- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.9K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#184
Tak butuh waktu lama bagi Fiona berkendara menempuh jarak yang membentang antara Jakarta dan Bandung. Hari belum terlalu siang saat ia tiba di seputaran salah satu pusat perbelanjaan ternama, karena ia berangkat pagi. Ia merasa hal-hal besar semacam ini akan membutuhkan fokus dan konsentrasi penuh, sehingga ia memutuskan untuk secepatnya bertemu dengan Max, dan melihat apakah yang ia bayangkan tentang Max adalah benar atau sebaliknya. Ia sudah SMSkan posisinya saat ini pada mantan Raine itu, dan menunggu memang membuat pikiran mudah mengembara.
Hari ini pun, Raine akan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan saat ini. Menemui seorang pria dan melihat kemungkinan yang terjadi. Ya, sekarang memang bukan masanya lagi untuk menantikan seorang pria idaman muncul di depan pintu rumah seperti Romeo yang muncul di bawah menantikan Juliet muncul dari balkon, menyanyikan syair-syair pujangga. Jumlah wanita yang berbanding terbalik dengan jumlah pria jelas membuat kompetisi kian ketat, dan terlepas dari itu semua, Fiona dan Raine memiliki kesamaan untuk proaktif dalam menyelesaikan segala sesuatu hal. Fiona lalu teringatkan kebiasaan lama untuk menyelesaikan jawaban untuk semua buku teks maupun LKS yang didapat bersama Raine persis di hari buku itu dibeli. Seperti halnya pemburu, mereka tak ingin berada di belakang sasaran mereka. Saat siswa lain baru akan mengerjakan materi pelajaran buku atau LKS tersebut Fiona dan Raine hanya perlu pura-pura sibuk, dan guru-guru yang tahu akan hal ini, mereka semua mengagumi semangat belajar dua gadis penguasa papan atas peringkat kelas ini.
Tapi ini adalah masalah hati. Fiona tak pernah punya pengalaman yang bisa dibilang cukup tentang pria. Sebatas mengagumi tentu sebagai gadis belia, pernah ia rasa itu rasa suka. Tapi mencari pria untuk teman hidup, ini adalah sesuatu yang sama sekali baru. Dan ia tak yakin apakah ia akan dapat menguasai ‘permainan’ pertaruhan hati ini. Cukup gelisah ia menunggu di salah satu restoran cepat saji itu. Ia memilih duduk di kursi yang tersedia di luar, karena cuaca Bandung tak terlalu terik saat itu. Tak butuh waktu lama pria yang ditunggu pun muncul.
“Fiona?” Pria itu menyapa namanya, masih berdiri. Lalu ia mengulurkan tangannya, “Aku Max.”
Fiona menyambut uluran tangan tersebut dan mereka pun berjabat tangan untuk beberapa detik.
Fiona tersenyum. Entah mengapa ia merasa hatinya berdebar kencang. Dan permainan pun dimulai.
Mereka hanya diam untuk beberapa saat. Tak ada suara, saling tatap. Namun mereka berdua mulai tersenyum satu sama lain. Fiona pun memulai.
“Aku datang agak awal tadi, dan memesan kopi untukku sendiri. Dan aku gugup, dan aku tak tahu apa kau akan benar-benar datang menemuiku atau tidak. So, I didn’t order anything for you. Would you want something to drink?”
“Oh iya deh. Tunggu sebentar ya.”
Max lalu beranjak ke counter, dan tak berapa lama ia kembali dengan secangkir kopi yang sama dengan yang dinikmati Fiona saat ini.
“Nah, sama nih minuman kita,” ujar Max.
“Iya kopinya memang lumayan ya di tempat ini, aku juga sering ke gerai ini di Jakarta.”
“Tepat sekali. Enak memang.”
Fiona memainkan sendok kecil, diputar-putarkan di cangkirnya, mengaduk perlahan. Dan sambil matanya menatap Max, ia tersenyum.
“Aneh nggak sih, ini?” ucapnya sambil sedikit tergelak.
“Ahaha .. ya enggak lah,” Max menjawab.
“Kamu teman baiknya Raine?” tanya Max lagi.
“Banget. Dari kecil.”
“Dan kamu tau aku dari kapan?”
“Raine cerita semua tentang kamu ke aku.”
“Oh.”
“Soal kemarin, Raine dan aku putus juga dia cerita?”
“Aku lihat langsung. Aku di mobil waktu itu. Aku lihat cukup jelas dari jauh.”
