- Beranda
- Stories from the Heart
TENTANG SEBUAH KUTUKAN, SETAN, DAN PESUGIHAN.
...
TS
pijar88
TENTANG SEBUAH KUTUKAN, SETAN, DAN PESUGIHAN.


Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By geabeautycare►serem bgt gan baca ceritanya mlm2 gini
Quote:
Original Posted By heymeymey►Idiiih cerita horor dari agan pijar,mantau trus ah pasti jadi ht nih
Quote:
Original Posted By hag3maru►udah ane cendolin gan buat penambah semangat
Quote:
Original Posted By emakotonk►ini suasana nya mirip daerah ane gan tegal laka2 tempo doeloe. ada gobak sodor ingkling.
Quote:
Original Posted By f.erge►gelar tikar dulu gan. baru nyampe bagian 3. keren dah om pijar
Quote:
Original Posted By doa.mamah.papah►nyimak di thread agan pijar lagi 

Quote:
Original Posted By km.airlangga►Ninggalin jejak. keren tulisannya
Quote:
Original Posted By archdrex46►Ijin gelar tiker plus ngampar gan...
Curious ane gan, sm agan yg fenomenal ini
Lanjutkan gan..
(y)
Curious ane gan, sm agan yg fenomenal ini
Lanjutkan gan..
(y)
Quote:
Original Posted By R310s►seru nih,pling demen sm yg berbau mistik
.syg ane blm iso gan,bantu rate excellent aj deh..
ane tggu kelanjutannya tar mlm gan
.syg ane blm iso gan,bantu rate excellent aj deh..
ane tggu kelanjutannya tar mlm gan
Quote:
Original Posted By Kaijjinmaru►Mantaapp..ikutan gelar tiker dah dimarih
Quote:
Original Posted By Balater►dilanjut skrg aja gan, tanggung nuh penasaran..
daripada malem minggu bengong mending baca novel ente, mayan merinding juga
daripada malem minggu bengong mending baca novel ente, mayan merinding juga

Quote:
Quote:
Quote:
Original Posted By morena90►Kata tiap kata di cerita ini mantep bener dah ga ada duanya emg agan pijar 88
Quote:
Original Posted By tins2000►Ikut nyimak gan, kayaknya rame cerita mistis/magis dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono dari kesenian sintren tsb. 

Quote:
Original Posted By sr.geek►ini agan pijar yg ceritanya dijadiin film itu ya, bookmark dulu deh, buat baca2.


Quote:
Original Posted By piringmelayang►bagus bgt gan critanya..
buat di jadikan novel horor mantep
buat di jadikan novel horor mantep
Quote:
Original Posted By yogipanjul►Wih ketemu agan pijar88 lg.. lanjut gan.. ane mau ngikutin ceritanya lg kayak dulu..
Quote:
Original Posted By peturuk►widih, om pijar bikin trit lagi 

Quote:
Original Posted By tresnokaroaku►Ane numpang gelar tiker sambil jualan kopi item ama kacang rebus ya gan.. 

Quote:
Original Posted By ian.putud►mantab ceritanya gan...ijin ninggalin jejak ya gan..makasih..
Quote:
Original Posted By rphen►Tinggalin jejak dulu gan ... Nice Thread !!
Quote:
Original Posted By imutkayamarmut►kisah horror namun untaian dan rangkaian kata2 yang menjadi kalimat demi kalimat begitu enak dibaca 

Quote:
Original Posted By pekrok►bad ending....lanjutanya mana,,,,yg kena kutukan ap...tapi bagus deh ceritanya
Quote:
Original Posted By hilton13►yang 4 tahun tinggal di rumah hantu udh beli buku + nonton filmnya (yg film agak gimana gitu asudahlah) yg ini siap siap nyari lagi udh ada di gramed kan om pijar ?
Quote:
Original Posted By Virgieuniquee►ane pertaama kali baca trit TS dluu bgt waktu 4ttdh masih trit biasa bgt,, baru dibuat malahan.. ga nyangka dr bacaan trit iseng bs suksesss..
matabelo
matabeloQuote:
Original Posted By FaizFatih►Bagus banget cerita nya.. bahasa yg di pakai benar2 membuat hanyut ke dalam alur cerita tsb. Mengingatkan sy ke novel "Ronggeng Dukuh Paruk" Ahmad Tohari. Yg sdh di film kan dgn judul Sang Penari.
Utk TS: "Two Thumbs up"
Utk TS: "Two Thumbs up"
Quote:
Original Posted By stylish16►ini kisah nyata gan?
setan kresek tuh kyk gmn ya gan wujud nya
di samping rmh ane jg ada sosok jelmaan macan nih, pnasaran ane
setan kresek tuh kyk gmn ya gan wujud nya
di samping rmh ane jg ada sosok jelmaan macan nih, pnasaran ane
Diubah oleh pijar88 27-11-2014 18:48
itkgid dan mincli69 memberi reputasi
2
78.9K
Kutip
330
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pijar88
#1
KAVLING 1
Quote:
Daerah Jawa, beberapa kilo dari pesisir pantai utara. Sekawanan burung kuntul terbang ke selatan. Mengarah ke hutan-hutan sebelah lereng gunung Slamet. Seharian mereka melayang-layang di angkasa seolah memberi kabar panen raya akan segera tiba. Beberapa saat hinggap di pucuk-pucuk pohon jati, naluri hewaniahnya membawa mereka kembali ke angkasa. Berputar-putar mengikuti arah angin, melintas lereng dan bukit lalu hinggap di batang-batang padi yang menguning.
