- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#185
Kikan berdiam diri melamun di pojokan kelas. Tak ada gunanya memperhatikan pelajaran pikirnya. Ia tak pernah merasakan kesulitan apapun dalam pelajaran. Di pertengahan siang begini, perutnya menolak untuk berdamai dan sudah mulai mengusik ketenangan belajar. Roy, si ketua kelas macho duduk di sebelahnya. Beda dengan dirinya, Roy tipe anak yang serius belajar dan cenderung disukai oleh guru. Ganteng, tubuh atletis, kacamataan pula membuat dia kaya anak jenius, tapi yang paling keren adalah stylenya yang selalu rapih dan klimis. Entahlah ini anak cetakannya dari apa, bikinnya bisa jadi bener gini, pikir Kikan dalam hati sambil matanya menatapi naik turun mahluk yang duduk di sebelahnya itu.
“Kikan, kamu suka sama si Roy ya?” Suara berat Pak Umar si guru killer Bahasa Inggris memecah keheningan seisi kelas dan sontak semua anak sekarang berpaling menengok ke arah meja paling belakang kiri tempat Kikan dan Roy duduk.
“Eh .. Enggak pak? Kok Bapak bilang gitu?”
“Kamu Bapak perhatikan dari tadi matanya melototin Roy melulu naik turun naik turun. Kamu cari apa di bajunya si Roy?”
Tak ayal semua anak-anak tertawa riuh rendah. Kelas yang tadinya hening jadi hingar bingar.
Kikan sudah memerah pipinya menahan malu sementara si Roy tetap dengan stay cool tersenyum tipis ke arah Kikan.
“Cieeeee…” anak-anak makin menjadi dalam ledekan spontannya melihat senyum Roy tersebut.
“If you like him, tell him. Jangan malah dipendam. Nanti kentut kamu disitu.” Pak Umar malah meracau.
Anak-anak tambah jadi lagi, bahkan sampai ada yang bersuit kencang segala.
Suara Pak Umar menggelegar, “Siapa itu yang bersuit?!”
Kelas kembali sunyi dalam sekejap.
“Ke depan yang tadi bersuit!”
Awalnya tidak ada yang bergerak, semua cuma saling pandang.
“Saya hitung sampai 3! Semua saya hukum hadap bendera!” Pak Umar menggertak.
Dengan langkah gontai, malas, muka pasrah, Bayu Ceking beranjak dari duduknya dan berdiri di depan kelas seraya tertunduk mata menatap lantai.
Pak Umar melangkah mendekati pelan tapi pasti, “Jadi kamu yang tadi bersuit kencang?!”
Suaranya dan kumisnya membuat Bayu makin gemetar. Nyalinya hilang dibawa angin. Ia tak berani menatap si guru killer, “ya pak. Saya.”
Anak-anak sekelas menahan napas. Terbayang hukuman apa yang bakal diterima Bayu Ceking. Beberapa anak wanita malah menutup mata seperti saat sedang menonton film horror scene hantunya pas mau muncul.
Tapi di luar dugaan, si Pak Umar berkata pelan nan lembut, “Ajari Bapak bersuit nak. Bapak suka kesulitan memanggil abang nasi goreng yang sudah lewat kejauhan.”
Eaaaaa. Cape deh. Begitulah ekspresi anak-anak sekelas lega sekaligus tak ayal menepuk jidat lihat kelakuan konyol si guru killer. Dan pas pula bel panjang tanda istirahat kedua berbunyi.
“Ya. Silakan istirahat anak-anak,” ucap Pak Umar.
Anak-anak berlarian keluar kelas. Sebagian menuju kantin, dan sebagian menuju toilet. Ada juga yang langsung berlari ke ruang olahraga, tak lain untuk ambil bola futsal atau bola basket. Segera saja kelas itu tinggal dihuni dua orang penunggunya. Kikan dan Roy.
Kikan memang ogah kemana-mana, karena dia malas mondar-mandir dengan crutchnya. Sementara Roy terlihat masih asyik menulis sesuatu di buku pelajarannya.
“Roy,” Kikan menyapa.
“Mmm.” yang dipanggil tak menoleh, masih tetap mencatat.
“Sorry ya tadi.”
“Ah gapapa.”
Kikan tersenyum.
“Kamu kok gak istirahat Roy? Rajin amat nyatetnya.”
“Ini bukan nyatet kok Kikan.”
“Terus kamu dari tadi ngapain? Bukannya nyatet?”
Roy berbalik dan menghadap ke arah Kikan, memperlihatkan apa yang ada di buku yang ia genggam.
Gambar sketsa komik yang luar biasa bagus!
“Jadi kamu dari tadi, ngegambar?”
“Iya. Bagus nggak?”
“Bagus. Bagus banget malah!” Kikan antusias.
“Aku masih belajar. Mau jadi pelukis, tapi mungkin di kelas begini, aku sempatkan saja curi-curi buat gambar sketsa.”
“Ooh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Kikan.
