- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1563
PART 71
Tepat pukul tujuh pagi gw terbangun dari tidur. Kemudian gw bangkit berjalan menuju cermin di lemari. Gw berkaca, dan gw melihat kedua kelopak mata gw sedikit menghitam. Mungkin ini efek dari begadang yang terus gw lakukan selama berminggu minggu. Tentu hal itu gw lakukan bukan tanpa sebab. Tugas tugas kuliah semakin hari semakin banyak, dan tugas itu sukses membuat waktu tidur gw berantakan. Tidur menjelang subuh, sedangkan gw harus bangun pagi pagi.
Namun gw bersyukur sampai detik ini masih diberi kesehatan. Karena bagi gw, sehat itu harta yang tak ternilai harganya. Percuma banyak duit tapi penyakitan. Duit itu nanti akan habis sendirinya untuk biaya pengobatan. Lebih baik hidup berkecukupan tapi jiwa raga ini selalu sehat. Dengan sehat kita bisa belajar lebih tekun dan kita bisa bekerja lebih keras. Dengan sehat pula, apapun bisa kita lakukan termasuk merubah nasib. Yang tadinya bodoh bisa menjadi pintar, yang tadinya jelek bisa jadi ganteng. Dan yang paling penting, tadinya miskin bisa menjadi kaya. Kesemua hal itu bisa kita lakukan dengan satu syarat. Yaitu sehat. Baik secara jasmani maupun rohani.
Pagi itu gw sudah siap dengan segala tetek bengeknya untuk memulai aktivitas hari ini. Dengan menunggangi motor kesayangan, gw pun berangkat menuju kampus walau sedikit menahan rasa kantuk. Sebelumnya gw sudah janjian dengan bidadari gw untuk berangkat sama sama pagi ini. Lantas gw menuju rumahnya untuk menjemputnya. 10 menit perjalanan gw pun sampai di depan rumahnya. Gw lihat dia sedang duduk menunggu gw di depan rumah sambil merapihkan poninya yang sedikit basah. Gw turun dari motor lalu disambut Bunga dengan tatapan mata yang aneh. Kedua bola matanya terbuka lebar melotot ke arah gw.
"Apaan sih Bung! Biasa aja melototnya!" Ucap gw.
"Kamu ikutin aku kaya gini...!" Ujarnya masih melotot.
"Males ah! Nggak bisa!" Ujar gw.
"Aku tau kamu nggak tidur semaleman. Makannya ikutin aku begini biar mata kamu melek." Ucapnya.
"Kamu tuh aneh aneh aja!" Gerutu gw.
"ih cepet ikutin aku!" Ujarnya kekeuh.
"....."
Gw menurut dan membuka mata gw lebar lebar. Alhasil gw sama dia sekarang jadi saling pelotot pelototan. Entah ini kegiatan aneh kita yang keberapa kalinya. Tiba tiba dia meniup mata gw, hembusan angin itu otomatis membuat mata gw berkedip.
"Haha aku menang!" Ujarnya.
"Eh? menang apaan?" Tanya gw bingung.
"Kan peraturannya yang ngedip kalah..."
"Sejak kapan kamu bikin peraturan begitu?"
"Tadi kamu ngedip tuh. Berarti kalah" Ujarnya sambil melet.
"Lah aku kan cuma ngikutin doang apa yang kamu minta." Protes gw.
"Pokoknya aku menang, kamu kalah."
"Diih...nggak bisa gitu dong!"
"Traktir aku sarapan!!"
"Nggak nggak! Kamu curang! Nggak fair!" Protes gw lagi.
"Loh curang kenapa?"
"Mata aku kamu tiup! Ya jelas aku ngedip lah!"
Di tengah perdebatan itu tiba tiba ada suara seorang perempuan setengah berteriak ke arah kami berdua.
"Heh! ini udah siang bukannya pada berangkat malah ribut ribut!"
"....." Gw menoleh.
"......" Bunga menoleh.
"Eh, iya Bunda ni mau berangkat." Ucap gw lalu salim.
"Yaudah sana cepet berangkat dah siang."
"Iya Bun..."
"Hati hati Jar! Jagain Bunga!"
"Oke."
"Jangan ngebut!"
"Siap!"
"Satu lagi pesen dari saya."
"Apa tuh Bun?"
"Kalo ada polisi tidur, lindes aja. Jangan dibangunin."
