- Beranda
- Berita dan Politik
Pengakuan Mantan Medrep: Banyak Apoteker Tertawa Melihat Resep si Dokter
...
TS
batasan
Pengakuan Mantan Medrep: Banyak Apoteker Tertawa Melihat Resep si Dokter
Quote:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Ketika dokter sudah berada di genggaman perusahaan farmasi, yang terjadi adalah kekonyolan. Pasien akan menerima resep "tak masuk akal".
Namun, pasien tak berdaya karena ketidaktahuannya. Kerja sama atau KS antara perusahaan obat dan dokter itu seperti ijon. Dokter menerima uang atau hadiah di depan yang harus dikembalikan hingga empat kali lipatnya. Pengembalian dilakukan lewat kewenangan dokter dalam menulis resep.
Apabila seorang dokter telah diberi uang Rp 200 juta oleh sebuah perusahaan farmasi, maka ia harus meresepkan obat dari perusahaan farmasi itu senilai Rp 800 juta.
Jangka waktunya tidak terbatas, bisa dua bulan, tiga bulan, enam bulan, ataupun setahun.
Saat seorang dokter menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi yang diwakili oleh medical representative atau medrep, dokter itu akan diawasi. Medrep mengunci apotik-apotik rujukan sang dokter sehingga perusahaan obat bisa memantau progres kerja sama.
Menurut seorang mantan medrep, pola kerja sama perusahaan farmasi dan dokter ataupun rumah sakit, sudah berlangsung lama di semua daerah di Indonesia.
Mantan medrep tersebut menceritakan, sekitar tahun 2008, ia menjalin kerja sama dengan seorang dokter spesilasi paru-paru di sebuah rumah sakit pemerintah di pinggiran Jakarta.
Kesepakatan kerja sama yang disampaikan secara lisan, tanpa perjanjian tertulis, itu menyatakan bahwa si dokter akan meresepkan antibiotik cair buatan perusahaan farmasi tertentu.
Si dokter kemudian menerima uang Rp 20 juta untuk biaya berlibur ke Bali bersama keluarganya. Sepulang dari Bali, si dokter jadi rajin meresepkan antibiotik cair kepada pasiennya yang mayoritas adalah orang dewasa.
Dia ditarget meresepkan antibiotik itu senilai Rp 100 juta. "Akhirnya, untuk pasien dewasa pun dia kasih resep antibiotik cair. Kan jadi konyol, pasien dewasa dikasih antibiotik cair," ujar mantan medrep itu ketika ditemui di sebuah gerai fastfood di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten.
"Mestinya pasien dewasa diberi antibiotik tablet. Cuma gara-gara terima uang akhirnya muncul resep tak masuk akal," tambahnya.
Dalam enam bulan dokter itu sudah melunasi "kewajibannya" ke perusahaan farmasi. Tapi banyak apoteker tertawa melihat resep si dokter. "Antibiotik cair kan untuk anak-anak," katanya.
Beberapa medrep maupun mantan medrep yang menjadi narasumber yakin masyarakat banyak yang tak sadar soal ini.
"Banyak orang jadi resisten terhadap antibiotik golongan terendah gara-gara dokter mengadakan kerja sama untuk meresepkan antibiotik golongan yang lebih tinggi," kata salah satu medrep.
Seorang medrep berkepala plontos mengaku, suatu ketika, anaknya demam dan ia pun membawanya ke sebuah klinik di Jakarta Selatan. Dokter kemudian memberi resep antibiotik golongan dua.
Lantaran paham, medrep tersebut menolak resep dokter. "Saya minta amoxicilin saja. Amoxicilin kan termasuk antibiotik golongan rendah. Saya tahu kalau demam biasa, pakai amoxicilin saja cukup," ungkapnya.
"Tak perlu golongan dua yang seperti yang sempat diresepkan dokter. Kasihan anak saya, nanti jadi resisten. Lagipula antibiotik golongan dua itu jauh lebih mahal," katanya lagi.
Pria berkepala plontos itu pun buka kartu bahwa dia berprofesi sebagai medrep. "Dokter itu kemudian mengganti resepnya," katanya.
Dalam pembicaraan singkat tersebut, si dokter mengaku punya kerja sama dengan sebuah perusahaan obat yang memproduksi antibiotik golongan dua.
Pilihan amoxicilin untuk mengatasi demam si anak tidak keliru. "Ternyata benar, dalam dua hari, anak saya sembuh," imbuh medrep tersebut.
Mengaku sebagai "orang farmasi" memang jadi password bagi para medrep untuk tidak menjadi korban resep tidak masuk akal.
"Kalau ada keluarga yang sakit ataupun opname, sejak awal saya katakan kepada dokternya, 'dok... saya orang farmasi lho'. Kalau sudah gitu, pasien gak akan diberi resep yang aneh-aneh," ujar seorang mantan medrep. (Tribunnews/ote)
Namun, pasien tak berdaya karena ketidaktahuannya. Kerja sama atau KS antara perusahaan obat dan dokter itu seperti ijon. Dokter menerima uang atau hadiah di depan yang harus dikembalikan hingga empat kali lipatnya. Pengembalian dilakukan lewat kewenangan dokter dalam menulis resep.
Apabila seorang dokter telah diberi uang Rp 200 juta oleh sebuah perusahaan farmasi, maka ia harus meresepkan obat dari perusahaan farmasi itu senilai Rp 800 juta.
Jangka waktunya tidak terbatas, bisa dua bulan, tiga bulan, enam bulan, ataupun setahun.
Saat seorang dokter menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi yang diwakili oleh medical representative atau medrep, dokter itu akan diawasi. Medrep mengunci apotik-apotik rujukan sang dokter sehingga perusahaan obat bisa memantau progres kerja sama.
Menurut seorang mantan medrep, pola kerja sama perusahaan farmasi dan dokter ataupun rumah sakit, sudah berlangsung lama di semua daerah di Indonesia.
Mantan medrep tersebut menceritakan, sekitar tahun 2008, ia menjalin kerja sama dengan seorang dokter spesilasi paru-paru di sebuah rumah sakit pemerintah di pinggiran Jakarta.
Kesepakatan kerja sama yang disampaikan secara lisan, tanpa perjanjian tertulis, itu menyatakan bahwa si dokter akan meresepkan antibiotik cair buatan perusahaan farmasi tertentu.
Si dokter kemudian menerima uang Rp 20 juta untuk biaya berlibur ke Bali bersama keluarganya. Sepulang dari Bali, si dokter jadi rajin meresepkan antibiotik cair kepada pasiennya yang mayoritas adalah orang dewasa.
Dia ditarget meresepkan antibiotik itu senilai Rp 100 juta. "Akhirnya, untuk pasien dewasa pun dia kasih resep antibiotik cair. Kan jadi konyol, pasien dewasa dikasih antibiotik cair," ujar mantan medrep itu ketika ditemui di sebuah gerai fastfood di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten.
"Mestinya pasien dewasa diberi antibiotik tablet. Cuma gara-gara terima uang akhirnya muncul resep tak masuk akal," tambahnya.
Dalam enam bulan dokter itu sudah melunasi "kewajibannya" ke perusahaan farmasi. Tapi banyak apoteker tertawa melihat resep si dokter. "Antibiotik cair kan untuk anak-anak," katanya.
Beberapa medrep maupun mantan medrep yang menjadi narasumber yakin masyarakat banyak yang tak sadar soal ini.
"Banyak orang jadi resisten terhadap antibiotik golongan terendah gara-gara dokter mengadakan kerja sama untuk meresepkan antibiotik golongan yang lebih tinggi," kata salah satu medrep.
Seorang medrep berkepala plontos mengaku, suatu ketika, anaknya demam dan ia pun membawanya ke sebuah klinik di Jakarta Selatan. Dokter kemudian memberi resep antibiotik golongan dua.
Lantaran paham, medrep tersebut menolak resep dokter. "Saya minta amoxicilin saja. Amoxicilin kan termasuk antibiotik golongan rendah. Saya tahu kalau demam biasa, pakai amoxicilin saja cukup," ungkapnya.
"Tak perlu golongan dua yang seperti yang sempat diresepkan dokter. Kasihan anak saya, nanti jadi resisten. Lagipula antibiotik golongan dua itu jauh lebih mahal," katanya lagi.
Pria berkepala plontos itu pun buka kartu bahwa dia berprofesi sebagai medrep. "Dokter itu kemudian mengganti resepnya," katanya.
Dalam pembicaraan singkat tersebut, si dokter mengaku punya kerja sama dengan sebuah perusahaan obat yang memproduksi antibiotik golongan dua.
Pilihan amoxicilin untuk mengatasi demam si anak tidak keliru. "Ternyata benar, dalam dua hari, anak saya sembuh," imbuh medrep tersebut.
Mengaku sebagai "orang farmasi" memang jadi password bagi para medrep untuk tidak menjadi korban resep tidak masuk akal.
"Kalau ada keluarga yang sakit ataupun opname, sejak awal saya katakan kepada dokternya, 'dok... saya orang farmasi lho'. Kalau sudah gitu, pasien gak akan diberi resep yang aneh-aneh," ujar seorang mantan medrep. (Tribunnews/ote)
sumber : https://id.berita.yahoo.com/pengakua...030542035.html
------------
saya juga pernah kerja sebagai audit dari perusahaan farmasi yang mengawasi pengajuan komisi bagi dokter.
praktik ini memang benar adanya. terkadang komisinya bisa diberikan hingga 25%. biasanya para dokter mengajukan untuk membeli barang elektronik atau sebagai uang saku aja.
Dan kerjasama ini berlaku terus menerus.
kebayang kan betapa jahatnya praktek ini. orang sakit masih aja dibikin susah. kebayang kan kita sakit ringan tapi diajukan begitu banyak obat yang tidak nyambung.
oknum dokter tersebar baik di rumah sakit umum, rumah sakit daerah. bahkan klinik kecil.
SOLUSI
Quote:
Original Posted By badanadek►Ambil mudahnya aja gan, kalo ada bpjs sakit sakit ringan bisa lah ke dokter keluarga. Obatnya gratis bonus vitamin pula. Kalo konsultasi ke dokter spesialis begitu dapat resep jangan main tebus aja. Diskusikan ama apoteker, ini obat apa? Ada generiknya kaga? Kalo ada, ambil generik aja...sama-sama asam mafenamat dosis sama isi sama, generik vs paten lumayan lho selisihnya
Komen Kaskuser
Quote:
Original Posted By permatabunda►
Selalu ada gal yang kurang sesuai disemua bidang. Baik itu guru dokter apoteker pedagang pasti ada yang baik dan kkurang baik. Marilah menjadi orang bijak.
Selalu ada gal yang kurang sesuai disemua bidang. Baik itu guru dokter apoteker pedagang pasti ada yang baik dan kkurang baik. Marilah menjadi orang bijak.
Quote:
Original Posted By leomabrow►memang begitu adanya....bahkan praktek kerjasama ini sudah sampai mengontrol manajemen rumah sakitnya...bila anda berobat cek saja apakah oat yang anda terima dominan diproduksi oleh pabrik obat yang sama...sudah rahasia umum pendapatan dari kerjasama dengan pihak pabrik memberikan keuntungan besar bagi korps "JAS PUTIH"...makin kesini juga banyak rumah sakit yang malah bersedia ditarget untuk membeli dengan kuota tertentu asal ada UANG DP di depan yang digunakan untuk kepentingan tertentu..miris dah gan klo and berkecimpung dalam lingkaran ini..tidak bermaksud menyudutkan tetapi integritas untuk menolak kerjasama dengan pabrik obat sangat jarang ditemui















