- Beranda
- The Lounge
KOMODO ADVENTURIDE, 2 RIDERS, 2 BIKES, 4,700 KM
...
TS
mnshahensah
KOMODO ADVENTURIDE, 2 RIDERS, 2 BIKES, 4,700 KM
Cerita petualangan kami ke wilayah timur Indonesia, Pulau Komodo dan sekitarnya
INDEX UPDATE
Prolog
Wacana, ya perjalanan kami ini awalnya hanya sebatas wacana yang hadir disela obrolan ketika makan siang sekitar bulan Oktober 2012. Perjalanan ini akan saya lakukan bersama teman satu kantor saya, Ayal, perjalanan yang kami lakukan karena penasaran, ya penasaran dengan keindahan Pulau Komodo yang digadang-gadang menjadi salah satu keajaiban dunia ini.
Kami berencana untuk melakukan perjalan sampai ke danau Kelimutu pulau Flores, kalau ditarik garis lurus sekitar 2300 km dari kota Jakarta. Well jaraknya lumayan jauh, tapi kalau tidak dicoba ya kita tidak akan pernah tahu apakah kita bisa melewati tantangan ini. Kami yakinkan diri kami berdua bahwa kami mampu untuk kesana walaupun kami belum pernah menempuh jarak sejauh itu menggunakan sepeda motor.
Day 1 (18 Juni 2013) Jakarta – Solo
Rencana awalnya kami akan berangkat tanggal 17 Juni 2013, namun karena ada sesuatu dan lain hal perjalanan kami undur menjadi 18 Juni 2013 subuh. Kami berdua menginap di kantor sehari sebelumnya agar bisa berangkat lebih awal dan terhindar akan kemacetan jalur pantura.

Sekitar pukul 4 pagi kami bersiap berangkat dari kantor di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, diawali dengan doa agar perjalanan kami lancar. Kami menempuh rute Kalimalang menuju Cikampek. Keadaan jalan yang sepi membuat kami bisa memacu kendaraan kami, namun tidak lupa untuk tetap waspada dengan truk dan bus malam yang seringkali lalai dan tidak sadar kalau ada motor di sekitar mereka, disini saya baru sadar kalau klakson saya tidak berfungsi. Cukup bahaya karena saya tidak bisa memberi isyarat ke pengemudi lain ketika hendak mendahului.
Pukul 5.30 kami istirahat sejenak di daerah Karawang sembari salat subuh di salah satu SPBU. Ya ketika mengendarai sepeda motor usahakan agar selalu break ketika sudah menempuh jarak 100 km atau 2 jam perjalanan.

Perjalanan kami lanjutkan dengan keadaan jalan yang lowong namun tetap harus waspada dengan kondisi jalanan yang banyak lubang dan perbaikan jalan. Rasanya tidak asing di telinga kita, setiap tahun sebelum lebaran kondisi jalur Pantura bisa dipastikan selalu rusak apalagi sebelum lebaran. Ya sebagai warga Negara yang baik kita cuma bisa pasrah toh. Nikmati saja perjalanan daripada pusing mikirin jalan yang rusak terus ini. Hahaha.
Tidak terasa kami sudah tiba di kota Indramayu, cacing di perut sudah bersorak meminta untuk diisi, kemudian kami merapat ke salah satu SPBU sekalian mengisi bahan bakar. Setelah sarapan saya melihat di seberang SPBU tersebut terdapat bengkel, tanpa pikir panjang saya langsung menuju bengkel tersebut untuk memperbaiki klakson motor saya. Sedikit trauma karena sebelumnya saya hampir kegencet truk yang tidak sadar akan keberadaan saya dan ketika tanpa klakson ya hanya bisa pasrah.
Pukul 8.45 motor saya selesai diperbaiki dengan target kota Semarang untuk makan siang. Namun target tinggal target ketika beberapa kali kami terhambat perbaikan jalan dan antrian di beberapa lokasi. Beberapa jembatan juga terlihat berlubang dan sedang dilakukan perbaikan. Kami berharap semoga selesai sebelum lebaran agar arus mudik lancar.
Pukul 13.00 kami tiba di daerah Pekalongan, karena perut tidak bisa diajak kerjasama kami memutuskan untuk makan siang di Bebek Pak Slamet. Kami beristirahat cukup lama disini untuk menurunkan suhu badan karena panasnya jalur pantura.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Semarang dengan cuaca yang sangat panas. Memasuki daerah Batang tiba-tiba turun hujan deras, langsung kami menggunakan jas hujan. Hujan intensitas tinggi tersebut tidak begitu lama, di salah satu jalur menurun Ayal berteriak,
“Pelangi.. Pelangi!!,”
Saya malah bingung dimana tuh pelangi, yawes saya stop saja, ternyata bener ada di depan tuh pelangi, emang ya kalau anak foto lebih jago melihat momen, kalau saya sih jago, jago minta difoto. Hehehe

Dalam hati saya hanya bergumam, “Terimakasih Tuhan kau beri hamba kesempatan untuk melihat keindahan ciptaanmu,” hal ini berkali-kali saya ucapkan dalam perjalanan ini. Apa yang membuat saya selalu berucap seperti itu nanti akan saya ceritakan.
Sekitar pukul 16.15 kami baru masuk kota Semarang, lagi-lagi terhalang macet karena perbaikan jalan dan kepadatan lalu lintas sepulang kerja. Saya mampir sejenak menemui orang tua saya yang lagi ditugaskan di Semarang, sungkem minta restu.
Target awal pada hari ini harusnya ke Tawangmangu, namun dikarenakan lelah dan lagi-lagi kami ketemu kepadatan dari arah Semarang ke Solo, tujuan hari ini kami ubah ke kota Solo, lebih baik kami istirahat karena perjalanan masih panjang.

