- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1435
PART 76 – There’s Something Out There (Side Story) – eps. 2
Gue langsung menyerbu tempat tidur, selimutan dan berdoa apapun sebisa gue. Ardian sepertinya juga langsung nutupin seluruh badannya sampe kepala pake selimut, gue bahkan samasekali gak memperhatikan apa yang dia lakuin waktu itu. Kami berdua sama-sama ketakutan. Anehnya, suara nyanyian itu pelan-pelan menghilang sendiri. Gue, karena capek gara-gara tegang dan ketakutan, akhirnya ketiduran, entah jam berapa.
Paginya kami semua bangun agak kesiangan, jam 9 kami baru beraktivitas. Suasana pagi itu lebih sepi karena efek kejadian semalem. Gue sempet bertanya ke beberapa junior yang lain, ternyata mereka juga denger nyanyian itu sayup-sayup, tapi gak ada yang berani ngecek keluar. Rupanya gue yang apes sendiri, nekat ngecek hasilnya malah ngeliat kayak gituan.
Hari itu memang kami ada jadwal turnamen, dari siang hingga selepas maghrib. Kami semua baru kembali ke mess sekitar jam 7an. Setelah mandi dan beristirahat sebentar, kami makan malam, dan dilanjutkan dengan rapat kecil untuk membicarakan tentang strategi yang akan kami terapkan di pertandingan besok. Setelah rapat, kami semua memutuskan untuk beristirahat, karena hari itu merupakan hari yang melelahkan, dan besok masih ada pertandingan yang harus kami jalani.
Gue masuk kamar, tetapi pintu kamar masih gue biarkan terbuka lebar. Ardian gak tau lagi ngapain di luar, jadi gue sendirian di kamar itu. Sambil BBM-an sama Anin, gue gegulingan di tempat tidur. Hawa malem itu cukup dingin, banyak angin. Gue tidur telentang sambil BBMan. Mendadak sudut mata gue menangkap sekilas ada seseorang yang lewat di depan kamar. Gue gak ambil pusing sih, gue pikir paling itu salah satu anak yang lewat.
Kemudian gue BBMan lagi. Gak berapa lama, gue liat lagi ada yang lewat di depan kamar gue, dengan arah yang sama. Gue bangun, dan berjalan ke arah pintu, pengen tau siapa sih yang lewat barusan. Gue celingukan, dan, ya, gue gak nemu siapapun yang berjalan di serambi itu.
Bah, gue digangguin lagi nih, pikir gue. Gak pake lama, gue keluar kamar dan nyari anak-anak lain pada dimana. Gue mendapati Ardian dan beberapa anak lain sedang nonton TV di salah satu sudut. Gue bergabung sama mereka tanpa ngomong apapun. Entah berapa lama kami nonton TV, kemudian kami semua masuk ke kamar masing-masing. Gue ngerasa agak aman karena gak sendirian di kamar itu. Gue sengaja gak cerita soal tadi, karena itu bakal bikin kami berdua tambah kepikiran aja.
Setelah mengganti lampu kamar dengan lampu tidur, kamipun beranjak tidur. Asli ngantuk banget gue malem itu. Capek, ngantuk, tapi takut juga. Ngeselin kan. Entah kapan gue ketiduran, mendadak gue terbangun. Reflek pertama gue adalah meraba-raba handphone gue di sebelah bantal dan ngeliat jam. Ternyata masih jam 3 pagi. Setelah melihat jam, gue memutuskan untuk tidur lagi. Mendadak, gue ngeliat sesosok putih di sudut kamar yang jauh dari tempat tidur gue. KAMPRET.
Gue bersuara sekeras mungkin meskipun gue ketakutan setengah mati, untuk membangunkan Ardian disebelah gue.