Quote:
Original Posted By miskiner►Kalau lagi berobat ke dokter pasti ada aja om2 pake kemeja, celana n sepatu kantoran bawa tas selempang.
Pokoke sok gaya eksekutif muda sayang muka n pakaian gak cocok alias murahan tetap keliatan miskiner kreditan.
Hobinya suka masuk nyelonong ke ruang praktek dokter.
Itulah medrep2 kelas kambing

Pokoke sok gaya eksekutif muda sayang muka n pakaian gak cocok alias murahan tetap keliatan miskiner kreditan.
Hobinya suka masuk nyelonong ke ruang praktek dokter.
Itulah medrep2 kelas kambing

Quote:
Original Posted By yc2snk►emang bener praktek seperti ini banyak terjadi di sebagian dokter di indonesia...sebaiknya kalau dapat resep dari dokter, pas mau di tebus di apotek diusahakan konsultasi ke apotekernya dulu....biasanya apoteker akan mengedukasi ttg obat tersebut.
Kalo ane pas sakit lebih percaya ma bini gan ( bini ane apoteker)...periksa ke dokter hanya untuk mendiagnosa penyakitnya saja...obatnya diracik in sendiri ma bini.
Kalo ane pas sakit lebih percaya ma bini gan ( bini ane apoteker)...periksa ke dokter hanya untuk mendiagnosa penyakitnya saja...obatnya diracik in sendiri ma bini.
Quote:
Original Posted By arubeeto►MISI GAN
ane calon apoteker yang sedang magang di sebuah klinik kepunyaan kampus ane
memang benar kok, dokter itu "MENGEJAR TARGET RESEP"
jadi ga aneh kalo di Indo..ada orang yang sudah gabisa dikasih antibiotika golongan terakhir,,karena sejak dulu penyakit remeh udah dikasih antibiotik..
belum dengan kepatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik tsb..sekali lewat minum, gatau deh apa yang terjadi..
mikroba nya bisa jadi sudah membentuk mekanisme resistensi terhadap antibiotik tersebut..
kenaehan di apotek ane misalnya:
sakit flu dikasih antiibiotik..PADAHAL JELAS FLU BISA DISEBABKAN OLEH VIRUS
demam, batuk..dikasih antibiotik
sakit infeksi kulit..hanya perlu diresepkan asiklovir topikal..diberikan juga dengan asiklovir oral,,
orang sakit kulit, belum jelas penyebabnya apa..diresepkan Steroid oral bersamaan dengan Steroid topikal??gila lu ndro..
sakit gigi pun! dikasih antibiotik(yang satu ini paling parah karena gara gara ulah dokter ini masyarakat jadi terbentuk pola pikir kalo sakit gigi harus diobati dengan NSAIDs,,beserta antibiotik!)..
nah sekarang yg salah siapa?
perusahaan farmasi yang berani bayar dokter, bukannya mengejar kualitas,
atau PROFESI dokter yang jelas jelas punya KODE ETIK tapi mendahulukan keuntungan disamping upaya terbaik untuk menyembuhkan pasien?
apoteker jelas ketawa lihat kelakuan dokter
apalagi pas baca resep yang tidak rasional,,bikin