Dan di hamparan yang begitu luas, mereka berpesta pora.
Hamparan luas itu berada di lereng bukit yang memangku sebagian wilayah kabupaten Banyumas, Pemalang, Tegal, dan Pekalongan. Dari ujung ke ujung tampak menghijau bagai permadani yang digelar para bidadari. Agak ke timur di pinggiran hutan jati, terbentang sungai besar menyuburkan desa-desa di bawahnya. Semakin ke atas adalah hulu sungai yang menyatu dengan hutan jati itu. Di sana bermacam binatang hidup leluasa, menikmati kemurahan alam yang selalu terjaga.
Hutan-hutan itu sudah ada sejak turun-temurun penduduk desa-desa yang tersohor dengan beras dan rempah-rempahnya. Desa-desa yang saling bertaut membentuk gugusan hijau nan indah. Gugusan itu kini lebih berwarna kuning keemasan karena jutaan bulir padi mulai menguning…
Desa Krandekan seolah terbangun dari tidur panjangnya. Rumah-rumah kecil dan besar tegak berdiri di kiri kanan jalan yang dulu hanya persawahan saja. Jarak satu rumah ke rumah lainnya kini menjadi dekat karena penduduknya semakin padat.
Krandekan tahun 1985 tampak begitu bergairah bagai seorang pemuda yang terus mencari jati dirinya.
Di ujung jalan besar yang menghubungkan desa Krandekan dengan desa-desa lainnya berdiri megah kantor balai desa yang baru dibangun. Tak jauh dari kantor balai desa, telah berdiri pasar tradisional. Bermacam barang kebutuhan warga ada di sana. Para pedagang dan pembeli pun lebih mudah melakukan akifitasnya. Mereka tak harus pergi ke pasar Sanggrahan atau Wonokerto yang jauh hanya untuk membeli sesuatu. Usaha-usaha kecil pun banyak muncul dan berkembang, apalagi sejak beberapa bulan lalu listrik merambah desa itu. Pendar-pendar bola ajaib telah membuat akses jalan yang kini berlapis aspal tak lagi gelap seperti dulu.
Konon sebelum PLN merambah desa Krandekan, berbagai cerita aneh sering terdengar tentang kejadian-kejadian mengerikan yang di alami warga. Perempuan berwajah pucat berdiri di bawah pohon, atau iring-iringan Keranda merayap di malam buta. Akibatnya, selepas jam sebelas malam orang-orang tak berani lewat di jalanan desa itu.
Pak Sasmita tertegun di pinggir sungai. Tak dihiraukannya satu dua kendaraan yang lewat di belakang punggungnya. Sesaat dia berdiri kemudian duduk lagi. Air mukanya tampak gelisah. Laki-laki bertubuh gemuk itu lalu berjalan menyusuri tepian sungai. Hingga di pertigaan dia berhenti dan memutar ke jalan setapak yang tembus ke dusun Lempuhan.
Sesaat di muka dusun kecil itu dia menyapu pandang ke kiri dan kanan. Tak ada siapa-siapa.
Pak Sasmita terus berjalan hingga sampai di ujung dusun yang begitu senyap. Di depannya, rumah tua berdinding tembok menyambut laki-laki itu. Pintu depannya yang rusak karena rayap tampak mengerikan dalam gelap. Pak Sasmita membuka pintu yang sudah lapuk itu, kemudian melangkah melintasi ruang tamu. Laki-laki setengah baya itu terus melangkah hingga ke ruang tengah yang tampak lebih gelap.
Di sudut ruang tengah langkahnya terhenti.
Sepi !
Pak Sasmita mengeluarkan bungkusan plastik hitam dari kantong celananya. Dengan hati-hati ditariknya simpul pengait plastik itu dan wangi melati seketika menabrak hidungnya. Ditaburkannya segenggam bunga setaman tepat di atas ubin-ubin yang retak. Lututnya gemetar menahan dingin yang menyentuh ujung kakinya.
Selesai menaburkan bunga-bunga kematian, Pak Sasmita cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Lolongan anjing terdengar panjang mendirikan bulu roma.
Dari arah jauh di tengah sawah, sekelebat bayangan hitam kelabu melesat cepat. Bayangan itu tak tampak oleh mata biasa.
Pak Sasmita meraba tengkuknya, terasa panas. Telinganya berdenging dan suara lantang dari kegelapan seolah menghujam gendang telinganya.
"Kau dan keturunanmu akan merasakan kepedihan dan luka ini, Sasmita !!"
