- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#39
Partitur no. 10 : Meeting Her Best Friend
Ternyata, tak selamanya hubungan yang baru berlangsung itu berjalan mulus-mulus saja. Bukan berarti aku dan Tasya bertengkar, tapi aku malu atas kesoktahuanku yang luar biasa—yang menyebabkan kejadian memalukan minggu lalu itu terjadi. Ia memang tak marah kepadaku, tapi aku takut membuat penilaiannya terhadap diriku berkurang.
Aku belum melihat Jakarta—yang merupakan kota kelahiranku—dengan lebih luas. Aku hanya pergi ketempat yang sudah pernah kutemui sebelumnya dengan orangtua ku, atau kalau dengan teman-teman tempat yang tak begitu jauh. Sebenarnya aku ingin mengenal lebih jauh kota kelahiranku ini, tapi aku sendiri sedikit masih bingung, apalagi berpergian sendiri. Walaupun belum tahu, setidaknya aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama—terlalu menganggap enteng semua masalah, atau sok-sokan mengetahui jalan.
Lalu, minggu-minggu asyik berikutnya kuajak Tasya kedalam hidupku lebih dalam, sesuatu yang membuatku ingin menjadi sesuatu—atau seseorang, dan melihatku dari sisi lain. Aku mengajaknya melihat bandku latihan sesekali sepulang ia bekerja, karena arahnya pulang kerja dekat dengan studio tempat bandku latihan seperti biasa. Ia masuk tepat ketika kami sedang memainkan When It’s Time—lagu favorit kami berdua. Ekspresinya terkejut ketika ia masuk tepat ketika lagu itu dimainkan, dan langsung merekam kami yang sedang main itu. Sayangnya, ketika aku ingin melihatnya, ia tak ingin memberikannya dengan alasan ‘dokumentasi pribadi’.
Seperti biasa, usai latihan itu selesai, kami tak langsung pulang ke rumah masing-masing. Kami pun bergegas pergi mengobrol disebuah supermarket yang menyediakan tempat untuk berkumpul bersama yang baru ada disekitaran studio itu. Sayangnya, aku tak lepas dari keteledoran. Supermarket itu terkenal dengan minuman soda khas yang bisa dicampur dan ada tingkatan gelas yang akan dipakai (Small, Medium, Large). Lantas, Tasya meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan satu untuknya. Aku pun mengambil minuman itu sampai gelas hampir penuh tanpa membaca tulisan bahwa mesin itu sedang rusak.
Ketika sadar, aku langsung membuang sebagian ‘air’ yang sudah ada di gelas itu dan mencampuri dengan campuran soda yang lain, tentunya ditempat yang mesinnya tak rusak. Melihat hal itu, Afi, Fadjri, Alvin, dan Harrys pun tertawa terbahak-bahak sambil melaporkan hal tersebut kepada Tasya. Tasya tentu saja ikut tertawa bersama mereka, namun sesekali ia melihatku dengan gemas. Kekhawatiranku memuncak ketika kami sedang berada di jalan pulang, tepatnya ketika Tasya muntah-muntah. Mungkin itu karena pengaruh ‘air’ yang akhirnya membuat ia mual.
Minggu-minggu berikutnya, Tasya mengajakku lagi ke Rumah Hantu, dan ia ingin memperkenalkanku kepada teman-teman, eh tidak, mungkin lebih tepat disebut sahabat-sahabatnya. Jadi, sepulang latihan pada entah minggu keberapa, kami langsung menuju Halte Busway yang tak jauh dari studio itu, dan berpamitan dengan Afi, Fadjri, dan Harrys.
“Fi, nggak apa-apa kan aku nggak bisa nganter nyampe rumah?” tanyaku kepada Afi. “Lagipula jalan darisini ke rumah kan nggak gitu jauh,”
“Nggak apa-apa kok, Man,” jawab Afi. “Itu gitarnya mau dititipin nggak?” Afi menawarkan untuk membawa gitarku sampai ke rumah.
“Boleh tuh, Fi,” kataku sambil melepas gitarku dan mengambil barang-barang yang sekiranya penting untuk dibawa. “Makasih ya..”
Kami pun berpisah. Aku masih melihat mereka berjalan kaki menuju rumahku yang tak jauh dari Halte maupun studio ini. Karena sewa studio di sini mahal, jadi kami harus menghemat ongkos transportasi menuju studio.
Ah, ya, ada satu hal yang hampir lupa untuk kuceritakan. Sehari setelah aku dan Tasya mempunyai hubungan spesial, Afi langsung mengetahuinya dan mengucapkan dukungannya terhadap hubungan kami. Ia seorang saudara yang sangat pengertian, yang bisa juga menjadi sahabat sekaligus rekan dalam band. Tentu saja, ia punya perasaan yang sama terhadap Tasya, dan sama sekali tak terlihat aura permusuhan diantara kami, kami tetap bersahabat seperti biasa.