Akhirnya kami tiba di kota Solo pada pukul 20.00, setelah berputar sedikit kami memutuskan untuk menginap di hotel Puspita, hotel beraksitektur lampau dengan fasilitas lengkap untuk ukuran hotel budget. Setelah membereskan barang-barang, kami parkir dan kunci motor dengan rantai biar aman.

Karena sudah kadung lapar tanpa mandi kami menyeberang jalan untuk mencari makan dan memutuskan makan di warung lesehan Bu Kus, di warung ini tersedia berbagai nasi jenis nasi goreng, saya memutuskan untuk memesan Nasgor Mawut, sedangkan Ayal memesan Nasi Gongsong ditambah Capcay. Kami kelaparan ternyata, dalam sekejap makanan tersebut sudah pindah ke perut kami. Oia Nasgor Mawut adalah Nasi Goreng yang dicampur dengan Mie Goreng. Setelah kenyang kami kembali ke hotel kemudian mandi. Tidur lelap dan bermimpi apa yang akan kami hadapi besok dalam petualangan kami.

Tunggu kelanjutannya ya..

biar semangat dong 
INDEX UPDATE
Spoiler for INDEX UPDATE:
Prolog
Wacana, ya perjalanan kami ini awalnya hanya sebatas wacana yang hadir disela obrolan ketika makan siang sekitar bulan Oktober 2012. Perjalanan ini akan saya lakukan bersama teman satu kantor saya, Ayal, perjalanan yang kami lakukan karena penasaran, ya penasaran dengan keindahan Pulau Komodo yang digadang-gadang menjadi salah satu keajaiban dunia ini.
Kami berencana untuk melakukan perjalan sampai ke danau Kelimutu pulau Flores, kalau ditarik garis lurus sekitar 2300 km dari kota Jakarta. Well jaraknya lumayan jauh, tapi kalau tidak dicoba ya kita tidak akan pernah tahu apakah kita bisa melewati tantangan ini. Kami yakinkan diri kami berdua bahwa kami mampu untuk kesana walaupun kami belum pernah menempuh jarak sejauh itu menggunakan sepeda motor.
Day 1 (18 Juni 2013) Jakarta – Solo
Rencana awalnya kami akan berangkat tanggal 17 Juni 2013, namun karena ada sesuatu dan lain hal perjalanan kami undur menjadi 18 Juni 2013 subuh. Kami berdua menginap di kantor sehari sebelumnya agar bisa berangkat lebih awal dan terhindar akan kemacetan jalur pantura.
Sekitar pukul 4 pagi kami bersiap berangkat dari kantor di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, diawali dengan doa agar perjalanan kami lancar. Kami menempuh rute Kalimalang menuju Cikampek. Keadaan jalan yang sepi membuat kami bisa memacu kendaraan kami, namun tidak lupa untuk tetap waspada dengan truk dan bus malam yang seringkali lalai dan tidak sadar kalau ada motor di sekitar mereka, disini saya baru sadar kalau klakson saya tidak berfungsi. Cukup bahaya karena saya tidak bisa memberi isyarat ke pengemudi lain ketika hendak mendahului.
Pukul 5.30 kami istirahat sejenak di daerah Karawang sembari salat subuh di salah satu SPBU. Ya ketika mengendarai sepeda motor usahakan agar selalu break ketika sudah menempuh jarak 100 km atau 2 jam perjalanan.

Perjalanan kami lanjutkan dengan keadaan jalan yang lowong namun tetap harus waspada dengan kondisi jalanan yang banyak lubang dan perbaikan jalan. Rasanya tidak asing di telinga kita, setiap tahun sebelum lebaran kondisi jalur Pantura bisa dipastikan selalu rusak apalagi sebelum lebaran. Ya sebagai warga Negara yang baik kita cuma bisa pasrah toh. Nikmati saja perjalanan daripada pusing mikirin jalan yang rusak terus ini. Hahaha.
Tidak terasa kami sudah tiba di kota Indramayu, cacing di perut sudah bersorak meminta untuk diisi, kemudian kami merapat ke salah satu SPBU sekalian mengisi bahan bakar. Setelah sarapan saya melihat di seberang SPBU tersebut terdapat bengkel, tanpa pikir panjang saya langsung menuju bengkel tersebut untuk memperbaiki klakson motor saya. Sedikit trauma karena sebelumnya saya hampir kegencet truk yang tidak sadar akan keberadaan saya dan ketika tanpa klakson ya hanya bisa pasrah.
Pukul 8.45 motor saya selesai diperbaiki dengan target kota Semarang untuk makan siang. Namun target tinggal target ketika beberapa kali kami terhambat perbaikan jalan dan antrian di beberapa lokasi. Beberapa jembatan juga terlihat berlubang dan sedang dilakukan perbaikan. Kami berharap semoga selesai sebelum lebaran agar arus mudik lancar.
Pukul 13.00 kami tiba di daerah Pekalongan, karena perut tidak bisa diajak kerjasama kami memutuskan untuk makan siang di Bebek Pak Slamet. Kami beristirahat cukup lama disini untuk menurunkan suhu badan karena panasnya jalur pantura.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Semarang dengan cuaca yang sangat panas. Memasuki daerah Batang tiba-tiba turun hujan deras, langsung kami menggunakan jas hujan. Hujan intensitas tinggi tersebut tidak begitu lama, di salah satu jalur menurun Ayal berteriak,
“Pelangi.. Pelangi!!,”
Saya malah bingung dimana tuh pelangi, yawes saya stop saja, ternyata bener ada di depan tuh pelangi, emang ya kalau anak foto lebih jago melihat momen, kalau saya sih jago, jago minta difoto. Hehehe