belum dengan peresepan psikotropika yang tidak sesuai..lebih kyk jualan ke pecandu
banyak lah kalau dibuka disini takutnya jadi menjelekkan
ane harap semua profesi kesehatan bisa lebih berusaha Patient oriented bukan profit oriented
karena kalo pelayanan prima, konsumen puas,,
rejeki pasti mengikuti
kalo boleh pejwan yah gan
ane calon apoteker yang sedang magang di sebuah klinik kepunyaan kampus ane
memang benar kok, dokter itu "MENGEJAR TARGET RESEP"
jadi ga aneh kalo di Indo..ada orang yang sudah gabisa dikasih antibiotika golongan terakhir,,karena sejak dulu penyakit remeh udah dikasih antibiotik..
belum dengan kepatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik tsb..sekali lewat minum, gatau deh apa yang terjadi..
mikroba nya bisa jadi sudah membentuk mekanisme resistensi terhadap antibiotik tersebut..
kenaehan di apotek ane misalnya:
sakit flu dikasih antiibiotik..PADAHAL JELAS FLU BISA DISEBABKAN OLEH VIRUS
demam, batuk..dikasih antibiotik
sakit infeksi kulit..hanya perlu diresepkan asiklovir topikal..diberikan juga dengan asiklovir oral,,
orang sakit kulit, belum jelas penyebabnya apa..diresepkan Steroid oral bersamaan dengan Steroid topikal??gila lu ndro..
sakit gigi pun! dikasih antibiotik(yang satu ini paling parah karena gara gara ulah dokter ini masyarakat jadi terbentuk pola pikir kalo sakit gigi harus diobati dengan NSAIDs,,beserta antibiotik!)..
nah sekarang yg salah siapa?
perusahaan farmasi yang berani bayar dokter, bukannya mengejar kualitas,
atau PROFESI dokter yang jelas jelas punya KODE ETIK tapi mendahulukan keuntungan disamping upaya terbaik untuk menyembuhkan pasien?
apoteker jelas ketawa lihat kelakuan dokter
apalagi pas baca resep yang tidak rasional,,bikin



belum dengan peresepan psikotropika yang tidak sesuai..lebih kyk jualan ke pecandu
banyak lah kalau dibuka disini takutnya jadi menjelekkan
ane harap semua profesi kesehatan bisa lebih berusaha Patient oriented bukan profit oriented
karena kalo pelayanan prima, konsumen puas,,
rejeki pasti mengikuti
kalo boleh pejwan yah gan
Quote:
Original Posted By deathwatch►Paling aman itu punya saudara dokter, kalau dikasih obat apa-apa bisa dicek dulu ke yang bersangkutan, jadi gak seenaknya. Tapi memang ini kembali ke individu dokternya sendiri, ada di satu rumah sakit satu dokter kasih obat mahal-mahal, katanya dari luar negeri, tapi dokter yang lain, dalam satu rumah sakit, kasihnya yang lebih murah dan memang tepat dosisnya.
Bagusnya juga mengedukasi diri sendiri, untuk penyakit-penyakit basic seperti demam dan flu, tahu sendiri lah kira-kira obatnya apa, dan tahu juga kalau sudah berminggu-minggu tetep harus ke dokter.
Bagusnya juga mengedukasi diri sendiri, untuk penyakit-penyakit basic seperti demam dan flu, tahu sendiri lah kira-kira obatnya apa, dan tahu juga kalau sudah berminggu-minggu tetep harus ke dokter.
Quote:
Original Posted By arubeeto►
gamau ane jadi dokter gan, udah menerima nasib di dunia farmasi sini
yg ane bisa sekarang adalah berusaha merasionalkan resep dokter tersebut,,doain aja semoga kesananya bisa buka apotek yang bener bener pelayanan nya
mending gw bacot daripada diem gan
jadi manusia jangan jadi silent reader yah, berasa ga berguna ntar
gamau ane jadi dokter gan, udah menerima nasib di dunia farmasi sini
yg ane bisa sekarang adalah berusaha merasionalkan resep dokter tersebut,,doain aja semoga kesananya bisa buka apotek yang bener bener pelayanan nya
mending gw bacot daripada diem gan
jadi manusia jangan jadi silent reader yah, berasa ga berguna ntar

Quote:
Original Posted By applegadungan►Selamat siang gan! Ane ikut jwb mslh ini kbetulan mantan medrep di perush multinasional ternama di indonesia. Awalnya gan yg namanya kasih uang ke dokter itu sm sekali ga ada,justru dokter itu slalu menunggu medrep utk dtg ke tempat praktek dg harapan ada produk baru yg brguna dan wkt itu medrep itu dihargai sekali sm dokter krn dia semakkin tahu ttg perkembangan obat2an. Nah seiring persaingan biznis, perush2an lokal kan dia masarin obat generikuk/me too dmana obat tsb bnyak saingan dan hampir semua perush punya obat jenis tsb, akhirnya muncul strategi pasar yg sampe skr dikenal dg dokter KS (doktr kerjaaama) yg skr menjadi perush nasional ternamaeee . Nah disini awal mula KS terjadi. Dokter pun jd beranggapan bahwa dari setiap produk itu snnernya ada dana promozi yg terkadang disalahhunakan.kl ga dikasih dana promosi dia ga akan nulis rssep obat tsb walaupun terkadang obat tsb bagus dan murah. Bahkan medrep yg dulu ditunggu2 kedatangannya untuk jelasin suatu produk skr dtunggu kl dia mau ksh duit he he. Mudah2an gan para praktisi lbh bijak aja dlm resepin, krn ane pernah ngalamin sendiri kerja diperuzh lokal spt ini dan untung ane bz pindah ke perush asing yg cara spt ini ga berlaku. Maaf kl blepotan soalnya nulis pake hp
Quote:
Original Posted By gasakgesekgosok►Pantes temen ane asal ada hp atau tablet baru pasti langsung punya.... Dia cerita katanya dapet hadiah dari farmasi karna ibunya dokter... Pas samsung tabnya ilang jg dia biasa2 aja.. Kata dia tar minta lagi dan bener 2 hari kemudian udah dapet yg baru ipad terbaru.....
Trnyata ngono to ceritane....
Trnyata ngono to ceritane....
Quote:
Original Posted By CumiGorengManis►mangkenye, kalo sakit itu ke puskesmas dulu, jangan gaya2an ke dokter di rumah sakit. kalau dipuskesmas dijamin deh dikasih generik. nah kalo lu masih sakit, berarti obat generiknya kagak mempan. biasanya diperlukan obat branded yang penyerapannya jauh lebih bagus dari obat generik. dosisnya mah tetep sama.
GENERIK ------------------------BRANDED
paracetamol--------------------panadol, bodrex
Natrium diklofenak-----------voltadex, voltaren , voltaren sr
amoxcilin-------------------------amoxsan, penmox dll
gue lebih prefer yang branded sih, karena udah ngalamin sendiri waktu ada sakit nyeri di punggung deket tulang ekor. pake yg generik ngaruhnya dikit. pake branded voltadex ngaruhnya sebentar. tapi pake branded yang harganya 10x voltadex yaitu pake voltaren sr 75 , beda bgt, cepat bgt sembuhnya.
kalau masalah cair atau tablet, ya ngga masalah, yang penting dosisnya sama atau ngga jauh beda. lagipula banyak orang yang ngga suka nelen tablet .
tapi jangan nelen tablet android atau ipad yee, mending buat gue aja


GENERIK ------------------------BRANDED
paracetamol--------------------panadol, bodrex
Natrium diklofenak-----------voltadex, voltaren , voltaren sr
amoxcilin-------------------------amoxsan, penmox dll
gue lebih prefer yang branded sih, karena udah ngalamin sendiri waktu ada sakit nyeri di punggung deket tulang ekor. pake yg generik ngaruhnya dikit. pake branded voltadex ngaruhnya sebentar. tapi pake branded yang harganya 10x voltadex yaitu pake voltaren sr 75 , beda bgt, cepat bgt sembuhnya.
kalau masalah cair atau tablet, ya ngga masalah, yang penting dosisnya sama atau ngga jauh beda. lagipula banyak orang yang ngga suka nelen tablet .
tapi jangan nelen tablet android atau ipad yee, mending buat gue aja



