Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#178
“Ting tong! Ting tong!”

Pukul tujuh malam. Bel di rumah Kikan berbunyi dua kali. Dengan malasnya gadis itu beranjak dari depan televisi, menyanggahkan berat badannya pada crutches dan menuju pintu, menyibakkan tirai jendela untuk melihat siapa yang datang. Lalu membuka pintu.

“Masuk kak Low,” ucapnya pelan.

“Lagi ngapain Kan?”

“Nonton tv aja.”

“Udah makan belum?”

“Udah tu, Pop Mie.”

“Yaaaa Kikan? Koq makannya Pop Mie sih? Gimana mau cepet sembuh? Pesen Pizza Hut ya?”

“Kak Low, ini jari cuma retak dikit, masa mau diobatin pake Pizza? Ya kalo cara Kak Low ngobatinnya gitu sih, ga heran kalo tambah bulet.” Kikan tersenyum simpul.

Yang diledek juga malah senyum. Lalu masuk dan duduk di sofa tamu, jauh dari Kikan yang duduk di sofa keluarga depan TV. Lowry mulai pilah pilih majalah lama yang ada di bawah meja tamu.

“Seriusan tuh mau baca disitu? Kan yang disitu itu mah semua udah dari kapan tau Kak Low?”

“Ya … ini mah acting aja. Maunya juga duduk di sebelah situ. Tapi kan belum disuruh .. ya nggak enak.” Lowry mesem-mesem.

“Ya ampun. Kaya sama siapa aja sih. Sini dong temenin Kikan nonton.”

Lowry pun beranjak bangkit menuju sofa dimana Kikan duduk sambil membawa majalah CHIP lama yang ada di meja tadi. Untuk kali pertama, dia dan Kikan bisa duduk sedekat itu, dengan status Kikan yang baru saja ‘single’ lagi. Tak urung, Lowry merasa agak berdebar juga. Berdebar karena memang Kikan cantik seperti biasanya. Dan lebih lagi karena ada sesuatu yang beda kali ini, dari sebelum-sebelumnya dimana ia hanya memainkan peranan pelengkap penderita.

“Film apaan, Kan?”

Die Hard ini .. Udah berapa kali sih liatnya juga, tapi nggak bosen-bosen.”

“Oooo.”
Berhubung memang pada dasarnya Lowry tukang makan, dan sejak dari tadi sore dia belum makan karena deg-degan mau mengunjungi Kikan malam ini, lapar yang sangat pun rela ia tahankan. Demi.

Tapi tak butuh waktu lama, kesenyapan di antara mereka berdua yang hanya diselang percakapan di televisi, pecah oleh bunyi perut Lowry yang bersenandung kriuk-kriuk.

“Eh?” Lowry menahan malu sendiri karena perutnya mengeluarkan pekikan para cacing.

Kikan menatap tak percaya, lalu tertawa terkekeh geli sambil berupaya menutupi mulutnya.

“Tuh kak Low, sudah ada teriakan tanda minta diisi.”

“Haha .. iya .. ini lapar melulu. Ada bayinya kali ya?” Lowry coba mengelak.

“Tapi enggak ada apa-apa nih. Pop Mie masih ada sih satu lagi. Mau? Itu di plastik di atas meja makan.” Kikan menawarkan.

“Ah enggak deh, ntar aja Kan, tunggu bang Samsul lewat.” Lowry menyebut nama penjaja nasi goreng keliling di komplek itu.

“Eh, bang Samsul malem lo lewatnya.. Yakin sanggup nahan lapernya Kak Low? Ganjel aja dulu pake Pop Mie”

“Ganjel? Udah kaya pintu aja nih perut gw ya?”

Kikan tertawa-tawa lagi.

Lowry senang bukan main. Walaupun ia tahu, peluangnya tipis, tapi ia senang sekali bisa berada dengan Kikan sedekat ini. Masalahnya adalah, dan ia juga tahu ini adalah masalah. Lowry sadar betul. Semua orang selalu ingin lebih dari apa yang sudah dimilikinya saat ini. Lihatlah keadaan ini. Tak lebih jauh dari 3 meter dengan Kikan. Bicara menghabiskan waktu dengan akrab. Tawa dan senyum Kikan yang mengobati semua angan dan mimpinya selama ini begitu indah. Tapi manusia selalu ingin lebih. Ia pun menimbang resikonya. Kalau ia ditolak, maka tamatlah riwayatnya. Kesempatan yang sudah dimilikinya selama ini pun akan menghilang. Kalau ia diterima, sempurnalah bagian terpenting hidupnya, begitu pikirnya. Ia selama ini tidak pernah ditolak, hanya saja yaa .. tidak begitu dianggap. Karena dibandingkan Sierra yang menyerupai sosok hero, mungkin Batman, Lowry lebih menyerupai sidekick-nya Sierra, ia mainkan peran sebagai Robinnya Sierra. Tetapi apakah ketika Batman tiada, Gotham bisa bergantung pada Robin?

“Kak Low,” sapa Kikan pelan menyadarkan Lowry dari lamunannya.

“Eh? Iya?”

“Maaf ya tadi pagi.”

“Kenapa Kan?”

