- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1623
PART 74
Mengisi hari libur dengan tidur bermalas malasan di rumah itu menyenangkan sekali buat gw. Rasanya bebas. Tidak ada kuliah pagi pagi buta yang memaksa gw harus bangun pagi, sedangkan malamnya gw begadang. Dan tentunya tidak ada tugas tugas deadline yang berakibat mengurangi jatah waktu tidur gw.
Namun tepat di hari minggu ini tidur gw sangat terganggu. Jimbot gw berdering secara terus menerus semenjak subuh dan berlanjut sampai sekarang ketika matahari mulai menampakkan diri. Gw menyerah dengan suara berisik itu, lalu mengangkat telefon dengan malas.
"Halooo!!"
"Halo, kamu ngapain aja sih?"
"Ya tidur lah!"
"Udah jam berapa ini? Kamu lupa ya sama janji kamu?"
Gw berfikir sejenak, dan mengingat janji apa yang telah gw buat dengan Bunga di pagi ini.
"Oh iya ya....Aku lupa."
"Kebiasaan kamu mah lupa melulu."
"Yaudah aku mandi dulu ya."
"Jangan lama lama ini udah jam 6."
"Iya bawel ah!"
Sebelum berangkat mandi, Jimbot gw kembali berdering pertanda ada sms masuk. Gw buka sms itu. Ternyata sebuah pesan dari Ana yang mengucapkan selamat pagi pada gw. Lalu gw pun membalasnya.
"Udah siang woi..haha. Lagi apa lu An?" Sent to Ana.
"Lagi bikin susu nih. Lu sendiri?"
"Waw susu? Bukannya lu udah punya ya? Kok bikin lagi?" Canda gw.
"Bukan yang itu Fajar! Parah nih pagi pagi udah ngeres aja otak lu! Haha..."
"Nah maka dari itu gw mau mandi nih biar kepala nggak ngeres.."
"Jiaah, tumben lu jam segini udah mau mandi?"
"Biasa lah ada tugas Negara. Yaudah gw mandi dulu ya. Ntar lanjut lagi."
"Iya..."
Semenjak kejadian kemarin, gw dan Ana menjadi semakin dekat. Komunikasi kami tak pernah putus walaupun saat ini dia tengah liburan di kampung halamannya. Terkadang Ana yang sms gw duluan untuk sekedar tanya tanya kegiatan gw. Tak jarang juga dia selalu curhat ke gw tentang masalah pribadinya termasuk masalah keluarganya. Dan dari situ gw tau, kalau keluarga Ana ini adalah keluarga broken home.
Ayahnya kepincut sama salah satu perempuan di kantornya, lantas kaburlah dia lalu kimpoi lagi meninggalkan istri dan anak anaknya termasuk Ana. Bahkan sampai sekarang Ana tidak tahu ayahnya berada dimana. Semenjak cerai dengan ibunya, sang ayah mengilang bak ditelan bumi. Tak ada kabar beritanya. Mengirim uang untuk biaya sekolah anaknya pun tidak. Beruntung dia mempunyai seorang kakak laki laki yang bisa dibilang sukses secara finansial. Kakaknya itu menjadi tulang punggung keluarga. Dan membiayai semua kebutuhan keluarga serta membiayai kuliah Ana juga.
Gw jadi menaruh simpati padanya atas kehidupannya yang penuh lika liku. Sampai sejauh ini gw selalu berusaha menjadi pendengar dan teman yang baik untuknya. Ya, sebatas teman! Tak lebih dari itu. Kenapa? Jelas gw lebih menjaga perasaan Bunga dan gw nggak mau mengkhianati Bunga. Karena buat gw, Bunga terlalu baik untuk disakiti. Dan buat gw, dia segalanya.
Gw menaruh Jimbot di atas meja lalu gw mandi dengan sedikit terburu buru. Tidak sempat keramas apalagi main sabun. Setelah berpakaian cukup rapi, gw pamit pada Bidadari No.1 gw yang saat itu sedang bertugas di warung. Lantas gw buru buru tancap gas menuju rumah Bunga.