“Oh.” Max ber-oh lagi. Jelas semburat malu di wajahnya.
“Sorry it didn’t work out between you and her, Max.”
“Ah, ga pa apa koq.”
“Tapi kalau kalian enggak putus, aku enggak akan ada disini sekarang kan?”
“Ya sih. Hahaha.”
“Max?” Fiona bertanya.
“Ya?”
“Benar kan ini enggak apa-apa?”
Max berpikir sebentar sebelum merespon.
“Ya. Enggak apa-apa. Santailah.”
“Sering ada cewek minta ketemu, duduk, ngobrol, kencan buta kaya gini Max?”
“Ngga ada sih. Ini yang pertama kali.” Max tersenyum.
“Ini yang pertama kali? Terus kesannya gimana? Suka? Nggak suka?”
“Gimana ya? Susah sih jelasinnya, aneh tapi asyik gitu. Haha.”
“To the point ya. Aku suka kamu, Max. Kamu suka aku, nggak?”
“Masa sih? Beneran?”
“Beneran.”
“Aku juga suka sih.” Max membalas.
“Suka apanya?” tanya Fio.
“Suka ini, percakapan ini. Ngobrol sama kamu kaya gini. Aku suka. Tadinya aku kira ini bakal rada awkward canggung tapi ternyata enggak.”
“Nice. Plan aku jalan berarti.” ucap Fio
Lalu mereka berdua tertawa kembali. Masing-masing menikmati kopi mereka, lalu sesaat kemudian melanjutkan kembali.
“Aku tau banyak tentang kamu. Lumayan sih dari cerita-cerita Raine. Nah kamu kan blank tentang aku. Tanya-tanya lah. Tiga deh.”
“Ya ya benar juga. OK yang pertama dulu deh. Sekarang kerja dimana?”
“Sekarang aku Marketing Director di Musique. Urusin penjualan dan pantau pasar untuk musik-musik pop di negeri ini lah.”
“Wah keren tuh.”
“Biasa aja. Pesuruh doang. Yang keren ya artis-artisnya. Kita di label sih cuma orang pemasaran biasa. Aku masuk dari komunikasi tapi. Aku kuliah di sini juga lho.”
“Oh ya? Oh ya berarti sama Raine juga ya.”
“Umm.. fokus ke aku dong, please. Haha.. Nanti Rainenya bersin disebut-sebut terus sama kamu Max.”
“Haha. Mitos banget ih.”
“Haha. Bener lagi itu bukan mitos. Second question please please please.”
“Ahaha.. ya ya .. sabar dikit napa. Apa ya? Oh ya, udah sering pacaran ya? Kayanya udah ahli nih.”
“Nope. Ini pertama kali aku bicara sedekat ini dengan cowok.”
“Oh ya? Hmm.. sulit dipercaya Fio.”
“Kenapa gitu?”
“Soalnya aku nyaman bicara sama kamu. Dan itu jarang terjadi dengan siapapun.” Max menjawab dan kini giliran Fiona yang memerah pipinya.
“Karna aku anak komunikasi dan marketing kali ya?” Fiona mencoba menghindari menutupi sukacita yang menyeruak di wajahnya.
“Nggaklah.” Jawab Max pasti.
“Terus?”
“Karena aku percaya kamu kesini hari ini, ingin bertemu dan apapun, ini ada artinya untuk kita berdua.”
“Thanks Max. You’re right.” Fiona berucap pelan seraya menunduk.
Saat ini Fiona benar-benar merasa campur aduk. Di satu sisi ia merasa semua berjalan dengan sempurna, ia melambung tinggi. Tapi itu kini, tanpa ia duga sebelumnya, membuatnya takut. Takut jatuh dan terbangun dari semua mimpi ini. Dan lebih lagi, ia merasa senang karena dugaannya tentang Max benar. Pria ini sangat santun. Tak bisa ia pahami mengapa Raine memutuskan untuk mencampakkannya demi Sierra yang tak lebih dari berkas kisah masa lalu.
“Pertanyaan ketiga sekarang, boleh?” tanya Max.
“Eh ya, ya ..”
“What’s your deepest secret?”
Bum! Pertanyaan ini sama sekali tak ia duga sebelumnya. Fiona mulai bisa merasakan akan kembali terhempas ke kenyataan yang menyakitkan setelah sebelumnya terlempar ke angkasa.
“Koq gitu sih pertanyaannya?” Fio jadi salah tingkah.
“Ga boleh ya? Ada keberatan?”
