- Beranda
- Stories from the Heart
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"
...
TS
javiee
BUNGA "PERTAMA" DAN "TERAKHIR"

Spoiler for RULES:
INTRO
Perkenalkan, nama gw Raden Fajar Putro Mangkudiningrat Laksana...Bohong deng, kepanjangan...sebut aja gw Fajar. Tinggi 175 cm berat 58kg. bisa disebut kurus karena tinggi dan berat badan gw ga proposional.
. Gw ROCKER...!! Pastinya Rocker Kelaparan.Gw terlahir dari keluarga biasa saja yang serba "Cukup". dalam arti "cukup" buat beli rumah gedongan, "cukup" buat beli mobil Mewah sekelas Mercy. (ini jelas jelas bohong). yang pasti gw bersyukur dilahirkan dari keluarga ini.
Gw Anak pertama dari 3 bersaudara. Adik adik gw semuanya perempuan. Gw keturunan Janda alias Jawa Sunda. Bokap asli dari Jepara bumi Kartini. Tempatnya para pengrajin kayu yang terkenal di Nusantara bahkan diakui oleh Dunia. Tapi bokap gw bukan pengusaha mebel seperti kebanyakan orang Jepara. Nyokap gw asli Sumedang Kota yang terkenal dengan TAHU nya. Tapi wajahnya sama sekali nggak mirip tahu ya. Sunda tulen nan cantik jelita. Beliau bidadari gw nomer "1" di dunia ini.
Spoiler for INDEKS:
Spoiler for INDEKSII:
Diubah oleh javiee 06-04-2015 23:49
manusia.baperan dan 4 lainnya memberi reputasi
3
728.9K
2.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
javiee
#1338
PART 54
Tepat pada pukul 5 subuh, akhirnya pekerjaan gw selesai, lalu satu persatu para personil band yang baru menyelesaikan 1 shift recording pergi meninggalkan studio. Ya, beginilah kerjaan sampingan gw sebagai operator recording di sebuah studio di daerah Jakarta Barat. Kemudian gw turuni anak tangga menuju lantai dasar bermaksud untuk membuat segelas kopi hitam, tak lupa gw nyalakan dispenser terlebih dahulu agar air berubah menjadi panas karenanya. Kopi dan beberapa batang rokok siap menemani gw pagi itu.
“Do Bangun Do!!” Ucap gw sembari menggoyangkan tubuh sobat gw itu.
“Hemmm ngapa Jang?” Jawab dia setengah sadar.
“Ini Do nyalain Wi-Fi gimana? Gw mau pake dong.”
“Tinggal nyalain aja komputernya!” Ujarnya
“Gw ga tau password komputer admin Do. Ayolah tulungin gw”
“Wedus ganggu orang tidur aja koe!” gerutu dia
“Hehe..buruan darurat nih!!”
“Yaudah bentar”
“Emang lu mau ngapain?” Tanya dia
“Mau download aplikasi. Kebetulan kuota data gw abis.” Jawab gw.
“Oh, belom tidur lu?”
“Belom lah nanggung ntar sekalian mau balik ke Bogor gw.”
“Oke nih dah nyala coba lu konekin. Yauda gw lanjut molor ya. Ntar kalo lo mau balik, jangan lupa pager kunci”
“Sipp” Jawab gw singkat.
Tak perlu menunggu lama lagi akhirnya Wi-Fi studio sudah dihidupkan. Segera gw buka gadget baru gw dengan OS berlogo robot ijo. Pastinya bukan gadget mewah dan itupun gadget sejuta umat. Lalu gw mendownload beberapa aplikasi chatting yang sedang booming akhir akhir ini. Antara lain L*NE, WECH*T, INST*GR*M, P*TH, dan lain sebagainya. Sebenarnya gw enggan menginstal aplikasi tersebut di gadget gw, tapi karena sebuah tujuan maka gw install semuanya dan membuat akun di setiap aplikasi tersebut. Tentu saja hal ini gw lakukan untuk mencari ‘Seseorang’ yang sudah lama sekali menghilang entah kemana.
Dia, ya dia...
Gw mulai mencarinya dengan cara searching di socmed tersebut. Puluhan keyword telah gw masukkan ke kotak searching. Mulai dari nama aslinya, nama panggilannya, hingga nama samarannya sudah gw cari. Tapi justru yang muncul bukan dirinya, melainkan orang lain. Sungguh hal ini sama saja mencari sebuah jarum di tumpukan jerami, dan gw belum berhasil menemukannya.