Dalam hati saya hanya bergumam, “Terimakasih Tuhan kau beri hamba kesempatan untuk melihat keindahan ciptaanmu,” hal ini berkali-kali saya ucapkan dalam perjalanan ini. Apa yang membuat saya selalu berucap seperti itu nanti akan saya ceritakan.
Sekitar pukul 16.15 kami baru masuk kota Semarang, lagi-lagi terhalang macet karena perbaikan jalan dan kepadatan lalu lintas sepulang kerja. Saya mampir sejenak menemui orang tua saya yang lagi ditugaskan di Semarang, sungkem minta restu.
Target awal pada hari ini harusnya ke Tawangmangu, namun dikarenakan lelah dan lagi-lagi kami ketemu kepadatan dari arah Semarang ke Solo, tujuan hari ini kami ubah ke kota Solo, lebih baik kami istirahat karena perjalanan masih panjang.
Akhirnya kami tiba di kota Solo pada pukul 20.00, setelah berputar sedikit kami memutuskan untuk menginap di hotel Puspita, hotel beraksitektur lampau dengan fasilitas lengkap untuk ukuran hotel budget. Setelah membereskan barang-barang, kami parkir dan kunci motor dengan rantai biar aman.
Karena sudah kadung lapar tanpa mandi kami menyeberang jalan untuk mencari makan dan memutuskan makan di warung lesehan Bu Kus, di warung ini tersedia berbagai nasi jenis nasi goreng, saya memutuskan untuk memesan Nasgor Mawut, sedangkan Ayal memesan Nasi Gongsong ditambah Capcay. Kami kelaparan ternyata, dalam sekejap makanan tersebut sudah pindah ke perut kami. Oia Nasgor Mawut adalah Nasi Goreng yang dicampur dengan Mie Goreng. Setelah kenyang kami kembali ke hotel kemudian mandi. Tidur lelap dan bermimpi apa yang akan kami hadapi besok dalam petualangan kami.
Tunggu kelanjutannya ya..