“Umm .. kamu dulu deh, coba kalo kamu ditanya seperti itu, kamu jawabnya gimana?” Fiona kehabisan ide, mencoba melarikan diri dari situasi yang tak menguntungkan itu.
“Aku .. rahasia terbesar aku .. Aku suka masak. Aku bisa nangis kalau aku sedih. Aku suka dengerin musik hingga tertidur. Aku punya pembantu yang aku anggap ibuku sekaligus sahabatku sendiri. Aku tak ingin berlama-lama pacaran, dan ingin punya anak 3 dari pernikahanku. Atau mungkin dari mengadopsi. Nah, sekarang giliran kamu, Fio,” jawab Max tenang.
Fiona mengagumi kejujuran Max yang bisa dibilang luar biasa mengingat ini sama beresikonya dengan posisinya. Wanita manapun bisa saja hilang hasrat mendengar seorang pria yang menangis, pembantu bak ibu, atau pun inginkan jumlah anak tertentu. Tapi pria ini sedia ambil semua resiko itu.
“Tapi aku takut.” Fio berterus terang.
“Takut kenapa?”
“Takut kamu jadi berubah pandangan kalau kamu tahu rahasia aku.”
Max tersenyum, lalu berkata, “Rahasia kita simpan, karena kita pikir itu buruk. Dengan demikian kita merampas hak orang lain untuk melakukan penilaian terhadap hal tersebut dan secara tidak lain kita menuduh orang lain punya pandangan buruk yang sama dengan kita. Dengan kata sederhana, menyimpan rahasia itu egois. Kamu tidak egois, bukan?”
Fiona merasa rapuh, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk meresikokannya. Andai Max tak menangkapnya saat ia terjatuh kali ini, ia pasti hancur berkeping-keping. Suatu pertaruhan besar. Mungkin ini lebih besar dari saat ia bilang suka pertama tadi. Ini sudah jenis komitmen yang jauh lebih serius dan ia sama sekali tak mengira semua akan berjalan secepat ini.
“Aku sempat berpikir untuk menjadi lesbian. Aku berpikir untuk menutup diri dari semua laki-laki. Aku merasa hilang harapan akhir-akhir ini. Tapi saat melihatmu malam itu, aku merasa ada sedikit harapan. Aku merasa tak semua laki-laki itu buruk, karena melihatmu, melihat besar perasaanmu pada Raine, aku ingin ada disana, untuk menjadi seberuntung itu, merasakan dicintaimu.”
Max terdiam, terharu, lalu bertanya.
“Kenapa kau sempat berpikiran seperti itu kalau boleh aku tahu Fio?”
“Aku tak bisa bilang, Max. When something bad happened in your family, you just have to accept it and move on. Yang aku bisa bilang hanyalah, aku tak dibesarkan seperti orang kebanyakan. Kuharap kau bisa menerimanya seperti itu.”
Max bisa memakluminya. Lagipula ia tahu benar dari cerita-cerita mbok Asih padanya, betapa hidup tak selalu berjalan dengan mulus seperti yang kita inginkan. Satu saat akan datang awan hitam, dan harus tunggu hingga hujan deras berlalu baru kita bisa melangkah lagi dan menikmati indah pelangi. Ia ingin menawarkan pelangi itu pada gadis di hadapannya ini.
“Satu pertanyaan terakhir boleh Fio?”
“Tiga sudah cukup kan, batasnya tiga?” Ia terdengar seperti anak kecil yang ketakutan.
“Tapi ini penting.” Max menegaskan.
“Apa?”
“Maukah kau temani aku, kini, nanti, dan seterusnya?” Max berkata seraya kedua tangannya menggenggam kedua tangan Fiona.
Fiona tak kuasa menjawab, ia hanya bisa mengangguk pelan.
Max dengan jempolnya menyeka air mata yang menetes di wajah Fiona.
Bagi Max, perkembangan ini memang mengejutkan, sekaligus menyenangkan. Tak berapa lama, ia ada di posisi ini, berlinang air mata karena dicampakkan Raine. Dan ia tak keberatan bila ia harus melupakan Raine. Max selalu menganggap dirinya sendiri pria yang realistis, romantis, dan ksatria. Ia sangat menikmati peran yang bisa ia tawarkan pada Fiona, dan juga ia merasa bahwa Fiona sendiri merupakan pribadi yang sangat menarik.
“No need to cry, everything is okay now, sweetheart.”
