- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.4K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#25
Partitur no. 9 : A New Beginning
Setiap hari baru, matahari terbit dengan cerahnya, secerah harapan-harapan akan masa depan, yang terkadang belum tentu pasti apa yang akan. Ia hadir seperti menjanjikan sebuah harapan yang baik, yang cerah, walaupun belum tentu masa-masa yang akan datang akan secerah yang dijanjikan.
Awal yang baru memang diidentikan dengan sesuatu hal yang sangat indah. Di mana kami memulai sesuatu harapan baru, lembaran, dan bab baru dalam kehidupan ini. Hidup tak bisa di revisi layaknya sebuah skripsi, sehingga terkadang kita harus berhati-hati sebuah masalah dalam kehidupan.
***
Setelah sampai rumah, rencanya aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku kepada Tasya, atas hari yang sangat spesial ini. Hari yang tak akan terlupakan. Namun, ternyata rasa kantukku tak bisa dikompromi lagi, sehingga setelah sampai rumah, aku tertidur dengan pulasnya di atas kasur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Rasanya, aku tak pernah menyesali keputusan ini, walaupun sebelumnya aku sempat bimbang antara jadi atau tidak karena saudara-saudaraku tak jadi ikut.
Paginya, ketika terbangun dari tidurku, langsung teringat apa yang ingin ku kerjakan semalam: menyalakan komputer, berterima kasih kepada Tasya, dan merasakan indahnya awal-awal memulai suatu hubungan lagi. Setelah menyalakan komputer, ternyata sudah banyak pesan dari Tasya melalui jejaring sosial facebook.
Quote:
Dengan agak merasa bersalah karena tak sempat mengabari, aku pun memberikan balasan lagi melalui facebook itu. Hanya tidak mau awal hubungan ini dibangun dengan awal yang tidak mengenakkan.
Setelah mengabari, aku pun ikut membuka media sosial lain, salah satunya adalah Kaskus, yang waktu itu aku sedang asyik berdiskusi tentang rencana bermain futsal oleh para penggemar Paramore di Kaskus. Lantas, aku memiliki ide bagus untuk mengajak Tasya ikut serta dalam acara kumpul-kumpul itu, secara, dulu Bang Ichy pernah bilang bahwa Tasya menginginkan untuk bergabung dengan klub penggemar Paramore.
***
Seminggu berlalu sejak kami memulai hubungan kami ini, dan ia tetap asyik seperti awal aku mengenalnya, tidak terkesan kaku setelah kami memiliki hubungan ini, tak ada yang berubah. Hanya saja lebih sedikit romantis.
Hubungan kami tetap unik seperti biasanya, di mana tidak setiap saat aku bisa berkomunikasi dengan Tasya, karena aku masih belum mempunyai sebuah telepon genggam. Aku harus pulang lebih cepat setiap harinya, agar aku bisa meminjam komputer dari Harrys atau bahkan Kang Naufal. Terkadang, sekitar pukul sembilan atau pukul sepuluh aku baru bisa menggunakan komputer untuk bertukar kabar dengan Tasya, dan masih seperti masa-masa pendekatan, kami tertidur sekitar pukul setengah satu. Perasaan kangen serta gregetan untuk berkomunikasi membuatku tak ingin mengakhiri konversasi setiap harinya, karena kami mempunyai waktu terbatas yang sangat berharga.
Perbincangan masih kulakukan dengan hati-hati, sebagaimana yang kami lakukan pada masa pendekatan, di mana mengetik kata-kata dengan sangat hati-hati, karena takut berbicara yang salah, sehingga takut ia tak lagi tertarik denganku.
Aku masih masuk siang setiap harinya karena sekolahku belum selesai di renovasi. Sekolahku menumpang di sekolah gitarisku, Fadjri, yang ternyata sangat dekat dari sekolahku, sehingga intensitas kami bertemu lebih dari sekedar ketika latihan di studio saja.