biar semangat dong 
Diubah oleh mnshahensah 05-11-2014 15:07
0
15K
139
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mnshahensah
#60
NEKAT? KENAPA TIDAK! | KOMODO ADVENTURIDE, 2 RIDERS, 2 BIKES, 4,700 KM
Day 3 (20 Juni 2013) Denpasar – Mataram – Sumbawa Besar
![kaskus-image]()
Sembari menyantap makanan malam itu saya berpikir, kok ini perjalanan jadi makin nekat yah. Gak sesuai rencana. Motor dalam keadaan rusak tak masalah buat jalan. Bayangkan stang dan segitiga bengkok kok masih nekat jalan lebih 200km. Ternyata tidak cukup sampai disitu kenekatan kami. Biasa partnerku ini mengajak nekat lagi ke pelabuhan Padang Bai. Ya pelabuhan yang akan mengantarkan kami ke pulau selanjutnya.
Tapi bukannya motor saya masih berantakan yah. Hmm. Ayal sih bilang hanya satu jam saja hanya 40 km saja dan kita bisa menghemat biaya penginapan karena bisa menginap di kapal malam ini. Ide yang cukup fantastis, lumayan bisa hemat. Yowis jadi BoNek lagi dah. Basmalah. Akhirnya motor kami arahkan menuju ke pelabuhan Padang Bai. Jalanan kosong dan lurus serta sepi menjadi teman kami malam itu. Tepat pukul 2.00 malam kami tiba ke pelabuhan, setelah membayar biaya penyeberangan (+/- Rp 120.000,- maaf gak ada foto karcisnya, sudah hilang. Huhuhu) kami masuk ke kapal.
![kaskus-image]()
Dasar rejeki anak saleh ya, kami mendapatkan kapal yang super mewah bahkan untuk jalur penyeberangan Merak-Bakauheni saja saya tidak pernah menemukan kapal seperti ini. Pas sekali untuk kami yang ingin tidur nyenyak setelah hampir 18 jam di jalan. Suasana kapal yang kosong dan sofa yang nyaman bagaikan kamar hotel bintang 5 untuk kami saat itu. Sangat pas untuk memejamkan mata selama lebih kurang 4 jam penyeberangan malam itu. Pasang tank bag sebagai bantal molor dah sampai pagi. Nikmat
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Kami sangat terlelap malam itu, bersyukurnya tidak ada yang iseng untuk mengambil barang bawaan kami, saya rasa kalau ada yang ambil juga saya tidak sadar karena sudah terlalu nyenyak tidurnya. Jangan ditiru. Hehehe.
Tidak terasa sudah pagi dan kapal mulai merapat ke pulau Lombok tepatnya di pelabuhan Lembar, girang bukan kepalang. Maklum anak baru suka motoran jadi gini rada norak. :P
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Kami sempat berbincang-bincang dengan salah satu pengemudi truk yang akan menuju ke pulau Flores, bertanya tentang keadaan jalan dan banyak hal. Hal inilah yang tidak akan ditemui ketika kita menggunakan moda transportasi udara. Banyak teman baru di jalan bung. Kami juga membagikan stiker #komodoadventuride dan langsung dipasang di truk beliau.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Pukul 07.00 kami tiba di pulau Lombok, betapa senang hati ini menginjakkan ke pulau yang baru lagi. Alhamdulillah, ucapan rasa syukur tak henti saya panjatkan. Motor kami arahkan menuju kota Mataram, hari ini saya berniat untuk beristirahat dan memperbaiki motor yang kemarin sempat amburadul karena terjatuh di Probolinggo. Jarak pelabuhan Lembar ke kota Mataram tidak begitu jauh, hanya 30 km, namun kita harus ekstra hati-hati karena banyak pengendara local yang menggunakan sepeda motor sedikit sembrono, berpindah lajur tanpa menggunakan lampu sein, tidak melihat kanan atau kiri ketika berbelok, bahkan mengendarai motor di tengah jalan, harus sangat waspada, saat itu yang saya ingat harus sabar karena perjalanan masih panjang.
Terlepas dari perilaku berkendara masyarakatnya yang sedikit sembrono, pulau Lombok menyimpan keindahan alam yang eksotis dan pada dasarnya masyarakat disini sangat ramah. (Kalau ada waktu akan saya ceritakan dalam petualangan liburan saya dengan istri. Diingatkan saja. Hehehe). Kalau pulau Bali terkenal dengan pulau seribu pura, kalau Lombok terkenal dengan seribu masjid, karena memang sepanjang perjalanan sangat mudah ditemui masjid disini. Banyak tempat pariwisata yang harus dikunjungi, mulai dari pantai Kuta, Senggigi, Gunung Rinjani dan tiga Gili yang sangat Indah (Bener nanti tak ceritain di petualangan kami di Lombok). Sangat layak dikunjungi dan pemerintah pun berusaha mengangkat potensi pariwisata disini, infrastruktur terus diperbaharui, masyarakat pun mulai dikenalkan dengan istilah sadar pariwisata, dalam bahasa singkat diajarkan bagaimana bersikap dengan turis asing maupun domestic dan bagaimana harus melayani mereka sehingga mereka betah untuk tinggal disini.
Sekitar pukul 8.00 kami tiba di kota Mataram dan tanpa sengaja kami menemukan sebuah dealer Yamaha (kebetulan kami berdua menggunakan motor dari pabrikan yang sama, jadi lebih mudah untuk urusan servis) dengan nama Rinjani, nama sebuah gunung yang terkenal di Pulau Lombok. Dealer tersebut baru buka dan tampak hanya beberapa orang saja yang mengantri.
![kaskus-image]()
Begitu bagian pendaftaran buka saya langsung menghampiri bagian tersebut,
“Selamat pagi ada yang bisa dibantu mas?” sapaan ramah dari mbak tersebut
“Saya mau servis mbak sekalian ganti oli, kemudian minta tolong di cek karena saya terjatuh kemarin di Probolinggo, sekalian diganti saja stangnya, headlamp sama segitiga di press” jawab saya
“Waduh mas kalau headlamp kita gak ada stok” pungkas beliau
Goddamn it! dalam hati saya, masak iya saya meneruskan perjalanan ini tanpa lampu utama. Diskusi singkat dengan mekanik sepertinya bohlamnya saja cukup di ganti, reflektor yang pecah masih bisa digunakan walau tidak terang seperti kondisi normal. Akhirnya saya putuskan untuk diperbaiki saja dan berdoa semoga tidak ada halangan lagi dalam perjalanan ini. Mekanik tersebut juga meyakinkan saya bahwa motor bisa selesai hari ini juga, jadi saya bisa meneruskan perjalanan ke kota berikutnya.
![kaskus-image]()
Ya pagi itu kami dipaksa menunggu tanpa kegiatan apa-apa, hanya ngobrol dengan masyarakat setempat yang kebetulan lagi servis juga. Ingat kalau kami sudah seharian belom mandi kami coba izin ke dealer tersebut apakah boleh untuk sekedar mandi disana, ternyata diperbolehkan. Mantap servis terbaik buat kami, terimakasih buat Rinjani Motor. Kondisi toilet yang terjaga membuat kami bisa mandi dengan tenang.
![kaskus-image]()
