- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1466
PART 65
Hampir setiap sore sebelum ujian SPMB dimulai, gw selalu rutin datang ke rumah Bunga untuk belajar. Yang dipelajari hanya itu itu saja, Matematika saja, dan selalu Matematika. Masalah pelajaran yang lain? Gw nggak terlalu ambil pusing karena gw bisa belajar sendiri. Tapi gw sama sekali tidak menganggap remeh pelajaran lainnya.
Hari ujian pun telah tiba. Pukul 5 subuh gw sudah dibangunkan oleh bidadari No.1 gw. Setelah semuanya siap, gw pamit pada orang tua gw meminta doa dari mereka supaya gw mendapat kemudahan dalam mengerjakan soal nanti. Lalu gw pun berangkat sendirian menunggangi Jupi menuju SMA *** tempat tes berlangsung. Sesampainya disana, gw langsung mencari ruangan yang sesuai dengan nomor di kartu ujian gw.
Gw merasa asing disini. Tidak ada satupun dari para peserta ujian yang gw kenal. Dan gw juga baru sadar, ternyata dalam satu ruangan ini lebih banyak peserta perempuannya dibanding laki laki. Keadaan seperti ini baru gw alami lagi, terakhir kalinya gw sekelas sama perempuan waktu jaman SMP dulu. Kalau di STM jelas, semuanya batangan.
Pasca ujian SPMB, gw melewati hari demi hari dihiasi perasaan harap harap cemas menunggu hasil. Apakah gw diterima atau tidak. Bagaimanapun hasilnya gw cuma bisa serahkan pada Yang Maha Kuasa dan gw mengembalikannya lagi pada keyakinan gw. "Kalau rejeki gw bagus, gw pasti diterima". Hingga akhirnya hari yang ditunggu pun telah tiba. Hari pengumuman.
Selepas waktu Zuhur, gw sudah siap siap menuju warnet untuk melihat hasil pengumuman. Dengan bermodalkan uang 5000 perak pemberian Bapak gw, lalu gw pun berangkat menunggangi jupi menuju warnet. Cukup jauh jarak antara warnet dengan rumah gw sebab waktu itu di daerah gw masih jarang sekali ada warnet. Berbeda dengan sekarang, setiap 10 meter warnet, 10 meter warnet, 10 meter warnet.(Apaan sih!)
"Mas ada yang kosong? Saya mau main personal aja." Tanya gw pada salah satu OP warnet.
"Ada tuh kosong. Tapi maaf mas, disini nggak ada game Personal. Adanya Dota, ragnarok, audition, bla bla bla..." Jawabnya.
"Bukan mas bukan game! Saya kesini bukan mau main game. Cuma mau buka internet aja." Ujar gw.
"Oh...Yaudah langsung nyalain aja komputernya."
"Dasar OP benga!" Ujar gw dalam hati.
Dalam hitungan detik gw sudah duduk manis di depan layar monitor. Kemudian gw menyalakan komputer. Tapi ada yang aneh, sebab daritadi hanya gambar biru dengan tulisan 'welcome' saja yang terpampang di monitor.
"Mas, ini gimana? kok nggak bisa masuk ke windows?" Tanya gw.
"Yang itu kayanya error mas. Pindah aja kesebelahnya..." Jawab si mas.
"Yaelah...."
Dengan malas gw pindah ke komputer sebelah lalu memencet tombol power di CPU. Setelah berhasil masuk ke jendela windows, gw langsung klik Modzila firefox dan memasukkan alamat websitenya. Di halaman itu ada sebuah perintah untuk memasukkan nomor ujian. Gw yang saat itu membawa kartu ujian lantas memasukkan beberapa digit nomor sesuai yang tertera di kartu.
Loading, loading, loading. Entah kenapa ini loadingnya bener bener bikin gw sedikit emosi. Disini perasaan gw mulai nggak karuan, perasaan tegang, cemas, kesel dan panik perlahan lahan menghampiri diri gw. Sambil menunggu loading yang belum kelar kelar, gw keluar dari warnet mencari warung untuk membeli rokok. Setibanya kembali dari warung, gw langsung duduk di kursi warnet dan menatap layar monitor, sementara sebatang rokok terselip di sudut bibir gw.
