- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1455
PART 64
Jam di jimbot kesayangan gw menunjukkan pukul 10. Gw masih diam berdiri sambil sesekali menyeka wajah gw yang basah karena keringat. Entah udara memang panas atau badan gw yang gangguan. Namun ketika gw melihat sekitar, bukan hanya gw seorang yang merasa begitu, sebab hampir semua orang yang mengantri disini kepanasan. Jelas karena disini tak ada AC ditambah banyaknya orang memadati ruangan yang kecil ini.
Teringat akan omongan bapak gw tempo hari kalau beliau menyuruh gw untuk mencoba peruntungan disini. Gw tidak menolak, dan menuruti perintah beliau. Walau gw tidak yakin dengan kemampuan gw untuk bisa kuliah di PTN. "Apa salahnya mencoba? Toh kalau memang rezeki gw bagus, gw pasti diterima!". Itulah satu satunua modal yang gw punya. Ya, sebuah keyakinan. Hingga akhirnya gw berada disini, di sebuah Institut terkenal di Kota Bogor untuk membeli sebuah formulir SPMB/SNMPTN.
Disini gw tidak sendiri, sebab dibelakang gw ada seorang gadis cantik dengan tinggi sekuping gw, kulit putih bersih, serta matanya yang rada sipit. Dia sama seperti gw, berdiri hampir setengah jam, kegerahan, dan bercucuran keringat. Berkali kali gw mendengar keluhan terucap dari bibirnya,
"panas banget ih!".
"Gerah banget ya.."
Tapi tetap saja dia terlihat cantik.
"Kamu dapet nomer berapa? terus tesnya dimana?" Tanya Bunga sesaat kita meninggalkan antrian.
"Nomor sekian...tesnya di SMA ****." Jawab gw.
"Yah beda dong sama aku. Nggak bisa bareng deh..."
"Sekali kali beda ga apa lah. Masa kita mesti samaan mulu."
"Hehe..iya. Kamu mesti belajar yang bener ya biar diterima." Ujarnya.
"Yaa nyantai aja lah. Lagian aku nggak terlalu ngarep. Diterima sukur, nggak diterima ya nggak apa apa..."
"Jangan gitu juga lah...yang penting berusaha dulu, aku yakin kamu bisa kok. Semangat!!" Ucap Bunga.
"Iya..iya..."
Oke, sekarang gw adalah anak STM yang ingin melanjutkan kuliah. Gw sedikit melenceng dari dunia STM yang umumnya lulusan STM itu langsung bisa bekerja. Teman teman seangkatan gw juga sudah banyak yang mulai bekerja, termasuk Dedi yang saat itu bekerja di salah satu perusahaan Otomotif terbesar di Indonesia. Dia tidak membuat lamaran hingga puluhan map sebagaimana mestinya orang pencari kerja, tapi dia di telefon oleh pihak perusahaan tempat dia PKL dulu untuk memintanya bekerja disana. Jadilah dia yang dilamar oleh perusahaan, bukan dia yang melamar. Gokil lu Ded! Rejeki lo bagus...
"Makan yuuk. Aku lapar..." Ajak Bunga.
"Ayo, makan dimana nih?"
"Terserah kamu. Kan kamu yang traktir..."
"Loh kok aku??"
"Kamu lupa ya sama janji kamu? Nah sekarang aku tagih janjinya!"
"......."
Akhirnya gw memenuhi janji untuk mentraktir Bidadari gw ini. Sebenarnya bisa dibilang gw kalah taruhan. Tempo hari kami tanding Billiard, peraturannya yang kalah harus traktir makan. Gw pun setuju dengan taruhan yang dia buat dan gw kalah. Bahkan gw nggak dikasih menang sama sekali. Dia emang jagonya maen bola sodok. Lain cerita kalau kita tanding guitar hero di PS. Sudah dipastikan gw yang berjaya disini. Sedangkan dia cuma bisa ngomong sambil memelas,
"Udah doong. Udaah...Iya aku kalah...Nanti aku traktir makan".