Ardian bangun, menggeliat dan bertanya-tanya ke gue. Dia belom sadar apa yang gue liat, gue gak menjawab pertanyaannya dia, sampe akhirnya dia ngeliat sendiri apa yang gue liat, dan dia langsung bersuara cukup keras karena kaget. Anehnya, setelah itu, sosok putih itupun menghilang. Gara-gara itu, kami berdua gak tidur lagi sampe matahari terbit. Kami berdua baru bisa tidur setelah subuh, dan bangun jam 10 pagi.
Waktu pertandingan sore harinya, gue ngomong ke panitia, minta ketemu sama pengurus mess tempat kami menginap. Panitia memberikan nomor penjaga mess itu, namanya Pak Marlan. Malem itu juga gue dan Ardian menghubungi Pak Marlan dan meminta kesediaannya untuk dateng di mess itu, untuk menjelaskan apa yang terjadi di mess tempat kami menginap.
Akhirnya Pak Marlan dateng ke mess kami. Beliau berumur sekitar 50an tahun, dengan badan kecil tapi kekar, dan berambut cukup tebal. Senyumnya ramah, dan gaya bicaranya menyenangkan. Setelah berbasa-basi sebentar, kami duduk-duduk di teras, sambil ditemani beberapa anak lain yang juga ingin ikut mendengarkan cerita Pak Marlan ini. Gue membuka pertanyaan.
Pak Marlan tersenyum, kemudian menjelaskan ke kami dengan suara jernih.
Gue dan anak-anak lainnya terbelalak. Terkejut mendengar itu. Kemudian Pak Marlan melanjutkan lagi.
Gue menelan ludah, kemudian bertanya lagi.
Pak Marlan tersenyum aneh. Gue merasa senyumnya itu agak menyeramkan. Sambil tersenyum itu beliau ngomong dengan agak pelan.
Seketika itu juga seluruh tubuh gue merinding, dan gue yakin, anak-anak lain yang ikut mendengarkan omongan Pak Marlan ini juga merasakan hal yang sama.
Gue langsung menyerbu tempat tidur, selimutan dan berdoa apapun sebisa gue. Ardian sepertinya juga langsung nutupin seluruh badannya sampe kepala pake selimut, gue bahkan samasekali gak memperhatikan apa yang dia lakuin waktu itu. Kami berdua sama-sama ketakutan. Anehnya, suara nyanyian itu pelan-pelan menghilang sendiri. Gue, karena capek gara-gara tegang dan ketakutan, akhirnya ketiduran, entah jam berapa.
Paginya kami semua bangun agak kesiangan, jam 9 kami baru beraktivitas. Suasana pagi itu lebih sepi karena efek kejadian semalem. Gue sempet bertanya ke beberapa junior yang lain, ternyata mereka juga denger nyanyian itu sayup-sayup, tapi gak ada yang berani ngecek keluar. Rupanya gue yang apes sendiri, nekat ngecek hasilnya malah ngeliat kayak gituan.
Hari itu memang kami ada jadwal turnamen, dari siang hingga selepas maghrib. Kami semua baru kembali ke mess sekitar jam 7an. Setelah mandi dan beristirahat sebentar, kami makan malam, dan dilanjutkan dengan rapat kecil untuk membicarakan tentang strategi yang akan kami terapkan di pertandingan besok. Setelah rapat, kami semua memutuskan untuk beristirahat, karena hari itu merupakan hari yang melelahkan, dan besok masih ada pertandingan yang harus kami jalani.
Gue masuk kamar, tetapi pintu kamar masih gue biarkan terbuka lebar. Ardian gak tau lagi ngapain di luar, jadi gue sendirian di kamar itu. Sambil BBM-an sama Anin, gue gegulingan di tempat tidur. Hawa malem itu cukup dingin, banyak angin. Gue tidur telentang sambil BBMan. Mendadak sudut mata gue menangkap sekilas ada seseorang yang lewat di depan kamar. Gue gak ambil pusing sih, gue pikir paling itu salah satu anak yang lewat.
Kemudian gue BBMan lagi. Gak berapa lama, gue liat lagi ada yang lewat di depan kamar gue, dengan arah yang sama. Gue bangun, dan berjalan ke arah pintu, pengen tau siapa sih yang lewat barusan. Gue celingukan, dan, ya, gue gak nemu siapapun yang berjalan di serambi itu.