"(Kampret!)" Ucap gw dalam hati.
Sesuai amanat dari bunda, gw mengendarai motor dengan kecepatan pelan. Lagi pula kondisi jalan pagi itu lumayan padat. Jadi kemungkinan untuk ngebut pun kecil. Satu jam lebih menempuh perjalanan, kita pun sampai di depan gedung kampus Bunga. Setelah dia turun, gw berpisah dengannya. Ya, gw sama dia memang beda jurusan. Gedung dia disini, sedangkan gedung gw disono.
Setibanya di parkiran gw langsung memarkir motor, lantas berjalan sedikit terburu buru menuju gedung kampus. Sampailah gw di depan kelas. Gw melihat pintu sudah tertutup dan gw sadar kalau gw telat. Sedangkan dosen yang mengajar waktu itu termasuk salah satu dosen 'killer'. Apabila ada mahasiswa yang telat barang satu menit, maka tidak diizinkan masuk mengikuti kuliahnya. Akhirnya gw tertunduk pasrah berjalan meninggalkan kelas menuju kantin.
"derrt...derrt..." Jimbot gw bergetar. Gw meraihnya dari dalam saku celana lalu menatap layarnya. Disitu tertera nomor yang tidak gw kenal. Lalu gw menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Halo...."
"......"
"Halo..."
"......"
"Oy siapa nih?"
"Jar..."
"(Wah suaranya perempuan)" Ucap gw dalam hati.
"Jar...Ini bener Fajar kan?"
"Iya bener. Siapa ini?"
"Ana...."
"Oh, iya ada apa?" Tanya gw.
"Lu lagi ada kuliah nggak?"
"Ada sih....tapi gw udah telat. Emang kenapa?"
"Gw mau minta tolong sama lu.."
"Kapan?"
"Sekarang bisa? ke kosan gw?"
"Emm....Yaudah"
"Jangan lama ya. Gw tunggu."
"Ok"
Gw berfikir sejenak, bertanya pada diri gw sendiri. Kok si Ana bisa tau nomor HP gw? Dan gw pun ingat. Kemarin sebelum gw pergi dari kosannya gw sempat menulis nomor HP gw disebuah kertas. Lagipula gw memang berjanji padanya untuk kembali lagi menjenguknya. Bagaimanapun juga gw harus bertanggung jawab atas kesembuhan dia.
Saat itu, gw belum cerita apa apa mengenai kecelakaan ini pada Bunga. Gw nggak mau dia tahu permasalahan ini. Dan gw memutuskan tetap merahasiakannya. Lantas gw kembali ke parkiran mengambil Jupi lalu berangkat menuju kosan Ana. Tak sampai memakan waktu 5 menit gw sudah sampai. Cukup dekat memang jarak kosannya dia dari kampus.
"Tok..tok.." Gw mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" Teriak Ana dari dalam.
"Gw...Fajar."
"Masuk Jar, buka aja..."
Atas izinnya gw membuka pintu dan gw melihat sosoknya tengah duduk selonjoran sementara sehelai handuk melingkar di lehernya. Gw sempet diam beberapa saat ketika menatapnya. Nih anak beneran cantik ya. Gumam gw dalam hati.
"Emm, ada apa An?" Tanya gw.
"Gw minta tolong anterin gw ke kamar mandi."
"(Gubrak!!) Lah emang ga bisa sendiri apa?" Tanya gw."
"Kamar mandi di bawah airnya mati. Jadi gw mesti ke lantai dua."
"Ya tinggal kesana jalan."
"Iya masalahnya ini nih..." Dia menunjuk kaki kirinya.
Gw kaget menelan ludah melihat engkel kirinya yang bengkak gede banget. Ukurannya berbeda jauh dengan kaki kanannya yang sehat ditambah luka luka baret di sekitarnya. Ya tuhan, ini semua gara gara gw!
"Gw nggak bisa jalan...."
"....."
"Sakiiiit"
"Emang ga ada temen lu gitu disini?" Tanya gw.
"Nggak ada udah pada berangkat semua. Gw kebelet Jaar...!!" Ujarnya setengah merengek.
"Yaudah lu nya berdiri dulu."
"......" Dia berdiri dengan susah payah.
"Yuk gw anter ke atas."
"......" Dia mengangguk.