"-SELAMAT-
NAMA : FAJAR BIN CUNGUK
NO. UJIAN : XXXXXXXX
DITERIMA DI UNIVERSITAS ********* JURUSAN ********"
Lah ini seriusan? Kemudian gw mencoba mengulanginya, kembali ke page sebelumnya lalu memasukkan nomor gw lagi. Dan hasilnya tetap sama. Sampai tiga kali gw ulangi, hasilnya sama juga. Gw bengong planga plongo sambil terus menatap layar monitor. Gw masih belum percaya dengan apa yang gw lihat. Gw bangkit dari tempat duduk berjalan ke arah meja OP warnet. Lalu membayar dengan tunai seribu rupiah kepadanya.
"Oh...gw diterima" Gumam gw pelan sesaat keluar dari warnet.
Di perjalanan pulang, gw mengendarai Jupi dengan sangat cepat selap selip di antara mobil. Gw udah nggak sabar mau ngasih kabar gembira ke Bidadari No.1 gw dan Bapak gw. Sesampainya dirumah, gw langsung masuk dengan sedikit terburu buru mencari Bidadari No.1. Namun gw tidak menemukan beliau dan kondisi rumah saat itu kosong melongpong. "Pada kemana nih?" Tanya gw dalam hati. Lantas gw duduk di sofa ruang tamu buat selonjoran hingga tak terasa gw tertidur.
Samar samar gw mendengar suara bapak gw dan bidadari No.1 sedang mengobrol. Ditambah suara cekikikan adik gw yang membuat gw terbangun dari tidur. Gw lihat jam di jimbot menunjukkan tepat pukul 5 sore. Ternyata gw ketiduran 3 jam disini sampai sampai orang rumah datang gw nggak tau.
"Duh yang tidur udah kaya munding meuni pules!" Ujar bidadari No.1
"Hehe...ngantuk Ma.." Jawab gw.
"Kamu disuruh bapak nyuci motor tuh."
"Ha? nyuci motor? Aduh males ah....udah sore. Lagian bukannya daritadi nyuruhnya."
"Ya kamu kan tadi tidur. Udah sana kalo disuruh orang tua bantah melulu kamu!"
"....."
"Jar, cuciin motor bapak sana." Teriak Bapak gw dari dalam kamar.
"Yaelah...." Gerutu gw dalam hati.
Oya, semenjak sebulan yang lalu bapak gw udah punya motor sendiri. Motor matic, itupun boleh kredit. Jadi gw nggak rebutan motor lagi kalau salah satu diantara gw ama Bapak gw mau pergi pakai motor. Dan sekarang Jupi sepenuhnya diwariskan ke gw. Biar kata ini motor rada buluk dan sedikit 'trondol', tapi gw sangat menyayanyi motor ini.
Sebelum azan Magrib berkumandang, gw sudah menyelesaikan tugas ini. Lalu gw masuk kamar mandi untuk mandi sore. Ketika sedang asik maen sabun, gw memikirkan satu hal, kenapa Emak-Bapak gw nggak nanyain perihal pengumuman SPMB ya? Masa iya mereka lupa. Apa pura pura lupa? Selesai mandi & solat Magrib, gw keluar kamar menuju ruang tengah. Disana ada Bidadari No.1 gw sedang nyuapin adik gw nomor 3.
"Ma, nggak nanyain aku lulus SPMB apa nggak nih?" Tanya gw.
"Paling juga kamu nggak diterima. Dah sekarang cari kerja aja yang bener. Jangan kebanyakan tidur melulu!" Ujar beliau.
"Yee....Terus kalo aku diterima gimana?" Tanya gw lagi.
Setelah mendengar perkataan gw, kemudian beliau berhenti menyuapi si Yasyfi.
"Emang kamu diterima?" Tanya beliau.
"....." Gw mengangguk.
"Kamu serius Jar?"
"Iya serius Ma...ngapain aku boong. Boong dosa." Ujar gw.
"Paak....Paaak.....!!" Beliau memanggil bapak gw yang baru selesai solat magrib di kamar.
Ceklek, pintu kamar terbuka.
"Ada apaan sih Ma?"
"Ini anakmu katanya diterima di **...." Ucap Bidadari No.1 antusias.
"Beneran kamu Jar?" Tanya Bapak gw.
"Iya Pak bener..."
