- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.2K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#45
Partitur no. 12 : Birthday Party
“Selamat ulang tahun, Tasya tersayang!” ucapku menyelamati pada pagi hari ulang tahun Tasya. Ini adalah kali pertamanya aku hadir dalam salah satu momen terbesar dalam hidup Tasya.
“Makasih, sayang!” balasnya pagi itu—sebelum ia pergi bekerja.
“Aku mencintaimu! Semoga kamu sehat dan sukses selalu!” tulisku menuliskan harapan-harapanku diulang tahun Tasya ini.
“Begitu pula denganku! Terima kasih atas ucapannya!” jawabnya.
“Nggak sabar ketemu kamu lagi, nih. Hihi” kataku mengetik pesan itu sebelum akhirnya berangkat untuk mengikuti Ulangan Akhir Semester 1 tersebut—sambil melihat ke arah kado-kado yang sudah kupersiapkan untuknya.
“Sabtu ini ketemu, yuk. Gimana? Kamu udah selesai ujian, kan?” ajaknya kemudian.
“Boleh, tuh!” kataku. “Sekalian traktiran kamu ulang tahun, ya?” ujarku meledeknya.
“Traktir mesis satu butir aja, ‘kan?” jawab Tasya menjawab ledekanku.
***
Keesokan paginya, sehari setelah ulang tahun Tasya, seperti biasa, aku akan menyapanya yang akan berangkat bekerja pagi hari itu.
Setelah mengucapkannya, tak sengaja hadir foto perayaan ulang tahun Tasya kemarin bersama para sahabat-sahabatnya—yang beberapa pekan lalu bertemu denganku ketika makan malam—dan Kakak dan Adiknya di timeline facebook-ku, ternyata membuatku cukup merasa cemburu.
‘Seharusnya aku juga akan berada di sana!’kataku dalam hati, membiarkan rasa cemburu yang tak beralasan itu.
‘Menjadi sahabat Tasya seperti mantan kekasihnya mungkin enak, bisa terus bersama Tasya kapan saja.' Pikiranku kembali melayang memikirkan hal yang seharusnya tak begitu penting—karena memang itu acara untuk para sahabatnya, jadi mungkin wajar jika aku tak diundang untuk menghadirinya.
***
Hari yang kutunggu-tunggu itu pun akhirnya datang juga—hari sabtu yang cerah dengan hawa yang ceria. Hawa pesimisku pun masih hadir begitu saja. Aku tak pandai berbohong, walaupun itu untuk sebuah kejutan ulang tahunnya.
Aku menggunakan cara yang cukup klise kala itu—agak menjauhinya beberapa hari ini. Untungnya perasaan ketidak tegaanku itu berkurang setelah melihat foto perayaan ulang tahunnya beberapa hari yang lalu—walaupun menyebabkan kecemburuan tak jelas apa yang harus dicemburui. Aku harus menerima kenyataan—atau beradaptasi—bahwa Tasya memang memiliki teman-teman laki-laki yang lebih banyak dari perempuannya.
“Nanti ketemu di mana?” tanyanya pada pagi hari itu—ketika ia akan berangkan untuk bekerja yang jadwalnya adalah setengah hari pada hari Sabtu.
“Langsung di Studio aja, Sya.” Jawabku. Komunikasi kami beberapa bulan itu masih menggunakan komputer seperti awal kami bertemu. Ia sangat sabar berkomunikasi denganku dengan cara seperti ini. Aku sebenarnya sudah menabung untuk membeli sebuah telepon genggam agar mudah berkomunikasi dengan Tasya, ataupun dengan orang-orang lain dalam lingkup sosialku.
“Oke, sayang, nanti tunggu aku abis pulang, ya..” balasnya kemudian. Sebenarnya, rasa tegaku itu kembali lagi. Mengingat ia seorang pejuang yang menuntut pendidikan di Perguruan Tinggi sambil bekerja—walaupun mungkin itu salah satu dari bagian tugas kuliahnya.
Terlebih lagi, rasa tegaku muncul kembali karena rasa kangenku kepadanya. Komunikasi terbatas kami itu memang menjadi sebuah adiksi, menimbulkan rasa sayang yang mengalahkan keegoisanku—mungkin kami kala itu. Karena faktanya, selama tiga bulan itu—walaupun kata orang empat bulan pertama adalah masa-masa terindah—kami tidak pernah bertengkar sama sekali.
Ah, daripada berlarut memikirkan hal itu, sekarang aku harus fokus untuk memberi kejutan untuk Tasya.
Siang itu—beberapa jam sebelum latihan dimulai, kami sudah berkumpul di rumah sambil mematangkan rencana nanti. “Nanti jangan pada lupa, ya!” kataku membuka perbincangan itu.
“Kadonya mau taro di mana, Kang Iman?” tanya Harrys kepadaku.