Di satu rumah besar dekat pasar Kopenan, dalam ruang kamar yang luas, Ranti duduk gelisah di depan meja riasnya. Kulit tubuhnya yang putih memantul di cermin sudut kamar. Rambut hitamnya terurai menyentuh punggungnya yang indah. Gadis cantik lima belas tahun itu mematut-matut diri sambil berulang kali menyisir rambutnya seolah tak pernah merasa puas. Dia tak sadar bahwa sedari tadi sepasang mata memperhatikan dirinya. Mata teduh milik ibunya, perempuan setengah baya yang masih tampak jelita. Harni, nama perempuan itu, adalah bekas sintren yang selalu dinanti-nantikan di setiap malam bersih desa. Rupanya kecantikan Bu Harni di masa muda telah menurun ke anak perempuannya itu.
Bu Harni terus memandangi gadis di depannya. Dia bangga, anak kesayangannya sudah bertambah dewasa.
“Wajahmu benar-benar cantik, tubuhmu nyaris sempurna anakku,” gumamnya dalam hati.
Dari pintu yang setengah terbuka, perempuan itu kemudian masuk dan menghampiri anaknya.
“Kau sudah siap menjadi sintren di bersih desa nanti anakku?” Suara perempuan itu mengagetkan si gadis.
Gadis itu menjawab ragu. “Kenapa harus aku, bu?”
“Tidak apa-apa, dulu ibu juga seorang sintren waktu seusiamu nak”
“Tapi aku tak bisa menari…”
“Nanti kamu akan pandai menari dengan sendirinya. Tak usah khawatir anakku,”
Si ibu mendekat dan meraih tangan anaknya, dielusnya punggung tangan yang mulus itu sambil berkata, ”sintren itu suatu kebanggaan. Ranti, kau akan tampak lebih cantik lagi setelah menjadi sintren.”
Ranti menghela nafas. Ada keraguan terpancar di sudut matanya yang jernih.
Beberapa saat gadis berkulit pualam itu tenggelam dalam lamunan.
“Bagaimana Ranti? Adakah yang membuatmu risau?”
“Eh, tidak bu, aku, aku… aku siap...”
“Mumpung lusa kamu mulai libur panjang Ranti…”
Entah kekuatan apa yang telah menjalari batin Ranti hingga perlahan dia merasakan keteguhan hati untuk bersungguh-sungguh menjadi seorang sintren. Di bola matanya yang sayu tergambar sorak sorai para penonton. Ranti berada di tengah tanah lapang sebagai primadona. Ranti, sintren yang dielu-elukan warga desa Krandekan!
“Krieeet……” Pintu terbuka lebar, munculah Pak Sasmita. Laki-laki setengah baya yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di desa Krandekan, laki-laki yang disegani para penduduk desa. Pak Sasmita berjingkat menahan gerakannya halus seolah tak mau kehadirannya di kamar itu diketahui anak gadisnya.
Melihat Ranti terdiam melamun, Pak Sasmita mengurungkan niatnya.
Ditatapnya Bu Harni yang lekat memandang ke arahnya.
“Bu, sudah malam. Kita tidur sekarang...” Bisiknya lirih. Laki-laki gemuk yang menjabat sebagai Bayan kampung itu menyeret pelan lengan istrinya untuk segera keluar dari kamar Ranti.
Mereka lalu meninggalkan Ranti yang terduduk di depan meja rias. Mata Ranti masih terpejam membayangkan malam-malam pertunjukan sintren beberapa hari lagi.
Di kamarnya, suami istri itu duduk berhadapan di kursi kamarnya. Pak Sasmita tampak begitu cemas seolah ada masalah besar menggelayut di fikirannya.
“Ini akan segera berakhir, segera berakhir…!” gema suara hatinya bertalu-talu.
“Tak lama lagi aku akan berakhir kutukan yang selama ini menghinggapi keluargaku. Akan kuakhiri kutukan yang mengarah padamu Ranti, sebelum ruwatan yang sesungguhnya, kau harus menjadi Sintren!”
Pak Sasmita gelisah. Kakinya bergetar, dadanya turun naik menahan beban.
“Bagaimana dengan Ranti Bu?,” Tanya pak Sasmita lirih, “dia sudah mau jadi
sintren?”
Bu Harni mengangguk, matanya berbinar-binar. Pak Sasmita menghela nafas lega. Perasaannya lebih tenang mendengar jawaban istrinya itu.
"Maafkan aku Harni, maafkan aku...“ Pak Sasmita bergumam lirih.
"Sudahlah Pak, tak usah difikirkan lagi masalah itu. Aku sudah memaafkan bapak. Biarlah itu jadi masa lalu saja.“
Pagi hari, langit desa Krandekan berkilau cerah. Jalanan desa tampak ramai oleh para warga menuju persawahan di ujung desa. Wajah-wajah mereka penuh harap, berseri-seri menyambut hari yang dinanti-nantikan.
Para petani berjalan beriring. Beberapa pemuda memanggul karung-karung besar yang terlipat rapi. Ibu-ibu menggendong krapyak. Anak-anak kecil dan remaja tanggung tampak gagah berjalan di sebelah orang tua mereka. Senyum mereka terkembang penuh rasa gembira.
Terdengar tawa renyah kemenangan para juragan yang begitu yakin akan mendapat keuntungan berlebih. Di deretan pejalan kaki lainnya, beberapa orang menjinjing jerigen berisi air putih, beberapa orang lainnya tampak menenteng sabit.
