TS
sunarkoplak
Exodus: Gods and Kings (2014) | Christian Bale | directed by Ridley Scott
Exodus: Gods and Kings (2014)
Quote:


The defiant leader Moses rises up against the Egyptian Pharaoh Ramses, setting 600,000 slaves on a monumental journey of escape from Egypt and its terrifying cycle of deadly plagues.
Epic adventure Exodus: Gods and Kings is the story of one man's daring courage to take on the might of an empire. Using state of the art visual effects and 3D immersion, Scott brings new life to the story of the defiant leader Moses as he rises up against the Egyptian Pharaoh Ramses, setting 600,000 slaves on a monumental journey of escape from Egypt and its terrifying cycle of deadly plagues
Director :
Ridley Scott
Cast :
Christian Bale
Sigourney Weaver
Aaron Paul
Joel Edgerton
Ben Kingsley
John Turturro
Genres :
Action | Adventure | Drama
Release Date :
10 December 2014
IMDb
Epic adventure Exodus: Gods and Kings is the story of one man's daring courage to take on the might of an empire. Using state of the art visual effects and 3D immersion, Scott brings new life to the story of the defiant leader Moses as he rises up against the Egyptian Pharaoh Ramses, setting 600,000 slaves on a monumental journey of escape from Egypt and its terrifying cycle of deadly plagues
Director :
Ridley Scott
Cast :
Christian Bale
Sigourney Weaver
Aaron Paul
Joel Edgerton
Ben Kingsley
John Turturro
Genres :
Action | Adventure | Drama
Release Date :
10 December 2014
IMDb
Quote:
Diubah oleh lightyear 10-12-2014 11:41
0
83.8K
Kutip
565
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Movies
20.4KThread•29.9KAnggota
Tampilkan semua post
SarapanPagi
#538
Quote:
Original Posted By Axvarlazzara►walau direview sarapanpagi, belum tentu SANGAT KRISTIANI.
bagaimana pendapat anda ttg Tuhan Bocah? mungkin bisa jadi kristiani karena umat kristen biasa menggambarkan Tuhan Bapa sbg org tua berjenggot putih lebat shg sah2 saja Tuhan Bapa jadi Tuhan Bocah
yahyah, saya terkesan dgn simbol2 dan pesan2 implisit yg dipaparkan
bagaimana pendapat anda ttg Tuhan Bocah? mungkin bisa jadi kristiani karena umat kristen biasa menggambarkan Tuhan Bapa sbg org tua berjenggot putih lebat shg sah2 saja Tuhan Bapa jadi Tuhan Bocah
yahyah, saya terkesan dgn simbol2 dan pesan2 implisit yg dipaparkan
"Malak" dalam wujud anak kecil itu bukan "TUHAN" tetapi itu sebuah "teofani". Istilah "teofani" ini dikenal dalam Theology Kristiani.
Memang penggambaran Malaikat TUHAN) dalam wujud "anak kecil" menjadi metafora yang paling kontroversial dalam film ini. Dan Review tsb sudah membahasnya, saya kutip:
Quote:
Simbol-simbol Figuratif:
Tiba saatnya Musamenjadi penyelamat bangsanya keluar dari Mesir. Seperti kita ketahui kisahnya bermula dari penampakan di Gunung Horeb. "Malak" (Malaikat TUHAN/ MAL'AKH YHVH) menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri, menyala tetapi tidak dimakan api (Keluaran 3:2). Menarik di dalam film ini sosok "Malak" digambarkan dengan sosok seorang "anak kecil" (Isaac Andrews), dan dengan itu Musa melakukan dialog. Munculnya sosok "anak kecil" sebagai "Malak" tentulah itu suatu bentuk "kebebasan berekspresi" dari sang seniman/ sang sutradara. Scott mengatakan bahwa dia tidak menyukai ide dimana Malaikat itu digambarkan bersayab dan bersinar-sinar. Orang-orang agamawi mungkin mencemoohnya sebagai sesuatu yang "tidak Alkitabiah" karena mereka terbiasa dengan mindset Malaikat itu bersayap bersinar-sinar, dan biasanya hanya fokus pada penampakan "bara-api" di semak-duri dan suara yang datang dari langit, dan hal ini juga saya dengar dari beberapa teman-teman sesama Kristen menganggap begitu.
