- Beranda
- Sejarah & Xenology
Romawi - Dari Republik menuju ke Kekaisaran
...
TS
widyanpanji
Romawi - Dari Republik menuju ke Kekaisaran
VENI, VIDI, VICI
Quote:
Quote:
OTHER THREAD
INDEX
- Sejarah awal dan lembaga pemerintahan
- Tiga Perang Punisa
- Pertempuran Pydna
- Reformasi Marian
- Caesar's Civil War
- Senate of Roman Kingdom- khiekhan
- Senate of Roman Republic - khiekhan
- Konstitusi Romawi - khiekhan
- Majelis Romawi - khiekhan
- Etruscans, Suku - suku Apennine dan Latins - wongkamp
- Raja raja di masa awal Roma - wongkamp
Quote:
Diubah oleh widyanpanji 08-11-2015 20:01
0
16.1K
50
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
khiekhan
#29
Roman Assembly
Roman Assembly
Roman Assembly (Majelis Romawi) adalah badan Politik pada masa Romawi. Menurut Polybius, Rakyat-lah (dan dengan demikian Majelis) yang dapat mengambil keputusan final terkait pemilihan Magistrates, pembangunan patung dan monumen, pemberian hukuman mati, pernyataan perang dan damai serta pembentukan dan pembubaran aliansi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa rakyat(melalui Majelis)-lah pemegang kedaulatan negara.
Tidak seperti DPR dan MPR di Indonesia, demokrasi yang diterapkan bangsa Romawi adalah demokrasi langsung, sehingga rakyat tidak memilih perwakilan dan meilih sesuai dengan majelisnya masing-masing. Secara hukum, setiap Majelis dipimpin oleh seorang Magistrate, yang bertugas untuk memastikan kesesuaian dan legalitas dari setiap perkumpulan yang dilakukan majelis. Namun demikian, pada prakteknya, pimpinan majelis memiliki kendali mutlak atas majelis yang ia pimpin, dan seringkali mengarahkan dan menetukan keputusan setiap majelis, dan keputusan mereka hanya dapat di-veto oleh Magistrate dengan posisi lebih tinggi. Cth: Keputusan Praetor dapat dianulir oleh Consul.
Pemungutan Suara
Pada dasarnya, majelis rommawi dapat dibagi menjadi dua tipe, Comitia (Komite) dan Councilioum (Council/dewan?). Comitia beranggotakan seluruh warga Romawi, dan memutuskan keputusan-keputusan resmi, seperti menetapkan atau meratifikasi sebuahn Hukum. Counsilium adalah majelis yang beranggotakan kelompok tertentu dari rakyat romawi (Counsilium Plebis hanya berangotakan warga dari kelas plebian). selain itu ada pula Pertemuan (Convention) yang adalah pertemuan tidak formal masyarakat, dan hasil pertemuan tersebut tidak berkekuatan hukum. namun convention digunakan sebagai sarana loby maupun kampanye politik, karena para pemilih selalu berkumpul bersama convention-nya sebelum memilih di majelisnya masing-masing.
Dalam satu waktu, hanya boleh ada satu komite yang berkumpul/bersidang. Dengan demikian, Comitia Curiata tidak dapat bersidang saat Comitia Centuriata sedang bersidang. Jika suatu siding sedang berlangsung, siding tersebut dapat dibubarkan oleh magistrate pimpinan majelis tersebut. Selain pejabat pemimpin majelis, magistrate lain dapat pula menghadiri sidang dan bertindak sebagai “asisten” untuk membantu menyelesaikan permasalahan prosedural dan/atau sebagai wadah untuk mengajukan banding atas keputusan majelis kepada pemimpin majelis. Selain para Magistrates, hadir pula para pejabat keagamaan (Augurs) untuk membantu mengartikan petunjuk dari dewa (omen), karena masyarakat roma adalah masyarakat yang sangat religius dan percaya bahwa para dewa akan memberitahukan kehendak mereka atas suatu kejadian.
Prosedur Pemungutan suara dalam Majelis-Majelis Romawi pada umumnya adalah sebagai berikut:
dalam hal majelis memungut suara untuk memilih Magistrate atau menetapkan hukum
1. Sebelum pemungutan suara dilakukan, pengumuman wajib disebarkan setidak-tidaknya selama tiga hari pasar sebelum pemungutan suara dilakukan. masa antara pengumuman dan hari pemungutan suara dilakukan disebut trinundinum
2. Selama masa trinundinum, calon magistrate boleh melakukan kampanye. Jika pemungutan dilakukan untuk menetapkan suatu hukum atau peraturan, masa trinundinum digunakan sebagai masa lobi. selama trinundium berlangsung, tidak boleh ada legislasi yang diajukan.