Ia menangis karena merasa lega. Beban berat yang menghimpit terasa lepas sudah. Ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Fiona yakin sekali akan hal itu. Ia kini tengah berjalan di titian pelangi yang dibentangkan Max di depannya, dan ia hanya berharap kisah ini bisa selamanya.
Hari ini pun, Raine akan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan saat ini. Menemui seorang pria dan melihat kemungkinan yang terjadi. Ya, sekarang memang bukan masanya lagi untuk menantikan seorang pria idaman muncul di depan pintu rumah seperti Romeo yang muncul di bawah menantikan Juliet muncul dari balkon, menyanyikan syair-syair pujangga. Jumlah wanita yang berbanding terbalik dengan jumlah pria jelas membuat kompetisi kian ketat, dan terlepas dari itu semua, Fiona dan Raine memiliki kesamaan untuk proaktif dalam menyelesaikan segala sesuatu hal. Fiona lalu teringatkan kebiasaan lama untuk menyelesaikan jawaban untuk semua buku teks maupun LKS yang didapat bersama Raine persis di hari buku itu dibeli. Seperti halnya pemburu, mereka tak ingin berada di belakang sasaran mereka. Saat siswa lain baru akan mengerjakan materi pelajaran buku atau LKS tersebut Fiona dan Raine hanya perlu pura-pura sibuk, dan guru-guru yang tahu akan hal ini, mereka semua mengagumi semangat belajar dua gadis penguasa papan atas peringkat kelas ini.
Tapi ini adalah masalah hati. Fiona tak pernah punya pengalaman yang bisa dibilang cukup tentang pria. Sebatas mengagumi tentu sebagai gadis belia, pernah ia rasa itu rasa suka. Tapi mencari pria untuk teman hidup, ini adalah sesuatu yang sama sekali baru. Dan ia tak yakin apakah ia akan dapat menguasai ‘permainan’ pertaruhan hati ini. Cukup gelisah ia menunggu di salah satu restoran cepat saji itu. Ia memilih duduk di kursi yang tersedia di luar, karena cuaca Bandung tak terlalu terik saat itu. Tak butuh waktu lama pria yang ditunggu pun muncul.
“Fiona?” Pria itu menyapa namanya, masih berdiri. Lalu ia mengulurkan tangannya, “Aku Max.”
Fiona menyambut uluran tangan tersebut dan mereka pun berjabat tangan untuk beberapa detik.
Fiona tersenyum. Entah mengapa ia merasa hatinya berdebar kencang. Dan permainan pun dimulai.
Mereka hanya diam untuk beberapa saat. Tak ada suara, saling tatap. Namun mereka berdua mulai tersenyum satu sama lain. Fiona pun memulai.
“Aku datang agak awal tadi, dan memesan kopi untukku sendiri. Dan aku gugup, dan aku tak tahu apa kau akan benar-benar datang menemuiku atau tidak. So, I didn’t order anything for you. Would you want something to drink?”
“Oh iya deh. Tunggu sebentar ya.”
Max lalu beranjak ke counter, dan tak berapa lama ia kembali dengan secangkir kopi yang sama dengan yang dinikmati Fiona saat ini.
“Nah, sama nih minuman kita,” ujar Max.
“Iya kopinya memang lumayan ya di tempat ini, aku juga sering ke gerai ini di Jakarta.”
“Tepat sekali. Enak memang.”
Fiona memainkan sendok kecil, diputar-putarkan di cangkirnya, mengaduk perlahan. Dan sambil matanya menatap Max, ia tersenyum.
“Aneh nggak sih, ini?” ucapnya sambil sedikit tergelak.
“Ahaha .. ya enggak lah,” Max menjawab.
“Kamu teman baiknya Raine?” tanya Max lagi.
“Banget. Dari kecil.”
“Dan kamu tau aku dari kapan?”
“Raine cerita semua tentang kamu ke aku.”
“Oh.”
“Soal kemarin, Raine dan aku putus juga dia cerita?”
“Aku lihat langsung. Aku di mobil waktu itu. Aku lihat cukup jelas dari jauh.”
“Oh.” Max ber-oh lagi. Jelas semburat malu di wajahnya.
“Sorry it didn’t work out between you and her, Max.”
“Ah, ga pa apa koq.”
“Tapi kalau kalian enggak putus, aku enggak akan ada disini sekarang kan?”
“Ya sih. Hahaha.”
“Max?” Fiona bertanya.
“Ya?”
“Benar kan ini enggak apa-apa?”
Max berpikir sebentar sebelum merespon.