Sinar matahari hangat merambat seolah menyalakan harapan dan semangat. Mereka bersyukur sang surya telah bermurah hati menguningkan sawah-sawah para petani sumpama emas. Saat yang dinanti-nantikan kini telah tiba, panen raya bagi para petani.
Sementara itu di jalan pasar Kopenan juga tampak dipadati para pengunjung yang akan berbelanja. Di dalam area pasar, para pedagang berjajar di kursi-kursi depan dagangannya terlihat ramai melayani para pembeli.
Ranti dan ibunya larut dalam kesibukan. Di depan mereka teronggok barang-barang baru yang hendak ditambahkan dalam stok jualan. Hari ini, libur panjang sekolah telah dimulai. Ranti menemani ibunya berjualan kain dan baju-baju batik di kios mereka. Dua orang pelayan yang biasa membantu di sana sengaja diliburkan.
Alunan merdu lagu-lagu langgam kesukaan Bu Harni terdengar pelan dari tape record di sudut kios. Bu Harni sibuk melipat kain-kain batik ke dalam plastik setelah diberinya bandrol sebagai pengingat harga. Dia duduk dengan kakinya diselonjorkan sambil jari-jari tangannya sibuk menekan tombol-tombol kalkulator. Sementara itu Ranti tampak asyik menyusun kain-kain itu dan menaruhnya ke dalam rak lemari kaca.
“Bu, beli kainnya satu.” Seorang perempuan muda berparas cantik muncul di depan kios mereka. Dia berdiri anggun dengan kebaya hitam yang tampak serasi melilit tubuhnya. Wajah perempuan itu tampak begitu teduh, bersinar seolah memancarkan aura yang memikat siapapun yang melihatnya.
Masih tak lepas dari kalkulatornya Bu Harni melirik sekilas ke pengunjung itu. Disentuhnya tangan Ranti agar segera melayaninya.
Ranti berdiri dari tempat duduknya, “Mau yang mana ya mbak?”
“Eh, aku mau kain yang itu…” perempuan itu menunjuk kain batik yang tergantung di antara kain-kain batik lainnya. Sebuah kain indah bermotif bunga dan daun cabe warna ungu kebiruan.
Ranti mengangguk lalu mengambil kayu panjang di dekatnya. Disodoknya kain batik yang berada paling atas dari deretan kain lainnya dengan kayu panjang berpaku. Kayu itu memang sengaja disiapkan sebagai alat untuk mengambil kain-kain batik dari deretan paling atas. Kain itu tak tersentuh.
Ranti kembali menjulurkan tangan kanannya yang menggenggam kayu, tapi kain itu tetap tak tersentuh.
Sungguh aneh. Kayu sepanjang itu terasa pendek di tangan Ranti. Dia tak mampu menjangkau kain yang sebenarnya tak terlalu tinggi letaknya itu. Rantipun mengambil bangku plastik dan naik di atasnya.
Sekali lagi disorongkannya kayu di tangan tapi tetap tak bisa menjangkau kain batik yang dimaksud. Kayu itu seolah berubah pendek. Ranti merasa kesal. Tak biasanya dia kesulitan mengambil kain-kain batik dari gantungan.
Tiba-tiba seperti ada semilir angin masuk ke dalam kios. Hawa dingin menyentuh ujung kaki Ranti. Hidungnya mencium bau wangi yang begitu harum. Sangat harum dan bukan berasal dari parfum murahan. Bau wangi yang seperti campuran melati dan bunga mawar, tetapi Ranti tak pernah mencium wangi seharum ini sebelumnya.
Ranti mengedarkan pandangan matanya mencari sumber bau wangi yang mengganggu konsentrasinya. Dilihatnya perempuan cantik yang hendak membeli kain itu. Tatapan mata perempuan itu seolah menghujam jantung Ranti. Ranti seperti hilang kesadaran ketika seberkas cahaya putih menyilaukan menyorot bola matanya.
Bu Harni yang masih berkutat dengan kalkulator dan catatan di tangannya tak menyadari akan kondisi Ranti yang kepayahanan mengambil kain batik. Bau harum itu pun tak mengusik kesibukannya. Bu Harni baru menyadari situasi setelah tiba-tiba terdengar suara keras berdebam.
“Bruaaak !!”
Tubuh Ranti terjatuh dari atas kursi plastik menimpa tumpukan kain-kain dan kardus di lantai.
Bu Harni tersentak menyadari apa yang terjadi. Bu Harni berteriak panik, “Rantiii…. Anakkuuu….!”
Bu Harni bergegas menghampiri tubuh Ranti yang terdiam kaku.
Orang-orang di sekitar yang mendengar teriakan itu berhamburan mendatangi kios Bu Harni. Mereka berkerumun di depan kios.
“Ada apa bu, ada apa..?” Tanya seseorang. Dua orang di antara mereka langsung membopong tubuh Ranti ke lantai yang kosong. Ranti tak sadarkan diri. Matanya terpejam rapat dan nafasnya halus teratur seperti orang yang sedang tidur.