Selesai mandi saatnya menjemur peralatan mandi dan riding, kami benar-benar seperti dirumah sendiri. Hahaha. Bikin malu saja. Oia itu boks yang akhirnya baret tidak jelas akibat terpental jauh di Bali. Syukurnya tidak pecah dan masih bisa saya gunakan sampai sekarang. Saran dari saya kalau perjalanan jauh dan menggunakan boks lebih baik diikat biar lebih aman.
Ayal kemudian menghubungi salah seorang teman disana, dulunya dia kerja di kantor yang sama dengan kami, kemudian mendapat tugas untuk mengaudit di Mataram dan malah ketemu jodohnya. Jadilah dia ikut suaminya bertugas disini. Kami diajak makan siang keluar sementara motor diperbaiki. Dijamu tentunya. Terimakasih ya
![kaskus-image]()
Setelah makan siang kami diajak mampir kerumahnya, untuk menjenguk anaknya yang baru berusia beberapa bulan. Nikmat sekali rasanya, istirahat makan siang masih sempat ke rumah melihat anak. Kalau di Jakarta, jangan harap deh, mana sempat.
![kaskus-image]()
Kemudian kami kembali ke dealer dan motor sudah hampir siap. Wah bisa lanjut nih perjalanan. Lumayanlah tidak terlalu parah seperti kemarin. Kami memutuskan untuk mengambil jalur tengah pulau Lombok saja untuk menuju ke pelabuhan dengan jarak 81 km agar tidak terlalu malam dan cuaca masih bersahabat. Kalau sudah terlalu malam ombak akan semakin tinggi dan berbahaya untuk penyeberangan. Kami berangkat dari Rinjani Motor sekitar pukul 16.00 tidak lupa mengucapkan terimakasih karena sudah direportkan banyak sekali.
Kami berkendara dengan kecepatan rata-rata 40-60 kpj, ketika di kawasan Timur pulau Lombok, hujan deras turun, sangat deras bahkan jarak pandang sangat terbatas. Kemudian di salah satu turunan ternyata ada persimpangan, dengan kondisi jalan yang basah dan licin, banyak yang berhenti mendadak, Ayal coba mengerem mendadak kemudian ngesot, sayapub coba mengerem dan ban belakang sliding geol-geol tidak beraturan. Astaghfirullah apakah saya harus menabrak lagi. Ayal coba mengelak ke kanan jalan dengan kondisi ban masih sliding, saya banting ke kiri mencoba mengendalikan motor saya.
Syukur motor bisa dikendalikan tanpa terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami memperlambat laju kendaraan saat itu sembari saling mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang dan kami harus berhati-hati. Saya memutuskan untuk di depan sembari berkendara dengan santai. Saat itu yang saya pikirkan tidak mau jatuh lagi. Kami sangat menginginkan mencapai pulau Komodo seperti mimpi kami.
Beberapa saat kemudian kami melihat pemandangan yang sangat Indah di depan mata kami. Ya pemandangan Gunung Rinjani. Kami pun stop untuk mengabadikan momen tersebut. Sangat Indah ditambah dengan suasana matahari yang mau terbenam di ufuk barat.
![kaskus-image]()
Ayal berteriak dengan penuh semangat, “Tahun depan gw akan naik ke gunung itu fal!”
Saya hanya tertawa dan yakin saja. Toh orangnya nekat ini. Hahaha. Ternyata pelabuhan Kayangan sudah tidak jauh, benar-benar kelihatan di depan mata. Wah makin semangat ini. Sedikit lagi pulau Sumbawa. Memang pelabuhan Kayangan terletak di sekitaran kaki pulau Rinjani. Selain menggunakan sepeda motor seperti saya, kalau mau menuju pulau Sumbawa akan banyak penyedia jasa bis berukuran kecil yang bisa digunakan. Ya kalau di Jakarta seperti bis Damrilah. Kapal yang digunakan juga lumayan bagus. Pelabuhan Kayangan Jl. Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat GPS: -8.486491, 116.6745847
![kaskus-image]()
Motor saya diarahkan ke pojok kapal tersebut, karena untuk menghindari motor jatuh mengingat beban bawaan yang cukup berat saat itu. Kami memilih untuk duduk di luar ruangan kapal. Mau menikmati sunset ceritanya.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Matahari tampak malu saat kami meninggalkan pelabuhan. Penyeberangan dari Kayangan ke Pototato, Sumbawa tidak terlalu lama kalau ombak bersahabat, sekitar 2 jam saja. Namun malam itu ombak sangat tinggi bahkan sampai ada motor yang terjatuh di geladak kapal. Saya mendengar ABK teriak-teriak mengenai hal tersebut. Tapi karena malas untuk turun saya cuek saja. Berharap bukan motor saya yang terjatuh.
Disaat kapal sudah mau bersandar saya turun ke geladak dan benar saja motor yang terjatuh tadi punya saya. Sampai-sampai diikat sama ABK kapal tersebut.
![kaskus-image]()
![kaskus-image]()
Kami harus antri untuk keluar kapal karena memang disaat itu ramai kendaraan yang menyeberang dan motor harus keluar terakhir. Info yang kami dapat penyeberangan Lombok-Sumbawa lumayan sering, tiap jam ada kapal yang menyeberang. Jadi jangan takut guys!
Kami meneruskan perjalanan menuju Sumbawa Besar, sekitar 100km dari pelabuhan Poto Tano, sebetulnya pemandangan sangat bagus andaikan jalan siang. Selama perjalanan menuju Sumbawa besar banyak sekali perbaikan jembatan, jadi kita akan dialihkan arusnya. Fotonya bisa dilihat dicerita hari berikutnya. Hujan deras juga mengguyur kami malam itu. Spooky saya rasakan dan tentu letih.
Akhirnya kami tiba di Sumbawa Besar kira-kira pukul 22.00 malam, dan bukan hal mudah untuk mencari penginapan di kota ini. Kami beberapa kali menemui hotel yang penuh dan saya sudah sangat pasrah, mau diteruskan ke Dompu kok sudah tidak ada tenaga lagi rasanya.
Untungnya ada satu hotel yang masih ada kamar kosong. Jangan berekspektasi terlalu besar untuk kondisi. Sedikit menyeramkan tapi ya sudahlah cuma satu malam ini. Setelah menyimpan barang di kamar hotel kami berputar mencari makan dan memutuskan makan Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung yang sebenarnya makanan khas dari pulau Lombok. Tentunya kami pesan porsi jumbo. Hahaha
Mengapa disebut Ayam Taliwang? Itu karena masakan ayam berbumbu ini berasal dari Kampung Karang Taliwang, Kelurahan Cakra Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kampung ini berpenduduk 3. 309 jiwa atau 729 keluarga. Ada cerita, bumbu ayam dahulu kala ditemukan oleh H Murad (alrmarhum) dan istrinya, Salmah dari Karang Taliwang, tetapi waktunya tidak dapat dirunut lagi. (source: www.ayamtaliwang.com).
![kaskus-image]()
Setelah kenyang kembali ke hotel untuk beristirahat dan tentunya menjemur peralatan yang basah kuyup hari ini. Tidak sabar rasanya untuk melakukan petualangan selanjutnya. Apakah lebih seru dari hari ini? Tunggu saja
![kaskus-image]()
Masih penasaran? Timpuk cendolnya dulu dong