Sontak keadaan seisi rumah langsung ramai oleh ucapan selamat dari kedua orang tua gw dan adik gw. Terlihat raut wajah senang dari kedua orang tua gw. Mereka tidak menyangka bahwa anak laki laki satu satunya yang badung, songong, urakan, berandalan ini bisa diterima di PTN. Tak lupa Bapak gw memberikan sedikit nasihatnya kepada gw agar nanti gw kuliah dengan sungguh sungguh. Gw cukup lega, setidaknya gw sudah membuat mereka bangga terhadap gw. Bangga atas pencapaian gw.
Tapi ada satu orang lagi dibalik keberhasilan gw ini. Ya, Bunga....Karena dia gw bisa seperti ini. Karena bimbingan dari dia, gw bisa lulus ujian SPMB. Lantas bagaimana dengan dia? (Dia mah nggak usah ditanya pasti udah tau jawabannya). Kemudian gw mengambil jimbot di saku celana jeans belel ini, dan sambungan telefon pun terhubung.
"Tuut tuut"
"Halo..."
"Ya halo, kamu dimana? ada di rumah?" Tanya gw.
"Iya, aku di rumah."
"Aku ke rumah kamu ya sekarang..." Ucap gw.
"Yaudah kamu kesini aja. Oya, gimana hasilnya?" Tanya Bunga.
"Nanti aja aku kasih tau di rumah ya.."
"Hehe iya...Aku tunggu."
Telefon pun ditutup, segera gw ambil jaket dan helm gw. Kemudian gw berangkat menunggangi Jupi disambut suara gemuruh dari langit menandakan hujan akan turun. Tak sampai 15 menit perjalanan, gw sudah tiba di depan rumahnya bersamaan dengan turunnya hujan. Gw mengucap salam dan salam gw dijawab oleh Bunga sendiri. Dia sedang duduk di kursi teras tempat biasa gw sama dia duduk bersama.
"Gimana?" Tanya Bunga.
"Sebelumnya aku mau bilang terimakasih sama kamu. Karena kamu, karena semangat dari kamu, udah mau ngajarin aku, udah ngebimbing aku sampai akhirnya aku..."
"apa??"
"Aku diterima di **..." Ucap gw datar.
"Aaaa....kamu serius?"
"Iya serius. Aku diterima...."
"Selamat ya...." Ujarnya.
"Iya...selamat juga buat kamu."
"Hehe makasih..."
"Ini semua gara gara kamu. Gara gara kamu nih aku bisa begini..." Ucap gw.
"Nggak nggak...aku kan cuma ngajarin sedikit doang ke kamu. Emang dasarnya kamu tuh pinter. Tapi kamu males aja makannya nilai kamu jeblok."
"Nggaak Bunga...Pokoknya ini gara gara kamu. Ditambah bonus dari Yang di-Atas. hehe."
"Bonusnya apa tuh?"
"Keberuntungan..." Ucap gw.
"Hehe iya. kamu harus bersyukur."
"Pasti sayang!!" Ujar gw
"Tumben manggil aku sayang? Biasanya juga Jembang-Jembung kalo manggil." Ujarnya sedikit manyun.
"......" Gw nyengir.
Terkadang gw memang seperti itu. Memanggil dia dengan panggilan yang berbeda beda. Kadang 'Bung', kadang 'Unge', kadang 'Jembung'. Hanya sesekali gw memanggil dia dengan sebutan 'yank' atau 'sayang'. Gw lebih nyaman seperti itu. Daripada gw pake panggilan 'mimih-pipih'? Heetdah La Bujugg Puguh gw mah ogah dah pake panggilan kayak begono. (Bahasa Bojong)
Hujan yang tadinya hanya gerimis kini sudah berubah menjadi hujan deras diselingi suara petir menyambar nyambar. Keadaan seperti itu membuat listrik di sekitaran rumah Bunga padam, lantas menjadi gelap gulita. Bunga bergegas menuju ke dalam rumah, mungkin mau nyalain lilin. Tak lama kemudian dia sudah tiba disini lagi dengan membawa lampu emergency bukan lilin.
"Yank, di dalem aja yu...aku takut geluduk. Serem!" Ucapnya.
"Yaudah. Aku pindahin motor dulu. Kasian ujan ujanan ntar masuk angin."
Setelah memindahkan si jupi ke tempat yang aman dari hujan, gw langsung masuk ke dalam rumah dengan pakaian gw yang sedikit basah. Bunga memberikan gw handuk untuk mengeringkan kepala gw, lalu dia meminta izin pada gw untuk ke belakang. Setibanya kembali disini, dia membawa dua gelas teh manis hangat pastinya untuk kita berdua. Kemudian dia duduk disamping gw langsung meluk gw. Gw nggak bisa nolak, walau gw sedikit kaget tiba tiba dipeluk kayak begini.