Sesampainya disana Bunga sudah menunggu gw di depan rumahnya. Dia terlihat cantik pagi ini dengan memakai sweater abu abu, celana training pendek dan sepasang sepatu converse hitam. Ya, kita berdua ceritanya mau lari pagi di sekitar komplek PEMDA Kab. Bogor. Kita berangkat kesana menaiki Jupi karena jaraknya cukup jauh dari sini.
Tiga puluh menit kemudian gw sudah berada di depan alun alun Kab. Bogor. Keadaan pagi itu ramai sekali. Tak heran sebab setiap hari Minggu disini selalu ada pasar kaget lengkap dengan segala jenis pedagang kaki lima. Mulai dari pedagang makanan, pedagang baju, sepatu, celana dalam sampai aksesoris motor/mobil semua ada disini. Bisa dikatakan ini pasar serba ada.
"Ayo dong lari...curang kamu mah daritadi jalan kaki melulu!" Ucap gw.
"Capek tau! Kamu pelan pelan dong larinya." Gerutu Bunga.
"Yailah ini juga udah pelan..."
"Udah pelan sih ninggalin mulu."
"Ya maka dari itu cepetan dikit." Gw lanjut berlari lagi.
"Tungguin iih!"
Gw heran sama Bunga. Ngakunya ke gw dia kuat lari sampe puluhan kilo. Nyatanya baru lari 100 meter aja dia udah 'rukuk', kemudian jalan kaki sambil ngos ngosan bercucuran keringat. Namun entah mengapa dia terlihat lebih seksi bila berkeringat seperti itu. Apalagi nafasnya tersengal sengal mendesah halus yang membuat jakun gw naek turun.
"Jaaar...Pelan pelan dong larinya!!" Gerutu Bunga.
"......." Gw terus berlari.
"Jaaaarrr....!" Teriak Bunga.
Gw tidak memperhatikan panggilan darinya lantas terus berlari dengan kecepatan sedang. Sadar kalau dia tertinggal jauh, gw menurunkan kecepatan lari gw kemudian gw menengok ke belakang. Dan ternyata Bunga tidak ada. "Kemana nih anak?" Tanya gw dalam hati. Gw pun berbalik untuk menyusulnya di belakang. Setelah berjalan cukup jauh sembari tengok kanan kiri akhirnya gw menemuinya. Nggak taunya dia malah asik nonton demo masak.
"Yeeh malah jogrok disini..."
"Hehe."
"Ngapain sih Bung?" Tanya gw.
"Sebentar lagi Bunda ulang tahun. Aku mau beliin itu tuh..."
"Apaan? panci?" Tanya gw lagi.
"Iya tapi itu bukan panci biasa. Tapi pressure pan. Buat perabotan masak Bunda."
"Ooh..." Gumam gw.
"Kemaren Bunda ngomong katanya mau beli itu."
"Yaudah beliin lah..."
"Tapi aku nggak bawa uang." Ucapnya sambil manyun.
"Minggu depan lagi aja belinya."
"Iya, kamu tanyain dulu dong ke mas masnya tuh minggu depan masih ada nggak.."
"Iya...."
Kemudian gw bertanya pada salah satu sales panci tersebut yang gw ketahui merknya H***y Call. Gw tanya tanya tentang harga, fungsi, serta fitur fitur dari panci itu. (Ini panci jang! Bukan gadget!). Dan kebetulan minggu depan mereka masih ada jadwal demo masak disini.
"Bung, katanya minggu depan mereka masih demo masak disini." Ucap gw pada Bunga.
"Serius kamu?"
"Ya iyalah...Nggak liat apa tadi aku ngobrol sama masnya.."
"Yaudah minggu depan kita kesini lagi ya." Ujarnya.
"Iyaa...."
"Tapi kamu jangan kesiangan lagi."
"Iya bawel! Yu ah lari lagi."
"Nggak mau. Capek ah!!"
"Diih...."
Akhirnya kita cuma jalan jalan disekitar alun alun melihat barang barang yang dijual disana. Bunga sempat membeli sebuah kupluk berwarna abu abu lalu dipakai menutupi kepalanya. Dia keliatan lucu sekali pake kupluk macam begitu mirip Hayley Williams pokalisnya Paramore.
Matahari sudah mulai meninggi, suasana pun berubah menjadi panas. Apalagi keadaan disini penuh sesak dengan orang orang. Setelah puas keliling, Bunga mengajak gw istirahat persis di depan alun alun. Kemudian dia mengeluarkan HPnya.