“Ya. Enggak apa-apa. Santailah.”
“Sering ada cewek minta ketemu, duduk, ngobrol, kencan buta kaya gini Max?”
“Ngga ada sih. Ini yang pertama kali.” Max tersenyum.
“Ini yang pertama kali? Terus kesannya gimana? Suka? Nggak suka?”
“Gimana ya? Susah sih jelasinnya, aneh tapi asyik gitu. Haha.”
“To the point ya. Aku suka kamu, Max. Kamu suka aku, nggak?”
“Masa sih? Beneran?”
“Beneran.”
“Aku juga suka sih.” Max membalas.
“Suka apanya?” tanya Fio.
“Suka ini, percakapan ini. Ngobrol sama kamu kaya gini. Aku suka. Tadinya aku kira ini bakal rada awkward canggung tapi ternyata enggak.”
“Nice. Plan aku jalan berarti.” ucap Fio
Lalu mereka berdua tertawa kembali. Masing-masing menikmati kopi mereka, lalu sesaat kemudian melanjutkan kembali.
“Aku tau banyak tentang kamu. Lumayan sih dari cerita-cerita Raine. Nah kamu kan blank tentang aku. Tanya-tanya lah. Tiga deh.”
“Ya ya benar juga. OK yang pertama dulu deh. Sekarang kerja dimana?”
“Sekarang aku Marketing Director di Musique. Urusin penjualan dan pantau pasar untuk musik-musik pop di negeri ini lah.”
“Wah keren tuh.”
“Biasa aja. Pesuruh doang. Yang keren ya artis-artisnya. Kita di label sih cuma orang pemasaran biasa. Aku masuk dari komunikasi tapi. Aku kuliah di sini juga lho.”
“Oh ya? Oh ya berarti sama Raine juga ya.”
“Umm.. fokus ke aku dong, please. Haha.. Nanti Rainenya bersin disebut-sebut terus sama kamu Max.”
“Haha. Mitos banget ih.”
“Haha. Bener lagi itu bukan mitos. Second question please please please.”
“Ahaha.. ya ya .. sabar dikit napa. Apa ya? Oh ya, udah sering pacaran ya? Kayanya udah ahli nih.”
“Nope. Ini pertama kali aku bicara sedekat ini dengan cowok.”
“Oh ya? Hmm.. sulit dipercaya Fio.”
“Kenapa gitu?”
“Soalnya aku nyaman bicara sama kamu. Dan itu jarang terjadi dengan siapapun.” Max menjawab dan kini giliran Fiona yang memerah pipinya.
“Karna aku anak komunikasi dan marketing kali ya?” Fiona mencoba menghindari menutupi sukacita yang menyeruak di wajahnya.
“Nggaklah.” Jawab Max pasti.
“Terus?”
“Karena aku percaya kamu kesini hari ini, ingin bertemu dan apapun, ini ada artinya untuk kita berdua.”
“Thanks Max. You’re right.” Fiona berucap pelan seraya menunduk.
Saat ini Fiona benar-benar merasa campur aduk. Di satu sisi ia merasa semua berjalan dengan sempurna, ia melambung tinggi. Tapi itu kini, tanpa ia duga sebelumnya, membuatnya takut. Takut jatuh dan terbangun dari semua mimpi ini. Dan lebih lagi, ia merasa senang karena dugaannya tentang Max benar. Pria ini sangat santun. Tak bisa ia pahami mengapa Raine memutuskan untuk mencampakkannya demi Sierra yang tak lebih dari berkas kisah masa lalu.
“Pertanyaan ketiga sekarang, boleh?” tanya Max.
“Eh ya, ya ..”
“What’s your deepest secret?”
Bum! Pertanyaan ini sama sekali tak ia duga sebelumnya. Fiona mulai bisa merasakan akan kembali terhempas ke kenyataan yang menyakitkan setelah sebelumnya terlempar ke angkasa.
“Koq gitu sih pertanyaannya?” Fio jadi salah tingkah.
“Ga boleh ya? Ada keberatan?”
“Umm .. kamu dulu deh, coba kalo kamu ditanya seperti itu, kamu jawabnya gimana?” Fiona kehabisan ide, mencoba melarikan diri dari situasi yang tak menguntungkan itu.
“Aku .. rahasia terbesar aku .. Aku suka masak. Aku bisa nangis kalau aku sedih. Aku suka dengerin musik hingga tertidur. Aku punya pembantu yang aku anggap ibuku sekaligus sahabatku sendiri. Aku tak ingin berlama-lama pacaran, dan ingin punya anak 3 dari pernikahanku. Atau mungkin dari mengadopsi. Nah, sekarang giliran kamu, Fio,” jawab Max tenang.