"Bung...ntar diliat Bunda. Aduuh...."
"Nggak...Bunda lagi di kamar!" Ucapnya.
"......"
"Aku seneng banget hari ini, pokoknya seneng banget!! Pengen meluk kamu aja."
"Iyaa seneng sih seneng...aduuh.." Ucap gw panik.
Kemudian dia melepaskan pelukannya tapi tangannya masih melingkar di leher gw.
"Cup....cup....cup..."
Gw bengong, mendadak badan gw jadi kaku. Jantung gw seperti berhenti memompa darah. mimpi apa gw semalem sampe dapet kecupan hangat tiga kali kaya begini. Gw pegangin satu satu dari pipi kanan, pipi kiri dan kening dengan keadaan masih tidak percaya.
"Hehe...itu hadiah dari aku..." Ucapnya manja.
"Aku juga punya hadiah buat kamu..." Ucap gw.
Lalu,
"Cup...cup...cup.."
Sekarang impas. Gw mengecup kedua sisi pipinya dan keningnya. Kali ini bukan tamparan keras yang gw dapet seperti tempo hari yang lalu, namun gw mendapati dia tersenyum manis sekali dihadapan gw. Walau ruangan agak sedikit gelap, tapi indah senyumnya masih bisa gw lihat dengan jelas.
"Yaank..." Panggil dia.
"Hmmm..."
"Aku seneng punya kamu."
"Senengnya karna apa?" Tanya gw.
"Nggak tau. Nggak bisa dijelasin sama kata kata." Jawabnya.
"Halaah. Apaan sih."
"Aku kaya ngeliat jalan yang lurus dan mulus di depan aku."
"Nggak ada jalan mulus di dunia ini Bunga."
"Ada...Buktinya aku ngeliat. Aku yakin kok, biarpun jalannya berliku, biarpun banyak batu terus banyak lubangnya, kalau aku ngelewatinnya sama kamu, bareng sama kamu, pasti jalan itu terasa lurus dan mulus."
"Hehe bisa aja kamu. Terus kalo nggak ada aku, kamu jalan sendirian gimana?"
"Aku nemu jurang..." Jawabnya polos.
"......"
Apaan sih ini si Jembung jadi ngelantur begini omongannya. Kemudian dia kembali melingkarkan tangannya ke tangan gw, sementara kepalanya bersandar di bahu gw. Dari sini gw bisa mencium ubun ubunnya yang harum.
"Yank" Panggil dia.
"Hemm"
"kalau di tengah jalan kita ketemu harimau gimana?" Tanya dia aneh
"Em, aku ambil tongkat yang tajem terus aku usir harimaunya."
"Kenapa nggak dibunuh?" Tanya dia.
"Harimau binatang yang dilindungi, nggak boleh dibunuh. Nanti aku dipenjara, nggak bisa ngelanjutin jalan lagi dong sama kamu??"
"Hehe iya ya...terus kalo ada batu yang guede banget ngalangin jalan kita gimana?" Tanya dia lagi.
"Aku bakal ngerakit bom dengan kekuatan 1000 Mega Ton buat ngancurin itu batu..."
"Hahahaha...."
Kita pun tertawa bersama di iringi suara petir yang cukup keras. Seketika hening, gw memandang keluar rumah, pandangan gw menembus dari lapisan kaca jendela. Sepertinya hujan sudah mulai reda. Hanya tinggal menyisakan suara gemuruh petir yang saling sahut menyahut.
"Yank...." Panggil dia lagi.
"Ya...."
"Kita sama sama lewatin jalan itu ya..." Ucapnya.
"Iya, pasti!!"
"Apapun yang terjadi??"
"Iya...Apapun yang terjadi." Jawab gw meyakinkan.
"Janji??"
Dia menjulurkan jari kelingkingnya, dengan cepat gw menyambutnya melingkarkan kelingking gw.
..........................
..........................
Janji konyol itu, janji itu terucap begitu saja keluar dari mulut kami berdua. Janji konyol itu, terucap disini. Bukan di tempat istimewa nan romantis seperti di negeri dongeng, bukan! Melainkan disini, di tempat kita biasa duduk bersama, diiringi alunan petir yang menyambar nyambar di penjuru langit.