Lalu, orang tua ku juga mulai menyadari perubahan demi perubahan dalam diriku. Mereka pun tahu bahwa aku sudah memiliki Tasya, dan merasa bersyukur bahwa aku telah mendapat penggati Sarah, yang kedua orang tua ku kurang sukai.
Hari Sabtu yang cerah itu, kami janjian sekitar pukul satu siang di Halte Busway depan kantornya Tasya, di mana Tasya yang kerja sambil kuliah itu masuk setengah hari setiap hari Sabtu. Ternyata, kantornya Tasya itu masih satu perusahaan dengan Bang Ichy. Untuk itu, aku meminjam telepon genggam milik ayahku yang tidak terpakai agar bisa berkomunikasi dengan Tasya selama perjalanan.
Lantas, aku langsung mengetik pesan singkat melalui telepon genggam milik ayahku itu, “Kamu udah keluar kantor?” aku pun segera mencari kontaknya Tasya, dan tersadar bahwa sampai sekarang aku tak mengetahui nomor telepon genggam Tasya, karena selama ini kami hanya berkomunikasi melalui facebook. Aku pun mencoba untuk menaiki fly over busway, dan mencoba melihat ke dalam, apakah ada Tasya di sana.
Ternyata, ia sedang bersandar sambil melihat ke arah luar dengan santai, tentu dengan muka manisnya itu. Aku pun langsung membeli tiket untuk menaiki bus Trans Jakarta itu, agar aku bisa masuk ke dalam Halte.
“Hai, sayang.. Kamu udah lama?” tanyaku dengan gugup, karena baru kali ini kami bertemu hanya berdua, tidak ditemani oleh Bang Ichy atau yang lainnya. Aku juga belum terbiasa mengucapkan ‘aku-kamu’ secara langsung.
“Belum, kok.. Baru sekitar lima belas menit,” ujar menyambutku dengan gembira, kemudian memelukku. Itu pelukan hangat pertama yang kurasakan dari Tasya. “Sekarang kita naik busway jurusan mana, nih?” ia melihat papan di dekat pintu Halte yang menunjukan peta arah transit busway sampai ke tujuan akhir dengan wajah imut dan polosnya, sebuah wajah yang sangat membuatku lemah.
“Ngg, kita nggak naik busway.. Aku taunya kalo naik taksi. Kalo naik taksi aja gimana?” usulku dengan malu-malu. Ia menatapku dengan kaget, seolah berkata ‘Kalau naik taksi, kamu ngapain buang-buang uang buat masuk ke Halte ini?’. Ia pun akhirnya mengangguk dengan kebingungan sambil menuju keluar Halte denganku.
“Tapi kamu tau kan jalannya?” tanya Tasya seperti ragu-ragu.
“Tau, dong” jawabku dengan mantap, agar terlihat keren di depan Tasya. Padahal, aku hanya mengetahui setengah jalan menuju sana. “Ini emang kamunya aja yang makin cantik apa perasaan aku aja, ya?” aku menyadari itu setelah melihatnya dengan seksama.
“Dasar gombal!” ujarnya sambil mencubitku hingga lenganku biru. Ditengah bercanda-canda sambil kebosanan mencari taksi, ternyata sudah banyak bus Trans Jakarta yang melintas melewati arah kami beberapa kali. Andai saja aku mengetahui daerahnya, mungkin saja aku sudah menaiki bus itu, dan bukan menunggu taksi yang kosong seperti ini.
“Ih, orang beneran, kok. Tomboy tapi manis.” Kataku dengan mantap.
Setelah beberapa lama menunggu taksi, akhirnya kami mendapatkan taksi yang kosong dengan supir yang sangat ramah. “Mas tau jalannya, kan?” tanya supir itu dengan malu-malu. Sifatnya yang membuat hati tenang itu mengindikasikan ia tentu bukan berasal dari Ibu Kota yang dipenuhi dengan orang-orang yang sangat sibuk ini. “Saya orang baru di Jakarta, Mas. Jadi saya belum tahu seluk beluk Jakarta.” Lanjutnya lagi.