Entah berapa lama gw berkutat dengan keyword itu hingga matahari sudah meninggi bersinar di ufuk timur. Hingga di ujung keputusasaan gw berhasil menemukannya. Tanpa banyak fikir lagi segera gw ‘add’ dan mengirimkan sebuah pesan padanya. Singkat, jelas, padat. Yang penting gw bisa menyampaikan sesuatu ke dia.
Lalu gw terdiam sejenak dan tak sengaja mata ini melirik ke arah kalender. Ternyata hari ini tepat tanggal 1November 2014. Sontak dalam hati pun gw berkata
“Argh...Gw benci November.....!!!”
.........................
.........................
.........................
Desember 2007
Bel pulang sekolah berbunyi. Tidak keras memang, tapi cukup membuat para cucunguk satu sekolahan riang gembira. Gw segera ke parkiran motor dan disitu Dedi sudah menunggu gw. Tak lain tak bukan dia pasti mau nebeng. Entah ini sudah keberapa kalinya dia nebeng sama gw semenjak hampir 2,5 tahun kita saling kenal.
“Oke Jar, lets go! Mau kemana nih kita?”
“Pulang” Jawab gw.
“Nggak nongkrong dulu nih?” Tanya dia.
“Kagak...”
“Mumpung terang nih kayanya ga bakal ujan”
“Kagak Ded..!”
“Terus mau kemane?”
“Ya pulang Begooo...!!”
“Pulang kemane?”
“Rahmatullah!! Puas lo!” Hardik gw.
“Amit amit Jar ngomong jangan sembarangn lo.”
Gw tidak menghiraukan perkataan Dedi lantas segera oper gigi 1 dan tancap gas. Hari ini cuacanya cukup bagus. Sebab sedari pagi tadi matahari tetap setia disinggasananya. Sama sekali tak diganggu awan hitam sedikitpun. Bisa dikatakan ini kemarau singkat di musim penghujan.
Ketika di tengah perjalanan, gw dikagetkan dengan puluhan polisi yang berdiri sigap di pinggir jalan. Sepertinya mereka sedang menggelar razia. Lantas gw panik sepanik paniknya. Bagaimana tidak, sebab memang gw belum memiliki SIM dan pajak motor pun belum dibayar. Gw pasrah ketika salah satu polisi memasang badan ke tengah jalan menyetop kami berdua. Perlahan motor pun mulai berhenti, tapi...
“Jar tancap Jar!!” Ujar Dedi.
“Tancap gimana?” Tanya gw
“Kabur...Buruan Gass!!”
Secara spontan gw langsung mengiyakan perkataan Dedi. Dan gas gw puter sampai mentok. Karena tahu gw akan melarikan diri, sebagian Polisi yang ada di depan kamiberdua langsung teriak teriak sambil mencegat gw. Serong kanan serong kiri dan akhirnya kami pun bisa lolos dari cegatan polisi.
“Buahahaha...” Dedi tertawa.
“Lu liat Jar tu polisi udah kayak nangkep ayam ajee..hahaha”
“Wkwkwk..kocak dah! Padahal gw dah pasrah kena tilang”
“Yah daripada musti ngasih 15rebu?”
“Ya iyalah keenakan mereka. Kalo 1 motor 15 rebu, trus yang ditilang 10 motor udah dapet berapa tuh dia?”
“300 rebu ya.”
“Bego ga bisa ngitung lu” Hardik gw
Tak lama akhirnya kita sampai di depan gang rumahnya Dedi. Dia pun lekas turun dari motor tak lupa mengajak gw untuk mampir ke rumahnya untuk sekedar ngopi. Namun gw tolak ajakannya secara halus, sebab memang gw sudah ada janji dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan janji dengan Bunga. Seperti biasa gw menunggunya di studio foto ditemani ocol yang sedang mendengarkan mp3 dari komputer. Kebetulan saat itu studio sedang sepi dan gw bisa leluasa selonjoran di sofa. Gw ambil sebatang rokok dari saku gw, dan ‘cekrek’ suara sayatan korek pun terdengar merdu.