Quote:
Original Posted By aganaganaga►
Ane malah lebih parah lagi gan..ane mau cari second opinion untuk orang tua ane yg menderita kanker.. Karena gak fit, namanya aja orang lagi sakit kanker..orang tua ane gak diajak dan cuma bawa hasil lab sama radiologi..
Ane bayar dimuka 450 rb..dan ketika tatap muka sama dokter taek itu dia malah marah2 kenapa gak bawa pasiennya dan ane disuruh pulang begitu aja..
Tapi duit dah diterimanya duluan..memang anjing lah tu dokter..
Ane malah lebih parah lagi gan..ane mau cari second opinion untuk orang tua ane yg menderita kanker.. Karena gak fit, namanya aja orang lagi sakit kanker..orang tua ane gak diajak dan cuma bawa hasil lab sama radiologi..
Ane bayar dimuka 450 rb..dan ketika tatap muka sama dokter taek itu dia malah marah2 kenapa gak bawa pasiennya dan ane disuruh pulang begitu aja..
Tapi duit dah diterimanya duluan..memang anjing lah tu dokter..
Quote:
Quote:
Original Posted By reazer►Udah dari dulu praktek semacam ini. Ini yg bikin ane anti untuk ke dokter untuk penyakit2 ringan. Sering ane ke dokter pas sakit batuk berdahak, dikasih obat 5-6 jenis kadang bisa tembus jutaan. Ane tolak untuk nebusnya dan setelah ane cek ke saudara temen memang isi obatnya antibiotik dan berbagai vitamin2 yg ga perlu ke penyakit ane.
Pas ane kecil jg pernah ketemu dokter yg kurang ajar, ane datang sama ibu ane. Dokter itu emang cukup banyak pasien. Dan ibu ane tipe yg suka bertanya kalau berobat. Baru sekitar 15 menit konsultasi ane dan ibu ane diminta untuk menyudahi konsultasi, trus baru sampai di pintu kedengaran si dokter bicara ke susternya dengan nada kasar: "Buang2 waktu saya saja".
Pas ane skrng jg ketemu hal yg sama yg bikin ane anti dokter karena saat ane mau operasi lasik, ane waktu itu udah di ruang operasi dikasih obat tetes mata dan ga kuat untuk buka matanya sehingga operasi tidak bisa dilanjutkan. Dan di luar dokternya teriak2 pake bahasa inggris "it's so wasting my time, I have no time". Dia bahkan menulis alasan operasi gagal karena pasien menolak berkoordinasi dgn dokter. Pdhl pas konsul pertama kali ekspresi wajahnya baik dan selalu senyum. Tp begitu uang puluhan juta udah di tangan, semuanya berubah, kami seperti jd sapi perahan. Gara2 itu kami meminta ganti dokter walau yg bukan professor.
Si dokter yg teriak2 itu pdhl professor, setahun setelah kasus itu ane dpt kabar si prof udah meninggal, mungkin karena terlalu dikejar target dan emosi tiap saat.
Selama ratusan x ane ke berbagai macam dokter, ane bisa menyimpulkan dokter indonesia terutama di perkotaan bnyk yg:
- Kurang ajar / arogan
- Mementingkan profit sebanyak2nya
- Memberikan obat tidak perlu
- Terlalu dikejar target
- Konsul seadanya dan cenderung menyudahi pembicaraan
- Tidak memberikan informasi jelas bahkan diam saat konsul
- Terlalu sering salah diagnosis, bahkan teman ada yg konsul ke belasan dokter spesialis semuanya salah diagnosanya, dia harus berobat ke singapura baru bisa sembuh
Ane tidak bermaksud menggeneralisir, tp fakta di lapangan yg ane temui seperti itu ditambah dengan cerita2 teman sekantor ane.
Pas ane kecil jg pernah ketemu dokter yg kurang ajar, ane datang sama ibu ane. Dokter itu emang cukup banyak pasien. Dan ibu ane tipe yg suka bertanya kalau berobat. Baru sekitar 15 menit konsultasi ane dan ibu ane diminta untuk menyudahi konsultasi, trus baru sampai di pintu kedengaran si dokter bicara ke susternya dengan nada kasar: "Buang2 waktu saya saja".
Pas ane skrng jg ketemu hal yg sama yg bikin ane anti dokter karena saat ane mau operasi lasik, ane waktu itu udah di ruang operasi dikasih obat tetes mata dan ga kuat untuk buka matanya sehingga operasi tidak bisa dilanjutkan. Dan di luar dokternya teriak2 pake bahasa inggris "it's so wasting my time, I have no time". Dia bahkan menulis alasan operasi gagal karena pasien menolak berkoordinasi dgn dokter. Pdhl pas konsul pertama kali ekspresi wajahnya baik dan selalu senyum. Tp begitu uang puluhan juta udah di tangan, semuanya berubah, kami seperti jd sapi perahan. Gara2 itu kami meminta ganti dokter walau yg bukan professor.
Si dokter yg teriak2 itu pdhl professor, setahun setelah kasus itu ane dpt kabar si prof udah meninggal, mungkin karena terlalu dikejar target dan emosi tiap saat.
Selama ratusan x ane ke berbagai macam dokter, ane bisa menyimpulkan dokter indonesia terutama di perkotaan bnyk yg:
- Kurang ajar / arogan
- Mementingkan profit sebanyak2nya
- Memberikan obat tidak perlu
- Terlalu dikejar target
- Konsul seadanya dan cenderung menyudahi pembicaraan
- Tidak memberikan informasi jelas bahkan diam saat konsul
- Terlalu sering salah diagnosis, bahkan teman ada yg konsul ke belasan dokter spesialis semuanya salah diagnosanya, dia harus berobat ke singapura baru bisa sembuh
Ane tidak bermaksud menggeneralisir, tp fakta di lapangan yg ane temui seperti itu ditambah dengan cerita2 teman sekantor ane.
Quote:
Original Posted By aganaganaga►
Gak mungkin juga si rs berani bilang kalau gak ngomong dulu ke dokternya..
Dan kalaupun salah rs nya si dokter juga harusnya bisa menerangkan dengan kata2 yg lebih baik. Memberikan jawabab yg menenangkan bukannya malah menyalahkan pasien yg datang berobat.
Jujur dulu ane selalu sinis sama orang yg berobat ke luar negri..tapi setelah mengalami sendiri perbedaan pelayanan kesehatan di dalam dan luar negri. Ane jadi paham kenapa orang2 yg punya duit dikit2 berobat ke singapore atau malaysia. Karena dokter di indonesia kebanyakan yg ane temui ya telah kehilangan hati nurani..
Gak mungkin juga si rs berani bilang kalau gak ngomong dulu ke dokternya..
Dan kalaupun salah rs nya si dokter juga harusnya bisa menerangkan dengan kata2 yg lebih baik. Memberikan jawabab yg menenangkan bukannya malah menyalahkan pasien yg datang berobat.
Jujur dulu ane selalu sinis sama orang yg berobat ke luar negri..tapi setelah mengalami sendiri perbedaan pelayanan kesehatan di dalam dan luar negri. Ane jadi paham kenapa orang2 yg punya duit dikit2 berobat ke singapore atau malaysia. Karena dokter di indonesia kebanyakan yg ane temui ya telah kehilangan hati nurani..
Quote:
Original Posted By arthax►Lah gmn mau bagus dokternya, liat aja pendidikan kedokterannya.
Temen ane pas SMP ga naik kelas 2x, SMA ga naik kelas 1x bisa masuk FK bayar 250juta. Diceritain ama dia kalau lo pikir mahasiswa2 kedokteran tuh pinter semua lo salah besar, msh banyak yg lebih hancur dr dia, kuliah ga niat, bolos2an. Pdhl dia sendiri udah parah gitu. Anaknya skrng aktif game online, tiap hari bisa online, malah skrng lg ikut turnamen game online bareng temen2 FKnya.
Gw tanya ke dia, anjrit u kalo gini gmn bisa lulus. Dia jawabnya bokapnya ada kenalan, bisa disogok aja.
Trus kalo u mampir ke kampus anak FK ama non FK u bakal merasakan perbedaan. Anak non FK: berjejer motor2, mobil cuman dosen2 aja. Anak FK: mau dosen ama mahasiswa berjejer mobil2 mentereng. Dibilang dia malah ada dosen hobi mobil malah cerita2 otomotif di kelas.