"Yank...sini deh"
"Ngapain?"
Tiba tiba, "Cekrek...". Kita pun berselfie ria dengan berbagai pose. Gw melihat hasil jepretan di Hapenya. Nampak gw terlihat begitu tampan dan Bunga juga terlihat cantik dengan kupluk itu.
"Pulang yuu...dah siang." Ajak gw.
"Ayoo. Tapi kerumah kamu yaa. Aku kangen sama Dek Yasyfi." Ucapnya.
"Yaudah..."
"Sekalian aku mau jajan di warung kamu..."
"Eeeh kalo kamu yang jajan gratis sayang!"
"Waa yang bener nih?"
"Iya gratis permen sugus satu biji!"
"Huuh...pelitnyaaaa....."
Setelah menempuh waktu setengah jam perjalanan kami pun tiba di rumah gw. Gw mengajak Bunga masuk ke dalam. Disitu dia bertemu dengan bidadari No.1 gw yang sedang nyuapin Dek Yastfi. Alangkah bahagianya gw apabila melihat kedua bidadari itu sangat akrab satu sama lain. Ditambah dek Yasyfi yang langsung nempel meluk meluk Bunga. Mereka semua menyayanyi Bunga. Kemudian gw masuk untuk ke kamar mandi cuci muka. Lalu gw kembali lagi ke depan dimana Bunga dan bidadari No.1 gw sedang ngobrol.
"Jar nanti mama tinggal dulu ya. Kamu jaga warung." Ucap Bidadari No.1
"Loh emang mama mau kemana?" Tanya gw.
"Mama sama Bapak mau ke Ciledug nengok uwak lagi sakit."
"Oh yaudah..."
"Tuh mba Bunga ajak makan. Mama udah masak..."
"Iya gampang. Ntar kalo laper juga makan."
Tak lama kemudian mereka sudah berpakaian rapi bersiap untuk berangkat. Seingat gw, waktu itu bapak pinjem mobil salah satu tetangga untuk berangkat kesana. Lantas sekarang tinggal gw berdua dengan Bunga yang berada di rumah. Kita standbye di warung, jaga warung sama sama.
"Punteun. A Fajar telurnya setengah kilo dong." Ucap salah satu pembeli.
"Iya Buu.." Ucap gw ramah.
"Sini sama aku aja ya...." Maksud Bunga melayani pembeli
"Yaudah...Kamu bisa nggak nimbangnya?"
"Hehe bisa kok."
Secara bergantian kami berdua melayani pembeli yang datang ke warung. Bunga sangat antusias melayani para pembeli tersebut. Tak jarang juga dia bertanya pada gw apabila ada suatu barang yang tidak dia ketahui harganya. "Yank, ini berapa? Yank, itu berapa?". Begitulah kira kira.
"Aku seneng deh jaga warung begini." Ucap Bunga.
"Senengnya kenapa?"
"Ya seneng aja...Dulu waktu aku masih kecil aku sering main warung warungan sama temen temen aku."
"Hahaha. Kamu jadi penjualnya apa pembeli?"
"Aku jadi yang jualannya dong. Tapi barang yang dijual tuh aneh. Dari buntelan kertas. Uangnya juga pake uang uangan. Rasanya pengen ketawa kalo inget masa kecil dulu."
"Dulu waktu aku kecil, aku suka ke abang abang tukang ager. Maen tarik benang. Jadi kalo beruntung bisa dapet mobil tamiya lho!! Tapi nggak tau kenapa aku nggak pernah dapet maenannya. Ujung ujungnya ager lagi yang aku dapet."
"Kamu diboongin itu sama abangnya" Ujarnya
"Hahaha...Iya juga yaa. Abang abangnya curang!!"
"Hahhahaha...." Lalu kita berdua tertawa bersama.
Para pembeli perlahan lahan datang dan pergi. Hingga tak terasa hari sudah semakin siang. Kondisi warung sudah mulai sepi jarang ada pembeli yang datang. Memang sudah biasa kalau warung model begini ramenya tuh pagi dan sore hari. Sementara kalau siang palingan tukang ojek yang pada beli rokok. Lantas gw menyalakan tipi kecil yang ada di warung menonton One stop football on Sunday. Sementara Bunga menyandarkan tubuhnya di etalase dengan kuping tersumpal headset. Mungkin dia sedang asik mendengarkan lagu. Tiba tiba dia bernyanyi cukup keras dan cukup cempreng suaranya. Sepertinya dia mengikuti sebuah lagu yang sedang didengarkan.