Tak lama kemudian tukang batagor lewat, dan gw akhirnya cuma geragotin batagor dibungkus plastik sambil manyun. Lah wong cuma beli 2000 perak. Kenyang kagak, mules iya. Kamu curang Bunga....
"Kamu mau makan sama apa?" Tanya Bunga.
"Emm...sama ayam aja deh." Jawab gw.
Bunga beranjak dari duduknya lalu menuju ke arah mas mas penjaga warung nasi padang untuk memesan makanan. Sedangkan gw lagi asik maen air kobokan plus mencetin irisan jeruk nipis.
"Eeh mas...mas.....Ada ayam hidup nggak?" Tanya Bunga pada si mas.
"Buat apa ya mba?" Si mas bertanya balik.
"Ini loh mas, ada orang yang mau makan sama ayam, bareng sama ayam." Jawab Bunga sembari nunjuk ke arah gw.
"......" Si mas bingung.
"......" Gw melotot.
Tak lama kemudian makanan pun siap di atas meja lengkap dengan es teh manis. Bunga masih cengar cengir setelah mempermalukan gw barusan. Kadang gw mikir, kenapa nih anak jail banget ya ke gw? Gw ngerti maksud dia itu cuma becanda. Tapi kadang kadang becandanya kelewatan. Dan menurut gw candaan macam itu udah agak kelewatan. Masa iya gw disuruh makan sama ayam? Geragotin pur sama dedek?
Makan pun telah selesai, gw menepati janji gw untuk membayar semuanya. Sontak dompet gw seperti ada bawang merahnya, apabila mengintip dompet, mata gw langsung perih pengen nangis. Tapi gw ikhlas kok. Selama itu untuk Bunga, demi Bunga, demi kesenangan dia, pasti akan gw lakuin. Apa sih yang nggak buat dia.
"Kamu besok ke rumah ya." Ujarnya.
"Ngapain? Mau tanding biliard lagi?"
"Nggak. Kamu ke rumah aku bawa buku sama pulpen sama pensil. Kita belajar...."
"Oh..."
"MTK kamu kan payah tuh nanti kita pelajarin sama sama..." Ujarnya semangat.
"Yaa..."
"Biar kamunya bisa diterima..."
"He'emmm...."
Jujur saja Matematika gw bisa dibilang payah sepayah payahnya. Nilau UN matematika gw cuma 5.7. Iya, lima koma tujuh. Nilai itu bener bener ngepas banget dari syarat nilai terendah waktu itu 5,01. Tapi gw bangga dengan apa yang gw dapatkan, sebab gw bener bener kerja sendiri, tanpa belajar, tanpa nyontek, dan tanpa kunci jawaban.
Hari itu berjalan sebagaimana mestinya, setelah makan kita pulang tak lupa mengantar Bunga sampai di rumah. Gw menyempatkan diri umtuk mampir sebentar lalu tanding biliard sama Bunga. Lagi lagi gw kalah, lagi lagi gw masuk kolong meja. Entah sudah berapa kali gw masuk kolong meja biliard. Tak terhitung...
Besoknya gw sudah bersiap siap mandi serta dandan seganteng mungkin untuk pergi ke rumah Bunga. Tentu maksud gw kesana itu untuk belajar bersama. Sebenernya gw ini orang yang rada males buat belajar, terutama MTK. Baru buka buku liat angka angka berjejeran aja mata gw udah perih ditambah mual mual. Tapi kali ini gw semangat, sebab ada bidadari yang mau mengajarkan gw dengan sukarela.
"Arep neng endi koe Le? sore sore wis rapi? gowo tas segala?" Tanya bapak gw.
"Mau naek gunung Pak....." Jawab gw ngasal.
"Ditanya orang tua kok jawabnya gitu."
"Hehe, iya Pak aku mau belajar nih buat SPMB."