Janji itu, terikrar disini. Di ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya lampu emergency 5 watt. Bukan di malam bertabur bintang serta cahaya rembulan bersinar terang, bukan! Namun janji itu, terasa indah. Jauh lebih indah dari yang pernah gw bayangkan sebelumnya.
Hari ujian pun telah tiba. Pukul 5 subuh gw sudah dibangunkan oleh bidadari No.1 gw. Setelah semuanya siap, gw pamit pada orang tua gw meminta doa dari mereka supaya gw mendapat kemudahan dalam mengerjakan soal nanti. Lalu gw pun berangkat sendirian menunggangi Jupi menuju SMA *** tempat tes berlangsung. Sesampainya disana, gw langsung mencari ruangan yang sesuai dengan nomor di kartu ujian gw.
Gw merasa asing disini. Tidak ada satupun dari para peserta ujian yang gw kenal. Dan gw juga baru sadar, ternyata dalam satu ruangan ini lebih banyak peserta perempuannya dibanding laki laki. Keadaan seperti ini baru gw alami lagi, terakhir kalinya gw sekelas sama perempuan waktu jaman SMP dulu. Kalau di STM jelas, semuanya batangan.
Pasca ujian SPMB, gw melewati hari demi hari dihiasi perasaan harap harap cemas menunggu hasil. Apakah gw diterima atau tidak. Bagaimanapun hasilnya gw cuma bisa serahkan pada Yang Maha Kuasa dan gw mengembalikannya lagi pada keyakinan gw. "Kalau rejeki gw bagus, gw pasti diterima". Hingga akhirnya hari yang ditunggu pun telah tiba. Hari pengumuman.
Selepas waktu Zuhur, gw sudah siap siap menuju warnet untuk melihat hasil pengumuman. Dengan bermodalkan uang 5000 perak pemberian Bapak gw, lalu gw pun berangkat menunggangi jupi menuju warnet. Cukup jauh jarak antara warnet dengan rumah gw sebab waktu itu di daerah gw masih jarang sekali ada warnet. Berbeda dengan sekarang, setiap 10 meter warnet, 10 meter warnet, 10 meter warnet.(Apaan sih!)
"Mas ada yang kosong? Saya mau main personal aja." Tanya gw pada salah satu OP warnet.
"Ada tuh kosong. Tapi maaf mas, disini nggak ada game Personal. Adanya Dota, ragnarok, audition, bla bla bla..." Jawabnya.
"Bukan mas bukan game! Saya kesini bukan mau main game. Cuma mau buka internet aja." Ujar gw.
"Oh...Yaudah langsung nyalain aja komputernya."
"Dasar OP benga!" Ujar gw dalam hati.
Dalam hitungan detik gw sudah duduk manis di depan layar monitor. Kemudian gw menyalakan komputer. Tapi ada yang aneh, sebab daritadi hanya gambar biru dengan tulisan 'welcome' saja yang terpampang di monitor.
"Mas, ini gimana? kok nggak bisa masuk ke windows?" Tanya gw.
"Yang itu kayanya error mas. Pindah aja kesebelahnya..." Jawab si mas.
"Yaelah...."
Dengan malas gw pindah ke komputer sebelah lalu memencet tombol power di CPU. Setelah berhasil masuk ke jendela windows, gw langsung klik Modzila firefox dan memasukkan alamat websitenya. Di halaman itu ada sebuah perintah untuk memasukkan nomor ujian. Gw yang saat itu membawa kartu ujian lantas memasukkan beberapa digit nomor sesuai yang tertera di kartu.
Loading, loading, loading. Entah kenapa ini loadingnya bener bener bikin gw sedikit emosi. Disini perasaan gw mulai nggak karuan, perasaan tegang, cemas, kesel dan panik perlahan lahan menghampiri diri gw. Sambil menunggu loading yang belum kelar kelar, gw keluar dari warnet mencari warung untuk membeli rokok. Setibanya kembali dari warung, gw langsung duduk di kursi warnet dan menatap layar monitor, sementara sebatang rokok terselip di sudut bibir gw.
"-SELAMAT-
NAMA : FAJAR BIN CUNGUK
NO. UJIAN : XXXXXXXX
DITERIMA DI UNIVERSITAS ********* JURUSAN ********"
Lah ini seriusan? Kemudian gw mencoba mengulanginya, kembali ke page sebelumnya lalu memasukkan nomor gw lagi. Dan hasilnya tetap sama. Sampai tiga kali gw ulangi, hasilnya sama juga. Gw bengong planga plongo sambil terus menatap layar monitor. Gw masih belum percaya dengan apa yang gw lihat. Gw bangkit dari tempat duduk berjalan ke arah meja OP warnet. Lalu membayar dengan tunai seribu rupiah kepadanya.
