Kaskus

Story

javieeAvatar border
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


Spoiler for RULES:


BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"


INTRO

Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional. emoticon-Frown. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.
Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.

Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.

Spoiler for INDEKS:


Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
manusia.baperanAvatar border
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
729.5K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
javieeAvatar border
TS
javiee
#1356
PART 56
Gw hempaskan seluruh badan ringkih ini ke atas kasur. Tak lama kemudian, gw bangkit lagi untuk duduk. Begitu saja berulang ulang, bangun-tidur-bangun-tidur mirip seperti lagu dari Alm. Mbah Surip. Hingga tak terasa malam sudah mulai larut. Dan fikiran gw masih terpaku pada persoalan yang itu itu saja.

Sebenarnya gw paling benci sama yang namanya salah faham. Memang posisi gw salah ketika gw mengantar Bunga pulang tempo hari. Pertama, Bunga pulang dalam keadaan abis nangis, gara gara di kunciin sama monyet betina. Kedua, ketika berada di depan rumahnya, gw ngeloyor pergi begitu saja tak menghiraukan Bundanya yang sedang nongkrong di depan rumah. Sehingga muncullah fikiran negatif dari beliau bahwa gw lah penyebab Bunga seperti itu.

“Makasih ya Jar, kali ini aku ngerasa bener bener nggak dihargain sama kamu...” Message from Bunga.

Lengkap lah sudah penderitaan gw malam itu. Satu masalah belum selesai, sekarang timbul lagi masalah baru. Kalau sudah begini, gw nggak bisa apa apa. Lalu gw ambil sebatang rokok, dan mulai membakarnya. Tindakan gw terbilang nekat, sebab inilah pertama kalinya gw merokok di dalam rumah.

“Jar?”

“Iya Ma...” sahut gw.

“Kok bau rokok sih dari kamar kamu? Kamu ngerokok?” Tanya beliau.

“Nggak ma!”

“Terus ngapain kamu di kamar?”

“Bakar kertas...”

Kemudian, ‘ceklek’ pintu kamar gw dibuka oleh beliau. Beliau terkejut hingga terbengong bengong, gw pun juga ikut bengong sementara rokok masih terselip di mulut gw.

“Astaghfirullahalaziim...Paak, Paak, ANAKMU NGEROKOK DI KAMAR NIH!!!”

“Apaan sih Ma??” Sahut Bokap kemudian datang ke kamar gw.

“(Habislah gue!!)” Ucap gw dalam hati.

Ya, tak perlu dijelaskan lagi kelanjutannya seperti apa. Yang pasti banyak piring beterbangan di langit langit rumah gw bak U.F.O. Dan sapu ijuk melayang dengan sendirinya mirip di film Harry Potter.

“)(!#*%&)(!”

......................
......................

Tepat satu minggu setelah kejadian itu, gw sama sekali belum bertemu Bunga. Jangankan bertemu, sms dan telefon gw pun tak pernah digubris olehnya. Mungkin kali ini dia benar benar marah sama gw. Dan mungkin kesalahan gw tak termaafkan. Selama itu pula lagi lagi gw harus merasakan yang namanya galau, gundah gulana, cemas, khawatir dan takut kehilangan.

“oi Jar...” Sapa Dedi.

“hmm”

“Asem banget muka lu?”

“Bodo...”

“Kayak tai kucing mencret asli!”

“Kampret lu!!”

“Kantin nyok” Ajak Dedi

Gw pun setuju dengan ajakan Dedi untuk ke kantin. Padahal sebentar lagi jam istirahat sudah mau habis. Dan benar saja, baru juga pantat ini mendarat di sebuah kursi, bel pun berbunyi pertanda istirahat telah usai. Namun gw dan Dedi tidak beranjak dari sana. Yap kita berdua bolos.

“Rokok nih…” Ujar Dedi sembari membanting sebungkus rokok.

“wiih…tumben lu?”

“haha, kebetulan lagi ada rejeki Jar.”

“Lu menang mincing lagi?” Tanya gw

“Kagak…”

“Terus apa? “

“Tadi pagi pagi buta gw ngojek. Nganterin orang ke Cibinong. Lumayan dapet gocap!” Ujarnya sambil nyengir.

“Rejeki ga kemana Ded…”

“Jadi gimana?” Tanya Dedi tiba tiba.

“Gimana apanya?” gw balik bertanya.

“Bunga…”

“Hah? Bunga?” Tanya gw heran.

“Iya dari kemarenan sms’in gw mulu nanyain lu”

“Nanyain apaan?”

“Ya nanyain lu lagi apa? Di sekolah ngapain aja? Terus pulang sekolah lu kemana? Sama siapa aja?” Ujarnya.

“Loh kok dia malah sms ke lu dah? Kenapa ga langsung ke gw? Udah seminggu ini gw didiemin sama dia”

“Emangnya kenapa lagi lu? Ada masalah?” Tanya dia.