Sesekali gw memandangi pintu gerbang sekolahnya berharap Bunga akan muncul dari sana. Dan akhirnya orang yang gw tunggu menampakkan diri dibalik gerbang itu. Dia terlihat cantik dari kejauhan hingga ada beberapa teman cowonya tertangkap mata sedang mengobrol dengan Bunga. Ya, dia memang selalu didekati cowo cowo satu sekolahan. Dia pernah cerita tentang satu teman sekelasnya yang selalu mendekatinya, Pernah suatu hari cowo itu mengajak Bunga untuk pulang bareng naik motor, tapi dia hanya menunjuk ke arah gw yang sedang duduk memperhatikan mereka dari studio foto. Seolah olah dia berkata “Maaf, cowok gw udah nunggu disana”.
“Udah lama?” Tanya dia
“Baru juga 10 menitan.”
“Yank...” panggil dia
“Hmmm...”
“Kamu bisa nggak sih nggak ngerokok di depan aku?”
“Loh emang kenapa? Kemaren kemaren nggak apa apa” Tanya gw heran.
“Aku nggak suka!!” Ujarnya sambil sedikit melotot.
Tiba tiba dia mengambil rokok yang terselip di tangan gw lalu menginjaknya.
“Mana lagi?”
“Apanya?”
“Itu di kantong kamu sini!”
Dia merebut paksa bungkus rokok dari kantong gw dan sudah pasti diinjak.
“Kok gitu? Kamu kenapa sih? PMS ya?” Tanya gw
“Kamu yang kenapa?” Dia balik bertanya
“Lah aku salah apaan?”
“Mikir aja sendiri!!”
“...”
“Au ah aku sebel sama kamu!” Dia berkata sambil ngeloyor pergi.
“Loh...Bung, mau kemana? Bunga..?”
Dia tidak menghiraukan gw lantas menyebrang jalan dan menyetop sebuah angkot. Masuklah dia kedalam dan angkot itupun beranjak pergi. Gw Cuma bisa bengong ketika dia sudah menghilang dari hadapan gw tanpa bisa gw mencegahnya. Dan gw sukses membuat dia marah hanya karena masalah sepele macam ini.
“Kejar Begoo!!” Ucap Ocol tiba tiba.
“Haa?”
“Iya lu kejar dia terus minta maaf sana gih! Mumpung belom jauh”
“Tapi dia marah banget sama gw Col”
“Udah sana kejar. Jangan bego dah...”
“Oke oke Col...Gw tinggal dulu ya.”
“Sipp Jar!”
Gw jalankan Jupi dengan kecepatan tinggi bermaksud untuk mengejar angkot yang ditumpanginya. Dan sekarang gw berada tepat di belakang angkot itu. Gw ikuti kemana angkot itu berjalan, dan terkadang angkot berhenti menaiki/menurunkan penumpang. Ketika angkot berhenti, gw pun ikut berhenti di belakangnya tanpa menyalip sedikitpun. Mata gw terus terkunci pada sosok gadis yang tengah ngambek, tak jarang pandangan kami saling bertemu menembus jendela angkot. Tapi dia hanya acuh begitu saja tak menghiraukan gw.
Selang beberapa menit gw dan angkot hampir tiba di depan komplek perumahan Bunga, dan gw tahu angkot pasti berhenti sebab bidadari ambekan akan turun disini. Lantas gw memikirkan kata kata yang tepat untuk menyampaikan maaf padanya. Namun setelah persis di depan gang komplek, angkot tidak memberikan tanda tanda untuk berhenti. Dan benar saja angkot tidak berhenti, terus berjalan pelan ke arah Cibinong yang membuat hati ini bertanya tanya..
“Mau kemana dia??”
“Do Bangun Do!!” Ucap gw sembari menggoyangkan tubuh sobat gw itu.
“Hemmm ngapa Jang?” Jawab dia setengah sadar.
“Ini Do nyalain Wi-Fi gimana? Gw mau pake dong.”
“Tinggal nyalain aja komputernya!” Ujarnya
“Gw ga tau password komputer admin Do. Ayolah tulungin gw”
“Wedus ganggu orang tidur aja koe!” gerutu dia
“Hehe..buruan darurat nih!!”
“Yaudah bentar”
“Emang lu mau ngapain?” Tanya dia
“Mau download aplikasi. Kebetulan kuota data gw abis.” Jawab gw.
“Oh, belom tidur lu?”
“Belom lah nanggung ntar sekalian mau balik ke Bogor gw.”
“Oke nih dah nyala coba lu konekin. Yauda gw lanjut molor ya. Ntar kalo lo mau balik, jangan lupa pager kunci”
“Sipp” Jawab gw singkat.
