Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#2
Partitur no. 2 - Sebuah Studio Di Selatan Jakarta


Tibalah hari yang begitu penting bagi sebagian orang di berbagai belahan dunia. Satu hari ketika semuanya tak bisa dilihat dari satu perpektif yang sama lagi. “Kayaknya ada satu janji yang nggak bisa aku tepatin.” Kataku malu-malu.

“Apa tuh?” tatapan rasa penasaran yang lucu itu tak bisa kuhindari.

KRIIING!

Bunyi dering alarm pagi hari membangunkanku dari mimpi aneh yang belakangan ini terus menghantuiku. Aku bersyukur itu hanya sebatas mimpi. Aku berusaha bangun dari singgasana yang nyaman ini, mengambil kacamata yang menjadi tumpuanku untuk melihat, kemudian menyambut realita yang kembali hadir di depan mata.

Hujan yang selalu menyelimuti hari ketika kisah ini ditulis membuat pikiranku berdialog mengenai berbagai reka adegan yang berkisar di tahun 2011. Terlihat belum terlalu lama, akan tetapi banyak hal yang telah terlewati hingga tulisan ini dibuat.

Rintikan hujan membantu pikiranku memproyeksikan dialog kecil tahun-tahun itu, salah satunya pada sebuah momen di bangku awal Sekolah Menengah Pertama, saat kisah hubunganku berakhir di salah satu ruangan suci di sekolah: Ruang BP.

Suasana di situ membuat seperti aku adalah orang yang patut dimusuhi di dunia. Tatapan matanya yang tajam menembus mataku.

“Maksud kamu apa ngirim-ngirim pesan tak senonoh macam itu?” tanya guru BP yang disambut dengan anggukan kedua orangtua Rina.

“Saya merasa tidak pernah mengirimkan pesan seperti itu.” Jawabku melakukan pembelaan atas diriku sendiri.

“Tapi ini kontaknya atas nama kamu, bukan? Ini nomor kamu, kan?” hardiknya.

“Benar itu nomor saya dan kontak saya, tapi bisa Ibu pastikan apakah saya orang yang akan melakukan pengiriman pesan tak senonoh begitu?”

Kurang lebih begitulah perbincangan yang tak selesai sampai berjam-jam ke depan akibat ulah seorang teman yang iseng mengirimkan pesan tak senonoh yang kalau di translate ke bahasa sekarang, “sayang, ena-ena, yuk?” melalui handphone-ku dan dikirim ke handphone Rina. Kebetulan yang menerimanya langsung adalah orangtua Rina sendiri.

Hubungan cinta monyet dengan kakak kelas beda satu tingkat ini berakhir tragis di ruangan BP. Aku dan Rina tak lagi saling menukar pesan karena handphone miliknya disita selama dua bulan lebih. Temanku yang kutahu mengirimkan pesan itu masih tak mau mengakui dosanya meskipun telah kubentak dan hampir kuhajar namun tak jadi karena dilerai oleh teman sekelas.

Mengapa setelah dua bulan itu aku tak melanjuti hubungan dengannya? Sebenarnya...... Aku juga tak lagi tahan dengan umpatan “Heh, Man. Mata lo burik ya? Kok bisa suka sama cewek kayak gitu?”

Selalu kujawab: “memangnya cinta hanya memandang fisik aja apa?”

Selalu dijawab kembali: “Dasar bego.”

Kisah percintaan selanjutnya masih oleh seorang kakak kelas, hanya beda dua tahun, Sarah namanya. Entah mengapa selalu mendapat seorang kakak kelas, aku juga tak tahu—tak begitu ingat. Mungkin cara pendekatan yang begitu agresif.

Dengan Sarah, hubungan ini berlangsung cukup lama; hampir satu setengah tahun yang selalu diiringi oleh drama. Ia seorang drama-queen. Pemain drama yang unggul dalam perannya.

Tak jarang diriku dihina-hina layaknya seorang yang tak punya harga diri, seperti orang yang stratanya jauh di bawahnya. “Dasar anjing lo!” tuturnya saat ia memutuskan hubungan ini. Tak ada hari tanpa bertengkar.

Apakah kamu tahu, salah satu penyebab pertengkaran kami? Karena di game The Simsyang populer di Facebook dulu, aku memasang status bersama orang lain yang tak ia kenal. Dia sempat mengancamku di tengah acara keluarga. Pernah juga bertengkar akibat aku telat membalas SMS karena sedang makan! Yang paling membuatku kesal adalah diriku dipaksa pergi dengannya ketika sedang menjenguk almarhum kakek dari ayahku. Anehnya aku tetap melaksanakan keinginannya.