Sembari menyantap makanan malam itu saya berpikir, kok ini perjalanan jadi makin nekat yah. Gak sesuai rencana. Motor dalam keadaan rusak tak masalah buat jalan. Bayangkan stang dan segitiga bengkok kok masih nekat jalan lebih 200km. Ternyata tidak cukup sampai disitu kenekatan kami. Biasa partnerku ini mengajak nekat lagi ke pelabuhan Padang Bai. Ya pelabuhan yang akan mengantarkan kami ke pulau selanjutnya.
Tapi bukannya motor saya masih berantakan yah. Hmm. Ayal sih bilang hanya satu jam saja hanya 40 km saja dan kita bisa menghemat biaya penginapan karena bisa menginap di kapal malam ini. Ide yang cukup fantastis, lumayan bisa hemat. Yowis jadi BoNek lagi dah. Basmalah. Akhirnya motor kami arahkan menuju ke pelabuhan Padang Bai. Jalanan kosong dan lurus serta sepi menjadi teman kami malam itu. Tepat pukul 2.00 malam kami tiba ke pelabuhan, setelah membayar biaya penyeberangan (+/- Rp 120.000,- maaf gak ada foto karcisnya, sudah hilang. Huhuhu) kami masuk ke kapal.
Dasar rejeki anak saleh ya, kami mendapatkan kapal yang super mewah bahkan untuk jalur penyeberangan Merak-Bakauheni saja saya tidak pernah menemukan kapal seperti ini. Pas sekali untuk kami yang ingin tidur nyenyak setelah hampir 18 jam di jalan. Suasana kapal yang kosong dan sofa yang nyaman bagaikan kamar hotel bintang 5 untuk kami saat itu. Sangat pas untuk memejamkan mata selama lebih kurang 4 jam penyeberangan malam itu. Pasang tank bag sebagai bantal molor dah sampai pagi. Nikmat