Bah, gue digangguin lagi nih, pikir gue. Gak pake lama, gue keluar kamar dan nyari anak-anak lain pada dimana. Gue mendapati Ardian dan beberapa anak lain sedang nonton TV di salah satu sudut. Gue bergabung sama mereka tanpa ngomong apapun. Entah berapa lama kami nonton TV, kemudian kami semua masuk ke kamar masing-masing. Gue ngerasa agak aman karena gak sendirian di kamar itu. Gue sengaja gak cerita soal tadi, karena itu bakal bikin kami berdua tambah kepikiran aja.
Setelah mengganti lampu kamar dengan lampu tidur, kamipun beranjak tidur. Asli ngantuk banget gue malem itu. Capek, ngantuk, tapi takut juga. Ngeselin kan. Entah kapan gue ketiduran, mendadak gue terbangun. Reflek pertama gue adalah meraba-raba handphone gue di sebelah bantal dan ngeliat jam. Ternyata masih jam 3 pagi. Setelah melihat jam, gue memutuskan untuk tidur lagi. Mendadak, gue ngeliat sesosok putih di sudut kamar yang jauh dari tempat tidur gue. KAMPRET.
Quote:
Gue bersuara sekeras mungkin meskipun gue ketakutan setengah mati, untuk membangunkan Ardian disebelah gue.
Quote:
Ardian bangun, menggeliat dan bertanya-tanya ke gue. Dia belom sadar apa yang gue liat, gue gak menjawab pertanyaannya dia, sampe akhirnya dia ngeliat sendiri apa yang gue liat, dan dia langsung bersuara cukup keras karena kaget. Anehnya, setelah itu, sosok putih itupun menghilang. Gara-gara itu, kami berdua gak tidur lagi sampe matahari terbit. Kami berdua baru bisa tidur setelah subuh, dan bangun jam 10 pagi.
Waktu pertandingan sore harinya, gue ngomong ke panitia, minta ketemu sama pengurus mess tempat kami menginap. Panitia memberikan nomor penjaga mess itu, namanya Pak Marlan. Malem itu juga gue dan Ardian menghubungi Pak Marlan dan meminta kesediaannya untuk dateng di mess itu, untuk menjelaskan apa yang terjadi di mess tempat kami menginap.
Akhirnya Pak Marlan dateng ke mess kami. Beliau berumur sekitar 50an tahun, dengan badan kecil tapi kekar, dan berambut cukup tebal. Senyumnya ramah, dan gaya bicaranya menyenangkan. Setelah berbasa-basi sebentar, kami duduk-duduk di teras, sambil ditemani beberapa anak lain yang juga ingin ikut mendengarkan cerita Pak Marlan ini. Gue membuka pertanyaan.
Quote:
Pak Marlan tersenyum, kemudian menjelaskan ke kami dengan suara jernih.
Quote:
Gue dan anak-anak lainnya terbelalak. Terkejut mendengar itu. Kemudian Pak Marlan melanjutkan lagi.
Quote:
Gue menelan ludah, kemudian bertanya lagi.
Quote:
Pak Marlan tersenyum aneh. Gue merasa senyumnya itu agak menyeramkan. Sambil tersenyum itu beliau ngomong dengan agak pelan.
Quote:
Seketika itu juga seluruh tubuh gue merinding, dan gue yakin, anak-anak lain yang ikut mendengarkan omongan Pak Marlan ini juga merasakan hal yang sama.
Diubah oleh jayanagari 22-10-2014 00:58
jenggalasunyi dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: Yan, yan, bangun. Yan. Yan!
: Pak, sebenarnya disini ada apanya sih Pak? Jujur, sejak awal kami datang kesini sudah “diliatin” banyak hal. Padahal kami ini kan gak bermaksud mengganggu pak, cuma numpang tidur aja disini untuk beberapa hari.
: kenapa pak?