Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
728.7K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#1577
PART 72
Beberapa Hari Kemudian

Gw pandangi segelas kopi hitam yang ada di depan gw sambil mengaduk pelan menggunakan sendok kecil. Sesekali gw tengok kiri dan kanan sekitar kantin dimana banyak mahasiswa sedang sibuk dengan urusannya masing masing. Ada yang makan, ada yang ngobrol sambil tertawa teriak teriak, ada pula yang sibuk dengan laptopnya, dan ada juga yang menyendiri menyumpal telinganya dengan headset.

Sambil menunggu kopi agak dingin, gw membakar sebatang rokok berlogo huruf 'A' lalu menghisapnya dalam dalam. Gw merasa senang berada disini, menyendiri di tengah kerumunan orang ditemani kopi dan rokok. Selanjutnya gw terhanyut oleh lamunan kosong seiring berhembusnya nafas dan asap putih keluar dari mulut gw.

Ketika asik melamun, mata gw dikejutkan dengan sosok gadis manis berjalan di lorong menuju kantin. Langkahnya lambat tidak sempurna, dia sedikit pincang ketika berjalan. Namun kelihatannya dia sudah jauh lebih baik sekarang.

Ana segera duduk di sebuah kursi, jauh di depan gw. Posisi dia kurang lebih berjarak 4 meja dari tempat gw duduk. Dia melihat gw yang tengah asik ngebul kemudian pandangan kami bertemu. Dia diam saja tidak menegur gw, sama halnya dengan gw. Biarlah, gw nggak peduli. Toh urusan gw sama dia sudah beres, dia sudah nampak sehat sekarang. Lagipula siapa dia?

Sementara di dalam diri gw masih tersimpan dendam. Dendam yang cukup membara terhadap si Dani 'comet' cowoknya Ana. Jujur gw tidak terima atas apa yang dia perbuat ke gw. Saat itu gw memang diam, tapi bukan berarti gw takut. Gw hanya berusaha menjaga keadaan tetap tenang. Karena memang prinsip gw, gw nggak mau ribut cuma gara gara masalah perempuan. Menurut gw hal itu sangatlah memalukan. Mungkin lain waktu gw bisa ketemu lagi sama tuh cowok berengsek. Dan tuh cowok bakalan gw jadiin cemilan khas sumedang A.K.A. Comet. Nah yang nggak tau apa itu comet, silahkan cari di gugel.

"Gw udah di D***S nih. Buruan lu kesini. Gw tunggu di lantai 4 ama Yogo." Message from Edo.

"Okeeh...Gw kesana!!" Sent to Edo.

Ya, siang menjelang sore ini gw sudah janjian dengan kedua kawan gw untuk tanding biliard. Mereka berdua nafsu banget nantangin gw. Ngakunya mah jago, jawara di daerah masing masing. Gw pun penasaran, mereka sejago apa sih? Kemudian dengan cepat gw habiskan sisa kopi lalu mematikan rokok di atas asbak. Sebelum gw bangkit dari tempat duduk, gw sempat melirik ke arah Ana dan lagi lagi pandangan kami saling bertemu. Dia melemparkan sedikit senyuman ke arah gw namun gw tak menanggapinya. Lantas gw buru buru berjalan meninggalkan kantin menuju parkiran. Sesaat sebelum berangkat, terlebih dahulu gw sms Bunga.

"Kamu udah keluar kelas belum?" Sms sent to Bunga.

"Iya sebentar lagi sayang...Kamu tunggu di halte aja." Balas dia.

"Oke..." Balas gw.

Dengan santai gw kendarai Jupi menuju halte depan gedung Fakultasnya. Sesampainya disana kemudian gw membakar sebatang rokok untuk membunuh waktu. Sekitar 10 menit gw menunggu, akhirnya Bunga menampakkan diri keluar dari lobi gedung. Dia tidak sendiri. Ada seorang laki laki cukup 'tampan' berjalan disampingnya. Mereka terlihat akrab. Sesekali gw lihat Bunga tersenyum pada laki laki itu, dan gw cemburu. Ya! Cemburu!
Walaupun semenjak SMA dia selalu dikelilingi cowok satu sekolahan, perasaan gw biasa saja. Tidak cemburu sedikitpun. Namun sekarang sepertinya ada yang berbeda. Entahlah, mungkin ini hanya perasaan gw saja.