Temen ane pas SMP ga naik kelas 2x, SMA ga naik kelas 1x bisa masuk FK bayar 250juta. Diceritain ama dia kalau lo pikir mahasiswa2 kedokteran tuh pinter semua lo salah besar, msh banyak yg lebih hancur dr dia, kuliah ga niat, bolos2an. Pdhl dia sendiri udah parah gitu. Anaknya skrng aktif game online, tiap hari bisa online, malah skrng lg ikut turnamen game online bareng temen2 FKnya.
Gw tanya ke dia, anjrit u kalo gini gmn bisa lulus. Dia jawabnya bokapnya ada kenalan, bisa disogok aja.
Trus kalo u mampir ke kampus anak FK ama non FK u bakal merasakan perbedaan. Anak non FK: berjejer motor2, mobil cuman dosen2 aja. Anak FK: mau dosen ama mahasiswa berjejer mobil2 mentereng. Dibilang dia malah ada dosen hobi mobil malah cerita2 otomotif di kelas.

Quote:
Original Posted By arubeeto►
antibiotim bagus buat tubuh


pasien di apotek ane batuk dikasih cipro 500..es nya mual,muntah..
baik buat tubuh?
dimana mana sih bagusnya terapi non farmakologi dlu..kalo gbsa..baru kasih obat sesuai gejalanya..itupun jangan asal kasih antibiotik kalau belum ada hasil lab yg menyatakan ada pertumbuhan mikroba di jaringan tubuh yang diambil sampelnya..(misalnya sampel mukus, darah, dll)
dokter tua kdang sdh tidak mikir soal nulis resep..berdasarkan pengalaman aja..kalo kami apoteker berupaya merasionalkan, dokternya malah ngambek..padahal bahasanya sudah sopan dan tidak berbelit belit
ya semoga ga begitu lagi..soalnya resistensi mikroba di indo sudah mengkhawatirkan
antibiotim bagus buat tubuh



pasien di apotek ane batuk dikasih cipro 500..es nya mual,muntah..
baik buat tubuh?
dimana mana sih bagusnya terapi non farmakologi dlu..kalo gbsa..baru kasih obat sesuai gejalanya..itupun jangan asal kasih antibiotik kalau belum ada hasil lab yg menyatakan ada pertumbuhan mikroba di jaringan tubuh yang diambil sampelnya..(misalnya sampel mukus, darah, dll)
dokter tua kdang sdh tidak mikir soal nulis resep..berdasarkan pengalaman aja..kalo kami apoteker berupaya merasionalkan, dokternya malah ngambek..padahal bahasanya sudah sopan dan tidak berbelit belit
ya semoga ga begitu lagi..soalnya resistensi mikroba di indo sudah mengkhawatirkan
Quote:
Original Posted By depaighter►apa yang dibahas diatas memang bener-bener terjadi di negeri kita gan..
ane kagak ngibul atau bicara kosong, ane pernah berprofesi jadi salah seorang Medical Representatives di salah satu perusahaan obat/Farmasi yang cukup besar (Ph*ros)
memang situasinya kek gitu, kadang malah sampai dokternya dijanjiin "hadiah" yang lebih mahal dari perusahaan farmasi yang lain
miris ane liatnya, untungnya belum sempat ane punya klien dokter, ane udah mundur dari kerjaan itu sampe sekarang.
Bekali diri kita paling tidak tentang pengetahuan dasar mengenai obat-obatan, sangat penting bagi diri pribadi dan juga keluarga gan.. jangan sampai kita jadi korban ulah "nakal" oknum Jas putih
ane kagak ngibul atau bicara kosong, ane pernah berprofesi jadi salah seorang Medical Representatives di salah satu perusahaan obat/Farmasi yang cukup besar (Ph*ros)
memang situasinya kek gitu, kadang malah sampai dokternya dijanjiin "hadiah" yang lebih mahal dari perusahaan farmasi yang lain
miris ane liatnya, untungnya belum sempat ane punya klien dokter, ane udah mundur dari kerjaan itu sampe sekarang.
Bekali diri kita paling tidak tentang pengetahuan dasar mengenai obat-obatan, sangat penting bagi diri pribadi dan juga keluarga gan.. jangan sampai kita jadi korban ulah "nakal" oknum Jas putih
Quote:
Original Posted By Activators►Ini sebetulnya masalah klasik. Oleh karena itu BPJS, KIS, dan JKN sebetulnya sudah merupakan solusi yang tepat untuk permasalahan ini dengan Ina CBG'snya. Yang diperlukan lebih lanjut hanyalah perbaikan HTA di BPJS dengan CBA sehingga diperoleh obat yang paling efektif dan efisien untuk diberikan kepada pasien.
Quote:
Original Posted By soulfighter►Itu sih udah dari dulu,dokter dan medrep sama busuknya makanya sekarang gak aneh banyak orang mampu pergi ke negara tetangga buat berobat daripada dikibulin terus dokter disini 

Quote:
Original Posted By cipokdud►temen ane dulu medrep. paling susah emang saingan sesama medrep beda pabrik, tawar2an 'wani piro' ama dokter.
Quote:
Original Posted By BeBeXX176761►Om Gw Ada Yg Kerja Di Salah Satu Perusahan Farmasi Di Jabar
BPKB banyak Di Mejanya
Buat apa kutanya eh dia jawab Buat Dokter
Yg Penting Duit
Itu Sudah
BPKB banyak Di Mejanya
Buat apa kutanya eh dia jawab Buat Dokter
Yg Penting Duit
Itu Sudah