Di tengah perjalanan ketika sedang bercanda-canda dengan Tasya, pertanyaan dari supir taksi itu membuatku kebingungan. Jelek sudah citraku di depan Tasya, karena sok-sokan mengetahui jalan kesana dengan memakai taksi.
“Mas katanya tau tempatnya?” tanya supir itu dengan polos.
“Iya, tapi saya cuma tau sampe sini aja..” jawabku dengan panik.
“Coba tanya ojek di pinggir itu aja, gimana?” usul Tasya yang juga ikutan panik. Tukang ojek, yang memiliki kredibilitas sebagai seseorang pekerja yang memiliki gps yang sangat akurat ini memang sangat membantu, walaupun mereka sempat menawarkan jasa akurat mereka sekitar empat puluh ribu rupiah sampai kepada tujuan per satu orang. Aku pun segera melihat argo yang ada di dalam taksi yang masih sekitar dua puluh ribu rupiah, sehingga aku lebih memilih melanjutkan menaiki taksi sampai ketujuan dengan hasil gps tukang ojek, walaupun kami tetap berputar-putar entah kemana arah tujuannya.
“Gimana, sih, katanya kamu tau?” tanya Tasya dengan nada tidak menggurui atau tidak menceramahi, hanya bertanya biasa.
“Itu bukan tempatnya?” ujarku sambil melihat sebuah tempat futsal di sebelah jalan, sambil melihat alamat yang kucatat di sebuah kertas sebelum berangkat tadi. Kami pun segera menuju tempat itu, yang ternyata benar adalah alamat yang kami tuju setelah menyasar sekitar dua puluh menit itu. Argo taksi hanya lebih mahal sepuluh ribu dari yang ditawarkan oleh tukang ojek tadi. Namun, tetap saja, aku harus merogoh uang lebih banyak untuk ongkos itu, dibanding dengan naik Trans Jakarta yang hanya butuh tiga ribu lima ratus pada waktu itu.
“Maaf ya, Pak, udah nyasar-nyasar” ujarku meminta maaf membuat repot supir baru itu.
“Kalo di sini aku juga tau tempatnya sayang, kamu kenapa nggak bilang?” ujar Tasya sambil menghebuskan nafas berat.
“Hehe iya maaf ya, sayang..” aku meminta maaf dengan sangat malu. Di mana aku bisa menaruh mukaku sekarang? Ia mengerti perasaanku: seorang anak SMA yang ingin memberikan impresi baik kepada pasangannya yang lebih tua. Lantas, ia memaafkanku dengan suaranya yang gembira. Ia terlihat sangat sabar, terlebih lagi ketika kami baru sampai ke tempat itu, suatu kejadian terjadi di luar dugaanku: acara bermain futsal itu baru saja selesai.
“Duh, gimana, nih?” ujarku dalam hati. Sudah dua kesialan atas ulahku sendiri pada satu hari ini: menyasar di kota sendiri, dan datang ke sebuah acara yang baru saja selesai. Kami pun ikut bergabung dengan mereka, berbicara dan mengenalkan Tasya kepada teman-temanku ini. Tasya terlihat sangat senang. Tak terlintas dari mukanya kejadian yang baru saja kami alami tadi. Kami pun di ajak untuk mengikuti mereka berkumpul lagi di sebuah tempat untuk menikmati cemilan dan kopi.
“Mau ikut nggak kamu?” tanyaku kepada Tasya dengan hati-hati.
“Kalo ke Kelapa Gading lagi mau nggak?” usul Tasya dengan manisnya. Aku pun langsung menyetujuinya, karena memang takut menjadikan hari itu hari yang buruk di tengah suasana hubungan yang baru terjalin.
Kami kembali menaiki bus Trans Jakarta ke arah Kelapa Gading. Ia terdiam sesaat, seperti merenungkan sesuatu. Aku pun berusaha mengajaknya berbicara, untuk mencairkan suasana.