Hidupku penuh kekangan seperti senapan; bahkan musik yang menjadi passion-ku hingga kini sempat dikekang. Aku tak boleh mengikuti satu acara perkumpulan penggemar band asal Inggris, Muse, sekaligus ngeband bareng di sebuah studio di Selatan Jakarta.
Saat ia lulus SMP dan melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMK, tingkat kadar keposesifannya melampaui dosis yang diberikan dokter. Ketakutannya tak beralasan membuatnya terlihat seperti berhayal bahwa ia tengah didekati lelaki yang lebih tampan, juga memberikan kesan bahwa aku bukanlah seorang yang bernilai.

Terakhir, ia mendatangiku yang sedang berbalas konversasi dengan teman-teman dan mengambil alih diriku secara paksa.

“Man, coba liat hp kamu sini!” paksanya.

“Ada apaan sih?”

“Buruan!”

Meskipun tak mau, tapi aku tetap memberikan handphone-ku kepada Sarah.

“Ini kan selingkuhan kamu?” katanya tak lama kemudian sambil memampangkan foto seorang wanita Brazil yang bermain The Sims Social bersamaku.

“Hah?” jawabku terpelongo.

“Ngaku aja!”

“Iya selingkuhan, tapi di game.”

Yang dibahas selanjutnya aku tak begitu ingat, yang bisa kuingat hanya hubunganku akhirnya kuakhiri di situ karena aku sudah begitu muak. Kuantarkan dia sampai depan rumahnya, sepanjang perjalanan ia terus memohon-mohon agar hubungan ini tak berakhir.

Kehidupan setelahnya bagai sebuah mimpi kebebasan yang diidam-idamkan para tahanan perang yang tak bersalah. Aku begitu menikmati masa-masa sendiriku. Teman-temanku pun merasa heran karena diriku nampak begitu senang setelah putus cinta.

Bundaku malah tertawa kencang karena katanya memang anak SMP seharusnya belum boleh cinta-cintaan. Biarlah, setidaknya Rina dan Sarah sama-sama memberikan banyak pengalaman penting untukku.

“Rasain!” kata Bunda.

Harus kuakui sekarang bahwa cinta semasa SMP itu benar-benar terlalu terburu-buru.

Sekitar pertengahan menuju akhir bulan September, handphone-ku beserta teman-temanku dicuri oleh segerombolan maling yang sangat cerdik juga bermulut manis menutup awalan perkenalan ini.

***


Minggu demi minggu tanpa kehadiran alat telekomunikasi yang di era informatika seperti sekarang ini menjadi sakral terasa begitu sulit berlalu meskipun telah memasuki bulan berikutnya. Iri rasanya melihat mereka yang asyik dengan handphone-nya, kemudian tertawa sambil tetap menatap layar. Diriku hanya bisa menunggu mendapat giliran menggunakan komputer untuk sekedar online di malam hari. Meskipun tetap harus kusyukuri.

Kebetulan juga, sekolahku sedang direnovasi sehingga memaksaku pindah sementara ke sekolah terdekat yang ternyata juga merupakan musuh bebuyutan sekolahku. Perpindahan tersebut memaksaku untuk pulang sekolah saat fajar sudah terlelap.

Hal itu membuatku berpikir secara tiba-tiba mengenai komunikasi ambigu di masa lampau saat berada dalam bus pulang; rasa ketika dua insan harus benar-benar mengucap rindu dalam sebaris kalimat dalam surat yang dikirimkan; juga penantian akan pengantar surat pos yang datang membalas rindu dari bumi belahan sana.

“Ada saatnya ketika jeda waktu memberi kita rasa penasaran yang amat mendalam,”pikirku.

Awal Oktober yang muram, komunitas pecinta Muse kembali menggelar acaranya yang ketiga di studio yang sama seperti saat diriku dikekang oleh Sarah.

Langit sore yang tak lagi menampakkan terik matahari seperti beberapa bulan yang lalu secara teduh menyinari bumi bilangan Jakarta Selatan, menyembunyikan rasa senang karena antusiasku. Tempat yang pernah memberikan kenangan buruk itu seakan beremetafora menjadi sebuah angin segar. Aku kembali menghadari acara itu bersama orang yang tak pernah jauh dari diriku, juga kehidupanku: Kakak dan adik.
Aku lupa memperkenalkan mereka dan malah curhat colongan mengenai pengalaman pahit sebagai pembuka cerita.

Baiklah, aku terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang ketiganya adalah laki-laki yang memiliki kegemaran yang hampir sama persis. Kakakku, Kang Naufal, adalah seorang pemain bass yang handal yang kini juga merangkap sebagai barista. Sementara adikku, Harry, adalah seorang pemain drum yang kini juga merangkap gitaris. Aku? Namaku Iman. Aku hanyalah seorang figuran yang mengambil alih cerita dari perspekfif ku sendiri.

