Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread2Anggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#5
Partitur no. 3 - Komunikasi Musik Ambigu


Aku terbangun dari tidur nyenyak di hari minggu yang malas dengan alunan bunyi musik bervolume kencang yang selalu diputar oleh Kang Naufal setiap pagi di hari libur. Lagu-lagu itu terkadang menjadi latar belakang dalam skena mimpi-mimpi abstrak. Mimpiku terkadang juga bisa berubah secara drastis dalam hitungan detik, bergantung pada lagu yang diputar.

Kukenakan kacamata yang menjadi tumpuanku melihat sejak taman kanak-kanak, mengernyitkan dahi sambil mencoba mengkonfirmasi apa yang membuatku akhirnya terjaga. Pikiranku secara otomatis langsung mengingat seorang wanita tomboy yang kutemui semalam. Teringat juga sebuah rencana yang kugagas di pertengahan jalan tentang mencari seluk-beluk mengenainya di sosial media sepulang dari acara itu gagal.

Mataku melihat ke arah Kang Naufal yang sedang asyik berseluncur di dunia maya dengan lagunya tadi. Terlihat Instrumen musik masih tergeletak begitu saja di kamar yang juga beralih fungsi sebagai studio—mungkin karena kami begitu lelah dan mengantuk semalam. Sang kasur memiliki keahlian beretorika yang luar biasa agar aku tertidur pulas dengan cepat.

Kemudian sisa waktu dihari minggu hanya kuhabiskan dengan menunggu giliran yang dibalut dengan gelisah sekaligus penasaran yang tak biasanya. Juga dengan kartun-kartun yang masih cukup banyak tayang.

Walau sama-sama sulit untuk dipinjam komputernya, Harry masih ada rasa belas kasihan kepada kakaknya ini, meski selalu menjawab dengan jawaban khasnya terlebih dahulu: "sebentar!". Sebuah kata yang memiliki kadar makna relatif yang begitu tinggi. Sementara Kang Naufal, jangan harap komputernya bisa dipinjam kecuali ia sedang tak berada di rumah.

Mataku menatap jam dinding yang tak pernah letih menunjukan waktu yang tak pernah berhenti berputar. Jam dinding itu kini tengah menunjukan pukul sembilan malam. Satu waktu di mana belakangan ini sering kugunakan untuk berselancar di dunia maya. Tapi hingga kini, aku sama sekali belum menginjakan kaki di tempat komputer itu.

Aku tengah selesai membuat secangkir teh pahit hangat ketika Harry mendatangiku di rumah bagian belakang untuk meminjamkan komputernya. Rupanya Harry sekalian ingin menyantap jatah makan malamnya.

Diriku bergegas ke ruang komputer Harry sambil menikmati secangkir teh hangat ini. Akhirnyaa! Tanpa basa-basi, aku langsung membuka semua media sosial yang kupunya.

Beranda akunku penuh dengan foto-foto keseruan semalam. Aku ditandai dibeberapa foto dengan banyaknya komentar-komentar yang menghiasi foto album tersebut. Foto demi foto kulihat dalam album milik fotografer handal yang baru kukenal semalam, berharap ada foto Chelsea di sela-selanya. Namun, aku malah terperangah oleh fotoku ketika bermain semalam. Aku mengapresiasinya, lalu meminta izin untuk menggunakannya sebagai foto profil.

Tahu-tahu Bowo sudah memulai percakapan denganku di Facebook. Isinya mengenai menerima permintaanya di game yang saat itu tengah ramai: The Sims Social. Bahkan bundaku juga ikut memainkan game ini.

"Wo, mau sosmed adek lo, dong," tulisku iseng yang sebenarnya tak iseng, di sela-sela pembicaraan kami.

Terlihat ia langsung mengetik sebuah jawaban kembali. Kutekan ikon silang untuk menutup chatnya dan mencoba kembali fokus kepada gamenya karena jantungku begitu berdebar. Namun apa daya, chat tersebut muncul kembali di tab game yang sedang kumainkan.

"Liat di daftar absen kemaren aja, Man, sama Kang Naufal," jawab Bowo. "usaha sedikit." Lanjutnya sambil membubuhkan emoticon lidah menjulur keluar. Mungkin ia sudah langsung mengerti alasanku menanyakan media sosial adiknya.