“Kamu kalo panik lucu juga, ya.. Walaupun lagi panik tetep keliatan cantiknya,” ujarku sambil melihat Tasya di dalam bus yang berdesakan karena penuh dengan orang di sana.
“Kamu mah gombal mulu,” ekspresi imut sambil menyakar atau mencubitnya itu adalah ekspresi favoritku dari Tasya, walaupun aku harus merelakan untuk dicakar maupun dicubit hingga tanganku biru atau merah. Tentu sebenarnya aku tahu itu hanya bercanda. Sebuah cakaran yang sangat manis.
Ketika kami sampai ke tempat yang seminggu lalu baru kami kunjungi ini ternyata masih berupa lautan manusia. Kami pun segera berjalan-jalan sambil ia bercerita, bahwa masih ada tempat lain yang menarik di Kelapa Gading ini. Di tengah jalan, kami bertemu seorang laki-laki yang menyapa Tasya dengan akrab. Ia bersama beberapa orang yang mungkin adalah teman-temannya.
“Eh si Agan,” ‘Agan’ adalah panggilan akrab dari Tasya kepada adiknya. Yang baru kutahu, ternyata ia adalah orang yang beberapa hari lalu mengajukan pertemanan di facebook, dan juga ikut gabung ke grup bandku atas permintaan Tasya itu sekarang benar-benar berada di depanku. Ia sangat humoris di dunia maya, dan begitu pula di dunia nyata seperti sekarang ketika kami bertemu. Namun, kebalikannya denganku, di dunia nyata, aku lebih pendiam. Berkenalan dengannya saja aku juga malu. “Mau kemana, Gan?” tanya Tasya kepada adiknya yang bernama Sultan, yang sering juga dipanggil Tafa, yang satu tahun lebih tua dariku.
“Mau ke rumah hantu. Lo mau ikut nggak?” ujar Tafa kepada Tasya.
“Nggak, deh. Gw laper, Gan.” Jawab Tasya yang kemudian sudah asyik berbincang-bincang dengan teman-teman dari Tafa ini.
“Ini Iman, ya?” tanyanya sambil melihatku keherenan.
“Iya, Hehe” jawabku dengan malu-malu sambil mengulurkan tanganku.
“Ini pacarnya Kak Tasya yang baru, ya?” ujar seorang temannya Tafa yang bernama Nanda dengan senang.
“Iya, Nan. Kenalin, namanya Iman,” kata Tasya dengan senang. Aku pun bersalaman dengan masing-masing dari mereka yang sudah sangat akrab dengan Tasya, sementara aku masih malu-malu berkenalan dengan mereka. Aku bukan seperti para laki-laki idaman perempuan yang langsung bisa mengakrabkan diri dengan teman-teman dari perempuan itu.
“Hai!” ujarku dengan ramah.
“Yaudah, have fun, ya,” ujar Tasya kepada Tafa dan Nanda. “Gw mau makan dulu, laper soalnya” katanya sambil melambaikan tangan.
“Kalian berdua cocok ya. Semoga langgeng terus!” puji Nanda dengan sumringah. Aku dan Tasya senyum ke arahnya dengan ramah, menandakan kami sangat senang.
“Kamu denger nggak sayang? Katanya kita cocok, lho!” ujar Tasya dengan sangat senang.
“Iya, aku juga seneng banget” ucapku mengungkapkan kegembiraanku. “Kita makan di situ aja mau, nggak?” usulku sambil menunjuk sebuah salah satu dari banyaknya restoran di deretan mall itu. Ia pun langsung menyetujuinya, dan segeralah kami memesan tempat untuk dua orang. Akhirnya kami mendapatkan tempat untuk dua orang walaupun cukup lama menunggunya.