Tak perlu menunggu lama lagi akhirnya Wi-Fi studio sudah dihidupkan. Segera gw buka gadget baru gw dengan OS berlogo robot ijo. Pastinya bukan gadget mewah dan itupun gadget sejuta umat. Lalu gw mendownload beberapa aplikasi chatting yang sedang booming akhir akhir ini. Antara lain L*NE, WECH*T, INST*GR*M, P*TH, dan lain sebagainya. Sebenarnya gw enggan menginstal aplikasi tersebut di gadget gw, tapi karena sebuah tujuan maka gw install semuanya dan membuat akun di setiap aplikasi tersebut. Tentu saja hal ini gw lakukan untuk mencari ‘Seseorang’ yang sudah lama sekali menghilang entah kemana.
Dia, ya dia...
Gw mulai mencarinya dengan cara searching di socmed tersebut. Puluhan keyword telah gw masukkan ke kotak searching. Mulai dari nama aslinya, nama panggilannya, hingga nama samarannya sudah gw cari. Tapi justru yang muncul bukan dirinya, melainkan orang lain. Sungguh hal ini sama saja mencari sebuah jarum di tumpukan jerami, dan gw belum berhasil menemukannya.
Entah berapa lama gw berkutat dengan keyword itu hingga matahari sudah meninggi bersinar di ufuk timur. Hingga di ujung keputusasaan gw berhasil menemukannya. Tanpa banyak fikir lagi segera gw ‘add’ dan mengirimkan sebuah pesan padanya. Singkat, jelas, padat. Yang penting gw bisa menyampaikan sesuatu ke dia.
Lalu gw terdiam sejenak dan tak sengaja mata ini melirik ke arah kalender. Ternyata hari ini tepat tanggal 1November 2014. Sontak dalam hati pun gw berkata
“Argh...Gw benci November.....!!!”
.........................
.........................
.........................
Desember 2007
Bel pulang sekolah berbunyi. Tidak keras memang, tapi cukup membuat para cucunguk satu sekolahan riang gembira. Gw segera ke parkiran motor dan disitu Dedi sudah menunggu gw. Tak lain tak bukan dia pasti mau nebeng. Entah ini sudah keberapa kalinya dia nebeng sama gw semenjak hampir 2,5 tahun kita saling kenal.
“Oke Jar, lets go! Mau kemana nih kita?”
“Pulang” Jawab gw.
“Nggak nongkrong dulu nih?” Tanya dia.
“Kagak...”
“Mumpung terang nih kayanya ga bakal ujan”
“Kagak Ded..!”
“Terus mau kemane?”
“Ya pulang Begooo...!!”
“Pulang kemane?”
“Rahmatullah!! Puas lo!” Hardik gw.
“Amit amit Jar ngomong jangan sembarangn lo.”
Gw tidak menghiraukan perkataan Dedi lantas segera oper gigi 1 dan tancap gas. Hari ini cuacanya cukup bagus. Sebab sedari pagi tadi matahari tetap setia disinggasananya. Sama sekali tak diganggu awan hitam sedikitpun. Bisa dikatakan ini kemarau singkat di musim penghujan.
Ketika di tengah perjalanan, gw dikagetkan dengan puluhan polisi yang berdiri sigap di pinggir jalan. Sepertinya mereka sedang menggelar razia. Lantas gw panik sepanik paniknya. Bagaimana tidak, sebab memang gw belum memiliki SIM dan pajak motor pun belum dibayar. Gw pasrah ketika salah satu polisi memasang badan ke tengah jalan menyetop kami berdua. Perlahan motor pun mulai berhenti, tapi...
“Jar tancap Jar!!” Ujar Dedi.
“Tancap gimana?” Tanya gw
“Kabur...Buruan Gass!!”
Secara spontan gw langsung mengiyakan perkataan Dedi. Dan gas gw puter sampai mentok. Karena tahu gw akan melarikan diri, sebagian Polisi yang ada di depan kamiberdua langsung teriak teriak sambil mencegat gw. Serong kanan serong kiri dan akhirnya kami pun bisa lolos dari cegatan polisi.
“Buahahaha...” Dedi tertawa.
“Lu liat Jar tu polisi udah kayak nangkep ayam ajee..hahaha”
“Wkwkwk..kocak dah! Padahal gw dah pasrah kena tilang”
“Yah daripada musti ngasih 15rebu?”
“Ya iyalah keenakan mereka. Kalo 1 motor 15 rebu, trus yang ditilang 10 motor udah dapet berapa tuh dia?”
“300 rebu ya.”