"Weeen yu go wud yu ipen tarn tu sey, ai don lof yu laik ai did yesterdeeeey..." Dia bernyanyi.
"........"
"Sam Taim ai krai soo haad fom pliding, so sik en taird of ol de nidles biiting" Lanjut dia...
"Kamu nyanyi lagu apaan sih yank??" Tanya gw.
"So fix yur aiys en getap, beter getap, whail yu ken..whoooaaa whoaaaa...." Dia terus bernyanyi.
"Eet dah coba sini aku dengerin!!"
Tanpa seizin dia, kemudian gw mencabut satu headset dari telinganya lalu gw pasang di telinga gw. Terdengar riff melodi gitar yang keren. Setelah itu musik berhenti, yang ada hanya suara vocal diiringi petikan gitar yang manis. Kemudian secara menyentak musik pun ramai kembali dibuka dengan singkup pelan.
"Ween yu go,wud yu haf de guts tu sey, ai don lof yu laik ai lof yu, yesterdeeey yeeeey...yeeeeyy...Ai don lof yu laik ai lof yu yesterdeeey yeey yeey. Ai don lof yu laik ai lof yu yesterdeeeeeeyy...." Gw mendengarkan sampai habis.
"Lagu My Chemical Romance kan?" Tanya gw.
"Hehe iyaa...aku suka banget sama lagu ini!!" Ujarnya
"Aku juga suka. Keren." Ucap gw.
"Tapi....Aku nggak suka liriknya.."
"Loh kok?"
"Sayang banget lagu seenak ini tapi liriknya begitu..."
"Yaa suka suka penciptanya atuh..."
"Pokoknya aku nggak rela kalo liriknya 'I dont love you, like I did yesterday..."
"Hahaha..."
"......."
"Yaudah kita ganti aja liriknya jadi versi kita sendiri."
"Gimana?"
"Emm...Jadinya 'I love you like I did yesterday..." Ucap gw.
"I love you like I did yesterday?" Dia mengulangnya.
"Iyaa. 'dont' nya dihapus..."
"I love you like I did yesterday....." Ucapnya pelan.
"I love you like I did yesterday....." Balas gw.
Lalu dia tersenyum manis sekali. Gw pun membalas senyumnya itu. Sejenak gw tatap matanya yang berbinar, lalu menyentuh pelan ujung hidungnya yang mancung sambil berkata dalam hati; "Aku mencintaimu Bunga, seperti di lagu ini yang sudah kita rubah liriknya..."
"Yank sini..." Panggil dia.
"Ngapain?"
"Foto lagi hehee..."
"Haduuh narsis amat sih kamu!"
Lalu kitapun berselfie ria ronde kedua.
"Smile!!!"
"cekrek...cekrek...cekrek..".
Entahlah sudah berapa banyak foto yang tersave di memory hapenya. Kembali gw pandangi foto itu satu persatu. Cukup bagus hasilnya walaupun backgroundnya itu karung beras, peti telor, toples permen bahkan kardus indomie juga ikut terfoto. Tapi apapun backgroundnya, foto itu begitu istimewa dimata gw.
"Blututin foto yang tadi dong yank!" Pinta gw
"Hehe iya. Aktifin dulu lah"
"Sekalian sama foto yang tadi pas di Pemda."
"Iyaa...."
Ya begitulah. Setiap habis foto foto, gw selalu minta blutut foto tersebut untuk gw simpan di komputer sebagai arsip. Sampai detik ini ratusan foto itu masih terusun rapi di hardisk external gw. Ratusan foto dari tahun ke tahun yang telah gw lewati. Terkadang gw membukanya, dan gw cuma senyum senyum sendiri ketika melihatnya. Dari ratusan foto itu gw bisa menyelam ke masa 6 tahun yang lalu. Dan dari ratusan foto itu juga, gw mampu mengingat setiap detail kejadian tentang segala manis pahitnya perjalanan hidup kami berdua. Hingga akhirnya gw bisa melanjutkan menulis disini, di Sub. Forum SFTH.