Karena Tasya, aku mulai merasakan asyiknya menaiki bus TransJakarta sebagai transportasi menuju ke tempat yang cukup jauh. Aku selalu menikmati perjalanan selama di dalam bus, walau terkadang harus berdempet-dempetan.
Setelah sampai, kami menaiki angkutan umum untuk menuju ke Mall di daerah Kelapa Gading—tempat awal hubungan kami ini dimulai. Aku tak bosan-bosannya berada di tempat ini, tempat yang jauh dari rumahku, dan suasana yang jauh berbeda.
Sialnya, angkutan umum ini ‘ngetem’—menunggu penumpang sampai angkutan umum ini penuh. Kami menunggu selama lebih dari setengah jam di dalam angkutan umum itu, membuat kami harus membatalkan rencana untuk mengunjungi Rumah Hantu lagi, dan fokus kesatu tujuan: memperkenalkanku kepada sahabat-sahabat Tasya. Ia tampak badmood, sehingga selama di dalam angkutan umum ia terus terdiam, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa karena lapar.
“Makanannya kita nitip pesen dari sekarang aja kali, ya?” tanya Tasya ketika angkutan umum itu hendak akan berangkat. “Biar pas kita sampe, bisa langsung makan.”
Mataku berbinar-binar. Aku pun mengangguk, menandakan menyetujui usulan itu.
Tempat ini mungkin tak pernah sepi. Ketika kami berkunjung lagi, tempat ini masih penuh dengan lautan manusia, tentu dengan wangi-wangian kemenyan. Di luar itu, aku sangat menyukai suasa yang membuatku betah berlama-lama di sana. Kami segera menuju sebuah tempat makan sea food yang waktu itu Tasya mengajakku mencobanya sebelum kami berpacaran.
Sahabat-sahabat Tasya sudah makan ketika kami sampai. Tak hanya sahabat-sahabatnya Tasya saja, di sana ada Bang Ichy, serta mantan kekasih Tasya yang sekarang juga menjadi sahabat terdekatnya Tasya.
“Hai!” sapa Tasya gembira menyapa sahabat-sahabatnya yang sedang makan.
“Halo..” sahabat-sahabatnya pun membalas sapaan Tasya dengan hangatnya.
Ah, penyakit lamaku kambuh lagi. Aku memasang muka tak bersahabat yang sebenarnya karena malu, dan tak mudah berteman dengan orang-orang baru. Baru saja aku memasang muka tak besahabat—kecuali kepada Bang Ichy—Tasya segera memperkenalkanku kepada mereka. “Kenalin, ini Iman,” ujar Tasya dengan bangga. “Pacar gw.” Lanjutnya dengan pipi memerah.
“Iman..” kataku tersenyum sambil menyalami mereka satu-satu dengan sangat malu. Aku benar-benar dibawa masuk kedalam lingkungan sosial Tasya. Tanpa diduga, mereka menyambutku dengan hangatnya.
“Jadi lo homo, Man?” ledek sahabat terdekat Tasya yang bermuka Arab dan menggunakan hijab, Fira. Satu meja itu pun tertawa, begitupula denganku. Aku tak heran mengapa mereka mengatakan itu, karena Tasya sekilas terlihat seperti laki-laki (aku pun dulu mengiranya begitu).
“Yaudah duduk dulu sini,” pinta kepada Bang Ichy kepada kami berdua yang masih berdiri sedari tadi. Kami pun menurutinya dan duduk berseberangan, seperti ketika itu.
“Lo kuliah di mana, Man?” ujar salah satu sahabat Tasya, yang akhirnya kupanggil dengan panggilan ‘Om Mamad’, mengikuti panggilan sahabat-sahabat Tasya. Ia yang merupakan mantan kekasih Tasya itu. Dari mana aku tahu ia mantan kekasihnya Tasya? Tasya sendiri yang memberitahukannya kepadaku.
Kami saling bertatapan muka. Aku menatap Tasya dan Bang Ichy secara bergantian dengan bingung. Apakah aku harus jujur atau tidak. Tapi, akhirnya aku memutuskan untuk jujur. “Gw masih SMA..” kataku.
Aku sudah memprediksi ekspresi mereka, bahwa mereka akan terkejut karena menentang percintaan di mana laki-laki lebih muda dari seorang perempuan. Tapi, aku salah. Mereka tak menampakkan ekspresi itu sama sekali, mereka malah turut senang bahwa Tasya akhirnya mempunyai kekasih ‘lagi’.
“Terus, gimana Tasya, Man?” tanya seorang perempuan berkerudung yang bernama Syifa. “Galak nggak?”
“Galak banget, gw suka dicakar atau di... Aw!” belum selesai aku berbicara, tanganku sudah dicubit duluan sampai biru oleh Tasya.