Kami—tiga bersaudara, begitu akrab, terlepas dari semua hal semasa kecil kami yang sering bertengkar. Kami bertiga menyukai band yang sama, jenis musik yang sama, sama-sama bermain instrumen musik, dan sama-sama bermain dalam band. Hal tersebut merupakan alasan mengapa kami kembali menghadiri acara ini: musik yang menyatukan kami.

Antusiasme juga begitu terlihat dari wajah-wajah yang hadir di studio musik yang memiliki lobby ini. Pemandangan-pemandangan menyegarkan bagi para musisi bergeletakan di lobby studio yang terbilang cukup luas; mereka berkumpul, seakan telah berbincang tentang daya tarik mereka masing-masing yang membuat para musisi akhirnya memilih untuk meminang mereka.

Mata ini kembali menatap wajah-wajah yang telihat tak lagi begitu asing—meski baru sekali bertemu dengan mereka, peran media sosial dalam mengembangkan interaksi di antara kami pasca acara yang pertama diselenggarakan membuat mudah mengenali wajah-wajah mereka—kemudian menyalami mereka satu-satu hingga ke satu sudut yang hanya dihuni oleh satu orang yang tengah bersandar.

Seperti sebuah cerita klise, mataku kemudian hanya menatap satu sudut dari berbagai sudut keramaian; tempat seseorang bersandar pada tembok kaca dengan gayanya yang maskulin. Berkali-kali mataku mencoba mengkonfirmasi bias cahaya yang masuk tentang apakah ia seorang laki-laki atau perempuan hingga ia menyadari tatapanku dan membalasnya sambil tersenyum simpul. Aku langsung membuang pandangan seperti orang yang ketahuan tapi tak ingin terlihat ketahuan dengan degup jantung yang berdetak begitu cepat.

Seperti detektif dengan segala deduksinya, mataku kembali mencari-cari ke dalam sudut itu—membiarkan diriku terus menerka-nerka dalam antusias lain mengenai dirinya.

“Man? Dari mana aja lo?” tanyanya yang membuat lamunanku terbuyarkan.

“Eh elo, Wo. Acaranya belum mulai, kan?” tanyaku beretoris.

“Ini udah selesai, baru pada mau pulang!” Jawabnya dengan nada meledek sambil menjulurkan lidahnya kemudian yang menjadi kebiasaannya.

Ia memang orang yang lucu juga pandai bergaul. Ia mudah mendapat rasa hormat dari teman-temannya karena sifat ke rendah hatiannya juga karena kepiawaiannya mengayomi. Acara ini dapat diselenggarakan juga salah satunya karena dia. Panggil saja namanya dengan Bowo.

Obrolan kami berlanjut mengenai banyak hal, hingga ke hal terakhir yang masih tersimpan jelas di memoriku: bagaimana rasanya kehilangan telepon genggam di tangan pencuri yang lihai. Beberapa kali aku kembali mencoba melihat ke arahnya, seakan dirinya adalah magnet yang terus mengikat dari kejauhan. Kemudian Bang Bowo seperti kembali menanyakan sesuatu kepadaku.

“Hah?” kataku mencoba fokus. “kenapa tadi, Wo?”

“Lo ikut komunitas Paramore juga, Man?”

“Hm, iya. Kenapa emangnya?”

“Ini adek gue dari dulu nanyain mulu komunitas Paramore,” jelasnya.

“Adek lo? Lo punya adek?” tanyaku penasaran.

Selama aku mengenalnya, termasuk dalam pertemuan pertama kami, ia sama sekali tak pernah menyinggung mengenai adiknya. Di facebook-nya pun tak ada foto ia bersama sang adik.

“Ini adek gue. Kenalin.”

Orang yang sedari tadi bertukar pandangan dalam isyarat inilah yang tengah berkenalan denganku—seseorang yang anggun saat ia bersender di tepi tembok kaca, menyendiri dalam keramaian.

“Chelsea,” ujarnya dengan suaranya yang lembut disambut dengan senyuman manis yang membelakangi matahari yang akan terbenam. Wajah imutnya begitu langsung terukir indah sejalan dengan waktu yang berjalan.

Kata-kataku di atas tadi juga termasuk klise, namun tak ada kata klise lain yang langsung muncul dalam benakku yang bisa mendeskripsikan segalanya.

Meski ia terlihat begitu tomboy, dan harus diakui sedikit lebih tampan daripada diriku, suaranya juga begitu halus layaknya seorang wanita yang penyayang.