Setelah dapat tempat, kami pun memesan makanan favorit kami. Kami segera memesan karena restoran ini terkenal dengan datangnya makanan yang sangat lama, sehingga presentase berbincang sambil kelaparannya lebih banyak di banding makan malam itu sendiri.
“Kamu jangan biasain boros dengan naik taksi ya, sayang,” ujarnya tiba-tiba, “Kamu harus biasain hemat dari sekarang. Besok-besok kalo mau jalan bilang aku dulu mau kemana, nanti kita naik busway bareng” ujarnya dengan hati-hati dan senyumnya yang ramah menambah sejuk suasana malam itu.
“Iya, aku minta maaf, ya..” ujarku dengan menyesal mengingat kejadian sore tadi. “Aku juga minta maaf tadi aku malu-malu sama temennya Tafa. Aku emang agak malu-malu gitu kalo ketemu sama orang-orang baru..”
“Nggak apa-apa kok, sayang. Kamu coba lebih terbuka dan friendly aja. Kali aja suatu saat kamu bisa main bareng mereka.. Soalnya dalam suatu hubungan kan temen aku temen kamu juga, begitu sebaliknya.” Kata Tasya yang terkesan bijak itu, padahal, memang ia yang sudah sangat banyak pengalaman. Kami pun segera menyantap makan malam kami itu yang baru datang itu.
Aku sangat bersyukur ia bisa memberikan sesuatu yang baru kepadaku yang masih awam ini, dan sangat berharap bahwa ia tak menyesal telah memilihku. Semua terasa romantis, sesuatu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Ketika hendak membayar, ia bahkan tak mau sama sekali menerima sepeserpun uang untuk ku traktir malam itu. “Nggak sayang, aku bukan cewek yang matre gitu, apalagi abis kamu nyasar tadi itu. Aku nggak mau disogok dengan traktiran. Kalo kamu menghargai perempuan, seharusnya kamu memperlakukan perempuan sederajat dengan kamu” ujar Tasya dengan hangat. Itu seperti tamparan untukku, karena ia sangat berkebalikan dengan Sarah atau siapa pun itu yang pernah kukenal.
Di jalan pulang, kami kembali bertemu dengan teman-temannya Tafa yang sedang mengantri di lautan manusia itu. Aku segera mengakrabkan diri dengan teman-temannya dan disambut baik, sangat berkebalikan dengan sebelumnya untuk melaksanakan pesan yang Tasya sampaikan ketika kami makan malam tadi.
“Kamu nggak pulang bareng adik kamu aja?” tanyaku kepada Tasya.
“Nggak, deh. Takut kelamaan dia nya,” ujar Tasya sambil tetap berjalan untuk menemaniku mencari angkutan umum yang tak lama sudah banyak berjejer di depanku.
“Yaudah, aku pulang duluan ya, sayang. Terima kasih untuk malam yang menyenangkan ini, aku dapet pelajaran banyak,” kataku sambil berpamitan. Ia kembali menyalamiku seperti minggu lalu.
“Hati-hati ya, sayang. Jangan lupa ngabarin, jangan kayak kemaren,” ledeknya sambil mengelitikiku. Karena gemas, aku balas dengan mencubit pipinya yang lucu itu dan segera menaiki angkutan umum yang sudah menungguku di depan.
Ketika sudah sampai di tempat di mana seharusnya aku menaiki bus Trans Jakarta, aku malah kembali mencari taksi karena sudah cukup malam dan agak malas ketika harus menaiki bus Trans Jakarta. Maafkan aku Tasya, karena aku baru saja melanggar apa yang barusan kau bilang.
Sebuah malam yang indah dengan kelap-kelip lampu jalanan di daerah Ibu Kota ini. Sebuah malam yang cukup membuatku merasa canggung karena melakukan beberapa kesalahan, namun ia tetap sabar. Sebuah malam di mana aku mendapatkan pengalaman yang lebih dari malam sebelumnya.
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 18-09-2015 20:27
0

(11.30 P.M)
(07.00 A.M)