Penggambaran Malaikat TUHAN) dalam wujud "anak kecil" menjadi metafora yang paling kontroversial dalam film ini, bagaimana mungkin merepresentasikannya sebagai anak, bahkan anak yang nakal (naughty boy). Namun, terlepas dari polemik itu secara teologis, pengambilan sosok "anak kecil" tidak dapat serta-merta dipersalahkan. Dalam theology Kristiani, kita mengenal istilah "teofani." Bahwa "Malaikat TUHAN/ MAL'AKH YHVH" dalam Perjanjian Lama adalah teofani dari Yesus kristus. Dan dalam penampakan itu kita tahu bahwa ada pertama kali terdengar istilah yang amat sangat terkenal yang menjadi Nama Allah "I Am" (EGÔ EIMI, EH'YEH) dan di dalam Perjanjian Baru kita membaca banyak bukti dimana Kristus merujuk dirinya dengan "EGÔ EIMI" . Dan dialog antara Malak dengan Musa sangat menarik. Musa di suasana yang mencekam bertemu dengan "Heavenly Beings", ketakutan Musa ini digambarkan secara visualisasi figuratif dimana ketika ia hendak menyelamatkan 3 domba-dombanya dari badai, ia sendiri terjebak dalam badai itu, kepalanya tertimpa batu dan tubuhnya terjerembab dalam lumpur. Lagi-lagi ini adalah ungkapan ekspresif dari sang sutradara yang tidak ada dalam Alkitab. Bayangkan jika ada seekor kucing, berdiri di hadapan seekor Harimau, bagaimana perasaannya? Atau seorang rakyat jelata bertemu dengan Raja Maha Mulia, bagaimanakah perasaannya? Demikianlah ketakutan yang dialami Musa bertemu dengan sosok "Heavenly Beings." Bagaimanakan kita yang manusia fana ini dapat membayangkan sosok "Heavenly Beings"? Tentu akan sangat sulit sekali, tidak akan cukup dengan menggambarkan Malaikat yang cerlang-cemerlang bersayap. Maka di sini Scott memilih "paradoks" ditampilkanlah sosok "anak kecil" sebagai "Malaikat TUHAN," dan apabila itu dikaitkan dengan "teofani" Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama dan "si anak kecil" sebagai suatu figuratif dari "Sang Anak", tampaknya ekspresi penafsiran yang digunakan dalam ini menarik juga. Alasan lain bagi Scott menggambarkan Malak tersebut dalam figur anak kecil ialah karena anak kecil ini memancarkan sifat "kepolosan dan kemurnian."
Penggunaan "3 domba" dalam scene ini juga merupakan figuratif dari Trinitas, atau mungkin mengingatkan kita kepada 3 malaikat yang datang untuk mengunjungi dengan Abraham dalam perjalanan mereka untuk melihat apa yang terjadi di Sodom dan Gomora. Terjebak dalam badai, kemudian ada longsor, lumpur dan batu turun, memukul Musa di kepala dan mengubur dirinya dalam lumpur; kemudian dia terbangun dan melihat sebuah menyala semak dengan api biru dan ada seorang anak kecil (Malak); Musa berteriak "tolong, kakiku patah", dan anak itu menjawab, "kamu mengalami yang lebih buruk dari itu." Ketika Musa dengan anak itu, ia sedang meletakkan batu, dan ia membangun sebuah piramida, mungkin bentuk ini untuk mengingatkan Musa untuk mengingat bangsanya yang tertindas di Mesir, dan Musa-lah yang harus menjadi pemimpin mereka keluar dari Mesir. Atau mungkin "tumpukan batu" ini merupakan simbol dari Kristus yang adalah "Sang Batu Penjuru." Dialog antara Malak dengan Musa, cukup menarik. Malak bertanya kepada Musa dalam pertemuan pertama mereka, "Siapa kamu?" Musa menjawab "Aku seorang penggembala." Kemudian Malak menyambung "Aku kira, kamu seorang jenderal, Aku perlu seorang jenderal."