Kami sangat terlelap malam itu, bersyukurnya tidak ada yang iseng untuk mengambil barang bawaan kami, saya rasa kalau ada yang ambil juga saya tidak sadar karena sudah terlalu nyenyak tidurnya. Jangan ditiru. Hehehe.
Tidak terasa sudah pagi dan kapal mulai merapat ke pulau Lombok tepatnya di pelabuhan Lembar, girang bukan kepalang. Maklum anak baru suka motoran jadi gini rada norak. :P
Kami sempat berbincang-bincang dengan salah satu pengemudi truk yang akan menuju ke pulau Flores, bertanya tentang keadaan jalan dan banyak hal. Hal inilah yang tidak akan ditemui ketika kita menggunakan moda transportasi udara. Banyak teman baru di jalan bung. Kami juga membagikan stiker #komodoadventuride dan langsung dipasang di truk beliau.
Pukul 07.00 kami tiba di pulau Lombok, betapa senang hati ini menginjakkan ke pulau yang baru lagi. Alhamdulillah, ucapan rasa syukur tak henti saya panjatkan. Motor kami arahkan menuju kota Mataram, hari ini saya berniat untuk beristirahat dan memperbaiki motor yang kemarin sempat amburadul karena terjatuh di Probolinggo. Jarak pelabuhan Lembar ke kota Mataram tidak begitu jauh, hanya 30 km, namun kita harus ekstra hati-hati karena banyak pengendara local yang menggunakan sepeda motor sedikit sembrono, berpindah lajur tanpa menggunakan lampu sein, tidak melihat kanan atau kiri ketika berbelok, bahkan mengendarai motor di tengah jalan, harus sangat waspada, saat itu yang saya ingat harus sabar karena perjalanan masih panjang.
Terlepas dari perilaku berkendara masyarakatnya yang sedikit sembrono, pulau Lombok menyimpan keindahan alam yang eksotis dan pada dasarnya masyarakat disini sangat ramah. (Kalau ada waktu akan saya ceritakan dalam petualangan liburan saya dengan istri. Diingatkan saja. Hehehe). Kalau pulau Bali terkenal dengan pulau seribu pura, kalau Lombok terkenal dengan seribu masjid, karena memang sepanjang perjalanan sangat mudah ditemui masjid disini. Banyak tempat pariwisata yang harus dikunjungi, mulai dari pantai Kuta, Senggigi, Gunung Rinjani dan tiga Gili yang sangat Indah (Bener nanti tak ceritain di petualangan kami di Lombok). Sangat layak dikunjungi dan pemerintah pun berusaha mengangkat potensi pariwisata disini, infrastruktur terus diperbaharui, masyarakat pun mulai dikenalkan dengan istilah sadar pariwisata, dalam bahasa singkat diajarkan bagaimana bersikap dengan turis asing maupun domestic dan bagaimana harus melayani mereka sehingga mereka betah untuk tinggal disini.
Sekitar pukul 8.00 kami tiba di kota Mataram dan tanpa sengaja kami menemukan sebuah dealer Yamaha (kebetulan kami berdua menggunakan motor dari pabrikan yang sama, jadi lebih mudah untuk urusan servis) dengan nama Rinjani, nama sebuah gunung yang terkenal di Pulau Lombok. Dealer tersebut baru buka dan tampak hanya beberapa orang saja yang mengantri.
Begitu bagian pendaftaran buka saya langsung menghampiri bagian tersebut,
“Selamat pagi ada yang bisa dibantu mas?” sapaan ramah dari mbak tersebut
“Saya mau servis mbak sekalian ganti oli, kemudian minta tolong di cek karena saya terjatuh kemarin di Probolinggo, sekalian diganti saja stangnya, headlamp sama segitiga di press” jawab saya
“Waduh mas kalau headlamp kita gak ada stok” pungkas beliau
Goddamn it! dalam hati saya, masak iya saya meneruskan perjalanan ini tanpa lampu utama. Diskusi singkat dengan mekanik sepertinya bohlamnya saja cukup di ganti, reflektor yang pecah masih bisa digunakan walau tidak terang seperti kondisi normal. Akhirnya saya putuskan untuk diperbaiki saja dan berdoa semoga tidak ada halangan lagi dalam perjalanan ini. Mekanik tersebut juga meyakinkan saya bahwa motor bisa selesai hari ini juga, jadi saya bisa meneruskan perjalanan ke kota berikutnya.
Ya pagi itu kami dipaksa menunggu tanpa kegiatan apa-apa, hanya ngobrol dengan masyarakat setempat yang kebetulan lagi servis juga. Ingat kalau kami sudah seharian belom mandi kami coba izin ke dealer tersebut apakah boleh untuk sekedar mandi disana, ternyata diperbolehkan. Mantap servis terbaik buat kami, terimakasih buat Rinjani Motor. Kondisi toilet yang terjaga membuat kami bisa mandi dengan tenang.
Selesai mandi saatnya menjemur peralatan mandi dan riding, kami benar-benar seperti dirumah sendiri. Hahaha. Bikin malu saja. Oia itu boks yang akhirnya baret tidak jelas akibat terpental jauh di Bali. Syukurnya tidak pecah dan masih bisa saya gunakan sampai sekarang. Saran dari saya kalau perjalanan jauh dan menggunakan boks lebih baik diikat biar lebih aman.
Ayal kemudian menghubungi salah seorang teman disana, dulunya dia kerja di kantor yang sama dengan kami, kemudian mendapat tugas untuk mengaudit di Mataram dan malah ketemu jodohnya. Jadilah dia ikut suaminya bertugas disini. Kami diajak makan siang keluar sementara motor diperbaiki. Dijamu tentunya. Terimakasih ya

