa yang harus dilakukan? Ketika dua insan yang memiliki hubungan spesial, apa yang terjadi ketika ternyata akhirnya tak menemukan kecocokan? Dan tentu saja membutuhkan komitmen.
Dari awal terbentuknya band ini, kami memang ingin hanya bertiga—entah karena terinspirasi dari band-band favorit kami, atau karena terpaksa, dan tentu saja karena belum mendapat yang cocok.
Semua berawal ketika Afi sangat ingin menjadi pemain gitar, sementara posisinya di band menjadi pemain bass. Kami pun akhirnya setuju untuk mencari personil baru—tentunya yang satu visi dengan visi band kami ini. Tak lama, Afi pun menemukan personil baru yang sekiranya cocok dari grup facebook perkumpulan penggemar Green Day di Indonesia. Ia pun mengajaknya untuk mengikuti latihan band kami yang rutin pada hari Sabtu tiap minggunya.
Tapi, bergabungnya orang itu ke dalam band tidak membuat Afi pindah bermain gitar. Ia tetap menjadi gitaris, sampai mereka bernegoisasi untuk bertukar posisi.
Kami memang memiliki banyak kesamaan, keselarasan, dan kesatuan pemikiran ketika awal kami bertemu, yang akhirnya membulatkan pikiranku untuk mengajaknya bergabung ke dalam band kami.
Ia memang memberi secercah harapan baru untuk kelangsungan band ini. Kami serasa mendapat energi positif untuk melanjutkan kehidupan bermusik kami. Tapi, lama kelamaan kami tak bisa melihat dari kacamata yang sama lagi. Kami bagaikan seorang pilot yang ingin menerbangkan pesawat kami kearah yang masing-masing kami tuju.
Gitarisku ini menginginkan band ini bergerak menuju masa depan: membuat sebuah lagu, rekaman, lalu membuat album. Tak ada yang salah dengan hal itu, kami memang tak lagi melihat dari kacamata yang sama—karena kami belum sama sekali untuk melakukan hal itu. Tujuan kami masih terfokus untuk merapihkan permainan kami yang notabene terkadang masih agak berantakan, lalu bermain di acara tribute dari masing-masing band favorit kami. Dan tentu saja mencari nama agar band kami ini semakin dikenal orang.
Harus kuakui bahwa aku—atau tepatnya kami, sangat tergila-gila dengan Green Day. Hampir setiap harinya mendengarkan karya-karya mereka, mengoleksi setiap albumnya, membeli dvd konser live mereka, sampai membawakan lagu-lagu mereka ketika latihan atau manggung.
Ketika kami ingin memainkan lagu-lagu di luar Green Day, Fadjri dengan keras menolaknya. Ia hanya ingin bermain lagu punk rock atau pop punk saja. Tak ada yang salah jika kami dari awal terbentuk memang ingin bermain punk rock atau pop punk saja, akan tetapi kami ingin mencoba hal-hal baru dari band yang kami suka lainnya.
Lalu, kegembiraannya ketika kami mengikuti audisi tribute gabungan Green Day dan Blink-182. Kami juga sangat gembira hingga kami tegang, sampai-sampai kami datang dua jam lebih awal untuk datang ke audisi itu. Tapi, semua kacau ketika sound gitarnya lebih besar dariku. Ini bukan tentang suara gitar siapa yang harus lebih besar, akan tetapi masalah keselarasan dalam bermusik. Jika kalian bisa bayangkan, bagaimana rasanya ketika kalian menonton sebuah band, dan hanya satu suara yang mendominasi? Bahkan, suara vokalku saja tak kedengaran. Tentu saja kami gagal dalam audisi ini.
Yang menyebalkan lagia adalah, ketika pulang dari audisi, ia dengan lantang berbicara kepadaku: “Seneng banget sound gitar gw lebih gede dari lo!”Ia sering sekali mendapat kritik dari Tasya maupun Adiknya—yang juga sebenarnya adalah pemain musik—bahwa jika ia terus egois begini, kemajuan di dalam band akan terhambat.
Tak lama, Afi pun menyuruhku untuk melihat seluruh percakapan yang baru saja dilakukannya dengan Fadjri malam itu. Rupanya, ia memang benar-benar orang yang sama idealis. Aku membacanya dari awal sampai akhir. Isi percakapannya adalah membahas tentang diriku yang menurutnya juga sangat egois. Ya, aku memang egois. Menurutnya, kami seharusnya mengikuti seluruh arahan yang ia inginkan.
Ketika selesai membaca, saking asyiknya tanpa kusadari Afi sudah tertidur di tempat tidurku itu. Melihat itu, aku tergelitik untuk ikut membalas pesan-pesan yang dilontarkan Fadjri menggunakan akun facebooknya Afi. Tentunya, bahasa tulisanku harus dibuat sedemikian mirip dengan bahasa yang digunakan Afi agar ia tak menyadarinya dengan siapa ia berbicara. Aku menjadi Afi kala itu, bukan menjadi Iman seperti yang seharusnya. Aku membicarakan diriku sendiri.
Lama kelamaan, rasanya aku ingin sekali membalas argumen demi argumen yang dilontarkannya. Tasya sudah tertidur pagi itu, sehingga aku bisa berkonsentrasi dengan percakapan itu. Rasa emosi atau kekesalanku itu terganti dengan rasa humor ingin tertawa karena aku membicarakan diriku sendiri. Sampai ketika aku sudah sangat mengantuk, aku ingin mengakui sesuatu.
Quote:
***
Pagi harinya, aku langsung menceritakan hal yang baru saja terjadi dini hari tadi kepada Afi dan Harrys di teras rumahku itu—sambil menikmati angin pagi yang nikmat itu dan kicauan burung yang membuatku semangat untuk bangun pagi. Ketika kuceritakan, mereka hanya tertawa saja. Mungkin, pikiran mereka masih sedingin pagi itu.
“Jadi sekarang kita bertiga lagi, nih?” kata Afi setelah tertawa. “nostalgia, dong..”
“Iya, Fi,” jawabku menyetujuinya. “lumayan, peluang lagi buat kamu bebas jadi gitaris.”
“Terus, yang main bass siapa, dong?” tanyanya.
“Coba cari bareng-bareng aja, siapa tau ada yang mau..” balasku.
“Kenapa nggak ajak Kang Naufal aja?” usul Harrys tiba-tiba.
“Kang Naufal sibuk, Rys. Udah kebanyakan band dia..”
“Terus, Kak Tasya udah tau soal ini?” lanjut adikku itu.
“Udah, baru aja Iman kasih tau..”
Kami pun kembali asyik membicarakan banyak hal selain kelanjutan band ini, terlebih ketika Alvin ikut bergabung berkumpul bersama kami di teras yang terasa sejuk ini.
Seminggu kemudian....
Di siang hari yang terik itu, ada sebuah telepon yang masuk ke rumahku. “Man, temennya ada yang nyariin di telepon, tuh..” ucap Asisten Rumah Tangga kami, Mbak Elli yang mengetuk pintu kamarku ketika aku sedang asyik bermain gitar.
“Siapa, Mbak?” tanyaku sambil mematikan amplifier gitar itu.
“Nggak tau, dia nggak nyebutin nama..” jawab Mbak Elli sambil kembali menutup pintu kamarku.
Karena penasaran, aku segera menuju ke tempat telepon rumahku berada, dan mengambil gagang telepon yang ternganga itu. “Halo?”
“Halo..” jawab orang itu di telepon. Suara yang belum pernah kudengar sebelumnya. “Ini Iman, ya?”
Diubah oleh Polyamorous 18-09-2015 20:33
0