3. pada hari pemungutan suara, para pemilih berkumpul dalam rangka debat dan kampanya. Jika pemungutan suara dilakukan dalam hal legislasi, warga yang mendapat izin boleh menyampaikan pidato umum. Jika pemungutan dilakukan untuk memilih Magistrate, pidato pada hari pemungutan suara tidak diperbolehkan.
4. Setelah para pemilih berkumpul, tujuan pemungutan suara diumumkan oleh "Herald". Jika memilh magistrate, maka pengumuman berisi siapa kandidat yang bersaing, dan jabatan apa yang diperebutkan. Jika pemungutan dilakukan untuk keperluan legislasi, maka peraturan yang akan dilegislasi dibacakan di muka publik.
5. setelah perihal pemungutan suara diumumkan, maka para pemilih diwajibkan untun berkumpul di tempat yang telah ditentukan.
6. Pemungutan suara dilakukan dengan cara memasukkan kerikil atau kertas bertuliskan dukungan (setuju, tidak setuju, atau nama kandidat pejabat yang dipilih) pada tempat yang telah ditentukan (biasanya semacam toples atau bejana, biasa disebut Cistae).
7. Cistae diawasi oleh pejabat pengawas Custodes, yang kemudian menghitung dan melaporkan hasil pemungutan suara kepada pejabat pemimpin majelis (biasanya Consul).
8. Pemungutan suara harus selesai pada malam hari. Jika pemunguta suara belum selesai saat malam tiba, pemungutan suara dibatalkan dan harus diulang dari awal pada hari berikutnya.
dalam hal majelis melakukan pemungutan suara untuk menentukan pemberian hukuman.
prosedur pemungutan suara pada dasarnya sama dengan pemungutan suara untuk memilih pejabat publik atau untuk keperluan legislasi, namun dalam hal penjatuhan hukuman, sebelum pemungutan suara diumumkan, terlebih dahulu dilakukan penyelidikan dengan prosedur tertentu. pada hari pertama masa investigasi Anquisito, pejabat pemimpin majelis (biasanya dipegang oleh consul atau praetor) wajib memberikan pemberitahuan pertama diem dicere kepada tersangka. selama masa investigasi, pimpinan majelis juga harus memberikan pemberitahuan harian diem prodicere kepada tersangka yang berisi laporan jalannya investigasi. setelah investigasi selesai dilakukan, prosedur pemungutan suara dimulai dengan Pengumuman selama minimal tiga hari pasar sebelum pemungutan suara dilakukan.
Comitia Curiata
Comitia Curiata adalah majelis utama Romawi pada masa kerajaan dan awal masa republik. Comitia Curiata memiliki wewenang untuk memilih magistrate, mensahkan hukum dan menjatuhkan hukuman mati. Comitia Curiata dipimpin oleh Consul pada masa republik. Baik patrician maupun plebian dapat bergadung dalam pertemuan Comitia Curiata, namun hanya kelas Patrician-lah yang dapat memberikan suara dalam hal terjadi pemungutan suara.
Tidak lama setelah republik dibentuk, wewenang dan kekuasaan Comitia Curiata diserahkan kepada Comitia Centuriata dan Comitia Populi Tributa. setelah itu, comitia curiata hanya memiliki wewenang untuk meratifikasi lex curiata de imperio dan menetapkan Consul yang terpilih pada setiap tahunnya, dan hanya menjalankan fungsi seremonial.
Namun demikian, karena Comitia Curiata dibentuk berdasarkan ikatan keluarga/klan (Gens), maka Comitia Curiata masih memiliki wewenang Yurisdiksi dalam urusan Klan seperti Adopsi, penunjukan pewaris dan penentuan kelas seseorang (patrician atau plebian). Fungsi yurisdiksi ini dilakukan dibawah pimpinan Potifex Maximus dan terus berlanjut sampai masa kekaisaran.
