Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#1366
PART 57
Gw masih terdiam di selasar pintu sambil menatap sosoknya yang tengah duduk di ruang tamu bersama adik gw yang paling kecil. Tampak segaris senyuman keluar dari bibirnya. Senyum yang manis sekali. Hingga tak sadar gw dibuat melongo olehnya. Selama beberapa detik gw bengong, kemudian perlahan gw masuk ke dalam sambil menenteng sepatu.

“Kamu udah lama?” Tanya gw.

“Lumayan, ada setengah jam” Jawabnya.

“Sebentar ya, aku ke belakang dulu mau naruh sepatu.”

Kemudian gw meninggalkan dia ke belakang untuk menaruh sepatu di rak sepatu. Setibanya di dalam, gw bertemu dengan bidadari No.1 gw, lalu salim cium tangan. Beliau rupanya sedang menggoreng beberapa cemilan khas dari Sumedang. Diantaranya rangginang dan opak. Yang gw tahu, beliau menyiapkan cemilan itu untuk tamu istimewa gw. Siapa lagi kalau bukan Bunga.

“Ditungguin mba Bunga tuh kak.” Ujar beliau.

“Iya ma…kapan dia kesini?” Tanya gw.

“Tadi jam setengah 3, sebelum ashar. Kamu kemana aja sih? Jam segini baru pulang. Kasian mba Bunga udah nungguin lama”

Gw lalu melihat jam yang menempel di dinding ruang tengah, dan gw terkejut bukan main ketika waktu menunjukkan pukul 4 sore. Berarti Bunga bohong, dia nunggu gw bukan setengah jam, melainkan satu jam setengah. Segera gw cepat cepat ke toilet untuk cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, lalu menuju ruang tamu menghampiri Bunga.

“Kamu dari jam berapa disini?” Tanya gw lalu duduk di sebelahnya.

“Dari jam setengah tiga..” Jawabnya.

“Hemm berarti kamu nunggu aku bukan setengah jam dong. Tapi satu jam setengah..”

“Hehe, masa sih? Kayanya nggak selama itu deh.”

“Yee dasar! Ngapain aja tadi disini?” Tanya gw.

“Main aja sama Yasyfi, foto foto tadi aku sama dia. Lucu deh ade kamu itu. Udah ngerti cara berpose gimana, terus nunjukkin senyum centil gimana..haha” Jawabnya.

“Iya orang kamu yang ngajarin ya jelas bisa lah dia.”

“Haha…terus Yasyfi udah pinter ngomong. Tadi masa ngomongnya gini ‘Mba Bunga, Mba Bunga, Mba Bunga pacarnya Kaka Fajar ya? Emang pacaran itu gimana Mba Bunga? Emang pacaran mesti cewe sama cowo ya Mba?’. “

Gw tepok jidat tiga kali. Gw ga habis fikir dan terheran heran, masa iya anak umur dua taun setengah udah pinter ngomong begitu. Masa iya udah faham sama yang namanya pacar pacaran. Ya ampun, anak jaman sekarang pola fikirnya terlalu cepat berkembang. Terlalu cepat untuk menjadi dewasa (Emangnya gw udah dewasa?). Lalu gw menepuk jidat lagi.

“Terus kamu jawab apaan?” Tanya gw.

“Yaa aku ga bisa jawab yank, aku diem aja. Terus aku bilang ‘Mba Bunga ga tau dek, coba tanya aja sama Mama…” Jawabnya.

“Hah? Terus terus, dia nanya sama Mamanya gitu?”

“Iya, dia nanya ke mamanya sambil ngerengek rengek..”

Gw menepuk jidat sekali lagi bahkan berkali kali. Haduuh Bunga..Bunga… Ngomong sama anak kecil kenapa dia malah ikut ikutan polos begitu? Dia kan lebih dewasa, harusnya bisa ngasih jawaban yang cenderung mencegah si anak untuk tahu masalah orang dewasa (Sekali lagi, emangnya gw udah dewasa?). Bukan malah ngejawab suruh Tanya mama.

Lalu kami berdua diam saling tatap tatapan dan saling cengar cengir. Dia ngelirik, gw juga ikutan ngelirik. Dia nyengir, gw pun nggak mau kalah dan nyengir lebih lebar. Hingga tawa pun pecah diantara kami berdua membuat gaduh seisi rumah. Setelah puas tertawa, mendadak diam. Sementara otak bebel gw memikirkan sesuatu. Sepertinya ada yang aneh, dan sangat-sangat aneh.

“Yank?” Sapa gw.

“Ya..”

“Kita bukannya lagi marahan yaa?”

“Iya kamu bener. Kita kan lagi marahan.” Ujarnya sambil melongo.

“Terus kenapa bisa ketawa ketawa begini? Kan lagi marahan?”

“Aku juga nggak tau.”

“Bukannya seminggu ini kamu diemin aku? Itu tandanya kamu marah kan?” Tanya gw.

