- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.4K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1523
PART 68
Hari ini hari Senin, dimana masa perkuliahan dengan berbagai tetek bengeknya sudah dimulai. Para mahasiswa baru sudah mengambil jadwal mereka masing masing, termasuk gw sendiri. Dan pagi ini, gw sudah janjian sama Bunga untuk berangkat sama sama menggunakan jasa KRL.. Sebelumnya gw menjemput dia dahulu di rumahnya lalu berjalan ke stasiun menggunakan motor. Lantas motor gw titipkan ke jasa parkir disekitar stasiun.
"Bung, kita naik ekonomi aja ya. Soalnya jadwal yang paling cepet ya kereta ekonomi. Nggak apa ya?" Tanya gw ketika di loket.
"Terserah kamu aja. Kamu yang ngerti. Aku kan belum pernah naik KRL." Jawabnya.
"Yaudah ekonomi ya.."
"Iya." Sahutnya singkat.
"Pak tiket ekonominya dua!" Ujar gw pada penjaga loket.
Selesai membeli tiket, kami berdua berjalan menyusuri peron yang penuh dengan pedagang kaki lima. Ini pengalaman pertama buat Bunga karna sebelumnya dia belum pernah sama sekali naik KRL. Waktu kemarin semasa ospek dia selalu diantar oleh ayahnya, tapi karena ada keperluan ayahnya tak bisa mengantarnya. Jadi sekarang gw lah yang bertanggung jawab atas Bunga sepenuhnya. Sekitar 5 menit kita menunggu, akhirnya kereta tiba dan membawa kami menuju kota sebelah.
Sesampainya di kampus, kami pun berpisah. Dia kesana, sedangkan gw kesono. Kemudian gw pandangi setiap sudut kampus yang megah ini. Gw memperhatikan suasana riuh para mahasiswa dengan berbagai kesibukan mereka. Semuanya terasa baru, lingkungan yang baru, pergaulan baru, dan tentunya suasana yang baru pula. Sejujurnya gw belum mempunyai teman waktu itu. Bukannya gw tak pandai bergaul atau kuper, tapi untuk masalah teman gw termasuk orang yang selektif.
Kuliah pertama pun dimulai. Gw sudah ada di ruangan ber AC ini sejak 30 menit yang lalu. Ketika dosen sedang berbicara memperkenalkan mata kuliahnya, tiba tiba pintu kelas diketuk, lantas masuklah dua orang senior membawa sebuah kertas.
"Permisi Pak, maaf ganggu sebentar." Ucap si Senior.
"Iya silahkan...." Jawab Pak dosen.
"Bagi yang namanya dipanggil, harap maju ke depan ya." Ujar salah satu senior.
"Edo, Fajar, Prayogo. Kalian saya tunggu di loby lantai 1!" Ujarnya kemudian pamit pada dosen.
Wah nama gw dipanggil. Ada apa nih? tanya gw dalam hati. Lantas gw bertiga keluar rungan kelas mengikuti dua orang senior turun ke loby lantai 1. Gw melihat ada beberapa orang mahasiswa baru yang sudah berada disana. Rata rata laki laki. Hanya ada dua orang perempuan. Ternyata eh ternyata, mahasiswa yang dikumpulkan disini itu adalah MABA yang tidak mengikuti Ospek Jurusan. Termasuk gw juga tidak ikut. Gw lupa selupa lupanya dengan hal itu. Sabtu kemarin gw malah asik asikan tidur, terus jalan jalan sama Bunga. Mampus dah gw!
"Elu kenapa nggak ikut Osjur?" Tanya senior.
"Lupa bang!"
"Kenapa bisa lupa? Kan udah ada jadwalnya!"
"Ya namanya juga lupa Bang!" Jawab gw.
"Lupa!! Lupa!! Alesan aja lu!" Ujarnya membentak gw.
"Ckck. Kaya lu ga pernah lupa aja!" Ucap gw nyolot.
Tiba tiba itu senior buru buru datang ke arah gw sambil melotot, lalu dia langsung narik kerah gw.
"Lu masih baru disini udah berani ya!!" Ujarnya melototin gw.
"......" Gw diam balas melotot.
"Udah bleh udah. Jangan pake ribut!!" Ujar salah satu senior memisahkan.