Comitia Centuriata
Comitia Centuriata (Century Assembly) adalah majelis romawi yang berwenang untuk memilih consul, praetor dan censor, menyatakan perang, menetapkan dan mengumumkan hasil sensus, serta sebagai majelis tertinggi dalam hal peradilan (seperti mahkamah agung dan mahkamah konstitusi di Indonesia).
Majelis ini beranggotakan seluruh prajurit Romawi, baik yang berasal dari kelas patrician maupun kelas plebian. Majelis ini diberi nama Century Assembly dikarenakan Comitia Centuriata membagi rakyat Romawi menjadi 100 kelompok (century), walaupun kemudian ditambah menjadi 197 keompok. tidak seperti Comitia Curata, pemilihan tidak dilakukan oleh seluruh pemilih, namun dilakukan oleh setiap century, dimana setiap kelompok memiliki satu suara. dengan demikian, pada prakteknya terjadi dua kali pemungutan suara, yaitu pemungutan suara untuk menentukan suara setiap Century (biasanya dilakukan di konvensi), dan pemungutan suara yang dilakukan oleh seluruh Century.
Comitia Centuriata dipimpin oleh Consul dan Praetor. Namun, pada saat pemilihan, hanya consul yang boleh memimpin sidang, dikarenakan Consul dan Praetor dipilih secara bersamaan. Setelah Komite memilih Consul dan Praetor, komite lalu memilih Censor setiap lima tahun sekali (dan kemudian setiap tahun setelah masa jabatan censor dikurangi dari lima tahun menjadi delapan belas bulan)
Comitia Centuriata, walaupun menjalankan fungsi Majelis rakyat, secara teknis tetap beranggotakan prajurit, sehingga tidak dapat berkumpul dan bersidang di dalam pomerium. Dalam menjalankan fungsinya, comitia centuriata melakukan pemungutan suara di luar batas kota roma, biasanya dilakukan di campus martius (lapangan mars) yang berapa tepat di luar pomerium.
Dalam sejarahnya, terdapat dua periode Comitia Centuriata, yaitu periode Servian dan Reformasi.
Priode Servian
Comitia Centuriata dibentuk oleh Raja Romawi Servius Tullius. Pada masa awal pembentukannya, komite/majelis ini dibentuk dengan meniru komposisi prajurit romawi. Prajurit romawi dibagi menjadi unit-unit berjumlah sekitar seratus orang yang disebut centurion. Centurion dalam militer romawi selalu berjumlah sekitar seratus orang, sedangkan centurion dalam majelis tidak selalu berjumlah seratus prajurit. Hal ini disebabkan syarat kepemilikan tanah bagi Centurion militer berubah seiring waktu sedangkan syarat kepemilikan property bagi Centurion Majellis tidak. Prajurit dalam pasukan romawi dikelompokkan sesuai dengan jumlah kekayaan yang ia dan keluarganya miliki. Prajurit yang lebih kaya umumnya mendapat pangkat lebih tinggi dari prajurit lainnya. Karena prajurit kaya dibagi dalam lebih banyak century di pasukan kerajaan romawi, maka demikian pula di majelis, pasukan yang lebih kaya dibagi menjadi lebih banyak century dari pasukan lainnya. Karena setiap century hanya punya satu suara, hal ini menyebabkan golongan prajurit kaya memiliki pengaruh yang lebih besar, walaupun jumlahnya secara keseluruhan lebih sedikit.