"Oh...gw diterima" Gumam gw pelan sesaat keluar dari warnet.
Di perjalanan pulang, gw mengendarai Jupi dengan sangat cepat selap selip di antara mobil. Gw udah nggak sabar mau ngasih kabar gembira ke Bidadari No.1 gw dan Bapak gw. Sesampainya dirumah, gw langsung masuk dengan sedikit terburu buru mencari Bidadari No.1. Namun gw tidak menemukan beliau dan kondisi rumah saat itu kosong melongpong. "Pada kemana nih?" Tanya gw dalam hati. Lantas gw duduk di sofa ruang tamu buat selonjoran hingga tak terasa gw tertidur.
Samar samar gw mendengar suara bapak gw dan bidadari No.1 sedang mengobrol. Ditambah suara cekikikan adik gw yang membuat gw terbangun dari tidur. Gw lihat jam di jimbot menunjukkan tepat pukul 5 sore. Ternyata gw ketiduran 3 jam disini sampai sampai orang rumah datang gw nggak tau.
"Duh yang tidur udah kaya munding meuni pules!" Ujar bidadari No.1
"Hehe...ngantuk Ma.." Jawab gw.
"Kamu disuruh bapak nyuci motor tuh."
"Ha? nyuci motor? Aduh males ah....udah sore. Lagian bukannya daritadi nyuruhnya."
"Ya kamu kan tadi tidur. Udah sana kalo disuruh orang tua bantah melulu kamu!"
"....."
"Jar, cuciin motor bapak sana." Teriak Bapak gw dari dalam kamar.
"Yaelah...." Gerutu gw dalam hati.
Oya, semenjak sebulan yang lalu bapak gw udah punya motor sendiri. Motor matic, itupun boleh kredit. Jadi gw nggak rebutan motor lagi kalau salah satu diantara gw ama Bapak gw mau pergi pakai motor. Dan sekarang Jupi sepenuhnya diwariskan ke gw. Biar kata ini motor rada buluk dan sedikit 'trondol', tapi gw sangat menyayanyi motor ini.
Sebelum azan Magrib berkumandang, gw sudah menyelesaikan tugas ini. Lalu gw masuk kamar mandi untuk mandi sore. Ketika sedang asik maen sabun, gw memikirkan satu hal, kenapa Emak-Bapak gw nggak nanyain perihal pengumuman SPMB ya? Masa iya mereka lupa. Apa pura pura lupa? Selesai mandi & solat Magrib, gw keluar kamar menuju ruang tengah. Disana ada Bidadari No.1 gw sedang nyuapin adik gw nomor 3.
"Ma, nggak nanyain aku lulus SPMB apa nggak nih?" Tanya gw.
"Paling juga kamu nggak diterima. Dah sekarang cari kerja aja yang bener. Jangan kebanyakan tidur melulu!" Ujar beliau.
"Yee....Terus kalo aku diterima gimana?" Tanya gw lagi.
Setelah mendengar perkataan gw, kemudian beliau berhenti menyuapi si Yasyfi.
"Emang kamu diterima?" Tanya beliau.
"....." Gw mengangguk.
"Kamu serius Jar?"
"Iya serius Ma...ngapain aku boong. Boong dosa." Ujar gw.
"Paak....Paaak.....!!" Beliau memanggil bapak gw yang baru selesai solat magrib di kamar.
Ceklek, pintu kamar terbuka.
"Ada apaan sih Ma?"
"Ini anakmu katanya diterima di **...." Ucap Bidadari No.1 antusias.
"Beneran kamu Jar?" Tanya Bapak gw.
"Iya Pak bener..."
Sontak keadaan seisi rumah langsung ramai oleh ucapan selamat dari kedua orang tua gw dan adik gw. Terlihat raut wajah senang dari kedua orang tua gw. Mereka tidak menyangka bahwa anak laki laki satu satunya yang badung, songong, urakan, berandalan ini bisa diterima di PTN. Tak lupa Bapak gw memberikan sedikit nasihatnya kepada gw agar nanti gw kuliah dengan sungguh sungguh. Gw cukup lega, setidaknya gw sudah membuat mereka bangga terhadap gw. Bangga atas pencapaian gw.