Di sini, Musa ditarik Allah untuk memahami bahwa dia bukan sekedar manusia biasa atau orang kebanyakan, Musa dipersiapkan secara khusus menjadi Jenderal untuk tugas-tugas khusus. Dan dalam dialog-dialog sesudahnya di film ini Sang Malak itu memanggil Musa dengan "General!."
Dalam adegan ini jelas merupakan suatu metafora. Badai yang menimpa Musa adalah simbol dari "gelapnya jiwa." Alkitab menggunakan "badai" sebagai lambang masalah kehidupan (ingat ketika Tuhan Yesus dan 12 berada di atas kapal dan mereka menghadapi badai dan Tuhan Yesus menenangkan gelombang dengan satu kata; atau badai yang timbul ketika Yunus berjalan dari menyampaikan pesan Tuhan ke Niniwe). Badai ini mengacu pada "badai" yang pecah ketika Musa mengakui dirinya sebagai saudara Miryam (Tara Fitzgerald) yang dengan itu mengakui bahwa ia adalah seorang Ibrani, bukan seorang Mesir. Dan olehnya Musa diasingkan.
Ketika Musa "bangun" dari badai yang menimpanya di gunung itu, hal ini merupakan simbolisme secara theologis, bahwa ia "bangun" secara rohani; dia telah dikuburkan dalam lumpur, dan ini melambangkan dua hal: pertama, bahwa Musa telah mati di dalam dosa, dikuburkan seperti orang mati dan, kedua, bahwa Musa yang pernah ditutupi dosa (kotoran), kemudian menjadi manusia yang baru yang mengemban misi-misi dari Allah.Musa di lingkungannya yang dahulu di istana Mesir, ia tidak memiliki pemahaman spiritualitas sebagaimana iman yang dianut para leluhurnya (Abraham, Ishak, dan Yakub), namun dengan hubungannya dengan Yitro, seorang imam Midian yang mewarisi keimanan Abraham, Musa mulai mengenal Allah. Dan terlebih dari itu Musa dihampiri sendiri oleh Allah, bahwa ia berbicara "muka dengan muka" (PANIM 'EL PANIM, Keluaran 33:11) dengan YHVH Elohim. Jadi, ketika Musa bangun, pertama ia melihat semak duri yang terbakar, bertemu dengan Sang Malak dan mulailah Musa dalam misi penyelamatan bagi bangsanya.
Dialog antara Malak dan Musa tidak selalu enak-lancar, tetapi sering melalui perdebatan, eyel-eyelan, berbeda dengan Musa yang di The Ten Commandments, dimana Musa digambarkan secara manis, manut terhadap perintah. Tetapi di sini Musa sering berbantah-bantahan. Dalam pandangan saya, seorang yang luar biasa pintar, seorang yang menjadi pemimpin, dia tidak gampang-gampang menerima suatu "perintah." Sikap "ngeyel" biasanya dimiliki oleh pemimpin besar.
Menarik ketika Musa dalam kekawatirannya menghadapi kekuatan Ramses yang besar, ia bertanya kepada Sang Malak: "Where have you been?" dengan nada tinggi, Malak itu menjawab santai: "Watching you fail", dan jawaban ini merupakan suatu pukulan telak bagi Musa. Dialog ini dapat kita refleksikan kepada kehidupan kita sendiri, dalam penolakan kita untuk berserah dan tunduk kepada Allah, dalam ketakutan kita untuk jatuh, sebenarya Allah memperhatikan kita, namun kita sering ketakutan sendiri dan merasa Allah meninggalkan kita. Ini adalah segi menarik dari kisah Musa versi Ridley Scott.