Seluruh century kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok atau kelas, yaitu kelas perwira (biasanya kavaleri atau equites), kelas prajurit (infantry atau pedites), dan kelas lain-lain (biasanya terdiri dari pasukan pendukung). Seluruh 193 century pada masa ini dikelompokkan kelasnya sebagai berikut:
1. Kelas Perwira terdiri dari 18 century, 6 diantaranya khusus beranggotakan kaum patrician (sex suffragia)
2. Kelas prajurit terdiri dari 170 century, 85 kelas beranggotakan prajurit senior berusia 46-60 tahun (seniores) dan 85 sisanya terdiri dari prajurit junior berusia 16-45 tahun (iuniores). Hal ini menyebabkan prajurit senior memiliki pengaruh sama dengan prajurit junior walaupun berjumlah lebih sedikit. Menurut Cicero (Consul tahun 63 SM), pengaturan ini disengaja dengan tujuan agar keputusan majelis sesuai dengan keputusan prajurit senior yang lebih berpengalaman. Lebih lanjut, kelas prajurit dibagi lagi menjadi lima kelas sesuai dengan jumlah kekayaan dan tanah yang mereka miliki, sebagai berikut:
2.1 century prajurit kelas pertama beranggotakan century pasukan dengan zirah lengkap (helm, breastplate, Pelindung Kaki, Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 100.000 asses/10.000 denarii . Kelas ini terdiri dari 40 seniores dan 40 iuniores
2.2 century prajurit kelas kedua beranggotakan century pasukan dengan zirah ringan (helm, , Pelindung Kaki, Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 75.000 asses/7.500 denarii . Kelas ini terdiri dari 10 seniores dan 10 iuniores
2.3 century prajurit kelas ketiga beranggotakan century pasukan dengan zirah ringan (helm, , Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 50.000 asses/5.000 denarii . Kelas ini terdiri dari 10 seniores dan 10 iuniores
2.4 century prajurit kelas kempat beranggotakan century pasukan dengan zirah ringan (helm, , Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 50.000 asses/5.000 denarii . Kelas ini terdiri dari 10 seniores dan 10 iuniores
2.5 century prajurit kelas kelima diisi oleh century pasukan tanpa zirah, biasanya pelempar batu (slinger) dan pelempar tombak (velite) serta memiliki kekayaan 11.000 asses/1.100 denarii, kelas ini terdiri dari 15 seniores dan 15 iuniores
3. Kelas lainnya berjumlah lima century dibagi menjad lima kelas, yaitu dua kelas teknisi, dua kelas musisi (peniup terompet dan penabuh genderang) serta satu kelas pasukan proletarii (pasukan yang tidak memiliki aset)
Pembagian kelas ini berpengaruh saat terjadi pemungutan suara, karena century dengan kelas yang lebih tingi memberikan suara terlebih dahulu dari century dengan kelas yang lebih rendah. Sehingga, century kelas perwira patrician akan memberikan suara pertama, diikuti century kelas perwira plebian, diikuti century kelas prajurit kelas pertama, sampai century kelas lainnya kelas ke lima/proletarii. Karena pemungutan suara dhitung secara langsung dan dinyatakan berakhir saat mayoritas telah tercapai, maka biasanya century dengan kelas lebih rendah tidak mendapat kesempatan memberikan suaranya.
Selain itu, karena pembagian century yang terlalu berat ke kelas perwira dan prajurit kelas pertama dan kedua (dengan jumlah total 118 century), kebijakan atau keputusan mereka seringkali secara de-facto menentukan keputusan majelis, sehingga dianggap terlalu aristokratis oleh kebanyakan pasukan/rakyat roma.
Periode Reformasi
Sehubungan dengan pendapat publik yang menganggap Comitia Centuriata didominasi kaum bangsawan dan orang-orang kaya, maka pada tahun 241 SM Censor Marcus Fabius Buteo dan Gaius Aurelius Cotta melakukan reformasi dalam rangka menyeimbangkan porsi suara dalam majelis, sehingga century dengan kelas yang lebih rendah juga dapat ikut serta memberikan suara dan memperngaruhi keputusan majelis.
Reformasi tersebut merubah susunan majelis menjadi sebagai berikut:
1. Kelas Perwira tetap berjumlah 18 century
2. Kelas Prajurit ditambah menjadi 350 kelas, dengan pengaturan sebagai berikut:
2.1 setiap tribe di roma mendapat jatah 10 century (di roma pada saat itu terdapat 35 tribe), 5 seniores dan 5 iuniores
2.2 10 century tersebut dikelompokkan lagi sesuai kelas prajurit lama, dengan alokasi 1 seniores dan 1 uniores untuk setiap kelasnya
3. Kelas Proletarii tetap berjumlah 5 century.
Dengan pembagian kelas yang baru, pemungutan suara menjadi lebih merata dan mayoritas suara tidak dapat tercapai tanpa dukungan century prajurit kelas ketiga (prajurit dengan aset 5.000 denarii) walaupun seluruh kelas diatasnya bersatu (walaupun hal ini jarang terjadi, karena setiap tribe biasanya memiliki pendapat masing-masing).
Namun demikian, pembagian suara seperti ini menimbulkan masalah baru setelah reformasi marian. Karena reformasi marian membolehkan seluruh rakyat roma untuk menjadi prajurit, jumlah terbesar prajurit (yaitu prajurit tanpa aset, atau kelas proletarii) seringkali tidak mendapat kesempatan untuk meberikan suara mereka (dikarenakan sistem urutan pemungutan suara tidak berubah). Hal ini meningkatkan kesenjangan sosial dan politik dan berpengaruh cukup besar ke kekacauan dalam negeri yang mengakhiri masa republik.
