- Beranda
- Stories from the Heart
You're Not The One
...
TS
divadivnia
You're Not The One
Terima kasih kamu telah membawaku sejauh ini.
Aku senang berada disampingmu. Tapi terlalu lama kita berjalan, aku lelah.
Semakin jauh kita menyelam, semakin gelap, semakin sulit bagiku untuk bernafas.
Aku memutuskan kembali ke permukaan, melepaskan tanganmu.
Aku senang berada disampingmu. Tapi terlalu lama kita berjalan, aku lelah.
Semakin jauh kita menyelam, semakin gelap, semakin sulit bagiku untuk bernafas.
Aku memutuskan kembali ke permukaan, melepaskan tanganmu.
Spoiler for Part 1:
*mohon maaf kalau tulisannya kurang enak dibaca, maklum ts bukan penulis

*sangat menerima kritik dan saran mengenai penulisan biar lebih ajib

*ini true story dari sudut pandang ts
Spoiler for Index:
Diubah oleh divadivnia 14-12-2014 22:52
anasabila memberi reputasi
1
8.1K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
divadivnia
#100
Part 17
acara dimulai, semua orang duduk mengelilingi lapangan, membentuk beberapa lapis lingkaran. gue berdiri di deretan belakang, lingkaran terluar. deretan depan gue pun berdiri, dan tepat didepan gue, sebelah kiri, ada wisa bersama seorang cewe disebelahnya
gue ga bisa menahan diri gue untuk tidak memperhatikan mereka, gue liat cewenya. cewenya bertubuh mungil, tingginya sedikit dibawah bahu wisa. sesekali dia menoleh ke arah wisa, membuat gue bisa melihat jelas wajahnya yang sedang tertawa sambil menarik-narik lengan jaket wisa, suara tawanya terdengar samar-samar tersaingi suara musik dari speaker.
terlihat juga wisa membalasnya dengan senyum yang manis, senyum dewasa, khas wisa. tanpa sadar gue melamun mengamati mereka, ga lama wisa menoleh ke belakang, ke arah gue, membuyarkan lamunan gue. gue langsung memalingkan muka, melempar pandangan ke arah lain.
gue menatap lurus kedepan, melihat pertunjukan yang ada di tengah lapangan. tapi fokus gue selalu kembali pada wisa, membuat gue beberapa kali melirik ke arah wisa. setiap kali gue melakukan itu gue dapati wisa juga sedang melihat ke arah gue. dan ketika gue menangkap wisa sedang melihat gue, gue akan mengalihkan pandangan gue. begitu terus sepanjang acara.
"iri ya liat mereka" bisik seseorang disebelah gue. gue menoleh. ternyata akbar, sesama pendiklat yang juga teman baik wisa.
"hah?" gue menunjukan ekspresi bingung
"haha iya, gue iri liat mereka, maklum jomblo
"
"oh hahaha. itu pacarnya wisa?" gue bertanya, pura-pura ga tau, pura-pura tidak ada yang terjadi.
"iya itu pacarnya
" akbar menjawab dengan enteng. gue rasa dia ga tau soal gue dan wisa. jadi gue pun bertindak seolah-olah emang ga ada apapun antara gue dan wisa.
"cie akbaaaar hehehe" pacar wisa menyambar obrolan gue dan akbar. gue lihat dia dan wisa menoleh ke arah kita.
"eh apaan sih hahaha, ngobrol doang" kata akbar
"cie, masa sih?
"
"wah lo berdua cocok kayaknya" wisa menimbali. ga tau apa maksudnya. gue reflek menoleh ke arah wisa.
"wah div kita dibilang cocok
"
"hahaha apaan sih" gue berusaha menanggapi obrolan mereka dengan senyum.
entah apa yang gue pikirin saat itu, tiba-tiba meluncur kalimat dari mulut gue.
"eh pacarnya wisa ya? kenalan dong, gue diva" gue mengelurkan tangan gue, sambil senyum semanis mungkin yang gue bisa saat itu.
"lala
" cewe itu menjabat tangan gue sambil tersenyum. gue liat wisa melihat ke arah gue, gue ga peduli.
"oh fakultas apa la?
"
"fakultas xxxx hehehe, lo?"