“Itu cita-cita kamu mau jadi pelukis?”
“Ya. Aku lulus SMA ini mungkin mau langsung berangkat ke Eropa, kemungkinan cari sekolah Seni di negara yang ada di Eropa sana, Jerman atau Prancis mungkin, entahlah. Tapi yang pasti aku ingin karirku dan pendidikanku satu jalur.”
Makjleb banget anak ini, pikir Kikan. Sudahlah ganteng iya, pintar iya, keren iya, tapi yang ada di pikirannya cuma pendidikan sama karir. Sementara dirinya hanya memikirkan cinta-cintaan melulu.
Kikan mendadak merasa tubuhnya menyusut di hadapan rekan sebangkunya itu.
“Aku mau ke kantin, titip apa Kan?” Roy yang sudah berdiri menawarkan.
“Nu Green tea aja Roy satu yang madu ya.”
“OK. Siap.”
Roy berlalu. Tinggallah Kikan sendiri di kelas itu. Kak Lowry. Kak Sierra semua pendidikan luar negeri. Roy mau ke luar negeri. Riko di luar negeri. Mama Papa di luar negeri. Kenapa sih semua orang pada nggak ‘stay’ di Indonesia saja. Kikan yang paling susah urusan adaptasi selalu jadi bagian yang paling kesepian karena selalu ditinggal di keluarganya.
Baginya, semua yang ada di Indonesia sudah cukup. Tapi kenyataan berkata lain, kualitas pendidikan luar negeri memang jadi idaman banyak orang terlebih lagi unsur prestisiusnya. Namun baginya, pergi ke luar negeri, bagaikan suatu kompetisi lari maraton yang sangat jauh dan melelahkan. Ia takut tenaganya tak cukup untuk bisa selamat hingga akhir garis finish. Kalaupun ia keluar negeri, ia akan sangat membutuhkan seseorang untuk ada disampingnya.
Tiba-tiba saja bayangan Lowry dan Roy bersanding di imajinasi anehnya. Saat ia sedang tersenyum-senyum memilih satu diantara dua, tiba-tiba saja wajah Roy berganti menjadi wajah Sierra.
Oh no! Roy dan Sierra satu tipe! Tipe yang tidak pernah peduli dengan Kikan!
Tersadar akan kenyataan buruk seperti itu, Kikan menggulung buku teks bahasa Inggris dan memukul meja dengan kuat.
“Damn!”
Tanpa sepengetahuan Kikan, Roy sudah berdiri di samping meja dengan titipan Nu Green Tea di tangannya.
“Kenapa mejanya Kan? Kok dipukulin?”
Kikan malah jadi salting sekarang.
“Enggak papa kok Roy. Thanks teh nya ya.”
Seraya menenggak tehnya, Kikan berpikir bahwa meskipun sekarang memang belum ia benar-benar akan sangat butuh Lowry dalam hidupnya.
“Kikan, kamu suka sama si Roy ya?” Suara berat Pak Umar si guru killer Bahasa Inggris memecah keheningan seisi kelas dan sontak semua anak sekarang berpaling menengok ke arah meja paling belakang kiri tempat Kikan dan Roy duduk.
“Eh .. Enggak pak? Kok Bapak bilang gitu?”
“Kamu Bapak perhatikan dari tadi matanya melototin Roy melulu naik turun naik turun. Kamu cari apa di bajunya si Roy?”
Tak ayal semua anak-anak tertawa riuh rendah. Kelas yang tadinya hening jadi hingar bingar.
Kikan sudah memerah pipinya menahan malu sementara si Roy tetap dengan stay cool tersenyum tipis ke arah Kikan.
“Cieeeee…” anak-anak makin menjadi dalam ledekan spontannya melihat senyum Roy tersebut.
“If you like him, tell him. Jangan malah dipendam. Nanti kentut kamu disitu.” Pak Umar malah meracau.
Anak-anak tambah jadi lagi, bahkan sampai ada yang bersuit kencang segala.
Suara Pak Umar menggelegar, “Siapa itu yang bersuit?!”
Kelas kembali sunyi dalam sekejap.
“Ke depan yang tadi bersuit!”
Awalnya tidak ada yang bergerak, semua cuma saling pandang.
“Saya hitung sampai 3! Semua saya hukum hadap bendera!” Pak Umar menggertak.
Dengan langkah gontai, malas, muka pasrah, Bayu Ceking beranjak dari duduknya dan berdiri di depan kelas seraya tertunduk mata menatap lantai.
Pak Umar melangkah mendekati pelan tapi pasti, “Jadi kamu yang tadi bersuit kencang?!”
Suaranya dan kumisnya membuat Bayu makin gemetar. Nyalinya hilang dibawa angin. Ia tak berani menatap si guru killer, “ya pak. Saya.”
Anak-anak sekelas menahan napas. Terbayang hukuman apa yang bakal diterima Bayu Ceking. Beberapa anak wanita malah menutup mata seperti saat sedang menonton film horror scene hantunya pas mau muncul.