Namun tepat di hari minggu ini tidur gw sangat terganggu. Jimbot gw berdering secara terus menerus semenjak subuh dan berlanjut sampai sekarang ketika matahari mulai menampakkan diri. Gw menyerah dengan suara berisik itu, lalu mengangkat telefon dengan malas.
"Halooo!!"
"Halo, kamu ngapain aja sih?"
"Ya tidur lah!"
"Udah jam berapa ini? Kamu lupa ya sama janji kamu?"
Gw berfikir sejenak, dan mengingat janji apa yang telah gw buat dengan Bunga di pagi ini.
"Oh iya ya....Aku lupa."
"Kebiasaan kamu mah lupa melulu."
"Yaudah aku mandi dulu ya."
"Jangan lama lama ini udah jam 6."
"Iya bawel ah!"
Sebelum berangkat mandi, Jimbot gw kembali berdering pertanda ada sms masuk. Gw buka sms itu. Ternyata sebuah pesan dari Ana yang mengucapkan selamat pagi pada gw. Lalu gw pun membalasnya.
"Udah siang woi..haha. Lagi apa lu An?" Sent to Ana.
"Lagi bikin susu nih. Lu sendiri?"
"Waw susu? Bukannya lu udah punya ya? Kok bikin lagi?" Canda gw.
"Bukan yang itu Fajar! Parah nih pagi pagi udah ngeres aja otak lu! Haha..."
"Nah maka dari itu gw mau mandi nih biar kepala nggak ngeres.."
"Jiaah, tumben lu jam segini udah mau mandi?"
"Biasa lah ada tugas Negara. Yaudah gw mandi dulu ya. Ntar lanjut lagi."
"Iya..."
Semenjak kejadian kemarin, gw dan Ana menjadi semakin dekat. Komunikasi kami tak pernah putus walaupun saat ini dia tengah liburan di kampung halamannya. Terkadang Ana yang sms gw duluan untuk sekedar tanya tanya kegiatan gw. Tak jarang juga dia selalu curhat ke gw tentang masalah pribadinya termasuk masalah keluarganya. Dan dari situ gw tau, kalau keluarga Ana ini adalah keluarga broken home.
Ayahnya kepincut sama salah satu perempuan di kantornya, lantas kaburlah dia lalu kimpoi lagi meninggalkan istri dan anak anaknya termasuk Ana. Bahkan sampai sekarang Ana tidak tahu ayahnya berada dimana. Semenjak cerai dengan ibunya, sang ayah mengilang bak ditelan bumi. Tak ada kabar beritanya. Mengirim uang untuk biaya sekolah anaknya pun tidak. Beruntung dia mempunyai seorang kakak laki laki yang bisa dibilang sukses secara finansial. Kakaknya itu menjadi tulang punggung keluarga. Dan membiayai semua kebutuhan keluarga serta membiayai kuliah Ana juga.
Gw jadi menaruh simpati padanya atas kehidupannya yang penuh lika liku. Sampai sejauh ini gw selalu berusaha menjadi pendengar dan teman yang baik untuknya. Ya, sebatas teman! Tak lebih dari itu. Kenapa? Jelas gw lebih menjaga perasaan Bunga dan gw nggak mau mengkhianati Bunga. Karena buat gw, Bunga terlalu baik untuk disakiti. Dan buat gw, dia segalanya.
Gw menaruh Jimbot di atas meja lalu gw mandi dengan sedikit terburu buru. Tidak sempat keramas apalagi main sabun. Setelah berpakaian cukup rapi, gw pamit pada Bidadari No.1 gw yang saat itu sedang bertugas di warung. Lantas gw buru buru tancap gas menuju rumah Bunga.
Sesampainya disana Bunga sudah menunggu gw di depan rumahnya. Dia terlihat cantik pagi ini dengan memakai sweater abu abu, celana training pendek dan sepasang sepatu converse hitam. Ya, kita berdua ceritanya mau lari pagi di sekitar komplek PEMDA Kab. Bogor. Kita berangkat kesana menaiki Jupi karena jaraknya cukup jauh dari sini.
