Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
28.9K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#180
Tak lebih dari 20 menit mereka pun akhirnya menuntaskan makan malam mereka, nasi goreng Bang Samsul yang terkenal enak sekomplek itu. Lowry kembali merapatkan pagar depan dan setelah memasukkan piring bekas makan mereka berdua ke tempat cucian piring di dalam rumah, ia pun kembali ke teras depan.

Di rumah sebelah tampaknya tetangga Kikan, Pak Heryanto yang sekaligus Ketua RT komplek itu, baru saja pulang bersama keluarganya dari suatu tempat. Istri si pak RT dan anak-anaknya turun dari mobil. Lalu membukakan pintu gerbang rumah mereka agar mobil bisa masuk. Tapi mobil ternyata tidak dimasukkan ke garasi melainkan hanya ditepikan saja di depan rumah, lalu Pak Heryanto turun dari mobil tersebut.

“Loh pak? Kenapa mobilnya ga dimasukin?” tanya ibu Heryanto.

“Ntar bu. Ini kesebelah bentar ada neng Kikan sama Lowry.”

“Malam pak,” ucap Lowry seraya bergegas hendak membukakan pintu pagar kecil.

“Ah nggak usah Low, gapapa, biar aja,” jawab pak RT.

“Malam pakde,” sapa Kikan.

“Malam juga Kikan,” ucap pak RT ramah. Lalu pandangannya tertuju pada crutch yang disandarkan di sebelah kiri kursi teras tempat Kikan duduk. Dan melihat ke kaki yang digips. “Lho, kamu kenapa? Abis kecelakaan? Dimana? Kapan?” tanya pak RT.

“Ah gapapa kok Pak. Ini kakinya diperban, jarinya retak dikit. Kikan jatuh waktu main sepeda.”

“Astaga. Kamu ngebut-ngebut sih main sepedanya. Pelan-pelan aja dong. Kan orangtua kamu lagi ga disini. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa kan pakde yang dimarahin Papa kamu,” si Pak RT yang tidak tahu duduk perkaranya nampak sedikit cemas.

Lowry terlihat sebal melihat Kikan disalahkan seperti itu dan dengan cepat menyambar “Nggak Pak, Kikan ..” tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya Kikan memotong.

“Kak Low!” ucap Kikan seraya menggelengkan kepalanya, pertanda ia tak ingin hal yang sebenarnya diceritakan.

“Ya Low?” kata Pak RT yang tak melihat gestur Kikan barusan. Perhatiannya tertuju pada Lowry.

“Nggak Pak, Kikan kata dokternya bakal cepat sembuh kok…” Lowry mengubah buntut kalimatnya dengan kaku seraya menunduk dan garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Lho. Ini kalian berdua saja? Sierra mana Low?” kata Pak RT.

“Sierra lagi lembur pak. Ada banyak kerjaan di rumah. Saya nemenin Kikan aja soalnya kasian kakinya lagi sakit mungkin butuh bantuan ini itu.”

“Hoo .. sibuk ya dia. Itu kamu berdua kerja di rumah gitu apa sih namanya? ‘Sauna Man’ ya?”

Tak pelak mendengar pak RT berucap ‘Sauna Man’ Kikan menutup mulutnya menahan tawa yang nyaris berderai.

Lowry cuma mengulum senyum seraya tersenyum malu. “Namanya ‘Sound Man’ pak. Anak studio, operator rekaman pak temannya anak-anak band.”

“Oh ya .. ya .. ‘Saun Man’ ya. Gimana masih banyak yang latihan itu anak-anak di tempat kamu?”

“Bukan Latihan pak, rekaman,” Lowry membenarkan.

“Iya ibu kamu itu punya perusahaan rekaman Musique ya Low ya. Makanya kaya banget. Kamu kan baru tahun 2007 kemarin lulus wisuda ya pas sebelum pindah kesini ya? Itu kamu kuliah apa sih? Katanya di luar negeri sama Sierra kuliahnya?”

“S2 di bidang musik pak. Ambil Master of Music di Sydney. Ketemu Sierra juga di Sydney pak tahun 2005.”

“Wiih keren. Tapi kok bapak nggak pernah liat kamu di televisi ya?”

Ternyata si Bapak enggak paham konsep kerja seorang audio engineer dan menganggapnya sama dengan musisi yang wajahnya diekspos di televisi.

“Kita yang bantu aransemen, mixing, dan proses recording musiknya pak.” Lowry masih mencoba sabar.

“Oh kamu yang bikin lagu? Berarti kamu pencipta lagu dong. Bilang dong dari tadi.” Si Bapak malah salah paham lebih jauh lagi.

Yang punya kerjaan cuma mesem-mesem saja dibilang pencipta lagu.

“Ya sudah salam buat Sierra ya. Itu tolong diuruskan yang saya minta tolong kalian tempo hari. Untuk acara tahun baruan.”