Dia mengulurkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya langsung melingkar di bahu gw yang siap untuk menuntunnya berjalan. Jarak gw dekat sekali dengannya, bahkan aroma tubuhnya sampai tercium oleh indra penciuman gw. Perlahan kita mulai menaiki satu persatu anak tangga. Terkadang dia merintih kesakitan ketika kaki kirinya menapak ke lantai. Pada akhirnya kita sampai di depan kamar mandi. Lantas gw melepaskannya. Ya iyalah, masa iya gw ikutan masuk?
Gw membakar sebatang rokok sambil menunggu di depan kamar mandi. Rokok yang gw bakar sudah habis separuhnya, tapi Ana belum juga keluar dari kamar mandi. Sekilas gw mendengar suara jebar jebur dari dalam. Mungkin dia sekalian mandi. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Gw matikan rokok yang masih ada setengahnya dan gw masukin kantong. Sayang kalo dibuang. Lalu gw kembali menuntunnya menuruni satu persatu anak tangga. Gw lebih berhati hati menuntunnya sebab tangga ini mempunya kemiringan yang lumayan curam.
Gw menaksir tinggi Ana kurang lebih diatas 165cm sedikit lebih tinggi dari Bunga. Namun dia langsing (Sama sih Bunga juga langsing). Maka dari itu bobot tubuhnya tidak terlalu berat ketika gw menuntunnya. Akhirnya Kita pun tiba di dalam kamar dengan selamat.
"Jaar..." Panggil dia.
"Hemm"
"Gw mau ganti baju."
"Oh yaudah ganti baju aja."
"Iya, lu bisa keluar dulu nggak sebentar"
"Eh iya iya... Maaf."
Gw keluar kamar, lalu menyalakan kembali rokok gw yang tadi sisa setengah. Pintu kamarnya terbuka kembali, dan sekarang Ana terlihat segar dan fresh.
"An, itu kaki lu mesti di urut."
"Iya...."
"Mau gw cariin tukang urut disekitar sini?" Tawar gw.
"Eh nggak usah. Tadi gw udah ngomong ke Ibu kos minta tolong cariin tukang urut." Ujarnya.
"Oh yaudah. Sekarang mau apa lagi? Nggak ada lagi kan?" Tanya gw.
"Makan..." Ucapnya pelan.
"Lu belum makan?" Tanya gw.
"......" Dia menggeleng.
"Yauda gw keluar cari makan dulu."
"Nih Jar, pake ini aja!" Ucapnya sambil memberikan uang dua puluh ribuan.
"Nggak usah, dah pake duit gw aja."
"Nggak Jar ini aja."
"Udah lah...." Lalu gw mulai jalan.
"Jaar!! Lu kan udah ngeluarin banyak uang kemaren. Dah pake uang gw ya. Kalo nggak gw marah sama lu..."
"Terserah...." Ujar gw tanpa menoleh masih terus berjalan.
"Jaar!!" Dia sedikit teriak.
Langkah gw pun berhenti lantas gw menoleh ke arahnya. Tatapan matanya, seperti ada yang berbeda dari dia. Tatapan matanya seakan akan menarik gw untuk kembali mendekatinya dan gw mengambil uang dua puluh ribuan dari tangannya. Lumayanlah dari pada gw ngumpanin anak orang mulu. Bisa kagak gemuk gemuk nih badan gw kalo begini caranya. Tanpa membuang waktu lagi gw berjalan menyisir jalan raya mencari warteg terdekat. Setelah mendapatkan dua porsi nasi sayur tempe lauk ayam goreng, gw kembali ke kosan Ana.
Ana langsung membuka nasi bungkus itu, lalu tanpa bismillah dia langsung melahap makanannya sedikit terburu buru. Jujur cara makan dia itu mengerikan sekali. Lap-Lap-Lap-Lep tanpa dikunyah itu nasi langsung nembus kerongkongan. Ya Masya Allah...
Gw sedikit berbincang bincang mengenai asal usulnya. Dan ternyata ai Ana ini berasal dari Bandung. Tapi gw sedikit heran, orang Bandung kok logatnya nggak Sunda? Dia pun kembali menceritakan tentang dirinya kalau dia keturunan Sunda-Padang. Namun dia tidak bisa berbahasa daerah asal orang tuanya itu. Berbeda dengan gw yang menguasai bahasa Jawa-Sunda sekaligus.