Wardoyo datang bersama ayahnya, Pak Jumadi. Mereka turut menolong Ranti yang tak sadarkan diri.
“Tadi ada pembeli, perempuan muda. Tapi aku tak begitu memperhatikan. Ranti yang melayaninya…” ucap Bu Harni ketika Pak Jumadi menanyakan apa yang terjadi pada mereka.
“Mana bu, mana orangnya?”
Bu Harni mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling kios tapi tak melihat perempuan yang dia maksud. Kembali Bu Harni mengedarkan pandangannya. Tetap tak mendapati perempuan cantik yang tadi hendak membeli kain batik.
“Sudahlah bu, itu nanti saja. Yang penting kita tolong Ranti dulu…” sergah Wardoyo.
Wardoyo memandang sekilas tubuh Ranti yang terbujur di atas tikar. Wajah cantik Ranti seperti menyunggingkan senyum. Senyum manis yang selama ini membuatnya terpukau.
Kios Bu Harni langsung tutup siang ini. Orang-orang membawa Ranti ke Klinik terdekat. Kondisi Ranti baik-baik saja, tak ada lecet sedikitpun meski habis terjatuh dari atas kursi. Menurut Pak Mantri yang memeriksa, Ranti pingsan karena schok dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tak berapa lama Ranti tersadar dan mendapati dirinya di ruang klinik bercat putih bersih.
“Kamu tidak apa-apa Ranti?” Tanya Wardoyo cemas.
“Hah? Saya di mana, di mana… Sa..yaaa..?” jawab Ranti gugup menyadari keberadaan dirinya saat ini. Ditatapnya wajah Wardoyo. Di dekat mereka, Pak Jumadi dan Bu Harni tampak tegang di kursi tunggu ruang rawat.
“Kenapa kamu Ranti?”
Ranti berusaha mengingat-ingat sesuatu. Wajahnya tampak menegang. “Aku tidak tahu, tak ingat apa-apa lagi selesai mengambil kain batik…” ujarnya ragu.
“Kau sudah berikan kain batik itu?”
“Belum sempat,”
“Kami tidak melihat pembeli yang dimaksud ibumu, apakah benar pembelinya perempuan? Kenapa dia langsung pergi…?” Tanya Wardoyo.
Bu Harni tak habis fikir dengan kejadian yang baru saja dialami anaknya, juga tak ditemukannya seorang pembeli yang sempat dilihatnya sekilas.
Ranti terdiam. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu. Tetapi tak seorang pun dari orang-orang itu menyadarinya. Tidak bu Harni, tidak pula pak Jumadi. Hanya Wardoyo yang merasakan keanehan itu. Tak berapa lama Pak Sasmita datang. Ranti diperbolehkan pulang dan tak perlu dirawat.
Dan di hamparan yang begitu luas, mereka berpesta pora.
Hamparan luas itu berada di lereng bukit yang memangku sebagian wilayah kabupaten Banyumas, Pemalang, Tegal, dan Pekalongan. Dari ujung ke ujung tampak menghijau bagai permadani yang digelar para bidadari. Agak ke timur di pinggiran hutan jati, terbentang sungai besar menyuburkan desa-desa di bawahnya. Semakin ke atas adalah hulu sungai yang menyatu dengan hutan jati itu. Di sana bermacam binatang hidup leluasa, menikmati kemurahan alam yang selalu terjaga.
Hutan-hutan itu sudah ada sejak turun-temurun penduduk desa-desa yang tersohor dengan beras dan rempah-rempahnya. Desa-desa yang saling bertaut membentuk gugusan hijau nan indah. Gugusan itu kini lebih berwarna kuning keemasan karena jutaan bulir padi mulai menguning…
Desa Krandekan seolah terbangun dari tidur panjangnya. Rumah-rumah kecil dan besar tegak berdiri di kiri kanan jalan yang dulu hanya persawahan saja. Jarak satu rumah ke rumah lainnya kini menjadi dekat karena penduduknya semakin padat.
Krandekan tahun 1985 tampak begitu bergairah bagai seorang pemuda yang terus mencari jati dirinya.
Di ujung jalan besar yang menghubungkan desa Krandekan dengan desa-desa lainnya berdiri megah kantor balai desa yang baru dibangun. Tak jauh dari kantor balai desa, telah berdiri pasar tradisional. Bermacam barang kebutuhan warga ada di sana. Para pedagang dan pembeli pun lebih mudah melakukan akifitasnya. Mereka tak harus pergi ke pasar Sanggrahan atau Wonokerto yang jauh hanya untuk membeli sesuatu. Usaha-usaha kecil pun banyak muncul dan berkembang, apalagi sejak beberapa bulan lalu listrik merambah desa itu. Pendar-pendar bola ajaib telah membuat akses jalan yang kini berlapis aspal tak lagi gelap seperti dulu.
Konon sebelum PLN merambah desa Krandekan, berbagai cerita aneh sering terdengar tentang kejadian-kejadian mengerikan yang di alami warga. Perempuan berwajah pucat berdiri di bawah pohon, atau iring-iringan Keranda merayap di malam buta. Akibatnya, selepas jam sebelas malam orang-orang tak berani lewat di jalanan desa itu.