Fiona mengagumi kejujuran Max yang bisa dibilang luar biasa mengingat ini sama beresikonya dengan posisinya. Wanita manapun bisa saja hilang hasrat mendengar seorang pria yang menangis, pembantu bak ibu, atau pun inginkan jumlah anak tertentu. Tapi pria ini sedia ambil semua resiko itu.
“Tapi aku takut.” Fio berterus terang.
“Takut kenapa?”
“Takut kamu jadi berubah pandangan kalau kamu tahu rahasia aku.”
Max tersenyum, lalu berkata, “Rahasia kita simpan, karena kita pikir itu buruk. Dengan demikian kita merampas hak orang lain untuk melakukan penilaian terhadap hal tersebut dan secara tidak lain kita menuduh orang lain punya pandangan buruk yang sama dengan kita. Dengan kata sederhana, menyimpan rahasia itu egois. Kamu tidak egois, bukan?”
Fiona merasa rapuh, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk meresikokannya. Andai Max tak menangkapnya saat ia terjatuh kali ini, ia pasti hancur berkeping-keping. Suatu pertaruhan besar. Mungkin ini lebih besar dari saat ia bilang suka pertama tadi. Ini sudah jenis komitmen yang jauh lebih serius dan ia sama sekali tak mengira semua akan berjalan secepat ini.
“Aku sempat berpikir untuk menjadi lesbian. Aku berpikir untuk menutup diri dari semua laki-laki. Aku merasa hilang harapan akhir-akhir ini. Tapi saat melihatmu malam itu, aku merasa ada sedikit harapan. Aku merasa tak semua laki-laki itu buruk, karena melihatmu, melihat besar perasaanmu pada Raine, aku ingin ada disana, untuk menjadi seberuntung itu, merasakan dicintaimu.”
Max terdiam, terharu, lalu bertanya.
“Kenapa kau sempat berpikiran seperti itu kalau boleh aku tahu Fio?”
“Aku tak bisa bilang, Max. When something bad happened in your family, you just have to accept it and move on. Yang aku bisa bilang hanyalah, aku tak dibesarkan seperti orang kebanyakan. Kuharap kau bisa menerimanya seperti itu.”
Max bisa memakluminya. Lagipula ia tahu benar dari cerita-cerita mbok Asih padanya, betapa hidup tak selalu berjalan dengan mulus seperti yang kita inginkan. Satu saat akan datang awan hitam, dan harus tunggu hingga hujan deras berlalu baru kita bisa melangkah lagi dan menikmati indah pelangi. Ia ingin menawarkan pelangi itu pada gadis di hadapannya ini.
“Satu pertanyaan terakhir boleh Fio?”
“Tiga sudah cukup kan, batasnya tiga?” Ia terdengar seperti anak kecil yang ketakutan.
“Tapi ini penting.” Max menegaskan.
“Apa?”
“Maukah kau temani aku, kini, nanti, dan seterusnya?” Max berkata seraya kedua tangannya menggenggam kedua tangan Fiona.
Fiona tak kuasa menjawab, ia hanya bisa mengangguk pelan.
Max dengan jempolnya menyeka air mata yang menetes di wajah Fiona.
Bagi Max, perkembangan ini memang mengejutkan, sekaligus menyenangkan. Tak berapa lama, ia ada di posisi ini, berlinang air mata karena dicampakkan Raine. Dan ia tak keberatan bila ia harus melupakan Raine. Max selalu menganggap dirinya sendiri pria yang realistis, romantis, dan ksatria. Ia sangat menikmati peran yang bisa ia tawarkan pada Fiona, dan juga ia merasa bahwa Fiona sendiri merupakan pribadi yang sangat menarik.
“No need to cry, everything is okay now, sweetheart.”
Ia menangis karena merasa lega. Beban berat yang menghimpit terasa lepas sudah. Ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Fiona yakin sekali akan hal itu. Ia kini tengah berjalan di titian pelangi yang dibentangkan Max di depannya, dan ia hanya berharap kisah ini bisa selamanya.
There's a time for the good in life,
a time to kill the pain in life,
dream about the sun you queen of rain
a time to kill the pain in life,
dream about the sun you queen of rain
'QUEEN OF RAIN'
Diubah oleh rahan 21-12-2014 13:46
0