Selesai makan kami masih mengobrol ringan ngalor ngidul tentang perkuliahan. Ngobobrolin kenapa dia bisa sampe kuliah disini. Ternyata dia orangnya lumayan cerewet dan terbuka. Ada guratan khas di sudut matanya apabila dia tertawa. Itu membuat dia terlihat semakin manis. Di tengah obrolan itu, tiba tiba ada sosok laki laki berdiri di depan pintu kamar kos yang terbuka lebar. Lelaki itu lumayan ganteng dengan model rambut ala Harajunku (bener ga sih?). Sekilas gw melihat raut wajah lelaki itu sedikit muram. Lalu...
"Braaak!!!" Pintu kamar di gebrak sama dia.
"Lu bener bener ya!!" Teriak lelaki itu.
"......."
"Lu bilang katanya sakit!!"
"....."
"Nggak ada gua lu malah beduaan ama ini cowo?" Ujar lelaki itu sambil menunjuk nunjuk wajah Ana
"......" Ana diam.
"Ini siapa???" Kali ini dia menunjuk gw.
"......"
"Lu kagak sakit kan? Lu bohong kan?"
"Nggak Dani nggak!!" Ujar Ana.
"Terus nih cowo siapa?" Tanya dia lagi. Kali ini dia berani melotot ke arah gw.
Gw lihat laki laki itu menarik dengan kasar tangan Ana. Memaksa Ana untuk menjawab semua pertanyaan dia. Gila nih cowo kasar banget sama cewe. Kagak liat apa itu Ana babak belur begitu kondisinya? Ini orang psikopat apa ya? Fikir gw dalam hati. Tiba tiba dia ke arah gw, lantas narik kerah kemeja hitam gw.
"Lu siapa? Hah??" Bentak dia di depan muka gw.
"......" Gw diam.
"Udaah Dani Udah!!" Ucap Ana.
"Diem lu!!" Bentak tu cowo ke Ana.
"Dani, Udah!!" Teriak Ana lagi.
"Lu siapa??" Dia bertanya sekali pada gw. Plus mengencangkan cengkraman tangannya di kerah gw.
"....."
"Lu punya mulut nggak? Jawab a**ing!!" Bentak tuh cowo.
"Gw yang nabrak dia!!" Jawab gw sambil menunjuk ke arah Ana.
"B****sat!!"
"Gelepok!!" Dagu gw ditampol
Gw marah, gw emosi, gw nggak bisa diperlakuin kaya begini sama orang lain. Cuma bapak gw doang yang boleh nampol gw tanpa bisa gw membalasnya. Tapi kali ini gw diam. Gw nggak ngebales pukulan dia sama sekali. Gw memilih menahan emosi ini hingga badan gw bergetar ngadaregdeg.
Setelah puas ngamuk disini, itu cewok eh cowok langsung pergi sambil mengucapkan kata kata kasar yang ditujukan pada gw. Dia keluar mengendarai mogenya. Ana menghampiri gw yang masih memegangi rahang gw. Rasanya nyut nyutan. Begini nih kalo gw ditampol tapi nggak bales nampol. Sakitnya bukan hanya di rahang, tapi sampe ke ati.
"Lu nggak apa apa Jar?" Tanya dia.
"Nggak apa!"
"Maaf ya..."
"Untuk?"
"Iya tadi itu Dani. Cowo gw."
"......." Gw diem.
Gila itu cowok bener bener gila! Gw nggak nyangka Ana yang cantik lemah lembut punya cowok kasar macam begitu. Seketika mood gw hancur berantakan. Gw udah males banget ada di tempat ini, gw juga udah males ngobrol sama si Ana. Ngeliat mukanya aja gw males. Segera gw memakai jaket dan sepatu lalu beranjak pergi dari sini. Daripada gw kepalang kesel nih kosan bisa gw bakar.
"Jar..." Panggil dia.
"Kenapa?"
"Maaf ya..."
"Haha" Gw ketawa sinis.
"......"
"Oya, kita dah nggak ada urusan lagi kan? Dan sekarang gw anggep aja lu udah sembuh. Dan lu bukan urusan gw lagi!" Ucap gw.
"Jaar...."
"......"
