Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#183
EPISODE 5: QUEEN OF RAIN - 1 OKTOBER 2009

In that big big house there are fifty doors
and one of them leads to your heart.
In the time of spring I passed your gate
and tried to make a start.
All I knew was the scent of sea and dew
but I've been in love before,
how about you?


"LOW!" Sierra memanggil dengan kencang karibnya tersebut.

Terdengar bunyi kunci kamar diputar. Tapi pintu tidak dibuka.

Sierra membuka pintu tersebut dengan segera. Yang punya kamar cuek baca komik di atas kasur. Ratusan komik dan lebih dari sepuluh bungkus Chitato berserakan di atas kasur, saingan menutupi bantal dan selimut.

Di meja komputer tergeletak kotak pizza yang isinya nyaris tuntas, tinggal 2 slice tersisa.

"Ini kenapa lagi orang satu modelnya kaya gini? Dari kemarin ngurung diri di kamar ga kerja - kerja. Itu proyekan orang mau dianggurin semua apa gimana?" Sierra ngomel.

"Alah, gw lagi ga ada mood. Mood gw tidur." Lowry menjawab seadanya.

"Nah itu namanya enggak profesional. Sudah bagus ada job, ada proyek, ngerjainnya nunggu mood. Ntar deadline mepet keburu-buru minta ekstensi. Ya kalau mood engga ada ya dibikinlah."

"Nah ini lo ga liat gw lagi nyari mood gw?" Lowry menjawab dengan ujung matanya melirik kesana kemari menunjuk barang-barang berantakan di kamarnya.

Sierra cuma geleng-geleng kepala.

"Masalahnya apa sih Low?"

"Masalahnya? Masalahnya tuh si Kikan ga bisa ngelupain lo. Jadi aja gw ditolak mentah-mentah sama dia."

"Nah kan gw udah bilang kemarin-kemarin. Lo nggak percaya."

"Ah bawel." Lowry masih sebel dengan sobatnya itu.

"Trus dia bilang apa lagi?"

"Dia bilang mo berangkat nyusul nyokap bokapnya ke Prancis. Dia bilang kalo jadian ama gw dia pasti inget sama lo."

"Nah, kalo gitu Low, lo berenti aja temenan ama gw, terus lo ikut dia ke Prancis."

"Ah Tupai Arab lo. Kalo ngomong ya nggak mikir." Lowry makin jengkel.

Sierra tersenyum geli disebut tupai arab.

"Low, dia itu masih abg, baru juga mau tau dunia. Biarlah dia ke Prancis dulu, ntar juga kalo emang lo jodohnya dia .. nyangkut lagi sama lo."

"Nyangkut? Bahasa lo tuh ya .. Lo pikir dia layangan pake nyangkut segala. Mau gw jodohnya dia dilihat dari mana, kebo aer, gw disini aja ga bisa jadi jodohnya dia, apalagi gw disini dia di Prancis."

"Pake strategi dong." Sierra sok serius.

"Strategi apaan?"

"Lo jadi orang kaya raya. Punya banyak duit. Pake jet pribadi, lo ke Prancis, pake asap warna pink, terus tulis nama dia di awan, telpon suruh dia liat ke langit, terus lo terjun payung deh turun pas di deket dia, lo langsung bersimpuh keluarin cincin, sembari asapnya tambahin tulisan, will you marry me. Nah tapi sebelum itu semua lo bangun dulu, masuk studio, kerjain tuh proyekan kantor nyokap lo. Kalo ga, ya ga bakal kebeli jet pribadinya." Sierra ngoceh panjang lebar menyemangati Lowry dengan ide gilanya.

Lowry mendengar itu semua diam sebentar, lalu melemparkan komik yang dibacanya ke arah Sierra. satu dua, lalu semua komik yang ada di atas kasur.

"Dasar lo ya. Ganteng-ganteng sarap. Strategi apaan kaya begitu! Orang lagi patah hati malah dijadiin bahan lawakan."

Sierra yang menjadi target sambitan komik, buru-buru kabur keluar kamar, sambil menutup pintu.

"Kerja makanya Low! Kaya dulu, baru cari cewek lagi."

Kata-kata terakhir Sierra itu ada benarnya juga. Ia memang masih jauh dari mapan. Kalau dipikir-pikir selama ini Lowry terlalu mengandalkan ayah dan ibunya yang sangat baik hati dalam hal finansial. Dan sekarang disini, dia bermalas-malasan hanya karena masalah cinta, mengabaikan proyek-proyek yang dipercayakan kantor ibunya padanya.

Lowry hanya termangu menyadari betapa bodohnya selama ini ia menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan ayah dan ibunya padanya. Dengan pendidikan yang ia dapat selama kuliah di luar negeri, apa yang ia hasilkan selama ini tak begitu jauh berbeda dengan apa yang bisa dibuat oleh mereka yang hanya belajar otodidak. Ayahnya menawarkan untuk pindah ke Jepang, sedangkan ibunya menyarankan ia untuk mulai menggarap proyek-proyek serius dan bekerja magang di studio musik profesional mancanegara. Tak satupun dari kedua hal tersebut yang ia pertimbangkan dengan baik sejauh ini. Kalau dipikir-pikir yang ia lakukan hanyalah menunggu Kikan putus dari Sierra selama ini, dan sekarang saat mereka benar-benar sudah putus sekalipun, Lowry tak memiliki nilai lebih apapun dibanding Sierra untuk bisa meraih hati gadis pujaannya tersebut.

Di kamar itu, Lowry menatap ke seluruh komik, cd games, dan bungkus makanan yang berserakan, lalu menatap ke cermin ke tubuh gemuknya yang tak pernah ia ajak berolahraga dan tiba pada satu kenyataan bahwa selama ini ia telah menyia-nyiakan waktu yang berharga dalam hidupnya, waktu yang seharusnya ia manfaatkan untuk bisa jadi pria yang cukup layak untuk Kikan.

Bahwa seharusnya, bila ia sungguh-sungguh mencinta, ia hendaknya hidup seperti seorang pecinta, berkorban. Dan awal dari semua pengorbanan haruslah dimulai dari membenahi diri sendiri dan berhenti mengurusi keinginan-keinginan. Ia sadar benar, Kikan dan hanya Kikan yang akan selalu ada dalam hatinya dan hidupnya. Ia tak butuh Kikan untuk menerima cintanya, karena hanya dengan mengenal gadis itu Lowry telah merasa mendapatkan arti hidupnya. Ia merasa dapat hidup seratus tahun lagi karena ia mengenal Kikan. Ia merasa dapat melakukan segala hal karena ia mencintai Kikan. Ia tak pernah merasa sebertenaga dan sebersemangat ini sebelumnya. Ia merasa sangat beruntung memiliki Ayah dan Ibu yang sangat menyayanginya, Sierra yang menjadi sahabat sejatinya, dan Kikan yang menjadi gairah hidupnya.

Cukup! Tegasnya dalam hati. Waktunya membuat keputusan.

Awan kelabu perlahan memudar, dan hanya hangat matahari bersinarkan cinta yang kini ia rasa, meski saat ini itu terukir dalam tetes air mata haru yang jatuh perlahan. Cinta semestinya menguatkan, tidak menghancurkan. Ini adalah awal hari baru cinta akan tumbuh. Hari ini akan banyak cinta bersemi di udara.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.