Dengan perasaan senang sekaligus jantung yang berdegup kencang, aku langsung bergegas kembali ke kamarku, meninggalkan begitu saja game yang sedang kumainkan. "Kang, absen acara kemaren di mana?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke kamarku yang berantakan. Sedari tadi pagi, ia masih menatap dengan serius monitor komputer miliknya.

Secarik kertas putih yang telah berkerut-kerut terlihat berada di atas gitar yang tergeletak di lantai.

"Hah?" tanya Kang Naufal sambil menoleh ke arahku.

Mataku segera mengidentifikasi kertas lusuh itu. Entah keberuntunganku atau apa, kertas itu benar-benar berisi daftar hadir acara kemarin.

"Nggak jadi deh, Kang!" ujarku gembira sambil meninggalkan kamar dengan perasaan senang kembali ke komputer di kamar Harrys.

Di depan komputer, perasaanku tak karuan. Kulirik kertas lusuh yang kugenggam, mencari namanya dalam baris dan kolom. "Chelsea.." namanya kutulis di kolom pencarian dua sosial media yang saat itu sedang ramai-ramainya langsung menampilkan hasil pencarian beberapa orang yang berbeda dengan nama yang sama. Aku melihat sambil menduga-duga wajah yang baru kemarin kulihat.

"Adek lo lagi ngapain, Wo?" tanyaku sedikit basa-basi.

"Lagi browsing aja, tuh!" jawabnya.

Sebuah kesempatan!

Kutarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan-lahan sambil menekan tombol menambah pertemanan di dua sosial media yang berbeda kemudian melanjuti game yang sempat sedikit terbengkalai sambil memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang harus kuperbuat setelahnya. Mungkin saja ia langsung mengkonfirmasi pertemananku.

Apakah ini yang dinamakan love at first sight? Atau hanya sebuah perasaan fana yang sekadar melintas begitu saja dan memudar seiring berjalannya waktu? Kalimat itu mungkin bersifat retoris yang belum bisa kujawab sekarang, hanya sepertinya aku memang tertarik padanya, entah mengapa..

Anehnya juga aku tengah berharap ia memiliki rasa tertarik yang sama meski rasanya terlalu dini untuk langsung berharap, padahal sudah sekitar dua atau tiga bulan aku nyaman dengan kesendirianku, tetapi demi detik yang tengah berlalu, perasaan aneh ini tengah bereuni lagi. Aku mengingat tatapan matanya semalam. Ingin rasanya kugunakan mesin pencari untuk mendeteksi rasa suka dan bagaimana cara pendekatan yang baik di Google.

Tapi, bagaimana jika ternyata dia telah memiliki kekasih?

Pikiran-pikiran itu membuatku lupa bahwa energi karakterku di game The Sims Social itu habis. Jika dibanding dengan game-game The Sims lain, satu hal yang paling membuat kesal sekaligus adiksi tersendiri adalah keterbatasan melakukan sesuatu karena banyaknya energi yang digunakan. Seingatku, kapasitas untuk memiliki energi lebih itu tergantung pada peningkatan level setiap pemain. Seperti game pada umumnya, selalu ada tantangan yang lebih sulit untuk meningkatkan level. Saat itu pula datang notifikasi bahwa Chelsea telah menerima permintaan pertemananku.

"Duh, gimana, nih?" kekagetanku menyebabkan panik yang tak berdasar.

Sontak langsung kuputar otak tentang topik pembicaraan agar memulai sebuah percakapan dengannya tanpa terlihat ingin terlalu mendekati, menghasilkan kata-kata "Lo suka Paramore juga?" membuka percakapan di twitter.

Aku terus membolak-balikan tab facebook dan twitter di browserku, gelisah menunggu jawaban dari dirinya yang membuat jantung ini memiliki dentuman yang lebih cepat dari biasanya. Terlebih ketika melihat ada tanda biru di tab mention twitter.

"Suka banget! Apalagi sama Hayley-nya. Duh!"

Ia membalas! Ia benar-benar membalas! Apa yang harus kulakukan? Senang yang bercampur panik yang membuatku bersikap seperti orang gila.

"Nonton Paramore nggak waktu mereka ke Jakarta?"

"Gue nggak nonton. Nyesel bangeeet!" jawabnya. "lo nonton?"

Entah kenapa aku cukup kaget balasannya asyik dan tidak sok cuek seperti orang baru yang sering kutemui. Apa karena memang sifatnya saja yang berbeda?

"Nonton dong," tulisku membalas cuitannya. "gue naik ke panggung pas lagu Misery Bussiness."