"Lu juga, jangan nyolot!! Ikutin aja aturan disini." Lanjutnya sambil menunjuk gw.
Si senior songong itu lantas pergi dari hadapan gw. Kemudian gw lanjut mendengarkan para senior yang lain berbicara. Mereka tentunya akan menghukum kita para MABA yang tidak ikut Osjur. Mereka menyuruh kami untuk meminta biodata seluruh mahasiswa satu jurusan lengkap dengan email, no hp, serta Friendster. Dimulai mahasiswa tingkat satu sampai mahasiswa tingkat akhir. Total keseluruhan semuanya ada 350an mahasiswa. Dan data itu harus dikumpulkan paling lambat sore hari ini juga. Hukuman macam apa ini? Tanpa membuang waktu lagi gw langsung bergerak bersama kedua rekan satu kelas gw.
"Lu kenapa ga ikut Osjur Do?" Tanya gw pada Edo.
"Gw pulang kampung dulu kemaren ngambil barang gw." Jawabnya.
"Oh, emang kampung lu dimana?" Lanjut tanya gw.
"Madiun Jar. Jawa Timur. Sampean dari mana Jar?" Dia bertanya balik.
"Gw tinggal di Bogor." Jawab gw.
"Oh deket ya." Ujarnya.
"Ya nggak bisa dibilang deket juga. Lumayan..." Ucap gw.
"Lu dari mama Go?" Tanya gw pada Yogo.
"Bekasi bro..." Jawabnya singkat.
"Yo wis, ini tugas jancuk mau di gimanain nih?" Tanya Edo.
"Mulai dari kantin dulu yuk! Kan banyak orang tuh disana." Usul si Prayogo.
"Oke"
Sekilas tentang Edo, badannya agak kurus sama seperti gw, tinggi sekitar 170an. Dia berasal dari Madiun. Yang gw tahu, di Jakarta dia tinggal bersama Kakaknya. Sementara si Yogo ini berbadan agak pendek mirip kue brownies. Bukan brondong manis, bukan! Tapi bantet seperti brownies. Dia dari Bekasi, kota yang akhir akhir ini sering dibully di media sosial.
Kemudian kita bertiga berjalan menuju kantin yang jaraknya tak jauh ada di belakang gedung jurusan gw. Sesampainya di kantin, kita mulai memintai biodata para mahasiswa laki laki dan perempuan.
"Kakak maaf ya ganggu sebentar, kita mau minta biodatanya nih, tolong diisi ya disini.." Ujar gw sambil memberikan selembar kertas dan pulpen.
Begiulah, gw paranin satu satu orang yang lagi pada makan, nongkrong, main laptop dan lain sebagainya. Tak jarang juga permintaan gw ditolak oleh beberapa mahasiswi peremuan. Katanya buat apaan? gw pun bilang sejujurnya kalau gw lagi kena hukuman gara gara tidak mengikuti Osjur. Bahkan sampai ada yang kekeuh tidak mau memberikan identitasnya. Gw sampe mohon mohon pasang muka melas pada mereka, dan pada akhirnya mereka bersedia juga mengisinya.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Saat itu gw baru mendapat 150 biodata dan masih tersisa 200an lagi. Kaki gw udah pegel jalan kesana kemari, naik turun tangga memintai biodata mahasiswa. Sementara waktu tinggal tersisa beberapa jam lagi menuju sore.
"Ting...tong..." Jimbot gw berdering.
1 new message from Bunga.
"Aku udah pulang nih. Kamu masih lama nggak? Aku tunggu di stasiun yaa."
Gw segera membalas sms dari Bunga. Tapi tiba tiba layar jimbot gw menjadi putih alias ngeblank. Gw sempat merestartnya beberapa kali, tapi tetap Jimbot gw nggak mau hidup. Akhirnya jimbot gw resmi rusak. Gw pun bingung mau ngabarin Bunga pake apa.
"Do, gw pinjem HP lu dong mau numpang sms." Pinta gw pada Edo.
"Wah gw belum punya HP Jar." Ujarnya.
"Oh yaudah."
"Go gw pinjem HP lu mau sms.." Kali ini gw minta ke Yogo.
"Nih pake aja..." Dia memberikan HP nya.