Comitia Centuriata dibubarkan dan wewenangny diberikan ke senat pada tahun 27 SM atas perintah Kaisar pertama Roma, Kaisar Octavian/Augustus
Roman Assembly (Majelis Romawi) adalah badan Politik pada masa Romawi. Menurut Polybius, Rakyat-lah (dan dengan demikian Majelis) yang dapat mengambil keputusan final terkait pemilihan Magistrates, pembangunan patung dan monumen, pemberian hukuman mati, pernyataan perang dan damai serta pembentukan dan pembubaran aliansi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa rakyat(melalui Majelis)-lah pemegang kedaulatan negara.
Tidak seperti DPR dan MPR di Indonesia, demokrasi yang diterapkan bangsa Romawi adalah demokrasi langsung, sehingga rakyat tidak memilih perwakilan dan meilih sesuai dengan majelisnya masing-masing. Secara hukum, setiap Majelis dipimpin oleh seorang Magistrate, yang bertugas untuk memastikan kesesuaian dan legalitas dari setiap perkumpulan yang dilakukan majelis. Namun demikian, pada prakteknya, pimpinan majelis memiliki kendali mutlak atas majelis yang ia pimpin, dan seringkali mengarahkan dan menetukan keputusan setiap majelis, dan keputusan mereka hanya dapat di-veto oleh Magistrate dengan posisi lebih tinggi. Cth: Keputusan Praetor dapat dianulir oleh Consul.
Pemungutan Suara
Pada dasarnya, majelis rommawi dapat dibagi menjadi dua tipe, Comitia (Komite) dan Councilioum (Council/dewan?). Comitia beranggotakan seluruh warga Romawi, dan memutuskan keputusan-keputusan resmi, seperti menetapkan atau meratifikasi sebuahn Hukum. Counsilium adalah majelis yang beranggotakan kelompok tertentu dari rakyat romawi (Counsilium Plebis hanya berangotakan warga dari kelas plebian). selain itu ada pula Pertemuan (Convention) yang adalah pertemuan tidak formal masyarakat, dan hasil pertemuan tersebut tidak berkekuatan hukum. namun convention digunakan sebagai sarana loby maupun kampanye politik, karena para pemilih selalu berkumpul bersama convention-nya sebelum memilih di majelisnya masing-masing.
Dalam satu waktu, hanya boleh ada satu komite yang berkumpul/bersidang. Dengan demikian, Comitia Curiata tidak dapat bersidang saat Comitia Centuriata sedang bersidang. Jika suatu siding sedang berlangsung, siding tersebut dapat dibubarkan oleh magistrate pimpinan majelis tersebut. Selain pejabat pemimpin majelis, magistrate lain dapat pula menghadiri sidang dan bertindak sebagai “asisten” untuk membantu menyelesaikan permasalahan prosedural dan/atau sebagai wadah untuk mengajukan banding atas keputusan majelis kepada pemimpin majelis. Selain para Magistrates, hadir pula para pejabat keagamaan (Augurs) untuk membantu mengartikan petunjuk dari dewa (omen), karena masyarakat roma adalah masyarakat yang sangat religius dan percaya bahwa para dewa akan memberitahukan kehendak mereka atas suatu kejadian.
Prosedur Pemungutan suara dalam Majelis-Majelis Romawi pada umumnya adalah sebagai berikut:
dalam hal majelis memungut suara untuk memilih Magistrate atau menetapkan hukum
1. Sebelum pemungutan suara dilakukan, pengumuman wajib disebarkan setidak-tidaknya selama tiga hari pasar sebelum pemungutan suara dilakukan. masa antara pengumuman dan hari pemungutan suara dilakukan disebut trinundinum
2. Selama masa trinundinum, calon magistrate boleh melakukan kampanye. Jika pemungutan dilakukan untuk menetapkan suatu hukum atau peraturan, masa trinundinum digunakan sebagai masa lobi. selama trinundium berlangsung, tidak boleh ada legislasi yang diajukan.