Tiga puluh menit kemudian gw sudah berada di depan alun alun Kab. Bogor. Keadaan pagi itu ramai sekali. Tak heran sebab setiap hari Minggu disini selalu ada pasar kaget lengkap dengan segala jenis pedagang kaki lima. Mulai dari pedagang makanan, pedagang baju, sepatu, celana dalam sampai aksesoris motor/mobil semua ada disini. Bisa dikatakan ini pasar serba ada.
"Ayo dong lari...curang kamu mah daritadi jalan kaki melulu!" Ucap gw.
"Capek tau! Kamu pelan pelan dong larinya." Gerutu Bunga.
"Yailah ini juga udah pelan..."
"Udah pelan sih ninggalin mulu."
"Ya maka dari itu cepetan dikit." Gw lanjut berlari lagi.
"Tungguin iih!"
Gw heran sama Bunga. Ngakunya ke gw dia kuat lari sampe puluhan kilo. Nyatanya baru lari 100 meter aja dia udah 'rukuk', kemudian jalan kaki sambil ngos ngosan bercucuran keringat. Namun entah mengapa dia terlihat lebih seksi bila berkeringat seperti itu. Apalagi nafasnya tersengal sengal mendesah halus yang membuat jakun gw naek turun.
"Jaaar...Pelan pelan dong larinya!!" Gerutu Bunga.
"......." Gw terus berlari.
"Jaaaarrr....!" Teriak Bunga.
Gw tidak memperhatikan panggilan darinya lantas terus berlari dengan kecepatan sedang. Sadar kalau dia tertinggal jauh, gw menurunkan kecepatan lari gw kemudian gw menengok ke belakang. Dan ternyata Bunga tidak ada. "Kemana nih anak?" Tanya gw dalam hati. Gw pun berbalik untuk menyusulnya di belakang. Setelah berjalan cukup jauh sembari tengok kanan kiri akhirnya gw menemuinya. Nggak taunya dia malah asik nonton demo masak.
"Yeeh malah jogrok disini..."
"Hehe."
"Ngapain sih Bung?" Tanya gw.
"Sebentar lagi Bunda ulang tahun. Aku mau beliin itu tuh..."
"Apaan? panci?" Tanya gw lagi.
"Iya tapi itu bukan panci biasa. Tapi pressure pan. Buat perabotan masak Bunda."
"Ooh..." Gumam gw.
"Kemaren Bunda ngomong katanya mau beli itu."
"Yaudah beliin lah..."
"Tapi aku nggak bawa uang." Ucapnya sambil manyun.
"Minggu depan lagi aja belinya."
"Iya, kamu tanyain dulu dong ke mas masnya tuh minggu depan masih ada nggak.."
"Iya...."
Kemudian gw bertanya pada salah satu sales panci tersebut yang gw ketahui merknya H***y Call. Gw tanya tanya tentang harga, fungsi, serta fitur fitur dari panci itu. (Ini panci jang! Bukan gadget!). Dan kebetulan minggu depan mereka masih ada jadwal demo masak disini.
"Bung, katanya minggu depan mereka masih demo masak disini." Ucap gw pada Bunga.
"Serius kamu?"
"Ya iyalah...Nggak liat apa tadi aku ngobrol sama masnya.."
"Yaudah minggu depan kita kesini lagi ya." Ujarnya.
"Iyaa...."
"Tapi kamu jangan kesiangan lagi."
"Iya bawel! Yu ah lari lagi."
"Nggak mau. Capek ah!!"
"Diih...."
Akhirnya kita cuma jalan jalan disekitar alun alun melihat barang barang yang dijual disana. Bunga sempat membeli sebuah kupluk berwarna abu abu lalu dipakai menutupi kepalanya. Dia keliatan lucu sekali pake kupluk macam begitu mirip Hayley Williams pokalisnya Paramore.
Matahari sudah mulai meninggi, suasana pun berubah menjadi panas. Apalagi keadaan disini penuh sesak dengan orang orang. Setelah puas keliling, Bunga mengajak gw istirahat persis di depan alun alun. Kemudian dia mengeluarkan HPnya.
"Yank...sini deh"
"Ngapain?"