Sialan emang sialan! Gw udah bela belain buat tanggung jawab ke nih cewe sampe pinjem duit ke temen gw segala. Tapi yang gw dapet malah perlakuan kaya begini dari cowok berengsek bernama Dani itu. Tau gitu kemaren nggak usah gw tolongin nih cewe, biar ngampar aja di tengah jalan. Kemudian gw keluarkan Jupi dari parkiran, gw stater, masuk gigi satu, lantas secepat kilat menghilang dari kosan sialan ini.
Namun gw bersyukur sampai detik ini masih diberi kesehatan. Karena bagi gw, sehat itu harta yang tak ternilai harganya. Percuma banyak duit tapi penyakitan. Duit itu nanti akan habis sendirinya untuk biaya pengobatan. Lebih baik hidup berkecukupan tapi jiwa raga ini selalu sehat. Dengan sehat kita bisa belajar lebih tekun dan kita bisa bekerja lebih keras. Dengan sehat pula, apapun bisa kita lakukan termasuk merubah nasib. Yang tadinya bodoh bisa menjadi pintar, yang tadinya jelek bisa jadi ganteng. Dan yang paling penting, tadinya miskin bisa menjadi kaya. Kesemua hal itu bisa kita lakukan dengan satu syarat. Yaitu sehat. Baik secara jasmani maupun rohani.
Pagi itu gw sudah siap dengan segala tetek bengeknya untuk memulai aktivitas hari ini. Dengan menunggangi motor kesayangan, gw pun berangkat menuju kampus walau sedikit menahan rasa kantuk. Sebelumnya gw sudah janjian dengan bidadari gw untuk berangkat sama sama pagi ini. Lantas gw menuju rumahnya untuk menjemputnya. 10 menit perjalanan gw pun sampai di depan rumahnya. Gw lihat dia sedang duduk menunggu gw di depan rumah sambil merapihkan poninya yang sedikit basah. Gw turun dari motor lalu disambut Bunga dengan tatapan mata yang aneh. Kedua bola matanya terbuka lebar melotot ke arah gw.
"Apaan sih Bung! Biasa aja melototnya!" Ucap gw.
"Kamu ikutin aku kaya gini...!" Ujarnya masih melotot.
"Males ah! Nggak bisa!" Ujar gw.
"Aku tau kamu nggak tidur semaleman. Makannya ikutin aku begini biar mata kamu melek." Ucapnya.
"Kamu tuh aneh aneh aja!" Gerutu gw.
"ih cepet ikutin aku!" Ujarnya kekeuh.
"....."
Gw menurut dan membuka mata gw lebar lebar. Alhasil gw sama dia sekarang jadi saling pelotot pelototan. Entah ini kegiatan aneh kita yang keberapa kalinya. Tiba tiba dia meniup mata gw, hembusan angin itu otomatis membuat mata gw berkedip.
"Haha aku menang!" Ujarnya.
"Eh? menang apaan?" Tanya gw bingung.
"Kan peraturannya yang ngedip kalah..."
"Sejak kapan kamu bikin peraturan begitu?"
"Tadi kamu ngedip tuh. Berarti kalah" Ujarnya sambil melet.
"Lah aku kan cuma ngikutin doang apa yang kamu minta." Protes gw.
"Pokoknya aku menang, kamu kalah."
"Diih...nggak bisa gitu dong!"
"Traktir aku sarapan!!"
"Nggak nggak! Kamu curang! Nggak fair!" Protes gw lagi.
"Loh curang kenapa?"
"Mata aku kamu tiup! Ya jelas aku ngedip lah!"
Di tengah perdebatan itu tiba tiba ada suara seorang perempuan setengah berteriak ke arah kami berdua.
"Heh! ini udah siang bukannya pada berangkat malah ribut ribut!"
"....." Gw menoleh.
"......" Bunga menoleh.
"Eh, iya Bunda ni mau berangkat." Ucap gw lalu salim.
"Yaudah sana cepet berangkat dah siang."
"Iya Bun..."
"Hati hati Jar! Jagain Bunga!"
"Oke."
"Jangan ngebut!"
"Siap!"
"Satu lagi pesen dari saya."
"Apa tuh Bun?"
"Kalo ada polisi tidur, lindes aja. Jangan dibangunin."
"(Kampret!)" Ucap gw dalam hati.