“Nah itu dia, Kang Iman bingung, Rys.” Jawabku kemudian. “Pengennya sih taro di tempat yang nggak mencolok..”
“Kalo di tas nggak muat ya, Man?” tanya Afi sambil melihat-lihat sekeliling. “Di tas gitar pasti nggak muat. Kalo di tas efek gitar?”
“Ide bagus, Fi!” kataku dengan sumringah. Mengapa aku tak sempat terpikirkan hal seperti itu? Aku pun mengambil kado yang sudah dibungkus itu dan mengukur-ukur sekiranya akan muat di dalamnya. “Pas, nih!”
“Coba liat dulu, Man, jadinya kayak gimana kado kemaren,” ujar Afi sambil mengulurkan tanganya. Aku pun memberikan kado yang sudah dibungkus itu kepada Afi. “Lumayan rapih, Man, bungkusnya..” ia melihat-lihat bungkusan yang sudah kubuat dengan susah payah bersama temanku, Satria.
“Nanti ada lagi kejutannya,” kataku sambil mengambil kembali kado itu, dan mencoba memasukannya ke dalam tas efek. “Tafa mau bawa kue ulang tahun yang kita patungan kemarin itu.”
“Asik tuh!” ujar Fadjri dengan senang.
Tak lama—setelah semuanya sudah siap—kami pun segera menuju ke studio yang cukup dekat dengan rumahku itu. Kami berpamitan dengan orangtua ku, dan segera mencari sebuah angkutan umum untuk kami naiki yang langsung menuju studio.
Aku teringat—ketika awal mengajak Fadjri untuk masuk ke dalam band ini—kami yang sedang asyik mengobrol ini pun salah menaiki angkutan umum. Seharusnya kami menaiki angkutan yang langsung menuju ke Kp. Melayu, namun kami malah menaiki angkutan umum 44 yang melewati Stasiun Jatinegara terlebih dahulu. Sudah begitu, angkutan umum itu pun ‘ngetem’ di dekat Stasiun Kereta tersebut, sehingga kami harus berjalan kaki yang cukup jauh sampai ke jalan utama, dan mencari angkutan umum lagi.
Setelah cukup dekat dengan Halte Kp. Melayu—yang tak jauh dari studio tempat kami latihan itu—kami turun di fly over untuk menyebrang. Malah terkadang kami tak menggunakan fly over, malah menyebrang langsung dari Halte itu.
“Mas, studio 2 nya kosong, nggak?” tanyaku di lantai bawah, tempat kasir studio itu berada.
“Kosong kok, Dek.” Jawab kasir tersebut. “Mau pake sekarang studionya?”
“Iya, Mas.” Ujarku dengan cepat.
“Yaudah, langsung ke atas aja ya, Mas.” Kata kasir itu mempersilahkan kami.
Kami pun segera menuju ke lantai atas, ke sebuah studio yang hampir setiap minggunya kami kunjungi. Seorang yang bekerja di sana pun membantu kami memasang alat-alat—dan membantu kami untuk check sound sampai sekiranya semua sudah pas.
Tasya dan adiknya memasuki studio kami secara tiba-tiba ditengah latihan hari itu. Kami pun langsung berhenti bermain untuk menyambut Tasya dan adiknya yang baru saja datang itu. Ketika datang, Tasya langsung memelukku dari belakang yang sedari tadi memasang tampang cuek. “Sayang, kangeeen..” ucapnya. “Kamu marah, ya?” ia segera menuju ke hadapanku dengan ekspresi muka yang sedih.
“Kamu tau nggak, kalo band ini mau bubar?” kataku tiba-tiba. Rekan-rekan bandku itu pun memasang muka melas sambil mengangguk.
“Hah?” ujarnya kaget. “Kenapa? Sayang banget..” mukanya memancarkan kesedihan kembali—ekspresi yang membuatku sama tak berkutiknya ketika ia mengeluarkan ekspresi lucunya.
“Band ini nggak ada kemajuannya sama sekali,” kataku menjelaskan dengan serius, dan mencoba berakting sebaik mungkin. Adiknya yang ikut serius mendengarkan itu sesekali tersenyum ketika mendengarkanku mengobrol. “Mungkin lebih baik bubar. Tapi ada kemungkinan nggak bubarnya, sih..” jika bisa kuingat, ekspresiku kala itu kurang meyakinkan.
“Apa itu?” tanya Tasya dengan kebingungan.