Tapi ada satu orang lagi dibalik keberhasilan gw ini. Ya, Bunga....Karena dia gw bisa seperti ini. Karena bimbingan dari dia, gw bisa lulus ujian SPMB. Lantas bagaimana dengan dia? (Dia mah nggak usah ditanya pasti udah tau jawabannya). Kemudian gw mengambil jimbot di saku celana jeans belel ini, dan sambungan telefon pun terhubung.
"Tuut tuut"
"Halo..."
"Ya halo, kamu dimana? ada di rumah?" Tanya gw.
"Iya, aku di rumah."
"Aku ke rumah kamu ya sekarang..." Ucap gw.
"Yaudah kamu kesini aja. Oya, gimana hasilnya?" Tanya Bunga.
"Nanti aja aku kasih tau di rumah ya.."
"Hehe iya...Aku tunggu."
Telefon pun ditutup, segera gw ambil jaket dan helm gw. Kemudian gw berangkat menunggangi Jupi disambut suara gemuruh dari langit menandakan hujan akan turun. Tak sampai 15 menit perjalanan, gw sudah tiba di depan rumahnya bersamaan dengan turunnya hujan. Gw mengucap salam dan salam gw dijawab oleh Bunga sendiri. Dia sedang duduk di kursi teras tempat biasa gw sama dia duduk bersama.
"Gimana?" Tanya Bunga.
"Sebelumnya aku mau bilang terimakasih sama kamu. Karena kamu, karena semangat dari kamu, udah mau ngajarin aku, udah ngebimbing aku sampai akhirnya aku..."
"apa??"
"Aku diterima di **..." Ucap gw datar.
"Aaaa....kamu serius?"
"Iya serius. Aku diterima...."
"Selamat ya...." Ujarnya.
"Iya...selamat juga buat kamu."
"Hehe makasih..."
"Ini semua gara gara kamu. Gara gara kamu nih aku bisa begini..." Ucap gw.
"Nggak nggak...aku kan cuma ngajarin sedikit doang ke kamu. Emang dasarnya kamu tuh pinter. Tapi kamu males aja makannya nilai kamu jeblok."
"Nggaak Bunga...Pokoknya ini gara gara kamu. Ditambah bonus dari Yang di-Atas. hehe."
"Bonusnya apa tuh?"
"Keberuntungan..." Ucap gw.
"Hehe iya. kamu harus bersyukur."
"Pasti sayang!!" Ujar gw
"Tumben manggil aku sayang? Biasanya juga Jembang-Jembung kalo manggil." Ujarnya sedikit manyun.
"......" Gw nyengir.
Terkadang gw memang seperti itu. Memanggil dia dengan panggilan yang berbeda beda. Kadang 'Bung', kadang 'Unge', kadang 'Jembung'. Hanya sesekali gw memanggil dia dengan sebutan 'yank' atau 'sayang'. Gw lebih nyaman seperti itu. Daripada gw pake panggilan 'mimih-pipih'? Heetdah La Bujugg Puguh gw mah ogah dah pake panggilan kayak begono. (Bahasa Bojong)
Hujan yang tadinya hanya gerimis kini sudah berubah menjadi hujan deras diselingi suara petir menyambar nyambar. Keadaan seperti itu membuat listrik di sekitaran rumah Bunga padam, lantas menjadi gelap gulita. Bunga bergegas menuju ke dalam rumah, mungkin mau nyalain lilin. Tak lama kemudian dia sudah tiba disini lagi dengan membawa lampu emergency bukan lilin.
"Yank, di dalem aja yu...aku takut geluduk. Serem!" Ucapnya.
"Yaudah. Aku pindahin motor dulu. Kasian ujan ujanan ntar masuk angin."
Setelah memindahkan si jupi ke tempat yang aman dari hujan, gw langsung masuk ke dalam rumah dengan pakaian gw yang sedikit basah. Bunga memberikan gw handuk untuk mengeringkan kepala gw, lalu dia meminta izin pada gw untuk ke belakang. Setibanya kembali disini, dia membawa dua gelas teh manis hangat pastinya untuk kita berdua. Kemudian dia duduk disamping gw langsung meluk gw. Gw nggak bisa nolak, walau gw sedikit kaget tiba tiba dipeluk kayak begini.
"Bung...ntar diliat Bunda. Aduuh...."