"Nah gitu dong. Kamu mau belajar dimana?" Tanya beliau lagi.
"Di gunung....."
Akhirnya gw berangkat mengendarai jupi sore itu dengan menahan rasa perih di jidat. Tentu bapak gw sedikit kesal atas ucapan gw yang ngawur. Dia melempar gw dengan korek t*kai tepat mengenai jidat gw.
"Assalamualaikum..." Ucap gw saat di depan rumah Bunga.
"Waalaikumsalam...masuk sini."
Gw pun membuka pagar, lalu masuk ke dalam rumah. Bunga sudah standbye di teras depan, terlihat pula beberapa buku serta alat tulis menghampar di lantai. Lantas gw langsung duduk di sampingnya yang tengah sibuk membaca salah satu buku sambil sesekali menggigit ujung pulpen.
Gw masih diam belum membuka suara terus memperhatikan dia. Ternyata dia juga baru habis mandi, sebab rambutnya sedikit basah ditambah bau harum shampo yang khas. Laki laki mana yang nggak ngilu ngeliat bidadari habis mandi rambutnya basah, udah gitu wangi.
Tanpa menunggu lama lagi acara belajar pun dimulai. Dia menjelaskan satu persatu secara detail tentang soal yang tidak gw mengerti.
"Ini begini....terus begitu...Bla...bla...bla..." Ujarnya panjang lebar.
Gw nggak tau dia ngejelasin apa, sebab gw cuma bengong doang sambil terus terusan ngeliatin dia.
"Plaak...." Bunga memukul pelan wajah gw dengan penggaris besi.
"Heh, kamu merhatiin nggak sih..." Ujarnya.
"Eh iya...hehe coba diulangi lagi...aku kurang faham."
"Tuh kan, berarti daritadi kamu nggak merhatiin kan?"
"Iya iya...sekarang merhatiin deh...."
"Huh, nyebelin!"
Kemudian dia memulai lagi, membahas soal yang sama. Lagi lagi gw nggak konsentrasi ke arah soal itu, tapi konsentrasi gw malah lari ke wajahnya, tatapan matanya, dan gaya bicaranya. Gw kagum sama dia, sama kepintaran dia serta kesabarannya mengajari calon mahasiswa idiot macam gw ini. Seketika fikiran gw udah mabur kemana kemana, dan gw mulai berfikir macam macam.
Ya tuhan, dia sempurna. Genap satu tahun gw sudah menjalani segalanya sama dia. Dalam satu tahun itu juga gw sudah berbagi tawa serta tangis dengannya. Dia masih setia sama gw, setia dengan segala keegoisan gw. Dia masih peduli sama gw, peduli terhadap masa depan gw. Bahhkan sekarang gw merasa dia jauh lebih menerima gw. Walau terkadang gw punya fikiran aneh, kok bisa ya gadis seperti dia mau sama gw? Gw yang urakan, berandalan, serta kelakuan gw yang bikin orang tua gw geleng geleng kepala. Namun dengan sabarnya dia menghadapi gw dalam situasi apapun.
Ya tuhan, Seandainya kelak dia jadi ibu dari anak anak gw, anak anak gw pasti pada ganteng dan cantik. Seandainya dia jadi jadi ibu dari anak anak gw, anak anak gw pasti pintar semua, sebab kelak ibunya pasti akan mengajari mereka seperti ini, seperti yang gw alami sekarang ini. Dan bapaknya (gw) pasti akan mengajari caranya melawan orang tua. Hahaha...
"Udah faham kan??" Tanya dia.
"........" Gw masih bengong.
"Hoiii...!!!"
"......."
Tanpa bicara apa apa, kemudian gw mendekat ke arahnya, memegang pipinya dengan kedua tangan gw, lalu...
"Cup...."
Gw mencium keningnya. Entah kenapa gw jadi reflek seperti itu. Mungkin karena gw udah geregetan banget sama dia. Setelah ciuman itu mendarat mulus, tiba tiba dia mengambil sesuatu di depannya, dan...