3. pada hari pemungutan suara, para pemilih berkumpul dalam rangka debat dan kampanya. Jika pemungutan suara dilakukan dalam hal legislasi, warga yang mendapat izin boleh menyampaikan pidato umum. Jika pemungutan dilakukan untuk memilih Magistrate, pidato pada hari pemungutan suara tidak diperbolehkan.
4. Setelah para pemilih berkumpul, tujuan pemungutan suara diumumkan oleh "Herald". Jika memilh magistrate, maka pengumuman berisi siapa kandidat yang bersaing, dan jabatan apa yang diperebutkan. Jika pemungutan dilakukan untuk keperluan legislasi, maka peraturan yang akan dilegislasi dibacakan di muka publik.
5. setelah perihal pemungutan suara diumumkan, maka para pemilih diwajibkan untun berkumpul di tempat yang telah ditentukan.
6. Pemungutan suara dilakukan dengan cara memasukkan kerikil atau kertas bertuliskan dukungan (setuju, tidak setuju, atau nama kandidat pejabat yang dipilih) pada tempat yang telah ditentukan (biasanya semacam toples atau bejana, biasa disebut Cistae).
7. Cistae diawasi oleh pejabat pengawas Custodes, yang kemudian menghitung dan melaporkan hasil pemungutan suara kepada pejabat pemimpin majelis (biasanya Consul).
8. Pemungutan suara harus selesai pada malam hari. Jika pemunguta suara belum selesai saat malam tiba, pemungutan suara dibatalkan dan harus diulang dari awal pada hari berikutnya.
dalam hal majelis melakukan pemungutan suara untuk menentukan pemberian hukuman.
prosedur pemungutan suara pada dasarnya sama dengan pemungutan suara untuk memilih pejabat publik atau untuk keperluan legislasi, namun dalam hal penjatuhan hukuman, sebelum pemungutan suara diumumkan, terlebih dahulu dilakukan penyelidikan dengan prosedur tertentu. pada hari pertama masa investigasi Anquisito, pejabat pemimpin majelis (biasanya dipegang oleh consul atau praetor) wajib memberikan pemberitahuan pertama diem dicere kepada tersangka. selama masa investigasi, pimpinan majelis juga harus memberikan pemberitahuan harian diem prodicere kepada tersangka yang berisi laporan jalannya investigasi. setelah investigasi selesai dilakukan, prosedur pemungutan suara dimulai dengan Pengumuman selama minimal tiga hari pasar sebelum pemungutan suara dilakukan.
Comitia Curiata
Comitia Curiata adalah majelis utama Romawi pada masa kerajaan dan awal masa republik. Comitia Curiata memiliki wewenang untuk memilih magistrate, mensahkan hukum dan menjatuhkan hukuman mati. Comitia Curiata dipimpin oleh Consul pada masa republik. Baik patrician maupun plebian dapat bergadung dalam pertemuan Comitia Curiata, namun hanya kelas Patrician-lah yang dapat memberikan suara dalam hal terjadi pemungutan suara.
Tidak lama setelah republik dibentuk, wewenang dan kekuasaan Comitia Curiata diserahkan kepada Comitia Centuriata dan Comitia Populi Tributa. setelah itu, comitia curiata hanya memiliki wewenang untuk meratifikasi lex curiata de imperio dan menetapkan Consul yang terpilih pada setiap tahunnya, dan hanya menjalankan fungsi seremonial.
Namun demikian, karena Comitia Curiata dibentuk berdasarkan ikatan keluarga/klan (Gens), maka Comitia Curiata masih memiliki wewenang Yurisdiksi dalam urusan Klan seperti Adopsi, penunjukan pewaris dan penentuan kelas seseorang (patrician atau plebian). Fungsi yurisdiksi ini dilakukan dibawah pimpinan Potifex Maximus dan terus berlanjut sampai masa kekaisaran.
Comitia Centuriata
Comitia Centuriata (Century Assembly) adalah majelis romawi yang berwenang untuk memilih consul, praetor dan censor, menyatakan perang, menetapkan dan mengumumkan hasil sensus, serta sebagai majelis tertinggi dalam hal peradilan (seperti mahkamah agung dan mahkamah konstitusi di Indonesia).
