- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.8K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#179
“Pacar? Kak Lowry kan sibuk kerja di kantor mama, manalah sempat cari pacar,” Lowry coba untuk tetap tenang.
“Kalo .. yang disuka?” Kikan terus mengejar, tapi juga berlagak cuek dengan tidak menatap langsung mata lawan bicaranya.
Lowry terdiam. Skak mat. Satu sisi ia tahu Kikan mendengar semua percakapannya dengan Sierra malam kemarin. Di sisi lain ia sama sekali tidak tahu mengapa Kikan justru menyudutkannya dengan pertanyaan ini. Saat akan datang kemari, Lowry mengira ia harus memainkan upaya terbaiknya untuk bisa memenangkan hati Kikan. Tapi sekarang, sang pemburu malah menjadi yang bergetar saat buruannya balik menyerang.
“Aku suka .. sama mantan pacar sobat karibku,” Lowry menyerah pada akhirnya.
Mendengar jawaban itu, Kikan diam. Perlahan kepalanya yang menunduk terangkat dan kini matanya memandang Lowry dalam-dalam.
“A… sama aku?” Kikan bertanya lagi.
Lowry tak menjawab sepatah kata pun. Hanya mengangguk pelan.
Kikan menghela napas, dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Tertunduk beberapa detik lamanya. Lalu dengan kedua tangan yang tertangkup ia menyeka butir air mata yang tak kuasa ia bendung. Pipinya yang putih kini bersemburat merah muda. Dan suaranya pun sedikit lebih serak.
“Masya Allah kak, dari kapan?”
Melihat reaksi Kikan yang seperti itu, tanpa sadar Lowry pun ikut menitikkan air mata.
“Dari pertama …”
Suasana di ruang keluarga yang hangat dan romantis itu tiba-tiba berubah menjadi haru. Kedua anak manusia tersebut tampak sulit untuk menahan emosi yang membuncah begitu tiba-tiba.
Hening beberapa saat di antara mereka.
“Maafin Kikan ya kak, Kikan jahat banget ya selama ini ga pernah bisa baca perasaan Kakak.”
Di tengah perbincangan serius nan haru tersebut tiba-tiba saja dari luar terdengar pekikan yang khas, “Na- Sik!” “Na-Sik!”
Mereka berdua pun saling pandang … dan tersenyum kembali …
“Gih sana, kan tadi kak Lowry udah setia nungguin bang Samsul,” ucap Kikan seraya bangkit dengan crutchnya. “Pake piring Kikan aja ya.”
“Tapi kita kan lagi ngobrol? Bang Samsul mah bisa nunggu entar kali Kan?” Lowry enggan kehilangan momen.
“Nanti kita ngobrol lagi, kalau Kak Low dah makan. Lagian, Kikan juga laper nih,” ucapnya seraya menyerahkan 2 buah piring pada Lowry.
“Bang Samsul! Nasik 2!” Pekik Lowry seraya menghambur ke teras depan. Semangatnya kembali utuh mendengar ucapan Kikan tadi.
“Kak Low! Punya Kikan jangan pedes yaa!”
“Kalo .. yang disuka?” Kikan terus mengejar, tapi juga berlagak cuek dengan tidak menatap langsung mata lawan bicaranya.
Lowry terdiam. Skak mat. Satu sisi ia tahu Kikan mendengar semua percakapannya dengan Sierra malam kemarin. Di sisi lain ia sama sekali tidak tahu mengapa Kikan justru menyudutkannya dengan pertanyaan ini. Saat akan datang kemari, Lowry mengira ia harus memainkan upaya terbaiknya untuk bisa memenangkan hati Kikan. Tapi sekarang, sang pemburu malah menjadi yang bergetar saat buruannya balik menyerang.
“Aku suka .. sama mantan pacar sobat karibku,” Lowry menyerah pada akhirnya.
Mendengar jawaban itu, Kikan diam. Perlahan kepalanya yang menunduk terangkat dan kini matanya memandang Lowry dalam-dalam.
“A… sama aku?” Kikan bertanya lagi.
Lowry tak menjawab sepatah kata pun. Hanya mengangguk pelan.
Kikan menghela napas, dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Tertunduk beberapa detik lamanya. Lalu dengan kedua tangan yang tertangkup ia menyeka butir air mata yang tak kuasa ia bendung. Pipinya yang putih kini bersemburat merah muda. Dan suaranya pun sedikit lebih serak.
“Masya Allah kak, dari kapan?”
Melihat reaksi Kikan yang seperti itu, tanpa sadar Lowry pun ikut menitikkan air mata.
“Dari pertama …”
Suasana di ruang keluarga yang hangat dan romantis itu tiba-tiba berubah menjadi haru. Kedua anak manusia tersebut tampak sulit untuk menahan emosi yang membuncah begitu tiba-tiba.
Hening beberapa saat di antara mereka.
“Maafin Kikan ya kak, Kikan jahat banget ya selama ini ga pernah bisa baca perasaan Kakak.”
Di tengah perbincangan serius nan haru tersebut tiba-tiba saja dari luar terdengar pekikan yang khas, “Na- Sik!” “Na-Sik!”
Mereka berdua pun saling pandang … dan tersenyum kembali …
“Gih sana, kan tadi kak Lowry udah setia nungguin bang Samsul,” ucap Kikan seraya bangkit dengan crutchnya. “Pake piring Kikan aja ya.”
“Tapi kita kan lagi ngobrol? Bang Samsul mah bisa nunggu entar kali Kan?” Lowry enggan kehilangan momen.
“Nanti kita ngobrol lagi, kalau Kak Low dah makan. Lagian, Kikan juga laper nih,” ucapnya seraya menyerahkan 2 buah piring pada Lowry.
“Bang Samsul! Nasik 2!” Pekik Lowry seraya menghambur ke teras depan. Semangatnya kembali utuh mendengar ucapan Kikan tadi.
“Kak Low! Punya Kikan jangan pedes yaa!”
0