Pak Sasmita tertegun di pinggir sungai. Tak dihiraukannya satu dua kendaraan yang lewat di belakang punggungnya. Sesaat dia berdiri kemudian duduk lagi. Air mukanya tampak gelisah. Laki-laki bertubuh gemuk itu lalu berjalan menyusuri tepian sungai. Hingga di pertigaan dia berhenti dan memutar ke jalan setapak yang tembus ke dusun Lempuhan.
Sesaat di muka dusun kecil itu dia menyapu pandang ke kiri dan kanan. Tak ada siapa-siapa.
Pak Sasmita terus berjalan hingga sampai di ujung dusun yang begitu senyap. Di depannya, rumah tua berdinding tembok menyambut laki-laki itu. Pintu depannya yang rusak karena rayap tampak mengerikan dalam gelap. Pak Sasmita membuka pintu yang sudah lapuk itu, kemudian melangkah melintasi ruang tamu. Laki-laki setengah baya itu terus melangkah hingga ke ruang tengah yang tampak lebih gelap.
Di sudut ruang tengah langkahnya terhenti.
Sepi !
Pak Sasmita mengeluarkan bungkusan plastik hitam dari kantong celananya. Dengan hati-hati ditariknya simpul pengait plastik itu dan wangi melati seketika menabrak hidungnya. Ditaburkannya segenggam bunga setaman tepat di atas ubin-ubin yang retak. Lututnya gemetar menahan dingin yang menyentuh ujung kakinya.
Selesai menaburkan bunga-bunga kematian, Pak Sasmita cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Lolongan anjing terdengar panjang mendirikan bulu roma.
Dari arah jauh di tengah sawah, sekelebat bayangan hitam kelabu melesat cepat. Bayangan itu tak tampak oleh mata biasa.
Pak Sasmita meraba tengkuknya, terasa panas. Telinganya berdenging dan suara lantang dari kegelapan seolah menghujam gendang telinganya.
"Kau dan keturunanmu akan merasakan kepedihan dan luka ini, Sasmita !!"
***
Di satu rumah besar dekat pasar Kopenan, dalam ruang kamar yang luas, Ranti duduk gelisah di depan meja riasnya. Kulit tubuhnya yang putih memantul di cermin sudut kamar. Rambut hitamnya terurai menyentuh punggungnya yang indah. Gadis cantik lima belas tahun itu mematut-matut diri sambil berulang kali menyisir rambutnya seolah tak pernah merasa puas. Dia tak sadar bahwa sedari tadi sepasang mata memperhatikan dirinya. Mata teduh milik ibunya, perempuan setengah baya yang masih tampak jelita. Harni, nama perempuan itu, adalah bekas sintren yang selalu dinanti-nantikan di setiap malam bersih desa. Rupanya kecantikan Bu Harni di masa muda telah menurun ke anak perempuannya itu.
Bu Harni terus memandangi gadis di depannya. Dia bangga, anak kesayangannya sudah bertambah dewasa.
“Wajahmu benar-benar cantik, tubuhmu nyaris sempurna anakku,” gumamnya dalam hati.
Dari pintu yang setengah terbuka, perempuan itu kemudian masuk dan menghampiri anaknya.
“Kau sudah siap menjadi sintren di bersih desa nanti anakku?” Suara perempuan itu mengagetkan si gadis.
Gadis itu menjawab ragu. “Kenapa harus aku, bu?”
“Tidak apa-apa, dulu ibu juga seorang sintren waktu seusiamu nak”
“Tapi aku tak bisa menari…”
“Nanti kamu akan pandai menari dengan sendirinya. Tak usah khawatir anakku,”
Si ibu mendekat dan meraih tangan anaknya, dielusnya punggung tangan yang mulus itu sambil berkata, ”sintren itu suatu kebanggaan. Ranti, kau akan tampak lebih cantik lagi setelah menjadi sintren.”
Ranti menghela nafas. Ada keraguan terpancar di sudut matanya yang jernih.
Beberapa saat gadis berkulit pualam itu tenggelam dalam lamunan.
“Bagaimana Ranti? Adakah yang membuatmu risau?”
“Eh, tidak bu, aku, aku… aku siap...”
“Mumpung lusa kamu mulai libur panjang Ranti…”
Entah kekuatan apa yang telah menjalari batin Ranti hingga perlahan dia merasakan keteguhan hati untuk bersungguh-sungguh menjadi seorang sintren. Di bola matanya yang sayu tergambar sorak sorai para penonton. Ranti berada di tengah tanah lapang sebagai primadona. Ranti, sintren yang dielu-elukan warga desa Krandekan!
“Krieeet……” Pintu terbuka lebar, munculah Pak Sasmita. Laki-laki setengah baya yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di desa Krandekan, laki-laki yang disegani para penduduk desa. Pak Sasmita berjingkat menahan gerakannya halus seolah tak mau kehadirannya di kamar itu diketahui anak gadisnya.
Melihat Ranti terdiam melamun, Pak Sasmita mengurungkan niatnya.
Ditatapnya Bu Harni yang lekat memandang ke arahnya.