Sial, si Yogo memberikan HP dalam keadaan mati. Gw tanya pada dia ternyata baterainya habis. Perasaan gw mulai nggak enak, gw cuma mau kasih kabar ke Bunga kalau gw bakalan pulang sore banget dan menyuruh dia pulang terlebih dahulu. Tapi gw gagal mengabari Bunga siang itu.
Adzan Ashar telah berkumandang, gw masih berdiri di loby gedung kampus untuk meminta biodata pada siapa saja yang lewat. Rasa haus dan lapar perlahan menghampiri, Edo inisiatif ke kantin untuk membeli beberapa makanan dan minuman tak ketinggalan juga membeli rokok. Hingga tak terasa, matahari sudah melesat jauh berada di barat. Senja pun menampakkan diri dibalut cahaya kekuningan.
Keadaan kampus sudah mulai sepi, hanya ada beberapa mahasiswa saja yang masih nongkrong disini. Tiba tiba fikiran gw tertuju pada Bunga. Jelas gw jadi kefikiran karena Bunga baru kali ini naik KRL. Dan mungkin dia belum tau harus turun dimana. Perasaan khawatir ini terus menghantui gw, lantas gw cuma bisa berharap semoga bidadari gw itu sudah sampai di rumah dengan selamat.
"Udah sepi nih disini. Gimana? Lagian juga kayanya senior yang tadi udah pada balik!" Ujar gw.
"Yaudah kita tunggu bentar lagi. Kalo jam 5 itu senior nggak ada, kita cabut!" Usul si Yogo.
"Okelah..."
Waktu yang ditunggu pun tiba, pukul 5 sore. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing. Kebetulan Edo dan Yogo bawa motor, gw pun akhirnya nebeng bareng Edo sampai stasiun.
Gw langsung berjalan menuju Peron yang ramai sekali oleh orang orang. Sebagian besar mahasiswa. Sekarang adalah jam sibuk orang pulang kerja. Tentu saja kereta tujuan Bogor sangat penuh bahkan ada banyak penumpang yang naik ke atap gerbong. Gw masih terus berjalan menyisir peron jalur 2. Langkah gw terhenti ketika mata ini melihat sosok gadis tengah memegangi HP nya dihiasi raut wajah cemas. Dengan cepat gw langsung menghampirinya.
"Ya ampun, Bunga!! Kamu kok masih disini??" Tanya gw.
"......" Dia cuma diem.
"Kamu.....kenapa nggak pulang duluan aja?" Tanya gw.
"Kamu tuh kemana aja sih?? Aku disini nungguin kamu udah 3 jam. Aku nggak berani pulang sendiri, aku nggak tau arahnya, aku takut!" Ujarnya. Gw lihat matanya memerah.
"Iya maaf...maaf banget. Aku nggak bisa ngabarin kamu. HP aku rusak nih. Nggak tau kenapa."
"Kamu mah jahaat....Aku kan takut!! Udah gitu tadi ada yang ngikutin aku. Mukanya sereem.." Ujarnya sambil memukul pelan dada gw.
"Yaudah ya, maaf ya. Dah jangan takut kan aku udah disini."
"Iya..." Ujarnya singkat sambil menghapus setitik air matanya.
"Kamu mah aneh. Dari Bali pulang ke Bogor sendirian berani. Lah ini cuma dari kampus mau pulang ga berani. Dasarr..!!"
"Hehe...ini kan beda. Lagian kamu kenapa kok pulangnya sore banget?" Tanya dia.
"Aku abis dihukum. Gara gara ga ikut Osjur.."
"Kenapa kamu nggak ikut?" Tanya dia lagi.
"Yaa aku lupa banget. Sabtu kemaren kan kita malah jalan. Kamu juga sih nggak ingetin aku!" Ujar gw.
"Kok aku sih? Nyebelin! Aku mana tau jadwal kamu.."
"Hehe iya iya. Yaudah yuk siap siap keretanya dah deket. Oya, kamu udah beli karcis?" Tanya gw.
"......" Bunga menggeleng.
"Hmm, yaudah nggak usah pake karcis. Yuk!"
Kereta tiba, gw menelan ludah ketika melihat keadaan kereta yang sangat amat penuh sesak dengan penumpang. Bahkan atap gerbong juga sudah penuh. Tanpa kompromi gw dan Bunga memasuki kereta itu dengan penuh perjuangan. Desak desakan bahkan saling dorong sudah menjadi hal yang wajar mengingat sekarang adalah jam sibuk.
Ketika di dalam kereta, gw terus memegangi Bunga yang berdiri di depan gw. Sementara tangan kanan gw melingkar di lehernya. Gw nggak mau dia di dorong orang apalagi sampai tempatnya terganggu orang lain. Apabila ada sedikit dorongan atau desakan, gw langsung pasang badan menahan dorongan itu supaya Bunga tidak ikut terdorong. Ya, gw jadi tameng.
Kereta pun sudah melewati stasiun Citayem, dan Bojonggede. Karena di dua stasiun itu penumpang banyak sekali yang turun, otomatis gerbong pun jadi sedikit kosong. Gw pun sudah tidak sibuk memegangi Bunga lagi seperti tadi. Gw melihat wajah Bunga sampai memerah dihiasi keringat mengucur di sudit keningnya. Gw nggak tega ngeliat dia kaya gini. Berdesakan, dorong dorongan, panas, keringetan, gw bener bener nggak tega.
"Bunga..." Panggil gw.
"Hemm.." Sahutnya.
"Besok besok kita ke kampus pake motor aja ya." Ucap gw.
"Katanya kamu belum punya SIM?" Di bertanya balik.
"Ya, nanti aku bikin dulu. Abisnya aku nggak tega ajak kamu naek beginian."
"Hehe. Ga apa apa sayang. Tapi seru kok..." Ujarnya sambil tersenyum manis.
"Yeeh seru apanya. Tuh liat aja muka kamu keringetan sampe merah gitu kepanasan." Ucap gw.
"Tapi tetep seru..." Ujarnya.
"Emang yang bikin serunya apa?" Tanya gw.
"Emm...apa ya? Sini aku bisikin...."
"Eh ngapain pake bisik bisik?"
"Ihh pokonya sini..." Ujarnya kekeuh.
Gw menunduk sedikit menurutinya. Bibirnya yang tipis itu sedikit menyentuh kuping gw, lantas dia mengucapkan sesuatu.
"Seru...!! Abisnya aku dipelukin terus sama kamu...."
"......." Gw garuk garuk kepala sambil mengernyitkan dahi.
Aku hanya ingin menjagamu....
Bunga...
"Bung, kita naik ekonomi aja ya. Soalnya jadwal yang paling cepet ya kereta ekonomi. Nggak apa ya?" Tanya gw ketika di loket.
"Terserah kamu aja. Kamu yang ngerti. Aku kan belum pernah naik KRL." Jawabnya.
"Yaudah ekonomi ya.."
"Iya." Sahutnya singkat.
"Pak tiket ekonominya dua!" Ujar gw pada penjaga loket.
Selesai membeli tiket, kami berdua berjalan menyusuri peron yang penuh dengan pedagang kaki lima. Ini pengalaman pertama buat Bunga karna sebelumnya dia belum pernah sama sekali naik KRL. Waktu kemarin semasa ospek dia selalu diantar oleh ayahnya, tapi karena ada keperluan ayahnya tak bisa mengantarnya. Jadi sekarang gw lah yang bertanggung jawab atas Bunga sepenuhnya. Sekitar 5 menit kita menunggu, akhirnya kereta tiba dan membawa kami menuju kota sebelah.
Sesampainya di kampus, kami pun berpisah. Dia kesana, sedangkan gw kesono. Kemudian gw pandangi setiap sudut kampus yang megah ini. Gw memperhatikan suasana riuh para mahasiswa dengan berbagai kesibukan mereka. Semuanya terasa baru, lingkungan yang baru, pergaulan baru, dan tentunya suasana yang baru pula. Sejujurnya gw belum mempunyai teman waktu itu. Bukannya gw tak pandai bergaul atau kuper, tapi untuk masalah teman gw termasuk orang yang selektif.
Kuliah pertama pun dimulai. Gw sudah ada di ruangan ber AC ini sejak 30 menit yang lalu. Ketika dosen sedang berbicara memperkenalkan mata kuliahnya, tiba tiba pintu kelas diketuk, lantas masuklah dua orang senior membawa sebuah kertas.
"Permisi Pak, maaf ganggu sebentar." Ucap si Senior.
"Iya silahkan...." Jawab Pak dosen.
"Bagi yang namanya dipanggil, harap maju ke depan ya." Ujar salah satu senior.
"Edo, Fajar, Prayogo. Kalian saya tunggu di loby lantai 1!" Ujarnya kemudian pamit pada dosen.
Wah nama gw dipanggil. Ada apa nih? tanya gw dalam hati. Lantas gw bertiga keluar rungan kelas mengikuti dua orang senior turun ke loby lantai 1. Gw melihat ada beberapa orang mahasiswa baru yang sudah berada disana. Rata rata laki laki. Hanya ada dua orang perempuan. Ternyata eh ternyata, mahasiswa yang dikumpulkan disini itu adalah MABA yang tidak mengikuti Ospek Jurusan. Termasuk gw juga tidak ikut. Gw lupa selupa lupanya dengan hal itu. Sabtu kemarin gw malah asik asikan tidur, terus jalan jalan sama Bunga. Mampus dah gw!
"Elu kenapa nggak ikut Osjur?" Tanya senior.
"Lupa bang!"
"Kenapa bisa lupa? Kan udah ada jadwalnya!"
"Ya namanya juga lupa Bang!" Jawab gw.
"Lupa!! Lupa!! Alesan aja lu!" Ujarnya membentak gw.
"Ckck. Kaya lu ga pernah lupa aja!" Ucap gw nyolot.
Tiba tiba itu senior buru buru datang ke arah gw sambil melotot, lalu dia langsung narik kerah gw.
"Lu masih baru disini udah berani ya!!" Ujarnya melototin gw.
"......" Gw diam balas melotot.
"Udah bleh udah. Jangan pake ribut!!" Ujar salah satu senior memisahkan.
"Lu juga, jangan nyolot!! Ikutin aja aturan disini." Lanjutnya sambil menunjuk gw.
Si senior songong itu lantas pergi dari hadapan gw. Kemudian gw lanjut mendengarkan para senior yang lain berbicara. Mereka tentunya akan menghukum kita para MABA yang tidak ikut Osjur. Mereka menyuruh kami untuk meminta biodata seluruh mahasiswa satu jurusan lengkap dengan email, no hp, serta Friendster. Dimulai mahasiswa tingkat satu sampai mahasiswa tingkat akhir. Total keseluruhan semuanya ada 350an mahasiswa. Dan data itu harus dikumpulkan paling lambat sore hari ini juga. Hukuman macam apa ini? Tanpa membuang waktu lagi gw langsung bergerak bersama kedua rekan satu kelas gw.
"Lu kenapa ga ikut Osjur Do?" Tanya gw pada Edo.
"Gw pulang kampung dulu kemaren ngambil barang gw." Jawabnya.
"Oh, emang kampung lu dimana?" Lanjut tanya gw.
"Madiun Jar. Jawa Timur. Sampean dari mana Jar?" Dia bertanya balik.
"Gw tinggal di Bogor." Jawab gw.
"Oh deket ya." Ujarnya.
"Ya nggak bisa dibilang deket juga. Lumayan..." Ucap gw.
"Lu dari mama Go?" Tanya gw pada Yogo.
"Bekasi bro..." Jawabnya singkat.
"Yo wis, ini tugas jancuk mau di gimanain nih?" Tanya Edo.
"Mulai dari kantin dulu yuk! Kan banyak orang tuh disana." Usul si Prayogo.
"Oke"
Sekilas tentang Edo, badannya agak kurus sama seperti gw, tinggi sekitar 170an. Dia berasal dari Madiun. Yang gw tahu, di Jakarta dia tinggal bersama Kakaknya. Sementara si Yogo ini berbadan agak pendek mirip kue brownies. Bukan brondong manis, bukan! Tapi bantet seperti brownies. Dia dari Bekasi, kota yang akhir akhir ini sering dibully di media sosial.
Kemudian kita bertiga berjalan menuju kantin yang jaraknya tak jauh ada di belakang gedung jurusan gw. Sesampainya di kantin, kita mulai memintai biodata para mahasiswa laki laki dan perempuan.
"Kakak maaf ya ganggu sebentar, kita mau minta biodatanya nih, tolong diisi ya disini.." Ujar gw sambil memberikan selembar kertas dan pulpen.
Begiulah, gw paranin satu satu orang yang lagi pada makan, nongkrong, main laptop dan lain sebagainya. Tak jarang juga permintaan gw ditolak oleh beberapa mahasiswi peremuan. Katanya buat apaan? gw pun bilang sejujurnya kalau gw lagi kena hukuman gara gara tidak mengikuti Osjur. Bahkan sampai ada yang kekeuh tidak mau memberikan identitasnya. Gw sampe mohon mohon pasang muka melas pada mereka, dan pada akhirnya mereka bersedia juga mengisinya.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Saat itu gw baru mendapat 150 biodata dan masih tersisa 200an lagi. Kaki gw udah pegel jalan kesana kemari, naik turun tangga memintai biodata mahasiswa. Sementara waktu tinggal tersisa beberapa jam lagi menuju sore.
"Ting...tong..." Jimbot gw berdering.
1 new message from Bunga.
"Aku udah pulang nih. Kamu masih lama nggak? Aku tunggu di stasiun yaa."
Gw segera membalas sms dari Bunga. Tapi tiba tiba layar jimbot gw menjadi putih alias ngeblank. Gw sempat merestartnya beberapa kali, tapi tetap Jimbot gw nggak mau hidup. Akhirnya jimbot gw resmi rusak. Gw pun bingung mau ngabarin Bunga pake apa.
"Do, gw pinjem HP lu dong mau numpang sms." Pinta gw pada Edo.
"Wah gw belum punya HP Jar." Ujarnya.
"Oh yaudah."
"Go gw pinjem HP lu mau sms.." Kali ini gw minta ke Yogo.
"Nih pake aja..." Dia memberikan HP nya.
Sial, si Yogo memberikan HP dalam keadaan mati. Gw tanya pada dia ternyata baterainya habis. Perasaan gw mulai nggak enak, gw cuma mau kasih kabar ke Bunga kalau gw bakalan pulang sore banget dan menyuruh dia pulang terlebih dahulu. Tapi gw gagal mengabari Bunga siang itu.
Adzan Ashar telah berkumandang, gw masih berdiri di loby gedung kampus untuk meminta biodata pada siapa saja yang lewat. Rasa haus dan lapar perlahan menghampiri, Edo inisiatif ke kantin untuk membeli beberapa makanan dan minuman tak ketinggalan juga membeli rokok. Hingga tak terasa, matahari sudah melesat jauh berada di barat. Senja pun menampakkan diri dibalut cahaya kekuningan.
Keadaan kampus sudah mulai sepi, hanya ada beberapa mahasiswa saja yang masih nongkrong disini. Tiba tiba fikiran gw tertuju pada Bunga. Jelas gw jadi kefikiran karena Bunga baru kali ini naik KRL. Dan mungkin dia belum tau harus turun dimana. Perasaan khawatir ini terus menghantui gw, lantas gw cuma bisa berharap semoga bidadari gw itu sudah sampai di rumah dengan selamat.
"Udah sepi nih disini. Gimana? Lagian juga kayanya senior yang tadi udah pada balik!" Ujar gw.
"Yaudah kita tunggu bentar lagi. Kalo jam 5 itu senior nggak ada, kita cabut!" Usul si Yogo.
"Okelah..."
Waktu yang ditunggu pun tiba, pukul 5 sore. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing. Kebetulan Edo dan Yogo bawa motor, gw pun akhirnya nebeng bareng Edo sampai stasiun.
Gw langsung berjalan menuju Peron yang ramai sekali oleh orang orang. Sebagian besar mahasiswa. Sekarang adalah jam sibuk orang pulang kerja. Tentu saja kereta tujuan Bogor sangat penuh bahkan ada banyak penumpang yang naik ke atap gerbong. Gw masih terus berjalan menyisir peron jalur 2. Langkah gw terhenti ketika mata ini melihat sosok gadis tengah memegangi HP nya dihiasi raut wajah cemas. Dengan cepat gw langsung menghampirinya.
"Ya ampun, Bunga!! Kamu kok masih disini??" Tanya gw.
"......" Dia cuma diem.