"Udah lama disini?" Tanya dia.

"Lumayan." Jawab gw singkat.

"Kamu udah makan?"

"Belum..."

"Cari makan yuu"

"Males....!!!

"Kamu kenapa?" Tanya dia dengan wajah heran.

"Itu tadi cowo siapa?" Gw balik bertanya.

"Yang mana?"

"Yang tadi jalan bareng sama kamu."

"Oh. Itu senior aku."

"Dari tadi aku merhatiin. Kayanya mesra banget jalannya." Ucap gw sembari manyun.

"Mesra apaan orang biasa aja."

"......" Gw diem.

"Oh aku tau..." Ujarnya.

"Apa?"

"Kamu cemburu?"

"......" Gw menggeleng.

"Haha, kamu cemburu kan? Ngaku?"

"......."

"Aku seneng deh kalo kamu cemburu..." Ucapnya sambil nyengir.

Apaan sih ini si Jembung! Orang lakinya cemburu begini malah seneng. Gw kadang nggak ngerti sama pola fikir wanita yang ribet dan susah ditebak.

"Kalo kamu cemburu berarti itu tandanya sayang. Berarti kamu sayang sama aku, kamu pedui sama aku. Ya kan?" Ujarnya.

"......."

"Makasih yaa udah cemburu." Ujarnya.

"......"

"Aku seneng punya kamu...." Ucapnya sambil tersenyum manis.

Yah, dia emang paling bisa bikin gw senyam senyum sendiri. Dia emang paling jago mengembalikan mood gw yang tadinya sempat turun menjadi naik kembali. Dan dia juga paling bisa mengaduk aduk perasaan gw yang tadinya kesal, menjadi tenang kembali.

"Udah nggak usah manyun ah. Jelek!" Ucapnya.

"......" Gw nyengir.

"Nyengirnya juga biasa aja atuh! Jelek!"

"Manyun dibilang jelek, nyengir dibilang jelek!" Gerutu gw.

"Hehe...Yu kita jalan." Ajaknya.

"Emm, kita Ke D***S dulu ya." Ajak gw.

"Ngapain?" Tanya dia.

"Ada yang nantangin maen biliard."

"Wee siapa?"

"Temen aku. Nanti sekalian aku kenalin ke kamu" Ucap gw.

"Siapa? Cewe/cowo?"

"Ya cowo lah..."

"Hehe yaudah yuk. Tapi jgn pulang sore sore. Nanti dimarahin Bunda." Ucapnya.

"Iya tenang."

"Nanti pulangnya beli pecel lele dulu ya..."

"Iya..."

"Terus mampir ke Ind***rt beli eskrim"

"Iya bawell!"

Kami pun akhirnya berangkat ke Mall D***S yang jaraknya tidak jauh dari kampus. Setelah memarkir Jupi di parkiran, kami memasuki mall lalu menaiki eskalator menuju lantai 4. Suasana disini lumayan ramai. Banyak anak muda yang sebagian besar mahasiswa pada nongkrong. Apalagi disini ada twentiwan. Tapi kami tidak kesana, walau Bunga sedikit merengek minta diajak nonton.

Sampailah kita di tempat biliard lantai 4. Disana sudah ada kedua kawan gw yang lagi sodok sodokan. Maksudnya nyodok bola bukan yang lain. Mungkin lagi pemanasan.

"Lama lu!" Ujar Edo.

"Hehe biasa gw jemput nyonya besar dulu."

"Siapa?"

"Bunga, kenalin nih temen aku." Ucap gw pada Bunga.

"Bunga....."

"Edo...."

"Yogo....."

Lalu sudah bisa ditebak kalau ini bocah berdua malah bengong melototin Bunga. Apalagi si Yogo ini. Dia ngeliatin Bunga dari atas sampe bawah terus balik lagi ke atas. Kebiasan nih penyakit!

"Biasa aja nyet mata lu!" Bisik gw pada Yogo.

"........" Si Yogo nyengir.

"Nih pembukaan lawan gw sini lu!" Ujar si Edo tiba tiba.

"Lu berdua aja duluan. Gw ntar aja." Ucap gw.

"Takut sampean?" Ucap Edo sambil nyengir.

"Haha...Gw cuna mau liat sejago apa sih lu bedua!" Ujar gw sambil nyengir.