Sesuai amanat dari bunda, gw mengendarai motor dengan kecepatan pelan. Lagi pula kondisi jalan pagi itu lumayan padat. Jadi kemungkinan untuk ngebut pun kecil. Satu jam lebih menempuh perjalanan, kita pun sampai di depan gedung kampus Bunga. Setelah dia turun, gw berpisah dengannya. Ya, gw sama dia memang beda jurusan. Gedung dia disini, sedangkan gedung gw disono.
Setibanya di parkiran gw langsung memarkir motor, lantas berjalan sedikit terburu buru menuju gedung kampus. Sampailah gw di depan kelas. Gw melihat pintu sudah tertutup dan gw sadar kalau gw telat. Sedangkan dosen yang mengajar waktu itu termasuk salah satu dosen 'killer'. Apabila ada mahasiswa yang telat barang satu menit, maka tidak diizinkan masuk mengikuti kuliahnya. Akhirnya gw tertunduk pasrah berjalan meninggalkan kelas menuju kantin.
"derrt...derrt..." Jimbot gw bergetar. Gw meraihnya dari dalam saku celana lalu menatap layarnya. Disitu tertera nomor yang tidak gw kenal. Lalu gw menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Halo...."
"......"
"Halo..."
"......"
"Oy siapa nih?"
"Jar..."
"(Wah suaranya perempuan)" Ucap gw dalam hati.
"Jar...Ini bener Fajar kan?"
"Iya bener. Siapa ini?"
"Ana...."
"Oh, iya ada apa?" Tanya gw.
"Lu lagi ada kuliah nggak?"
"Ada sih....tapi gw udah telat. Emang kenapa?"
"Gw mau minta tolong sama lu.."
"Kapan?"
"Sekarang bisa? ke kosan gw?"
"Emm....Yaudah"
"Jangan lama ya. Gw tunggu."
"Ok"
Gw berfikir sejenak, bertanya pada diri gw sendiri. Kok si Ana bisa tau nomor HP gw? Dan gw pun ingat. Kemarin sebelum gw pergi dari kosannya gw sempat menulis nomor HP gw disebuah kertas. Lagipula gw memang berjanji padanya untuk kembali lagi menjenguknya. Bagaimanapun juga gw harus bertanggung jawab atas kesembuhan dia.
Saat itu, gw belum cerita apa apa mengenai kecelakaan ini pada Bunga. Gw nggak mau dia tahu permasalahan ini. Dan gw memutuskan tetap merahasiakannya. Lantas gw kembali ke parkiran mengambil Jupi lalu berangkat menuju kosan Ana. Tak sampai memakan waktu 5 menit gw sudah sampai. Cukup dekat memang jarak kosannya dia dari kampus.
"Tok..tok.." Gw mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" Teriak Ana dari dalam.
"Gw...Fajar."
"Masuk Jar, buka aja..."
Atas izinnya gw membuka pintu dan gw melihat sosoknya tengah duduk selonjoran sementara sehelai handuk melingkar di lehernya. Gw sempet diam beberapa saat ketika menatapnya. Nih anak beneran cantik ya. Gumam gw dalam hati.
"Emm, ada apa An?" Tanya gw.
"Gw minta tolong anterin gw ke kamar mandi."
"(Gubrak!!) Lah emang ga bisa sendiri apa?" Tanya gw."
"Kamar mandi di bawah airnya mati. Jadi gw mesti ke lantai dua."
"Ya tinggal kesana jalan."
"Iya masalahnya ini nih..." Dia menunjuk kaki kirinya.
Gw kaget menelan ludah melihat engkel kirinya yang bengkak gede banget. Ukurannya berbeda jauh dengan kaki kanannya yang sehat ditambah luka luka baret di sekitarnya. Ya tuhan, ini semua gara gara gw!
"Gw nggak bisa jalan...."
"....."
"Sakiiiit"
"Emang ga ada temen lu gitu disini?" Tanya gw.
"Nggak ada udah pada berangkat semua. Gw kebelet Jaar...!!" Ujarnya setengah merengek.
"Yaudah lu nya berdiri dulu."
"......" Dia berdiri dengan susah payah.
"Yuk gw anter ke atas."
"......" Dia mengangguk.
Dia mengulurkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya langsung melingkar di bahu gw yang siap untuk menuntunnya berjalan. Jarak gw dekat sekali dengannya, bahkan aroma tubuhnya sampai tercium oleh indra penciuman gw. Perlahan kita mulai menaiki satu persatu anak tangga. Terkadang dia merintih kesakitan ketika kaki kirinya menapak ke lantai. Pada akhirnya kita sampai di depan kamar mandi. Lantas gw melepaskannya. Ya iyalah, masa iya gw ikutan masuk?