Pengalaman berobat puskesmas
Update Komen Kaskuser part 2
Diubah oleh batasan 11-10-2019 11:42
0
128.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
692.9KThread•57.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
batasan
#283
Kumpulan Komen Patut Diperhatikan
Quote:
Original Posted By geoboreva►ane apoteker. praktek kek gitu emg kejadian udah lama gan.
ane jijik liat perush farmasi yg nyogok dokter2 itu, ironisnya lagi biaya sogokan tsb dibebankan ke harga produk, konsumen jg yg kena kan
dokternya jg mau2 aja digituin. jd ini bukan semata mata salah dokter doang. apoteker2 perusahaan farmasi ini juga punya andil dlm kasus ini
ane jijik liat perush farmasi yg nyogok dokter2 itu, ironisnya lagi biaya sogokan tsb dibebankan ke harga produk, konsumen jg yg kena kan
dokternya jg mau2 aja digituin. jd ini bukan semata mata salah dokter doang. apoteker2 perusahaan farmasi ini juga punya andil dlm kasus ini
Quote:
Original Posted By reazer►
Pdhl dokternya cukup terkenal di salah satu rumah sakit swasta terkenal di daerah jakarta selatan lhoo gan. Sekali periksa 250rb gan. Kalau dokter semacam itu udah ga bisa dipercaya, ane harus percaya ama dokter seperti apa lagi?
Pdhl dokternya cukup terkenal di salah satu rumah sakit swasta terkenal di daerah jakarta selatan lhoo gan. Sekali periksa 250rb gan. Kalau dokter semacam itu udah ga bisa dipercaya, ane harus percaya ama dokter seperti apa lagi?
Quote:
Original Posted By reazer►
Perusahaan farmasi seperti itu emang bersalah, tp kesalahan paling besar ada di dokternya gan, ingat dokter itu diangkat harus diambil sumpah dokternya dulu, kalau medrep mah asal comot aja.
Perusahaan farmasi seperti itu emang bersalah, tp kesalahan paling besar ada di dokternya gan, ingat dokter itu diangkat harus diambil sumpah dokternya dulu, kalau medrep mah asal comot aja.
Quote:
Original Posted By lookman_firdaus►Untuk dokter PNS yang praktik di RS Pemerintah atau fasilitas kesehatan milik pemerintah lainnya seharusnya tidak menerima pemberian dari perusahaan farmasi karena ini jatuhnya adalah gratifikasi dan ada sanksinya kalo ga salah.. Di sumpah PNS juga mereka berjanji untuk tidak menerima pemberian dari siapapun terkait tugasnya.
Konyolnya, jika dokternya bekerjasama dengan perusahaan farmasi, obatnya hanya dijual di tempat tertentu aja.. Pernah ane waktu habis periksa anak ane di RSAB HK, pas mau nebus obatnya di apotek diluar RS tsb malah semua yang ane datengin ga punya obat yang telah diresepkan oleh dokter tsb. Akhirnya terpaksa ane balik lagi ke RS tsb untuk nebus obatnya..
Konyolnya, jika dokternya bekerjasama dengan perusahaan farmasi, obatnya hanya dijual di tempat tertentu aja.. Pernah ane waktu habis periksa anak ane di RSAB HK, pas mau nebus obatnya di apotek diluar RS tsb malah semua yang ane datengin ga punya obat yang telah diresepkan oleh dokter tsb. Akhirnya terpaksa ane balik lagi ke RS tsb untuk nebus obatnya..
Quote:
Original Posted By Realtruth►
bener2 sangat bahaya gan, ane aja pernah mau beli hct buat terapi darah tinggi...ternyata stok hct nya habis, dan dari apotekernya bilang ganti saja dengan furosemid
, ga kebayang kalo ane jadi masyarakat awam..bisa tewas 
bener2 sangat bahaya gan, ane aja pernah mau beli hct buat terapi darah tinggi...ternyata stok hct nya habis, dan dari apotekernya bilang ganti saja dengan furosemid
, ga kebayang kalo ane jadi masyarakat awam..bisa tewas 
Quote:
Original Posted By reazer►
Nah gini gan, justru karena ane ga percaya, ane nyari second opinion.
Kasus ane msh mending, adik temen ane ampe harus konsul ke belasan dokter spesialis, uji lab sudah, tp tetap semua dokter salah diagnosis, dan itu diketahui saat dia memilih berobat di Singapura. Saat dia memutuskan berobat ke Singapura karena dokter terakhir yg dia temui jujur bilang ini di luar yg saya ketahui, silahkan coba diperiksa di luar negeri dgn kenalan dokter singapuranya. Nah artinya dokter2 sebelumnya itu bisa dibilang sotoy?
Masalahnya itu bukan di pasien gan, ente jgn berpikir sempit, tp ini memang kesalahan ada di pihak dokternya kenapa bisa salah diagnosis dan tetap memaksakan diagnosisnya. Ente bisa cari berbagai macam alasan dgn mengatakan dokter kurang sejahtera, dokter kurang fasilitas, dokter tertekan, dokter jg manusia, atau alasan lainnya. Tapi faktanya dokter di Indonesia terlalu sering salah diagnosis.
Nah gini gan, justru karena ane ga percaya, ane nyari second opinion.
Kasus ane msh mending, adik temen ane ampe harus konsul ke belasan dokter spesialis, uji lab sudah, tp tetap semua dokter salah diagnosis, dan itu diketahui saat dia memilih berobat di Singapura. Saat dia memutuskan berobat ke Singapura karena dokter terakhir yg dia temui jujur bilang ini di luar yg saya ketahui, silahkan coba diperiksa di luar negeri dgn kenalan dokter singapuranya. Nah artinya dokter2 sebelumnya itu bisa dibilang sotoy?
Masalahnya itu bukan di pasien gan, ente jgn berpikir sempit, tp ini memang kesalahan ada di pihak dokternya kenapa bisa salah diagnosis dan tetap memaksakan diagnosisnya. Ente bisa cari berbagai macam alasan dgn mengatakan dokter kurang sejahtera, dokter kurang fasilitas, dokter tertekan, dokter jg manusia, atau alasan lainnya. Tapi faktanya dokter di Indonesia terlalu sering salah diagnosis.
Quote:
Original Posted By ancurin►Jadi inget waktu dulu mau nebus obat ke apotek, berhubung apotek di rumah sakit antriannya panjang, akhirnya gw make apotik yang ada dipinggir jalan macam K2*..
Waktu ngasih resep obat, apotekernya bilang mas obatnya harganya 200 ribu.,mending pake yang generik aja cuma 30 ribu..
Trus gw beli yang generik aja deh..hahaha
Waktu ngasih resep obat, apotekernya bilang mas obatnya harganya 200 ribu.,mending pake yang generik aja cuma 30 ribu..
Trus gw beli yang generik aja deh..hahaha
Quote:
Original Posted By PandoraKnight►untung dokter2 langganan w waras2 
mangkanya sblom ke dokter minta rekomendasi dulu lah ke tetangga/sodara dokter yg waras dimana...
ciri2 dokter waras, ruangan kecil, ranjang pasien udah tua, jas dokternya lusuh

mangkanya sblom ke dokter minta rekomendasi dulu lah ke tetangga/sodara dokter yg waras dimana...
ciri2 dokter waras, ruangan kecil, ranjang pasien udah tua, jas dokternya lusuh

Quote:
Original Posted By ary68890►
ooh.
coba deh lain kali kalo sakit2 perut sedikit berobatnya ke klinik atau puskesmas dulu

kenapa harus ke rumah sakit swasta dan ke dokter yg mahal?
ooh.
coba deh lain kali kalo sakit2 perut sedikit berobatnya ke klinik atau puskesmas dulu