“Iya. Kak Sierra jahat ya.” Kikan bicara pelan sambil matanya nanar menatap televisi yang tak benar-benar ditontonnya.

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari Lowry.

“Ya. Maksud Kikan sih dia baik sih, orangnya. Baik banget malah.”

Jleb. Jleb. Jleb. Lowry tewas. Again? Di posisi ini. Hmm.. Sudah familiar dengan ini. Sabar. Lowry berupaya menahan senyum meringisnya.

“Kak Low, makasih ya,” ucap Kikan lagi pelan.

“Kenapa Kan?”

“Kata-kata Kak Low semalem. Belain Kikan. Kikan denger semua. Kikan tau koq Kak Low sayang Kikan. Mungkin lebih malah daripada Kak Sierra sayang ke Kikan.”

Jleb. Jleb. Jleb. Lowry tewas. Lagi. Di posisi ini. Hmm.. Dia tak pernah merasakan sebahagia ini. Sabar. Kali ini Lowry setengah mati menahan jumawanya.

“Tapi ..” Kali ini pelan sekali suara Kikan.

Lowry pun menahan napas.

“Kikan mesti gimana ya Kak sekarang? Kikan bingung.”

Lowry sedikit lega. Tadinya ia khawatir yang keluar adalah, “Tapi .. Kikan gak bisa jadi pacar Kak Lowry. Kikan udah anggap Kak Lowry kakak Kikan yang paling baik.”

Untung bukan itu yang keluar, jadi Lowry agak lega. Tapi posisinya memang belum terlalu banyak berubah. Kini ia harus mengucapkan sesuatu yang benar. Bukan sesuatu yang ia inginkan.

Setelah berpikir sebentar, Lowry akhirnya memilih ..

“Ya enggak gimana-gimana. Kamu bawa enaknya aja. Sekolah kan sudah mau ujian. Nanti sudah itu liburan kan keluarga kamu pulang kesini. Dibawa bagusnya aja gimana.”

daripada alternatif sindiran halusnya yang sebenarnya juga masuk akal,

“Cinta emang kaya gitu. Suka nyakitin. Kalau perasaan kita ga sampe ke orang yang kita suka. Rasanya sakit banget.”

“Duh. Iya sih Kak. Tapi ini nih sekarang semua tuh nggak enak banget rasanya. Kayak pengen jerit. Pengen nangis kenceng-kenceng. Pengen potong rambut pendeeeekk banget. Pengen makan banyaaaak banget,” Kikan meneruskan galaunya.

Lowry tersenyum karena ia dapat kesempatan lagi. Kali ini ia memilih untuk ambil posisi serang.

“Ya. Alternatifnya kita timbang ya. Nggak enak banget rasanya? Pengen jerit? Boleh asal di tempat karaoke. Nanti kalo dirumah ntar tetangga telpon polisi disangka ada apa-apa. Pengen nangis kenceng-kenceng? Boleh aja .. asal ngga capek. Nangis tuh capek banget tau. Kak Lowry sering nangis juga. Capek banget. Potong pendek? Janganlah nanti kalau Demi Moore potong lagi, ngetren lagi, bolehlah. Kalau sekarang nanti dikira mau masuk Polwan lho. Nah dari semua pilihan, yang terakhir boleh banget tuh. Makan banyak banyak, apalagi kalo Kak Lowry diajak dan ditraktir.”

“Ih dia mah gitu .. orang serius juga,” Kikan cemberut.

“Ya gimana dong. Kan cuma pendapat? Bener semua kan?” Lowry membela diri.

“Kak Lowry sering nangis kenapa?” Kikan serius bertanya.

“Ya .. nangis .. kalo tiap liat jarum timbangan ..” Lowry menjawab polos.

Tak pelak tawa Kikan pun berderai lagi. Kali ini tak bisa ia kendalikan sampai batuk ia terpingkal-pingkal.

Yes! Gol lagi. Pikir Lowry dalam hati.

“Ih parah. Serius. Itu seneng banget kayanya ketawanya ya? Dasar anak kecil.” Lowry pura-pura pasang tampang bete.

“Ahah .. Ahaha ..Kak Lowry becanda melulu ih. Sebel.” Kikan kesulitan menahan tawanya.

“Yang bercanda siapa? Emang kenyataan begitu. Wew.”

“Kak Low, Kak Low, Kikan boleh nanya enggak?”

“Ya, silakan. Asal jangan soal atau pe-er sekolah aja ya.”

“Kak Low, koq ga pernah keliatan bawa pacar? Kak Low, punya seseorang yang Kak Low suka?” Kikan bertanya pelan, sambil menunduk, tapi ujung tatapannya mengarah ke Lowry.

Seperti rokade pada permainan catur, buah Raja terlindungi, dan buah Benteng balik mengancam posisi lawan. Lowry harus menebak dengan benar sekarang, apakah ini adalah pertanyaan, ataukah ini adalah sebuah perangkap. Kesempatankah? Kikan memang bukan gadis biasa. Dia punya personanya sendiri, dan nampaknya Lowry akan benar-benar terperangkap selamanya disini. Tapi ia kesini bukan untuk kalah begitu saja. Yang ditanya menatap yang bertanya dalam-dalam. Lalu ia tersenyum.
Diubah oleh rahan 30-11-2014 05:34
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.