Setelah makan siang kami diajak mampir kerumahnya, untuk menjenguk anaknya yang baru berusia beberapa bulan. Nikmat sekali rasanya, istirahat makan siang masih sempat ke rumah melihat anak. Kalau di Jakarta, jangan harap deh, mana sempat.

Kemudian kami kembali ke dealer dan motor sudah hampir siap. Wah bisa lanjut nih perjalanan. Lumayanlah tidak terlalu parah seperti kemarin. Kami memutuskan untuk mengambil jalur tengah pulau Lombok saja untuk menuju ke pelabuhan dengan jarak 81 km agar tidak terlalu malam dan cuaca masih bersahabat. Kalau sudah terlalu malam ombak akan semakin tinggi dan berbahaya untuk penyeberangan. Kami berangkat dari Rinjani Motor sekitar pukul 16.00 tidak lupa mengucapkan terimakasih karena sudah direportkan banyak sekali.
Kami berkendara dengan kecepatan rata-rata 40-60 kpj, ketika di kawasan Timur pulau Lombok, hujan deras turun, sangat deras bahkan jarak pandang sangat terbatas. Kemudian di salah satu turunan ternyata ada persimpangan, dengan kondisi jalan yang basah dan licin, banyak yang berhenti mendadak, Ayal coba mengerem mendadak kemudian ngesot, sayapub coba mengerem dan ban belakang sliding geol-geol tidak beraturan. Astaghfirullah apakah saya harus menabrak lagi. Ayal coba mengelak ke kanan jalan dengan kondisi ban masih sliding, saya banting ke kiri mencoba mengendalikan motor saya.
Syukur motor bisa dikendalikan tanpa terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami memperlambat laju kendaraan saat itu sembari saling mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang dan kami harus berhati-hati. Saya memutuskan untuk di depan sembari berkendara dengan santai. Saat itu yang saya pikirkan tidak mau jatuh lagi. Kami sangat menginginkan mencapai pulau Komodo seperti mimpi kami.
Beberapa saat kemudian kami melihat pemandangan yang sangat Indah di depan mata kami. Ya pemandangan Gunung Rinjani. Kami pun stop untuk mengabadikan momen tersebut. Sangat Indah ditambah dengan suasana matahari yang mau terbenam di ufuk barat.
Ayal berteriak dengan penuh semangat, “Tahun depan gw akan naik ke gunung itu fal!”
Saya hanya tertawa dan yakin saja. Toh orangnya nekat ini. Hahaha. Ternyata pelabuhan Kayangan sudah tidak jauh, benar-benar kelihatan di depan mata. Wah makin semangat ini. Sedikit lagi pulau Sumbawa. Memang pelabuhan Kayangan terletak di sekitaran kaki pulau Rinjani. Selain menggunakan sepeda motor seperti saya, kalau mau menuju pulau Sumbawa akan banyak penyedia jasa bis berukuran kecil yang bisa digunakan. Ya kalau di Jakarta seperti bis Damrilah. Kapal yang digunakan juga lumayan bagus. Pelabuhan Kayangan Jl. Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat GPS: -8.486491, 116.6745847
Motor saya diarahkan ke pojok kapal tersebut, karena untuk menghindari motor jatuh mengingat beban bawaan yang cukup berat saat itu. Kami memilih untuk duduk di luar ruangan kapal. Mau menikmati sunset ceritanya.
Matahari tampak malu saat kami meninggalkan pelabuhan. Penyeberangan dari Kayangan ke Pototato, Sumbawa tidak terlalu lama kalau ombak bersahabat, sekitar 2 jam saja. Namun malam itu ombak sangat tinggi bahkan sampai ada motor yang terjatuh di geladak kapal. Saya mendengar ABK teriak-teriak mengenai hal tersebut. Tapi karena malas untuk turun saya cuek saja. Berharap bukan motor saya yang terjatuh.
Disaat kapal sudah mau bersandar saya turun ke geladak dan benar saja motor yang terjatuh tadi punya saya. Sampai-sampai diikat sama ABK kapal tersebut.

Kami harus antri untuk keluar kapal karena memang disaat itu ramai kendaraan yang menyeberang dan motor harus keluar terakhir. Info yang kami dapat penyeberangan Lombok-Sumbawa lumayan sering, tiap jam ada kapal yang menyeberang. Jadi jangan takut guys!
Kami meneruskan perjalanan menuju Sumbawa Besar, sekitar 100km dari pelabuhan Poto Tano, sebetulnya pemandangan sangat bagus andaikan jalan siang. Selama perjalanan menuju Sumbawa besar banyak sekali perbaikan jembatan, jadi kita akan dialihkan arusnya. Fotonya bisa dilihat dicerita hari berikutnya. Hujan deras juga mengguyur kami malam itu. Spooky saya rasakan dan tentu letih.
Akhirnya kami tiba di Sumbawa Besar kira-kira pukul 22.00 malam, dan bukan hal mudah untuk mencari penginapan di kota ini. Kami beberapa kali menemui hotel yang penuh dan saya sudah sangat pasrah, mau diteruskan ke Dompu kok sudah tidak ada tenaga lagi rasanya.
Untungnya ada satu hotel yang masih ada kamar kosong. Jangan berekspektasi terlalu besar untuk kondisi. Sedikit menyeramkan tapi ya sudahlah cuma satu malam ini. Setelah menyimpan barang di kamar hotel kami berputar mencari makan dan memutuskan makan Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung yang sebenarnya makanan khas dari pulau Lombok. Tentunya kami pesan porsi jumbo. Hahaha
Mengapa disebut Ayam Taliwang? Itu karena masakan ayam berbumbu ini berasal dari Kampung Karang Taliwang, Kelurahan Cakra Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kampung ini berpenduduk 3. 309 jiwa atau 729 keluarga. Ada cerita, bumbu ayam dahulu kala ditemukan oleh H Murad (alrmarhum) dan istrinya, Salmah dari Karang Taliwang, tetapi waktunya tidak dapat dirunut lagi. (source: www.ayamtaliwang.com).
Setelah kenyang kembali ke hotel untuk beristirahat dan tentunya menjemur peralatan yang basah kuyup hari ini. Tidak sabar rasanya untuk melakukan petualangan selanjutnya. Apakah lebih seru dari hari ini? Tunggu saja

Masih penasaran? Timpuk cendolnya dulu dong

Diubah oleh mnshahensah 06-11-2014 14:11
0