kenapa harus ke rumah sakit swasta dan ke dokter yg mahal?
Quote:
Original Posted By gavecomment►Yang tau klinis pasien itu dokter.
Bukan medrep.
Yg ditulis diresep juga seringnya diagnosis utama. Kok dikasih ini, sakitnya ini. Yg tau diagnosis sampingnya kan dokternya.
Kadang juga diresepin obat yg dibutuhin itu bukan efek utamanya, tp efek sampingnya. Misal dipuyerin ctm biar ngantuk, bisa tidur.
Resep itu seni. Dan yg tau klinis itu dokternya. Kalo ragu2 Second opinionnya ke dokter lain, apoteker gak tau medis. Dan seringnya apotek di indonesia sangat bebas kasih obat tanpa resep dokter (obat yg harus dgn resep), beda sm diluar negri. Harusnya ada hukum/undang2Nya. Tp biasalah, undang2nya mana jalan.
Om ane pernah sakit mata krn virus. Di kasih anti nyeri/radang lewat tetes mata sama obat minum. Terus si apoteker bilang di obat tetesnya udah ada buat anti nyeri/anti radangnya. Obat minumnya gak diminum. Kontrol lg, di cek dokternya kok gak berkurang. Ditny, obatnya diminum gak.
Dibilang krn obat minum anti radang/nyeri udah ada di tetes matanya, jadinya gak diminum. Dokternya marah, disuruh ke dokter lain.
Harusnya om ane, klo gak jelas tanya ke dokternya.
Sama kayak flu juga. Yg bilang gak boleh ksh antibiotik siapa? Memang sebagian besar krn virus, tp memangnya gak bisa krn bakteri juga? Kan dia bisa lihat klinisnya, warna ingus, radangnya dimana aja, amandelnya gimana, dia curiga mix infection apa gak.
Ada juga yg marah, di apotek krn obatnya gak ada, diganti merek lain, dokternya bilang, saya gak jualan obat, klo memang mau ganti merek lain, hrsnya saya dikasih tau.
Dari situ ane ambil kesimpulan. Yg tau klinis pasien itu dokter bukan apoteker.
Tp apoteker boleh memberitahu dokternya klo ada interaksi obat yg bagaimana gitu mslnya.
Klo gak jelas, tanya ke dokternya. Obatnya utk apa aja. Minta generik. Krn kalo terlalu murah kdg orang kaya rada ragu2 Juga, mintanya obat yg bagus.
Itu kan bekas medrep makanya dia bisa ketawa2. Klo obatnya diresepin dokter. Sama juga itu medrep bisa dapat bonus, sampai keluar negeri juga.
Lagian itu persaingan perusahaan obat. Banyak obat yg sama isinya dari bbrp perusahaan obat. Atau efektivitas obat gak beda jauh. Gak masalah sebenarnya klo gak ada medrep juga. Cuman perusahaan obat tempat ente kerja bangkrut, gak ada yang resepin.
Ini cuman di praktek pribadi/swasta, kalo di rs negri udh ada daftar obatnya yg boleh diresepin
Bukan medrep.
Yg ditulis diresep juga seringnya diagnosis utama. Kok dikasih ini, sakitnya ini. Yg tau diagnosis sampingnya kan dokternya.
Kadang juga diresepin obat yg dibutuhin itu bukan efek utamanya, tp efek sampingnya. Misal dipuyerin ctm biar ngantuk, bisa tidur.
Resep itu seni. Dan yg tau klinis itu dokternya. Kalo ragu2 Second opinionnya ke dokter lain, apoteker gak tau medis. Dan seringnya apotek di indonesia sangat bebas kasih obat tanpa resep dokter (obat yg harus dgn resep), beda sm diluar negri. Harusnya ada hukum/undang2Nya. Tp biasalah, undang2nya mana jalan.
Om ane pernah sakit mata krn virus. Di kasih anti nyeri/radang lewat tetes mata sama obat minum. Terus si apoteker bilang di obat tetesnya udah ada buat anti nyeri/anti radangnya. Obat minumnya gak diminum. Kontrol lg, di cek dokternya kok gak berkurang. Ditny, obatnya diminum gak.
Dibilang krn obat minum anti radang/nyeri udah ada di tetes matanya, jadinya gak diminum. Dokternya marah, disuruh ke dokter lain.
Harusnya om ane, klo gak jelas tanya ke dokternya.
Sama kayak flu juga. Yg bilang gak boleh ksh antibiotik siapa? Memang sebagian besar krn virus, tp memangnya gak bisa krn bakteri juga? Kan dia bisa lihat klinisnya, warna ingus, radangnya dimana aja, amandelnya gimana, dia curiga mix infection apa gak.
Ada juga yg marah, di apotek krn obatnya gak ada, diganti merek lain, dokternya bilang, saya gak jualan obat, klo memang mau ganti merek lain, hrsnya saya dikasih tau.
Dari situ ane ambil kesimpulan. Yg tau klinis pasien itu dokter bukan apoteker.
Tp apoteker boleh memberitahu dokternya klo ada interaksi obat yg bagaimana gitu mslnya.
Klo gak jelas, tanya ke dokternya. Obatnya utk apa aja. Minta generik. Krn kalo terlalu murah kdg orang kaya rada ragu2 Juga, mintanya obat yg bagus.
Itu kan bekas medrep makanya dia bisa ketawa2. Klo obatnya diresepin dokter. Sama juga itu medrep bisa dapat bonus, sampai keluar negeri juga.
Lagian itu persaingan perusahaan obat. Banyak obat yg sama isinya dari bbrp perusahaan obat. Atau efektivitas obat gak beda jauh. Gak masalah sebenarnya klo gak ada medrep juga. Cuman perusahaan obat tempat ente kerja bangkrut, gak ada yang resepin.
Ini cuman di praktek pribadi/swasta, kalo di rs negri udh ada daftar obatnya yg boleh diresepin
Quote:
Original Posted By gavecomment►
itu blm sbrp gan.
Obat yg buat diresepin sama dokter psikiatri, sama apoteker di kasih juga, mesti tanpa resep.
Udah rahasia umum itu.
Emangnya yg kasus pencurian di bus atau lainya lewat pembiusan, lewat minum air botolan. Itu obat darimana. Dari apotek/dari pedagang obat, spt di pramuka jakarta
itu blm sbrp gan.
Obat yg buat diresepin sama dokter psikiatri, sama apoteker di kasih juga, mesti tanpa resep.
Udah rahasia umum itu.
Emangnya yg kasus pencurian di bus atau lainya lewat pembiusan, lewat minum air botolan. Itu obat darimana. Dari apotek/dari pedagang obat, spt di pramuka jakarta
Quote:
Original Posted By dochen81►disarankan punya dokter kenalan yg 'lurus2', masih banyak kok dokter umum yg idealis, khususnya yg buka praktek rumahan.. cuma kalo rumah sakit sama dokter spesialis mah jangan harap deh..
paling ente ngandelin mims cari tau obatnya bener kagak..
paling ente ngandelin mims cari tau obatnya bener kagak..Quote:
Original Posted By aditlandung►masih banyak kok dokter yg jujur gan,di daerah ane sih blm pernah ane ngalamin ginian
tp klo dokter ngejar target emank pernah nemu sekali,ane berobat,diliat2 dkit, pas dokternya nulis ane konsultasi dokternya diem n mangguk2 aja,ngasi resep n ane dsrh cpt2 pergi,,bayar konsul 40rb + obat 90rb
(ini spesialis)
pernah jg berobat ke RSUD dsrh nunggu dlu krn msh ada medrep di dlm (medrep lbh penting x)
tp obatnya sih ga mahal,n ga dkasi yg aneh2,jd ane ga berani blg ada kasak kusuk hehehehe
ane punya OM dokter n sering ke luar negeri jd pembicara,jd bnyk kok dokter indo yg hebat2 gan
smg besok2 kgk ktmu deh sm dokter model2 yg dbilang disini
tp klo dokter ngejar target emank pernah nemu sekali,ane berobat,diliat2 dkit, pas dokternya nulis ane konsultasi dokternya diem n mangguk2 aja,ngasi resep n ane dsrh cpt2 pergi,,bayar konsul 40rb + obat 90rb
(ini spesialis)pernah jg berobat ke RSUD dsrh nunggu dlu krn msh ada medrep di dlm (medrep lbh penting x)
tp obatnya sih ga mahal,n ga dkasi yg aneh2,jd ane ga berani blg ada kasak kusuk hehehehe
ane punya OM dokter n sering ke luar negeri jd pembicara,jd bnyk kok dokter indo yg hebat2 gan
smg besok2 kgk ktmu deh sm dokter model2 yg dbilang disini
Quote:
Original Posted By hattori hanzo►
terus terang saja dokter sini suka sotoy.. dan kalau kita mau minta second opinion ke dokter lain, seringnya si dokter ngambek dan mengusir pasien.
beda dengan singapura, untuk kasus yang cukup berat mereka malah biasanya berdiskusi dalam dengan peer nya terlebih dahulu
ane sudah sering denger pasien2 indo di singapur yang kesana gara2 malpraktik di indonesia.. pengalaman pribadi
kalau bener bisa sebaliknya koq jarang banget kejadiannya... kan mestinya ongkos pengobatan disini lebih murah.. orang konsultasi disana, terus berobat disini
terus terang saja dokter sini suka sotoy.. dan kalau kita mau minta second opinion ke dokter lain, seringnya si dokter ngambek dan mengusir pasien.
beda dengan singapura, untuk kasus yang cukup berat mereka malah biasanya berdiskusi dalam dengan peer nya terlebih dahulu
ane sudah sering denger pasien2 indo di singapur yang kesana gara2 malpraktik di indonesia.. pengalaman pribadi
kalau bener bisa sebaliknya koq jarang banget kejadiannya... kan mestinya ongkos pengobatan disini lebih murah.. orang konsultasi disana, terus berobat disini

