Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#1842
PART 84

Gue mendekatkan kepalanya, dan mencium keningnya lembut. Selama beberapa detik gue merasa dunia gue berhenti. Gue ingin menikmati momen-momen ini bersamanya. Gue memeluk tubuhnya, dan merasakan hangat tubuhnya. Gue merasakan ada sesuatu yang membasahi bahu gue, dan seketika itu juga gue menyadari bahwa Anin sedang menangis. Gue berusaha menenangkannya dengan membelai rambutnya yang tergerai dengan indah di punggungnya.

Gue melepaskan pelukan, dan menjauhkan tubuhnya, supaya gue bisa memandangi wajah Anin. Gue lihat pipinya basah oleh airmata, dan wajahnya memerah. Anin menunduk, memandang kebawah, seakan dia malu memperlihatkan wajahnya yang basah oleh airmata. Gue mencium keningnya sekali lagi, kemudian tersenyum memandangi wajahnya. Anin membalas senyuman gue, dan gue menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang tergerai kedepan menutupi wajahnya dengan jari gue.

Gue memeluk tubuhnya sekali lagi, dan kali ini Anin membalas pelukan gue lebih erat. Gue merasakan jiwa gue keluar dari tubuh gue, dan bersatu dengan jiwanya. Gue merasakan sangat mencintainya, melebihi yang pernah gue rasakan selama gue hidup. Gue membelai lembut rambutnya, dan mencium wangi rambutnya yang menyenangkan. Tanpa gue sadari, air mata gue mengalir perlahan di pipi gue.

Ya, gue menangis. Gue menangis karena terharu, dan bersyukur dianugerahi seorang wanita, yang bagi gue adalah wanita sempurna, selain nyokap gue. Dan sekarang wanita sempurna itu berada dalam pelukan gue. Erat.

Gue mendekatkan bibir gue ke telinganya, dan kemudian berbisik dengan lembut.

Quote:


Anin kemudian menjauhkan kepalanya, memandangi gue dan tersenyum. Dia gak menjawab apapun, tapi dia membalasnya dengan mencium bibir gue dengan lembut. Kemudian Anin mendekatkan kepalanya ke telinga gue, dan berbisik, seperti yang gue lakukan barusan.

Quote:


Gue tersenyum dan sekali lagi menyingkirkan beberapa helai rambut coklat kemerahan yang tergerai di wajah Anin dengan jari. Gue mengangguk pelan, dan Anin tersenyum lebar. Mendadak Anin berdiri, dan menarik tangan gue, mengajak gue untuk mengikutinya. Gue memandangi Anin dengan pandangan bertanya-tanya.

Quote:


Mau gak mau gue bangkit dari duduk dan mengikuti Anin dari belakang, yang menggandeng gue layaknya anak kecil di mall. Di taman belakang gue dan Anin duduk di bangku kayu panjang, dan dari situ kami bisa langsung memandangi langit. Malam itu udara dingin, karena sorenya baru aja hujan. Gue memandangi langit, dan memang masih ada awan yang menggantung rendah di langit. Angin bertiup cukup dingin dan berbau hujan. Pertanda sebentar lagi akan ada hujan lagi.

Gue duduk sambil menyilangkan kaki, dan sebelah tangan gue merangkul Anin yang menyandarkan kepalanya ke bahu gue dengan manja. Gue mendengar Anin menyenandungkan lagu dengan pelan, tapi entah lagu apa yang dia senandungkan waktu itu. Sambil membelai-belai rambut Anin dengan lembut, gue menengadah, dan melihat ada bulan diatas kepala kami, meskipun tertutup oleh awan tipis. Gue menoleh ke Anin.


Quote:


Anin kemudian beringsut semakin menempel ke gue. Agaknya dia kedinginan, karena malam itu memang angin bertiup cukup dingin. Gue agak menyesal kenapa tadi gue mengurungkan niat untuk bawa jaket dari rumah. Kalo gue bawa jaket kan bisa gue pakein ke Anin sekarang. Eh tapi ini kan dirumahnya, kalo perlu ntar ambil selimut dikamar aja dah.

Quote:


Gue agak kaget dengan panggilan Anin yang mendadak itu, kemudian gue menoleh,

Quote:


Gue tertawa pelan dan menunduk, memainkan kaki gue di rerumputan basah. Gue menarik napas panjang, dan menoleh ke arah Anin lagi. Gue melihat wajahnya yang cantik, tersenyum sambil menengadah memandangi bulan. Gue mengarahkan pandangan gue ke rerumputan hijau gelap yang berkilau tertimpa cahaya lampu taman dan cahaya bulan yang redup. Gue memejamkan mata, dan sekali lagi menarik napas panjang. Kemudian gue menoleh ke Anin, dan memandangi wajahnya lekat-lekat.

Quote:


Gue menurunkan rangkulan gue, dan menggenggam sebelah tangannya dengan kedua tangan. Gue tersenyum dan menggigit bibir.

Quote:


Anin terdiam, dan memandangi gue. Dia menutupi mulutnya dengan jemarinya, yang gue liat sedikit bergetar.

Quote:


Sebelum Anin menyelesaikan kalimatnya, gue mengangguk, dan mempererat genggaman tangan gue di tangannya.

Quote:

khodzimzz
jenggalasunyi
pulaukapok
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.