“Sedikiit…”

Lalu gw pun menceritakan segala permasalahan gw dengan Dedi. Panjang lebar gw berbicara tentang problema yang tengah gw hadap sekarang. Sobat gw itu memang seorang pendengar yang baik, tak satupun kata kata gw dipotong olehnya apalagi menolak mentah mentah argument gw. Dan di akhir perbincangan, dia selalu memberikan solusi yang tepat dan masuk akal.

Namun sial, ketika sedang asik ngobrol sambil ngopi + merokok, tiba tiba ada salah satu guru yang berteriak memanggil kami berdua. Kami pun tertangkap basah membolos di kantin oleh Pak Ali sang guru BP berewokan.

Tak lama kemudian kami berdua sudah berada di tengah lapangan sambil bertelanjang dada. Sementara mulut kami disumpal oleh dua batang rokok sekaligus. Gw nggak tahu itu rokok apa yang pasti rasanya pahit, pedes, dan tengik.

“Lu sih Ded!!”

“Lah kok gw?”

“Lu kan yang ngajak gw!”

“Lah lu mau aja gw ajak!!” Timpal Dedi.

“Nih kalo sampe ortu gw dipanggil lagi, habislah gw…” Ujar gw.

“Slow bae Jar, udah kelas 3 nggak akan dikeluarin!!”

“Palelu bau menyan!! Ahh…”

“Haha, udah lah nikmatin aja nih Djinggo dua batang!” Ujar Dedi.

“Kampret lah…”

Otomatis kami berdua jadi bahan perhatian para cucunguk yang seliweran di lorong kelas. Saat itu pula bengkel sedang ramai oleh para cucunguk kelas dua yang tengah melaksanakan praktikum. Tak henti hentinya mereka menatap kami berdua dengan tatapan penuh penghinaan. Ingin rasanya gw teriak ke arah mereka : “Ngapain lo liat liat?? Gw bubut palelu!!”

“Jadi gimana??” Tanya gw.

“GImana apanya?”

“Kampret, urusan kita belum kelar nih!” Ujar gw.

“Oh…”

“Jadi gimana?” Tanya gw sekali lagi.

“Lu temuin dia Jar!”

“Kapan?”

“Ntar, malem jum’at kliwon!”

“Serius woi!”

“Ya sekarang lah balik sekolah”

“Oke!” Tutur gw mantap.

“Jangan lupa kata kata gw barusan Jar!”

“Sipp Ded! Oya, btw punggung lu keren juga tuh!” Ujar gw.

“Ada apaan emangnya?” Tanya dia.

“Panu Deed!! Panu!!”

“Sembarangan lu ini bukan panu!!” Ujarnya.

“Terus apaan?”

“Tato emping Jar…” Jawabnya polos.

“Buaahahahaha…!!”

Kami berdua tertawa ngakak, keras sekali sampai sampai dua batang rokok yang terselip di mulut kami terjatuh ke tanah.

“Woi siapa yang nyuruh ketawa!!” Bentak Pak Ali.
“Rokoknya pungut!!” Lanjut dia.

“Iya…iya Pak” Jawab kami berdua.

Setelah Pak Ali puas menonton wajah idiot kami berdua, akhirnya kami dibebaskan. Tak terasa lebih dari satu jam kami dijemur di tengah lapangan. Pastinya kaki pegel, bau matahari, dan bibir pecah pecah. Loh kok bibir pecah pecah? Tentu saja ini akibat menghisap dua batang rokok Djinggo sekaligus.

Dan benar kata Dedi, kita sudah kelas tiga dan kemungkinan di keluarkan dari sekolah pun kecil sekali. Pak Ali hanya memperingatkan kami berdua tanpa perlu memberi surat panggilan orang tua. Lalu kami pun masuk ke kelas masing masing.

Seperti biasa, pulang sekolah kami berdua nongkrong di sebuah warung daerah Padjadjaran untuk sekedar ngobrol sambil ngopi. Entah apa yang kami bicarakan saat itu, hingga waktu pun sudah menunjukkan pukul 3 sore, adzan Ashar sudah berkumandang di Mesjid seantero kota. Kami pun memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di rumah, gw dikejutkan dengan sepasang sepatu pantopel (?) tergeletak di teras depan. Gw mengenali sepatu itu, dan juga mengenali pemilik sepatu itu. Segera gw masuk ke dalam rumah, dan gw mendapati sepotong senyuman khas keluar dari sudut bibirnya.

“Bunga….?”





“Sebenernya ‘salah faham’ itu bukan masalah Jar. Tinggal lu jujur, dan lu jelasin kejadian sebenernya. Asalkan lu bisa dipercaya. Simpel!! Kecuali kalo lu emang nggak bisa dipercaya, jangankan ‘salah faham’, ‘bener faham’ pun bisa jadi masalah”

-DEDI-

Diubah oleh javiee 11-11-2014 01:26
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.