"Nggak...Bunda lagi di kamar!" Ucapnya.
"......"
"Aku seneng banget hari ini, pokoknya seneng banget!! Pengen meluk kamu aja."
"Iyaa seneng sih seneng...aduuh.." Ucap gw panik.
Kemudian dia melepaskan pelukannya tapi tangannya masih melingkar di leher gw.
"Cup....cup....cup..."
Gw bengong, mendadak badan gw jadi kaku. Jantung gw seperti berhenti memompa darah. mimpi apa gw semalem sampe dapet kecupan hangat tiga kali kaya begini. Gw pegangin satu satu dari pipi kanan, pipi kiri dan kening dengan keadaan masih tidak percaya.
"Hehe...itu hadiah dari aku..." Ucapnya manja.
"Aku juga punya hadiah buat kamu..." Ucap gw.
Lalu,
"Cup...cup...cup.."
Sekarang impas. Gw mengecup kedua sisi pipinya dan keningnya. Kali ini bukan tamparan keras yang gw dapet seperti tempo hari yang lalu, namun gw mendapati dia tersenyum manis sekali dihadapan gw. Walau ruangan agak sedikit gelap, tapi indah senyumnya masih bisa gw lihat dengan jelas.
"Yaank..." Panggil dia.
"Hmmm..."
"Aku seneng punya kamu."
"Senengnya karna apa?" Tanya gw.
"Nggak tau. Nggak bisa dijelasin sama kata kata." Jawabnya.
"Halaah. Apaan sih."
"Aku kaya ngeliat jalan yang lurus dan mulus di depan aku."
"Nggak ada jalan mulus di dunia ini Bunga."
"Ada...Buktinya aku ngeliat. Aku yakin kok, biarpun jalannya berliku, biarpun banyak batu terus banyak lubangnya, kalau aku ngelewatinnya sama kamu, bareng sama kamu, pasti jalan itu terasa lurus dan mulus."
"Hehe bisa aja kamu. Terus kalo nggak ada aku, kamu jalan sendirian gimana?"
"Aku nemu jurang..." Jawabnya polos.
"......"
Apaan sih ini si Jembung jadi ngelantur begini omongannya. Kemudian dia kembali melingkarkan tangannya ke tangan gw, sementara kepalanya bersandar di bahu gw. Dari sini gw bisa mencium ubun ubunnya yang harum.
"Yank" Panggil dia.
"Hemm"
"kalau di tengah jalan kita ketemu harimau gimana?" Tanya dia aneh
"Em, aku ambil tongkat yang tajem terus aku usir harimaunya."
"Kenapa nggak dibunuh?" Tanya dia.
"Harimau binatang yang dilindungi, nggak boleh dibunuh. Nanti aku dipenjara, nggak bisa ngelanjutin jalan lagi dong sama kamu??"
"Hehe iya ya...terus kalo ada batu yang guede banget ngalangin jalan kita gimana?" Tanya dia lagi.
"Aku bakal ngerakit bom dengan kekuatan 1000 Mega Ton buat ngancurin itu batu..."
"Hahahaha...."
Kita pun tertawa bersama di iringi suara petir yang cukup keras. Seketika hening, gw memandang keluar rumah, pandangan gw menembus dari lapisan kaca jendela. Sepertinya hujan sudah mulai reda. Hanya tinggal menyisakan suara gemuruh petir yang saling sahut menyahut.
"Yank...." Panggil dia lagi.
"Ya...."
"Kita sama sama lewatin jalan itu ya..." Ucapnya.
"Iya, pasti!!"
"Apapun yang terjadi??"
"Iya...Apapun yang terjadi." Jawab gw meyakinkan.
"Janji??"
Dia menjulurkan jari kelingkingnya, dengan cepat gw menyambutnya melingkarkan kelingking gw.
..........................
..........................
Janji konyol itu, janji itu terucap begitu saja keluar dari mulut kami berdua. Janji konyol itu, terucap disini. Bukan di tempat istimewa nan romantis seperti di negeri dongeng, bukan! Melainkan disini, di tempat kita biasa duduk bersama, diiringi alunan petir yang menyambar nyambar di penjuru langit.
Janji itu, terikrar disini. Di ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya lampu emergency 5 watt. Bukan di malam bertabur bintang serta cahaya rembulan bersinar terang, bukan! Namun janji itu, terasa indah. Jauh lebih indah dari yang pernah gw bayangkan sebelumnya.
0