“Bu, sudah malam. Kita tidur sekarang...” Bisiknya lirih. Laki-laki gemuk yang menjabat sebagai Bayan kampung itu menyeret pelan lengan istrinya untuk segera keluar dari kamar Ranti.
Mereka lalu meninggalkan Ranti yang terduduk di depan meja rias. Mata Ranti masih terpejam membayangkan malam-malam pertunjukan sintren beberapa hari lagi.
Di kamarnya, suami istri itu duduk berhadapan di kursi kamarnya. Pak Sasmita tampak begitu cemas seolah ada masalah besar menggelayut di fikirannya.
“Ini akan segera berakhir, segera berakhir…!” gema suara hatinya bertalu-talu.
“Tak lama lagi aku akan berakhir kutukan yang selama ini menghinggapi keluargaku. Akan kuakhiri kutukan yang mengarah padamu Ranti, sebelum ruwatan yang sesungguhnya, kau harus menjadi Sintren!”
Pak Sasmita gelisah. Kakinya bergetar, dadanya turun naik menahan beban.
“Bagaimana dengan Ranti Bu?,” Tanya pak Sasmita lirih, “dia sudah mau jadi
sintren?”
Bu Harni mengangguk, matanya berbinar-binar. Pak Sasmita menghela nafas lega. Perasaannya lebih tenang mendengar jawaban istrinya itu.
"Maafkan aku Harni, maafkan aku...“ Pak Sasmita bergumam lirih.
"Sudahlah Pak, tak usah difikirkan lagi masalah itu. Aku sudah memaafkan bapak. Biarlah itu jadi masa lalu saja.“
***
Pagi hari, langit desa Krandekan berkilau cerah. Jalanan desa tampak ramai oleh para warga menuju persawahan di ujung desa. Wajah-wajah mereka penuh harap, berseri-seri menyambut hari yang dinanti-nantikan.
Para petani berjalan beriring. Beberapa pemuda memanggul karung-karung besar yang terlipat rapi. Ibu-ibu menggendong krapyak. Anak-anak kecil dan remaja tanggung tampak gagah berjalan di sebelah orang tua mereka. Senyum mereka terkembang penuh rasa gembira.
Terdengar tawa renyah kemenangan para juragan yang begitu yakin akan mendapat keuntungan berlebih. Di deretan pejalan kaki lainnya, beberapa orang menjinjing jerigen berisi air putih, beberapa orang lainnya tampak menenteng sabit.
Sinar matahari hangat merambat seolah menyalakan harapan dan semangat. Mereka bersyukur sang surya telah bermurah hati menguningkan sawah-sawah para petani sumpama emas. Saat yang dinanti-nantikan kini telah tiba, panen raya bagi para petani.
Sementara itu di jalan pasar Kopenan juga tampak dipadati para pengunjung yang akan berbelanja. Di dalam area pasar, para pedagang berjajar di kursi-kursi depan dagangannya terlihat ramai melayani para pembeli.
Ranti dan ibunya larut dalam kesibukan. Di depan mereka teronggok barang-barang baru yang hendak ditambahkan dalam stok jualan. Hari ini, libur panjang sekolah telah dimulai. Ranti menemani ibunya berjualan kain dan baju-baju batik di kios mereka. Dua orang pelayan yang biasa membantu di sana sengaja diliburkan.
Alunan merdu lagu-lagu langgam kesukaan Bu Harni terdengar pelan dari tape record di sudut kios. Bu Harni sibuk melipat kain-kain batik ke dalam plastik setelah diberinya bandrol sebagai pengingat harga. Dia duduk dengan kakinya diselonjorkan sambil jari-jari tangannya sibuk menekan tombol-tombol kalkulator. Sementara itu Ranti tampak asyik menyusun kain-kain itu dan menaruhnya ke dalam rak lemari kaca.
“Bu, beli kainnya satu.” Seorang perempuan muda berparas cantik muncul di depan kios mereka. Dia berdiri anggun dengan kebaya hitam yang tampak serasi melilit tubuhnya. Wajah perempuan itu tampak begitu teduh, bersinar seolah memancarkan aura yang memikat siapapun yang melihatnya.
Masih tak lepas dari kalkulatornya Bu Harni melirik sekilas ke pengunjung itu. Disentuhnya tangan Ranti agar segera melayaninya.
Ranti berdiri dari tempat duduknya, “Mau yang mana ya mbak?”
“Eh, aku mau kain yang itu…” perempuan itu menunjuk kain batik yang tergantung di antara kain-kain batik lainnya. Sebuah kain indah bermotif bunga dan daun cabe warna ungu kebiruan.
Ranti mengangguk lalu mengambil kayu panjang di dekatnya. Disodoknya kain batik yang berada paling atas dari deretan kain lainnya dengan kayu panjang berpaku. Kayu itu memang sengaja disiapkan sebagai alat untuk mengambil kain-kain batik dari deretan paling atas. Kain itu tak tersentuh.
Ranti kembali menjulurkan tangan kanannya yang menggenggam kayu, tapi kain itu tetap tak tersentuh.
Sungguh aneh. Kayu sepanjang itu terasa pendek di tangan Ranti. Dia tak mampu menjangkau kain yang sebenarnya tak terlalu tinggi letaknya itu. Rantipun mengambil bangku plastik dan naik di atasnya.
