Semenjak sil menjauh dengan Viko, sil pun benar-benar nggak pernah peduli lagi dengan segala macam urusan tentang dia, sedangkan kak Vala masih tetap menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Walaupun sebenarnya semakin kesini, semakin banyak feeling nggak beres yang berhubungan dengan Viko dan kak Vala, tapi sil berharap kak Vala benar-benar baik-baik aja. Sementara itu segala hal yang berhubungan dengan kampus sampai saat ini masih baik-baik saja. Cuma…ada cumanya…Sil tetap nggak bisa berbaur dengan semua teman-teman yang ada di kampus.Seperti dejavu memang, sejak sd,smp,sma sil memang agak menjaga jarak dengan orang-orang. Kenapa?Entahlah…Mungkin semacam bakat untuk mendeteksi seseorang. Apakah kita cocok dengan mereka, gimana sikap asli mereka, dan terkadang membaca pikiran mereka. Tapi bakat itu munculnya secara tiba-tiba dan nggak bisa diprediksi. Dan di kampus yang ramai ini, apalagi dengan teman-teman seangkatan yang benar-benar banyak jumlahnya, entah berapa banyak yang benar-benar harus sil jauhi karena sil udah tau sikap mereka saat pertama kali bertemu. Hal ini mengganggu sebenarnya, tapi sil juga tau konsekwensinya kalau berteman dengan mereka. Sebenarnya hal yang sama berlaku saat sil kenal Viko, tapi sil coba untuk berpikir positif, dan ngelawan kehendak hati. Ternyata memang hati nggak bisa dibohongin.Akhirnya lagi-lagi sil bertanya sama Luna tentang tanggapan dia
Luna : Nggak mungkin juga kamu ngejauhin mereka sil, apalagi setiap hari ketemu terus di kampus.
Sil : Terus gimana Lun?Luna ngerti kan sil nggak mau ambil konsekwensi terburuk yang bakalan kejadian sama sil
Luna : Luna yakin diantara sekian banyak teman-teman yang kamu temui, pasti ada yang benar-benar teman sejati. Kuncinya masih sama…Ikutin kata hati kamu
Sil : Hmmm…Entahlah Lun…
Saat itu juga sil sadar, selama ini Luna selalu ngasih solusi terbaiknya, tapi kembali lagi segala keputusan itu semuanya ada di tangan sisil. Jadi sebenarnya Luna nggak ada ngatur-ngatur berlebihan.
Akhirnya sil coba pelan-pelan untuk ngeliat segala sesuatunya secara positif. Dan ya…memang benar…Diantara sekian banyak orang yang ada, sil ketemu dengan 3 orang cewek-cewek kece dengan segala macam kepribadian mereka yang amazing yang jadi sahabat sil sampai sekarang. Kita berempat ngelakuin hal yang wajar, kadang bolos ke mall, cabut pas ujian, dsb.Hehehe…Tapi tetap aja sil masih tetap malas bertemu dengan teman-teman yang lain, bahkan senior sekalipun selama di kampus. Sesuatu yang dinamakan bakat itu entah apapun namanya, kadang sil benci kalau munculnya secara tiba-tiba, apalagi pas orang lain lagi ngomongin hal buruk tentang kita. Seperti contohnya waktu sil lagi buka sepatu di depan ruangan tempat ngumpul senior-junior, beberapa detik sebelumnya terlintas sesuatu yang belum mereka omongkan
Senior A : Banyak yang sok cantik ya disini (beberapa menit kemudian senior A itu benar-benar ngomong seperti itu)
Junior B : Iya salah satunya yang lagi di depan pintu kan bang(bahkan jawaban dari junior B yang sebenarnya kawan seangkatan sil ini juga “terbaca” sama sil sebelum terucap dari mulutnya)
Syok???Mau gimana lagi. Kadang hal seperti ini terulang di sikon yang berbeda-beda. Contoh lain…Sewaktu di kantin dengan ketiga sahabat sil, sil nggak sengaja lagi terbaca salah satu pikiran mahasiswa disana yang sil sebenarnya nggak kenal yang posisinya membelakangi sil
A : Itu cewek di belakang kita. Samperin yuk, ajak kenalan gitu
Saat itu sil keceplosan bilang ke kawan sil kalau sebentar lagi ada yang bakalan datang minta kenalan ke kita berempat. Lalu beberapa detik kemudian mahasiswa itu benar-benar datang ke meja kita berempat dan kita berempat nahan-nahan senyum sambil geleng-geleng kepala.