Quote:
Original Posted By fauzans89►"Dokter yg tidak peduli adalah asisten terbaik sang malaikat maut"
-Quote from Ibnu Sina-
-Quote from Ibnu Sina-
Quote:
Original Posted By dinosapta►itu baru dari sisi resep obat.
belum lagi target peralatan medisnya..
ke dokter umum bilang sakit kepala sekarang disuruh CT Scan..
ade sepupu ane, pas lagi hamil di cek normal semua hasil USG dan kandungannya..
pas lahiran tiba2 kata dokter alesannya pendarahan dan akhirnya rahimnya diangkat, mana baru anak pertama..
jaman sekarang dateng ke rumah sakit keadan sehat, pulang bisa2 dianter ambulan dalam peti (plus tagihan ratusan juta)..
belum lagi target peralatan medisnya..
ke dokter umum bilang sakit kepala sekarang disuruh CT Scan..

ade sepupu ane, pas lagi hamil di cek normal semua hasil USG dan kandungannya..
pas lahiran tiba2 kata dokter alesannya pendarahan dan akhirnya rahimnya diangkat, mana baru anak pertama..
jaman sekarang dateng ke rumah sakit keadan sehat, pulang bisa2 dianter ambulan dalam peti (plus tagihan ratusan juta)..
Quote:
Original Posted By dinosapta►
maut emang rahasia tuhan.
tp kl kejadian ade sepupu ane, itu kasusnya karena dia dianggurin sama dokternya lebih dari 12 jam (dan kepala bayi dah keluar malah diteken lagi biar masuk lagi), padahal dari cek terakhir (pas pembukaan 4) semua normal
dan yang paling fatal, dokternya salah transfusi darah ke pasien (golongan darah sodara ane o, ditransfusi AB) sehingga sodara ane sekarang ginjalnya rusak dan dokter tsb dengan santainya bilang harus transplantasi ginjal.
keluarga mau nuntut ke dewan kehormatan dokter, tapi rada berat karena dokternya itu salah satu dokter senior.
alhasil skrng sodara ane harus minum obat + hormon yang diresepin sama tu dokter seumur hidupnya.
kasus lain lagi..
tante ane sakit kuning (diagnosa puskesmas) dibawa ke salah satu rumah sakit pemerintah dan dikasi obat seabrek2 sama dokternya (8 jenis), kondisinya semakin hari malah makin ga karuan, pas nanya ke saudara yang kebetulan dokter jg ternyata baru ketauan kl obat yang dikasi tu dokter RS pemerintah itu ternyata bisa bikin ginjal tante ane malah rusak dan cuci darah.
bener aja, pas balik ke RS dan bilang kl kondisinya makin memburuk (tanpa kasi tau kl dah nanya ke pihak lain soal efek obatnya) si dokter dengan polosnya bilang "ini harus cuci darah bu, ga ada jalan lain"...
sama om ane meja tu dokter langsung di gebrak dan obat2an yang dia resepin dilempar ke muka tu dokter sambil pergi..
kasus lain lagi (kl masi kurang);
om ane sakit krn kecapean dirawat di salah satu RS swasta di kuningan, diagnosa macem2 dan hampir semua alat dah dicobain, bahkan infus aja dah 4 biji sekali masuk (2 tangan kanan, dan 2 di tangan kiri) kondisinya tiap hari makin buruk, dan dokter suruh untuk transplantasi ginjal sama operasi liver kl ga salah..
untung dia dapat tunjangan dari kantor untuk berobat ke singapore, sampe disana apa yang terjadi??? dokter di singapore bilang kl penyakitnya cuma karena kecapean, dia disuruh istirahat di hotel (ga perlu di rawat) plus dikasi resep cuma vitamin doang... 3 hari sehat lagi dan kerja lagi..
emang masi ada sih dokter yang bagus, tp ibarat kaya nyari perawan di jaman cabe2an, susah...
maut emang rahasia tuhan.
tp kl kejadian ade sepupu ane, itu kasusnya karena dia dianggurin sama dokternya lebih dari 12 jam (dan kepala bayi dah keluar malah diteken lagi biar masuk lagi), padahal dari cek terakhir (pas pembukaan 4) semua normal
dan yang paling fatal, dokternya salah transfusi darah ke pasien (golongan darah sodara ane o, ditransfusi AB) sehingga sodara ane sekarang ginjalnya rusak dan dokter tsb dengan santainya bilang harus transplantasi ginjal.
keluarga mau nuntut ke dewan kehormatan dokter, tapi rada berat karena dokternya itu salah satu dokter senior.
alhasil skrng sodara ane harus minum obat + hormon yang diresepin sama tu dokter seumur hidupnya.
kasus lain lagi..
tante ane sakit kuning (diagnosa puskesmas) dibawa ke salah satu rumah sakit pemerintah dan dikasi obat seabrek2 sama dokternya (8 jenis), kondisinya semakin hari malah makin ga karuan, pas nanya ke saudara yang kebetulan dokter jg ternyata baru ketauan kl obat yang dikasi tu dokter RS pemerintah itu ternyata bisa bikin ginjal tante ane malah rusak dan cuci darah.
bener aja, pas balik ke RS dan bilang kl kondisinya makin memburuk (tanpa kasi tau kl dah nanya ke pihak lain soal efek obatnya) si dokter dengan polosnya bilang "ini harus cuci darah bu, ga ada jalan lain"...
sama om ane meja tu dokter langsung di gebrak dan obat2an yang dia resepin dilempar ke muka tu dokter sambil pergi..
kasus lain lagi (kl masi kurang);
om ane sakit krn kecapean dirawat di salah satu RS swasta di kuningan, diagnosa macem2 dan hampir semua alat dah dicobain, bahkan infus aja dah 4 biji sekali masuk (2 tangan kanan, dan 2 di tangan kiri) kondisinya tiap hari makin buruk, dan dokter suruh untuk transplantasi ginjal sama operasi liver kl ga salah..
untung dia dapat tunjangan dari kantor untuk berobat ke singapore, sampe disana apa yang terjadi??? dokter di singapore bilang kl penyakitnya cuma karena kecapean, dia disuruh istirahat di hotel (ga perlu di rawat) plus dikasi resep cuma vitamin doang... 3 hari sehat lagi dan kerja lagi..
emang masi ada sih dokter yang bagus, tp ibarat kaya nyari perawan di jaman cabe2an, susah...
Update Komen Part 3
Diubah oleh batasan 24-11-2014 21:14
0
Kutip
Balas