"Gelepok....!!!
Pipi gw dipukul pake penggaris besi, kali ini rasanya sakit, perih, nyut nyutan. Dan gw cuma bisa ngelus ngelus pipi gw sambil meringis kesakitan.
Teringat akan omongan bapak gw tempo hari kalau beliau menyuruh gw untuk mencoba peruntungan disini. Gw tidak menolak, dan menuruti perintah beliau. Walau gw tidak yakin dengan kemampuan gw untuk bisa kuliah di PTN. "Apa salahnya mencoba? Toh kalau memang rezeki gw bagus, gw pasti diterima!". Itulah satu satunua modal yang gw punya. Ya, sebuah keyakinan. Hingga akhirnya gw berada disini, di sebuah Institut terkenal di Kota Bogor untuk membeli sebuah formulir SPMB/SNMPTN.
Disini gw tidak sendiri, sebab dibelakang gw ada seorang gadis cantik dengan tinggi sekuping gw, kulit putih bersih, serta matanya yang rada sipit. Dia sama seperti gw, berdiri hampir setengah jam, kegerahan, dan bercucuran keringat. Berkali kali gw mendengar keluhan terucap dari bibirnya,
"panas banget ih!".
"Gerah banget ya.."
Tapi tetap saja dia terlihat cantik.
"Kamu dapet nomer berapa? terus tesnya dimana?" Tanya Bunga sesaat kita meninggalkan antrian.
"Nomor sekian...tesnya di SMA ****." Jawab gw.
"Yah beda dong sama aku. Nggak bisa bareng deh..."
"Sekali kali beda ga apa lah. Masa kita mesti samaan mulu."
"Hehe..iya. Kamu mesti belajar yang bener ya biar diterima." Ujarnya.
"Yaa nyantai aja lah. Lagian aku nggak terlalu ngarep. Diterima sukur, nggak diterima ya nggak apa apa..."
"Jangan gitu juga lah...yang penting berusaha dulu, aku yakin kamu bisa kok. Semangat!!" Ucap Bunga.
"Iya..iya..."
Oke, sekarang gw adalah anak STM yang ingin melanjutkan kuliah. Gw sedikit melenceng dari dunia STM yang umumnya lulusan STM itu langsung bisa bekerja. Teman teman seangkatan gw juga sudah banyak yang mulai bekerja, termasuk Dedi yang saat itu bekerja di salah satu perusahaan Otomotif terbesar di Indonesia. Dia tidak membuat lamaran hingga puluhan map sebagaimana mestinya orang pencari kerja, tapi dia di telefon oleh pihak perusahaan tempat dia PKL dulu untuk memintanya bekerja disana. Jadilah dia yang dilamar oleh perusahaan, bukan dia yang melamar. Gokil lu Ded! Rejeki lo bagus...
"Makan yuuk. Aku lapar..." Ajak Bunga.
"Ayo, makan dimana nih?"
"Terserah kamu. Kan kamu yang traktir..."
"Loh kok aku??"
"Kamu lupa ya sama janji kamu? Nah sekarang aku tagih janjinya!"
"......."
Akhirnya gw memenuhi janji untuk mentraktir Bidadari gw ini. Sebenarnya bisa dibilang gw kalah taruhan. Tempo hari kami tanding Billiard, peraturannya yang kalah harus traktir makan. Gw pun setuju dengan taruhan yang dia buat dan gw kalah. Bahkan gw nggak dikasih menang sama sekali. Dia emang jagonya maen bola sodok. Lain cerita kalau kita tanding guitar hero di PS. Sudah dipastikan gw yang berjaya disini. Sedangkan dia cuma bisa ngomong sambil memelas,
"Udah doong. Udaah...Iya aku kalah...Nanti aku traktir makan".
Tak lama kemudian tukang batagor lewat, dan gw akhirnya cuma geragotin batagor dibungkus plastik sambil manyun. Lah wong cuma beli 2000 perak. Kenyang kagak, mules iya. Kamu curang Bunga....