Ketika Musa berdialog, bahkan juga berbantah-bantahan dengan Sang Malak, Yosua bujangnya sering menyelinap, mengintip sang tuan sedang berdebat dengan siapa? Tetapi Yosua tidak dapat melihat sosok Malak yang sedang bicara dengan tuannya itu. Namun ia dapat menyimpulkan bahwa tuannya itu sedang berbicara seperti kepada "temannya" (reff: Keluaran 33:11). Ada suatu pesan yang sepertinya hendak disampaikan dalam film ini, bahwa sosok "Heavenly Beings" tidak sama dengan figur-figur yang sering kita lihat di buku komik. "The Heavenly Beings" adalah sosok yang diluar jangkauan manusia fana untuk menggambarkannya barangkali hanya Musa yang dapat merasakannya, dan pengalaman tersebut tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Maka penggambaran Malak sebagai "anak kecil" sebagai paradoks karena manusia tidak dapat menggambarkannya, adalah suatu ide yang brilian!
Musa yang memiliki background pendidikan militer mencoba mengkonfrontasi Firaun dengan perlawanan secara fisik, yang kemudian membuatnya harus "putus asa" menghadapi kekuatan militer yang dimiliki Kerajaan Mesir. Sang Malak memberikan penyelesaian yang lain bagaimana cara melawan ketegaran Firaun yang tidak mau melepaskan bani Israel keluar dari Mesir. Maka diturunkanlah 10 tulah yang telah kita ketahui dalam Alkitab, hanya saja tentu dalam film ini disajikan variasi-variasi tafsiran yang tidak melulu merupakan "peristiwa supranatural" melainkan dicoba disajikan dengan nalar-nalar yang dapat diterima di zaman modern ini.
Tiba saatnya Musamenjadi penyelamat bangsanya keluar dari Mesir. Seperti kita ketahui kisahnya bermula dari penampakan di Gunung Horeb. "Malak" (Malaikat TUHAN/ MAL'AKH YHVH) menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri, menyala tetapi tidak dimakan api (Keluaran 3:2). Menarik di dalam film ini sosok "Malak" digambarkan dengan sosok seorang "anak kecil" (Isaac Andrews), dan dengan itu Musa melakukan dialog. Munculnya sosok "anak kecil" sebagai "Malak" tentulah itu suatu bentuk "kebebasan berekspresi" dari sang seniman/ sang sutradara. Scott mengatakan bahwa dia tidak menyukai ide dimana Malaikat itu digambarkan bersayab dan bersinar-sinar. Orang-orang agamawi mungkin mencemoohnya sebagai sesuatu yang "tidak Alkitabiah" karena mereka terbiasa dengan mindset Malaikat itu bersayap bersinar-sinar, dan biasanya hanya fokus pada penampakan "bara-api" di semak-duri dan suara yang datang dari langit, dan hal ini juga saya dengar dari beberapa teman-teman sesama Kristen menganggap begitu.
Penggambaran Malaikat TUHAN) dalam wujud "anak kecil" menjadi metafora yang paling kontroversial dalam film ini, bagaimana mungkin merepresentasikannya sebagai anak, bahkan anak yang nakal (naughty boy). Namun, terlepas dari polemik itu secara teologis, pengambilan sosok "anak kecil" tidak dapat serta-merta dipersalahkan. Dalam theology Kristiani, kita mengenal istilah "teofani." Bahwa "Malaikat TUHAN/ MAL'AKH YHVH" dalam Perjanjian Lama adalah teofani dari Yesus kristus. Dan dalam penampakan itu kita tahu bahwa ada pertama kali terdengar istilah yang amat sangat terkenal yang menjadi Nama Allah "I Am" (EGÔ EIMI, EH'YEH) dan di dalam Perjanjian Baru kita membaca banyak bukti dimana Kristus merujuk dirinya dengan "EGÔ EIMI" . Dan dialog antara Malak dengan Musa sangat menarik. Musa di suasana yang mencekam bertemu