“Iman,” jawabku malu sambil mengulurkan tanganku. “salam kenal,”

“Tuh, ajak-ajak Chelsea kalo ada acara!” sahut Bowo.

“Boleh,” kataku sok keren. “nanti pasti gua kabarin kalo ada acara,”

Ia hanya menganggukan kepalanya sambil tersipu malu, menutup perkenalan singkat di lobby studio yang secara mendadak memiliki hawa romantis.

***


Hawa romantis dengan cepat berganti dengan alunan nada progresif khas Muse yang mengalun, memulai malam yang panjang di dalam studio.

Di bawah alunan nada progresif, mataku kembali mencoba memandang seseorang yang baru saja melakukan perkenalan secara singkat denganku. Beberapa kali ia mendapati mataku menatap ke arahnya. Hal ini membuatku merasakan degup jantung cepat seperti lagu yang sedang dimainkan. Perasaan senang yang tak menentu, tapi terasa begitu adiktif.

Ia bernyanyi dengan merdu, meski sebenarnya tak terdengar apa-apa karena ia bernyanyi tanpa menggunakan microphone. Suaranya juga tertimpa dengan suara teman-teman yang lain. Entah mengapa aku tetap menganggapnya memiliki suara yang bagus.

Tatapanku berhenti ketika teman-temanku menyuruh kami bertiga untuk menunjukan kebolehan kami di atas panggung. Awalnya, Harry menolak ajakannya, mungkin karena malu, tetapi beberapa menit kemudian pikirannya berubah dari pesan persuasif yang ia dengar.
Kami bertiga berdialog di atas panggung, memikirkan lagu yang ingin kami mainkan secara mengalir, kemudian memasang dan mencoba menyelaraskan instrumen masing-masing. Atas ide isengku, kusisipkan beberapa lagu Paramore demi menarik perhatiannya yang duduk di depan sebelah kanan dari atas panggung untuk [i]sound check.[/i[]

Kulirik sebentar kearahnya, dan ia benar-benar memperhatikanku. Meskipun sebenarnya satu studio pun juga memperhatikanku. Tepatnya gitar yang kupinjam dari Bowo; Sebuah gitar yang benar-benar mirip dengan milik sang gitaris.

Sebelum memutuskan maju dan meminjam gitar, aku sempat mendengar percakapan mereka berdua yang sedikit lumayan terdengar dari tempatku duduk.

“Ciee abang gitar baruu!” ledek Chelsea. “kaosnya jugaa,”

“Kenapa kaosnya dibawa-bawa?”

“Selain gitarnya, kaosnya juga keren,”

“Oh, mau?” tanya Bowo. “Nih, ambil!”

“Gitarnya? Wah, seriusan bang? Asiiik!” ujar Chelsea dengan nada imut.

“Bukan, tapi kaosnya. Buat dicuci,”

Oke, kuralat. Tidak sedikit yang kudengar, tapi sehabis itu percakapan mereka benar-benar tak lagi terdengar, berganti dengan suara instrumen yang dimainkan.

Mereka terasa begitu akrab. Bagiku, pemandangan itu terlihat seperti sesuatu yang lebih dari sekadar kakak-adik.

Ketika giliranku tampil, aku tak lagi mempedulikan siapa yang berada di tempat penonton. Aku hanya berkonsentrasi kepada permainan kami yang akhirnya memainkan sekitar dua atau tiga lagu dengan sambutan yang luar biasa, seperti semua menyatu untuk bernyanyi bersama (padahal dari tadi juga seperti itu). Musik seperti menjadi alat komunikasiku saat ini. Ia menjadi bagian dari media penyampaian pesan yang efektif.

Harus kuakui, di tengah permainan aku sempat kembali menatap Chelsea, untuk sekaradar memotivasi. Aura keanggunan dari dirinya yang terdiam manis begitu terpancar. Meski dalam ruang dan waktu yang sama, aku hanya tetap bisa menatapnya dari kejauhan. Tak ada lagi pertukaran kata yang kami lakukan. Sampai kami benar-benar keluar dari studio menuju lobby awal perkenalan singkat tadi.

Bayanganmu yang melihatku sambil tersenyum itu sungguh adiktif, tapi nyatanya hal itu tak pernah datang kembali. Rasa takut benar-benar menguasaiku. Mulut ini terututup begitu rapat dalam tubuh gemetar yang terus menyemangati diri sendiri untuk terus maju.

Sepatah kata yang akhirnya berhasil kuucapkan hanyalah sebatas “Pulang duluan, ya,” sambil memasang wajah keren dan bersalaman dengannya, meninggalkan lobby studio yang mulai gelap.
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:25
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.