TS
bawanasi465
[Orific] Harapan dan Pintu
genre: drama, supernatural, psychological thriller
cerita ini terinspirasi dari LN yang keren pisan, Utsuro no Hako to Zero no Maria yang ane baca pas SMA dulu. sayangnya ane baru kepikiran nulisnya sekarang
ts sangat menghargai setiap kritikan dan saran agan hehe. anyway, enjooy!
“Idle mind is devil’s workshop.”
Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Aku sebenarnya juga tidak begitu mengerti, tapi kurasa intinya adalah jangan biarkan dirimu terlalu lama menganggur. Maksudku, jika dibiarkan untuk tidak melakukan apa-apa, akan muncul seekor setan kecil di kepalamu. Setan yang menyebalkan sekali, setidaknya bagiku.
Setan yang biasa dipanggil ‘rasa bosan’.
... semakin kupikir sebenarnya mungkin bukan itu yang dimaksud oleh istilah orang bule itu. Yah, pokoknya itulah tafsiranku.
Ngomong-ngomong, tentu bukan tanpa alasan aku mengumpamakan rasa bosan sebagai seekor setan. Sudah jadi tugas setan ‘kan, untuk menghasut manusia untuk berbuat hal buruk? Itulah persis apa yang dilakukan oleh rasa bosan.
Membuatmu melakukan hal buruk. Hal bodoh, tepatnya.
Wajar sih menurutku. Seperti manusia yang memiliki naluri untuk memasukan makanan ke dalam mulut atau berhubungan seks ketika birahi memuncak. Jika kamu bosan, kamu pasti akan mencari alasan untuk membuatmu melakukan sesuatu. Semakin gila kegiatan yang kamu buat sendiri itu, entah kegiatan yang positif ataupun negatif, semakin jauh rasa bosan akan pergi dari pikiranmu.
Nah, disinilah masalahnya; terkadang ‘gila’ itu hanya beda tipis dengan ‘bodoh’.
Kurasa sebaiknya aku tidak akan berceramah lebih panjang lagi, karena itu pasti akan membuatmu bosan. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui sebelum mendengar kisahku.
Aku ini sangat mudah merasa bosan.
RAMA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img631/1465/HnERjM.png)
Karakter utama yang sepertinya tak lebih dari anak SMA biasa.
"...betapa inginnya aku melompat dari jendela lalu kabur dari sini..."
PUTRI
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9146/szIB3H.png)
Gadis misterius yang mengetahui semua yang Rama tidak ketahui.
"...aku akan selalu berada di pihakmu, dan pihakmu seorang."
MARINA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img537/4474/PnLoLN.png)
Teman sekelas Rama yang penyendiri, jarang bicara, dan sulit didekati.
"Maaf, Rama. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
JULIA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/4974/h3aMed.png)
Adik perempuan Rama yang selalu saja bertengkar dengan kakaknya.
"B-bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!"
OJAN
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img901/1494/LF7yFU.png)
Teman sebangku Rama yang disegani banyak orang karena terlalu cerdas.
"Bodoh juga ada batasnya, Ram."
NANA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9299/kWfkMB.png)
Ketua kelasnya Rama yang tidak punya kata "basa-basi" di kamusnya.
"Bicara lagi, oh bicaralah sekali lagi, biar bisa gua tonjok lu."
*ilustrasi sama sekali BUKAN dibuat oleh ts, dan hanya disertakan untuk mempermudah pembaca memvisualkan karakter
Prologue
Prologue (1)
Prologue (2)
R1
7.36AM
R2
6.00AM
6.54AM
7.10AM (1)
7.10AM (2)
8.43AM
9.01AM
9.43AM
10.20AM (1)
10.20AM (2)
Spoiler for Author's Note:
cerita ini terinspirasi dari LN yang keren pisan, Utsuro no Hako to Zero no Maria yang ane baca pas SMA dulu. sayangnya ane baru kepikiran nulisnya sekarang

ts sangat menghargai setiap kritikan dan saran agan hehe. anyway, enjooy!

Spoiler for Boredom:
“Idle mind is devil’s workshop.”
Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Aku sebenarnya juga tidak begitu mengerti, tapi kurasa intinya adalah jangan biarkan dirimu terlalu lama menganggur. Maksudku, jika dibiarkan untuk tidak melakukan apa-apa, akan muncul seekor setan kecil di kepalamu. Setan yang menyebalkan sekali, setidaknya bagiku.
Setan yang biasa dipanggil ‘rasa bosan’.
... semakin kupikir sebenarnya mungkin bukan itu yang dimaksud oleh istilah orang bule itu. Yah, pokoknya itulah tafsiranku.
Ngomong-ngomong, tentu bukan tanpa alasan aku mengumpamakan rasa bosan sebagai seekor setan. Sudah jadi tugas setan ‘kan, untuk menghasut manusia untuk berbuat hal buruk? Itulah persis apa yang dilakukan oleh rasa bosan.
Membuatmu melakukan hal buruk. Hal bodoh, tepatnya.
Wajar sih menurutku. Seperti manusia yang memiliki naluri untuk memasukan makanan ke dalam mulut atau berhubungan seks ketika birahi memuncak. Jika kamu bosan, kamu pasti akan mencari alasan untuk membuatmu melakukan sesuatu. Semakin gila kegiatan yang kamu buat sendiri itu, entah kegiatan yang positif ataupun negatif, semakin jauh rasa bosan akan pergi dari pikiranmu.
Nah, disinilah masalahnya; terkadang ‘gila’ itu hanya beda tipis dengan ‘bodoh’.
Kurasa sebaiknya aku tidak akan berceramah lebih panjang lagi, karena itu pasti akan membuatmu bosan. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui sebelum mendengar kisahku.
Aku ini sangat mudah merasa bosan.
Spoiler for Karakter:
RAMA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img631/1465/HnERjM.png)
Karakter utama yang sepertinya tak lebih dari anak SMA biasa.
"...betapa inginnya aku melompat dari jendela lalu kabur dari sini..."
PUTRI
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9146/szIB3H.png)
Gadis misterius yang mengetahui semua yang Rama tidak ketahui.
"...aku akan selalu berada di pihakmu, dan pihakmu seorang."
MARINA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img537/4474/PnLoLN.png)
Teman sekelas Rama yang penyendiri, jarang bicara, dan sulit didekati.
"Maaf, Rama. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
JULIA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/4974/h3aMed.png)
Adik perempuan Rama yang selalu saja bertengkar dengan kakaknya.
"B-bukan gara-gara aku khawatir sama kakak atau apa, ya!"
OJAN
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img901/1494/LF7yFU.png)
Teman sebangku Rama yang disegani banyak orang karena terlalu cerdas.
"Bodoh juga ada batasnya, Ram."
NANA
![[Orific] Harapan dan Pintu](https://dl.kaskus.id/imageshack.com/a/img673/9299/kWfkMB.png)
Ketua kelasnya Rama yang tidak punya kata "basa-basi" di kamusnya.
"Bicara lagi, oh bicaralah sekali lagi, biar bisa gua tonjok lu."
*ilustrasi sama sekali BUKAN dibuat oleh ts, dan hanya disertakan untuk mempermudah pembaca memvisualkan karakter
Spoiler for Index:
Prologue
Prologue (1)
Prologue (2)
R1
7.36AM
R2
6.00AM
6.54AM
7.10AM (1)
7.10AM (2)
8.43AM
9.01AM
9.43AM
10.20AM (1)
10.20AM (2)
Diubah oleh bawanasi465 08-12-2014 22:18
0
4.1K
Kutip
37
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•348Anggota
Tampilkan semua post
TS
bawanasi465
#26
Spoiler for -8.43AM, R2-:
Selalu menyenangkan bagiku menonton para siswi bermain sepak bola ketika pelajaran olahraga.
Jangan salah sangka dulu, aku bukannya suka melihat mereka besimbah keringat atau apa. Selain itu seragam olahraga sekolah ini terdiri dari baju lengan panjang dan celana training. Ditambah dengan kecenderungan untuk memakai baju yang kebesaran, tidak ada lagi ruang menjadi nafsu melihat mereka, seberapapun banyaknya mereka bergerak dan berlari.
Yang menarik perhatianku justru dengan cara mereka bermain.
