- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#7
Partitur no. 4 - Dialog Belenggu
"Mim, duluan, ya.." aku dan Dandi pamit seraya berpisah di depan gerbang sekolah yang kami tumpangi.
"Yoo, hati-hati!" ujar Hamim melambaikan tangannya.
Kami berdua berjalan di bawah langit berwarna keemasan yang perlahan-lahan berubah menjadi gelap, dengan klakson juga asap knalpot yang menjadi pengiring senja di Ibu Kota. Bus 502 yang biasa kami naiki sangat penuh hingga mengharuskan untuk berdesakan di tengah macet yang menyebabkan bus ini terjebak dan tak bergerak akibat volume kendaraan dan lampu merah yang terlampau lama, hingga kami memutuskan untuk berjalan kaki. Ini adalah sisi lain potret lanskap Ibu kota yang sebenarnya masih menyisakan banyak keindahan yang tak tersirat.
"Terus, gimana kelanjutannya lo sama siapa tuh namanya, Chelsea, ya?" tanya Dandi di tengah keramaian. "Masih chat sampe tengah malem?"
Anggukan tersipu malu menjadi sebuah jawabanku untuknya.
"Sahabat gue satu ini lagi jatuh cinta rupanya," ledeknya.
"Terlalu cepet nyimpulinnya, Dan," balasku. "Lagian dia belum tentu suka sama gue juga, kan?"
"Mana ada sih cewek yang baru kenal udah chat setiap hari, ngobrolin ini-itu, selalu nungguin lo online, terus nggak punya perasaan sama sekali? Nyampe lewat tengah malem pula kan!" ujar Dandi sok tahu.
"Yee, sok tau lo, Dan!" kudorong Dandi ke arah jalanan sambil mencibir. Dalam hati, aku turut mengamini ucapan Dandi.
"Emang lo udah berapa lama kenal, Man?" ucapannya diselingi dengan wajah penasaran.
"Baru seminggu lebih,"
"Seminggu?" Dandi mengernyitkan matanya seperti mencoba mengkonfirmasi.
Aku mengangguk.
Ya. Satu minggu yang begitu berarti.
"Jangan kelamaan, Man," ujar Dandi. "Keburu 'percikan' apinya ilang!"
Kudorong lagi Dandi hingga hampir terjatuh kemudian kami tertawa bersama-sama. Terjadi jeda yang cukup panjang setelahnya. Meski ucapannya sering tak masuk akal, tapi kali ini ucapannya terdengar cukup masuk akal. Aku menatapnya heran, berusaha memastikan bahwa ucapannya barusan benar-benar diucapkan olehnya.
"Lo berarti kalo chat sama Chelsea cuma pas lagi di rumah doang, Man?" Ia bertanya pertanyaan yang sebelum-sebelumnya pernah ditanyakan oleh Hamim.
"Ya mau gimana lagi," jawabku. "Cuma bisa nunggu giliran dan berhubungan melalui jaringan komputer."
Perlahan, Chelsea mulai menggoreskan pena berisi frasa-frasa pada lembar kosong hari-hariku. Hari demi hari semakin mendekatkan dua insan manusia yang bertemu karena sebuah ketidaksengajaan—meski tanpa sebuah penyambung komunikasi yang memadai. Ia lebih dari sekadar topik hangat yang selalu kuperbincangkan dengan teman-teman. Ia yang eksistensinya semakin nyata dan dekat membuat ia masuk ke dalam duniaku—seorang remaja penuh khayal bernama Iman.
Kami bertolak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, tempat Dandi bertemu Ibu nya, sementara aku menaiki angkutan kota yang relatif sepi dan tidak terkena lampu merah yang panjang. Meski tetap terkena macet, tapi setidaknya ini lebih baik.
Di angkutan kota, pikiranku mereka ulang percakapan antara diriku dan kedua sahabat baikku: Hamim dan Dandi. Dua lelaki yang dibilang cukup absurd namun merupakan sahabat setia yang dipertemukan oleh sahabat-sahabatku yang membentuk grup pengguna Kaskus di sekolah.