“Kamu coba nyanyi satu lagu terakhir buat kita, mau nggak?” sebenarnya, ucapanku itu ketara mengada-adanya. “Coba kamu nyanyiin ‘The Only Exception’, deh.” Usulanku itu sebenarnya tergagas begitu saja ketika aku tak sengaja mendengarnya menyanyikan lagu Wish You Were Heremilik Avril Lavigne, dan gagasanku itu langsung disetujui oleh teman-teman bandku. Sedari kecil, ia memang ingin menjadi seorang penyanyi, tetapi ia malu, karena merasa suaranya jelek—berlainan denganku yang memiliki suara jelek tetapi pede saja untuk menyanyi. Akhirnya Tasya berakhir menjadi seorang penyanyi di dalam kamar mandi saja. “Pilih aja, mau nyanyi atau bubar?” kataku meyakinkan, walaupun harus kuakui sebenarnya tak masuk akal. Ia termenung sesaat—seakan memikirkan sesuatu, dan mengumpulkan segenap keberaniannya.
Suasananya pun hening sesaat. Menunggu ia mengambil keputusan itu—kami tak memainkan satu lagu pun sama sekali, membuat waktu yang terbuang sangat sia-sia. Aku tak ingin seperti salah satu adegan dalam film Suckseed, di mana mereka membuang waktu latihan mereka di studio. Adiknya pun membantu meyakinkan Tasya untuk bernyanyi, “Udah, Gan, nyanyi aja! Kapan lagi kan lo bisa nyanyi di luar kamar mandi?” Adiknya itu pun terus menyemangatinya, sampai akhirnya Tasya menyetujuinya.
“Maaf ya kalo jelek..” katanya sambil mengambil mic dengan pelan-pelan. Akhirnya, Afi mengambil gitar—menggantikan Fadjri yang tak mau mengulik lagu selain lagu Green Day dan Blink-182 itu, sehingga kami main tanpa bass—dan dawai-dawai gitar itu membunyikan nada-nada ritem yang menjadi penghias yang indah dalam lagu itu, sementara aku mengambil part lead nya, dan bergantian dengan Afi ketika reff lagu itu masuk untukku mengambil backing vocal.
Satu studio itu tercengang mendengar suara Tasya kala itu—yang benar-benar ia mengeluarkan suaranya. Di luar dugaanku, bahwa suaranya lebih bagus dari yang kudengar dulu—walaupun jelas sekali bahwa cara bernyanyinya sangat terinspirasi dari Hayley Williams. ‘And i’m on my way to believing..’ penggalan lirik terakhir dari lagu itu pun menutup lagu yang kami mainkan dengan romantis ini. Tasya tampak lega setelah lagu itu akhirnya selesai dimainkan.
Sontak, di dalam studio itu pun langsung ramai dengan teriakan, “Happy Birthday, Kak Tasya!”. Tasya pun kaget ketika ia menunduk saat lagu itu selesai dimainkan, dan langsung disambut dengan teriakan ucapan selamat ulang tahun dari satu band ini. Ekspresi rasa bersalah Tasya kala itu langsung berganti dengan kegemasannya itu, seakan siap untuk menerkamku lagi.
Seusai latihan sekitar setengah jam kemudian, seperti biasa, kami pun menghampiri sebuah Supermarket konvensional yang baru buka di dekat Halte Kp. Melayu tersebut. “Gimana rasanya dikerjain tadi?” tanyaku kepada Tasya ketika kami sudah membeli makanan kecil dan beberapa minuman.
“Deg-degan, tau!” katanya dengan gemas. “Kenapa aku percaya aja lagi, aneh.” Ia pun bertanya-tanya sambil memiringkan kepalanya. Ketika itu, aku memberi kode kepada Tafa untuk segera membawa kue yang sedari tadi ia bawa ke studio dan disembunyikan dibelakang amplifier.
“Ada kejutan lagi nih dari kita, Kak Tasya!” Ucap Harrys dengan yakin.
“Apa tuh?” tanya Tasya dengan kebingungan. Harrys pun menutup mata Tasya, dan menyuruhku segera mengambil kado tersebut.
“Nih!” Harrys pun melepaskan tangannya agar Tasya bisa melihat kado yang sudah kupegang itu. Ia pun langsung mengeluarkan ekspresi senang.
“Boleh kubuka sekarang?” tanyanya dengan senang.
“Tunggu sebentar..” kataku kemudian—menunggu Tafa yang baru terlihat naik ke atas tangga sambil mengambil kue tersebut. “Nih, ada lagi!”
“Ya ampun,” katanya dengan senang. “Kok gw nggak tau ya, Gan, kalo lo bawa kue?” ia pun tertawa dan mencoba membuka kado yang sudah kuberikan itu.
“Sebenernya, yang soal bubar itu boongan tau, sayang.” Kataku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Iiih, kamu mah!” ia yang tertawa tadi pun langsung berubah menjadi cemberut, dan tentu saja cakaran mautnya langsung keluar.
“Lucu tau ekspresi panik kamu tadi!” aku masih membayangkan kejadian lucu di studio tadi. “Percaya aja lagi!” ketawaku pun semakin menjadi-jadi.