"Jehh ngeremehin gw! Yaudah Go rapiin bolanya!" Ucap Edo.

"Tar dulu woi bikin aturan dulu dong!!" Ujar si Yogo.

"Yaudah apaan?" Tanya Edo.

"Yang kalah beliin pulsa 25 rebu!" Ucap si Yogo.

"Wooh oke!" Balas Edo.

"Udaah kagak usah pake taruhan lah. Yang kalah ngolong aja 15 menit." Ucap gw.

"Nggak rame dong ah.."

"Yeh buat permulaan mah gitu aja dulu. Daripada lu ntar gigit jari beliin pulsa 25 rebu. Gw sih kesiaan ke lu lu pada." Ujar gw sombong.

"Sembarangan luh kalo ngomong!" Ujar Yogo.

"Yaelah, buru sana mulai!" Ucap gw.

Akhirnya judi pulsa 25 rebu pun dibatalkan. Gw sih kasian sama mereka berdua kalo kalah bakalan ngeluarin nguras isi kantong. Bukannya apa apa gw ngomong gitu, sebab gw kesini bawa atlet. Ya, Bunga.

Gw memperhatikan permainan mereka berdua, dan hasilnya bisa dibilang lumayan jago. Lantas gw jadi takut dan pesimis bisa menang dari mereka. Yah, gw memang ga ada bakat sama sekali maen beginian. Permainan pun berakhir dimenangkan oleh Edo. Dengan sangat menjunjung tinggi sportifitas, maka si Yogo masuk kolong meja berdiam diri ngelipet laki selama 15 menit.

"Hahaha liatin yank temen kamu lucu tuh!" Tawa Bunga.

"Hahaha..."

"Merene koe cuk!" Tantang Edo pada gw.

Ah sial sekarang giliran gw ternyata. Waduh gimana nih? Sedangkan gw amatiran banget maen beginian. Saat itu gw pasrah sebab sudah pasti gw bakalan kalah. Tapi untungnya ada Bunga...

"Lu lawan murid gw dulu yaak." Ucap gw sambil menunjuk ke arah Bunga.

"......." Bunga melototin gw.

"Yah masa gw lawan Bunga...Lu dong sini!" Ucap Edo.

"Lawan dia aja dulu, kalo bisa menang sama dia baru lawan gw." Ujar gw sombong.

"Ah bilang aja takut lu!" Ujar Edo.

"Udah ga pake protes, lawan aja dulu!!"

"Ayoo Edo kita main...." Ucap Bunga.

Kemudian Bunga mengambil sebuah stik. Terlihat dia membidik bidik gagang stik mengecek kelurusannya. Lalu menggosok ujung stik dengan 'kapur' yang warna biru. Sementara Edo sibuk menata bola menggunakan cetakan berbentuk segitiga. Dibawah Meja terlihat Yogo dengan raut wajah kesal meringkuk bak kodok kelaperan. Dia cuma bisa ngoceh aja sendirian tanpa kami hiraukan ocehannya. Terima nasibmu anak muda!

"Jebret!"

Edo ngebrik duluan tapi sayang tidak ada satupun bola yang masuk. Sekarang ganti giliran Bunga. Dia membidik bola, mengayunkan stik lalu menyodok bola putih, tapi dia gagal memasukkan bola. Nggak biasanya nih dia begini. Biasanya mah langsung cemplang cemplung itu bola pada masuk. Mungkin dia gugup atau grogi atau...ah sudahlah. Mendadak gw jadi kebelet pengen buang air. Gw meminta izin pada mereka untuk ke toilet. Lantas gw buru buru masuk ke dalam twentiwan. Gw pake toilet twentiwan karena emang yang paling deket ya disitu.

Setelah dari toilet, gw menuju foodcourt yang letaknya tak jauh dari sini. Gw membeli beberapa softdrink untuk kawan gw dan bidadari gw yang lagi pada asik main biliard. Gw pun kembali ke tempat biliard dengan membawa tiga botol akwa. Namun sesampainya disana gw melihat Bunga sedang duduk sendirian di sebuah sofa sambil cekikikan.

"Loh udahan? mainnya" Tanya gw.

"Udah...."

"Edo ama Yogo mana?" Tanya gw lagi.

"Tuh disana....." Ucapnya sambil menunjuk ke arah kolong meja Biliard.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.