"Lo beruntung banget!"

Jarak ia membalas pun terkesan cukup singkat.

"Tapi gue boong."

"Dasar lo! Gue kira beneran!" balasnya.

Aku terkekeh membaca balasannya. Obrolan kami terasa langsung.. nyambung.

Kami terus saling bertukar berbagai pertanyaan, melantur, lalu menulisnya dalam karakter singkat yang dibatasi melahirkan adiksi tersendiri. Di sela-sela itu pula aku mengetahui ia memainkan game yang sama dan levelnya jauh lebih tinggi di atasku. Dengan iseng kukirim sebuah permintaan agar energi karakterku cepat pulih.

"Lewat sini aja kali ya ngobrolnya? Takut dikira nyampah di twitter," tulis Chelsea membuka perbincangan kami di Facebook untuk pertama kalinya.

"Boleeeh," balasku.

"Ternyata baru kenal aja lo asik juga, Man!" lanjutnya.

Kamu pun begitu, Chel. Kesan jutek, cuek nan galak yang ia tampilkan saat pertama bertemu pun meluntur bagai seorang yang memiliki dua sisi kepribadian membuat naluri detektifku muncul seketika. Aku ingin lebih mengetahui tentangnya yang menyebabkan diriku tengah tenggelam dalam sebuah pencarian di profile Facebook milik Chelsea di sela-sela percakapan kami. Karena hal itulah akhirnya aku menemukan bahwa ia tengah menjomblo sedikit lebih lama dariku.

"Lo juga, Chel. Nice to meet you."

"Nice to meet you too."


Rasanya seperti mimpi yang terlalu cepat datang dan langsung memberi daya kejut. Baru semalam aku tengah berharap kepada lintas waktu agar dapat mengenalnya lebih lanjut, malam berikutnya dengan segala perasaan canggung memulai sebuah perbincangan yang entah kebetulan atau tidak responnya sangat bagus sehingga pembicaraan ini terus berlangsung.

Hari-hariku setelahnya cukup banyak berubah. Aku jadi sering tidur larut malam. Semua karena perkenalan singkat yang begitu tiba-tiba ini. Jam pulang sekolah konon kini menjadi waktu yang sangat kusukai. Karena hanya dengan itulah satu-satunya cara agar aku bisa berkomunikasi dengannya yang seakan menjadi sebuah agenda wajib.

Kehidupan persekolahanku sama sekali tak terganggu berkat suatu kejadian tak terduga yang mengharuskan sekolahku mengungsi ke sekolah sebelah yang digadang-gadang sebagai saingat terberat sekolahku (baca: lawan tawuran) dan masuk sekolah siang harinya. Pagi harinya bisa kugunakan untuk bertukar percakapan dengan Chelsea.

Sering kali aku merasa iri dengan teman-temanku yang sibuk dengan telepon genggam miliknya. Karena aku kini tak seperti mereka; para remaja era informatika. Terkadang teman-temanku juga sering menunjukan padaku percakapan mereka dengan sang kekasih. Bahkan teman-temanku yang telepon genggamnya dirampas diwaktu yang bersamaan denganku tengah memiliki telepon genggam baru.

Tapi dengan bertukar diksi melalui kata-kata setiap harinya tetap membuatku senang. Suatu hal yang begitu minimalis dilakukan namun terkesan begitu manis.

"Hai, Man!" sapanya langsung di Facebook ketika aku baru beberapa menit berselancar di internet.

"Hai, Chel!" jawabku. "Pasti langsung banyak request dari gue, ya?"

"Iya, nih," balasnya. "Twitter gue juga kayak langsung rame sama lo doang gitu,"

"Lo nya sih gila!" sahutku. "Gue kira lo pendiem!"

Ia membalas dengan emoticon tertawa.

Malam ini obrolan kami seperti biasa, berbagai macam topik kami bicarakan hingga ke topik absurd yang membuat kami berdua tertawa seperti orang gila. Terkadang juga diselingi oleh cerita-cerita horror yang nampak tak masuk akal.

Seminggu telah mengenalnya pun suatu hal yang terasa unik. Serasa kami adalah seorang yang sudah kenal sejak lama. Namun seminggu mengenalnya, lama-kelamaan aku akhirnya baru menyadari satu belenggu permasalahan dari Chelsea yang terus membuat pikiranku terus berdialog.

Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:27
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.