“Bego ga bisa ngitung lu” Hardik gw
Tak lama akhirnya kita sampai di depan gang rumahnya Dedi. Dia pun lekas turun dari motor tak lupa mengajak gw untuk mampir ke rumahnya untuk sekedar ngopi. Namun gw tolak ajakannya secara halus, sebab memang gw sudah ada janji dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan janji dengan Bunga. Seperti biasa gw menunggunya di studio foto ditemani ocol yang sedang mendengarkan mp3 dari komputer. Kebetulan saat itu studio sedang sepi dan gw bisa leluasa selonjoran di sofa. Gw ambil sebatang rokok dari saku gw, dan ‘cekrek’ suara sayatan korek pun terdengar merdu.
Sesekali gw memandangi pintu gerbang sekolahnya berharap Bunga akan muncul dari sana. Dan akhirnya orang yang gw tunggu menampakkan diri dibalik gerbang itu. Dia terlihat cantik dari kejauhan hingga ada beberapa teman cowonya tertangkap mata sedang mengobrol dengan Bunga. Ya, dia memang selalu didekati cowo cowo satu sekolahan. Dia pernah cerita tentang satu teman sekelasnya yang selalu mendekatinya, Pernah suatu hari cowo itu mengajak Bunga untuk pulang bareng naik motor, tapi dia hanya menunjuk ke arah gw yang sedang duduk memperhatikan mereka dari studio foto. Seolah olah dia berkata “Maaf, cowok gw udah nunggu disana”.
“Udah lama?” Tanya dia
“Baru juga 10 menitan.”
“Yank...” panggil dia
“Hmmm...”
“Kamu bisa nggak sih nggak ngerokok di depan aku?”
“Loh emang kenapa? Kemaren kemaren nggak apa apa” Tanya gw heran.
“Aku nggak suka!!” Ujarnya sambil sedikit melotot.
Tiba tiba dia mengambil rokok yang terselip di tangan gw lalu menginjaknya.
“Mana lagi?”
“Apanya?”
“Itu di kantong kamu sini!”
Dia merebut paksa bungkus rokok dari kantong gw dan sudah pasti diinjak.
“Kok gitu? Kamu kenapa sih? PMS ya?” Tanya gw
“Kamu yang kenapa?” Dia balik bertanya
“Lah aku salah apaan?”
“Mikir aja sendiri!!”
“...”
“Au ah aku sebel sama kamu!” Dia berkata sambil ngeloyor pergi.
“Loh...Bung, mau kemana? Bunga..?”
Dia tidak menghiraukan gw lantas menyebrang jalan dan menyetop sebuah angkot. Masuklah dia kedalam dan angkot itupun beranjak pergi. Gw Cuma bisa bengong ketika dia sudah menghilang dari hadapan gw tanpa bisa gw mencegahnya. Dan gw sukses membuat dia marah hanya karena masalah sepele macam ini.
“Kejar Begoo!!” Ucap Ocol tiba tiba.
“Haa?”
“Iya lu kejar dia terus minta maaf sana gih! Mumpung belom jauh”
“Tapi dia marah banget sama gw Col”
“Udah sana kejar. Jangan bego dah...”
“Oke oke Col...Gw tinggal dulu ya.”
“Sipp Jar!”
Gw jalankan Jupi dengan kecepatan tinggi bermaksud untuk mengejar angkot yang ditumpanginya. Dan sekarang gw berada tepat di belakang angkot itu. Gw ikuti kemana angkot itu berjalan, dan terkadang angkot berhenti menaiki/menurunkan penumpang. Ketika angkot berhenti, gw pun ikut berhenti di belakangnya tanpa menyalip sedikitpun. Mata gw terus terkunci pada sosok gadis yang tengah ngambek, tak jarang pandangan kami saling bertemu menembus jendela angkot. Tapi dia hanya acuh begitu saja tak menghiraukan gw.
Selang beberapa menit gw dan angkot hampir tiba di depan komplek perumahan Bunga, dan gw tahu angkot pasti berhenti sebab bidadari ambekan akan turun disini. Lantas gw memikirkan kata kata yang tepat untuk menyampaikan maaf padanya. Namun setelah persis di depan gang komplek, angkot tidak memberikan tanda tanda untuk berhenti. Dan benar saja angkot tidak berhenti, terus berjalan pelan ke arah Cibinong yang membuat hati ini bertanya tanya..
“Mau kemana dia??”
Darpox memberi reputasi
1