Tapi di luar dugaan, si Pak Umar berkata pelan nan lembut, “Ajari Bapak bersuit nak. Bapak suka kesulitan memanggil abang nasi goreng yang sudah lewat kejauhan.”
Eaaaaa. Cape deh. Begitulah ekspresi anak-anak sekelas lega sekaligus tak ayal menepuk jidat lihat kelakuan konyol si guru killer. Dan pas pula bel panjang tanda istirahat kedua berbunyi.
“Ya. Silakan istirahat anak-anak,” ucap Pak Umar.
Anak-anak berlarian keluar kelas. Sebagian menuju kantin, dan sebagian menuju toilet. Ada juga yang langsung berlari ke ruang olahraga, tak lain untuk ambil bola futsal atau bola basket. Segera saja kelas itu tinggal dihuni dua orang penunggunya. Kikan dan Roy.
Kikan memang ogah kemana-mana, karena dia malas mondar-mandir dengan crutchnya. Sementara Roy terlihat masih asyik menulis sesuatu di buku pelajarannya.
“Roy,” Kikan menyapa.
“Mmm.” yang dipanggil tak menoleh, masih tetap mencatat.
“Sorry ya tadi.”
“Ah gapapa.”
Kikan tersenyum.
“Kamu kok gak istirahat Roy? Rajin amat nyatetnya.”
“Ini bukan nyatet kok Kikan.”
“Terus kamu dari tadi ngapain? Bukannya nyatet?”
Roy berbalik dan menghadap ke arah Kikan, memperlihatkan apa yang ada di buku yang ia genggam.
Gambar sketsa komik yang luar biasa bagus!
“Jadi kamu dari tadi, ngegambar?”
“Iya. Bagus nggak?”
“Bagus. Bagus banget malah!” Kikan antusias.
“Aku masih belajar. Mau jadi pelukis, tapi mungkin di kelas begini, aku sempatkan saja curi-curi buat gambar sketsa.”
“Ooh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Kikan.
“Itu cita-cita kamu mau jadi pelukis?”
“Ya. Aku lulus SMA ini mungkin mau langsung berangkat ke Eropa, kemungkinan cari sekolah Seni di negara yang ada di Eropa sana, Jerman atau Prancis mungkin, entahlah. Tapi yang pasti aku ingin karirku dan pendidikanku satu jalur.”
Makjleb banget anak ini, pikir Kikan. Sudahlah ganteng iya, pintar iya, keren iya, tapi yang ada di pikirannya cuma pendidikan sama karir. Sementara dirinya hanya memikirkan cinta-cintaan melulu.
Kikan mendadak merasa tubuhnya menyusut di hadapan rekan sebangkunya itu.
“Aku mau ke kantin, titip apa Kan?” Roy yang sudah berdiri menawarkan.
“Nu Green tea aja Roy satu yang madu ya.”
“OK. Siap.”
Roy berlalu. Tinggallah Kikan sendiri di kelas itu. Kak Lowry. Kak Sierra semua pendidikan luar negeri. Roy mau ke luar negeri. Riko di luar negeri. Mama Papa di luar negeri. Kenapa sih semua orang pada nggak ‘stay’ di Indonesia saja. Kikan yang paling susah urusan adaptasi selalu jadi bagian yang paling kesepian karena selalu ditinggal di keluarganya.
Baginya, semua yang ada di Indonesia sudah cukup. Tapi kenyataan berkata lain, kualitas pendidikan luar negeri memang jadi idaman banyak orang terlebih lagi unsur prestisiusnya. Namun baginya, pergi ke luar negeri, bagaikan suatu kompetisi lari maraton yang sangat jauh dan melelahkan. Ia takut tenaganya tak cukup untuk bisa selamat hingga akhir garis finish. Kalaupun ia keluar negeri, ia akan sangat membutuhkan seseorang untuk ada disampingnya.
Tiba-tiba saja bayangan Lowry dan Roy bersanding di imajinasi anehnya. Saat ia sedang tersenyum-senyum memilih satu diantara dua, tiba-tiba saja wajah Roy berganti menjadi wajah Sierra.
Oh no! Roy dan Sierra satu tipe! Tipe yang tidak pernah peduli dengan Kikan!
Tersadar akan kenyataan buruk seperti itu, Kikan menggulung buku teks bahasa Inggris dan memukul meja dengan kuat.
“Damn!”
Tanpa sepengetahuan Kikan, Roy sudah berdiri di samping meja dengan titipan Nu Green Tea di tangannya.
“Kenapa mejanya Kan? Kok dipukulin?”
Kikan malah jadi salting sekarang.
“Enggak papa kok Roy. Thanks teh nya ya.”
Seraya menenggak tehnya, Kikan berpikir bahwa meskipun sekarang memang belum ia benar-benar akan sangat butuh Lowry dalam hidupnya.
Diubah oleh rahan 25-12-2014 23:58
0