Majelis ini beranggotakan seluruh prajurit Romawi, baik yang berasal dari kelas patrician maupun kelas plebian. Majelis ini diberi nama Century Assembly dikarenakan Comitia Centuriata membagi rakyat Romawi menjadi 100 kelompok (century), walaupun kemudian ditambah menjadi 197 keompok. tidak seperti Comitia Curata, pemilihan tidak dilakukan oleh seluruh pemilih, namun dilakukan oleh setiap century, dimana setiap kelompok memiliki satu suara. dengan demikian, pada prakteknya terjadi dua kali pemungutan suara, yaitu pemungutan suara untuk menentukan suara setiap Century (biasanya dilakukan di konvensi), dan pemungutan suara yang dilakukan oleh seluruh Century.
Comitia Centuriata dipimpin oleh Consul dan Praetor. Namun, pada saat pemilihan, hanya consul yang boleh memimpin sidang, dikarenakan Consul dan Praetor dipilih secara bersamaan. Setelah Komite memilih Consul dan Praetor, komite lalu memilih Censor setiap lima tahun sekali (dan kemudian setiap tahun setelah masa jabatan censor dikurangi dari lima tahun menjadi delapan belas bulan)
Comitia Centuriata, walaupun menjalankan fungsi Majelis rakyat, secara teknis tetap beranggotakan prajurit, sehingga tidak dapat berkumpul dan bersidang di dalam pomerium. Dalam menjalankan fungsinya, comitia centuriata melakukan pemungutan suara di luar batas kota roma, biasanya dilakukan di campus martius (lapangan mars) yang berapa tepat di luar pomerium.
Dalam sejarahnya, terdapat dua periode Comitia Centuriata, yaitu periode Servian dan Reformasi.
Priode Servian
Comitia Centuriata dibentuk oleh Raja Romawi Servius Tullius. Pada masa awal pembentukannya, komite/majelis ini dibentuk dengan meniru komposisi prajurit romawi. Prajurit romawi dibagi menjadi unit-unit berjumlah sekitar seratus orang yang disebut centurion. Centurion dalam militer romawi selalu berjumlah sekitar seratus orang, sedangkan centurion dalam majelis tidak selalu berjumlah seratus prajurit. Hal ini disebabkan syarat kepemilikan tanah bagi Centurion militer berubah seiring waktu sedangkan syarat kepemilikan property bagi Centurion Majellis tidak. Prajurit dalam pasukan romawi dikelompokkan sesuai dengan jumlah kekayaan yang ia dan keluarganya miliki. Prajurit yang lebih kaya umumnya mendapat pangkat lebih tinggi dari prajurit lainnya. Karena prajurit kaya dibagi dalam lebih banyak century di pasukan kerajaan romawi, maka demikian pula di majelis, pasukan yang lebih kaya dibagi menjadi lebih banyak century dari pasukan lainnya. Karena setiap century hanya punya satu suara, hal ini menyebabkan golongan prajurit kaya memiliki pengaruh yang lebih besar, walaupun jumlahnya secara keseluruhan lebih sedikit.
Seluruh century kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok atau kelas, yaitu kelas perwira (biasanya kavaleri atau equites), kelas prajurit (infantry atau pedites), dan kelas lain-lain (biasanya terdiri dari pasukan pendukung). Seluruh 193 century pada masa ini dikelompokkan kelasnya sebagai berikut:
1. Kelas Perwira terdiri dari 18 century, 6 diantaranya khusus beranggotakan kaum patrician (sex suffragia)
2. Kelas prajurit terdiri dari 170 century, 85 kelas beranggotakan prajurit senior berusia 46-60 tahun (seniores) dan 85 sisanya terdiri dari prajurit junior berusia 16-45 tahun (iuniores). Hal ini menyebabkan prajurit senior memiliki pengaruh sama dengan prajurit junior walaupun berjumlah lebih sedikit. Menurut Cicero (Consul tahun 63 SM), pengaturan ini disengaja dengan tujuan agar keputusan majelis sesuai dengan keputusan prajurit senior yang lebih berpengalaman. Lebih lanjut, kelas prajurit dibagi lagi menjadi lima kelas sesuai dengan jumlah kekayaan dan tanah yang mereka miliki, sebagai berikut:
2.1 century prajurit kelas pertama beranggotakan century pasukan dengan zirah lengkap (helm, breastplate, Pelindung Kaki, Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 100.000 asses/10.000 denarii . Kelas ini terdiri dari 40 seniores dan 40 iuniores