"gue fakultas xxxx
"
setelah obrolan singkat itu gue kembali fokus ke acara, gue tangkap kelegaan di wajah wisa. mungkin dia khawatir gue akan melakukan tindakan yang diluar dugaan dia. tapi dia lega karena nyatanya gue ga melakukan apapun. karena yang gue lakukan cuma berpura-pura, kalau gue baik-baik aja, kalau ga pernah ada apapun antara gue dan wisa.
closing ditutup dengan pelepasan lampion serta sorak-sorai panitia dan tepuk tangan dari maba dan semua penonton. suasana menjadi riuh, penuh tawa. sementara gue menatap kosong, melihat kearah lampion yang terbang semakin tinggi, sampai hilang dari pandangan.
gue ga bisa menahan diri gue untuk tidak memperhatikan mereka, gue liat cewenya. cewenya bertubuh mungil, tingginya sedikit dibawah bahu wisa. sesekali dia menoleh ke arah wisa, membuat gue bisa melihat jelas wajahnya yang sedang tertawa sambil menarik-narik lengan jaket wisa, suara tawanya terdengar samar-samar tersaingi suara musik dari speaker.
terlihat juga wisa membalasnya dengan senyum yang manis, senyum dewasa, khas wisa. tanpa sadar gue melamun mengamati mereka, ga lama wisa menoleh ke belakang, ke arah gue, membuyarkan lamunan gue. gue langsung memalingkan muka, melempar pandangan ke arah lain.
gue menatap lurus kedepan, melihat pertunjukan yang ada di tengah lapangan. tapi fokus gue selalu kembali pada wisa, membuat gue beberapa kali melirik ke arah wisa. setiap kali gue melakukan itu gue dapati wisa juga sedang melihat ke arah gue. dan ketika gue menangkap wisa sedang melihat gue, gue akan mengalihkan pandangan gue. begitu terus sepanjang acara.
"iri ya liat mereka" bisik seseorang disebelah gue. gue menoleh. ternyata akbar, sesama pendiklat yang juga teman baik wisa.
"hah?" gue menunjukan ekspresi bingung
"haha iya, gue iri liat mereka, maklum jomblo
""oh hahaha. itu pacarnya wisa?" gue bertanya, pura-pura ga tau, pura-pura tidak ada yang terjadi.
"iya itu pacarnya
" akbar menjawab dengan enteng. gue rasa dia ga tau soal gue dan wisa. jadi gue pun bertindak seolah-olah emang ga ada apapun antara gue dan wisa."cie akbaaaar hehehe" pacar wisa menyambar obrolan gue dan akbar. gue lihat dia dan wisa menoleh ke arah kita.
"eh apaan sih hahaha, ngobrol doang" kata akbar
"cie, masa sih?
" "wah lo berdua cocok kayaknya" wisa menimbali. ga tau apa maksudnya. gue reflek menoleh ke arah wisa.
"wah div kita dibilang cocok
""hahaha apaan sih" gue berusaha menanggapi obrolan mereka dengan senyum.
entah apa yang gue pikirin saat itu, tiba-tiba meluncur kalimat dari mulut gue.
"eh pacarnya wisa ya? kenalan dong, gue diva" gue mengelurkan tangan gue, sambil senyum semanis mungkin yang gue bisa saat itu.
"lala
" cewe itu menjabat tangan gue sambil tersenyum. gue liat wisa melihat ke arah gue, gue ga peduli."oh fakultas apa la?
""fakultas xxxx hehehe, lo?"
"gue fakultas xxxx
"setelah obrolan singkat itu gue kembali fokus ke acara, gue tangkap kelegaan di wajah wisa. mungkin dia khawatir gue akan melakukan tindakan yang diluar dugaan dia. tapi dia lega karena nyatanya gue ga melakukan apapun. karena yang gue lakukan cuma berpura-pura, kalau gue baik-baik aja, kalau ga pernah ada apapun antara gue dan wisa.
closing ditutup dengan pelepasan lampion serta sorak-sorai panitia dan tepuk tangan dari maba dan semua penonton. suasana menjadi riuh, penuh tawa. sementara gue menatap kosong, melihat kearah lampion yang terbang semakin tinggi, sampai hilang dari pandangan.
Diubah oleh divadivnia 14-12-2014 22:41
0
).