“Sya, jadi cewek jangan galak-galak banget, dong” kata Syifa tertawa. “Kasian Iman,” Muka Tasya pun langsung merah padam, sekaligus gemas kepadaku.
Aku tak menyangka, lingkungan baru yang kutemui hari itu begitu mengasyikan, kami langsung bisa akrab, berbicara berbagai hal, dan tentu saja mengetahui lebih banyak tentang Tasya dari sudut pandang yang bisa dibilang sangat polos dan jujur.
Pada awal mengambil makanan, aku berniat untuk tidak mengambil begitu banyak untuk memberi impresi pertama yang sopan dan santun. Tapi, apa daya, aku malah disuruh menambah terus menerus, karena mereka sudah kekenyangan. Tasya memperhatikanku yang sedang makan itu sambil tersenyum manis, “ternyata kamu kayak Wapol, ya!”
“Apaan tuh Wapol?” tanyaku kebingungan sambil menyiapkan untuk menyuap makananku lagi.
“Itu lho, salah satu karakter dari komik One Piece yang gendut kayak kamu!” ledeknya.
“Emang aku gendut apa?” tanyaku dengan polos. Ia hanya tertawa melihat kepolosanku itu.
Setelah semua makanan habis olehku, kami pun segera membayar sesuai yang kami pesan tadi. Karena tak enak, aku membayar lebih walaupun ditolak oleh mereka. “Santai aja kali, Man, jangan kaku banget,” kata sahabat-sahabatnya Tasya.
Kami pun berpamitan, dengan Tasya dan Bang Ichy mengantarkanku mencari angkutan untuk pulang. “Lo balik naik apa, Man?” tanya Bang Ichy ketika kami sedang berjalan.
“Naik bus TransJakarta nanti, Chy..” kataku dengan mantap.
“Nggak naik taksi lagi?” ledeknya sambil tertawa.
“Udah Aca suruh naik bus TransJakarta aja, Bang,” kata Tasya tiba-tiba. “Biar nggak boros!”
“Hah? Aca?” tanyaku heran.
“Itu panggilan imutnya Tasya dari kecil, Man,” kata Bang Ichy. “Padahal apa imutnya coba?”
“Abang mah!” Tasya langsung mencubit kencang Bang Ichy. Sepertinya memang bukan aku saja yang menjadi korban cubitannya.
“Yaudah, itu udah ada angkutan umum buat ke Halte Busway nya,” kataku kepada mereka berdua. “Dah sayang,” pamitku terhadap Tasya. Ia menyalamiku lagi. Entah, untukku yang lebih muda darinya, ‘salim’ itu terkesan agak aneh.
Niatku untuk naik bus TransJakarta pun hilang begitu saja ketika aku melihat telepon dari Nyonya negara (baca: Bundaku) ke handphone milik ayahku yang dipinjamkan kepadaku. Handphone ini tidak ada pulsa sama sekali, jadi fungsinya hanya sebagai penerima telepon. Aku pun segera mencari taksi (lagi) sebagai kendaraan untuk pulang ke rumah. Karena sudah tahu jalan, aku menyuruh supir taksi itu mengikuti arah yang kuberikan, sehingga memberi efisiensi ongkos juga.
Ketika sampai rumah, ternyata masih ada Afi yang katanya ingin menginap sedang bermain gitar, dan Harrys yang mulai sudah mengantuk. “Fadjri udah pulang, Fi?” tanyaku kepada Afi yang mengikutiku ke kamar.
“Udah, Man. Belum lama, kok.” Kata Afi sambil menaruh gitarnya dan mengambil handphone miliknya. Sepertinya ia ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku. Ternyata benar, ia memperlihatkan video yang ia buat bersama Harrys dan Fadjri ketika aku sedang pergi tadi. Mereka membuat sebuah video parodi ketika Fadjri sedang menyanyikan lagu Time of Your Life, sementara Harrys, Afi dan Alvin berjoget dibelakangnya.
Aku teringat ketika aku belum tinggal di rumah tua Belanda ini. Dulu, aku sangat ingin kesini setiap minggunya, bertemu saudara-saudaraku. Keinginanku itu tercapai ketika Nenekku sedang kritis dan meninggal dunia, aku akhirnya menginap selama dua minggu di rumah Belanda ini. Karena waktu itu kami masih kecil, bukannya mengaji, kami malah main PS di kamar (jangan ditiru). Sekarang, aku malah menempatinya.
Aku pun bercerita kepada Afi apa yang sudah kulakukan sehari tadi, dan Afi sangat antusias mendengarnya. Kami saling bertukar cerita sampai tengah malam, dan aku lega ketika mendengar Afi sedang menyukai teman satu sekolahnya yang memiliki selera musik yang sangat bagus.
Ketika sedang asyik bercerita, tiba-tiba ada orang masuk ke kamarku. “Man, kalo ada sodara jangan ditinggal-tinggal, dong!”
Diubah oleh Polyamorous 18-09-2015 20:27
0
