- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1509
PART 78
2 hari setelah pemakaman Reza.
Akhirnya segala upacara wisuda gue dan Anin berakhir. Gue merasa gak bisa sebahagia orang-orang lain, karena biar gimanapun, kami berdua masih dirundung duka atas kepergian Reza. Orang tua gue dan orang tua Anin hadir lengkap di wisuda kami. Satu hal yang menjadi perhatian gue adalah waktu itu kali pertama orang tua gue dan orang tua Anin bertemu. Gue dan Anin memandangi orang tua kami berdua sambil senyum-senyum, sesekali gue menyikut Anin dan menunjuk ke arah orang tua kami yang sedang ngobrol pake gerakan kepala.
Gue memandangi Anin yang hari wisuda itu tampil sangat cantik, dengan kebaya berwarna hijau tosca yang cocok dengan kulitnya yang putih. Rambutnya yang cokelat kemerahan kali itu disanggul dengan model apaan gue gak ngerti. Pastinya dia pake high heels yang bikin tingginya melebihi tinggi gue. Wisuda itu gue pake jas, dan dasi. Di dalem kantong jas, sengaja gue selipkan kantong plastik yang gue lipet kecil-kecil.
Kantong plastik itu gue gunakan untuk tempat bunga-bunga yang memang gue perkirakan akan kami terima. Eh bener aja, hari wisuda itu Anin dapet bunga ada kali 25 ikat. Mending kalo ikatannya kecil-kecil ya, ini ada bunga segede kepala juga. Banyak fansnya nih cewek gue satu ini. Sementara gue cuma dapet belasan doang.
Sambil kerepotan bawa bunga itu gue dan Anin diseret sana-sini oleh temen-temen yang menuntut foto bareng. Panasnya bukan main. Bangga sih dimintain foto sana sini, tapi kalo sama temen-temen cowok, gue curiga mereka cuma mau foto sama Anin doang, gak sama guenya. Di sela-sela meladeni obrolan dan sesi foto bareng temen-temen itu dari kejauhan gue liat Tami dateng, dan langsung menyerbu kearah gerombolan tempat gue berada.
Tami kemudian menyerahkan seikat bunga berwarna kuning ke gue, dan gue terima sambil cengengesan.
Gue memperhatikan Tami yang berjalan menuju ke tempat Anin berada, kemudian mereka berdua saling menyapa dengan heboh. Mereka berpelukan, cipika-cipiki dan kemudian Anin menggandeng Tami menuju ke arah gue. Gue cengengesan.
Setelah itu gue mencari orang tua gue dan orang tua Anin, sambil nanyain abis ini rencananya mau kemana. Ternyata mereka berempat merencanakan makan siang bareng, pastinya bareng gue dan Anin sekalian. Gue mencari Anin.
Gue menoleh ke Tami yang dari tadi ngobrol dengan beberapa temen sekampus.
Kami berdua pun meninggalkan Tami di disitu. Beberapa langkah ke depan, gue menoleh ke belakang, dan melihat Tami masih memandangi kami berdua dengan senyum sedih.
2 hari setelah pemakaman Reza.
Akhirnya segala upacara wisuda gue dan Anin berakhir. Gue merasa gak bisa sebahagia orang-orang lain, karena biar gimanapun, kami berdua masih dirundung duka atas kepergian Reza. Orang tua gue dan orang tua Anin hadir lengkap di wisuda kami. Satu hal yang menjadi perhatian gue adalah waktu itu kali pertama orang tua gue dan orang tua Anin bertemu. Gue dan Anin memandangi orang tua kami berdua sambil senyum-senyum, sesekali gue menyikut Anin dan menunjuk ke arah orang tua kami yang sedang ngobrol pake gerakan kepala.
Gue memandangi Anin yang hari wisuda itu tampil sangat cantik, dengan kebaya berwarna hijau tosca yang cocok dengan kulitnya yang putih. Rambutnya yang cokelat kemerahan kali itu disanggul dengan model apaan gue gak ngerti. Pastinya dia pake high heels yang bikin tingginya melebihi tinggi gue. Wisuda itu gue pake jas, dan dasi. Di dalem kantong jas, sengaja gue selipkan kantong plastik yang gue lipet kecil-kecil.
Kantong plastik itu gue gunakan untuk tempat bunga-bunga yang memang gue perkirakan akan kami terima. Eh bener aja, hari wisuda itu Anin dapet bunga ada kali 25 ikat. Mending kalo ikatannya kecil-kecil ya, ini ada bunga segede kepala juga. Banyak fansnya nih cewek gue satu ini. Sementara gue cuma dapet belasan doang.
Sambil kerepotan bawa bunga itu gue dan Anin diseret sana-sini oleh temen-temen yang menuntut foto bareng. Panasnya bukan main. Bangga sih dimintain foto sana sini, tapi kalo sama temen-temen cowok, gue curiga mereka cuma mau foto sama Anin doang, gak sama guenya. Di sela-sela meladeni obrolan dan sesi foto bareng temen-temen itu dari kejauhan gue liat Tami dateng, dan langsung menyerbu kearah gerombolan tempat gue berada.
Quote:
Tami kemudian menyerahkan seikat bunga berwarna kuning ke gue, dan gue terima sambil cengengesan.
Quote:
Gue memperhatikan Tami yang berjalan menuju ke tempat Anin berada, kemudian mereka berdua saling menyapa dengan heboh. Mereka berpelukan, cipika-cipiki dan kemudian Anin menggandeng Tami menuju ke arah gue. Gue cengengesan.
Quote:
Setelah itu gue mencari orang tua gue dan orang tua Anin, sambil nanyain abis ini rencananya mau kemana. Ternyata mereka berempat merencanakan makan siang bareng, pastinya bareng gue dan Anin sekalian. Gue mencari Anin.
Quote:
Gue menoleh ke Tami yang dari tadi ngobrol dengan beberapa temen sekampus.
Quote:
Kami berdua pun meninggalkan Tami di disitu. Beberapa langkah ke depan, gue menoleh ke belakang, dan melihat Tami masih memandangi kami berdua dengan senyum sedih.
Diubah oleh jayanagari 06-11-2014 23:12
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: tapiiiiirrrrrr, happy graduation ya ganteeeeeeng!
: iyaaa, doain aja gue cepet sidang dah. Bosen juga gak lulus-lulus, lagian lo nya udah lulus duluan ninggalin gue. Jadi gak ada yang bikin semangat gue lagi deh. 
: emangnya, selama ini gue yang bikin elo semangat?
: eh Anin mana?
: dek, mungut darimana nih anak cumi?
: ah elo mentang-mentang udah lulus sekarang nyia-nyiain gue. Cukup tau ajaaaa.
: mau makan dimana mas?
: di lubuk hatimu yang terdalam.
: ditanyain serius kok ngaco!
: lama-lama kayak hutan dek kamarmu.