2.2 century prajurit kelas kedua beranggotakan century pasukan dengan zirah ringan (helm, , Pelindung Kaki, Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 75.000 asses/7.500 denarii . Kelas ini terdiri dari 10 seniores dan 10 iuniores
2.3 century prajurit kelas ketiga beranggotakan century pasukan dengan zirah ringan (helm, , Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 50.000 asses/5.000 denarii . Kelas ini terdiri dari 10 seniores dan 10 iuniores
2.4 century prajurit kelas kempat beranggotakan century pasukan dengan zirah ringan (helm, , Tameng/scutum, pedang dan tombak,) dan memiliki kekayaan minimal senilai 50.000 asses/5.000 denarii . Kelas ini terdiri dari 10 seniores dan 10 iuniores
2.5 century prajurit kelas kelima diisi oleh century pasukan tanpa zirah, biasanya pelempar batu (slinger) dan pelempar tombak (velite) serta memiliki kekayaan 11.000 asses/1.100 denarii, kelas ini terdiri dari 15 seniores dan 15 iuniores
3. Kelas lainnya berjumlah lima century dibagi menjad lima kelas, yaitu dua kelas teknisi, dua kelas musisi (peniup terompet dan penabuh genderang) serta satu kelas pasukan proletarii (pasukan yang tidak memiliki aset)
Pembagian kelas ini berpengaruh saat terjadi pemungutan suara, karena century dengan kelas yang lebih tingi memberikan suara terlebih dahulu dari century dengan kelas yang lebih rendah. Sehingga, century kelas perwira patrician akan memberikan suara pertama, diikuti century kelas perwira plebian, diikuti century kelas prajurit kelas pertama, sampai century kelas lainnya kelas ke lima/proletarii. Karena pemungutan suara dhitung secara langsung dan dinyatakan berakhir saat mayoritas telah tercapai, maka biasanya century dengan kelas lebih rendah tidak mendapat kesempatan memberikan suaranya.
Selain itu, karena pembagian century yang terlalu berat ke kelas perwira dan prajurit kelas pertama dan kedua (dengan jumlah total 118 century), kebijakan atau keputusan mereka seringkali secara de-facto menentukan keputusan majelis, sehingga dianggap terlalu aristokratis oleh kebanyakan pasukan/rakyat roma.
Periode Reformasi
Sehubungan dengan pendapat publik yang menganggap Comitia Centuriata didominasi kaum bangsawan dan orang-orang kaya, maka pada tahun 241 SM Censor Marcus Fabius Buteo dan Gaius Aurelius Cotta melakukan reformasi dalam rangka menyeimbangkan porsi suara dalam majelis, sehingga century dengan kelas yang lebih rendah juga dapat ikut serta memberikan suara dan memperngaruhi keputusan majelis.
Reformasi tersebut merubah susunan majelis menjadi sebagai berikut:
1. Kelas Perwira tetap berjumlah 18 century
2. Kelas Prajurit ditambah menjadi 350 kelas, dengan pengaturan sebagai berikut:
2.1 setiap tribe di roma mendapat jatah 10 century (di roma pada saat itu terdapat 35 tribe), 5 seniores dan 5 iuniores
2.2 10 century tersebut dikelompokkan lagi sesuai kelas prajurit lama, dengan alokasi 1 seniores dan 1 uniores untuk setiap kelasnya
3. Kelas Proletarii tetap berjumlah 5 century.
Dengan pembagian kelas yang baru, pemungutan suara menjadi lebih merata dan mayoritas suara tidak dapat tercapai tanpa dukungan century prajurit kelas ketiga (prajurit dengan aset 5.000 denarii) walaupun seluruh kelas diatasnya bersatu (walaupun hal ini jarang terjadi, karena setiap tribe biasanya memiliki pendapat masing-masing).
Namun demikian, pembagian suara seperti ini menimbulkan masalah baru setelah reformasi marian. Karena reformasi marian membolehkan seluruh rakyat roma untuk menjadi prajurit, jumlah terbesar prajurit (yaitu prajurit tanpa aset, atau kelas proletarii) seringkali tidak mendapat kesempatan untuk meberikan suara mereka (dikarenakan sistem urutan pemungutan suara tidak berubah). Hal ini meningkatkan kesenjangan sosial dan politik dan berpengaruh cukup besar ke kekacauan dalam negeri yang mengakhiri masa republik.
Comitia Centuriata dibubarkan dan wewenangny diberikan ke senat pada tahun 27 SM atas perintah Kaisar pertama Roma, Kaisar Octavian/Augustus
0