“Iya, emang aku marah sama kamu.”

“Loh tapi kok? Emm, terus sekarang udah nggak…”

Belum selesai kata kata gw terucap sempurna, tiba-tiba dia menaruh jari telunjuknya di bibir gw memberi isyarat kepada gw agar gw diam. Gw pun menuruti perintahnya. Tak lama kemudian dia membuka suara.

“Iya aku udah nggak marah sama kamu. Buat apa marah? Toh marah nggak nyelesain masalah. Toh marah juga ujung ujungnya bikin capek aja. Lagipula aku nggak bisa marah ke kamu. Apa untungnya aku marah ke kamu? Kamu udah biasa kayak gini. Aku udah faham sifat kamu gimana. Aku mikir positif aja, nanti juga kamu baik sendiri, nyadar sendiri.”

“Iyaa…” Ucap gw singkat.

“Damai yaa??” Ujarnya sambil menjulurkan jari kelingking mungilnya.

“Klik” Gw pun menyambutnya.

Akhirnya kami berdua berdamai lagi. Damai itu mudah kan? Gampang kan? Hanya melingkarkan jari kelingking sebagai simbolnya. Damai itu indah kan? Haha. Gw pun bisa bernafas lega dan tenang. Tak lama kemudian Bidadari No.1 gw datang membawa sepiring cemilan berupa opak dan rangginang yang baru selesai di goreng. Lalu beliau berkata, “Maaf ya mba Bunga, wayahna wae atuh ya soalnya Cuma ada ini doang”. Kemudian beliau kembali pamit ke belakang.

“Yank?” Tanya dia.

“Ya…”

“Kamu kemarin kenapa maen kabur aja?” Tanya dia sambil menggigit opak buatan nyokap.

“Engg….nggak apa apa kok. Cuma tiba tiba mules aja.”

“Beneran mules?”

“ii…iiya” Jawab gw gugup.

“Jangan bohong sama aku…Aku tau kok kamu bohong. Pasti ada apa apa. Ya kan?” Tanya dia dengan tatapan tajam.

“Emmm…Anu..”

“Apa?”

“Emmm….”

“Bunda ya?”

Deg! Mendadak jantung gw serasa berhenti setelah mendengar ucapannya. Gw nggak bisa ngomong apa apa dan gw pun ga tau harus memberikan penjelasan seperti apa.

“Hehe, nggak apa apa kok. Bunda emang gitu, cuma terlalu khawatir aja sama anaknya yang paling cantik ini. Lagian Bunda nggak marah, justru malah Bunda nanyain kamu terus. Kemana aja si Fajar nggak pernah ke rumah?”

“…..” Gw diam.

“Cuma salah faham kok. Aku juga udah ngomong ke bunda sebenernya masalahnya apa”

“Iya aku ngerti…” Ucap gw.

“Maafin Bunda ya. Lagi pula aku juga salah. Aku terlalu cengeng. Besok besok aku janji nggak cengeng lagi…”

Kemudian gw mendekatkan diri ke arahnya. Reflek gw sentuh pipinya dengan kedua tangan gw.

“Heh…siapa yang cengeng? Kamu nggak cengeng. Nangis itu manusiawi kok. Siapapun orang di dunia ini kalu dirinya merasa tersakiti pasti nangis. Spiderman aja nangis, Hulk Hogan pasti pernah nangis, Chuck Norris, Mad Dog, Undertaker, Yngwie Malmsteen, Slash, Jason Becker, Joe Satriani, Steve Vai, mereka pasti pernah nangis. Nabi pun juga nangis Bunga” Ujar gw.

“Apaan sih kamu. Masa sampe semuanya disebutin? Sekalian aja gitu presiden, menteri, anggota DPR, Gubernur, walikota, bupati, camat, lurah..”

“Heh, ngawur kamu mah. Tapi ada yang ketinggalan loh Bung…”

“Apanya?”

“Kades, RT, RW, Ibu ibu PKK, Ibu Ibu posyandu, marbot mushola,satpam, hansip, kang ojeg, kang gorengan, kang becak, pak jejen, pak cecep, pak asep, pak syuaeb……..”

Kemudian ketika asik menyebutkan satu persatu orang yang pernah nangis, tiba tiba Bidadari No.1 gw nyeletuk dari ruang tengah.

“Kamu ngapain Kak? Mau sensus penduduk?” Tanya beliau

“Nggak Ma, ini list orang orang yang mau aku sembelih”

“…………” Bunga bengong.

“…………” Bidadari No.1 melotot

Lalu gw pamit pada Bunga untuk ke belakang. Gw masuk kamar mengambil handuk lalu mandi jebar jebur. Sore itu gw emang mau nganter Bunga pulang, sekalian setor muka disana. Lagipula malam ini memang jadwalnya gw ngapel. Dan ketika gw selesai mandi, gw pun sadar kalau ternyata nanti malam adalah malam Jum’at!!
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.