Gw membakar sebatang rokok sambil menunggu di depan kamar mandi. Rokok yang gw bakar sudah habis separuhnya, tapi Ana belum juga keluar dari kamar mandi. Sekilas gw mendengar suara jebar jebur dari dalam. Mungkin dia sekalian mandi. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Gw matikan rokok yang masih ada setengahnya dan gw masukin kantong. Sayang kalo dibuang. Lalu gw kembali menuntunnya menuruni satu persatu anak tangga. Gw lebih berhati hati menuntunnya sebab tangga ini mempunya kemiringan yang lumayan curam.
Gw menaksir tinggi Ana kurang lebih diatas 165cm sedikit lebih tinggi dari Bunga. Namun dia langsing (Sama sih Bunga juga langsing). Maka dari itu bobot tubuhnya tidak terlalu berat ketika gw menuntunnya. Akhirnya Kita pun tiba di dalam kamar dengan selamat.
"Jaar..." Panggil dia.
"Hemm"
"Gw mau ganti baju."
"Oh yaudah ganti baju aja."
"Iya, lu bisa keluar dulu nggak sebentar"
"Eh iya iya... Maaf."
Gw keluar kamar, lalu menyalakan kembali rokok gw yang tadi sisa setengah. Pintu kamarnya terbuka kembali, dan sekarang Ana terlihat segar dan fresh.
"An, itu kaki lu mesti di urut."
"Iya...."
"Mau gw cariin tukang urut disekitar sini?" Tawar gw.
"Eh nggak usah. Tadi gw udah ngomong ke Ibu kos minta tolong cariin tukang urut." Ujarnya.
"Oh yaudah. Sekarang mau apa lagi? Nggak ada lagi kan?" Tanya gw.
"Makan..." Ucapnya pelan.
"Lu belum makan?" Tanya gw.
"......" Dia menggeleng.
"Yauda gw keluar cari makan dulu."
"Nih Jar, pake ini aja!" Ucapnya sambil memberikan uang dua puluh ribuan.
"Nggak usah, dah pake duit gw aja."
"Nggak Jar ini aja."
"Udah lah...." Lalu gw mulai jalan.
"Jaar!! Lu kan udah ngeluarin banyak uang kemaren. Dah pake uang gw ya. Kalo nggak gw marah sama lu..."
"Terserah...." Ujar gw tanpa menoleh masih terus berjalan.
"Jaar!!" Dia sedikit teriak.
Langkah gw pun berhenti lantas gw menoleh ke arahnya. Tatapan matanya, seperti ada yang berbeda dari dia. Tatapan matanya seakan akan menarik gw untuk kembali mendekatinya dan gw mengambil uang dua puluh ribuan dari tangannya. Lumayanlah dari pada gw ngumpanin anak orang mulu. Bisa kagak gemuk gemuk nih badan gw kalo begini caranya. Tanpa membuang waktu lagi gw berjalan menyisir jalan raya mencari warteg terdekat. Setelah mendapatkan dua porsi nasi sayur tempe lauk ayam goreng, gw kembali ke kosan Ana.
Ana langsung membuka nasi bungkus itu, lalu tanpa bismillah dia langsung melahap makanannya sedikit terburu buru. Jujur cara makan dia itu mengerikan sekali. Lap-Lap-Lap-Lep tanpa dikunyah itu nasi langsung nembus kerongkongan. Ya Masya Allah...
Gw sedikit berbincang bincang mengenai asal usulnya. Dan ternyata ai Ana ini berasal dari Bandung. Tapi gw sedikit heran, orang Bandung kok logatnya nggak Sunda? Dia pun kembali menceritakan tentang dirinya kalau dia keturunan Sunda-Padang. Namun dia tidak bisa berbahasa daerah asal orang tuanya itu. Berbeda dengan gw yang menguasai bahasa Jawa-Sunda sekaligus.
Selesai makan kami masih mengobrol ringan ngalor ngidul tentang perkuliahan. Ngobobrolin kenapa dia bisa sampe kuliah disini. Ternyata dia orangnya lumayan cerewet dan terbuka. Ada guratan khas di sudut matanya apabila dia tertawa. Itu membuat dia terlihat semakin manis. Di tengah obrolan itu, tiba tiba ada sosok laki laki berdiri di depan pintu kamar kos yang terbuka lebar. Lelaki itu lumayan ganteng dengan model rambut ala Harajunku (bener ga sih?). Sekilas gw melihat raut wajah lelaki itu sedikit muram. Lalu...
"Braaak!!!" Pintu kamar di gebrak sama dia.
"Lu bener bener ya!!" Teriak lelaki itu.
"......."
"Lu bilang katanya sakit!!"
"....."
"Nggak ada gua lu malah beduaan ama ini cowo?" Ujar lelaki itu sambil menunjuk nunjuk wajah Ana
"......" Ana diam.
"Ini siapa???" Kali ini dia menunjuk gw.
"......"
"Lu kagak sakit kan? Lu bohong kan?"
"Nggak Dani nggak!!" Ujar Ana.
"Terus nih cowo siapa?" Tanya dia lagi. Kali ini dia berani melotot ke arah gw.
Gw lihat laki laki itu menarik dengan kasar tangan Ana. Memaksa Ana untuk menjawab semua pertanyaan dia. Gila nih cowo kasar banget sama cewe. Kagak liat apa itu Ana babak belur begitu kondisinya? Ini orang psikopat apa ya? Fikir gw dalam hati. Tiba tiba dia ke arah gw, lantas narik kerah kemeja hitam gw.
"Lu siapa? Hah??" Bentak dia di depan muka gw.
"......" Gw diam.
"Udaah Dani Udah!!" Ucap Ana.
"Diem lu!!" Bentak tu cowo ke Ana.
"Dani, Udah!!" Teriak Ana lagi.
"Lu siapa??" Dia bertanya sekali pada gw. Plus mengencangkan cengkraman tangannya di kerah gw.
"....."
"Lu punya mulut nggak? Jawab a**ing!!" Bentak tuh cowo.
"Gw yang nabrak dia!!" Jawab gw sambil menunjuk ke arah Ana.
"B****sat!!"
"Gelepok!!" Dagu gw ditampol
Gw marah, gw emosi, gw nggak bisa diperlakuin kaya begini sama orang lain. Cuma bapak gw doang yang boleh nampol gw tanpa bisa gw membalasnya. Tapi kali ini gw diam. Gw nggak ngebales pukulan dia sama sekali. Gw memilih menahan emosi ini hingga badan gw bergetar ngadaregdeg.
Setelah puas ngamuk disini, itu cewok eh cowok langsung pergi sambil mengucapkan kata kata kasar yang ditujukan pada gw. Dia keluar mengendarai mogenya. Ana menghampiri gw yang masih memegangi rahang gw. Rasanya nyut nyutan. Begini nih kalo gw ditampol tapi nggak bales nampol. Sakitnya bukan hanya di rahang, tapi sampe ke ati.
"Lu nggak apa apa Jar?" Tanya dia.
"Nggak apa!"
"Maaf ya..."
"Untuk?"
"Iya tadi itu Dani. Cowo gw."
"......." Gw diem.
Gila itu cowok bener bener gila! Gw nggak nyangka Ana yang cantik lemah lembut punya cowok kasar macam begitu. Seketika mood gw hancur berantakan. Gw udah males banget ada di tempat ini, gw juga udah males ngobrol sama si Ana. Ngeliat mukanya aja gw males. Segera gw memakai jaket dan sepatu lalu beranjak pergi dari sini. Daripada gw kepalang kesel nih kosan bisa gw bakar.
"Jar..." Panggil dia.
"Kenapa?"
"Maaf ya..."
"Haha" Gw ketawa sinis.
"......"
"Oya, kita dah nggak ada urusan lagi kan? Dan sekarang gw anggep aja lu udah sembuh. Dan lu bukan urusan gw lagi!" Ucap gw.
"Jaar...."
"......"
Sialan emang sialan! Gw udah bela belain buat tanggung jawab ke nih cewe sampe pinjem duit ke temen gw segala. Tapi yang gw dapet malah perlakuan kaya begini dari cowok berengsek bernama Dani itu. Tau gitu kemaren nggak usah gw tolongin nih cewe, biar ngampar aja di tengah jalan. Kemudian gw keluarkan Jupi dari parkiran, gw stater, masuk gigi satu, lantas secepat kilat menghilang dari kosan sialan ini.
0