Kaskus

Story

p03tr48un95uAvatar border
TS
p03tr48un95u
DEVI
Spoiler for COVER:


Prolog


Backsound: All Will Be Well by Gabe Dixon Band
DEVI



The new day dawns,
And I am practicing my purpose once again.
It is fresh and it is fruitful if I win but if I lose,
Oooooo I don’t know.

I will be tired but I will turn and I will go,
Only guessing til I get there then I’ll know,
Oh oh oh I will know.

All the children walking home past the factories
Could see the light that’s shining in my window as I write this song to you.
All the cars running fast along the interstate
Can feel the love that radiates
Illuminating what I know is true,

All will be well.
Even after all the promises you’ve broken to yourself,
All will be well.
You can ask me how but only time will tell.

The winter’s cold,
But the snow still lightly settles on the trees.
And a mess is still a moment I can seize until I know,
That all will be well.

Even though sometimes this is hard to tell,
And the fight is just as frustrating as hell
All will be well.

Keep it up and don’t give up
And chase your dreams and you will find
All in time.



Kalian pasti pernah merasakan, ketika kalian masih balita, ketika kalian masih membaur dengan secuil pengalaman di masa kecil, tiba-tiba ada orang dewasa yang bertanya,

“Nak, ketika besar nanti, kamu ingin jadi apa?”

Dan seketika kalian akan berujar penuh keluguan tentang keinginan kalian untuk jadi dokter, pilot, bahkan presiden sekalipun. Tapi satu hal yang membuat orang dewasa itu justru bingung ketika mendengar jawabanku, bahkan bisa membuat mereka bertanya balik. Satu hal yang kukatakan kepadanya,

“Aku ingin menjadi Insinyur Pertanian”.

Dan ketika aku beranjak dewasa, lagi-lagi keluguan masa kecil itu kembali terngiang. Namun hal itu hanya bisa dipendam dalam, bahkan nyaris tak tergapai. Tapi tahukah kalian? Dibalik semangat masa kecil yang dulu pernah kusampaikan kepada orang dewasa itu, aku masih menyimpan banyak impian lainnya di hidupku. Biarlah kuburan impian tentang Insinyur Pertanian itu tetap terbengkalai, aku masih mempunyai ‘harta karun’ lain yang harus kugali dan kugapai.

Maka sudah siapkah kalian untuk melihat impianku yang lain? Kuharap kalian siap. Karena perjalanan menuju kesana tidak semulus dan semudah yang dipikirkan.

INDEX

Spoiler for INDEX:


Thanks buat agan RyanFerd, silentgoessatas ijo-ijo dan abu-nya yang membuat ane jadi lebih semangat lagi buat update.

Spoiler for IJO-ABU:
Diubah oleh p03tr48un95u 06-11-2014 15:26
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
10.4K
71
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
p03tr48un95uAvatar border
TS
p03tr48un95u
#69
Bagian Ketigabelas
Bagian Ketigabelas

Dua bulan kemudian…

Sebuah sedan putih tampak memasuki rumah besar berpagar beton. Mobil itu berjalan pelan melewati bagian samping rumah berlantai Cone Blockhingga berhenti tepat disamping mobil-mobil yang lain. Seorang pria yang duduk di bangku setir keluar diikuti seorang wanita paruh baya berjilbab di bangku belakang.

“Tolong barang-barangnya dibawa ya pak” Ujarnya. Sang supir mengangguk mantap sambil berjalan menuju bagasi mobil dan mengambil semua barang-barangnya dengan cekatan.

“Baru pulang Bude??” Tanyaku yang saat itu langsung keluar dari dalam rumah dan ikut membantu pak Helmi, sang supir.

“Iya Vi. Kamu udah pulang sekolah? Gimana hari ini??” Tanya Bude.

“Baru aja pulang Bude. Tadi lumayan melelahkan. Banyak les yang harus diikuti.” Selaku.

Aku mengangkat beberapa sayuran melewati ruangan besar yang berisi perabotan mahal seperti kursi, lemari serta karpet bulu dan barang-barang elektronik, hingga akhirnya menghentikan langkah ketika sampai didapur. Kuletakkan semua barang belanjaan itu dan kembali ke kamarku.

Sudah dua bulan ini aku tinggal di rumah Pakde Arif, salah satu pamanku yang tinggal di Kediri. Pakde Arif merupakan orang yang terbilang sukses. Umurnya yang sudah setengah abad berbanding lurus dengan tingginya tingkat kesejahteraan beliau. Rumah yang besar, kebun tebu didepan rumahnya yang berhektar-hektar, mobil-mobil yang berjajar rapi di pelataran parkirnya yang panjang, dan status haji yang sudah dua kali dia sandang membuatku berpikir kalau dia seperti sudah sempurna sebagai manusia. Dan yang membuatku makin kagum dengannya adalah, semua ini dia dapatkan bukan secara instan, namun setelah melalui perjuangan yang menyakitkan selama berpuluh-puluh tahun. Aku memilih tinggal bersama pakde Arif dan bukan pakde Zul seperti rencana awal, karena rumah pakde Arif lebih dekat dengan daerah kota dibanding rumah pakde Zul.

Di kamar dengan luas 3 x 4 meter ini aku termenung. Kulihat dindingnya yang cerah tanpa satupun noda. Lantai keramik yang dingin dan licin membuatku tak pernah bosan menggerakkan kakiku di ubinnya. Sontak aku sadar dari lamunan karena mendengar suara seorang wanita memanggilku.