"Kamu mau makan sama apa?" Tanya Bunga.
"Emm...sama ayam aja deh." Jawab gw.
Bunga beranjak dari duduknya lalu menuju ke arah mas mas penjaga warung nasi padang untuk memesan makanan. Sedangkan gw lagi asik maen air kobokan plus mencetin irisan jeruk nipis.
"Eeh mas...mas.....Ada ayam hidup nggak?" Tanya Bunga pada si mas.
"Buat apa ya mba?" Si mas bertanya balik.
"Ini loh mas, ada orang yang mau makan sama ayam, bareng sama ayam." Jawab Bunga sembari nunjuk ke arah gw.
"......" Si mas bingung.
"......" Gw melotot.
Tak lama kemudian makanan pun siap di atas meja lengkap dengan es teh manis. Bunga masih cengar cengir setelah mempermalukan gw barusan. Kadang gw mikir, kenapa nih anak jail banget ya ke gw? Gw ngerti maksud dia itu cuma becanda. Tapi kadang kadang becandanya kelewatan. Dan menurut gw candaan macam itu udah agak kelewatan. Masa iya gw disuruh makan sama ayam? Geragotin pur sama dedek?
Makan pun telah selesai, gw menepati janji gw untuk membayar semuanya. Sontak dompet gw seperti ada bawang merahnya, apabila mengintip dompet, mata gw langsung perih pengen nangis. Tapi gw ikhlas kok. Selama itu untuk Bunga, demi Bunga, demi kesenangan dia, pasti akan gw lakuin. Apa sih yang nggak buat dia.
"Kamu besok ke rumah ya." Ujarnya.
"Ngapain? Mau tanding biliard lagi?"
"Nggak. Kamu ke rumah aku bawa buku sama pulpen sama pensil. Kita belajar...."
"Oh..."
"MTK kamu kan payah tuh nanti kita pelajarin sama sama..." Ujarnya semangat.
"Yaa..."
"Biar kamunya bisa diterima..."
"He'emmm...."
Jujur saja Matematika gw bisa dibilang payah sepayah payahnya. Nilau UN matematika gw cuma 5.7. Iya, lima koma tujuh. Nilai itu bener bener ngepas banget dari syarat nilai terendah waktu itu 5,01. Tapi gw bangga dengan apa yang gw dapatkan, sebab gw bener bener kerja sendiri, tanpa belajar, tanpa nyontek, dan tanpa kunci jawaban.
Hari itu berjalan sebagaimana mestinya, setelah makan kita pulang tak lupa mengantar Bunga sampai di rumah. Gw menyempatkan diri umtuk mampir sebentar lalu tanding biliard sama Bunga. Lagi lagi gw kalah, lagi lagi gw masuk kolong meja. Entah sudah berapa kali gw masuk kolong meja biliard. Tak terhitung...
Besoknya gw sudah bersiap siap mandi serta dandan seganteng mungkin untuk pergi ke rumah Bunga. Tentu maksud gw kesana itu untuk belajar bersama. Sebenernya gw ini orang yang rada males buat belajar, terutama MTK. Baru buka buku liat angka angka berjejeran aja mata gw udah perih ditambah mual mual. Tapi kali ini gw semangat, sebab ada bidadari yang mau mengajarkan gw dengan sukarela.
"Arep neng endi koe Le? sore sore wis rapi? gowo tas segala?" Tanya bapak gw.
"Mau naek gunung Pak....." Jawab gw ngasal.
"Ditanya orang tua kok jawabnya gitu."
"Hehe, iya Pak aku mau belajar nih buat SPMB."
"Nah gitu dong. Kamu mau belajar dimana?" Tanya beliau lagi.
"Di gunung....."
Akhirnya gw berangkat mengendarai jupi sore itu dengan menahan rasa perih di jidat. Tentu bapak gw sedikit kesal atas ucapan gw yang ngawur. Dia melempar gw dengan korek t*kai tepat mengenai jidat gw.