dengan "Heavenly Beings", ketakutan Musa ini digambarkan secara visualisasi figuratif dimana ketika ia hendak menyelamatkan 3 domba-dombanya dari badai, ia sendiri terjebak dalam badai itu, kepalanya tertimpa batu dan tubuhnya terjerembab dalam lumpur. Lagi-lagi ini adalah ungkapan ekspresif dari sang sutradara yang tidak ada dalam Alkitab. Bayangkan jika ada seekor kucing, berdiri di hadapan seekor Harimau, bagaimana perasaannya? Atau seorang rakyat jelata bertemu dengan Raja Maha Mulia, bagaimanakah perasaannya? Demikianlah ketakutan yang dialami Musa bertemu dengan sosok "Heavenly Beings." Bagaimanakan kita yang manusia fana ini dapat membayangkan sosok "Heavenly Beings"? Tentu akan sangat sulit sekali, tidak akan cukup dengan menggambarkan Malaikat yang cerlang-cemerlang bersayap. Maka di sini Scott memilih "paradoks" ditampilkanlah sosok "anak kecil" sebagai "Malaikat TUHAN," dan apabila itu dikaitkan dengan "teofani" Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama dan "si anak kecil" sebagai suatu figuratif dari "Sang Anak", tampaknya ekspresi penafsiran yang digunakan dalam ini menarik juga. Alasan lain bagi Scott menggambarkan Malak tersebut dalam figur anak kecil ialah karena anak kecil ini memancarkan sifat "kepolosan dan kemurnian."
Penggunaan "3 domba" dalam scene ini juga merupakan figuratif dari Trinitas, atau mungkin mengingatkan kita kepada 3 malaikat yang datang untuk mengunjungi dengan Abraham dalam perjalanan mereka untuk melihat apa yang terjadi di Sodom dan Gomora. Terjebak dalam badai, kemudian ada longsor, lumpur dan batu turun, memukul Musa di kepala dan mengubur dirinya dalam lumpur; kemudian dia terbangun dan melihat sebuah menyala semak dengan api biru dan ada seorang anak kecil (Malak); Musa berteriak "tolong, kakiku patah", dan anak itu menjawab, "kamu mengalami yang lebih buruk dari itu." Ketika Musa dengan anak itu, ia sedang meletakkan batu, dan ia membangun sebuah piramida, mungkin bentuk ini untuk mengingatkan Musa untuk mengingat bangsanya yang tertindas di Mesir, dan Musa-lah yang harus menjadi pemimpin mereka keluar dari Mesir. Atau mungkin "tumpukan batu" ini merupakan simbol dari Kristus yang adalah "Sang Batu Penjuru." Dialog antara Malak dengan Musa, cukup menarik. Malak bertanya kepada Musa dalam pertemuan pertama mereka, "Siapa kamu?" Musa menjawab "Aku seorang penggembala." Kemudian Malak menyambung "Aku kira, kamu seorang jenderal, Aku perlu seorang jenderal."
Di sini, Musa ditarik Allah untuk memahami bahwa dia bukan sekedar manusia biasa atau orang kebanyakan, Musa dipersiapkan secara khusus menjadi Jenderal untuk tugas-tugas khusus. Dan dalam dialog-dialog sesudahnya di film ini Sang Malak itu memanggil Musa dengan "General!."
Dalam adegan ini jelas merupakan suatu metafora. Badai yang menimpa Musa adalah simbol dari "gelapnya jiwa." Alkitab menggunakan "badai" sebagai lambang masalah kehidupan (ingat ketika Tuhan Yesus dan 12 berada di atas kapal dan mereka menghadapi badai dan Tuhan Yesus menenangkan gelombang dengan satu kata; atau badai yang timbul ketika Yunus berjalan dari menyampaikan pesan Tuhan ke Niniwe). Badai ini mengacu pada "badai" yang pecah ketika Musa mengakui dirinya sebagai saudara Miryam (Tara Fitzgerald) yang dengan itu mengakui bahwa ia adalah seorang Ibrani, bukan seorang Mesir. Dan olehnya Musa diasingkan.
