- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.3K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1417
PART 62
Tepat setelah azan ashar, kami pun akhirnya memutuskan pulang ke Bogor. Sebelumnya kami tidak lupa untuk pamit ke Nenek dan juga Teh Ida. Gw sempat terkejut ketika nenek memberikan gw sesuatu dibungkus kantung plastik hitam. Katanya sih oleh oleh dari Sukabumi. Setelah gw lihat isinya, ternyata wajik ketan. Itu adalah makanan kesukaan keluarga gw.
Di sepanjang perjalanan pulang, Niar hanya diam saja. Begitupun juga gw yang fokus mengendarai motor. Sesekali gw tengok ke sepion kiri untuk sekedar melihat wajahnya. Sepertinya dia kelelahan. Cukup sering juga helm gw disundul sundul sama kepalanya yang menandakan kalau dia mengantuk.
"Kamu ngantuk Nii?"
"Hehe sedikit." Jawabnya.
"Mau berenti dulu istirahat?"
"Nggak usah lah nanggung. Aku pinjem pundak kamu aja yaa."
"Buat?"
"Buat tidur. hehe."
"Yaudah. Awas jangan ngiler"
Niar pun sukses tidur di pundak gw. Awalnya gw nggak percaya kalo dia tidur beneran, tapi setelah gw panggil panggil, dia beneran nggak nyaut. Malahan gw cubit tangannya yang melingkar di pinggang gw, dia nggak sadar juga. Yang gw heran tuh, masa iya dia bisa bisanya tidur pules di atas motor. Cuma modal pundak doang. Mana pundak gw keras tulang doang.
Saat pulang, perjalanan ini terasa lebih cepat. Hanya memakan waktu 2 jam saja kami sudah sampai di Kota Bogor. Mungkin karena gw sudah hafal jalannya, lagipula keadaan lalu lintas cukup lancar tidak ada macet.
Niar sudah bangun dari tidur singkatnya lalu bertanya kita sudah ada dimana. Gw memberi tahu padanya kalau sebentar lagi sampai dan gw juga menawarkan diri untuk mengantarnya sampai di rumah. Dia tidak menolak, hanya bergumam "He'emm" sebagai tanda setuju.
"Nii dah sampe rumah nih!"
"Hemmm"
"Yudah turun dulu. Kalo masih ngantuk lanjut tidur di dalem gih" Ujar gw.
Kemudian gw turun dari motor lalu gw menepuk pantat. Lagi lagi terasa ba'al bahkan kali ini ditambah sakit pinggang. Setelah turun dari motor, gw langsung duduk bersandar pada pagar di depan rumahnya buat selonjoran ngelurusin kaki. Tak lama kemudian Niar pun menyusul gw untuk duduk disitu juga.
"Makasih ya Jar"
"Ya sama sama."
"Kamu mau masuk dulu nggak?" Tanya dia.
"Kayanya nggak deh. Setengah jam lagi Udah mau maghrib."
"Ya pulangnya nanti aja abis magrib. Pamali tau magrib magrib di jalan" Ujarnya.
"Justru itu aku ngejar waktu biar sebelum magrib udah smpe rumah."
"Hmm...yaudah deh. Kamu mau minum? aku ambilin ya?"
"Nah boleh tuh. Aer dingin ya." Pinta gw.
Niar masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa segelas air putih dingin. Gw yang kehausan langsung menenggak habis segelas air tadi.
"Nii, kamu beneran mau pindah ke Jogja?" Tanya gw.
"Kamu udah berapa kali nanya itu ke aku?"
"Yaelah tinggal jawab. Kali aja kamu berubah fikiran."
"Kalo jawabannya IYA dan selalu IYA gimana?"
"Itu pilihan kamu. Lagipula aku nggak punya cara buat cegah kamu pergi. Siapa aku? Aku cuma bisa ngasih pesen, jaga diri baik baik disana."
Saat itu tiba tiba Niar memeluk gw. Meluk nanggung gitu sih biasa aja nggak sampe nempel (Waduh). Gw pun hanya diam, membiarkan kepalanya tenggelam di pundak gw sementara tangannya melingkar di leher gw.
"Aku pasti kangen kamu..." Ujarnya.
"Looh, kemaren waktu kita lama nggak ketemu kamu nggak kangen sama aku?" Tanya gw.