“Vi! Bisa jagain bentar nggak? Mbak mau ke belakang. Udah kebelet!” Ujar suara itu. Sosok seorang wanita langsung menyeruak masuk menerobos pintu kamarku sambil meringis memegangi perutnya.

“Oh, oke mbak Ika.” Ujarku. Segera aku beranjak menuju bagian depan rumah. Di halaman depan rumah terdapat sebuah Warung Telekomunikasi atau disebut juga Wartel. Pak De Arif memang telah lama membuka usaha ini. Mbak Ika adalah salah satu karyawan Pakde yang juga nge-kos di rumahnya. Kebun tebu, bisnis kosmetik, wartel, dan usaha kos-kosan. Sepertinya pundi-pundi yang dikumpulkan Pakde Arif dari usahanya itu bisa mempertahankan kesejahteraan keluarga serta anak cucunya hinga tujuh turunan.

Ketika sedang asyik menjaga wartel, mendadak telepon didepanku berbunyi. Segera kuangkat dan tak lama terdengar suara seseorang yang sepertinya kukenal.

“Halo, dengan Devi?” tanyanya. Aku masih mengira-ngira suara siapa diseberang telepon.

“Emm, iya saya sendiri. Ini siapa ya??”

“Hooh, cah iki! Aku Rani. Teman sekelas kamu!” Ucapnya dengan gaya nyeleneh. Sontak aku terkejut mendapati teman sekelasku menelepon ke nomor wartel.

“Oh, kamu Ran. Sori, sori. Hehe. Ada apa Ran?”

“Vi, sore ni kita jalan-jalan yuk ke alun-alun. Kan si Apri ulang tahun. Dia mau nraktir kita di bakso solo dekat alun-alun. Kamu ikut ya?” Tanyanya penuh semangat.

“Jam berapa Ran? Agak sorean dikit ya, soalnya sekarang aku masih jaga wartel.” Ujarku tak kalah semangat.

“Jam 4-an lah. Bisa kan? Jangan bilang kamu nggak boleh keluar sama pakde mu.” Ucap Rani seakan-akan tau dengan kendala yang akan kuhadapi.

“Ah, tentang aja kalo itu. Oke lah, jam 4. Ngumpul dimana??”

“Di rumahku aja. Ada Indro sama Titin juga.”

“Oke, Ran. Sampai ketemu sore nanti.” Ucapku sambil tersenyum kecil.

***kaskus-image***


“Ran, aku pulang sekarang ya.” timpalku dengan raut muka cemas. Tak henti aku memperhatikan jam tangan kecil di tangan kiriku. Sudah hampir pukul 6. Langit disekitarku sudah mulai gelap. Jalanan sudah mulai gemerlap. Keriuhan pun menghiasi alun-alun tempat kami bercengkrama. Ada beberapa teman sekelasku disini, termasuk si Apri yang menjadi “tukang bandar” makanan yang kami pesan.

“Ntar aja Vi. Kamu kayak anak pingitan aja nggak boleh pulang malam.” Ujar Rani sambil menyeruput es teh.

“Masalahnya aku bisa dimarahi kalau terlambat pulang.” Ujarku. Tak henti aku menghela napas panjang. Temanku yang lain malah lebih mendukung ucapan Rani. Aku hanya bisa pasrah jika nanti diceramahi Pakde dan Bude. Toh, sangat jarang aku keluar rumah. Kehidupanku di Kediri banyak dihabiskan di sekolah, rumah, wartel, rumah, kamar, sekolah, selalu begitu setiap hari. Sebagai wanita yang cepat bosan, sudah pasti hal monoton itu membuatku gila. Dan malam itu kami melanjutkan kebersamaan kami hingga malam semakin larut, dan amat larut tanpa kusadari.

***kaskus-image***


Tuk… tuk… tuk…

Suara sepatu terdengar menggema diantara ramainya bunyi jangkrik. Sesekali beberapa anjing liar yang melolong membuatku makin mempercepat langkahku. Baru beberapa detik yang lalu pria berkulit putih dan bertubuh jangkung itu menanyakan apakah aku berani berjalan sendiri, dan aku mengangguk. Seharusnya aku mengiyakan tawarannya untuk mengantar hingga gerbang rumah. Namun Pakde dan Bude pasti akan mendampratku dan berpikir kalau aku berpacaran dengan pria jangkung itu.

“Tinggal beberapa meter lagi, Vi.” Ujarku berbicara sendiri. Sesampainya didepan gerbang, aku menghentikan langkah dan tertegun.

“Sial!” Seruku setengah berbisik.

Gerbang besi setinggi 3 meter itu sudah tertutup rapat. Teras rumah sudah gelap, dan wartel juga sudah ditutup. Aku sontak melihat jam tangan kulitku dan langsung menepuk jidat.

“Haduh! Pantesan, udah jam setengah sepuluh!” Seruku lagi, dengan setengah berbisik. Sebenarnya aku bisa saja mengetuk pagar dan memanggil mbak Ika atau penghuni kosan lain, atau pak Helmi sang supir, tapi pasti bakal tertangkap basah dengan Pakde atau Bude seperti sebelumnya. Mungkin karena kehabisan akal, entah kenapa tiba-tiba terlintas ide gila untuk memanjat pagar kokoh setinggi tiga meter itu.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.