Yah, memang sejak awal sangat jarang ada perempuan yang peduli pada permainan ini. Kurasa yang mereka tahu dari bermain bola hanyalah “masukkan bola ke gawang musuh, tapi jangan sentuh pakai tangan!”. Itu sama sekali tidak salah, sungguh, tapi pada akhirnya itulah yang jadi penyebab terjadinya kekacauan di depanku.
Pemain di lapangan mengeroyok bola secara harafiah, sehingga aku tidak bisa melihatnya lagi. Samar-samar terlihat para gadis di tengah kerumunan berebut bola, entah dari musuh ataupun teman. Ketika bola malang itu berhasil ditendang keluar dari kerumunan, di saat itu juga serbuan dua puluh orang sudah mengikutinya dari belakang.
Mereka terlihat konyol dan mereka tidak menyadarinya. Biar begitu, tatapan ganas yang terlihat menunjukkan betapa seriusnya mereka sehingga aku tidak berani tertawa. Duduk manis di pinggir lapangan seperti ini adalah tindakan yang paling bijak.
Ketika salah satu tim akhirnya berhasil mencetak gol, kualihkan perhatianku ke matahari yang sudah mulai meninggi. Kemudian kuperiksa ponselku untuk memastikan waktu.
“Andai kata hape ini error sekarang… Itu nggak akan lucu sama sekali,” gumanku.
Menurut Putri, kemungkinan besar saat ini Marina berada di sekolah. Aku masih belum tahu bagaimana rencana Putri untuk menyelamatku dan Marina dari [DISCORDIA], tapi sepertinya ini membutuhkan kerja sama langsung dari Marina sendiri.
Karena itulah aku segera datang ke sekolah untuk mempertemukannya dengan Putri dan membicarakan ini langsung. Aku memang sudah sangat terlambat dan sempat dimarahi habis-habisan oleh guru piket, tapi aku tidak begitu memedulikannya.
Toh ini bukan dunia nyata.
Sayangnya segalanya tidak berjalan dengan semudah yang aku kira, karena aku tidak melihat Marina dimanapun di sekolah. Biarupun kupikir Marina tidak datang ke sekolah di ronde ini, tapi Putri tetap memintaku untuk terus mengikuti pelajaran seperti biasa.
“Waktu jam sembilan, dua belas, dan tiga sore nanti akan ada pesan dari [ADMIN] yang menunjukkan lokasi lawan, jadi tunggu untuk itu baru lu telepon gua lagi.”
Itulah yang dia bilang beberapa saat lalu. Semacam sistem untuk mempertemukan pemain dan memastikan tidak ada yang bisa bersembunyi terlalu lama, sepertinya.
Saat ini Putri juga berada di dalam kompleks sekolah, bersembunyi di suatu tempat. Memang akan merepotkan bila penjaga sekolah menemukan siswi asing berkeliaran di sini.
“Kenapa kita nggak langsung telepon dia aja? Mungkin dia bakal ngerti kalau kita jelasin niat kita.”
“Itu cuma buang-buang waktu. Ingat, ada kemungkinan dia juga sembunyi di sekitar sini, yang artinya dia punya niat untuk nyerang lu lagi jika ada kesempatan, Rama. Apa lu belum ngerti juga?”
“…”
“Cara damai sudah nggak bisa kita tempuh lagi.”
Dengan asumsi seperti itu, aku tidak boleh lengah sedikitpun.
Mengingat kalimatnya lagi aku sadar aku terlalu fokus menikmati pertandingan sepak bola di depanku sejak tadi. Di saat yang sama seseorang menyentuh bahuku dari belakang, membuatku kaget setengah mati.
“Whoa!”
“…ga usah lebay gitu kali.”
Saat aku menoleh, sudah berdiri seorang gadis pendek berambut hitam sebahu di belakangku, menatapku dengan wajah kesal. Dia menggunakan seragam olahraga juga, sama seperti murid lain di kelasku.
“Eh, gua kira siapa. Ternyata lu doang, Na.”
“Apanya yang ‘lu doang’? Ngeselin.”
Aku hanya tertawa kaku dan menggaruk pipiku yang tidak gatal.