"Kangen sii...Tapi takut mau hubungin kamu."
"Hahaha...Yaudah Nii. Lepas ih...nggak enak diliat orang" Ujar gw.
Akhirnya dia melepas pelukannya lalu ngucek ngucek matanya yang sudah merah sedari tadi.
"Aku pulang ya..."
"....." Niar diem.
"Yailah malah bengong."
"Eh iyaa. Nggak nanti aja abis Magrib?"
"Nggak...Aku pulang sekarang."
Kemudian gw memakai kembali helm gw lalu menaiki motor. Gw sempat memandang wajahnya sekali lagi dan gw berfikir, mungkin saja ini terakhir kalinya gw liat dia.
"Oya Nii, satu lagi pesen aku..."
"Apa?"
"Jangan sekali kali di Jogja kamu ngomong JANCUK!"
"Hah? Emang artinya apa?"
"Ya pokonya jangan aja. Apalagi ke orang tua. Haha..."
"....." Niar diam berfikir.
"Dah ga usah difikirin, aku pulang. Assalamualaikum..."
Niar tidak menjawab salam gw, sementara gw mulai memutar gas pelan meninggalkannya. Mata gw melirik ke sepion kiri dan gw bisa melihat sosoknya dari sini. Melihat dia diam mematung terus memandangi punggung gw dan lampu belakang jupi yang mulai redup. Raut wajah pucat, kecewa, dan sedih terpampang jelas keluar dari wajah cantiknya. Mungkin isi hatinya jauh lebih kecewa daripada apa yang dikeluarkan dari wajahnya. Gw tau itu, dan gw bisa merasakannya.
Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Itulah yang harus kami hadapi saat ini. Dan gw meyakini satu hal. Perpisahan bukanlah akhir, karena perpisahan akan mengantarkan kita ke pertemuan satu ke pertemuan yang lainnya. Akan ada kata "hay" sebelum "babay", dan ada kata "hello" sebelum "goodbye". Semuanya hanya perkara waktu. Dan waktulah yang menentukan kapan kita mengalami pertemuan dan perpisahan itu sendiri.
Selamat tinggal Nii, mungkin kita bakal ketemu lagi di lain waktu. Mungkin juga kita bertemu lagi dengan keadaan yang sudah jauh berbeda. Aku dengan kehidupanku, kamu dengan kehidupanmu...
Run away....
Run away...
One day we won't feel this pain anymore
Di sepanjang perjalanan pulang, Niar hanya diam saja. Begitupun juga gw yang fokus mengendarai motor. Sesekali gw tengok ke sepion kiri untuk sekedar melihat wajahnya. Sepertinya dia kelelahan. Cukup sering juga helm gw disundul sundul sama kepalanya yang menandakan kalau dia mengantuk.
"Kamu ngantuk Nii?"
"Hehe sedikit." Jawabnya.
"Mau berenti dulu istirahat?"
"Nggak usah lah nanggung. Aku pinjem pundak kamu aja yaa."
"Buat?"
"Buat tidur. hehe."
"Yaudah. Awas jangan ngiler"
Niar pun sukses tidur di pundak gw. Awalnya gw nggak percaya kalo dia tidur beneran, tapi setelah gw panggil panggil, dia beneran nggak nyaut. Malahan gw cubit tangannya yang melingkar di pinggang gw, dia nggak sadar juga. Yang gw heran tuh, masa iya dia bisa bisanya tidur pules di atas motor. Cuma modal pundak doang. Mana pundak gw keras tulang doang.
Saat pulang, perjalanan ini terasa lebih cepat. Hanya memakan waktu 2 jam saja kami sudah sampai di Kota Bogor. Mungkin karena gw sudah hafal jalannya, lagipula keadaan lalu lintas cukup lancar tidak ada macet.
Niar sudah bangun dari tidur singkatnya lalu bertanya kita sudah ada dimana. Gw memberi tahu padanya kalau sebentar lagi sampai dan gw juga menawarkan diri untuk mengantarnya sampai di rumah. Dia tidak menolak, hanya bergumam "He'emm" sebagai tanda setuju.
"Nii dah sampe rumah nih!"
"Hemmm"
"Yudah turun dulu. Kalo masih ngantuk lanjut tidur di dalem gih" Ujar gw.