Tiba tiba, "Cekrek...". Kita pun berselfie ria dengan berbagai pose. Gw melihat hasil jepretan di Hapenya. Nampak gw terlihat begitu tampan dan Bunga juga terlihat cantik dengan kupluk itu.
"Pulang yuu...dah siang." Ajak gw.
"Ayoo. Tapi kerumah kamu yaa. Aku kangen sama Dek Yasyfi." Ucapnya.
"Yaudah..."
"Sekalian aku mau jajan di warung kamu..."
"Eeeh kalo kamu yang jajan gratis sayang!"
"Waa yang bener nih?"
"Iya gratis permen sugus satu biji!"
"Huuh...pelitnyaaaa....."
Setelah menempuh waktu setengah jam perjalanan kami pun tiba di rumah gw. Gw mengajak Bunga masuk ke dalam. Disitu dia bertemu dengan bidadari No.1 gw yang sedang nyuapin Dek Yastfi. Alangkah bahagianya gw apabila melihat kedua bidadari itu sangat akrab satu sama lain. Ditambah dek Yasyfi yang langsung nempel meluk meluk Bunga. Mereka semua menyayanyi Bunga. Kemudian gw masuk untuk ke kamar mandi cuci muka. Lalu gw kembali lagi ke depan dimana Bunga dan bidadari No.1 gw sedang ngobrol.
"Jar nanti mama tinggal dulu ya. Kamu jaga warung." Ucap Bidadari No.1
"Loh emang mama mau kemana?" Tanya gw.
"Mama sama Bapak mau ke Ciledug nengok uwak lagi sakit."
"Oh yaudah..."
"Tuh mba Bunga ajak makan. Mama udah masak..."
"Iya gampang. Ntar kalo laper juga makan."
Tak lama kemudian mereka sudah berpakaian rapi bersiap untuk berangkat. Seingat gw, waktu itu bapak pinjem mobil salah satu tetangga untuk berangkat kesana. Lantas sekarang tinggal gw berdua dengan Bunga yang berada di rumah. Kita standbye di warung, jaga warung sama sama.
"Punteun. A Fajar telurnya setengah kilo dong." Ucap salah satu pembeli.
"Iya Buu.." Ucap gw ramah.
"Sini sama aku aja ya...." Maksud Bunga melayani pembeli
"Yaudah...Kamu bisa nggak nimbangnya?"
"Hehe bisa kok."
Secara bergantian kami berdua melayani pembeli yang datang ke warung. Bunga sangat antusias melayani para pembeli tersebut. Tak jarang juga dia bertanya pada gw apabila ada suatu barang yang tidak dia ketahui harganya. "Yank, ini berapa? Yank, itu berapa?". Begitulah kira kira.
"Aku seneng deh jaga warung begini." Ucap Bunga.
"Senengnya kenapa?"
"Ya seneng aja...Dulu waktu aku masih kecil aku sering main warung warungan sama temen temen aku."
"Hahaha. Kamu jadi penjualnya apa pembeli?"
"Aku jadi yang jualannya dong. Tapi barang yang dijual tuh aneh. Dari buntelan kertas. Uangnya juga pake uang uangan. Rasanya pengen ketawa kalo inget masa kecil dulu."
"Dulu waktu aku kecil, aku suka ke abang abang tukang ager. Maen tarik benang. Jadi kalo beruntung bisa dapet mobil tamiya lho!! Tapi nggak tau kenapa aku nggak pernah dapet maenannya. Ujung ujungnya ager lagi yang aku dapet."
"Kamu diboongin itu sama abangnya" Ujarnya
"Hahaha...Iya juga yaa. Abang abangnya curang!!"
"Hahhahaha...." Lalu kita berdua tertawa bersama.
Para pembeli perlahan lahan datang dan pergi. Hingga tak terasa hari sudah semakin siang. Kondisi warung sudah mulai sepi jarang ada pembeli yang datang. Memang sudah biasa kalau warung model begini ramenya tuh pagi dan sore hari. Sementara kalau siang palingan tukang ojek yang pada beli rokok. Lantas gw menyalakan tipi kecil yang ada di warung menonton One stop football on Sunday. Sementara Bunga menyandarkan tubuhnya di etalase dengan kuping tersumpal headset. Mungkin dia sedang asik mendengarkan lagu. Tiba tiba dia bernyanyi cukup keras dan cukup cempreng suaranya. Sepertinya dia mengikuti sebuah lagu yang sedang didengarkan.