“Namanya juga panik..” setelah mencakar, ia pun mencubitku.
Tiba-tiba, cubitannya itu pun ia lepas—sepertinya ia terkaget-kaget dengan apa yang baru ia liat—sebuah kado dari kami berempat, tidak, kami berlima—dengan adiknya Tasya.
“Itu kadonya masing-masing dari kita, lho..” ujar Afi memperjelas.
“Waah..” Tasya memancarkan ekspresi yang benar-benar seperti masih anak-anak yang membuatku sangat gemas. “Ini siapa yang gambar?” tanyanya.
“Kalo yang muka Kak Tasya itu Iman, kalo yang happy birthday itu aku sama Harrys yang buat.” Kata Afi dengan mantap. “Di belakang kertas yang happy birthday itu ada tanda tangan kita semua, lho!”
“Bagus..” katanya sambil melamun, serius menatap gambar-gambar itu. “Yang ini mirip aku banget, ya? Nanti aku foto sama gambar kamu, ah!” ujarnya dengan senang. “Afi, Harrys, Fadjri, makasih banyak juga, ya..” ia membuka gambar yang dibingkai itu, ingin melihat tanda tangan yang masing-masing dari kami berikan. “Ini satu lagi apa?” tanyanya kebingungan.
“Coba buka aja..” jawabku. Ia pun meletakkan bingkai itu karena penasaran dengan bungkusan satu lagi yang masih tertutup. Selama beberapa menit, ia seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat, dan ia segera memelukku—membuatku terkaget-kaget karenanya.
“Makasih banyak ya, sayang,” katanya sambil masih memelukku. “Kamu nyampe segitunya..”
“Maaf, ya, bikin kamu khawatir dari kemaren..” ujarku sambil mengelus rambutnya.
“Nggak apa-apa kok, sayang..” ucapnya senang. “Yuk makan kuenya bareng-bareng!”
***
Kami pun berpisah sekitar pukul sembilan malam—dan membuatku yang cukup mengantuk itu segera mengabari lewat facebook sebelum tidur. Fadjri langsung pulang ke rumahnya di daerah Depok, sementara Afi kembali akan menginap di rumahku. Tadi adalah sebuah perayaan yang kecil namun sangat menyenangkan.
Malam itu, ketika baru saja akan mengetik pesan-pesan terima kasih untuk Tasya—di headline timeline facebook-ku terpampang foto Tasya yang diunggah oleh Mamanya sendiri. Aku melihat sebaris komentar yang ditulis oleh Mamanya Tasya, yang membuatku cukup tercengang. Bunyinya kurang lebih seperti ini: ‘Udah bukan abg, kok. Tinggal dilamar aja.’.
Dengan penasaran, aku melihat kembali komentar-komentar di atas komen Mamanya tersebut, dan mendapati sebuah kalimat yang membuat hatiku mencelos: ‘Happy birthday, Tasya! Udah besar ya, sekarang.. Kapan nikah?’.
Hah? Menikah? Aku yang kebingungan ini pun menunggu Tasya yang berjam-jam kemudian baru sempat online untuk ditanyai. Aku menyayanginya, aku sangat mencintainya. Tapi, memang bentang umur kami cukup jauh. Kami berbeda enam tahun. Aku takut—khawatir lebih tepatnya, perbedaan umur ini membuat kami terpisah. Terlihat sangat jelas bahwa Ibunya ingin Tasya cepat menikah, dan membangun keluarga kecil yang bahagia dengan pasangan hidupnya.
Tak mungkin aku menikahinya sekarang. Jenjang pendidikanku masih sangat panjang. Aku harus lulus SMA, melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan membangun karier. Lagipula, kami baru saja mengenal satu sama lain sekitar tiga bulan lebih. Pikiranku pun masih pemikiran seorang anak SMA pada umumnya, dan belum terpikir sampai jenjang pernikahan yang buatku masih sangat jauh itu.
Aku juga teringat, bahwa Tasya tak diperbolehkan memiliki hubungan dengan seorang pemain band—dengan alasan bahwa pemain band itu identik dengan hal-hal yang berbau negatif, padahal tidak semuanya yang bermain musik seperti itu.
Pandangan seperti itu membuatku sangat sedih. Aku ingin membuktikan kepada orangtua yang beranggapan bahwa seorang pemain band itu tidak semuanya buruk!
Tasya dan Bang Ichy pernah bilang kepadaku—ketika orangtua nya mengetahui kalau Tasya memiliki hubungan dengan seorang pemain band, mereka pun sampai berdiskusi dengan serius.
Sebuah notifikasi chat pun masuk ke dalam akun facebook-ku, membuat lamunanku akan komentar Mamanya Tasya dalam sebuah foto Tasya ketika kecil.
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 18-09-2015 20:32
0