"Assalamualaikum..." Ucap gw saat di depan rumah Bunga.
"Waalaikumsalam...masuk sini."
Gw pun membuka pagar, lalu masuk ke dalam rumah. Bunga sudah standbye di teras depan, terlihat pula beberapa buku serta alat tulis menghampar di lantai. Lantas gw langsung duduk di sampingnya yang tengah sibuk membaca salah satu buku sambil sesekali menggigit ujung pulpen.
Gw masih diam belum membuka suara terus memperhatikan dia. Ternyata dia juga baru habis mandi, sebab rambutnya sedikit basah ditambah bau harum shampo yang khas. Laki laki mana yang nggak ngilu ngeliat bidadari habis mandi rambutnya basah, udah gitu wangi.
Tanpa menunggu lama lagi acara belajar pun dimulai. Dia menjelaskan satu persatu secara detail tentang soal yang tidak gw mengerti.
"Ini begini....terus begitu...Bla...bla...bla..." Ujarnya panjang lebar.
Gw nggak tau dia ngejelasin apa, sebab gw cuma bengong doang sambil terus terusan ngeliatin dia.
"Plaak...." Bunga memukul pelan wajah gw dengan penggaris besi.
"Heh, kamu merhatiin nggak sih..." Ujarnya.
"Eh iya...hehe coba diulangi lagi...aku kurang faham."
"Tuh kan, berarti daritadi kamu nggak merhatiin kan?"
"Iya iya...sekarang merhatiin deh...."
"Huh, nyebelin!"
Kemudian dia memulai lagi, membahas soal yang sama. Lagi lagi gw nggak konsentrasi ke arah soal itu, tapi konsentrasi gw malah lari ke wajahnya, tatapan matanya, dan gaya bicaranya. Gw kagum sama dia, sama kepintaran dia serta kesabarannya mengajari calon mahasiswa idiot macam gw ini. Seketika fikiran gw udah mabur kemana kemana, dan gw mulai berfikir macam macam.
Ya tuhan, dia sempurna. Genap satu tahun gw sudah menjalani segalanya sama dia. Dalam satu tahun itu juga gw sudah berbagi tawa serta tangis dengannya. Dia masih setia sama gw, setia dengan segala keegoisan gw. Dia masih peduli sama gw, peduli terhadap masa depan gw. Bahhkan sekarang gw merasa dia jauh lebih menerima gw. Walau terkadang gw punya fikiran aneh, kok bisa ya gadis seperti dia mau sama gw? Gw yang urakan, berandalan, serta kelakuan gw yang bikin orang tua gw geleng geleng kepala. Namun dengan sabarnya dia menghadapi gw dalam situasi apapun.
Ya tuhan, Seandainya kelak dia jadi ibu dari anak anak gw, anak anak gw pasti pada ganteng dan cantik. Seandainya dia jadi jadi ibu dari anak anak gw, anak anak gw pasti pintar semua, sebab kelak ibunya pasti akan mengajari mereka seperti ini, seperti yang gw alami sekarang ini. Dan bapaknya (gw) pasti akan mengajari caranya melawan orang tua. Hahaha...
"Udah faham kan??" Tanya dia.
"........" Gw masih bengong.
"Hoiii...!!!"
"......."
Tanpa bicara apa apa, kemudian gw mendekat ke arahnya, memegang pipinya dengan kedua tangan gw, lalu...
"Cup...."
Gw mencium keningnya. Entah kenapa gw jadi reflek seperti itu. Mungkin karena gw udah geregetan banget sama dia. Setelah ciuman itu mendarat mulus, tiba tiba dia mengambil sesuatu di depannya, dan...
"Gelepok....!!!
Pipi gw dipukul pake penggaris besi, kali ini rasanya sakit, perih, nyut nyutan. Dan gw cuma bisa ngelus ngelus pipi gw sambil meringis kesakitan.
0