Kemudian gw turun dari motor lalu gw menepuk pantat. Lagi lagi terasa ba'al bahkan kali ini ditambah sakit pinggang. Setelah turun dari motor, gw langsung duduk bersandar pada pagar di depan rumahnya buat selonjoran ngelurusin kaki. Tak lama kemudian Niar pun menyusul gw untuk duduk disitu juga.
"Makasih ya Jar"
"Ya sama sama."
"Kamu mau masuk dulu nggak?" Tanya dia.
"Kayanya nggak deh. Setengah jam lagi Udah mau maghrib."
"Ya pulangnya nanti aja abis magrib. Pamali tau magrib magrib di jalan" Ujarnya.
"Justru itu aku ngejar waktu biar sebelum magrib udah smpe rumah."
"Hmm...yaudah deh. Kamu mau minum? aku ambilin ya?"
"Nah boleh tuh. Aer dingin ya." Pinta gw.
Niar masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa segelas air putih dingin. Gw yang kehausan langsung menenggak habis segelas air tadi.
"Nii, kamu beneran mau pindah ke Jogja?" Tanya gw.
"Kamu udah berapa kali nanya itu ke aku?"
"Yaelah tinggal jawab. Kali aja kamu berubah fikiran."
"Kalo jawabannya IYA dan selalu IYA gimana?"
"Itu pilihan kamu. Lagipula aku nggak punya cara buat cegah kamu pergi. Siapa aku? Aku cuma bisa ngasih pesen, jaga diri baik baik disana."
Saat itu tiba tiba Niar memeluk gw. Meluk nanggung gitu sih biasa aja nggak sampe nempel (Waduh). Gw pun hanya diam, membiarkan kepalanya tenggelam di pundak gw sementara tangannya melingkar di leher gw.
"Aku pasti kangen kamu..." Ujarnya.
"Looh, kemaren waktu kita lama nggak ketemu kamu nggak kangen sama aku?" Tanya gw.
"Kangen sii...Tapi takut mau hubungin kamu."
"Hahaha...Yaudah Nii. Lepas ih...nggak enak diliat orang" Ujar gw.
Akhirnya dia melepas pelukannya lalu ngucek ngucek matanya yang sudah merah sedari tadi.
"Aku pulang ya..."
"....." Niar diem.
"Yailah malah bengong."
"Eh iyaa. Nggak nanti aja abis Magrib?"
"Nggak...Aku pulang sekarang."
Kemudian gw memakai kembali helm gw lalu menaiki motor. Gw sempat memandang wajahnya sekali lagi dan gw berfikir, mungkin saja ini terakhir kalinya gw liat dia.
"Oya Nii, satu lagi pesen aku..."
"Apa?"
"Jangan sekali kali di Jogja kamu ngomong JANCUK!"
"Hah? Emang artinya apa?"
"Ya pokonya jangan aja. Apalagi ke orang tua. Haha..."
"....." Niar diam berfikir.
"Dah ga usah difikirin, aku pulang. Assalamualaikum..."
Niar tidak menjawab salam gw, sementara gw mulai memutar gas pelan meninggalkannya. Mata gw melirik ke sepion kiri dan gw bisa melihat sosoknya dari sini. Melihat dia diam mematung terus memandangi punggung gw dan lampu belakang jupi yang mulai redup. Raut wajah pucat, kecewa, dan sedih terpampang jelas keluar dari wajah cantiknya. Mungkin isi hatinya jauh lebih kecewa daripada apa yang dikeluarkan dari wajahnya. Gw tau itu, dan gw bisa merasakannya.
Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Itulah yang harus kami hadapi saat ini. Dan gw meyakini satu hal. Perpisahan bukanlah akhir, karena perpisahan akan mengantarkan kita ke pertemuan satu ke pertemuan yang lainnya. Akan ada kata "hay" sebelum "babay", dan ada kata "hello" sebelum "goodbye". Semuanya hanya perkara waktu. Dan waktulah yang menentukan kapan kita mengalami pertemuan dan perpisahan itu sendiri.
Selamat tinggal Nii, mungkin kita bakal ketemu lagi di lain waktu. Mungkin juga kita bertemu lagi dengan keadaan yang sudah jauh berbeda. Aku dengan kehidupanku, kamu dengan kehidupanmu...
Run away....
Run away...
One day we won't feel this pain anymore
Darpox memberi reputasi
1