"Weeen yu go wud yu ipen tarn tu sey, ai don lof yu laik ai did yesterdeeeey..." Dia bernyanyi.
"........"
"Sam Taim ai krai soo haad fom pliding, so sik en taird of ol de nidles biiting" Lanjut dia...
"Kamu nyanyi lagu apaan sih yank??" Tanya gw.
"So fix yur aiys en getap, beter getap, whail yu ken..whoooaaa whoaaaa...." Dia terus bernyanyi.
"Eet dah coba sini aku dengerin!!"
Tanpa seizin dia, kemudian gw mencabut satu headset dari telinganya lalu gw pasang di telinga gw. Terdengar riff melodi gitar yang keren. Setelah itu musik berhenti, yang ada hanya suara vocal diiringi petikan gitar yang manis. Kemudian secara menyentak musik pun ramai kembali dibuka dengan singkup pelan.
"Ween yu go,wud yu haf de guts tu sey, ai don lof yu laik ai lof yu, yesterdeeey yeeeey...yeeeeyy...Ai don lof yu laik ai lof yu yesterdeeey yeey yeey. Ai don lof yu laik ai lof yu yesterdeeeeeeyy...." Gw mendengarkan sampai habis.
"Lagu My Chemical Romance kan?" Tanya gw.
"Hehe iyaa...aku suka banget sama lagu ini!!" Ujarnya
"Aku juga suka. Keren." Ucap gw.
"Tapi....Aku nggak suka liriknya.."
"Loh kok?"
"Sayang banget lagu seenak ini tapi liriknya begitu..."
"Yaa suka suka penciptanya atuh..."
"Pokoknya aku nggak rela kalo liriknya 'I dont love you, like I did yesterday..."
"Hahaha..."
"......."
"Yaudah kita ganti aja liriknya jadi versi kita sendiri."
"Gimana?"
"Emm...Jadinya 'I love you like I did yesterday..." Ucap gw.
"I love you like I did yesterday?" Dia mengulangnya.
"Iyaa. 'dont' nya dihapus..."
"I love you like I did yesterday....." Ucapnya pelan.
"I love you like I did yesterday....." Balas gw.
Lalu dia tersenyum manis sekali. Gw pun membalas senyumnya itu. Sejenak gw tatap matanya yang berbinar, lalu menyentuh pelan ujung hidungnya yang mancung sambil berkata dalam hati; "Aku mencintaimu Bunga, seperti di lagu ini yang sudah kita rubah liriknya..."
"Yank sini..." Panggil dia.
"Ngapain?"
"Foto lagi hehee..."
"Haduuh narsis amat sih kamu!"
Lalu kitapun berselfie ria ronde kedua.
"Smile!!!"
"cekrek...cekrek...cekrek..".
Entahlah sudah berapa banyak foto yang tersave di memory hapenya. Kembali gw pandangi foto itu satu persatu. Cukup bagus hasilnya walaupun backgroundnya itu karung beras, peti telor, toples permen bahkan kardus indomie juga ikut terfoto. Tapi apapun backgroundnya, foto itu begitu istimewa dimata gw.
"Blututin foto yang tadi dong yank!" Pinta gw
"Hehe iya. Aktifin dulu lah"
"Sekalian sama foto yang tadi pas di Pemda."
"Iyaa...."
Ya begitulah. Setiap habis foto foto, gw selalu minta blutut foto tersebut untuk gw simpan di komputer sebagai arsip. Sampai detik ini ratusan foto itu masih terusun rapi di hardisk external gw. Ratusan foto dari tahun ke tahun yang telah gw lewati. Terkadang gw membukanya, dan gw cuma senyum senyum sendiri ketika melihatnya. Dari ratusan foto itu gw bisa menyelam ke masa 6 tahun yang lalu. Dan dari ratusan foto itu juga, gw mampu mengingat setiap detail kejadian tentang segala manis pahitnya perjalanan hidup kami berdua. Hingga akhirnya gw bisa melanjutkan menulis disini, di Sub. Forum SFTH.

Diubah oleh javiee 27-12-2014 14:58
Darpox memberi reputasi
1