Ketika Musa "bangun" dari badai yang menimpanya di gunung itu, hal ini merupakan simbolisme secara theologis, bahwa ia "bangun" secara rohani; dia telah dikuburkan dalam lumpur, dan ini melambangkan dua hal: pertama, bahwa Musa telah mati di dalam dosa, dikuburkan seperti orang mati dan, kedua, bahwa Musa yang pernah ditutupi dosa (kotoran), kemudian menjadi manusia yang baru yang mengemban misi-misi dari Allah.Musa di lingkungannya yang dahulu di istana Mesir, ia tidak memiliki pemahaman spiritualitas sebagaimana iman yang dianut para leluhurnya (Abraham, Ishak, dan Yakub), namun dengan hubungannya dengan Yitro, seorang imam Midian yang mewarisi keimanan Abraham, Musa mulai mengenal Allah. Dan terlebih dari itu Musa dihampiri sendiri oleh Allah, bahwa ia berbicara "muka dengan muka" (PANIM 'EL PANIM, Keluaran 33:11) dengan YHVH Elohim. Jadi, ketika Musa bangun, pertama ia melihat semak duri yang terbakar, bertemu dengan Sang Malak dan mulailah Musa dalam misi penyelamatan bagi bangsanya.
Dialog antara Malak dan Musa tidak selalu enak-lancar, tetapi sering melalui perdebatan, eyel-eyelan, berbeda dengan Musa yang di The Ten Commandments, dimana Musa digambarkan secara manis, manut terhadap perintah. Tetapi di sini Musa sering berbantah-bantahan. Dalam pandangan saya, seorang yang luar biasa pintar, seorang yang menjadi pemimpin, dia tidak gampang-gampang menerima suatu "perintah." Sikap "ngeyel" biasanya dimiliki oleh pemimpin besar.
Menarik ketika Musa dalam kekawatirannya menghadapi kekuatan Ramses yang besar, ia bertanya kepada Sang Malak: "Where have you been?" dengan nada tinggi, Malak itu menjawab santai: "Watching you fail", dan jawaban ini merupakan suatu pukulan telak bagi Musa. Dialog ini dapat kita refleksikan kepada kehidupan kita sendiri, dalam penolakan kita untuk berserah dan tunduk kepada Allah, dalam ketakutan kita untuk jatuh, sebenarya Allah memperhatikan kita, namun kita sering ketakutan sendiri dan merasa Allah meninggalkan kita. Ini adalah segi menarik dari kisah Musa versi Ridley Scott.
Ketika Musa berdialog, bahkan juga berbantah-bantahan dengan Sang Malak, Yosua bujangnya sering menyelinap, mengintip sang tuan sedang berdebat dengan siapa? Tetapi Yosua tidak dapat melihat sosok Malak yang sedang bicara dengan tuannya itu. Namun ia dapat menyimpulkan bahwa tuannya itu sedang berbicara seperti kepada "temannya" (reff: Keluaran 33:11). Ada suatu pesan yang sepertinya hendak disampaikan dalam film ini, bahwa sosok "Heavenly Beings" tidak sama dengan figur-figur yang sering kita lihat di buku komik. "The Heavenly Beings" adalah sosok yang diluar jangkauan manusia fana untuk menggambarkannya barangkali hanya Musa yang dapat merasakannya, dan pengalaman tersebut tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Maka penggambaran Malak sebagai "anak kecil" sebagai paradoks karena manusia tidak dapat menggambarkannya, adalah suatu ide yang brilian!
Musa yang memiliki background pendidikan militer mencoba mengkonfrontasi Firaun dengan perlawanan secara fisik, yang kemudian membuatnya harus "putus asa" menghadapi kekuatan militer yang dimiliki Kerajaan Mesir. Sang Malak memberikan penyelesaian yang lain bagaimana cara melawan ketegaran Firaun yang tidak mau melepaskan bani Israel keluar dari Mesir. Maka diturunkanlah 10 tulah yang telah kita ketahui dalam Alkitab, hanya saja tentu dalam film ini disajikan variasi-variasi tafsiran yang tidak melulu merupakan "peristiwa supranatural" melainkan dicoba disajikan dengan nalar-nalar yang dapat diterima di zaman modern ini.
0
Kutip
Balas