“Dan sekarang ini lagi pelajaran olahraga, Ram, jadi jangan main hape terus!”
Kuhela nafasku. Masih pagi begini saja Nana sudah langsung ke mode bawel, memangnya tidak ada mode lain yang dia punya ya?
“Err, gua ga main hape kok, cuma ngecek jam.”
“Kalo gitu, nih, gua pinjemin ini,” ujarnya ketus seraya melepas jam tangannya, “buat gantinya, sini biar gua pegangin hapelu.”
“Ayolah, Na. Lagian guru kita lagi nggak ada di sini, jadi nggak akan ada yang kena marah.”
“Nggak, gua ga mau ambil resiko. Biar gimana juga itu ngelanggar peraturan sekolah!”
“…jujur ya, sekarang ini gua lagi nunggu salah satu SMS paling penting dalam hidup gua. Makanya, Nana, dengan penuh kerendahan hati, biarin gua ngelakuin ini sekali aja.”
Apa yang kukatakan adalah yang sebenarnya, biarpun sepertinya aku agak melebih-lebihkannya.
Kukira dia akan mengomel lebih banyak seperti biasa, tapi ternyata kemudian dia hanya duduk di sampingku tanpa membuka mulutnya lagi.
“Adoh!”
Hanya duduk, iya, tapi setelah menginjak kakiku sekencang-kencangnya.
“Lu ngapain sih!? Sakit, woy!”
Rintihanku sama sekali tidak digubris. Aku ingin mengeluh lebih banyak lagi, tapi kuhentikan melihat Nana yang sepertinya tidak berniat untuk menyita ponselku lagi.
Ada harga yang harus dibayar untuk melanggar peraturan, ya… cukup adil.
Secara mengejutkan perdebatanku dengannya kali ini berakhir dengan cepat. Yah, meskipun tidak dengan cara yang damai.
Sekali lagi kuperiksa ponselku yang masih belum menerima pesan baru. Tentu saja, masih sepuluh menit lagi sebelum jam sembilan. Mungkin sebaiknya aku berhenti mengeceknya setiap saat, karena itu hanya akan membuatku semakin gelisah.
Kualihkan perhatianku ke Nana yang duduk di sampingku dengan memeluk kakinya. Dia menatap murung ke arah para siswi yang sedang bermain bola. Jelas sekali pikirannya sedang tidak berada di sini.
Mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi sepertinya dia sedang banyak pikiran. Jika tidak, saat ini dia pasti akan ikut bermain bola dengan yang lainnya dengan penuh semangat, sibuk menjadi kapten tim atau apalah.
Dan dengan duduk di sampingku begini, apa dia mau aku menghiburnya? Ini aneh mengingat kita tidak bisa dibilang teman akrab. Bahkan selama ini aku sering berselisih pendapat dengannya karena sifatnya yang terlalu perfeksionis dan suka banyak mengatur sebagai ketua kelas.
Dia ingin semua murid di kelas bisa menjadi seperti dia, siswi teladan yang serius menjalani kehidupan sekolah sebagai pelajar sejati. Metodenya yang cukup memaksakan idealismenya ke orang lain itulah yang membuatku cenderung menghindarinya.
Aku tidak begitu menyukainya.
Biar begitu, entah kenapa aku lebih tidak suka melihatnya murung seperti ini.
“Jadi kenapa lu galau gitu, Na?”
Suaraku membangunkannya dari lamunan, walaupun dia tetap tidak menjawab pertanyaanku dan terus melihat ke depan.
“Mantaplah, gua dikacangin. Ga masalah juga sih. Seenggaknya sekarang gua yakin lu duduk di sini gara-gara lu tiba-tiba naksir dan pengen ngedeketin gua.”
Kali ini dia segera menoleh dan memelototiku. “N-naksir, apaan? Ya nggak, lah. Nggak!”
“…”
Aku tercengang menyadari wajah Nana yang perlahan memerah. Reaksinya sungguh di luar dugaanku. Sedikit digoda saja sudah seperti ini… aku tidak menyangka dia punya sisi lucu juga.
