Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#1672
PART 81 – Random Thoughts.

Tulisan gue kali ini mungkin agak berbeda dari sebelumnya. Sorry for wasting your 3 minutes.

Sore ini, barusan aja. Gue melihat jam, dan tepat pukul 16.30 sore, sebelum gue mulai menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dan menyumpal kuping dengan headset iPod Classic kesayangan gue. Diluar mulai turun hujan, dan sepertinya cukup deras. Gue gak sadar kalo itu cukup deras karena gue ada di lantai 12.

Siang tadi, seorang teman, sebut aja X, menepuk bahu gue, dan bertanya.

Quote:


Gue memandangi dia sambil memainkan bolpen, sebelum akhirnya gue menjawab.

Quote:


X tertawa lebar dan menepuk bahu gue sekali lagi.

Quote:


Gue tersenyum, dan memutar kursi kemudian memandangi X langsung.

Quote:


X tertawa, dan kemudian berlalu.

Gue terdiam, dan mendadak berpikir tentang waktu. Sesuatu yang menjadi dasar gue menulis part yang gak jelas ini. Kemarin gue sepintas membaca sebuah puisi epik, karangan Dante Alighieri, yang berjudul Divine Comedy. Puisi itu menggambarkan bagaimana seorang Dante, jatuh cinta hanya sekali seumur hidupnya, dan jatuh cinta sepenuh hatinya, namun pada akhirnya wanita yang dia cintai justru mencintai seseorang yang lain. Di dalam keheningan dan kesedihannya itu, Dante menghasilkan salah satu puisi terbaik yang pernah diciptakan. Itu membuat gue berpikir, bahwa cinta, kesedihan dan kegembiraan adalah fragmen-fragmen hidup yang bergerak dalam sebuah lorong waktu.

Hidup manusia, bagi gue, adalah sebuah lorong waktu. Lorong itu pasif, dan permanen. Kenyataannya, pemahaman kita akan waktu adalah sebuah kecelakaan dalam syaraf kita. Waktu tidak berlalu, kita yang berlalu. (well, thanks to Michael Crichton) Pembuktian kita yang berlalu, yaitu kita bertumbuh. Dari benih di rahim, lahir ke dunia, bayi, anak-anak, remaja, alay emoticon-Wink, dewasa, tua, kemudian mati.

Selama kita bertumbuh, ada 2 unsur terpenting yang ikut tumbuh, yaitu hati dan pikiran. Pertumbuhan hati dan pikiran itu diberi “pupuk” oleh apa yang gue sebut cinta, kegembiraan, kesedihan, dan kehilangan. Dan waktu menjadi tempat hati dan pikiran itu tumbuh.

Gue memandangi hujan diluar, sambil menyeruput kopi gue, sebelum sebuah pemikiran lanjutan datang di otak gue yang sedikit miring ini. Gue merenungi waktu-waktu yang udah gue lalui, lorong yang udah gue lewati selama hampir 25 tahun ini. Gue mendadak ingat kepada orang tua gue, nun jauh disana. Gue ingat bagaimana dulu gue dibesarkan, dimanja, diajari sedikit demi sedikit bagaimana hidup selayaknya manusia. Hingga saat ini, gue berdiri disini, di ruangan yang dingin ini, sendirian memandangi hujan dibalik jendela, dan hanya ditemani secangkir kopi panas, dan setumpuk kertas.

Dulu orang tua gue sering bertanya, “kalo udah besar mau jadi apa?”. Pada awalnya, pertanyaan itu terasa menyenangkan, dan gue menjawab seperti layaknya anak-anak kecil, menjadi pilot, dokter dan sebagainya. Menginjak remaja, pertanyaan itu datang lagi. Kali ini gue menanggapi dengan enteng, dan gue menjawab “belom tau, mengalir ajalah.” Memasuki akhir masa remaja, gue semakin sering mendengar pertanyaan itu, dan gue waktu itu merasa pertanyaan itu semakin menjengkelkan.

Tapi sekali lagi waktu yang menyadarkan gue. Pada akhirnya gue sadar, pertanyaan dari orang tua gue itu tidak membutuhkan jawaban yang spesifik. Bahkan tidak perlu diucapkan. Mereka cuma mengingatkan gue, untuk selalu punya tujuan hidup. Mereka sadar, anak mereka tetaplah orang yang sama, meskipun secara hati dan pikiran telah tumbuh dan ditempa oleh cinta, kegembiraan, kesedihan dan kehilangan. Meskipun gue telah menjadi orang yang berbeda dari gue 10 tahun lalu, tapi satu hal yang mereka yakin bahwa jauh di dalam hati gue, gue tetep mom & dad’s little son. Dan memang gue akui itu.

Now, here I am. Sekarang gue pemilik pohon mandiri kehidupan gue sendiri, dan sekarang gue juga menjadi kepala rumah tangga di keluarga kecil gue. Sekarang gue sepenuhnya sadar, bahwa gue memang udah dilatih dan diarahkan oleh orang tua gue, untuk selalu berpegang teguh pada tujuan hidup. Dan gue bertekad untuk menyelesaikan apa yang sudah gue mulai sejak dulu.

Gue bangga menjadi anak orang tua gue. Dan gue akan tetap mempertahankan identitas di dalam diri gue ini sampe akhir nanti. Semoga nanti gue bisa membesarkan anak gue, seperti orang tua gue membesarkan gue. Dan gue selalu percaya sama yang namanya waktu, bahwa waktu selalu menjadi yang paling bijaksana terhadap hidup kita.

Gue tersenyum simpul, dan menyeruput kembali kopi gue yang udah menghangat, ketika headset iPod di telinga gue melantunkan Can’t Finish What You’ve Started-nya Motion City Soundtrack.

“Every story needs an ending, after all…. ”


20 November 2014.
xxxochezxxx
pulaukapok
chanry
chanry dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.