“Oh ya pak. Itu siaplah. Nanti bapak terima beres saja konsep dari kami.”

Setelah itu Pak RT pun memasukkan mobil ke carport rumahnya dan menutup pagar. Tinggallah kini Lowry dan Kikan berdua lagi, tanpa gangguan siapapun.

“Pakde minta bantuan apa kak Low?”

“Itu banner hiasan gitu buat tahun baru minta dibikinin yang bagus.”

“Kan masih lama – masih 3 bulan lagi?”

“Katanya sih mau adain acara musik sama makan makan gitu di Lapangan Basket.”

“Idenya siapa?”

“Anaknya pak RT.”

“Oh si Tari? Pinter emang dia kak Low. Kreatif.”

“Aku ga begitu kenal sih sama dia Kan.”

“Maennya kesini mulu sih. Kesebelah dong sekali-kali.”

Kesempatan.

“Ah masih aja ngeledek. Udah tau juga?”

“Udah tau apaan?” Kikan tersenyum.

Lalu mereka diam, dan Lowry yang dari tadi berdiri beralih duduk di kursi teras sebelah kanan sedang Kikan duduk di kursi sebelah kiri. Sebuah meja kecil ada disana memisahkan mereka.

Setelah diam beberapa saat, Kikan memecah kesunyian dengan sebuah helaan nafas.

“Huff.”

“Kenapa Kan?” Lowry menatap ke gadis disebelahnya.

“Enggak pa-pa. Hidup aneh ya. Waktu itu 2007. Kikan baru masuk SMA. Rico milih ikut mama papa kerja ke Prancis. Kikan tinggallah sendiri disini. Sepi banget. Ngapa-ngapain sendiri. Terus kita bertiga ketemu hari itu. Waktu kalian bawa kue itu. Tapi kita semua enggak ada yang bener kejadiannya kan? Lucu ga sih. Aku suka kak Sierra. Kak Low suka aku. Kak Sierra sendiri entah suka sama siapa.” Kikan menuturkan pikirannya.

“Ya. Dan lucu juga. Selama 2 tahun ini, semua baik-baik saja. Maksudku kamu dan Sierra. Sierra bisa jaga kamu. Kamu lucu, centilin dia terus. Aku juga baik-baik saja. Tapi sekarang. Setelah tahu ternyata kaya gini. Entah kenapa, aku ngerasa jengkel. Kenapa dulu aku ga tegas nyatain terus terang aku suka kamu. Ga punya cukup nyali untuk bersaing sama Sierra. Kenapa Sierra ga dari dulu jujur sama perasaannya. Tapi kamu Kikan, kamu ga pernah salah sama sekali, jadi jangan menyalahkan diri sendiri ya.” Lowry pun menuturkan apa yang ia rasa.

“Kak Low.”

“Ya?”

“Kak Low bisa kan tetep sayangin Kikan seperti yang selama ini udah Kak Low lakuin? Kak Low bisa tetap baik-baik saja kan?”

Bugg! Terasa sakit menghantam ulu hati oleh pukulan palu godam yang tak terlihat. Lowry tercekat. Terdiam tak mampu menjawab.

“Aku ga yakin untuk saat ini dengan diriku sendiri. Saat ini Kikan jatuh. Kikan sakit dan luka. Dan ini mungkin bukan luka yang bisa sembuh dengan ditutup paksa. Aku ga mau kasih kak Low luka aku. Aku maunya kasih kak Low aku yang bisa senyum karena benar senyum, bukan aku yang sekarang, yang suka tau-tau air mata meleleh sendiri kaya gini,” ucap Kikan seraya menyeka air matanya.

“Dan kalau lukanya gak sembuh-sembuh?” Lowry bertanya. Tapi ia tak menatap Kikan. Ia menatap kosong kedepan. Nada getir terasa di pertanyaan itu.

“Maaf.” Hanya itu yang keluar dari bibir gadis yang disanjungnya.

Lowry hanya menggelengkan kepalanya.
“Baiklah. Let’s call it a day. Eh iya. Besok sekolah aku antar ya? Atau mau Sierra aja?” ucap Lowry seraya bangkit dari duduknya.

Kikan menatap Lowry tajam. “Why?” cuma itu yang pelan diucapkannya. Lalu ia bangkit dan masuk kedalam dengan tergesa. Masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.

Tinggallah Lowry sendiri dengan pintu depan rumah yang masih terbuka.

Baru 3 detik kemudian Lowry menyadari kesalahannya. Dan kembali ia menggelengkan kepalanya. Kali ini bukan gelengan rasa tak percaya melainkan gelengan penuh sesal. Sesal karena bawah sadarnya yang pencemburu mengambil alih alam sadarnya. He lost his cool for a moment there.

Fuck.”

Ia tutup pintu depan rumah Kikan, dan beranjak meninggalkan tempat itu.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 05:08
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.