Kalau kuingat-ingat, dia memang cukup jarang mengobrol dengan anak laki-laki. Bukannya kenapa, memang dia bisa jadi sangat galak di kelas jadi para siswa cenderung menghindarinya. Mungkin sangat jarang ada yang berani membecandainya sepertiku barusan, jadi Nana tidak terbiasa ketika mendengarnya.
Tanpa kusadari sebuah seringai muncul di wajahku. Sungguh menarik. Kedepannya ini akan jadi hiburan tersendiri untuk mengeksploitasi kelemahannya ini.
“Jangan senyum-senyum sendiri ga jelas gitu lah, jijik gua liatnya,” kata Nana yang sepertinya sudah kembali menguasai dirinya lagi.
“Yee, muka-muka gua, suka-suka gua dong gua mau apain.”
“Iya tapi gua ga suka!”
“Seenggaknya ini ga ngelanggar peraturan sekolah, kan?”
“Lu… emang nyebelin banget ya jadi orang!”
Sepertinya taktik membalikkan kata “peraturan” kepadanya cukup efektif karena sekarang dia membuang wajahnya dariku. Kupikir percakapan kita sudah berakhir, sebelum Nana kembali membuka mulutnya beberapa saat kemudian.
“Lu nggak tau kan… kalo tadi pagi Marina sebenarnya datang ke sekolah.”
Kucerna pelan-pelan kalimatnya, mengabaikan dahulu alasan dia menyebut nama itu entah dari mana. Yang dia maksud dengan tadi pagi mungkin adalah ketika sebelum aku sampai ke sekolah. Sebelum aku tiba, dia ada di sekolah.
Tapi sekarang dia tidak ada di sini.
“Jadi maksudlu Marina… apa dia cabut?”
“Cabut kelas, mungkin, tapi bukan bolos sekolah. Tasnya masih ada di kelas, jadi gua rasa nggak.”
“…biar gitu lu nggak tau dia sekarang ada di mana.”
Nana mengangguk pelan. “Gua kira dia ada di UKS, tapi pas gua ke sana dia nggak ada. Dia juga nggak ngangkat telepon dari gua.”
Ah, jadi ini alasan dia murung. Salah satu teman sekelasnya menghilang begitu saja tanpa berkata apapun. Selama ini aku menganggapnya terlalu posesif kepada semuanya yang gila kontrol dan terobsesi absensi sempurna, namun kini dia terlihat khawatir sungguhan.
Pada akhirnya, mungkin Nana memang orang yang baik.
Mungkin, ya.
“Kalo emang lu pengen banget tahu dia ke mana, yaudah cari aja dia sana.”
“Nggak bisa, pelajaran udah dimulai, tau. Gua ga bisa ninggalin satu kelas cuma demi satu orang aja.”
“Tapi lu tetap ga bisa berhenti khawatir, kan? Tenang aja, ini kelas biar abang Rama yang urus.”
Kutepuk dadaku sendiri dengan wajah penuh percaya diri, hanya untuk menemukan Nana yang menatapku tak bersemangat.
“…percaya sama lu itu sama aja kayak percaya kalo suatu hari nanti salju bakal turun di Bogor.”
“S-segitunya apa!?”
Dia memang membenciku, tapi bukankah kalimatnya terlalu berlebihan? Padahal niatku ‘kan baik... Aku benar-benar tidak pernah mengerti cara berpikirnya.
“Iya, terutama habis lu ngaku-ngaku sakit keras buat datang telat ke sekolah.”
Aku tertegun mendengarnya membahas SMS-ku pagi ini, dan fakta bahwa aku sudah melupakan kejadian itu membuatku merasa bersalah setengah mati.
“S-sori, Na.”
“Udahlah. Emang selalu sakit, sih, tapi gua udah biasa diboongin.”
Aku tidak merasa ada sindiran dibaliknya, tapi perkataannya itu… malah membuatku seperti menjadi seorang pendosa sejati. Aku sungguh menyesali perbuatanku sekarang.
“Dan yang bikin gua khawatir bukan alasan kenapa dia ngilang gitu aja, dasar sok tau.”
Dia memang terlihat murung dan sedih, tapi ledekan yang tidak perlu darinya itu tetap saja membuatku kesal.
“Raut mukanya Marina, Ram. Ekspresinya waktu dia datang ke sekolah itu benar-benar belum pernah gua liat sebelumnya.”
“Ekspresinya?”
“Gimana ngejelasinnya, ya. Pokoknya dia… kayak habis ngeliat mayat.”
“…mayat, ya.”
Kurasa aku paham betul apa yang Nana maksud. Dia hanya berandai-andai, tapi perkataannya hampir benar.
Marina memang baru saja melihat aku yang terkulai lemas di tanah dengan darah mengalir deras dari perutku. Tapi tidak, aku belum menjadi mayat ketika dia meninggalkanku. ‘Cuma’ sedang sekarat.
Apa ini artinya dia mengalami syok? Ini cukup mengejutkanku karena dia terlihat begitu tenang saat menusukku dengan pisau dapurnya itu.
“Dia nggak bilang apa-apa ke elu, Na?”
Nana menggeleng. “Dia ga pernah buka mulut, dan langsung pergi waktu ngeliat lu dari jauh, Ram.”
“Serius? Padahal gua sama sekali ga ngeliat dia.”
Sepertinya benar apa kata Putri. Marina memang sedang di sekolah ini, di suatu tempat. Mencari waktu yang tepat untuk menikamku.
Tapi bagaimana Putri bisa tahu? Apa dia semacam dukun?
Secara insting kuperhatikan sekitarku, namun aku tidak menemukan sosok gadis berambut pirang itu. Biar begitu aku tidak menurunkan kesiagaanku.
Sudah cukup sekali saja aku merasakan rasanya ditusuk sampai mati.
“Jadi benar, ya, kalau ternyata semuanya ada hubungannya sama lu?”
Nana bertanya kepadaku, namun aku tidak meresponnya.
Aku tidak tahu apa yang harus kujawab. Tidak, lebih tepatnya aku tidak ingin menjawab pertanyaannya sama sekali. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nana dan dia tidak perlu ikut campur.
Tapi di saat yang sama aku tidak tahan melihatnya seperti ini.
Terlihat begitu lemah. Sama sekali berbeda dengan Nana yang menjadi pemimpin kelas kami yang meskipun paling pendek di kelas, tapi yang paling kuat dan pemberani.
“Ram.”
Nana memanggilku pelan setelah kami saling diam selama beberapa saat.
“Apapun yang terjadi, gua mohon jangan lukai Marina.”
“…kenapa lu bisa ngomong gitu?” tanyaku bingung.
Karena aku yakin dia tidak tahu apapun soal [DISCORDIA].
“Firasat.”
Dia mengatakannya dengan sangat pelan, membuatku hampir tidak mendengarnya. Jawaban yang sangat abstrak dan aku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya ada di balik wajah sedihnya.
Biar begitu, kusadari bahwa sepertinya aku salah. Dia bukan khawatir dengan kondisi Marina bukan sebagai ketua kelas.
Tapi sebagai teman.
Di saat yang sama, ponselku berbunyi dan detik berikutnya aku sudah membuka pesan yang baru saja masuk itu. Setelah membacanya aku segera bangkit dari dudukku dan segera pergi meninggal Nana sendirian.
Setidaknya itulah niat awalku, tapi sebelum kulakukan, ada yang harus kukatakan dulu kepada Nana.
“Dengar, Na. Sekarang gua mau izin buat cabut dari kelas ini, dan gua akan tetap lakuin itu biarpun lu ga ngizinin karena gua punya alasan yang penting. Tapi sebagai gantinya gua janjiin satu hal ke lu.”
Kuacungkan jempolku pada gadis pendek yang duduk di depanku, menatapku dengan bingung.
“Gua ga akan ngelukai Marina, apapun yang terjadi. Serahin semua ke gua!”
Kubalikkan badanku dan langsung berlari pergi menuju gedung sekolah.
“…mana mungkin gua bakal percaya sama lu, dasar sok keren.”
Tentu saja, saat itu aku sudah tidak bisa mendengar bisikan Nana itu.
Begitu juga tidak melihat senyumannya yang lebih langka daripada bunga raflesia di musim kemarau.
Yah, selalu ada harga yang harus dibayar untuk melanggar peraturan.
Diubah oleh bawanasi465 08-12-2014 22:08
0
Kutip
Balas