"Kamu.....kenapa nggak pulang duluan aja?" Tanya gw.
"Kamu tuh kemana aja sih?? Aku disini nungguin kamu udah 3 jam. Aku nggak berani pulang sendiri, aku nggak tau arahnya, aku takut!" Ujarnya. Gw lihat matanya memerah.
"Iya maaf...maaf banget. Aku nggak bisa ngabarin kamu. HP aku rusak nih. Nggak tau kenapa."
"Kamu mah jahaat....Aku kan takut!! Udah gitu tadi ada yang ngikutin aku. Mukanya sereem.." Ujarnya sambil memukul pelan dada gw.
"Yaudah ya, maaf ya. Dah jangan takut kan aku udah disini."
"Iya..." Ujarnya singkat sambil menghapus setitik air matanya.
"Kamu mah aneh. Dari Bali pulang ke Bogor sendirian berani. Lah ini cuma dari kampus mau pulang ga berani. Dasarr..!!"
"Hehe...ini kan beda. Lagian kamu kenapa kok pulangnya sore banget?" Tanya dia.
"Aku abis dihukum. Gara gara ga ikut Osjur.."
"Kenapa kamu nggak ikut?" Tanya dia lagi.
"Yaa aku lupa banget. Sabtu kemaren kan kita malah jalan. Kamu juga sih nggak ingetin aku!" Ujar gw.
"Kok aku sih? Nyebelin! Aku mana tau jadwal kamu.."
"Hehe iya iya. Yaudah yuk siap siap keretanya dah deket. Oya, kamu udah beli karcis?" Tanya gw.
"......" Bunga menggeleng.
"Hmm, yaudah nggak usah pake karcis. Yuk!"
Kereta tiba, gw menelan ludah ketika melihat keadaan kereta yang sangat amat penuh sesak dengan penumpang. Bahkan atap gerbong juga sudah penuh. Tanpa kompromi gw dan Bunga memasuki kereta itu dengan penuh perjuangan. Desak desakan bahkan saling dorong sudah menjadi hal yang wajar mengingat sekarang adalah jam sibuk.
Ketika di dalam kereta, gw terus memegangi Bunga yang berdiri di depan gw. Sementara tangan kanan gw melingkar di lehernya. Gw nggak mau dia di dorong orang apalagi sampai tempatnya terganggu orang lain. Apabila ada sedikit dorongan atau desakan, gw langsung pasang badan menahan dorongan itu supaya Bunga tidak ikut terdorong. Ya, gw jadi tameng.
Kereta pun sudah melewati stasiun Citayem, dan Bojonggede. Karena di dua stasiun itu penumpang banyak sekali yang turun, otomatis gerbong pun jadi sedikit kosong. Gw pun sudah tidak sibuk memegangi Bunga lagi seperti tadi. Gw melihat wajah Bunga sampai memerah dihiasi keringat mengucur di sudit keningnya. Gw nggak tega ngeliat dia kaya gini. Berdesakan, dorong dorongan, panas, keringetan, gw bener bener nggak tega.
"Bunga..." Panggil gw.
"Hemm.." Sahutnya.
"Besok besok kita ke kampus pake motor aja ya." Ucap gw.
"Katanya kamu belum punya SIM?" Di bertanya balik.
"Ya, nanti aku bikin dulu. Abisnya aku nggak tega ajak kamu naek beginian."
"Hehe. Ga apa apa sayang. Tapi seru kok..." Ujarnya sambil tersenyum manis.
"Yeeh seru apanya. Tuh liat aja muka kamu keringetan sampe merah gitu kepanasan." Ucap gw.
"Tapi tetep seru..." Ujarnya.
"Emang yang bikin serunya apa?" Tanya gw.
"Emm...apa ya? Sini aku bisikin...."
"Eh ngapain pake bisik bisik?"
"Ihh pokonya sini..." Ujarnya kekeuh.
Gw menunduk sedikit menurutinya. Bibirnya yang tipis itu sedikit menyentuh kuping gw, lantas dia mengucapkan sesuatu.
"Seru...!! Abisnya aku dipelukin terus sama kamu...."
"......." Gw garuk garuk kepala sambil mengernyitkan dahi.
Aku hanya ingin menjagamu....
Bunga...

Darpox memberi reputasi
1