Sekali lagi disorongkannya kayu di tangan tapi tetap tak bisa menjangkau kain batik yang dimaksud. Kayu itu seolah berubah pendek. Ranti merasa kesal. Tak biasanya dia kesulitan mengambil kain-kain batik dari gantungan.
Tiba-tiba seperti ada semilir angin masuk ke dalam kios. Hawa dingin menyentuh ujung kaki Ranti. Hidungnya mencium bau wangi yang begitu harum. Sangat harum dan bukan berasal dari parfum murahan. Bau wangi yang seperti campuran melati dan bunga mawar, tetapi Ranti tak pernah mencium wangi seharum ini sebelumnya.
Ranti mengedarkan pandangan matanya mencari sumber bau wangi yang mengganggu konsentrasinya. Dilihatnya perempuan cantik yang hendak membeli kain itu. Tatapan mata perempuan itu seolah menghujam jantung Ranti. Ranti seperti hilang kesadaran ketika seberkas cahaya putih menyilaukan menyorot bola matanya.
Bu Harni yang masih berkutat dengan kalkulator dan catatan di tangannya tak menyadari akan kondisi Ranti yang kepayahanan mengambil kain batik. Bau harum itu pun tak mengusik kesibukannya. Bu Harni baru menyadari situasi setelah tiba-tiba terdengar suara keras berdebam.
“Bruaaak !!”
Tubuh Ranti terjatuh dari atas kursi plastik menimpa tumpukan kain-kain dan kardus di lantai.
Bu Harni tersentak menyadari apa yang terjadi. Bu Harni berteriak panik, “Rantiii…. Anakkuuu….!”
Bu Harni bergegas menghampiri tubuh Ranti yang terdiam kaku.
Orang-orang di sekitar yang mendengar teriakan itu berhamburan mendatangi kios Bu Harni. Mereka berkerumun di depan kios.
“Ada apa bu, ada apa..?” Tanya seseorang. Dua orang di antara mereka langsung membopong tubuh Ranti ke lantai yang kosong. Ranti tak sadarkan diri. Matanya terpejam rapat dan nafasnya halus teratur seperti orang yang sedang tidur.
Wardoyo datang bersama ayahnya, Pak Jumadi. Mereka turut menolong Ranti yang tak sadarkan diri.
“Tadi ada pembeli, perempuan muda. Tapi aku tak begitu memperhatikan. Ranti yang melayaninya…” ucap Bu Harni ketika Pak Jumadi menanyakan apa yang terjadi pada mereka.
“Mana bu, mana orangnya?”
Bu Harni mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling kios tapi tak melihat perempuan yang dia maksud. Kembali Bu Harni mengedarkan pandangannya. Tetap tak mendapati perempuan cantik yang tadi hendak membeli kain batik.
“Sudahlah bu, itu nanti saja. Yang penting kita tolong Ranti dulu…” sergah Wardoyo.
Wardoyo memandang sekilas tubuh Ranti yang terbujur di atas tikar. Wajah cantik Ranti seperti menyunggingkan senyum. Senyum manis yang selama ini membuatnya terpukau.
Kios Bu Harni langsung tutup siang ini. Orang-orang membawa Ranti ke Klinik terdekat. Kondisi Ranti baik-baik saja, tak ada lecet sedikitpun meski habis terjatuh dari atas kursi. Menurut Pak Mantri yang memeriksa, Ranti pingsan karena schok dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tak berapa lama Ranti tersadar dan mendapati dirinya di ruang klinik bercat putih bersih.
“Kamu tidak apa-apa Ranti?” Tanya Wardoyo cemas.
“Hah? Saya di mana, di mana… Sa..yaaa..?” jawab Ranti gugup menyadari keberadaan dirinya saat ini. Ditatapnya wajah Wardoyo. Di dekat mereka, Pak Jumadi dan Bu Harni tampak tegang di kursi tunggu ruang rawat.
“Kenapa kamu Ranti?”
Ranti berusaha mengingat-ingat sesuatu. Wajahnya tampak menegang. “Aku tidak tahu, tak ingat apa-apa lagi selesai mengambil kain batik…” ujarnya ragu.
“Kau sudah berikan kain batik itu?”
“Belum sempat,”
“Kami tidak melihat pembeli yang dimaksud ibumu, apakah benar pembelinya perempuan? Kenapa dia langsung pergi…?” Tanya Wardoyo.
Bu Harni tak habis fikir dengan kejadian yang baru saja dialami anaknya, juga tak ditemukannya seorang pembeli yang sempat dilihatnya sekilas.
Ranti terdiam. Matanya seperti menyembunyikan sesuatu. Tetapi tak seorang pun dari orang-orang itu menyadarinya. Tidak bu Harni, tidak pula pak Jumadi. Hanya Wardoyo yang merasakan keanehan itu. Tak berapa lama Pak Sasmita datang. Ranti diperbolehkan pulang dan tak perlu dirawat.
***
Diubah oleh pijar88 30-11-2023 13:59
itkgid dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas

Shortcut:








