- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1801
PART 83
Gue cabut dari kosan Tami dengan sejuta pikiran di kepala. Mulai dari mikir ntar gue harus ngomong apa ke Anin, ntar Anin mau ngomongin apa dan sebagainya. Gue samasekali gak konsen nyetir mobil, tau-tau udah sampe depan rumah aja. Gue takjub dengan diri gue sendiri, samasekali gak mikir jalan tau-tau sampe rumah. Untung gue gak kenapa-kenapa tadi dijalan, pikir gue getir. Untuk beberapa waktu gue tetep merenung di dalem mobil.
Dengan langkah berat gue masuk kerumah, masuk kamar tidur dan langsung merebahkan tubuh gue ke tempat tidur. Sambil memandangi langit-langit kamar, gue merenung, dan rasanya pikiran gue semakin penuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran gue tentang apa yang akan terjadi nanti. Pikiran gue begitu campur aduk waktu itu, sehingga gue gelisah. Akhirnya gue memutuskan untuk sholat maghrib, disamping karena memang udah waktunya sholat maghrib, gue pun berharap pikiran gue bisa menjadi lebih tenang setelah sholat dan berdoa.
Sekitar jam 7an gue pergi ke rumah Anin. Sengaja gue gak terlalu malem kesananya, takutnya ntar gue salah lagi. Sebelum ke rumah Anin, gue sempatkan mampir di sebuah restoran cepat saji berlogo huruf M dan membeli burger dan kentang untuk Anin. Bukan nyogok sih, cuma emang gue tau kalo dia doyan banget makan beginian.
Akhirnya gue sampe dirumah Anin, dan gue segera membuka pagar yang memang gue tau belom digembok kalo belom malem. Pelan-pelan gue membuka pagar, dan kemudian berjalan ke teras dan mengetuk pintunya perlahan. Gue sengaja gak ngomong ke Anin kalo gue udah sampe, karena memang kondisinya lagi gak memungkinkan untuk berlaku seperti biasanya. Gue mengetuk pintunya lagi, dan gak berapa lama kemudian lampu ruang tamu menyala dan pintu dibuka.
Anin yang membukakan pintu buat gue. Gue memandangi Anin cukup lama, dengan muka kalem. Mau nyengir juga situasinya lagi gak pas. Jadi mending pasang tampang kalem aja. Gue liat Anin masih cantik seperti biasa, bahkan menurut gue tambah cantik malem itu. Anin melihat gue dan tersenyum tipis, kemudian dengan gesturenya yang khas, dia menyuruh gue masuk. Gue tersenyum dan masuk ke ruang tamu. Sebelum duduk gue mengulurkan bungkusan makanan yang tadi gue beli.
Anin tersenyum tipis menerima bungkusan itu dan mengangguk.
Gue tersenyum dan memiringkan kepala. Kemudian Anin membawa bungkusan itu masuk ke dalam. Sebelumnya dia sempet berhenti sebentar.
Anin tersenyum tipis, kemudian berlalu ke ruang dalam. Gue duduk di ruang tamu sendirian, sambil bengong dan berpikir. Udah cukup lama juga gue gak mengalami situasi kayak gini. 2 tahun terakhir ini saking seringnya gue kerumah Anin, sampe udah gak pernah lagi duduk di ruang tamu seperti sekarang ini. Biasanya langsung masuk ke ruang tengah, kadang-kadang malah gue masuk dari pintu belakang. Sekarang gue duduk di ruang tamu lagi, rasanya seperti barusan mulai pacaran sama Anin. Gue tersenyum dan menggelengkan kepala.
Gak lama kemudian Anin dateng lagi dengan membawa secangkir teh panas, dan meletakkannya di meja kayu besar di depan gue. Kemudian dia duduk di samping gue, seperti biasa, tapi kali ini gue merasakan ada jarak yang cukup jauh diantara kami berdua. Gue memandangi Anin, dan menarik napas panjang.
Gue terdiam, dan memikirkan kata-kata Anin barusan. Pelan, tapi tetep mengagetkan gue dengan efek yang samasekali gak gue duga sebelumnya. Perasaan gue gak karuan. Gue menarik napas panjang dengan berat.
Gue tersenyum, dan memegang tangannya dengan lembut.
Gue memandangi Anin. Pandangannya menerawang ke depan. Sejenak kemudian dia menoleh ke gue, dan memandangi gue dengan serius.
*no emoticon yah*
Gue mendekatkan kepalanya, dan mencium keningnya lembut.
Gue cabut dari kosan Tami dengan sejuta pikiran di kepala. Mulai dari mikir ntar gue harus ngomong apa ke Anin, ntar Anin mau ngomongin apa dan sebagainya. Gue samasekali gak konsen nyetir mobil, tau-tau udah sampe depan rumah aja. Gue takjub dengan diri gue sendiri, samasekali gak mikir jalan tau-tau sampe rumah. Untung gue gak kenapa-kenapa tadi dijalan, pikir gue getir. Untuk beberapa waktu gue tetep merenung di dalem mobil.
Dengan langkah berat gue masuk kerumah, masuk kamar tidur dan langsung merebahkan tubuh gue ke tempat tidur. Sambil memandangi langit-langit kamar, gue merenung, dan rasanya pikiran gue semakin penuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran gue tentang apa yang akan terjadi nanti. Pikiran gue begitu campur aduk waktu itu, sehingga gue gelisah. Akhirnya gue memutuskan untuk sholat maghrib, disamping karena memang udah waktunya sholat maghrib, gue pun berharap pikiran gue bisa menjadi lebih tenang setelah sholat dan berdoa.
Sekitar jam 7an gue pergi ke rumah Anin. Sengaja gue gak terlalu malem kesananya, takutnya ntar gue salah lagi. Sebelum ke rumah Anin, gue sempatkan mampir di sebuah restoran cepat saji berlogo huruf M dan membeli burger dan kentang untuk Anin. Bukan nyogok sih, cuma emang gue tau kalo dia doyan banget makan beginian.
Akhirnya gue sampe dirumah Anin, dan gue segera membuka pagar yang memang gue tau belom digembok kalo belom malem. Pelan-pelan gue membuka pagar, dan kemudian berjalan ke teras dan mengetuk pintunya perlahan. Gue sengaja gak ngomong ke Anin kalo gue udah sampe, karena memang kondisinya lagi gak memungkinkan untuk berlaku seperti biasanya. Gue mengetuk pintunya lagi, dan gak berapa lama kemudian lampu ruang tamu menyala dan pintu dibuka.
Anin yang membukakan pintu buat gue. Gue memandangi Anin cukup lama, dengan muka kalem. Mau nyengir juga situasinya lagi gak pas. Jadi mending pasang tampang kalem aja. Gue liat Anin masih cantik seperti biasa, bahkan menurut gue tambah cantik malem itu. Anin melihat gue dan tersenyum tipis, kemudian dengan gesturenya yang khas, dia menyuruh gue masuk. Gue tersenyum dan masuk ke ruang tamu. Sebelum duduk gue mengulurkan bungkusan makanan yang tadi gue beli.
Quote:
Anin tersenyum tipis menerima bungkusan itu dan mengangguk.
Quote:
Gue tersenyum dan memiringkan kepala. Kemudian Anin membawa bungkusan itu masuk ke dalam. Sebelumnya dia sempet berhenti sebentar.
Quote:
.Anin tersenyum tipis, kemudian berlalu ke ruang dalam. Gue duduk di ruang tamu sendirian, sambil bengong dan berpikir. Udah cukup lama juga gue gak mengalami situasi kayak gini. 2 tahun terakhir ini saking seringnya gue kerumah Anin, sampe udah gak pernah lagi duduk di ruang tamu seperti sekarang ini. Biasanya langsung masuk ke ruang tengah, kadang-kadang malah gue masuk dari pintu belakang. Sekarang gue duduk di ruang tamu lagi, rasanya seperti barusan mulai pacaran sama Anin. Gue tersenyum dan menggelengkan kepala.
Gak lama kemudian Anin dateng lagi dengan membawa secangkir teh panas, dan meletakkannya di meja kayu besar di depan gue. Kemudian dia duduk di samping gue, seperti biasa, tapi kali ini gue merasakan ada jarak yang cukup jauh diantara kami berdua. Gue memandangi Anin, dan menarik napas panjang.
Quote:
Quote:
Gue terdiam, dan memikirkan kata-kata Anin barusan. Pelan, tapi tetep mengagetkan gue dengan efek yang samasekali gak gue duga sebelumnya. Perasaan gue gak karuan. Gue menarik napas panjang dengan berat.
Quote:
Gue tersenyum, dan memegang tangannya dengan lembut.
Quote:
Gue memandangi Anin. Pandangannya menerawang ke depan. Sejenak kemudian dia menoleh ke gue, dan memandangi gue dengan serius.
*no emoticon yah*
Quote:
Gue mendekatkan kepalanya, dan mencium keningnya lembut.
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6


: teh mau?