Kami kini sering bertukar cerita mengenai banyak hal. Dari hal-hal serius dan seru di Kaskus, seputar percintaan, gosip-gosip baru di sekolah sampai ocehan mesum yang selalu Dandi lontarkan. Tapi ketika sudah mendengar salah satu orang bercerita, mereka dapat memberi banyak masukan sebisanya.
Sesampainya di rumah, entah mengapa pukul tujuh malam rumahku sudah nampak begitu sepi. Padahal, rumahku ini tak hanya ditinggali oleh keluargaku seorang, tapi ada beberapa dari keluarga ayahku seperti Bude dan kedua adik serta asisten rumah tangga. Kesunyian ini seakan menambah sedikit rasa seram pada rumah dengan arsitektur neo-klasik peninggalan penjajahan Belanda yang sudah berumur satu abad. Entahlah, tapi aku tetap melanjuti aktifitasku untuk makan malam terlebih dahulu, baru berganti pakaian dan bersih-bersih.
Kang Naufal secara ajaib telah tertidur dan komputernya ditinggali begitu saja. Kemudian kulihat di komputer Harry pun hanya ada ayah yang sedang bekerja. Kesempatanku untuk mengenakan komputer Kang Naufal lagi akhirnya datang juga! Hal yang paling kusukai dari komputernya adalah dukungan perangkat audio yang sangat bagus.
Kurebahkan sebentar tubuhku di kasur sebelah komputer Kang Naufal, mengistirahatkan badanku sejenak sambil mendengarkan lagu Macy's Day Parade-nya Green Day yang kuputar dari komputer, menghilangkan suasana sunyi yang ditemani angin kencang yang masuk dari jendela kamar yang terbuka lebar. Suara lagu itu segera berbaur dengan bunyi notifikasi Facebook dan gemuruh petir juga rintik hujan yang menjadi latar. Sambil tersenyum aku berasumsi notifikasi itu dari Chelsea seperti biasanya.
Segera kubangunkan tubuhku menuju meja komputer, sebelum kasur ini kembali beretorika melalui kenyamanannya yang membuatku mudah menuju dunia mimpi.
"Man," sapanya.
Bukan Chelsea. Melainkan dari Afi, saudara sepupu sekaligus punggawa ritmik empat senar bass di bandku. Kulihat di kolom chat, Chelsea juga belum menampakan dirinya. Di jam segini Chelsea biasanya tengah menungguku untuk online. Kemana ia? Padahal aku sudah berusaha lebih cepat untuk pulang seperti yang ia pernah sarankan.
Biasanya, Afi selalu menceritakan banyak hal. Mulai dari mengenai band-band yang kami sukai, The Sims Social, hingga masalah percintaan. Ia juga salah satu saksi tingkah posesif Sarah dahulu. Seperti saat aku dan Sarah bertengkar karena ia mengira aku berbohong ke Puncak untuk acara keluarga, Afi lah yang banyak membantuku mencari kata-kata karena aku sudah kehilangan kata-kata dan cukup lelah menghadapi tingkah lakunya.
Di masa kecil kami, kami sering bermimpi menjadi atlet baseball bersama Harry dan saudara-saudara lainnya. Sebagai pemuda penuh khayal, bersama saudara kami yang lain seperti Alvin, Abdillah dan Adam, kami menggunakan ruangan tengah rumah yang cukup besar untuk bermain baseball. Tentu saja bolanya diganti dengan yang lebih halus. Pernah suatu saat kami bermain dengan bola baseball asli di depan rumah, alhasil memecahkan akuarium dan menjatuhkan berbagai macam benda yang akhirnya membuat kami mendapat omelan.
Kemudian setahun sebelumnya aku berhasil membuatnya berpacaran dengan orang yang ia sukai dengan membajak handphone-nya menuliskan kata-kata cinta yang pada akhirnya cintanya Afi yang kutuliskan diterima. Kami sampai lari-larian saking Afi malu dan berusaha mengambil handphone-nya. Untungnya ada Alvin yang mau diajak berkonspirasi agar menjegal Afi sehingga rencana kami ini sukses besar.
Lalu, biasanya terkadang pula Afi menceritakan masalahnya dengan gitaris band kami, Fadjri, yang merupakan teman Alvin semasa SD. Pada dasarnya, Fadjri memiliki selera musik yang hampir sama dengan kami, namun ada beberapa perbedaan yang entah membuat ia terlihat egois atau seorang idealis.
"Kenapa, Fi?" balasku.
Aku melihat lkon hijau bulat baru saja muncul di kolom percakapan Chelsea, yang menandakan ia baru saja berselancar di dunia maya.
"Biasa si Fadjri mulai lagi maksanya," jawab Afi tak lama kemudian. "Coba liat grup facebook aja."
Mataku menatap postingan milik Fadjri yang terpampang paling atas di grup itu sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Capek lama-lama, Fi, ladenin dia....."
Afi membalasnya dengan emoticon tertawa.
Lagi-lagi mengenai masalah yang sama dan terus diungkit. Fadjri terus mengajak membuat sebuah lagu dan album. Menurutnya, materi album kami cukup matang dijadikan sebuah demo, lirik milikku pun menurutnya sudah cukup bagus. Namun menurutku, kami belum ingin ke arah sana. Aku masih ingin terus memainkan lagu-lagu dari band favorit kami, kemudian bermain di acara komunitasnya. Sebenarnya masih ada satu alasan kuat mengapa aku masih belum berniat mengerjakan kembali lagu-lagu yang terbengkalai itu.. Ini menjadi salah satu masalah perbedaan sudut pandangan kami.
"Billie Joe aja dari seumuran kita udah bikin album, kok!" tulis Fadjri memberi argumen di grup yang tak dapat kami ganggu gugat.
Karena Fadjri pun sebenarnya kurang piawai bermain gitar. Ia pun juga sering mengomeliku karena aku membenarkan permainannya yang salah tapi ia tetap ngotot kalau permainannya lah yang benar. Sebenarnya bukan mengenai kepiawaiannya, namun setidaknya ia dapat memainkan gitarnya dengan benar.
"Nggak apa-apa! Itu Kurt Cobain mainnya begitu tapi bisa jadi legenda tuh!" sahut Fadjri lagi.
Sebenarnya aku begitu mengapresiasi semangatnya dalam bermusik. Semangatnya memberikan 'nyawa' tersendiri ketika kami bermain band. Tetapi ketika ia selalu memaksakan kehendaknya itulah yang sering menyusahkan kami. Padahal aku tak pernah bernada tinggi maupun sok tahu ketika memberi tahunya. Kini aku tak tahu lagi bagaimana cara menghadapinya.
"Chel, gue boleh minta tolong, nggak?" tanyaku.
"Minta tolong apa, Man?" balasnya tak lama kemudian.
"Tolong angkatin jemuran,"
"Yee! Kirain apaan!"
"Nggak deng, gue mau minta saran dari lo,"
"Wiih, tumben-tumbenan," jawabnya. "Ada apaan emangnya?"
"Ada orang keselek baskom,"
"Tuhkan giliran udah serius-serius!"
Perutku pun mulai sakit karena tertawa. Entah kenapa selalu saja ada ide iseng yang mendadak muncul ketika bertukar percakapan dengannya. Selalu kubayangkan bagaimana ekspresinya ketika kubercandakan. Karena dalam pikiranku, bayangan mengenainya masih seorang wanita tomboy yang jutek.
Jari-jemariku mulai berdansa di atas keyboard komputer, menuliskan secarik memoar permasalahan sampai awal band kami dapat terbentuk. Sedari kecil, hubunganku dengan Afi dan Alvin sebagai saudara sangat dekat. Kami bertukar banyak cerita mengenai hayalan masa kecil. Jaraklah yang memisahkan kami hingga bertemu dengan mereka seperti sebuah kebahagiaan tersendiri. Dalam setahun, aku hanya dapat bertemu dengan mereka tiga hingga empat kali.
Hubungan persaudaraan kami semakin melekat ketika nenek kami sakit keras hingga akhirnya kembali pada semesta dan mengharuskan kami menginap setiap minggunya di rumah Alvin yang juga merupakan tempat tinggal nenek kami. Setiap hari kami bermain untuk menamatkan game Warriors Orochi maupun bermain Harvest Moon secara bersamaan. Bahkan ketika orang dewasa sedang membacakan ayat suci untuk sang nenek setiap malamnya, kami terus bermain dan tak ada yang memarahi.
Setahun kemudian, akhirnya keluargaku menjadi pengisi kekosongan di rumah Belanda yang begitu megah ini. Menjadi serumah dengan Alvin dan yang lainnya. Rumahku berada di rumah bagian depan dan satu kamar di ruang tengah yang menghubungkan dengan rumah bagian belakang. Bagian depan rumahnya merupakan bagian yang paling jarang kulihat sejak dulu ketika datang ke rumah ini. Bagian ruang tengahnya saja sudah sangat menyeramkan, bagaimana bagian depannya?
Terkadang setiap akhir pekan atau ketika liburan telah tiba, Afi sering berkunjung dan menginap di rumah, candaan khasnya turut menghiasi, memberi suasana ramai yang kurindukan. Aku, Afi, Alvin dan Harry terus berkumpul membicarakan banyak hal di sekolah, menggambar bersama, bermain baseball, petak umpet, membuat akun Facebook yang sedang tenar dan seakan menjadi keharusan, bermain Insaniquarium, dan yang terakhir perbincangan mengenai seseorang yang di taksir di ayunan depan rumah hingga malam datang. Saat itu pun, Afi tertarik dengan lagu-lagu Gigi yang selalu kuputar.
Sejak dahulu, lagu Gigi kerap menemani masa kecilku karena pengaruh ayah dan bundaku yang juga merupakan penggemar mereka. Ayahku pun dahulu pernah shooting ketika mereka sedang tur. Jadilah kami sekeluarga mulai menyukai musik yang sama, dilanjuti oleh West Life yang tengah tenar kala itu.
Kembali lagi, seiring berjalannya waktu, Afi mulai tertarik mempelajari gitar karena melihatku bermain. Selain belajar gitar, aku terus meracuninya lagu-lagu favoritku dari band-band lain yang tengah kusuka seperti The Beatles, Mr. Big, Muse, Green Day dan Paramore, hingga ternyata ia benar-benar memiliki selera musik yang sama.
Menginjak bangku SMP, sejak aku tak lagi bermain band dengan band lamaku karena masalah dengan Sarah, aku mengajak Afi untuk membentuk band baru yang langsung ia setujui bersama Harry sebagai drummer cilik yang tengah menekuni instrumen drum. Karena aku sudah mengisi gitar dan vokal, Afi dengan rela menjadi pemain bass. Meski awalnya kami mendapat hujatan dari band lamaku hingga diajak duel, kami tak peduli. Kami terus bermain dengan semangat seakan kami adalah band terhebat. Bahkan pernah ketika ada permasalahan keluarga besar dan momen ketika meninggalnya kakek kami, kami terus berlatih.
Satu hari, Alvin memperkenalkan kepada kami seorang teman yang senggang dan tak memiliki band. Menurut Alvin, selera musik kami sama. Kebetulan, bisa saja momen seperi ini digunakan Afi untuk menjadi pemain gitar seperti kemauannya. Ternyata, kami pernah berbincang sebelumnya di komunitas Green Day. Fadjri pun terus berkomunikasi dengan Afi hingga Afi membujukku untuk memperbolehkannya bergabung. Kupikir lumayan juga untuk meringankan biaya sewa studio. Hehe.
"Emangnya, dia maunya mainin lagu apa aja?" tanyanya ketika selesai membaca sekelumit gundah gulana.
"Dia maunya bawain Green Day terus," jawabku. "Bukannya bosen, tapi gue juga pengen bawain lagu lain dari band favorit kita yang dulu sering kita mainin sebelum Fadjri gabung."
"Nggak lo coba omongin baik-baik emangnya?" tulisnya. "Anyway, gue suka banget sama Green Day. Asik-asik lagunya!"
"Udah, tapi percuma, Chel.. Dia tetep sama apa yang dia mau." Balasku. "Wah, keren juga selera musik lo,"
"Emang lo selain Green Day sering mainin apa aja dulu?"
"Biasanya sama lagu-lagunya Muse, terkadang Paramore juga iseng-iseng," padahal aku sama sekali belum pernah memainkan lagu-lagu Paramore.
"Asiiiik! Boleh dong gue ikut lo latihan atau liat lo manggung kapan-kapan?"
"Gue harus dandan dulu kalo lo ikut nonton!"
"Kenapa mesti dandan?"
"Biar lo naksir!"
"Dih, ogah!" balasnya dengan menggunakan emoticon menjulurkan lidah.
"Anyway,selain Paramore, Muse sama Green Day, lo suka band apa lagi?" sambungku mengeluarkan lanjutan jurus pendekatan andalan.
"Hmm, banyak sih.. Tapi gue lagi suka banget Thirty Second to Mars! Waktu di Jakarta kemaren gue nonton mereka rela-relain nunggu mereka delay lama banget."
"Asik dong!" balasku. "Lo naik nggak tuh ke panggung pas lagu Kings & Queens? Gue liat di YouTube asik rame banget yang naik ke panggungnya."
"Nggak, Man. Gue takut naiknya, hehe."
Meski pembicaraan kami mulai melenceng dari topik awal, topik yang baru ini menurutku sangat seru. Selera musiknya patut kuacungkan jempol. Hampir semua band yang ia sebutkan kemudian juga merupakan favoritku. Ia lantas bercerita kisahnya ketika menonton band kesayangannya. Bagaimana awalnya orangtuanya tak memperbolehkannya menonton konser tersebut hingga akhirnya ia nekat tetap nonton Thirty Second to Mars bersama Rahma, saudaranya. Meski memang harus menuggu delay konser yang sangat lama, semuanya terbayarkan ketika band yang digawangi oleh Jared Leto, dkk ini mulai beraksi.
"Kayaknya lo bakal cocok nih kalo ngikut nongkrong-nongkrong abis latihan band!" sahutku.
"Ahaha, kenapa emangnya, Man?"
"Pasti nyambung, Chel. Di band gue kan rata-rata selera musiknya sama," jawabku. "Mau gue kenalin?"
"Kalo lo nya nggak keberatan sih boleh ajaa,"
"Sekalian minta request di The Sims Social bisa tuh, Chel." Ledekku.
Menunggu balasannya masih membuat jantungku berdegup kencang, terlebih ketika bunyi notifikasinya berbunyi, bersatu padu bersama suara musik yang kuputar. Ada sebuah notifikasi tanda bahwa percakapan masuk ke akunku.
Rupanya dari Afi.
"Man, Chelsea yang sering mentionan di twitter itu temenmu yang waktu itu kamu ceritain bukan?"
"Iya, Fi. Kenapa emangnya?"
"Lumayan juga seru liat percakapan kalian di sana. Ahaha," tulisnya. "Cantik pula."
"Add aja Fi kalo mau. Kali aja kan bisa ngasih solusi nanti yang soal masalah Fadjri, udah kuceritain juga soalnya."
"Oke, Man." Balasnya cepat.
Keakrabanku dengan Chelsea rupanya membuat Afi banyak bertanya-tanya bagaimana kami dapat bertemu dan saling mengenal. Ia pun salah satu orang yang pertama kuceritakan mengenai eksistensi Chelsea. Saat aku menunggu balasan dari Afi, datanglah notifikasi pemberitahuan percakapan dari Chelsea setelah sempat menghilang cukup lama.
"Anyway, adek lo lucu, yah!"
"Hah? Kok lo tau adek gue?"
"Kan ada waktu acara kemaren bukan? Gue juga dari kemaren udah temenan sama adek lo nih di Facebook, sering main The Sims Social juga dia rupanya."
Senyuman bodoh kusunggingkan di balik layar komputer itu.
"Terus gue nya lucu juga nggak?"
"Engga." Balasnya singkat dan cepat. "by the way, gue hari ini tidur duluan ya? Udah 5 watt nih mata gue."
Jam dindingku menunjukan pukul sebelas malam. Cepat sekali rasanya waktu berlalu.
"Tumben banget, Chel? Ahaha,"
"Iya nih, tadi lagi banyak banget kerjaan, besok harus kelarin lagi. Gue aja tadi hampir ketiduran."
Kerjaan?
"Lo udah kerja?" tanyaku kaget.
"Magang, Man.." balasnya. "Gue lagi magang buat Tugas Akhir kuliah gue."
"Tugas Akhir?" tanyaku.
"Iya, kayak skripsi kalo di Sarjana," Kukira ia sudah langsung mengeluarkan Facebook-nya dan mulai memasuki alam mimpi. "Gue ambil Diploma soalnya, D3."
Terdapat jeda yang cukup lama dibalut keheningan yang seakan menyelimuti kamar meski lagu di komputer masih menyala. Aku tercengang sekaligus kaget. Rasa kantuk yang tadinya tengah menghampiriku kini pergi begitu saja. Kesenangan sekitar satu minggu lebih seakan menemui jalan buntu yang perlahan mulai runtuh. Kukira ia adalah adik kelasku.
"Hoo, lo udah kuliah, toh.."
"Iya, Man. Kenapa emangnya?" tulisnya.
"Eng, nggak apa-apa kok, Chel, nanya aja.. Abisnya lo muda banget mukanya!"
"Ini ngeledek apa nggak nih?"
"Beneran, kok.."
"Yaudah, gue tidur duluan, yaa.." balasnya. "Lo jangan tidur larut banget. Good night!"
Ikon hijau pada chatnya pun menghilang. Aku menghembuskan nafas kencang kemudian kembali rebahan di kasur dengan alunan pelan lagu Misguided Ghost milik Paramore.
Aku merasa patah hati karena alasan yang tak jelas. Kalau ia kuliah, tentu saja umurnya jauh berada di atasku. Di atas Rina maupun Sarah. Lalu jika ia sedang magang untuk Tugas Akhir, aku mengasumsikan bahwa ia sudah berada di semester akhir sebelum lulus kuliah. Aku mengasumsikannya karena ayahku sendiri adalah seorang dosen yang sering kali menjadi dosen pembimbing sehingga aku cukup tak asing mengenainya. Jika dihitung-hitung, aku memperkirakan jarak perbedaan umurku dan Chelsea dapat mencapai 9 tahun. Iya, sembilan tahun. Memikirkannya membuatku tercengang sendiri karena jaraknya begitu jauh. Mengapa aku tak menyadarinya ketika memutuskan untuk stalking di Facebooknya? Mengapa wajahnya begitu terasa menipu karena ia terlihat jauh lebih muda dariku? Mengapa Bowo tak memberi tahunya?
Aura pesimis dalam diriku kembali muncul. Dialog yang tengah berlangsung kusimak dengan seksama hingga membuatku menyusulnya ke alam mimpi.
Mungkin aku harus mulai mencoba menerima kenyataan menganggapnya sebagai seorang sahabat yang asyik diajak berbicara mengenai apapun. Perlahan tapi pasti, aku harus mundur, kembali membuka lembaran paranada kosong yang sebelumnya pernah diisi selama satu minggu lebih oleh Chelsea.
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:28
0
